KEBIJAKAN LUAR NEGERI RUSIA TERHADAP CHINA PADA MASA PEMERINTAHAN VLADIMIR PUTIN (SKRIPSI By Chairunnisa)


Vladimir Putin di Cina by Nisa

Vladimir Putin dengan Presiden Cina by Nisa

BAB III

GAMBARAN UMUM

  1. Sejarah Singkat Rusia

Sejarah berdirinya Rusia berawal dari perpindahan bangsa-bangsa Skandinavia yang dikenal sebagai bangsa Varangia yang dipimpin oleh tokoh semi-legendaris Rurik yang menyeberangi Laut Baltik serta pada tahun 862 M memasuki kota Novgorod dan memerintah di sana. Pada tahun 882 ia menguasai Kiev, kota Slavia yang berkembang menjadi pusat perdagangan antara Skandinavia dan Konstantinopel. Pada tahun 989 Vladimir I meluaskan wilayahnya hingga Kaukasus dan Laut Hitam serta mengambil ajaran Gereja Ortodoks Yunani.[25]

Periode pertama  dalam sejarah pembentukan Rus Kuno ini disebut periode Pra-Bolshevik, dimana bangsa Rusia hidup dalam sebuah sistem pemerintahan Feodalistik yakni kelas bangsawan merupakan golongan yang berkuasa. Kekuasaan bangsawan ini secara evolutif merupakan hasil transformasi budaya pemikiran pra-agama (Paganistik). Untuk menjaga keamanan, masyarakat mengangkat seorang Knyaz (Pangeran) dengan memberikan hak-hak khusus kepadanya untuk memimpin masyarakat tersebut, masa ini kemudian disebut sebagai masa Kepangeranan  (Knyazetsvo). [26]

Masa Knyazetsvo berlangsung hingga naiknya Ivan IV yang memperkenalkan istilah Tsar sebagai simbol kekuasaan seluruh tanah Rus.[27] Pemerintahan dilanjutkan oleh Michael Romanov sebagai Tsar (1613),  periode yang disebut Tsar Romanov ini berlanjut dan diakhiri dengan masa imperium yang dipimpin oleh seorang Imperator yang diperkenalkan pada masa pemerintahan Peter Agung I sebagai bagian dari program Westernisasi dan ‘Emansipasi’bangsa Rusia agar sederajad dengan Barat.

Periode selanjutnya adalah memasuki periode Uni Soviet yang berlangsung singkat selama 7 Dasawarsa. Pada periode ini pemikiran-pemikiran masyarakat sudah mulai berkembang yang berlatar belakang pemikiran-pemikiran marxisme dan Filsuf Jerman yang kemudian memunculkan berbagai gerakan-gerakan revolusionis.

Salah satu gerakan revolusionis terbesar di zaman itu adalah Revolusi Bolshevik, di bawah kepemimpinan Vladimir Ilyich Lenin yang terjadi pada bulan Oktober 1917, yang mana pada bulan Februari sebelumnya terjadi Revolusi yang menyebabkan terbentuknya kekuasaan ganda yang terdiri dari kelompok Politisi dari berbagai partai di Duma yang membentuk pemerintahan sementara, dan kelompok Pekerja Petrograd.

Pada Oktober 1917 meletuslah Revolusi Bolshevik yang menuntut pembubaran pemerintahan sementara. Revolusi ini menjadikan naiknya Rezim Bolshevik di bawah kepemimpinan Lenin dan menandai terbentuknya RSFSR (Rossiiskaya Sovietskaya Federativnaya Sotsialisticheskaya Republika) atau Republik Soviet Sosialis Federasi Rusia. Dalam Sistem pemerintahan RSFSR sendiri, perangkat hukum otokratis tidak lagi sesuai dengan pemerintahan yang berlangsung.

Pasca Revolusi Bolshevik menyusul terbentuknya RSFSR, muncul pertentangan yang kemudian melibatkan dua kubu yang saling bertentangan yakni Kubu Merah (Bolshevik) dan Kubu Putih (Kelompok Sosial Lainnya). Perseteruan itu kemudian memecah rakyat khususnya para petani dan mengombang-ambing dalam pemihakan masing-masing, peristiwa pergolakan ini kemudian disebut ‘Perang Saudara’.

