Only You To Me #Prolog


Only You To Me Prolog

Judul : Only You To Me

Author : Choi Runnisa

Main Cast : Super Junior Kyuhyun
SNSD Sooyoung

Super Junior Siwon

Other Cast : Masih di casting (?)

Genre : Drama Romantic

Annyeong!! Udah lama banget gak ngepost… Wp ini udah banyak sarang laba-laba sana sini nyaa…

Miann ITILYO belom bisa publish karena lagi-lagi author mengalami krisis inpirasi, tapi tenaang…

Author janji bakal tetep diterusin walaupun harus nunggu lama hehehe…

Well…. kali ini author bawa Fan Fict baru yang Genrenya agak berat… selama ini author selalu bikin Fan Fict yang comedi romantic, namun kali ini author sedikit berani melenceng dengan nyoba genre ini.

Ini baru prolog, tapi udah panjang banget… tadinya sih ini part 1, cuma dari alurnya kayaknya ini gak cocok kalo mau dikategorikan ke part 1, karena belom ada sama sekali konflik yang berarti di sini, dan author berencana ini ceritanya complicated dan gak gampang.ketebak gitu.

jadi author putusin judulnya jadi prolog aja yang ini… Yaudah Happy reading yaa….

#######

Di suatu senja, di sebuah taman kecil pusat kota Seoul, Korea Selatan, sepasang ayah dan anak laki-lakinya sedang asik bermain sepak bola, tawa keceriaan tak pernah luput dari bibir mereka.

“Heei kapten Cho! tunjukkanlah tendangan dahsyatmu itu jika kau bisa” ujar sang Ayah seakan menantang sang anak, dengan senang hati, sang anakpun tak segan menunjukkan kebolehannya bermain sepak bola kepada ayahnya, persis seperti seorang pemain bola profesional yang menunjukkan kebolehannya pada pelatihnya. Ia fokuskan pandangannya kepada sang kulit bundar yang tergeletak tak berdaya di atas rumput, lalu sekuat tenaga ia tendang bola itu menuju arah sang ayah sedang berdiri di hadapannya dan Hap! Sang ayah lagi-lagi berhasil menangkap si kulit bundar yang sudah dilayangkan padanya.

“Kau kalah kapten Cho!, hahaha” ejek sang Ayah.

“Appa curang!” pekik sang anak tak terima dengan kekalahannya

“Appa…!” Tiba-tiba sebuah suara kecil terdengar di tengah permainan mereka, keduanyapun menoleh ke sumber suara.

Terlihat seorang anak perempuan berusia sekitar 8 tahun berlari ke arah sang Ayah dan disambut oleh sang ayah dengan membawanya ke dalam gendongannya.

“Aigoo! Putri Appa yang cantik!” ucap sang ayah kepada anak perempuan itu sambil mencium gemas pipinya yang kemerah-merahan.

Sementara itu, anak laki-laki berusia 12 tahun itu menatap bingung ke arah sang ayah, ia tentu bingung mendengar gadis kecil itu memanggil ayahnya dengan sebutan ‘Appa’ sedangkan yang ia tau ia tak memiliki seorang saudara apalagi seorang adik perempuan.

“Appa, Oppa itu siapa?” tanya gadis kecil berambut panjang ikal itu kepada pria yang dipanggilnya Appa, sebelum anak laki-laki itu bertanya kepada pria yang juga dianggapnya Ayah itu.

“Dia Cho Kyuhyun, dia adalah Oppamu Nak, ayo mendekatlah padanya, sapalah dia dan panggil dia Oppa” ujar pria itu sambil.menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya.

“Annyeonghaseyo, Oppa. Choi Sooyoung Imnidaa” sapa gadis kecil itu dengan nada penuh keceriaan dan keramahan kepada anak laki-laki itu, tanpa tau masalah yang sebenarnya, bola matanya yang kelam dan polos bak biji kopi tampak lucu bergerak-gerak jenaka menatap Kyuyhyun, namun ia tak membalasnya, Ia malah menatap tajam ke arah ayahnya menanti penjelasan dari kebingungannya itu.

