I Think I Love You!! Eottokke?! Part 10


Judul    : I Think I Love You!! Eottokke?!

Author  : Choi Runnisa

Cast      : Super Junior Kyuhyun

           SNSD Sooyoung

Other Cast : Molla….

Genre    : Romantic Comedy

 

Annyeong!!! Seneng banget bisa post Fan Fict ini lagi, makasih banyak atas penantian panjangnya… Part ini author bikin dengan melalui proses yang panjang, author bener-bener krisis inspirasi setelah hiatus jangka panjang. Tapi author udah berusaha bikin yang semaksimal mungkin kok, jadi harap diapresiasi ya teman-teman….

 

Last Part…..

 

Seperginya Kyuhyun dari hadapannya, saat itu pula lutut Sooyoung terasa melemah dan perlahan-lahan rubuh dan terduduk di lantai. Kyuhyun bahkan tak mengucapkan apa-apa padanya sebelum pergi. Ia sadar pengakuannya tadi hanyalah sebuah lelucon bagi Kyuhyun yang tak perlu ditanggapi serius. Mungkin Kyuhyun menganggap perasaan Sooyoung tak berarti apa-apa baginya. Tapi bagaimana dengan dirinya? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia benar-benar sudah jatuh terlalu dalam kepada suaminya itu, Tak bisa dipungkiri, ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Kyuhyun.

Sementara itu…..

Kyuhyun’s POV

Semalam Yeon Hee tiba-tiba meneleponku. Fredrick, putranya mengalami demam tinggi hingga sempat mengalami kejang-kejang. Menurut dokter, hal itu biasa terjadi pada anak-anak tapi jika tidak cepat ditangani juga akan berakibat fatal bagi keselamatan Fredrick. Yeon Hee hanya tinggal berdua dengan Fredrick di Pernambucho, seluruh keluarganya menetap di San Frasisco. Sebagai orang tua tunggal, Yeon Hee jadi harus merawat putranya seorang diri, saat ini ia pasti sangat membutuhkan bantuanku dan sebagai seseorang yang pernah dekat dengannya, aku tak mungkin tega membiarkannya sendirian dalam kesulitannya.

Selama semalaman Fredrick harus melawan masa kritisnya di ruang UGD, dan semalaman pula aku duduk di kursi tunggu di depan ruangan Fredrick menemani Yeon Hee menunggui putranya.

Hari sudah pagi ditunjukkan dengan waktu yang telah menunjukkan pukul 6.30 waktu setempat, Yeon Hee masih terlelap, sementara aku tetap terjaga, kubiarkan kepalanya bersandar di bahuku dan kedua tangannya ia lingkarkan di lenganku, Aku prihatin melihat keadaannya, ia pasti sangat lelah. Baru dua jam yang lalu ia bisa tertidur lelap setelah dokter menyatakan putranya sudah melewati masa kritisnya namun belum bisa dibesuk, semalaman bahkan ia hanya bisa menangis dan menangis mencemaskan keadaan putranya.

Bukan hanya Yeon Hee yang tak bisa tidur semalaman, akupun yang bersamanya demikian, tapi sungguh aku manusia yang paling egois, bagaimana mungkin selama semalaman menemani Yeon Hee di rumah sakit aku malah memikirkan hal lain? Yaa… betapa egoisnya aku, melebihi kekhawatiranku terhadap Fredrick yang sedang bertaruh nyawa melawan masa kritsinya, ada hal yang lebih mengganjal hatiku dan membuat batinku sama sekali tak tenang, sedetikpun aku bahkan tak bisa berhenti memikirkannya. Yaa…. selama semalaman sejak aku meninggalkan hotel, pikiranku terus dipenuhi dengan bayang-bayang Sooyoung.

Aku pun sungguh tak mengerti mengapa otakku terus sibuk mencerna perkataan Sooyoung yang kurasa sebenarnya sudah sangat jelas, Dia Mencintaiku… Yaa, bukankah semuanya sudah terlalu jelas? tapi mengapa pertanyaan bodoh itu selalu berkelabat dalam otakku? Apakah benar yang dia katakan? Dia mencintaiku? Jantungnya selalu berdebar saat dekat denganku? Dia Selalu merindukanku saat aku tak berada di dekatnya? Mungkinkah? Mungkinkah rasa itu yang ia rasakan selama ini?. Arrghh, pertanyaan macam apa ini? Geureom… Tentu saja itu yang terjadi padanya. dan harusnya aku tak perlu mempertanyakan apalagi meragukannya, bagaimana mungkin aku tak menyadarinya? menerima pengakuan cinta dari begitu banyak gadis sejak belia membuatku selalu sadar diri bahwa begitu banyak gadis yang menginginkanku, dan selama ini aku hanya perlu membalas mereka dengan senyum manis setelah itu dengan mudahnya dapat begitu saja mengabaikan perasaan mereka.

Menerima pengakuan cinta dari Sooyoung harusnya menjadi hal yang lumrah bagiku, yaa… Sooyoung hanyalah salah satu dari sekian banyak gadis-gadis itu, bagaimana mungkin aku tidak tau? Bagaimana mungkin aku tak memperkirakannya?.

Tapi kali ini sungguh aku tak mengerti, mengapa semuanya terasa berbeda? Mengapa semuanya begitu terasa teramat berbeda saat Sooyoung yang mengatakannya? Jujur, pengakuannya terasa seperti belati yang menghujam tajam jantungku, tatapannya yang penuh kejujuran seperti melumpuhkan saraf motorikku, aku benar-benar lumpuh dan tidak bisa berkata apa-apa, aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Bahkan ketika dia menangis aku seperti tak punya tenaga untuk menghapus air matanya, meski aku begitu ingin menghapusnya.

Dan baru kali ini dalam hidupku, aku menyesali perbuatanku padanya, selama ini aku tak pernah menyesali apapun yang aku lakukan padanya, bahkan jika itu perbuatan jahat sekalipun. Aku tak pernah menyesal mengatai dia babi ceking saat pertama kali bertemu dengannya meski itu adalah awal dari  pertengkaran kami yang berlanjut hingga sekarang, aku tak menyesal ketika aku membuatnya menangis karena telah menghabiskan pie cokelat buatan ibunya ketika trainee dulu, aku juga tak menyesal mengacaukan setiap acara kencannya dengan pria yang ia sukai, bahkan aku tak pernah menyesali memaksanya untuk menikah denganku, tapi kali ini aku tak bisa bilang bahwa aku tidak menyesal, bahkan kuakui sungguh menyesal, aku sungguh menyesal meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apapun, bahkan semalaman untuk pertama kali dalam hidupku, aku mengutuki diriku sendiri yang kurasa termat bodoh. Bahkan satu hal yang paling kuinginkan saat ini adalah menemuinya, entah apa yang harus kukatakan padanya dan apa yang akan kulakukan untuknya saat aku bertemu dengannya, aku sama sekali tak tau, terlebih lagi aku terlalu bodoh karena tak bisa memahami perasaanku sendiri terhadapnya aku juga tak mengerti mengapa aku mendadak menjadi orang yang paling bodoh yang tak tau segalanya. Aku bahkan hanya tau satu hal,  mungkin ini terdengar begitu konyol dan  berlebihan, tapi yang aku tau, saat ini aku hanya merindukannya.

Lamunanku buyar ketika kurasakan Yeon Hee mengangkat kepalanya dari bahuku.