Pasca Perang Saudara, atas dukungan tentara merah terbentuklah 6 Republik (Soviet) yang berdaulat secara formal di wilayah bekas imperium Rusia yakni: Rusia (RSFSR), Ukraina, Belorusia, Azerbaijan, Armenia, dan Georgia. Maka bersatunya negara-negara merdeka tersebut, atas dukungan dari Lenin, dibentuklah Uni Republik Sosial Soviet (USSR/Uni Soviet). Tahun 1924, Uzbekistan dan Turkmenistan bergabung menjadi bagian dari Uni Soviet, disusul kemudian oleh Tadjikistan pada 1929, Kizgizia dan Kazakstan bergabung pada 1940.

Pada periode selanjutnya, pemerintahan dilanjutkan secara diktator oleh Josef Stalin (1922). Stalin mengusung ide “Komunisme Internasional” setelah Perang Dunia II yang bertujuan untuk menjaga kekuasaannya untuk memperkuat sistem birokrasi, represi massal, penghapusan demokrasi dan persamaan nasional. Rezim totalitarisme Stalin yang dikenal sebagai sebagai paham Stalinisasi ini memungkinkan adanya kebebasan ide dan kebebasan berfikir.

Kepemimpinan Stalin kemudian digantikan oleh Nikita Kruschev pada 1953. Yang kemudian mengumumkan sistem Destalinisasinya atau kontra terhadap pemerintahan Stalin yang kemudian disebut sebagai. Kruschev berhasil mengubah rezim diktator dan totaliter Stalin yang dianggap kejam dan kaku secara dramatis  dengan kebijakannya yang bersifat demokratis.

Setelah mundurnya Kruschev pada Oktober 1964, kepemimpinan Uni Soviet kemudian diambil alih oleh  Leonid Brezhnev. Kebijakan Luar Negeri Brezhnev mencerminkan konservatisme dan penguatan kembali hegemoni Soviet terhadap negara-negara yang tergabung dalam kubu Sosialis, untuk mengantisipasi ancaman dari runtuhnya kubu Sosialis dengan hubungan politik, militer dan ekonomi, salah satu langakah konkret Kruschev adalah dengan penempatan pasukan militer Uni Soviet di Myanmar.[28]

Pemerintahan Uni Soviet selanjutnya diambil alih oleh Yuri Adropov (1982-1984) dan Konstantin Chernenko (1984-1985). Pada periode ini, Uni Soviet mulai mengalami krisis ekonomi dan politik akibat bobroknya birokrasi yang bersifat monolitik, hal ini tentunya memaksa para pemimpin negara dan pimpinan politik untuk mengoreksi sistem yang berjalan sebagai upaya pemulihan ekonomi, namun periode pemerintahan Adropov dan Chernenko yang terlalu singkat, menyebabkan kebijakan-kebijakan mereka tak berdampak signifikan dalam pemulihan krisis ekonomi Uni Soviet.

Gorbachev naik menggantikan Chernenko sebagai pemimpin negara dengan kondisi perekonomian negara yang semakin memburuk. Gorbachev memulai pemerintahannya dengan sistem baru, yakni dengan demokratisasi dan pola kebijakan luar negeri yang pro-Barat. Namun, kebijakan Gorbachev yang revolusioner ini diterapkan pada waktu yang tidak tepat, di saat masyarakat yang selama bertahun-tahun menjalani sistem sosialis-komunis belum siap menerima sistem baru yang bertolak belakang dengan sistem sebelumnya. Bahkan sikap demokratis dan perekonomian negara yang semakin melemah dari waktu ke waktu inilah yang menguatkan separatisme negara-negara konstituen Soviet semakin menguat.

Pada akhirnya, negara-negara konstituen Soviet satu persatu melepaskan diri, dan Uni Soviet pecah ke dalam 15 negara negara bagian dan memunculkan Rusia sebagai satu-satunya negara pengganti Uni Soviet yang pada 12 Juni 1990 kemerdekannya diproklamirkan. Pemerintahan Uni Soviet berakhir setelah Presiden Mikhail Gorbachev mengundurkan diri pada tanggal 25 Desember 1991 disusul dengan peresmian berdirinya Federasi Rusia pada 26 Desember 1991.

Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet berdiri dengan bentuk Federasi yang dipimpin oleh Presiden, di bawah kepemimpinan Borist Yeltsin. Sebagai sebuah negara Federasi, negara ini terdiri dari konstituen sebanyak 89 Subyek Federasi. Subjek Federasi terdiri dari 22 republik, 47 Oblast (Propinsi), Satu Oblast Otonom yakni  Yevreysjaya Avtonomnaya Oblast, 6 Kray (Daerah), 2 Kota Federal (Kota Setingkat Propinsi) yakni Moskow dan St-Petersburg, serta 10 Okrug Otonom.[29]

2. Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Ekonomi Rusia

Sejak Federasi Rusia berdiri, kemerosotan ekonomi menjadi masalah paling krusial yang ditinggalkan imperium Uni Soviet. Reformasi ekonomi dan demokrasi yang diterapkan Yeltsin dalam rangka pemulihan ekonomi tak menunjukkan pencapaian ekonomi yang berarti bagi Rusia dan malah membuat Rusia terpuruk ke dalam kemiskinan dan kemerosotan ekonomi yang memprihatinkan.