“Appa, siapa anak ini? Kenapa dia memanggilmu Appa?”

“Dia Sooyoung, adikmu” jawab sang ayah singkat

“Dia bukan adikku Appa. Kyuhyun tak pernah punya adik”

“Kyuhyunaa… Anggaplah ia seperti adikmu sendiri, bahkan jadikan ia lebih dari itu, hiduplah dengan baik bersamanya, karena kau hanya punya dia dan dia hanya punya kau, tolong jaga dan lindungi dia lebih dari siapapun… Kau adalah satu-satunya harapan Appa” lirih sang Ayah lalu tiba-tiba membalikkan tubuhnya kemudian beranjak dari hadapan kedua anak itu.

“Appa! Appa!….” Teriak anak yang bernama Kyuhyun itu untuk menghentikan langkah ayahnya. Namun seperti memanggil seorang tuna rungu pria itu sama sekali tak mengindahkan panggilan putranya, ia terus berjalan pelan menuju dimensi tak kasat mata hingga menghilang dan tak mampu lagi dijangkau oleh penglihatan kedua anak itu.

Sabil menggandeng tangan mungil gadis kecil itu, Kyuhyun terus memanggil dan memanggil ayahnya walau ia tau itu percuma.

#####

Kyuhyun terduduk dari pembaringannya dan menyadari semua yang dialaminya di masa kecil tadi hanyalah mimpi semata, ia terengah-engah seperti orang yang baru saja berlari, rambutnya kuyup dipenuh dengan peluh..

“Oppa, Waeyo!” suara manja seseorang di sampingnya, Kyuhyun tak menjawab pertanyaan itu, berbalutkan selimut sutera berwarna pitch yang membalut hingga dadanya, gadis itu memeluk tubuh telanjang Kyuhyun dari belakang, ia letakkan dagu ovalnya di bahu Kyuhyun dengan manja.

“Oppa saranghae…” bisiknya lembut ke telinga Kyuhyun seakan mengisyaratkan kesan indah malam yang baru saja mereka lewati berdua, namun Kyuhyun seperti tak memperdulikan perkataan gadis itu, ia bangkit dari tempat tidurnya, memunguti pakaiannya yang tersebar di lantai dan memakainya segera.

“Oppa mau kemana?” tanya wanita itu seakan menahan Kyuhyun untuk pergi.

“Aku harus ke kantor” Jawab Kyuhyun sekenanya, gadis itu sebenarnya tak rela ditinggal pergi begitu saja, walau sudah menduga akhirnya akan seperti ini, hatinya tentu menginginkan Kyuhyun lebih dari hanya sekedar teman ranjangnya, namun apa boleh buat? jika Kyuhyun ingin pergi, ia akan pergi seperti angin, ia akan mendatangimu dan mampu memporak-porandakan hatimu setelah itu akan pergi begitu saja dan tak akan mungkin kembali.

Yaa tak ada yang mampu menghalanginya, memiliki kesempatan bercinta dengannya bukan berarti akan memilikinya selamanya dan seutuhnya, ia mungkin bisa saja baru semalam suntuk lalu membuai seorang wanita dengan beribu kata cinta bak seorang pujangga namun keesokan harinya sudah seperti orang lain bahkan tak mengetahui nama gadis yang ia tiduri semalam itu dan setiap gadis yang ingin diajaknya bercinta seharusnya sudah mampu menerima ketentuan itu.

