Berbagai Propaganda Dalam Tayangan Jodha Akbar


image

Well to the well well… ini tulisan gue yang kesekian kalinya mengenai unek-unek gue tentang tayangan TV indonesia  yang makin hari makin gak layak konsumsi alias ‘Beracun’ dari hanya sekedar beras plastik.

Kali ini yang akan gue kritisi dan yang akan gue sinisin bukan lagi produksi lokal, karena gak bakal ada habisnya dan bikin capek hati gue aja, kini yang mengundah-gulanakan selain infoteimen yang semakin menggibah, variety show yang makin banyak dramanya atau bahkan sinetron ‘Madagaskar’ adalah tayangan impor yang mulai bikin gue khawatir akut dan resah melebihi ancaman para Begal dikala gue pulang kerja malam.

Ini bukan berarti gue adalah kelompok fanatik atau komunis garis keras yang gak nerima produk impor jenis apapun macam Korea Utara, gue mah kayak orang-orang Indonesia pada umumnya yang pada doyan sama produk impor. Selama ini gue sangat welcome sama yang namanya tayangan impor, berhubung gue cukup muak dengan tayangan negeri ini yang semakin gak berkualitas. Gue bahkan termasuk orang  yang cukup mengikuti tayangan-tayangan impor yang udah dari kapan ngerti. Dari jaman telenovela, India sampe K-Pop gue embat semua.

Tapi entah ini karena efek bumi yang semakin menua atau ini pertanda dajjal sudah tiba di bumi, para pelaku hiburan di negeri ini sudah semakin menggila dan kapitalis tingkat dewa.

Kalo kita mau berpikir secara kritis, penjajahan di Indonesia sebenarnya gak pernah berakhir. Sadar atau tidak sadar, kita dijajah oleh hampir semua negara besar dari berbagai sisi dan cara, entah itu penjajahan secara fisik kayak jaman jepang dulu, atau eksploitasi, life style, makanan, teknologi bahkan penjajahan mental atas nama globalisasi seperti jaman sekarang ini.

Dan kali ini giliran Bollywood yang menjajah kita dengan penjajahan yang lebih halus namun sejatinya lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya.

Yaa… bollywood jelas bukan barang baru lagi di Indonesia, jauh sebelum K-pop atau bahkan holliwood, film-film, budaya, bahkan musik Bollywood sudah lama berdampingan dan beriringan dengan dunia hiburan di negeri ini.

Saking lamanya malang melintang di tanah air, Bollywood bahkan mengalami pasang surut popularitas, dari jaman Amitabh Bachchan yang katanya jago berantem, lalu Sahrukh Khan dengan film-film romantis ala Saipul Jamil nya sampe kemudian bollywood sempat tergeser oleh masuk nya film Holliwood lalu K-Pop, sebelum akhirnya tahun 2015 ini kembali berjaya dengan ekspansi serial-serial nya.

India yang mayoritas beragama hindu dan sangat identik dengan sisi religiusnya pun banyak memproduksi serial yang bertema mythologi dan sejarahnya yang kemudian ditayangkan dengan bebasnya di Indonesia.

Dan yaa… gue akui budaya dan hiburan India sangat mudah diterima di Indonesia mengingat India dan negara ini punya banyak kesamaan budaya, latar belakang sejarah bahkan selera pasar, mungkin juga karena yang banyak memproduksi film dan sinetron-sinetron Indonesia selama ini adalah orang-orang keturunan India, maka gak heran sinetron-sinetronnya pun gak jauh beda *lebaynya.

Berbagai tayangan-tayangan serial India pun menjamur bak jamur dipinggir kolam *halah!, yang gue tau beberapa serial yang paling booming di Indonesia adalah serial Mahabaratha, Mahadewa, Ramayana, Jodha Akbar, hingga yang terakhir Ashoka, rating tayangan-tayangan ini pun bahkan mampu menggeser sinetron ‘Madagascar’ nya RCTI dan SCTV padahal mereka udah niat banget bikin sinetron karena harus melatih para ‘harimau’dan ‘srigala’ sebagai pemerannya.

It’s okay! merupakan hal yang positif memang memperluas pengetahuan kita tentang sejarah negara lain dan tentu bisa menjadi inspirasi bagi pelaku hiburan di negeri ini buat bikin tayangan yang lebih cerdas dan bermodal dikit, paling gak kayak serial india, *asal jangan diplagiatin lagi aja.