“Kau sudah bangun?” Tanyaku lembut, ia membalasnya dengan tersenyum tipis lalu mengangguk kecil.

“Gomawo Kyu-ahh, aku tidak tau apa yang akan terjadi semalam jika kau tak ada”

“Gwenchana! Bukankah aku ini temanmu? Sudah kewajiban seorang teman bukan untuk saling membantu?” aku berusaha tersenyum walau kurasa itu senyum yang terlalu memaksa, masih belum bisa menghilangkan kegundahan hatiku. Iapun balas tersenyum padaku dan tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Pulanglah Aku tau kau pasti sangat lelah kan?”

“Tidak… kau tidak perlu khawatir, aku akan menemanimu di sini sampai Fredrick sembuh”

“Kyu… Kau jangan menyiksa diri begitu, aku tau kau tidak tidur semalaman karena memikirkan seseorang bukan?” Aku cukup terkejut mendengar perkataan Yeon Hee yang cukup mengena bagiku. Dia seperti peramal saja yang tau akan isi hati orang lain.

“Mw…mwo? Kau ini bicara apa Yeon Hee yaah? Tentu saja aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan Fredrick” Aku harap dia percaya dengan kata-kataku

“Csh… sudahlah Kyu, kau jangan berbohong padaku! aku tau sebenarnya sejak semalam itu kau gatal sekali kan ingin pergi dan menemuinya kan? ”

“Yya! Aku tidak tau kau sekarang punya pekerjaan sampingan sebagai seorang peramal, tapi sayangnya semua ramalanmu salah” Aku gugup dan kembali memutar otak untuk mencari elakan yang tepat.

“Kau lupa berapa lama kita bersama dulu? Aku tau benar bagaimana kau, Aku memang tidak mengenal siapa gadis itu, tapi aku tau benar kau sangat ingin bertemu dengannya kan?”

“Tapi kan….”

“Yyaa! Berhentilah membohongi diri sendiri dan pergilah sebelum aku berubah pikiran, dan benar-benar menahanmu disini!”

“Csh.. kau tega sekali mengusirku! Arasseo arasseo! Aku akan pergi! Tapi tidak untuk menemuinya, aku hanya akan tidur dan beristirahat” Aku masih berusaha mengelak semampuku, sementara Yeon Hee hanya menatap introgasi ke arahku, dia sangat tau kalau aku sedang berusaha untuk mengelak.

****

Author’s POV 

Kyuhyun secepat kilat menancapkan gasnya menuju hotel tempat ia dan Sooyoung menginap. Entah kenapa ia begitu tak sabar ingin segera melihat wajah Sooyoung walau ia sama sekali tak punya rencana apa-apa setelah menemuinya.

Kini ia telah sampai ke gedung hotel, ia melangkah cepat menapaki gedung hotel untuk sampai ke kamarnya. Tinggal beberapa langkah lagi ia akan sampai ke depan pintu kamarnya, entah penyakit apa yang sedang menyerangnya, jantungnya semakin berdetak tak karuan. Dan kini ia benar-benar tiba, ia sudah berada di depan pintu kamarnya dengan Sooyoung yang tampak sedang terkatup rapat, Kyuhyun berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya yang memburu setelah lelah mengambil langkah cepat dari parkiran menuju kamarnya, belum lagi ia harus mempersiapkan dirinya mengingat jantungnya yang seperti tak mau berkompromi karena ia berdetak semakin tak beraturan saja.

Pelan-pelan ia mengangkat tangannya bersiap untuk mengetuk pintu namun baru akan melakukannya, pintu yang terkatup itu nyatanya terbuka sendiri membuat Kyuhyun urung mengetuknya. Dan kini dihadapan Kyuhyun berdirilah seorang gadis, ia terpaku sesaat melihat senyum di wajah gadis yang tak lain bernama Sooyoung itu. Tak hanya itu, pagi-pagi begini ia tampak sudah segar dan cantik dengan gaun pantai selutut berwarna merah jambunya. Rasa terpesona bercampur dengan bingung yang ia rasakan, berbagai macam pertanyaan telah berkelabat dalam benaknya melihat keadaan Sooyoung yang sangat jauh dari perkiraannya. Jujur saja dengan melihat keadaan Sooyoung semalam ia pikir Sooyoung akan tampil dengan wajah muram meski bukan itu juga yang ia inginkan, dan kini Sooyoung malah tersenyum padanya.

“Kau sudah pulang?” Tanya Sooyoung akhirnya membuyarkan segala pertanyaan di kepala Kyuhyun. Agak lama Kyuhyun menatap Sooyoung tanpa berkata apapun, sementara  Sooyoung berusaha mengalihkan suasana itu dengan mempersilahkan Kyuhyun masuk.

Melihat keadaan Sooyoung yang tampak baik-baik saja, Kyuhyun malah bertambah bingung dengan apa yang harus ia lakukan dan katakan, Sooyoung bahkan berlaku seperti tak terjadi sesuatupun semalam, bahkan meminta maafpun terasa aneh jika Sooyoung begitu tampak baik-baik saja.

“Masuklah, aku sudah mempersiapkan sarapan untukmu” Tanpa mengucapkan apapun Kyuhyun langsung masuk ke dalam kamar dan benar saja, seperangkat sarapan pagi khas Brazil tengah tersedia di meja, Kyuhyun hanya terpaku menatapi sarapannya sementara Sooyoung dengan cueknya berdiri di depan meja rias sambil memperbaiki sedikit penampilannya. Hal itu membuat Kyuhyun tak bernafsu untuk menghabiskan sarapannya dan menatap tajam ke arah Sooyoung sementara yang ditatap berlagak tak perduli.

“Kau mau ke mana?” Akhirnya pertanyaan itu juga yang keluar dari mulutnya.

“Aku mau menemui seorang teman” jawab Sooyoung tanpa menoleh ke arah Kyuhyun, tetap sibuk mengoleskan lipstick berwarna orange nya ke bibir tipisnya.

“Sejak kapan kau punya teman di Brazil?”

”Yaa… teman yang aku baru kenal beberapa waktu lalu di pantai”

“Pagi-pagi begini?”

“Nee… aku butuh bertemu dengannya segera, ada urusan penting”

“Kau baru kenal tapi sudah berurusan dengannya?” Kyuhyun mulai tak sabar, Sooyoung mengalihkan pembicaraan dengan melirik jam tangan Casio Pink nya. Berlagak tak perduli.

“Maaf, bicaranya lain kali saja, aku buru-buru. Kau sarapanlah yang nyaman, aku pergi dulu” Ijin Sooyoung buru-buru dan langsung beranjak dari tempatnya, ia tau Kyuhyun sudah bersiap mengumandangkan nada protesnya.

“Tunggu Soo…” ucap Kyuhyun akhirnya dan itu membuat Sooyoung merasa harus menghentikan langkahnya dan meski tak ingin, entah kenapa kepalanya tetap saja ingin menoleh ke arah Kyuhyun.

Beberapa saat menunggu, dan bersitatap Kyuhyun tak kunjung mengungkapkan maksudnya menahan kepergian Sooyoung. Yaa… ia urung mengatakannya, sejujurnya melihat jemari Sooyoung yang kosong, itulah yang mengganggu Kyuhyun, bagaimana ia bisa menanggalkan cincin pernikahan mereka, apakah itu tak penting lagi baginya sekarang? Sementara Kyuhyun menganggap benda itu amatlah berharga walau enggan mengungkapkannya, ia menatap nanar jemarinya, bahkan hingga detik ini cincin itu masih melingkar cantik di jemarinya. Tapi sekali lagi ia urung mengungkapkannya. Ia rasa ia memang pantas mendapatkannya, dan Sooyoung pantas melakukannya, tak seharusnya ia memprotesnya.