*****

Tak terasa jam kerja sudah menunjukkan waktunya makan siang. Dari ruang kerjanya yang berada di lantai 24 gedung kantornya, Kyuhyun duduk di kursi kerjanya menghadap jendela kantornya, matanya menerawang keluar kaca jendela yang menampakkan sebagian permukaan kota Seoul dengan segala kemegahan metropolitan yang ditawarkannya, ia menghembuskn nafas leganya hanya dengan melakukan aktifitas ringan seperti itu saja sudah menjadi kepuasan batin baginya.

yaa… kesibukannya sebagai direktur utama di sebuah perusahaan besar peninggalan ibunya, membuat ia banyak kehilangan waktu berharga untuk bersenang-senang layaknya pria muda berusia 23 tahun seperti pria sebaya umumnya, tapi keadaanlah yang memaksanya untuk menikmati kehidupan tak normalnya sekarang ini, ia adalah satu-satunya tumpuan harapan ibunya untuk meneruskan bisnis yang telah ia bangun dari nol, dan ibunya terlalu cepat meninggalknnya dengan mewariskan tanggung jawab yang begitu besar padanya.

Tentu saja sebagai seorang pria muda yang normal, jiwa mudanya terkadang bergejolak, dan itu hanya akan ia luapkan dengan menghabiskn malam di club malam, bersenang-senang dan berpindah-pindah dari satu pelukan wanita ke pelukan wanita lainnya sudah menjadi kebiasaan lazimnya selama ini, ia rasa kebiasaan yang sebagian besar orang anggap ‘nista’ itu hanya ia jadikan sebuah kompensasi atas hilanganya masa mudanya selama ini. Tapi semua itu tentu saja tak mampu mengembalikan kenormalan hidupnya.

Bukan kehidupan yang seperti ini yang ia inginkan. Hatinya selalu saja tiba-tiba terasa sakit ketika ia mengingat satu-satunya orang yang patut dipersalahkan dalam hal ini adalah ayahnya sendiri. Yaa, Ayahnya, pria yang dahulu pernah menjadi tokoh idolanya melebihi pahlawan super di film-film, pria yang selalu ia bangga-banggakan ketika bercerita kepada teman-temannya, pria yang pernah menjadi sahabat terbaik selama hidupnya, namun semua itu telah berubah semenjak ayahnya pergi meninggalkannya bersama ibunya demi memilih anak haram hasil hubungan gelapnya dengan wanita lain.

Seandainya ia tak pergi, tentu Ibunya tak akan mati-matian bekerja mencari nafkah dan ia tak akan kekurangan perhatian dan kasih sayang dari ibunya, andai saja ayahnya bukan pria brengsek yang tega meninggalkn istri dan anaknya demi bersama anak haramnya itu, tentu ibunya tak akan bersikap sedingin itu terhadapnya, melimpahkan semua kesalahan ayahnya padanya, karena setiap kali melihat dirinya, ibunya juga akan mengingat pria yang sudah menorehkan luka mendalam di hatinya. Yaa andai saja ayahnya berada di sampingnya, Ia mungkin sekarang akan menjalani kehidupan normal seperti anak-anak seusinya, tanpa harus mendapatkn tuntutan untuk segera menyelesaikn pendidiknnya demi menjadi penerus pemimpin perusahaan ibunya, sungguh ia terkadang mengutuki dirinya sendiri kenapa ia harus dilahirkn dari benih seorang pria bejat seperti ayahnya.

Tapi entah bagaimana harus mendeskripsikan perasaannya saat ini, setelah sekian lama tiba-tiba ia merindukan ayahnya, ayahnya yang telah bertahun-tahun berusaha ia hapus dari daftar keluarga yang ia punya dan dari kepalanya, namun kini ia benar-benar merindukan sosok itu melebihi rasa rindunya kepada ibunya yang telah meninggal 2 tahun yang lalu.

Kyuhyun terkekeh pelan meratapi kebodohannya sendiri, ia rasa pria itu tak pantas untuk dirindukan, rntah bagaimana dan dimana pria itu sekarang? mungkin ia kini sedang tertawa bersama anak istri dan bahkan cucunya, sementara ia sendiri berada dalam kehampaan dan kesepian hidup yang menyiksa batinnya.