Walaupun makin ke sini salah satu stasiun TV negeri ini mulai menggila dan menggeser karya-karya dan SDM dalam negeri dengan segala yang berbau bollywood demi kepentingan rating semata. Hingga masyarakat sekarang bahkan lebih tau sejarah India daripada sejarah negara sendiri, sungguh ironis!

Yang parahnya, segala tayangan tersebut dikemas dengan sangat apik,  dramatis dan penuh nilai moral sehingga lama-lama membuat kita kesulitan membedakan nilai positif dan negatif dalam tayangan tersebut.

Dan yang lebih parahnya lagi, kita mulai gak sadar bahwa begitu banyak hal yang sudah tergeser dalam jiwa kita termasuk AQIDAH kita pun digeser dan dilecehkan sedemikian rupa dan kita hanya diam saja karena kita mulai dibutakan oleh cerita yang sedemikian kerennya.

* Mengenai Jodha Akbar

image

–  Pemalsuan Sejarah dan Pembohongan Publik

To the point aja, gue gak pengen terlalu banyak komentar tentang tayangan lainnya, walaupun gak berarti tayangan-tayangan lainnya gak mengkhawatirkan.

Satu program yang pengen gue sentil karena udah bikin gue pengen bakar ban di depan kantor KPI adalah Jodha Akbar, ANTV. Bukan hal yang baru memang Jodha Akbar jadi kontroversial bahkan di negaranya sendiri dan orang hindu sendiri pulak yang mengkritik karena dinilai anti sejarah dan gak sesuai catatan sejarahnya, menurut sumber yang gue baca, mereka berdalih bahwa Jodha Bai bukan istri dari Raja Akbar, tapi istri dari Raja Jahangir atau Raja Salim anak Raja Jalal.  Anehnya Indonesia masih aja mengimpor dan menayangkan tayangan yang di negara sendiri di anggap s*mp*h dan banyak bo’ongnya hanya karena ratingnya tinggi.

Yang Menarik Dari Serial Ini
Gak munafik, jujur awalnya gue tertarik dan sangat penasaran dengan serial ini, karena gue termasuk salah satu pecinta film Bollywood dan gue suka cerita yang berbau sejarah, that’s why gue bisa menganilsis cela dari serial ini. Dan bukan berarti gue menutup mata dan hati tentang banyak hal yang menyimpang dan melenceng di serial ini.

Give Standing Applause yang tulus dari gue kepada penulis cerita ini, pinter banget bikin serial bertema sejarah, serial dengan episode puanjang *walaupn belum bisa menyaingi rekor Tukang Bubur Naik Haji* dan dengan alur yang lumayan apik dan dramatis. Menguak sejarah penyatuan umat islam dan umat hindu di India, intrik dan politik dikemas secara cerdas, dramatis sekaligus romantis seakan menyampaikan betapa tolerannya mereka dan betapa indahnya sebuah perbedaan.

Propaganda Pelecehan Muslim

image

Orang yang mau berpikir dan mau peduli sedikit aja jelas akan tau esensi dari cerita ini yang sebenarnya, bahwasanya sejak awal serial ini jelas-jelas sudah memojokkan Islam walau dengan cara yang sangat halus namun sebenernya cukup jelas adanya.

Anehnya tanpa mempertimbangkan fakta sejarah, dan hanya bermodalkan imajinasi dan perspektif penulisnya serial ini berani-beraninya menampilkan sosok-sosok muslim yang diperlihatkan kegiatan shalatnya, bercambang dan tanpa kumis, sebagai identitas seorang muslim tapi mereka dibuat menjadi karakter yang sangat licik, bringas dan menghalalkan segala cara demi kekuasaan.

Bahkan raja Jalaluddin Akbar yang jelas-jelas pemimpin muslim digambarkan sebagai sosok yang kejam dan bringas sebelum bertemu Ratu Jodha yang notabene seorang Hindu yang taat, baru yang ini aja gue udah menyimpulkan bahwa mereka ingin menyampaikan bahwa kerajaan Islam begitu besarnya di India tidak lain karena adanya peran umat hindu di dalamnya.