“An… anny” pelan Kyuhyun

“Kalau begitu… aku pergi dulu” ucap Sooyoung lalu dengan wajah datar pergi begitu saja, menghilang dibalik pintu, sementara betapa inginnya Kyuhyun menahan, sungguh lidahnya terasa kelu, ia sama sekali tak puas berbicara pada Sooyoung, tapi sungguh ia tak punya alasan untuk menahannya.

*****

Pukul 7.30 pagi waktu setempat, daerah pesisir pantai Fernando de Norounha masih tampak sepi dari hiruk pikuk pengunjung, maklum saja jam segini udara di sekitar pantai masih merncapai 16 derajad Celcius, dan itu tidak memungkinkan pengunjung pantai untuk berenang jika tidak ingin tubuhnya membeku terendam oleh dinginnya air asin.  Hanya tampak beberapa pedagang makanan dan minuman ringan yang mulai sibuk mempersiapkan dagangannya untuk hari ini.

Sementara itu tampak Seorang gadis cantik  bergaun selutut berwarna merah muda berjalan-jalan sendirian menyusuri garis pantai, ia tampak sibuk mencari sesuatu. Ia tak lagi peduli pada angin yang bertiup kencang mempemainkan rambut panjangnya dan menyibak-nyibak gaunnya, wajahnya terus menunduk bahkan sesekali ia berjongkok ketika melihat benda berkilau di antara hamparan pasir putih berharap benda berkilau itu adalah cincin milikinya yang ia perkirakan jatuh di pantai sejak semalam, tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan karena itu bukanlah benda yang ia cari.

Ia sebenarnya tak yakin akan menemukan benda sekecil itu mengingat begitu luasnya pantai yang harus ia telusuri, betapa banyak tempat yang ia kunjungi kemarin yang memungkinkan benda itu jatuh disana, dan betapa banyak pengunjung pantai yang mungkin menemukannya dan mengambilnya. Tapi bagaimana bisa ia membiarkannya hilang begitu saja? bagaimana mungkin ia rela kehilangan benda berharga itu?

Yaa… Benda itu sudah melingkar di jari manisnya sejak hari pernikahannya, dan sebenarnya selama ini ia sama sekali tak memperdulikan keberadaan benda itu apa lagi menanggapnya berharga, namun tidak pula ada sedikitpun niat di hatinya untuk melepaskan cincin itu dari jarinya. Benda kecil itu berbahankan emas 24 karat berhiaskan permata putih cantik di atasnya memang berharga jutaan Won, bagaimana mungkin tidak berharga? Tapi bukan itu yang membuat gadis bernama Choi Sooyoung merasa panic menyadari kehilangan benda itu, tentu saja sebagai seorang idol dari Girl Group ternama, dan berasal dari keluarga kaya, Sooyoung bahkan mampu membeli puluhan cincin serupa.

Tapi sungguh ia juga tidak mengerti mengapa baru sekarang ia merasa benda itu begitu berharga ketika benda itu tak lagi bertahta anggun di jari manisnya.  Kahilangan benda itu seperti kehilangan satu jarinya, apakah karena cincin itu adalah cincin pernikahannya dengan Kyuhyun? Apakah karena Kyuhyun yang menyematkannya di jarinya? Mungkin saja iya, tapi mungkin juga lebih dari itu. Yaa… ia memang tak boleh menyerah, ia harus menemukan cincin itu, mungkin benda itu sekarang berada di sebuah tempat yang belum ia datangi, dengan sedikit pengorbanan ia bisa menemukannya.

*****

Pencarian sudah berlangsung dua jam lamanya, dan ia sudah merasa mengunjungi semua tempat yang ia kemarin datangi. Terik matahari mulai membakar kulit, kerumunan orang mulai berdatangan mengunjungi pantai, tapi tak tampak tanda-tanda keberadaan cincin itu. Sooyoung mulai merasa putus asa, ia begitu lelah, ia mulai berpikir mungkin cincin itu sudah benar-benar hilang tertelan ombak, mungkin juga sudah tertimbun pasir, atau seseorang sudah menemukannya dan menjualnya.

Tubuhnya mulai terasa lunglai, terik matahari dan perut yang keroncongan karena tak sempat sarapan serta perasaan berkecamuk membuatnya merasa lemas, untuk sejenak ia duduk di atas hamparan pasir sambil memandangi deru ombak yang sibuk berkejar-kejaran di hadapannya. Tak terasa sebuah buliran air mata jatuh menggenangi pelupuk matanya. Sial! setelah berusaha keras menahannya, lagi-lagi ia harus meneteskan air mata untuk orang itu.

Tapi bagaimanapun ia sungguh merasa sedih dan putus asa, setelah sekian lama, setelah lelah berperang dengan hatinya, ia akhirnya mampu memahami perasaannya sendiri dan bisa menerima kenyataan bahwa ia benar-benar jatuh cinta kepada Kyuhyun walau ia sama sekali tak menginginkannya. Tapi setelah itu Tuhan seperti mempermainkan perasaannya, bagaimana mungkin Iaa menciptakan cinta di hatinya secara perlahan-lahan, lalu menghancurkannya hanya dalam hitungan menit? Tuhan malah seperti menunjukkan padanya bahwa mereka memang tidak ditakdirkan untuk menjadi pasangan, Ia seperti menyuruhnya untuk berhenti mencintainya. Tapi apa yang harus ia lakukan? ia sudah terlanjur mencintainya, ia sudah terlanjur mengakuinya, masih sanggupkah ia melakukannya? ia begitu lelah dengan semua ini, hingga iapun merasa ragu, apakah ia masih punya kekuatan untuk tak mencintainya lagi?

Beberapa saat kemudian, saat Sooyoung masih bergelut dengan kesedihannya,  tanpa bermaksud apapun, Sooyoung menolehkan wajahnya ke sebelah kirinya,

“Kkapjangi!!” Seru Sooyoung sambil memegangi dadanya yang sedikit berdetak cepat, kaget menyadari ia tidak sendirian, sekitar satu meter dari tempat ia mendudukkan dirinya, bak sebujur bangkai, seseorang sudah tampak berbaring telentang di atas pasir dan hanya beralaskan tikar kecil, Sooyoung tak bisa melihat wajahnya karena ia menutup wajahnya dengan baju kausnya, dari posturnya yang jelas dia adalah seorang pria, bercelana pantai seperempat dan bertelanjang dada, tangan kanannya ia jadikan bantal dengan menyelipkannya di bawah kepalanya. Sementara tangan kirinya ia letakkan di atas perutnya.

Beberapa saat memperhatikannya, mata Sooyoung menemukan ketertarikannya kepada sosok pria itu. Yaa… ia tatap lekat-lekat tangan kiri pria yang tak dikenalinya itu, benda yang melingkar di jari kelingkingnya sungguh tak asing di mata Sooyoung. Yaa… itu adalah cincin yang ia cari sejak pagi tadi, cincinnya yang berharga. Yaa… ia yakin sudah menemukan benda yang ia cari. Sebuah harapan kecil tiba-tibba  tumbuh di hatinya, apakah Tuhan sedang menjawab do’anya sekarang?