Lamunannya seketika buyar ketika telephone di belakangnya berdering, dengan malas ia putar kursi kerjanya dan diraihnya gagang telephonenya.

“sajangnim” sekertaris cantik bernama Yuri itu menelephonnya dari tempat duduknya.

“Ya…” jawab Kyuhyun singkat

“Sajangnim ada panggilan internasional dari Bali untuk anda”

“Bali?…. Baiklah akan aku angkat” Kyuhyun pun segera menekan tombol untuk mengalihkan panggilannya.

“Yoboseyo”

“…..”

“Nee?”

“…..” Deg!!! Ia merasa sesuatu telah menghujam keras jantungnya mendengar kabar dari telephone yang berasal dari negeri yang cukup jauh, Bali.

Yaa.. Ia kini percaya, setiap mimpi selalu mempunyai arti, panggilan tadi mengabarkan bahwa Ayahnya kini sedang dalam keadaan kritis karena dua buah peluru dari orang yang tidak dikenal kini bersarang di kepalanya dan sebelum ajal menjemputnya ia sangat ingin bertemu putra yang dikasihnya saat ini, Kyuhyun.

****

#Flashback

“Ceraikan aku sekarang juga!!” pekik sebuah suara wanita setengah menangis dari dalam kamar disertai dentuman pecahan kaca yang terhampas ke lantai marmer.

Kyuhyun yang masih berusia 12 tahun hanya bisa menangis mendengarkan pertengkaran hebat kedua orang tuanya dibalik pintu kamar, ia duduk meringkuk memeluk kedua kakinya sambil terisak.

“Apa yang sedang kau bicarakan itu? Demi Tuhan aku tak akan pernah menceraikanmu” Sengit suara pria

“Kalau begitu kau harus memilih salah satu diantara kami, aku dan Kyuhyun atau bersama anak harammu itu!!”

“Demi Tuhan Hwang Miyoung, Sooyoung itu adalah anak dari sahabatku Choi Seunghyun dan Moon Soohee, dan keduanya telah tiada, mengertilah aku tidak mungkin setega itu meninggalkan anak kecil itu sendirian”

“Kau bawa saja dia ke panti asuhan! kenapa kau yang harus repot merawatnya?!” pria itu terdiam, ia tak mungkin menuruti permintaan istrinya itu untuk membawa anak itu ke panti asuhan.

“Kau Bohong! Kau pikir aku tidak tau kalau wanita yang bernama Moon Soohee itu adalah mantan pacarmu? Jika Sooyoung bukanlah anak harammu kau tidak mungkin bersikeras ingin merawatnya dan aku… aku tidak akan sudi melihat anak haram itu tinggal seatap denganku. Jadi kumohon pergilah”

“Miyoung-aa”

“Pergi… Pergi!! Aku akan mengurus surat perceraian kita, Jadi kumohon pergilah dan bawa anak itu dari hadapanku!!”

****

“Appa… Appa….!!” Kyuhyun kecil merengek sambil memeluk kaki ayahnya berusaha untuk tak membiarkannya pergi

“Dasar anak tidak tau diri!! Eomma harus katakan berapa kali padamu bahwa dia bukan Ayahmu lgi Eoh…?!” Bentak wanita itu kepada putranya yang masih berusia 12 tahun itu

“Appa! Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan Kyuhyun, Appa!!” Tangisan Kyuhyun semakin menjadi namun pria bernama Cho Jino itu sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, sambil menyeret koper yang berisi pakaian seadanya, ia berjalan pelan keluar dari rumahnya..

“Appa!!” pekik Kyuhyun lagi namun tubuh kecilnya ditahan oleh ibunya untuk pergi menyusul ayahnya.

Namun sekuat tenaga, ia lepaskan dekapan ibunya dan berlari keluar menyusul Appanya.

