Only You To Me Part 4


Judul       : Only You To Me
Author   : Choi Runnisa
Cast        : – Super Junior Kyuhyun As Cho Kyuhyun
– SNSD Sooyoung as Sooyoung
– EXO Suho As Choi Suho
– Super Junior Siwon As Choi   Siwon
Other Cast : You Can Find It In The Story
Genre       : Mellow Drama

Annyeong!! Seperti yang udah-udah, Sorry telat banget publishnya. BTW, thanks yaa udah banyak koment, walaupun di part 2 banyak yang koment karena diancam bakal di protect. But Its OK, kebaikan aktive Readers menutupi kesalahan SIDERS.

Miann kalo cerita ini gak sesuai dengan harapan readers. Author berusaha buat bikin yang lebih baik kok setiap partnya, Yaudah itu aja dari Author, RCL yoaah!!

>>>>>>>

Kyuhyun’s POV

“AKU TANYA DIMANA SOOYOUNG?!”anak ini berani sekali membentakku, Cish! Memangnya dia pikir dia siapa berani-beraninya membentakku? Gwenchana! Aku tidak peduli padanya, Choi Suho hanyalah remaja labil yang merasa dirinya telah dewasa. Dan aku tidak akan pernah memberitahunya dimana Sooyoung berada, memangnya dia siapanya Sooyoung?

“Kau carisajasendiri!”Ketusku lalu kembali melangkah dan berlalu meninggalkannya.

Aku tidak perduli lagi dengan siapapun, baik itu Sooyoung maupun Suho, mereka adalah orang-orang menyebalkan yang menerobos masuk ke dalam hidupku dan menghancurkan kesenanganku, aku bahkan tidak mengerti kenapa bisa-bisanya aku mau mengantar Sooyoung ke sini dan memaksakan diri menyetir dengan kondisi tanganku yang seperti ini, ahh molla! Sepertinya aku mulai gila sekarang.

Beberapa saat aku berjalan, tiba-tiba orang-orang tampak berlarian kocar-kacir sambil meneriakkan kata “Kebakaran!!”. Aku membalikkan tubuhku ke arah di mana orang-orang menyoroti sumber kebakaran, dan kulihat sebuah gedung yang berdiri kokoh di hadapanku kini terlalap api yang dengan cepat merembes keseluruh tubuh gedung, gedung itu… bukankah gedung itu adalah tempat aku terakhir kali meninggalkan Sooyoung??

“SOOYOUNG!!” Jeritku panik, yaa… detik itu pula aku merasakan perasaan panik yang luar biasa, kuedarkan pandanganku ke segala arah, berharap Sooyoung ada di antara rombongan orang-orang itu dan memang sudah keluar dari gedung itu. Dan Sial!! Ia tak ada, apakah dia masih ada di dalam gedung? Apa yang sudah kulakukan?!.

Segera saja aku berlari ke arah gedung yang kini telah dikelilingi oleh orang-orang yang hanya menonton kebakaran ituseakan itu adalah salah satu bagian dari pertunjukan, aku bergegas menorobos ke tengah kerumunan orang, mencoba untuk masuk ke dalam gedung itu. Namun dua orang petugas langsung menahanku mendekati gedung terbakar itu,

“Sooyoung!!!” Pekikku ke arah gedung.

“Tuan, tolong jangan mendekat, gedung ini kebetulan kosong, jadi tidak akan ada korban jiwa, berbahaya jika anda mendekat” ucap salah satu petugas

“Tidak, seseorang sedang berada di dalam sana!! Dan aku harus menyelamatkannya!!”

“Mwoyaa?! Anda ini bicara apa? Sebelum kebakaran tadi aku sudah mengecek isi gedung, di dalam sana begitu gelap, dan tidak mungkin ada yang berani masuk ke dalam sana Tuan, dan akupun sudah menguncinya jadi tidak ada yang bisa masuk”

“Apa?! Jadi kau menguncinya?! Yyaa!! Kenapa kau menguncinya HAH?! Apa kau tidak tau kalau seseorang sedang berada di dalam sana?!” Bentakku seraya menarik kerah baju pria itu. Emosi.

“Mwoyaa? Micchisseo?! tidak akan ada manusia yang berani masuk ke dalam sana kecuali dia sudah gila”

“Kau tidak dengar? Seseorang sedang berada di dalam sana, istriku ada di dalam sana!!”
Orang-orangyang mendengar ucapanku sontak jadi riuh panik, kedua ahjussi itu masih menatapku tidak percaya.

“Yyaa! cepat berikan Kuncinya!!”

“Tidak bisa Tuan, tidak boleh…” BUKKK! Ahjussi yang satu itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika aku langsung melayangkan tinjuku ke wajahnya, ia benar-benar membuatku habis kesabaran. Pria bantat itu tersungkur ke tanah, kulihat ia membawa beberapa kunci yang ia sangkutkan di kaitan ikat pinggangnya, segera kuraih bundalan kunci itu, dan tiba-tiba Suho muncul di hadapanku.