Semntara itu, meski tak mengerti mengapa cincin itu bisa sampai ke tangan pria itu, tapi ia yakin itu adalah cincin miliknya, ia begitu mengenali cincinnya, cincin itu di desain khusus oleh ayahnya sebagai hari pernikahannya dan tidak akan ada yang menyamainya.

Tapi… Apa yang harus ia lakukan sekarang? cincin itu sudah melingkar di jari pria itu, bagaiamana ia harus mengambilnya? Maukah ia memberikannya secara cuma-cuma hanya karena ia mengaku kalau itu cincinnya? bagaimana ia harus membuktikan kepada pria itu, kalau itu memang cincin miliknya? Pria itu sepertinya sedang tidur, ide nekat tiba-tiba singgah di benak Sooyoung, bagaimana jika ia diam-diam mengambilnya? Ini bukan mencuri kan? Bagaimanapun cincin itu adalah cincin miliknya, tidak ada yang disebut mencuri milik sendiri bukan?

Dan… tekad Sooyoung sudah bulat, dengan sangat pelan dan hati-hati tangannya mulai menjalar ke arah tubuh pria itu, Sooyoung mulai gugup, takut pria itu akan bangun. Setelah begitu hati-hatinya menjulurkan tangannya, akhirnya ia bisa menyentuh cincinnya yang masih melingkar di kelingking pria itu. Sekarang bagaimana? Bagaimana ia bisa mencopot cincinya tanpa pria itu sadari? Cincin itu tampak kekecilan di kelingkingnya, sehingga mengeluarkannyapun harus dengan paksa dan itu pasti membangunkannya. Sooyoung tak juga menyerah, ia putuskan nekat melakukannya.

Dan, pada detik berikutnya…. Seperti mayat yang bangkit dari kuburnya, pria itu sukses mengagetkan Sooyoung dengan tiba-tiba bangkit mendudukkan tubuhnya, dan seperti maling yang tertangkap basah, Sooyoung kaget luar biasa. Kaus putih yang menutupi pria itu kini jatuh dan menampakkan dengan jelas wajah pria itu.

Tidak seperti ekspressi yang seharusnya ditampakkannya ia menatap Sooyoung dengan ekspresi wajah yang biasa saja, ia sama sekali tak kaget melihat kehadiran Sooyoung yang tiba-tiba, tidak juga langsung protes dengan kelancangan Sooyoung menyentuh tangannya, yang ada ia malah sibuk memperhatikan wajah Sooyoung.

“I… Im Sorry. Im Sorry… Sir” Sooyoung mulai gugup, berusaha meminta maaf semaksimal mungkin, yang ada di otaknya saat ini adalah, bagaimana kalau pria itu tidak terima dengan perbuatannya dan melaporkannya ke Polisi? Sungguh, ia tidak mau membuat masalah di Negara orang.

“Kau…” Omongan pria itu terpotong karena Sooyoung tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf bahkan dengan mata yang tertutup karena ketakutan, kini ia berlutut sambil menggosok-gosokkan kadua telapak tangannya. 

“Miss Sooyoung Choi??” Ucapan pria itu praktis membuat Sooyoung terdiam. Apa dia tidak salah dengar? Pria asing itu memanggil namanya? Sooyoung hanya bisa terbengong melotot.

Pria itu tersenyum tipis lalu berdiri dari duduknya, ia kenakan kembali baju kaus putihnya menutupi tubuhnya yang setengah telanjang, masih tersenyum ia julurkan tangannya ke arah Sooyoung yang masih berlutut, dengan ragu ia memberikan tangannya dan pria itu membantunya berdiri.

“Miss Sooyoung, are you okay?” tanyanya lagi, Sooyoung sejenak bengong namun kali ini ia berhasil menguasai dirinya, iapun menyahut.

“Kau… kau mengenalku?” Tanya Sooyoung sambil membersihkan gaun bagian belakangnya yang tertempel pasir.

“Kau lupa padaku?” Tanyanya balik Pria itu sepertinya benar-benar mengenalnya. Sooyoung rasa ia harus mempertimbangkan kembali untuk mencari tau siapa sosok di hadapannya kini, ia lalu mulai memperhatikan penampilan pria tampan di hadapannya.

Pria itu memiliki portur tubuh proporsional di balik kaus putih tipisnya, dengan tinggi badan sekitar 186 cm, ditambah kulit cokelat khas pria latin memberikan kesan macho pada sosoknya. Bola matanya berwarna cokelat kehijauan dengan alis tebal dan rambut lurus sedikit gondrong menyentuh telinganya berwarna senada dengan warna alisnya yang cokelat gelap, kesemuaannya membingkai sempurna wajah tampannya.

Ia tersenyum lebar ke arah Sooyoung memamerkan cekungan panjang di kedua pipinya serta deretan giginya yang putih dan rata. Pesona pria tersebut benar-benar membuat Sooyoung terpana untuk beberapa saat, sejenak ia berpikir bahwa wanita manapun pasti akan terpana saat bertemu dengan pria setampan ini, bahkan itu dengan rekan-rekan se-grouop nya di snsd sekalipun, ia bahkan kini teringat akan seseorang, Brat Pitt, aktor hollywood tampan favoritnya, yaa meski tak cukup mirip untuk dibandingkan, tapi bagi Sooyoung pesonanya hampir menyamai pesona Brat Pitt saat pertama kali melihatnya. 

“Are You Okay?” ulang pria itu lagi, sedikit membuyarkan rasa terpana Sooyoung.

“Y….yess… Im Sorry, aku bukan pencuri, aku… aku tak bermaksud mencuri apapun darimu” cerocos Sooyoung, kembali dengan pemikiran bodohnya. Sementara, pria itu kembali tersenyum geli melihat tingkah polos bin bodoh Sooyoung.

“Memangnya apa yang ingin kau ambil dariku?” mendengar pertanyaannya, Sooyoung langsung berpikir, ini pertanyaan menjebak.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya, ia rasa ia memang harus jujur.

“Sir… sebenarnya, aku ingin menanyakan soal…. soal cincin yang kau pakai itu” takut-takut, Sooyoung menunjuk jari kelingking pria itu dimana cincin yang ia maksud melingkar.

“Ini?” pria itu mengangkat tangannya menunjukkan cincin yang ditunjuk Sooyoung. Sooyoung pun berkali-kali mengangguk, berusaha meyakinkan.

“Aaahh… jadi…. kau ingin mencuri cincin ini?”

“No…. aku tidak mungkin mencurinya!!” tegas Sooyoung walau masih tak mampu menghilangkan rasa paniknya.

“Aku hanya ingin tau kau menemukannya dimana?”

“Cincin ini….? aku menemukannya di sekitar sini kamarin, yaa… aku pikir seseorang sedang bertengkar dengan pasangannya dan membuang cincinnya begitu saja disini, itu biasa terjadi, kau…” pria itu menyipitkan matanya menatap Sooyoung curiga. Sementara Sooyoung yang mengira pria itu akan mengajukan pertanyaan apakah cincin itu miliknya, mengangguk berkali-kali berusaha meyakinkan.