Gak cuma itu, Ratu Ruqayya istri pertama Raja Akbar pun jadi korban imajinasi sang penulis yang sukses digambarkan sebagai sosok yang sombong, gila jabatan dan licik bahkan menjadi tokoh antagonis utama dalam perkembangannya. Maham Anga *entah ini tokoh fiktif atau emang ada*, yang merupakan ibu persusuan Raja Akbar bahkan digambarkan berjilbab, lambang muslimah shalehah malah dibuat licik dan jahatnya nauzubillah.

Secara keseluruhan semua tokoh antagonis dalam serial ini digambarkan berasal dari kaum muslimin sendiri, bahkan yang mirisnya seorang dari kalangan ulama pun diceritakan berbuat licik dan membunuh demi sebuah kekuasaan.

Pertanyaannya, bukankah menjadikan karakter seorang tokoh sejarah menjadi karakter fiktif apalagi dijadikan karakter negatif adalah sebuah fitnah besar? Bukankah itu pencemaran nama baik tokoh Sejarah? mana tau kalau ternyata ratu Ruqayya adalah wanita yang mulia dan shalehah melebihi ratu Jodha yang bahkan masih dipertanyakan identitas dan keeksisannya?? Dan bukankah India berkembang bersama kaum muslimin sebelum mereka menjadi negara Pakistan? Bukankah Islam pernah berjaya di India selama ratusan tahun dan ikut membangun peradaban mereka? Bahkan masjid Taj mahal yang menjadi lambang dan kebanggan India dibangun oleh orang Islam, jadi sungguh sangat aneh kalau mereka ingin menunjukkan bahwa orang Islam gak berperan apa-apa dalam peradaban India, seperti yang mereka propagandakan, itu hal pertama yang pengen gue lurusin disini.

Dan what about hinduish? Agak gak realistis sebenarnya, dimana semua ummat hindu dalam drama ini digambarkan bertolak belakang dari ummat Islam, mereka digambarkan sebagai pihak yang teraniaya, namun berjiwa ksatria, selalu tepat janji dan gak pernah menyerang dari belakang. Ratu Jodha digambarkan sangat taat beribadah dan berhati lembut hingga mampu merubah Jalal menjadi pribadi yang mulia hingga diberikan gelar Akbar. Dan bak sedang berdakwah, mereka selalu mengungkapkan nilai-nilai luhur agama hindu, dan seakan mengkaburkan bahkan menghilangkan betapa banyaknya nilai-nilai luhur dalam islam yang gak mereka ungkapkan satupun.

It’s okay sekali lagi, mungkin itu adalah salah satu dakwah mereka terhadap masyarakat India yang mayoritas beragama hindu, tapi apa yang salah disini?? Yang menjadi masalah adalah ketika fakta dan sejarah telah diputarbalikkan tanpa dasar yang konkrit dan sudah mendatangkan fitnah bagi pihak komunitas lain, dalam hal ini kaum muslimin sendiri.

Seperti tayangan tadi malam *27 Mei 2015*, dimana serial tersebut semakin memperjelas propaganda yang gue amati selama ini, kebetulan karena emak dan adek gue pada doyan lagi-lagi gue terpaksa harus menonton serial ini dan lagi, pas berkenaan dengan scene ketika raja Jalaluddin menganggap dirinya sejajar dengan Tuhan. Dan anehnya, orang-orang muslim khusus di serial ini malah mendukung penuh pernyataan gila sang Raja, sementara kubu Hindu, dengan sangat berani dan mulianya menentang habis-habisan.

Can you see the wrong thing clearly? hal itu jelas bermaksud menyampaikan bahwa orang hindu dengan segala ajaran kebajikannya menganggap raja hanya sebagai manusia biasa dan Tuhan jauh lebih kuasa di atas segalanya, tapi dengan b*gonya, entah ajaran dari kitab mana para kaum muslimin dalam cerita itu malah mengiyakan dan mendukung bahwa Raja Jalaluddin Akbar setara dengan Tuhan layaknya seorang Firaun.

Yang ingin gue luruskan, faktanya dalam Islam bahkan seorang rasul semulia nabi Muhammad SAW, yang juga sekaligus seorang pemimpin ummat dan pemimpin negara pun gak pernah sudi diperlakukan layaknya raja, apalagi mau disetarakan dengan Tuhan. Di dalam Al-Qur’an bahkan berkali-kali diceritakan kisah fir’aun yang telah terjamin kekal di kerak neraka karena kesombongannya yang mengaku sebagai Tuhan. Masih mungkinkah orang islam memperlakukan raja sebagai Tuhan??