Puncak krisis terjadi pada 1998, dimana kondisi Rusia semakin terpuruk dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan krisis Rusia kali ini lebih buruk dari kondisi ekonomi pasca Uni Soviet runtuh, terlebih lagi dikatakan lebih buruk dari depresi besar (Great Depression) yang pernah menimpa Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya pada periode 1929-1938. Dimana kemerosotan ekonomi Rusia hingga 40%, jauh lebih besar dari  kemerosotan yang terjadi selama Depresi Besar (malaise) pada tahun 1929 di AS dan negara-negara Eropa dengan kemerosotan ekonomi sekitar 25% selama 5 tahun.

Pada era Uni Soviet, hanya ada 2% penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, namun setelah keruntuhan negara yang terjadi dan Yeltsin menerapkan sistem ekonomi yang disarankan IMF dan Departemen Keuangan AS tersebut, persentase penduduk di bawah garis kemiskinan di Rusia meningkat menjadi 50%. Ketimpangan status sosial ekonomi pun meningkat dan semangat masyarakat terhadap ekonomi pasar melemah.[30]

Era Vladimir Putin memperlihatkan arah kebangkitan Rusia dari keterpurukan. Di awal pemerintahannya permasalahan ekonomi tetap menjadi perhatian utama mengingat permasalahan ekonomi peninggalan uni Soviet yang semakin krusial setelah kegagalan Yeltsin. Sementara ketergantungan pada sektor ini membuat Rusia tidak memiliki kemandirian dalam pengambilan keputusan baik dalam  persoalan domestik maupun Internasional.

Pemerintahan Yeltsin sebelumnya meninggalkan struktur perekonomian yang dipersiapkan menuju pasar bebas kepada pemerintahan Putin, meski pada masa Yeltsin berakhir dengan kegagalan. Maka setelah memegang tampuk kepresidenan di Rusia, Putin  mulai mengumumkan beberapa program reformasi di berbagai bidang, baik ekonomi, politik hingga militer dalam upaya mengeluarkan negara dari kemelut krisis warisan pemerintahan sebelumnya.[31]

Putin menegaskan bahwa Rusia masih merupakan negara yang didasarkan pada sistem paternalistik yang kuat, yaitu sistem yang merujuk pada peran negara yang lebih menonjol dari pada elemen sipil. Hal ini sesuai dengan kesimpulan ahli sosial Belanda, Geertz Hofstede, yang pernah menganalisa dimensi budaya Rusia. Dari analisis itu, disimpulkan bahwa Rusia memiliki indeks “power distance” (jarak kekuasaan) yang relatif tinggi.

Negara Barat pada umumnya memiliki indeks “power distance” yang rendah, di mana elemen demokrasi menjadi sendiutama kenegaraan. Rakyat di negara dengan indeks “power distance” yang tinggi seperti di Rusia, relatif bisa menerima otoritas yang kurang demokratis. Terbukti dengan sikap kooperatif rakyat Rusia terhadap segala kebijakan Putin. [32]

Elemen utama dari pemerintahan Putin adalah “order”, yakni ketertiban hukum dan penegakan aturan main. Hal ini tampaknya mewarnai program dan kebijakan Putin pada tahun-tahun sepanjang 2000 – 2008. Putin menjalankan beberapa program dalam pemerintahannya. Program pertama yang berlangsung dua tahun pertama, adalah memulihkan kekacauan pada kehidupan sosial dan menegakkan disiplin bagi aparat pemerintah. Hal ini penting agar aparat tak terjebak pada praktek-praktek kotor seperti korupsi, manipulasi dan favoritisme.

Program kedua yang berlangsung selama delapan hingga sepuluh tahun berikutnya adalah pengenalan pembangunan ekonomi yang liberal secara moderat dan disesuaikan dengan iklim dan kondisi ekonomi Rusia. Program ini akan memperkuat lembaga dan aturan main hukum yang berkaitan dengan kepemilikan swasta. Hal ini penting dilakukan untuk menjamin ketenangan dan menghindari perampokan kekayaan negara oleh kaum oligarki.