“Tadi kau bilang apa? Sooyoung sedang ada di dalam?!” ia menatapku tajam, aku mengalihkan pandangan, kali ini aku mengaku salah.

“Kau … kau ingin membunuhnya HAAH?!!” Suho semakin meninggikan suaranya, namun aku tidak perduli, segera aku bergegas ke arah gedung, namun kemudian langkahku terhenti ketika tiba-tiba Suho melayangkan tinjunya ke wajahku dan meraih kerah bajuku,

“Berikan kunci itu padaku, kau tidak perlu repot-repot menyelamatkannya biar aku saja!!” Di saat genting seperti ini anak itu masih saja tidak mau mengalah padaku terpaksa aku harus bertindak,kuraih tangannya dari kerah bajuku dan kuhempaskan tubuhnya agar menjauhiku, dia juga belum juga menyerah, kembali ia menjotos wajahku sekali dan berusaha merebut kunci itu dari tanganku. Aku tidak tinggal diam akupun membalas pukulannya hingga terjadi adu jotos di antara kami, perseteruan itu segera terhenti ketika kedua ahjussi penjaga tadi melerai kami, masing-masing dari keduanya menahan kami.Masing-masing tangan kami dibelenggu oleh kedua Ahjussi itu dengan tangan mereka.
Bodoh!! Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku malah membuang-buang waktuku dengan berkelahi dengan anak ingusan itu?Kalau sudah begini bagaimana bisa aku menyelamatkan Sooyoung? Kali ini kerja sama dengan Suho menjadi jalan satu-satunya. Kutatap dia agak lama, “ Brengseek!! Lihatlah, karena ulahmu kita sama-sama tidak bisa menyelamatkan Sooyoung” ia terdiamia tau ucapanku benar adanya

“Kau ingin Sooyoung mati terpanggang di dalamnya Eoh?”Kutunjukkan mimik wajah persekongkolan dengannya, aku harap dia mengerti maksudku, dalam hitungan ke tiga aku memberikan aba-aba padanya untuk bertindak, selanjutnya ia mulai mengerti mengambil kesempatan melepaskan diri dari Ahjussi itu dan segera berlari menjauhi gedung, hasilnya kedua Ahjussi itu panic dan perhatian mereka beralih menangkap Suho, segera kumanfaatkan kesempatan untuk segera melepaskan diri dan berlari kea rah gedung dan membiarkan kedua Ahjussi itu kebingungan.

kondisi gedung kini benar-benar terlahap total oleh api, bahkan kini sudah sampai dinding bagian depan gedung, beruntung pintu gedung belum semuanya terselimuti api, aku berlari ke arah gedung dan meraih gagang pintu dan seketika itu,  aku harus merasakan besi panas dari gagang pintu memanggang tanganku yang sepertinya bagian dalamnya juga sudah terjilat api,  tak terasa air mata meleleh di pipiku, bukan karena merasakan panasnya besi panas dari gagang pintu, melainkan perasaan khawatir sekaligus bersalah pada Sooyoung, bagaimana kalau aku telah menemukannya dalam keadaan tak bernyawa? Arrgh! Mungkin seumur hidup aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri.

Karena jumlah kunci yang begitu banyak dan aku tidak tau kunci dari gedung ini, kuputuskan untuk mendobrak pintu, saat masih sibuk mendobrak pintu, sebuah balok kayu tiba-tiba terjatuh dari atas dan hampir menimpa kepalaku, namun aku tidak perduli, yang ada dipikiranku saat ini hanyalah keselamatan Sooyoung. Dengan sekuat tenaga kudobrak pintu itu berkali-kali dengan tubuhku, kondisi pintu yang kini rapuh akibat jilatan api memudahkanku untuk membukanya lebih singkat. Begitu pintu terbuka, aku langsung disambut oleh gumpalan asap tebal yang membuatku sesak dan terbatuk-batuk serta membuat mataku berair, akupun segera berlari masuk, dengan nekat, aku melingkahi beberapa kobaran api.

“Choi Sooyoung, Eodisseo?!!” Pekikku berkali-kali, air mata bercampur keringat menggenangi wajahku. Kondisi ruangan hampir semuanya sudah dilahap api, berkali-kali potongan balok kayu, berjatuhan dan hampir menimpaku, setelah beberapa saat mencari, kini dari jarak beberapa meter, kudapati sesosok tubuh terkapar lemah di sana, itu Sooyoung!! Akupun berteriak memanggil namanya, tapi sepertinya dia sudah tak sadarkan diri, kulihat kini lemari yang berdiri di sebelah Sooyoung mulai terlahap api dan aku sadar keselamatan Sooyoung semakin terancam, aku berlari memburunya dan kemudian berjongkok mengimbangi posisinya.