“Cish, sudah kuduga! sejak tadi malam, sudah ada lima orang yang mengakui cincin ini adalah miliknya, karena melihat aku memakainya di kelingkingku dan barang ini terbuat dari emas 24 karat, jadi tentu saja aku sudah bisa menebaknya” Sooyoung tidak terima, bagaimana mungkin pria itu berkata seolah-olah ia menuduh Sooyoung sebagai penipu? dia bilang ia menemukan cincin itu di sekitar pantai kemarin, bukankah sudah jelas itu adalah miliknya?

“Sure, aku memang mau mengatakan itu, tapi cincin itu benar-benar milikku! jadi, cepat serahkan benda itu padaku!”

“Bagaimana bisa aku mempercayaimu jika cincin ini memang milikmu?” Sooyoung tak berpikir sejenak, mengingat-ingat bukti apa yang bisa ia ajukan pada pria itu untuk meyakinkannya, dan sialnya saat ini ia tak punya bukti sama sekali

“tentu saja kau bisa mempercayaiku, karena cincin itu memang milikku!”

“Maaf Nona, aku tidak bisa percaya seseorang begitu saja tanpa bukti” ucapnya, sambil berlalu dari hadapan Sooyoung, berlagak ia tidak akan sudi memenuhi permintaan Sooyoung. 

Sooyoung tak tinggal diam, berlari mengimbangi langkah cepat pria itu dan berdiri di hadapannya sambil membentangkan tangannya, bermaksud untuk menahan langkah pria itu.

“Kau tidak bisa percaya padaku? lalu bagaimana kau bisa tau namaku?”

“Kau tidak mengenalku?” Sooyoung berpikir sejenak, kembali ia amati pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajahnya memang tampak tak asing, tapi ia sama sekali tak ingat ia pernah bertemu denganya sebelumnya, Ia pikir wajahnya yang tampak tak asing itu karena wajahnya sungguh tampan seperti aktor Hollywood yang ia sering pelototi setiap kali menonton film-film Hollywood, bagaimana mungkin wajah setampan ini tampak asing baginya?

“Kapan kita pernah bertemu?” Tanya Sooyoung ragu

“Kau sungguh tak mengenaliku?” Sooyoung mengangguk pelan. Wajah pria itu tampak kecewa.

“Kalau begitu, lupakan saja”

“Yyaa!…” teriakan Sooyoung tak digubris olehnya. Pria itu terus saja berjalan menjauhi Sooyoung.

“Hey!! kau…. aku akan melaporkanmu ke polisi sebagai pencuri!” Pekik Sooyoung dengan tata bahasa Inggrisnya yang sedikit berantakan. Pria itu tetap tak menggubrisnya dan itu membuat Sooyoung semakin kesal.

“Yyaa!! Dasar laki-laki brengsek!! k*toran anj*ng! #$&^*&” Sooyoung yang kesal kemudian mengeluarkan berbagai macam kata-kata kasar dalam bahasa korea, pria itu tentu tak mengerti apa yang ia katakan, tapi setidaknya ia bisa meluapkan kekesalannya. Namun, seperti mengerti akan kata-kata Sooyoung, pria itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahnya.

Sooyoung tentu kaget melihat respon pria itu, pria itu bahkan kini kembali melangkah ke arahnya dan mulai mendekatinya. Sooyoung kembali gugup, pria itu bahkan tampak seperti akan menyerangnya. Takut-takut, Sooyoung melangkah mundur ketika pria itu sudah terlampau mendekatinya, pria itu lalu membungkukkan sedikit tubuhnya yang tinggi dan  menundukkan wajahnya di hadapan Sooyoung, sementara Sooyoung sedikit mendongak, hingga posisi wajah mereka tampak sangat dekat.

“Kau tau? Melakukan percobaan pencurian dan berkata-kata kotor pada orang lain di Brazill bisa dihukum berat” ucapnya tepat di depan wajah Sooyoung.

“A…Apa?!” Pria itu menyunggingkan senyumnya lalu kembali menegakkan tubuhnya.

“Neo! You can speak Korean? Kau bisa berbahasa korea?” Sooyoung antusias baru menyadari sesuatu. Sebaliknya, pria itu terus menyunggingkan senyumnya tanpa menjawab pertanyaan Sooyoung.

“Lupakan saja, aku tidak ingin repot-repot ke pengadilan hanya demi melaporkanmu, kau juga berhentilah mengakui benda ini milikmu, dan biarkan aku menjualnya”

“Mwo?” Pria itu tak perduli dengan segudang pertanyaan Sooyoung dan hanya berlalu dari hadapannya.

Melihat peluangnya mendapatkan cincin itu semakin mengecil, Sooyoungpun tak tinggal diam. Gadis itu kini mengikuti pria itu dari belakang, kemanapun pria latin itu pergi.

Bahkan hingga beberapa kilometer Sooyoung  pantang menyerah dan mengikuti pria yang  menurutnya tak dikenalinya itu, kemanapun ia pergi.

“Ayolahhh… kumohon berikan cincin itu padaku, aku akan membayarmu berapapun kau mau” Akhirnya, kalimat penawaran itu keluar juga dari mulut Sooyoung setelah lelah mengikuti langkah cepat pria itu.

Pria itu menghentikan langkahnya membalikkan tubuhnya menghadap Sooyoung.

“cish!! kau pikir aku orang seperti itu? mmm… kalau begitu aku akan mempertimbangkan kau perlu kulaporkan ke polisi atau tidak” Ia  berbalik, dan Sooyoung tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Ia lalu berlari dan menghalat jalan pria.

“I… I’m Sorry! Sir… aku akan memenuhi semua keinginanmu, asal… asalkan kau tidak melaporkanku ke polisi dan kau mau memberikan cincin itu padaku” Pinta Sooyoung dengan wajah yang begitu memelas.

Lagi, pria itu berbalik, dengan senyum yang menyungging di wajahnya, ia bertanya

“Benarkah? kau akan melakukan apapun yang aku inginkan?” Sooyoung mengangguk cepat, begitu yakin dapat memenuhi janjinya.

“Berapa lama lagi kau akan ada di Brazil?”

“Aku? mmm…. 3 minggu lagi”

“Apakah kau bisa jatuh cinta padaku dalam 3 minggu?”

“APA?” Pertanyaannya tentu saja mengagetkan Sooyoung, berharap ia salah dengar.

“Kalau begitu, berkencanlah denganku selama 3 minggu ini, dan kau boleh mengambil cincin ini”

“Apa? berkencan? kau sudah gila? bagaimana mungkin….”

“Ya sudah kalau begitu, cincin ini akan selamanya jadi milikku” Pria itu bersiap membalikkan tubuhnya, tapi Sooyoung yang merasa terdesak sepertinya tak punya pilihan lain, meski sungguh tak ingin, lagi-lagi ia harus memanggil pria itu.

“Tunggu!” ucap Sooyoung terpaksa

Pria itupun mengurungkan niat beranjak pergi, sebenarnya ia sengaja saja untuk memancing Sooyoung, toh sesuai dugaannya Sooyoung pasti akan menahannya.

“3 jam, kau boleh mengambil waktuku 3 jam sehari”

“Nanti malam, kau berdandanlah yang cantik, jam 7 aku akan menjemputmu di depan hotelmu”

“APA? Nanti malam? itu terlalu….”

“Sampai jumpa nanti malam Miss Choi…” Sooyoung tak sempat mengumandangkan protesnya, pria itu langsung beranjak menjauh dari hadapannya.

“Yya! neo!!” Sooyoung hanya mampu memekik sekali namun ia rasa percuma karena pria itu dengan begitu cepat menjauh dari jangkauannya.