Apakah Ini Sensitifitas Islam Garis Keras Semata??

Orang yang gak paham akan selalu bilang orang Islam fanatik dan sensi, dikit-dikit dipermasalahin, didemo, bahkan bisa dibilang kebanyakan yang bikin statemen sinis semacam ini tidak lain adalah orang Islam sendiri, jadi kalo ada orang yang mengkritisi sebuah tayangan bagus tapi menyimpang, beberapa dari mereka pasti akan berpikiran seperti itu, terlebih kalau itu adalah tayangan favorit mereka.

Faktanya, bagaikan saudara tua Indonesia dan India punya banyak hal yang identik, yang membuat ekspansi India dengan mudahnya diterima di negara ini, tapi satu hal yang berlawanan dari keduanya adalah dari segi akidah dan kepercayaan.

Masyarakat Indonesia jelas mayoritas beragama islam dan hindu hanya sebagian kecilnya.
Sementara, mayoritas masyarakat India beragama hindu fanatik, sebagian kecilnya beragama Islam dan sisanya agama lain karena India dikenal sebagai negara yang sangat bebas beragama dan berkepercayaan, apapun bentuknya, jadi mau nyembah pohon atau batu akik pun gak masalah di India.

Menilik sejarah hubungan India (Hindu) dan Pakistan (Islam), kedua negara ini terjadi perpecahan dan adanya kepentingan politik yang mengatasnamakan agama. Akibatnya, perang sudah menjelama menjadi perang antar agama. Jadi sudah tidak mengherankan bahwa India punya sensitifitas tinggi terhadap kaum muslimin, faktanya bukan cuma serial Jodha Akbar yang memojokkan Islam, ada begitu banyak film yang mengkaitkan terorisme dengan Islam, seperti ‘Kuurban’, ‘Dilse’ dan ‘Faana’. Jadi kasarnya, kita bukan lagi dipojokkan, tapi sebenarnya kita diserang dengan cara yang halus. 

Meskipun kalo dilihat-lihat hal negatif yang digunakan untuk menyerang islam hanya melulu terorisme yang bahkan gak ada bukti konkritnya sama sekali. Pertanyaannya, kalau mereka yang mayoritas beragama Hindu aja bisa pro terhadap agama mayoritas dan memojokkan agama kita, kenapa kita juga gak bisa membela agama mayoritas kita yang sudah diserang??

Why Do I Really Care??

image

Sekali lagi gue tegasin disini, gak ada yang salah dengan Doktrin dan dakwah nilai-nilai hindu yang terkandung dalam setiap serial impor ini, taruhlah biar itu bisa jadi bahan tausyiah untuk ummat hindu di Indonesia, kita sebagai ummat beragama lain bisa menganggap itu hanyalah dongeng semata dan membiarkan mereka yang yakin untuk mempercayainya.

Gak pula jadi masalah ketika mereka menjelek-jelekkan agama kita di negeri mereka sendiri yang mayoritas beragama hindu dan sebagian kecil umat islam yang sudah pluralis itu, seperti yang sudah-sudah.

Yang menjadi permasalahan terbesarnya adalah ketika kita *khususnya agama Islam* sudah gak bisa lagi membedakan dan menyaring serta memaknai pengaruh positif dan pengaruh negatif yang dikemas secara propagandis dalam tayangan itu. Kita bisa bersatu melawan Jepang atau Belanda, karena kita tau mereka jelas-jelas menjajah kita secara fisik kitapun masih bisa menyaring nilai positif dan negatif tayangan Hollywood ataupun Korea karena kita tau dengan jelas bahwa itu adalah hal negatif dan mereka gak pernah membenarkan perbuatan mereka apalagi memojokkan pihak lain.

Tapi tayangan Jodha Akbar jelas-jelas memojokkan kaum muslimin dengan propagandanya yang nyaris sempurna, dan ironisnya kita seakan gak sadar bahkan gak peduli dengan penistaan terhadap agama kita dan menerima dengan lapang dada racun yang mereka sodorkan kepada kita.