“Soo… bangun Soo!!” aku memanggil namanya sambil menepuk-nepuk pipinya, namun sepertinya ia benar-benar pingsan, kuputuskan untuk menggendongnya keluar, namun ketika baru akan mengangkat tubuhnya, aku merasa sesuatu yang sangat berbahaya sebentar lagi akan menimpa kami, aku mendongak ke atas, kulihat kini sebuah balok kayu yang di atas kepalaku, balok kayu itu memang belum terlahap api seperti benda-benda lain di sekitarnya, namun balok itu sudah tampak rapuh dan sudah tak sanggup bertahan pada posisinya, aku tau aku tidak akan menunggu hitungan menit untuk benda itu jatuh menimpa kami, dan benar saja dugaanku, balok kayu itu benar-benar mendekat ke arah kami, dan aku tidak mungkin sempat menghindar, hanya satu yang bisa aku lakukan, melindungi tubuh Sooyoung dengan tubuhku, dan pada detik berikutnya, kurasakan sebuah benda keras menghantam bahuku, hingga membuat kepalaku terasa begitu pening dan akhirnya, aku tak ingat apa-apa lagi.

******

Sooyoung’s POV

Semuanya terasa gelap, dan hampa udara. Mungkin disini bukanlah ruangan yang hampa akan udara layaknya ruang angkasa, namun kegelapan yang menakutkan ini membuat dadaku terasa sesak, ia seperti menelanku mentah-mentah dan membawaku kepada pusaran bayangan kenangan-kenangan buruk yang ingin kulupakan. Tubuhku melemah dan lumpuh seketika, jangankan berjalan, menopang tubuhkupun aku tak sanggup, kurasakan keringat dingin bercampur air mata menggenangi wajahku, aku tidak tau apa yang selanjutnya akan terjadi padaku, mungkin aku benar-benar akan mati disini, dan sepertinya dugaanku benar! karena perlahan-lahan semuanya terasa berat untuk aku pikul, aku tak sanggup lagi menahan semuanya, hingga semuanya benar-benar terasa gelap dan tak seberkaspun cahaya.

Cahaya itu datang  kembali! Yaa…kegelapan itu menghilangdiselimuti seberkas cahaya terang menyilaukan mataku,seseorang muncul dibalik cahaya menyilaukan itu, aku terpaku menatap sosok itu, sosok tinggi dengan wajah menyenangkan. Raut wajah yang biasanya tampak penuh kebencian itu  kini menjelma menjadi wajah menyenangkan yang kusukai persis seperti wajah menyenangkan Jino Appa, kehadirannya membuatku merasa tak sendiri lagi, kehadirannya menghilangkan rasa ketakutan dan kecemasan dalam hatiku, ia seperti udara yang melegakan dadaku hingga membuatku tak sesak lagi, ia seperti pelita yang menerangi gelapnya hatiku, senyumannya menjanjikan begitu banyak asa dalam dadaku. Aku tak akan sendiri lagi sekarang, aku merasa mulai sekarang dia akan selalu ada untukku.

****
Sebuah kesadaran menghampiri rasa lelapku, indera penciumanku kemudian mengendus aroma khasyang sangat tak kusukai, namun aku kenal betul aroma ini, yaa…. seperti aroma obat-obatan, aroma rumah sakit. Anny, aku lebih senang menyebutnya aroma kematian. Meski aku terlalu kecil di kala itu, tapi hidungku masih begitu akrab dengan aroma ini, aromayang mengingatkan aku pada Eomma, berbulan-bulan aku akrab dengan aroma ini, ketika berbulan-bulan aku harus menemani Eomma di rumah sakit,dan semua itu berakhir dengan kematian Eomma, aroma yang sama itu pula yang terakhir tercium olehku ketika Jino Appa pergi menginggalkanku, aroma ini seperti pertanda seseorang yang berharga akan segera terenggut  dari hidupku bukankah aku begitu pantas menyebutnya sebagai aroma kematian?

Pelan-pelan kubuka kelopak mataku yang terasa berat seperti telah lama terkatup, seberkas cahaya menerobos ke dalam kornea mataku hingga menyilaukannya, akupun harus mengerjap-ngerjapkan mataku untuk menyesuaikan mataku dengan cahaya yang masuk.

Samar-samar kulihat kini aku sedang terbaring di sebuah ruangan yang berwarna serba putih, di sebelah kiriku sebuah infus menggelantung pada tiangnya yang menghubungkuan selangnya dengan pergelangan tanganku. Dan di sebelah kananku kudapati kini seseorang, seorang lelaki yang  cukup tak asing bagiku, seseorang yang juga menyenangkan walau dia bukan orang berwajah menyenangkan yang aku sebutkan dalam mimpiku tadi.

“Soo, kau sudah bangun?”ucapnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. Akupun mengangguk pelan.

“Kau sudah tidak apa-apa?”Aku menatapnya sayu dan kupaksakan untuk tersenyum padanya lalu mengangguk pelan.