Di awal tahun 2000-an, Putin kemudian menjalankan slogan ‘Rusia  Raya’ dan ‘kenegaraan yang kuat’ yang pernah ia kampanyekan. Salah satu bagian dari slogan ‘Rusia Raya’ tersebut adalah dengan menyatakan karakter non-isoasionis dalam kebijakan luar negerinya. Putin kemudian mulai menunjukkan kebijakannya tersebut dengan berpartisipasi 260 negara pertemuan Internasional di tingkat pejabat.

Salah satu upaya pragmatis Putin adalah kerjasama di bidang ekonomi, prioritas utama kebijakan luar negeri Putin adalah terus menjaga negara-negara bekas jajahahan Soviet yang disebut sebagai ‘The near abroad’ karena menganggap wilayah tersebut memiliki kedekatan sejarah, budaya dan ekonomi selama berabad-abad. Reformasi ekonomi Putin bertujuan menjadikan Rusia sebagai magnet ekonomi bagi negara-negara bekas jajahan Uni Soviet tersebut dengan mendirikan CIS (Commonwealth Independen States) .

Kerjasama bilateral dan multilateral dengan negara-negara anggota CIS berdasarkan saling keterbukaan dan kesepahaman di kedua belah pihak dalam berbagai bidang. Putin mempertegas pengaruhnya di wilayah near abroad  tersebut dengan  menjadikan ketergantungan ekonomi bagi wilayah tersebut  terhadap Rusia sebagai sumber kekuatan barau dalam bidang ekonomi.

Prioritas orientasi kebijakan luar negeri Putin yang lain adalah hubungan Rusia dengan Eropa. Eropa bahkan telah diakui sebagai mitra alami Rusia. Putin dan pemerintahannya mulai mengembangkan hubungan bilateral dengan semua negara-negara eropa Barat, Jerman tetap sebagai negara perdagangan utama dan mitra ekonomi sejak jatuh komunisme di Rusia.

Pada tahun 2004 Putin mengkonsepkan kerjasama dengan Eropa, dengan mencetuskan sebuah kebijakan ‘Kembali ke Eropa’. Hal ini dimaksudkan Putin, karena menurutnya, jika mengikuti cara-cara demokratis dan kekuatan pasar, Rusia harus kembali menjadi bagian dari Eropa. Selain itu, Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet, mengalami krisis identitas nasional. Oleh karenanya, Putin kembali menghidupkan gagasan de Guelle tentang Eropa sebagai satu-satunya cara untuk mengenali diri mereka sendiri, dengan perubahan besar ini, bentuk baru dari Eropa Bersatu yang mencakup Rusia.  Bergabungnya Rusia dalam organinsasi Uni Eropa akan memberikan keuntungan sebagai mitra dalam politik dan keamanan, bahkan di bidang ekonomi, Eropa memikat 34–35 % dari perdagangan luar negeri Rusia. [33]

Dalam bidang perdagangan, minyak dan gas benar-benar menjadi prioritas selama masa kepresidenan Vladimir Putin (2000-2008). Sebagian besar kemajuan ekonomi Rusia ditunjang dari sektor energi Rusia yang memunculkan Rusia sebagai produsen gas alam terbesar di dunia, dengan output sebesar 607.4 milyar meter kubik (bcm) pada tahun 2007, dan sebagai nomor dua produsen minyak setelah Arab Saudi, dengan produksi minyak  9.98 juta barel per hari. [34]

Musim panas 2003, Vladimir Putin menyetujui bahwa dalam skema strategi energi negara, Putin menempatkan kebijakan energi sebagai pusat diplomasi Rusia.[35] Putin menegaskan bahwa industri sumber alam digunakan untuk menaikkan kekuatan geo-political Rusia. Tujuan tersebut dijabarkan dalam empat hal: pertama, Kremlin ingin mencegah negara-negara Eropa dalam melakukan diversifikasi persediaan sumber-sumber energi, khususnya dalam gas. Kedua, Kremlin ingin memperkuat penguasaan pasar gas internasional. Ketiga, Kremlin ingin mendapatkan “asset hilir”, kemampuan distribusi dan penyimpanan di negara – negara Barat. Keempat, Kremlin ingin menggunakan aset-asetnya untuk tekanan politik.