*****

Sooyoung’s POV

 

Sudah jam 4 sore? Apakah sekarang jam tanganku sedang rusak? kenapa waktu begitu cepat berlalu? aku merasa baru saja tiba dari pantai, bagaimana mungkin sore datang begitu cepat dari biasanya?.

Yaa… hari ini aku benci dengan berjalannya waktu, untuk pertama kalinya aku ingin waktu berhenti. Waktu yang berjalan akan membawaku pada malam dan itu berarti waktunya bagiku untuk keluar berkencan. Ya… mungkin bagi sebagian orang berkencan adalah hal yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu, tapi jika bekencan dengan orang asing apa yang akan kau rasakan?

 Yaa… begitulah aku kini, bertemu dengan pria asing yang sama sekali tak kukenali bahkan namanya pun tidak, yang kurasakan adalah, sebentar lagi aku akan dijadikan sandera. Yaa… dia memang tampan, dia tinggi dan kulitnya cokelat, sungguh tipe pria idamanku. Tapi aku tidak bisa untuk tidak berpikir jahat tentangnya, seorang penjahat tak selamanya berwajah seram bukan? tentu saja dalam film-film sering digambarkan seorang pria tampan atau bahkan wanita cantik ternyata adalah seseorang mata-mata, jadi sangat mungkin bukan kalau dia ternyata adalah orang jahat?

Yaa,,, seorang pria yang baru pertama kali kutemui dan secara mengejutkan tau namaku? baiklah… aku lupa kalau aku adalah seorang member dari SNSD, groupku  sudah terkenal bahkan di belahan Amerika, lantas bagaimana dengan dia yang bisa berbahasa korea? padahal jelas-jelas dari segi fisik dia sama sekali tak punya tampang sebagai orang Asia? lalu, bagaimana dengan cincinku yang dipakai olehnya dan ia manfaatkan untuk memerasku dan mengajakku berkencan? bukankah itu aneh, bukankah aku begitu pantas mencurgainya?

Tapi, walau dengan berat hati, aku harus melakukannya, aku tidak ingin kehilangan cincinku begitu saja, cincin itu terlalu berharga untuk ditukar dengan apapun, yaa… aku memang harus melakukannya.

****

Pukul  6.30 sore, aku sudah mempersiapkan untuk kencan malam ini, dan harus kukatakan lagi, ini benar-benar terpaksa. Dan sekarang aku benar-benar sedih, seharian ini bahkan Kyuhyun meninggalkan hotel seakan tak perduli lagi padaku. Padahal disaat seperti ini aku butuh dia, tak khawatirkah ia padaku? apakah ia akan cemburu jika tau aku dengan pria lain? Seharusnya aku tak mengharapkan demikian, cemburu bisa terjadi jika ada cinta bukan? lalu bagaimana mungkin aku mengharapkan dia cemburu padahal ia tidak mencintaiku? Ppabo! Kau benar-benar ppabo Choi Sooyoung.

Bell pintu terdengar berbunyi, ahh mungkin pelayan hotel, kuhentikan sejenak aktifitas berdandanku dan berjalan menuju pintu untuk membukanya. Dan, setelah membuka pintu, aku menemukan Kyuhyun di sana, heii ada apa dengannya? ia tampak begitu kacau, pelipisnya basah karena keringat, dia dari mana?

“Kyu….” Sapaku, ia tak menjawab, ia hanya menatapku dengan pandangan berkaca-kaca, ada apa sebenarnya dengannya?

“Kau.. dari mana?” Tanyaku lagi,

“kau darimana saja?” Ia malah bertanya balik, suaranya terdengar lemah, aneh sekali dia bertanya begitu? Bukankah aku sudah pulang sejak tadi? bukankah  dia yang seharian tidak ada? harusnya aku yang bertanya begitu.

“Aku…? sejak tadi aku berada disini, aku tidak kemana-mana” ia hanya mengangguk pelan lalu melangkah masuk. Ia tampak lemah dan kacau sekali. dan tentu saja itu membuatku khawatir

“Oh iya… kenapa kau tak mengangkat teleponku?” Ia bertanya lagi, masih dengan suaranya yang pelan, seperti tak bertenaga.

“Aku tadi meninggalkannya di sini” ia kembali mengangguk pasrah, menerima jawaban dariku.

“kau mencariku?” aku hanya menebaknya dan ia langsung menoleh, seperti mengena dengan petanyaanku.

“Cish! untuk apa aku mencarimu? bukankah sejak tadi kau dirumah saja?” Sangkalnya.

Ditengah-tengah pembicaraan kami, handphone ku tiba-tiba berbunyi, tampak dilayar sebuah nomor asing dan akupun mengangkatnya.

 

“Hallo…”

“Kau sudah siap?” siapa ini?

“Hallo… ini siapa?”

“M-I-G-U-E-L”

“Miguel?” kulirik seseorang di sebelahku, ia kini menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“aku tidak kenal yang namanya Miguel, mungkin anda salah sambung” aku baru akan menutupnya, namun dia berkata lagi.

“Kau lupa kencan kita malam ini? kau ingin cincinmu kan?”

“Kau?!”

“Kau mau kau yang turun, atau aku yang naik ke atas?”

“Yyaa! Hajima!! awas kalau kau berani-berani ke kamarku, aku akan turun!” KLIK, aku menutupnya. Buru-buru aku memperbaiki penampilanku dan beranjak keluar untuk menemui pria yang baru kuketahui bernama Miguel itu.

“Kau mau kemana?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba, aku kembali sadar bahwa ia masih berada di sebelahku, mendengarkan percakapanku di telepon tadi.

“Aku… ada janji dengan seorang teman” jawabku sambil sibuk memasang high heels di kakiku.

“Malam-malam begini?”

“yaa… aku sudah janji dengannya” aku sudah selesai memasang sepatuku

“baiklah, aku pergi dulu” Aku baru akan melangkah menuju pintu, namun langkahku terhenti, Kyuhyun menarik tanganku,

“Gajima” ucapnya pelan namun tegas

“Mwo?” aku masih tak mengerti dengan sikapnya

“Aku bilang jangan pergi”

“Kenapa?”

“Tidak baik seorang wanita pergi pada malam hari”

“Gwenchana, Aku bisa menjaga diriku sendiri” Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya, berharap ia akan melonggarkannya. Namun dugaanku salah, ia seperti enggan melonggarkan genggamannya bahkan malah mencengkeramnya.

“Lepaskan, aku harus pergi”

“aku bilang jangan pergi” Ia meninggikan nada suaranya

“ahh Waeyo? kenapa aku tidak boleh pergi? kau bisa pergi seenaknya sesuka hatimu, kenapa aku tak boleh pergi?”

“karena aku tidak ingin kau pergi, jadi tolong… jangan pergi” kulihat kini matanya memerah, aku tak mengerti apa yang sedang ia tahan, tapi aku tau ia sedang menahan sesuatu

“Itu bukan alasan Kyu… sekarang beri aku satu alasan yang kuat, kenapa kau tak ingin aku pergi?” ia diam sejenak, entah kenapa aku begitu berharap, ia akan menjawab karena ia ingin aku ada di sisinya. tapi sepertinya harapanku sia-sia, karena ia sama sekali tak menjawab pertanyaanku, bahkan kini melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tanganku, dan jujur itu membuat aku begitu kecewa, tak bisakah ia memberikan satu alasan saja? Tak bisa kah dia lebih teguh menahan kepergianku?