Gak sadar karena tayangan itu dikemas dengan sungguh menarik dan apik, memutar balikkan fakta dan fitnah kejam terhadap islam dengan cara yang sangat elegan karena dibungkus dengan moral dan nilai-nilai luhur ala hindu hingga membutakan mata dan perlahan mencuci otak kita dengan pemahaman nilai kebenaran versi mereka.

Pemerintah (KPI) yang luput atau sebenarnya mungkin sengaja gak menyaring tayangan yang sejatinya dan jelas-jelas merusak moral bangsa lagi-lagi demi kemakmuran kantong mereka sendiri, stasiun TV yang kian kapitalis alias serakah dan mementingakan rating diatas segalanya, serta masyarakat yang gak lagi perduli, dan hanya duduk diam menikmati tayangan yang jelas-jelas memojokkan agama dan meracuni aqidah itu,  bukan hanya dipojokkan tapi sejatinya kita telah diserang, benar-benar diserang layaknya Amerika menyerang Hiroshima dan Nagasaki, bedanya kita bahkan lebih parah, karena kita gak tau dan gak sadar kalau kita sedang diserang, akibatnya kita diserang secara sukarela.

Maka jangan heran kenapa dari generasi ke generasi sejak 70 tahun berdiri, bangsa ini tetap bermental terjajah, tetap menjadi follower dan pemakai tanpa karya yang berarti di antara bangsa lainnya, hingga bangsa ini dipandang oleh negara lain tidak lebih dari sebagai pasar untuk mengkayakan negara mereka namun tanpa sadar negara kita semakin miskin.

Karena selama ini atas nama globalisasi dan kemajuan, kita menyerap segala budaya impor dengan saringan yang jebol, yang jeleknya pun kita telan mentah-mentah  dan dengan taklid buta. Dan yang lebih parahnya tidak hanya jebol, tapi justru kita mengambil yang negatif dan mengabaikan yang positifnya. Buktinya, kita bisa memproduksi rokok yang jelas-jelas racun, tapi kita hanya membeli mobil buatan mereka dengan harga yang mahal.

Begitu juga di dunia hiburan, kita jiplak secara mentah-mentah karya mereka, dengan jiplakan yang gak lebih baik, hingga mematikan kreatifitas kita, yang lebih parah dari itu kita nikmati semua apa yang mereka suguhkan meski kita tau itu beracun dan kita gak pernah belajar cara membuatnya.

Advertisements

14 thoughts on “Berbagai Propaganda Dalam Tayangan Jodha Akbar

  1. setiap kamu bikin ulasan tentang acara tv, aku pasti baca. dan 98% setuju sama kamu!! walaupun aku ga pernah nonton tivi, tapi tetep miris ya liatnya
    sebeeel banget liat ayah yang suka nonton serial india, kayak mahabrata maladewa dllllll. pernah komentar gini “ayah ngapain sih nonton begituan mulu, isinya nyembah berhala tau” tapi dia bilang isi ceritanya bagus. cuma ngeri aja sih kalo keseringan nonton gituan

  2. I do agree with you brother.. l liked that movie before i was watching three days ago when Jalaludin said that he was bigger than God Almighty. Now i absolutely hate that movie, i was disappointed and regret for that… thanks brother for your nice info……

  3. senasib juga yah
    bollywood yg aku tontong di channel itu yah cuma “jodha akbar” tapimah males pas udh kelamaan pas di aku searching ternyata di india sendiri banyak yg nolak tapi disini udh kaya apan tau boomingnya ampe kebaju2 astaga, emg agak sedikit miris sih yah indonesia tuh
    pdahal skrg sedikit kebuka aja disensor tapi yg beginian dilolosin aja, agak bete sih -,-

      • iya nih ching, jadi malu sama reader udah janji-janji. abisnya suka terbebani ching, takut ceritanya gak memuaskan. makanya lama di inspirasinya sebenernya. sorry yaa

  4. telat bgt… tapi sukaa semua yg chingu(?) *tadi baca nonton kpop juga soalnya :v* bilang bener! saya gak tau kesambet apa tbtbt pengen nulis “apa yang salah dgn film jodha akbar” ketemu artikel ini. memang, banyaak bgt yg gak peduli 😦 semoga org2 spt chingu makin banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s