“Bagaimana aku bisa disini?” tanyaku masih dengan suara parau.

“Kau tidak ingat? Semalam kau terjebak di dalam kebakaran” aku berusaha memutar ingatanku pada kejadian semalam, yang aku ingat terakhir kali, aku bersama dengan Kyuhyun Oppa, selanjutnya aku hanya merasakan gelap, lalu rasa panas ditubuhku dan samar-samar aku seperti melihat Kyuhyun Oppa merengkuhku dalam dekapannya. Tapi ternyata aku salah, bukan Kyuhyun Oppa yang datang menolongku, tapi Suho. Ahh… aku jadi merasa bersalah pada Suho, harusnya aku berterima kasih padanya, bukan malah mengira orang lain yang membantuku.

Kuedarkan pandanganku ke segala arah, entah kenapa mataku ingin sekali melihat seseorang, entah kenapa aku begitu berharap dia yang ada di sisiku. Mungkin kehadirannya dalam mimpiku, membuatku menginginkan melihat sosoknya. Aku sedikit kecewa, anny malah banyak ia tak ada di sisiku saat aku terbangun, ppabo! Bagaimana aku mengharapkannya padahal sudah jelas ia tidak mungkin sudi menjagaku disini?

“Gwenchana?” Tanya Suho lagi, ia sepertinya memperhatikan tingkah anehku.

“An… anny… Suho-ssi terima kasih banyak sudah menjaga dan menyelamatkanku” Ia hanya tersenyum kecut mendengar ucapanku seakan tak senang dengan ucapan terima kasih dariku.

“Kau tak perlu berterima kasih padaku, aku…. tak melakukan apa-apa untukku”

“Arra… Kau pasti lelah menungguiku di sini, sebaiknya kau pulanglah dan istirahatlah”

“Tidak… aku akan menemanimu di sini”

“Suho-ssi… jangan seperti itu, aku sudah tidak apa-apa, aku mohon istirahatlah untukku” ia tampak tak setuju dengan ucapanku, namun kemudian ia tersenyum padaku.

“Baiklah, kalau itu permintaanmu , aku akan istirahat, nanti sore aku akan kembali, kau istirahatlah…” aku mengangguk pelan, dan diapun akhirnya pergi.
*****
Sudah dua hari aku berada di rawat di rumah sakit, entah kenapa dokter terus-terusan menahanku di sini padahal aku sudah merasa sangat sehat. Aku bahkan mulai jenuh disini, jenuh dengan suasana rumah sakit terutama dengan aroma menyengat obat-obatan yang aku benci karena terus mengingatkanku pada hal-hal yang tidak ingin ku ingat. Selama dua hari ini pula tak ada satupun orang yang menjengukku, terakhir kali aku masuk rumah sakit waktu kelas 6 SD di Bali karena terkena demam berdarah, saat itu begitu banyak yang peduli kepadaku, begitu banyak yang menjengukku para tetangga, teman-teman sekolah, Jino Appa dan Siwon Oppa yang hampir 24 jam menjagaku, Cish! Bagaimana aku bisa membandingkan yang dulu dengan yang sekarang? Bukankah sekarang aku tak lagi punya mereka semua yang menyayangiku?  Hanya ada satu orang yang terus menjagaku di rumah sakit, seseorang itu bukanlah keluargaku, tetanggaku, temanku, atau orang terdekatku, seseorang yang bagiku baru saja melalui perkenalan yang terlalu singkat, seseorang itu Choi Suho.

Terlalu sulit bagiku untuk menerima kebaikannya, rasanya terlalu aneh setelah sekian lama seseorang masuk ke dalam hidupku dan coba dekat denganku, bagaimana mungkin aku bisa dekatnya ketika tersenyum saja menjadi hal tersulit yang kulakukan padanya? Tapi apa yang harus kulakukan? Ia sangat baik bahkan terlalu baik, siang dan malam ia habiskan untuk menemaniku disini, aku tau dia pasti mengorbankan banyak waktu berharganya hanya untuk menemaniku di sini. Tapi sekeras apapun aku menolaknya ia tetap tak perduli, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus kulakukan ketika dia telah menjelma menjadi malaikat pelindungku?

Tapi betapa bodohnya aku, menerima kebaikan dari orang seperti Suho harusnya sudah lebih dari cukup untuk orang sepertiku, tapi kenapa aku malah terus-terusan memikirkan seseorang? Kenapa aku terus-terusan mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi? Yaa… setiap kali sendirian di kamar, aku hanya menyibukkan diri menatapi pintu kamar berharap seseorang muncul dari balik pintu membawa sebuket bunga mawar merah ditangannya seraya tersenyum padaku. Tapi sungguh itu khayalan semata, kenapa aku harus mengharapkan dia ada di depan mataku? Bukankah dia yang membuatku berada di rumah sakit sekarang? Bukankah dia sudah membuktikan kepadaku betapa tak perdulinya ia padaku dengan tak sekalipun menjengukku? Bukankah dia selalu membentakku? Bukankah dia selalu enggan menatapku? Bukankah dia begitu membenciku? Bagaimana bisa aku memikirkannya? Bagaimana bisa aku merinduinya seperti sekarang ini?