Saat di luar rumah, langkahnya seketika terhenti ketika dilihatnya sang Ayah memeluk hangat tubuh seorang gadis kecil, mata kecilnya seketika menyipit, ada sebuah perasaan kecewa yang ia rasakan. Kyuhyun kecil merasa cemburu saat itu, ia merasa seseorang telah merebut ayahnya dari hidupnya, jadi karena gadis kecil itu kah Ayahnya memilih untuk pergi? Kyuhyun menatap garang ke arah gadia kecil itu, yaa seumur hidup ia tak akan pernah memaafkan orang yang sudah merebut Appanya dan menghancurkan keluarganya…
Flash Back End

Khayalan Kyuhyun seketika buyar ketika pengumuman pasawat telah tiba di bandara Ngurah Ray, Bali telah berkumandang yang menandakan ia telah sampai kepada tempat tujuan.

****

Seseorang yang ditugaskan menuntun Kyuhyun menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat telah sukses mengatarkannya tepat di depan sebuah kamar, yang dikatakan kamar ayahnya, dari kejauhan dibalik kaca pintu, Kyuhyun dapat melihat nama yang terpampang di kaki ranjang pasien bertuliskan Prof. Cho Jino, nama yang sudah lama tak di dengarnya, hatinya seketika bergemuruh saat itu, rasa rindu bercampur pedih yang ia rasakan,Kakinya bergetar hebat saat mulai memutar kenop pintu kamar dan melangkahkan kakinya masuk.

Kini yang ia lihat, seorang pria tua dengan rambut yang didominasi warna putih sedang terbaring tak berdaya di tempat tidurnya.

Pelan-pelan Kyuhyun berjalan medekatinya, dengan begitu banyak peralatan medis yang menempel ditubuhnya, pria itu membuka matanya secara sadar dan sempurna.

Kyuhyun’s Pov

Ketika menyadari kehadiranku, kulihat pria itu kini bersusah payah bangkit dari pembaringannya seakan ia telah menunggu untuk bertemu denganku seumur hidupnya, melihatnya yang terlalu kesulitan untuk bangkit aku segera berlari mendatanginya dan membopong tubuhnya, dengan lembut kusandarkan tubuhnya ke bantal.

“Kyu… kyuhyunaa…” ia langsung merengkuhku ke dalam pelukannya, dan membenamkan wajahku ke dalam dadanya, suaranya bergetar seperti suara orang tua renta yang usianya dua kali lipat lebih tua dari usianya.

Sungguh hatiku merasa pilu menyaksikan ayahku yang dulu begitu perkasa dengan otot-otot tubuhnya yang besar dan tulang punggungnya yang tegap kini terbaring tak berdaya ditempat tidur dengan kepala berbalut perban.

Garis wajahnya yang dulu tegas menyiratkan keperkasaannya kini berganti menjadi keriput yang berdesakan menampakkan diri di wajahnya. Matanya yang berkantung dan menghitam mengeluarkan bulir-bulir bening ketulusan kerinduan dan kasih sayang.

Kupeluk erat tubuh ringkihnya aku merengek dalam pelukannya seperti diriku 11 tahun lalu. Aku benar-benar merindukan kehangatan tubuh ini, aroma abadi yang selalu melekat di tubuh Appaku, dia Appaku… Appaku yang selalu kurindukan, Appaku yang tak pernah bisa kubenci seumur hidupku meski sekeras apapun aku mencoba untuk membencinya.

****

Appa kini berbaring seperti posisinya semula, ia tak boleh terlalu banyak menggerakkan kepalanya, dokter sempat terkejut melihat kondisi Appa yang mendadak lebih bugar dua kali lipat dari yang seharusnya setelah kemunculanku.

Ia kini tersenyum damai ke arahku sambil menggenggam lembut jemariku.

“Nak… Kau sudah besar sekarang. Appa bangga kau tumbuh dengan baik dan Appa benar-benar berterima kasih kepada Eommamu yang sudah tiada karena membesarkanmu dengan baik”.