“Kalau begitu, aku pergi dulu” ucapku lemah, dan iapun hanya terdiam, seperti pasrah dan tak menahanku lagi.

****

Aku melangkah lemah masuk lift yang akan membawaku ke lantai dasar, namun saat pintu lif akan tertutup seorang pelayan tiba-tiba mengganjal pintu lif dengan tangannya, takut terjadi sesuatu dengan sang pelayan, akupun dengan sigap memencet kembali pintu lif agar kembali terbuka.

“Nyonya Cho” panggilnya dengan napas memburu

“Yeah?” walau sedikit bingung dengan tingkahnya, tapi aku meladeninya juga.

“Tuan Cho…. aku tiba-tiba menemukannya tergeletak di depan pintu kamar hotel, dia tampak kesakitan” setelah mendengar kabar itu, aku langsung panik luar biasa, buru-buru aku keluar dari dalam lif dan berlari menuju kamar hotelku yang tak jauh dari lif.

Sesampainya di kamar, aku menemukan Kyuhyun sudah berbaring di atas ranjang, dengan selimut yang menutupi kakinya, masih panik aku langsung melangkah cepat mendatanginya.

“kau, tidak apa-apa? Tanyaku sambil membolak-balikkan telapak tanganku memegangi dahinya yang sama sekali tidak terasa hangat.

“Yang sakit disini” ucapnya sambil menunjuk bagian perutnya, setengah panik, aku menaruh telapak tanganku diperutnya, lalu ia tiba-tiba meraih tanganku dan ia letakkan di dadanya dan ia peluki seperti memeluk guling

“Ahh, seperti ini mengurangi rasa sakitnya”

“Yya! sakitnya kan di perut bukan dada?”

“sejak tadi aku merasakan jantungku berdetak tak normal, rasanya seperti serangan jantung, tapi saat membuka pintu untuk pelayan, tiba-tiba saja aku merasakan perutku terasa keram sekali, mungkin itu efek dari sakit jantung tadi”

“kau mau ke dokter? atau mau obat?”

“tidak, jangan. Ini hanya keram perut biasa, gwenchana” aku masih kurang percaya kalau dia baik-baik saja.

Kembali handphoneku berbunyi dan bisa kupastikan yang menelepon pasti pria bernama Miguel itu. Baru akan mengangkatnya, tiba-tiba Kyuhyun merampas handphone di tanganku dan menutupnya, lalu dengan mengejutkan dia membuka cashing handphoneku dan mengeluarkan batteraynya.

“Yyaa! Neo!” protesku namun tak digubris olehnya, ia malah kembali meraih tanganku dan memeluknya.

“Sekarang kau tidak bisa kemana-mana” pelannya sambil memejamkan mata

“jadi karena ini kau menahanku untuk pergi?” Tanyaku, ia diam sejenak lalu mengangguk

“karena kau sakit?” ia mengangguk lagi persis seperti anak kecil.

“Kalau begitu kau minum obat ya”

“tidak! jangan! aku tidak suka  minum obat, nanti bisa sembuh sendiri” ia langsung mengotot

“Ahh… jadi bisa sembuh dengan sendirinya? kalau begitu sekarang aku bisa pergi” aku menarik tanganku darinya namun ia lagi-lagi merintih kesakitan dan mengeratkan pelukannya pada tanganku, membuatku urung untuk pergi.

“Kau tidak setega itu kan meninggalkan aku dengan sakit perutku yang sewaktu-waktu bisa kambuh?” ia memasang tampang memelas, dan itu sangat berhasil meluluhkan hatiku, membuat aku tak bisa lagi kemana-mana.

Beberapa saat kemudian, kudengar ia mengorok, dia tidur? sial! bagaimana ini? dia bahkan belum melepaskan tangannku yang ia peluki, dan itu begitu erat hingga aku kesulitan untuk melepasnya. Lenganku bahkan rasanya sudah kepanasan dan mulai kesemutan.

Dia tampak tertidur pulas dan aku harap dia tidak akan memeluk tanganku erat lagi dan aku dapat dengan mudah melepasnya. kemudian, pelan-pelan aku berusaha menarik tanganku, namun sebaliknya, kurasakan ia menarik kuat tanganku, hingga membuat tubuhku tertarik ke arah tubuhnya dan pada akhirnya tubuhku berada di atas tubuhnya menindihnya.

Sejenak aku terpaku, menyadari letak wajahnya yang begitu dekat dibawah wajahku. Dan tanpa kendaliku, mataku malah terpaku menelusuri setiap lekuk wajahnya, apakah ini namanya semacam terpana?

“Berapa lama lagi aku harus seperti ini?” tiba-tiba, tanpa membuka matanya, ia mengeluarkan suaranya. aku berusaha bangkit namun dia menahannya.

Dan pada detik berikutnya, ia membuka matanya.

“Apakah aku terlihat begitu tampan saat tidur?

“Mwo?”

“katakan saja, aku sedang berbaik hati memasang wajahku untuk kau pandangi”

“Yyaa! lepaskan! kau yang sengaja menarikku” ia melonggarkan tangannya dan memberiku kesempatan melepaskan diri.

Sejurus kemudian, terdengar suara seseorang mengetuk pintu, aku baru akan turun dari ranjang  untuk membuka pintu, namun Kyuhyun menahanku, entah apa tujuannya, tapi dia ingin dia yang membuka pintu.

“kau?” ucapnya kepada seseorang di balik pintu, setelah ia membukanya.

“Apakah ini benar kamar Choi Sooyoung?” suara siapa itu? jangan-jangan… untuk membuktikan siapa orang itu, akupun menggeserkan letak dudukku agar bisa melihat seseorang yang ada di hadapan Kyuhyun itu dan… benar saja, orang itu… si pria tampan gila yang memaksaku berkencan, Miguel

Sial!! siapa dia sebenarnya? apakah dia tau segalanya tentangku? apakah dia seorang sasaeng fansku dari Brazil?

“Kau mencari istriku?”

“Yaa… kami ada janji berkencan malam ini” Mwo? dia benar-benar sudah gila! berani-beraninya dia berkata pada Kyuhyun bahwa kami akan berkencan!

“Maaf, istriku sedang tidak bisa diganggu, dia tidak akan kemana-mana malam ini” tegas Kyuhyun dan tanpa mau mendengarkan perkataan Miguel, ia langsung menutup pintunya.

Pada detik berikutnya, Kyuhyun berbalik ke arahku dan menatapku dengan tatapan mengintrogasi, aku sedikit panik, seperti maling tertangkap basah.

 

“Kk.. Kyu… kau.. jangan salah paham, aku bukannya mau berkencan dengannya, tapi…”

“Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku, karena aku tak perduli” jujur perkataannya itu sungguh menyakitkan hatiku,

“Kalau begitu, aku berarti bisa pergi dengannya bukan?” tanyaku putus asa. ia menoleh ke arah ku.

“Kau tidak akan pergi kemana-mana”

“Mwo? kau bilang kau tidak perduli, lalu kenapa kau masih menahanku untuk pergi heeh?” saat aku baru melayangkan protesku ke arahnya, handphone miliknya berdering, dengan cepat ia menyambar teleponenya dan mengangkatnya

“Yeoboseyo, YeonHee-ya” Yeon Hee lagi? bukankah semalam dia juga menerima telepon dari orang itu juga, apakah Yeon Hee yang dia maksud adalah Lee Yeon Hee Sunbaenim, cinta pertamanya saat trainee dulu?