*****

Hari ketiga di rumah sakit, dokter sudah memperbolehkan aku untuk pulang. Suho mengantarkanku pulang ke rumah, selama beberapa hari di rumah sakit ditemani Suho mulai membuatku terbiasa dengan kehadiran Suho, akupun lebih banyak diam dan mulai tak banyak protes dengan segala kebaikannya meski aku belum sepenuhnya merasa nyaman dengan perlakuannya dan sejujurnya aku masih sangat merasa aneh dan kikuk dekat dengan seorang pria seperti ini, tapi aku harus melawan perasaan ini, aku sudah memutuskan untuk berubah.

Seperti biasa, Suho mengantarku dengan sepeda motornya namun kali ini lebih pelan karena katanya aku baru saja sembuh dari sakit. Sesampainya di parkiran aku segera turun dan melepaskan helmku, Suho penurunkan standar motornya dan membuka helmnya lalu turun dari sepeda motornya, saatu baru akan berjalan menuju dalam gedung apartemen, sebuah mobil yang melaju mendekati kami memekik karena rem mendadaknya karena hampir saja hilang kendali dan menabrak kami, Suho dengan sigap melindungiku dengan menarikku ke sisinya.

Kami melirik ke arah mobil, di dalam mobil itu ada sepasang pria dan wanita dan aku kenal betul siapa pria itu, Kyuhyun. Ketika melihatku seketika ia memalingkan pandangannya dan aku tau apa yang harus kulakukan sekarang, menganggap tak melihatnya jadi kuputuskan untuk berlalu saja sambil Suho tetap menggandenga tanganku, sekali lagi kubiarkan ia melakukannya.

“Gomawo Yul-aah, sampai ketemu besok di kantor” setelah ia turun dari mobil kudengar ia mengucapkan itu kepada gadis cantik yang masih berada dalam mobil. Mobil itu kemudian segela berlalu dihadapan kami, sementara aku dan Suho juga terus berjalan menuju arah gedung, dan kurasakan dia sedang berjalan di belakang kami.

“Ehh… Chakkaman Suho-ssi” aku menahannya ketika dia ingin mengikutiku masuk lif sampai ke lantai apartemenku,
“Kau cukup mengantarku sampai di sini saja” Ia menatapku tak terima
“A…aku baik-baik saja dan aku sudah bisa berjalan sendiri”
“Tidak apa-apa, biar kupastikan kau sampai dengan selamat, tidak apa-apa kan?” Baru saja aku akan mengumandangkan dalihku lagi, tiba-tiba Kyuhyun dengan  cepat masuk lif dan dengan sigap menekan lif seakan tak memberikan kesempatan pada Suho untuk masuk, namun tak kalah sigapnya Suho buru-buru melangkah masuk lif. suasana mendadak jadi terasa aneh dan janggal dan berakhir dengan keheningan, aku mengira bahwa mereka akan berdebat seperti pertemuan mereka sebelum-sebelumnya, namun tidak sama sekali, kami bertiga sama-sama terdiam. Lif pun berjalan dengan keheningan kami bertiga sebelum akhirnya kami sampai di lantai yang kami tuju dan keluar dari lif. Aku dan Suho berjalan terlebih dahulu di depan sedangkan seakan sengaja Kyuhyun berjalan lambat di belakang kami.

“Kamsha hamnidaa Suho-ssi, terima kasih atas segalanya, aku sampai tidak tau bagaimana membalas segala kebaikanmu” ucapku ketika sudah sampai di depan pintu apartemenku, sementara Kyuhyun masih berjalan gontai menuju arah kami.

“Sama-sama, membantu itu adalah kewajiban sesama teman, tidak usah memikirkan cara kau membalas kebaikanku, cukup kau mau menjadi temanku dan mau jalan-jalan denganku saat kuajak saja itu sudah cukup, hehehe” Senyum manis Suho tak cukup mengundang senyum di wajahku, dan aku benci ini.

“Baiklah kau pulanglah lebih dulu, setelah itu aku akan masuk”
“Tidak, kau dulu yang masuk setelah itu aku pulang”
“Baiklah, sampai ketemu besok di kampus Suho-ssi” ucapku sambil melambai kaku ke arahnya lalu masuk kamar.
Di dalam apartemen aku berjalan pelan dari arah pintu setelah menutupnya, merasa aneh Kyuhyun belum juga masuk padahal dia tadi sudah mendekati arah pintu. Bell berbunyi pertanda seseorang datang, Suho kembali? Tidak mungkin Kyuhyun menekan bell apartemennya sendiri. Tanpa pikir panjang lagi aku berjalan ke arah pintu dan membukanya dan yang tampak adalah Kyuhyun yang berdiri di hadapanku dengan menatapku dengan tatapan kesal. Aneh sekali dia memencet bell apartemennya sendiri. Aku tak berniat untuk menyapanya kali ini, aku langsung membalikkan tubuhku dan melangkah menuju kamarnya

“Mulai sekarang jangan seenaknya membawa pria ke apartemenku” ucapnya tiba-tiba dengan nada dingin, menghentikan langkahku dan membuatku memutuskan untuk membalikkan tubuhku.