Parcakapan kami sempat terhenti ketika seseorang memasuki kamar. Di ambang pintu, kini kulihat seorang gadis memasuki kamar dan berjalan menuju arah kami, ia membawa sebuah lunch box yang dalam diam ia taruh di atas meja, wajahnya tak terlihat jelas karena ia selalu tertunduk dan setengah dari wajahnya tertutupi oleh rambut panjangnya yang berwarna kecokelatan tebal dan bergelombang, dibiarkannya tergerai melewati bahunya, dan menutupi kedua sisi wajahnya, tubuhnya yang tinggi dan kurus berbalut cardigan lengan panjang dan rok gipsy yang panjang menjuntai hingga mata kaki menambah kesan melow pada figurnya.

“Ini… Makanannya Appa, tolong dihabiskan ya Appa” ucapnya pelan bahkan hampir dikatakan berbisik, untuk sesaat di balik poninya yang panjang ia sedikit mengintip ke arahku, namun kemudian bergegas meninggalkan kamar.

“Sooyoung-aa” langkahnya tertahan ketika suara Appa yang semakin melemah memanggilnya.

Aku sempat tersentak kaget saat mengetahui dia adalah gadis yang bernama Sooyoung, Choi Sooyoung? bukankah dia yang sudah merebut ayahku dari sisiku dan menghancurkan keluargaku? Sambil menunduk gadis yang bernama Choi Sooyoung itu berjalan ke arah Appa.

Gadis itu kini berdiri di seberangku terbatasi oleh ranjang Appa,

“Kyu… Kau masih ingat pada gadis di hadapanmu ini kan?” lirih Appa, aku diam dan menatap tajam ke arah gadis di hadapanku, bagaimana mungkin aku lupa dengan gadis yang sudah membawa mala petaka bagi keluargaku? gadis yang ketika memikirkannya saja membuatku mual.

“Kyu… Dia adikmu Kyu” aku diam…

“meskipun dia bukan adik kandungmu tapi Appa ingin kau menganggap dia adik” aku hampir mengumandangkan protes ketika kudengar napas Appa mulai naik turun.

“Appa… Kumohon jangan bicara dulu sekarang, nanti saja Appa bicara kalau sudah lebih baik”

“Kyu… Kau tau umur Appa tidak akan lama lagi, Sooyoung tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini jika aku pergi” aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Appa, kulirik gadis yang ada di hadapanku itu, dari sela-sela rambutnya dapat kulihat bulir-bulir air matanya berjatuhan bak biji jagung tanpa suara sama sekali.

“Appa tau kau membenci Appa selama ini dan karena itu pula selama 11 tahun Appa tidak pernah bisa hidup dengan tenang, tapi jika Appa meninggalkan Sooyoung sendirian, bukan hanya hidup Appa yang tak akan tenang, sampai matipun Appa tidak akan bisa tenang” mendengar kata-kata Appa itu aku merasakan kecemburuan yang sama seperti 11 tahun yang lalu, gadis ini benar-benar merampas jiwa dan raga Appaku dan aku benar-benar membencinya sekarang.

Dalam diam tangan kiri Appa meraih tangan Sooyoung, lalu kemudian tangan kanannya meraih tanganku dan membawanya ke atas perutnya.

Dan betapa kagetnya aku ketika tangan lemah Appa tiba-tiba menautkan tanganku dan tangan gadis itu di atas perutnya seakan ia telah mengikat kami dalam sebuah ikatan hubungan.

“Kyu… Selama ini Appa tak pernah minta apa-apa darimu karena Appa tau Appa tak berhak memintanya, tapi kali – ini- to-long…” suara Appa semakin.melemah dan terputus-putus

“To-Long, nikahilah Sooyoung” ucapan Appa yang terbata itu seperti sebuah petir menyambar telingaku, aku belum percaya sepenuhnya, aku pasti sudah salah dengar.