“Apa? baiklah baiklah, aku akan ke sana segera” klik, ia menutup teleponnya lalu buru-buru menyambar mantelnya. Cish! lihatlah dia, betapa egoisnya dia, dia menyuruhku untuk tetap tinggal, sementara baru mendapatkan telepon dari wanita lain dia langsung pergi begitu saja, sungguh tidak adil bukan? sekarang aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya.

Aku juga tak mau kalah, kupasang kembali high heels merah maroon ku dan kupasang kembali batteray hand phone ku yang tadi dilepasnya, lalu menyalakannya. Aku bermaksud menelepon Miguel untuk kembali menjemputku, tapi baru saja akan menekan menu panggilan, handphoneku langsung berbunyi dan benar saja itu dari Miguel,

“Hallo, Miguel….” Sengaja aku menyebutkan nama Miguel begitu keras agar dia mendengarnya baru saja aku berbicara, tiba-tiba Kyuhyun kembali merampas handphoneku, mematikannya dan menghampasnya ke ranjang. Dan kelakuannya itu, sungguh membuatku kesal.

 

“Yyaa! Micchisseo?!” bentakku

“Yaa… aku mmang gila, karena kau tak pernah mau mendengarkan perataanku, Kenapa tak pernah mau mendengarkan ucapanku?”

“Cish! Berhentilah menjadi orang menyebalkan Cho Kyuhyun! kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Apakah karena aku mengaku mencintaimu, kau melakukan ini padaku? kau selalu saja mematahkan hatiku, baru saja kau mendapatkan telepon dari wanita lain, kau langsung buru-buru pergi, sementara aku… kau melarangku berkencan dengan pria lain”

“Soo, kau tak mengerti aku…”

“Aku apa? kau tau kau tidak mencintaiku? dan kau bahagia mendapatkan satu tambahan fans? aku lelah Kyu… kau tidak tau betapa sulitnya aku memaksa diriku untuk tak mencintaimu lagi, karena mencintaimu bukanlah sesuatu yang menyenangkan, jadi tolong berhentilah mematahkan hatiku, biarkan aku belajar jatuh cinta dengan pria lain, dan akupun akan membiarkanmu berkencan dengan wanita lain” kurasakan mataku begitu berat dan panas, sebisa mungkin menahan air mata agar tak keluar, aku memberontak melepaskan tanganku dari genggamannya, dan itu berhasil.

Aku lalu berjalan lurus kedepan. Ingin segera keluar.

“Gajima!” Ucapnya pelan tapi tegas. dan aku tidak perduli, aku tetap melangkah

“Gajima!” Kini suaranya semakin lantang membuatku semakin gentar, namun itu tak menyurutkan niatku

“Gajima!!” Ia kini meninggikan suaranya, dan aku sudah tak perduli lagi, aku kini berada diambang pintu dan menyentuh kenop pintu.

Namun tiba-tiba ia secara mengejutkan menarik tanganku hingga berputar 180 derajat hingga berada di pelukannya, dan yang lebih mengejutkan lagi, dengan cepat mencium bibirku. Aku yang terkejut, tentu tak langsung menerima begitu saja perlakuannya, berusaha keras kudorong tubuhnya agar ia melepaskan ciumannya namun tidak berhasil, bahkan ia semakin memperdalam ciumannya dengan menekan tengkukku, aku masih belum bisa terima, aku kembali melawan dengan memukul-mukul dadanya, namun semua itu percuma, ia dengan gesit menangkap tanganku dan mengenggamnya, ia lalu mengapit bibir bawahku dengan kedua bibirnya.

Dan pada detik itu, aku tak lagi mampu melawannya, aku pasrah, aku hanya bisa meneteskan air mata di tengah ciuman itu menyadari betapa bodohnya aku saat ini.

Lagu ‘The One I Love, You’ yang dinyanyikan oleh Jessica Eonnie yang merupakan lagu favoritku yang juga merupakan soundtrack dari drama yang ku bintangi, tiba-tiba mengalun di telingaku, dan aku tau itu adalah ringtone dari handphoneku yang kini berdering, pertanda panggilan masuk, namun aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang, aku tak berminat lagi untuk mengangkatnya, mungkin aku lagi-lagi terbuai oleh cumbuan manisnya, aku tak bisa dan tak ingin lagi menolak apapun yang ia lakukan padaku, dan tanpa kendaliku ia bahkan kini mengangkat tubuhku hingga kakiku tak lagi menyentuh lantai, lalu tanpa melepaskan ciumannya, kurasakan ia membawaku ke suatu tempat dan sejurus kemudian aku sudah berada di atas tempat tidur.

TBC

 

Note From Author

NC gak ya, NC gak yaa? mana ending partnya di tempat tidur lagi? Aku bikin NC gak Yaa?  yang penting banyak yang komen, part 11 pasti dilanjutin. cuma NC gaknyaa rasahasiaaa… pokoknya tungguin aja. Miann kalo part ini kurang OK dari part-part sebelumnya dan banyak typo sana- sini, pan manusia biasa. oke deh, gomawo udah baca hingga ending. Jangan bosen-bosen nungguin next partnya yaa, annyeong!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

179 thoughts on “I Think I Love You!! Eottokke?! Part 10

  1. ah, jinjja….. aku jamuran tahu thor nungguin ffmu ini… ahhh, bahagianya pas tau muncul…
    daebak banget………tp klanjutannya jngan klamaan dong, thor.. ya ya ya? demi kightdeul…… daebak deh keren!

  2. udh lama bgt nungu2 nih ff 😀 akhirnya ngepost juga
    next di tunggu yah thor 😀

    terserah deh nc ato enggak yg penting jgn diprotect soalnya ribet mau minta PW nya >< tpi klo bisa ncnya di skip soalnya msh dibwh umr nih hehehe 🙂 bru 14 thn

  3. Akhirnya ff ini kluar jg ya
    😉

    daebak tw ff mu thor
    cuma disini KY brntem mlu yah ;’D

    next thor jgn lama2
    klo prlu NC aja
    ;p

  4. di lanjut ya thor, kya makin seruuu.. aku baru baca sekarang part 9 dan 10 nya dan semoga cepet dipublis next partnya ya thor, selalu ditunggu beneran.. cepet dipublish ya thor ya ya.. fighting Author lanjutkan fanfic ini sampai selesai ya, Author Jjang..

  5. huuuh cerita’y bikin gregetan.gua bibgubg sana sifat kyuppa.sebenernya kyuppa tuh ngganggep soo eonn kek gimana siiiiiiiih???
    Nc thor Nc

  6. Ayo dong kyuyoung cepet2 saling jujur sama perasaannya masing2 biar gapada salah paham lg. Part 11 nc ya chingu biar greget hhe. Ditunggu part selanjutnya jgn lama2 hwaiting!^^

  7. Kyaaa… Mereka berdua ya ampun thor aku suka bgt klo cerita kyuyoung yg genrenya kayak gni sumpah feelnya dpt bgt. Pas lagi baca bisa greget sendri kadang ketawa2 sendri hihihi😁

  8. Wah mkin rumit aja ni couple, knpa k jujur aja tntang perasaanya biar gk bkin galau….
    Eee…mulai kbawa suasana!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s