“Maksudmu Suho? Dia tidak masuk ke sini kan Oppa?” ia diam dan terlihat bingung mencari jawaban yang tepat, namun tampak tak jadi mengucapkan apa-apa dan langsung masuk kamar. Dan ia tampak sungguh aneh
****

Author’s Pov

Pagi datang begitu cepat, saatnya kembali memulai aktifitas. Sooyoung yang baru saja sembuh dari sakitnya bangun lebih siang dari biasanya, setelah memasak ia putuskan untuk mandi terlebih dahulu agar ia bisa langsung pergi ke kampus setelah menyiapkan sarapan.
Sementara Kyuhyun yang dikenal sebagai seorang direktur perusahaan yang disiplin telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun sampai di ruang makan, ia tak menemukan sarapan yang ia harapakan. Ia tau untuk pertama kalinya Sooyoung terlambat menyiapkan sarapan untuknya karena  baru sembuh dari sakitnya. Tapi melebihi dari sarapannya, pagi ini ia ingin sekali melihat wajah yang selama beberapa hari tak ia lihat, Ia ingin sekali makan bersamanya, maka kali ini ia mementingkan egonya dengan berteriak memanggil Sooyoung agar mendatanginya segera.

Dan benar-benar melebihi harapannya gadis itu muncul di hadapannya dengan penampilan yang mencengangkan. Setidaknya itu bagi Kyuhyun, Sooyoung baru saja selesai mandi dan belum sempat berbenah memenuhi panggilan Kyuhyun dengan penampilan seadanya, tanpa sadar ia masih menggunakan baju mandi berwarna baby pinknya yang berkera V itu beralas kaki sandal kamar, wajahnya tampak begitu bening dan polos tanpa polesan make up sedikitpun menghiasi wajahnya yang lembab, dan rambut panjangnya dibiarkannya tergerai tanpa disisir dan setengah basah menebarkan wangi strawberry yang menusuk indera penciuman Kyuhyun, dan dimata Kyuhyun untuk pertama kalinya gadis itu berpenampilan sexy dan menggairahkan walau dengan pakaian tertutup sekalipun. Kyuhyun segera tersadar dan berusaha mengalihkan perhatiannya dan menutupi kegugupannya dengan berdehem-dehem.

“Ehemm… Aku lapar, pagi ini ada rapat di kantor” ucapnya kemudian. Sooyoungpun dengan sigap melaksanakan tugasnya menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.
Setelah menyiapkan  sarapan, Sooyoung masih sibuk membersihkan meja dapur.

“Aissshhh!!” Sooyoung mendengar Kyuhyun mendesis kesal, iapun melihat apa yang terjadi dengan suaminya yang setaunya sedang menikmati sarapnya itu, namun yang dilihatnya kini, Kyuhyu tampak bersusah payah berusaha menyendokkan makanan ke mulutnya dengan tangan kirinya, ia tampak sangat tak kaku menggunakan tangan kirinya dalam hal menyendok, sepertinya dia tipe orang yang lebih banyak menggunakan tangannya daripada tangan kirinya, terbukti dia tampak sangat tidak nyaman dengan cara makan kidalnya itu. Sesekali ia juga mengeluhkan punggung sebelah kirinya yang tampak sakit layaknya sehabis tertimpa sesuatu.

ada apa dengan tangan kanannya? Apakah lukanya masih belum sembuh? Kenapa malah semakin parah? Bukankah kemarin dengan lukanya itu dia bahkan sudah bisa menyetir? Apakah itu kembali terluka karena sesuatu yang lain? Batin Sooyoung. Sooyoung yang tidak tega melihat keadaan suaminya itu memutuskan untuk mendekati Kyuhyun.

“Gwenchana?” Tanya Sooyoung perhatian
“Apa kau melihatku sedang baik-baik saja sekarang?” Ketusnya frustasi sambil kembali berkonsentrasi menyuapkan nasi ke mulutnya. Tak terasa seulas senyum mengembang di bibir Sooyoung menyaksikan cara makan Kyuhyun, sebenarnya ia kasihan melihat suaminya itu dalam kesulitan, tapi ekspresi wajah Kyuhyun yang tampak begitu tak sabar melahap makanannya dengan susah payah memberikan kesan lucu dan menggemaskan. hal yang tersulit yang ia lakukan adalah menyendokkan soup ke mulutnya, terlebih sendok soup yang ia pakai cukup besar dan berat, karena Kyuhyun menyendokkannya kurang pas dengan mulutnya soup itu malah tumpah menggenangi sekitar bibirnya, membuatnya tampak seperti anak kecil, berkali-kali ia mendesis kesal namun rasa laparnya membuatnya tak ingin menyerah begitu saja. Kali ini Sooyoung semakin merasa gelid an tanpa sadar ia tak kuasa menahan tawanya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia bisa tertawa walaupun masih tawa kecil dengan hanya melihat cara makan Kyuhyun.