“Kyu… Tolong, Appa mohon dengan sangat… Anggap saja ini penghormatan terakhir bagi Appamu, tolong nikahi Sooyoung Kyu… Agar dia punya keluarga yang bisa menjaga dia, Dia gadis yang rapuh Kyu… Dimasa mudanya dia begitu banyak melewati hal yang menyakitkan, bahkan Appa sendiri tak mampu melindunginya… To-lhong … To- long nikahi Sooyoung” Air mata Appa menetes di kedua pelipisnya,

“Berjanjilah kau akan menikahinya dan terus ada disisinya….” jujur ini adalah sebuah pilihan terberat dalam hidupku di satu sisi aku ingin sekali memenuhi permintaan terakhir Appa, di sisi lain aku merasa sangat tidak mungkin menikahi gadis yang telah bertahun-tahun menjadi musuh besarku itu…

Busan Beach

Di dalam guci keramik ini ada Appa dan kenangannya… Ada jasad Appa… Di penghujung umurnya aku bersyukur ia masih bisa menyisakan senyum di wajahnya bahkan sampai ketika jasadnya sudah terbujur kaku…

Di sini… Di laut Busan aku akan kembali melepaskan orang-orang yang aku sayang dan membiarkan mereka larut terbawa samudera.

Choi Sooyoung… gadis itu… Gadis yang paling aku benci selama hidupku, ia kini berdiri di sebelahku bersamaku melarutkan abu Appa ke dalam lautan dengan statusnya yang kini sebagai istriku, cish… Aku terkekeh dalam kesedihanku, betapa rasanya takdir tengah mempermainkanku…

Sejak aku bertemu Sooyoung pertama kali… Ia tak pernah menampakkan wajahnya dengan jelas, karena penampilannya selalu khas dengan rambut panjang yang digerainya yang menutupi wajahnya.

Aku juga tak pernah sama sekali mendengar suaranya bahkan suara batuknya…

Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan wajahnya di masa lalu, anny…
Lebih tepatnya yang terjadi dengan hidupnya hingga membuatnya tampak sangat aneh dan menakutkan?

Tapi biarlah, aku tak perduli sama sekali dengannya dan derita masa lalunya, mungkin ia memang ditakdirkan untuk jadi orang yang paling menderita, biarlah status pernikahan itu hanya sebatas status.

Ia melangkahkan kakinya mendahuluiku masuk mobil namun aku menahannya.

“Choi Sooyoung” untuk pertama kali dalam hidupku memanggil namanya

“Kau tau seberapa besar aku membencimu?” aku tau bicara dengannya hanya akan ada satu jawaban, Diam.

“Yaa… Jika ada orang yang paling membencimu, maka akulah orangnya… Bukankah cukup manusiawi membenci orang yang sudah menghancurkan keluarga, kebahagiaan dan hidupmu? Maka bersiaplah untuk menderita Choi Sooyoung, akan kubuat kau merasakan penderitaan yang selama ini keluargaku rasakan. Menikah denganku adalah jalanmu menuju neraka” cecarku padanya lalu melangkahkan kakiku masuk ke dalam mobil.

Author’s Pov

Tubuh kurus berbalut hanbok hitam itu bergetar hebat saat mendengar ucapan tak seharusnya dari pria yang telah berstatus menjadi suaminya itu darahnya meluap-luap menahan amarah, ia selalu menyikapi segala yang ada di hadapannya dengan kebisuan tak berujung yang entah sampai kapan mampu dipendamnya, sayatan luka dalam hatinya tak pernah kering karena setiap kali luka itu mengering sudah ada saja yang menyayatnya kembali. Dengan tangan yang gemetaran ia kepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya.

Entah sampai kapan… Entah sampai kapan ia mampu menghadapi segalanya dengan kebisuan….

TBC

Gimana yaa? jadi gak Pede gini entahlah…. aku harap readers yang baik yang selalu mampir baca Fan Fictku. aku cuma mau bilang aja hindarilah korupsi dari hal-hal kecil termasuk jadi siders. Annyeong!

Advertisements

153 thoughts on “Only You To Me #Prolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s