Sementara Kyuhyun yang tersadar dirinya sedang ditertawakan akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah Sooyoung yang tengah berdiri di hadapannya,

“Neo!! Kau sedang tertawa sekarang?” Sooyoung menahan tawanya dengan menutup mulutnya
“Apa yang kau tertawakan?” Kyuhyun meninggikan suaranya. Tapi Sooyoung malah melanjutkan tawanya.

“Yyaa!! Kau menertawakanku?!” Bentak Kyuhyun dengan mulut yang dipenuhi dengan nasi, alhasil beberapa butir nasi muncrat dari mulutnya tanpa ia sadari. Dan Sooyoung benar-benar merasa geli dan tak mampu lagi menyembunyikannya, ia benar-benar meledakkan tawanya untuk pertama kalinya di hadapan Kyuhyun.

“Yyaa!!” Kyuhyun tak terima, namun Sooyoung seakan tak perduli dan tetap terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Kyuhyun tadinya kesal dan mengomel malah terdiam dan sibuk memperhatikan tawa gadis itu.

Suatu kesempatan emas bisa menyaksikan tawa Sooyoung, tawanya bahkan senyumnya adalah 1 dari tujuh keajaiban dunia, dan hari ini Kyuhyun benar-benar menyaksikan tawa lepas gadis itu, tapi bukan itu yang membuat ia terdiam, melainkan ia mulai terpesona memandangi gadis yang tampak berbeda dengan tawa lepasnya itu, sungguh berbeda. Tiba-tiba saja Kyuhyun menyukai tawa itu, tiba-tiba saja ia ingin terus melihat tawa itu, ia seperti menyaksikan ribuan bidadari sedang tersenyum kepadanya.

Namun keterpanaan itu segera sirna, Sooyoung yang seakan tersadar dan menghentikan tawanya dan dengan cepat mengembalikan ekspresi wajahnya seperti biasanya, dan itu benar-benar membuyarkan mimpi indah Kyuhyun.

“Kau mau kubantu makan?” Tanyanya kemudian. Kyuhyun diam, tak tau harus menjawab apa, tiba-tiba saja gadis itu sudah duduk di hadapannya meraih mangkuk makanannya dan tanpa aba-aba menyuapkan makanan itu ke mulut Kyuhyun.

Dengan amat sangat kikuk Kyuhyun menerima suapan itu tanpa melihat wajah Sooyoung, dan hal itu berlangsung dengan keheningan, Kyuhyun benar-benar tak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Geurom, Yuri sudah menungguku di bawah, aku pergi dulu” Ucap Kyuhyun kikuk, cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya setelah Sooyoung sukses menyuapkan semua sarapannya ke mulutnya. Sebelum ia sampai ke mulut pintu, ia sadar melupakan satu hal, tas kerjanya, dengan berat hati ia berbalik dan ia kaget Sooyoung sudah tidak ada lagi di meja makan, cepat sekali ia perginya, sedikit kecewa Kyuhyun segera menyambar tasnya dan beranjak menuju arah pintu, namun sungguh mengejutkan, Sooyoung sudah ada di hadapannya, dan tiba-tiba gadis itu jadi sering membuat Kyuhyun merasa kikuk. Sejurus kemudian Sooyoung menunjukkan sebuah dasi merah bermotif garis diagonal nya padanya yang sangat serasi dengan kemeja biru kelabunya.

“Kau melupakan ini” lirihnya
“O…Oh” hanya itu yang dikatakan Kyuhyun
Tanpa aba-aba Sooyoung mendekati Kyuhyun selangkah dan mengalungkan dasi itu ke lehernya, dan tentu saja semakin memacu jantung Kyuhyun hingga berdetak tak karuan, dan seakan tak melakukan apa-apa pada Kyuhyun, usai memakaikan dasi itu ke Kyuhyun, ia dengan cueknya langsung berlalu dari hadapannya tanpa mengucapkan apapun dan langsung masuk kamar. Kyuhyun kembali mendesis kesal tak terima dengan sikap Sooyoung yang seakan mempermaikannya.
*****
Kyuhyun’s POV

Malam ini demi memenuhi undangan makan malam Henry Gomo, akupun mengajak Sooyoung. Kini kami sedang barada dalam mobil menuju rumah Henry Gomo, karena kondisi tanganku sudah lumayan membaik, aku sudah bisa makan sendiri dengan tangan kananku tentunya (walaupun itu berarti aku tak akan lagi disuapi Sooyoung), tapi aku belum bisa mengendarai mobil, maka untuk sementara waktu aku menggunakan jasa supir, karena tak mungkin selamanya aku menumpang mobil Yuri kemana-mana. Perjalanan menuju rumah Henry Gomo, aku dan Sooyoung duduk di kursi bagian belakang. Berdua dengannya di dalam mobil benar-benar membosankan, apakah dia sama sekali tidak punya gairah untuk mengatakan sepatah katapun padaku? Padahal aku ingin sekali berbicara padanya, setidaknya mengatakan padanya bahwa malam ini dia benar-benar *eheem cantik dengan gaun malam merah maroonnya itu. Tapi tidak bisa karena dia tampak begitu enggan menatap ke arahku.

Setengah jam berdiam diri di dalam mobil, akhirnya kami sampai juga ke rumah besar Henry gomo. Dan Sooyoung kembali dengan tingkah menyebalkannya itu, ia berjalan seperti menjaga jarak di sampingku, tangan kami yang menganggur hanya bertabrakan satu sama lain. Gemas dengan situasi seperti itu, aku segera mengambil meraih tangannya dan menggandengnya masuk ke dalam, aku dapat merasakan ia sempat terkejut dengan aksiku, tapi aku tak perduli lagi, karena aku hanya sedang ingin menggandengnya, tidak boleh kah?
*****
Author’s Pov
Seorang pegawai rumah tangga mengantarkan Kyuyoung ke taman belakang rumah teman acara makan malam kecil-kecilan itu diadakan. Kedua tangan mereka masih  saling bertaut. Mereka cukup kaget, ternyata yang diundang untuk makan malam oleh keluarga Henry Song bukan hanya mereka, tapi ada keluarga lain, dan ada Tuan Choi bersama putranya Suho, tentu saja karena mereka juga adalah bagian dari keluarga Tuan Henry Song. Selain itu yang mengagetkan lagi adalah dengan kehadiran putri dari Tuan Henry yang tak lain adalah Victoria Song, tentu saja hal itu sangat wajar, bagaimanapun Victoria adalah putrid tunggal dari keluarga Song, tapi khusus bagi Kyuhyun, hal itu sangat mengejutkan.

Sontak sebelum ia benar-benar duduk di tempat duduknya, segera ia lepaskan genggaman tanganny dari tangan Sooyoung saat melihat Victoria di hadapannya. Dan Sooyoung dapat merasakan perubahan itu, ia tau ada sesuatu antara mereka berdua dan itu sedikit banyak menyakitkannya.
TE to the BE to the CE
Miann, part ini singkat banget, Insha Allah part selanjutnya SO ON dan lebih seru, tungguin yak! Biar lebih penasaran lagi, author kasi teasernya deh. Cekidot!

Teaser Next Part

“Kalian tidak berencana untuk berbulan madu?”
“Ehh?
>>>>
“Bagaimana kalau kita berlibur dengan mengadakan Camping bersama” (Henry Song)
“Maaf… kami tidak bisa ikut, Kyuhyun sedang….” (Sooyoung)
“Baiklah kami akan ikut” (Kyuhyun)

>>>>
“Kau terluka karena menolongku dari kobaran api kan?” (Sooyoung)
“Kedde, lalu kenapa? Aku hanya tidak ingin dicap sebagai pembunuh karena membawamu ke sana”(Kyuhyun)
“Bukan karena kau khawatir padaku?”

>>>>
“Kau kedinginan” (Kyuhyun) di dalam tenda
Mengangguk (Sooyoung)
“Sini aku peluk” (Kyuhyun)

>>>>
“Miann Kyu, hiks!” (Victoria, berhambur ke pelukan Kyuhyun)
Memeluk Victoria (Kyuhyun)
“Saranghae Kyu”

>>>>
Sooyoung menangis menyaksikan adegan itu ketika seseorang muncul dan tiba-tiba memeluknya.
“Saranghae Soo” (Suho)

Advertisements

116 thoughts on “Only You To Me Part 4

  1. hmh.. Akhirnya dapet bacca FF nya yang ini part 4 makinn nyeseek yah.? Kyu gengsi bangeeetttt :3 tapii seneng liat kepeduliannya dn liat kyu cemburu..!!!
    Dabbakk.. Kyu cmburu aku suka, soo gg sadar jugaa.! Heheh ..
    KYUYOUNG jjang..
    Next thor..
    Mian baru smpat bbaca next partnya yah.?! Ffnya aku sllalu suka :*

  2. Treasernya bikin jengkel,Knp vic ahjumma tiba2 berbalik suka sih sm kyuppa..kya nggak rela >.< tp ada moment kyuyoung yg sweet jg nih :3
    Nggak sabar baca next chap nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s