Prioritas Rusia terhadap cadangan minyak dan gas alamnya yang berlimpah, maka negara ini menerapkan kebijakan ‘pengamanan energinya’ dengan cara-cara yang ketat, antara lain; (1)tetap menjaga suplai energi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menasionalisasi beberapa perusahaan energi milik swasta yang sekarang menjadi perusahaan milik negara. Selain itu, pencarian sumber-sumber energi yang diyakini mengandung kandungan minyak dan gas, ekspansi ke luar negeri, dan melakukan kerjasama energi dengan pihak-pihak asing. (2)memastikan jalur pengirimannya (energi) dengan aman, hal ini dapat dilakukan melalui memonopoli dan mengontrol jalur-jalur pipa dengan ketat.[36]

3.Kebijakan Militer Rusia

           Berakhirnya Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet muncul sebagai pemenang yang kemudian membentuk sistem bipolarisme di dunia. Hubungan kedua negara terus menegang dengan aksi perebutan pengaruh dan hegemoninya di dunia. Bagi Uni Soviet sendiri kebesaran angkatan militernya merupakan sektor utama penopang hegemoni negara ini di dunia.[37] Namun, pasca Runtuhnya Uni Soviet, selain ekonomi bidang vital yang juga mengalami penurunan di Rusia adalah bidang militer.

Kemerosotan ekonomi menjadi faktor utama melemahnya angkatan militer Rusia. Hal ini dikarenakan Uni Soviet sebagai negara dengan militer terkuat nomor satu di dunia pada zamannya mampu menganggarkan 80% dari pendapatan negara kepada sektor militer. Namun setelah krisis ekonomi melanda, negara tak mampu lagi memberikan anggaran besar kepada angkatan militernya. Masalah anggaran militer rendah Rusia yang merupakan imbas dari krisis ekonomi peninggalan Uni Soviet menyebabkan terjadinya endapan pemotongan dalam jumlah pasukan dan akuisisi senjata.[38]

Akibatnya, terjadi penurunan drastis angkatan bersenjata dari 5 juta di tahun 1991, menjadi hanya 1,2 juta pada saat Rusia baru berdiri. Konsekuensinya, angkatan bersenjata telah kehilangan posisi istimewanya dalam sistem politik negara. Rusia baru hanya mampu menganggarkan 10 – 25 % dari pendapatan industri untuk anggaran militer dan hanya mampu memproduksi 40 helikopter dan 21 pesawat miiter pertahun yang sebelumnya, pada 1992 jumlah produksinya mencapai 690 untuk helikopter dan 620 untuk pesawat militer.[39]

Akibat berkurangnya kemampuan pasukan konvensional, Rusia hanya mampu mengandalkan kekuatan nuklir sebagai pencegah serangan. Maka, untuk membangun kembali kekuatan Rusia, berbagai upaya dilakukan Rusia untuk memulihkan perekonomian dalam negerinya, termasuk melalui pemulihan industri militer yang sempat vakum selama beberapa saat. Industri pertahanan merupakan bagian yang penting dalam sektor ekonomi Rusia, 6.1 juta pekerja bergantung pada industri pertahanan pertahanan Rusia.

Di tengah krisis ekonomi serta macetnya produksi dalam industri pertahanan akibat kekurangan modal, ketersediaan bahan baku yang minim, serta macetnya kredit menyebabkan banyaknya pengangguran di sektor ini tak dapat dihindari. Tercatat 2,5 juta pekerja meninggalkan sektor pertahanan akibat ketidakmampuan pemerintah membayar mereka, karena penurunan pasar dan investasi yang drastis dalam sektor ini, yang kemudian berimbas pada peningkatan jumlah pengangguran nasional. [40]

Keadaan industri pertahanan yang mengalami kejatuhan ini dinilai akan menimbulkan bahaya di sektor perekonomian negara, yang kemudian memaksa pemerintah untuk melakukan segala cara untuk menyelamatkan industrinya. Selain penelitian dan pengembangan teknologi yang mutakhir, pasar baru serta investasi bagi industri ini juga mutlak diperlukan.[41]

Dalam bidang pertahananan dan keamanan, Strategi keamanan membantu dalam mencegah ancaman dari luar. Strategi keamanan ini kemudian di tuangkan dalam sebuah dokumen dan yang paling penting yaitu doktrin militer. Kebijakan militer diwujudkan dalam kebijakan pertahanan yang didasarkan pada doktrin militer. Doktrin militer Rusia dapat dibagi menjadi tiga kategori yang menyangkut kebijakan terhadap kekuatan militer dalam level internal Rusia yang meliputi angkatan darat, laut dan udara dan kebijakan militer eksternal yang menyangkut perlakuan terhadap aliansi contohnya NATO.

Doktrin militer Rusia berkonsentrasi pada perang dan pencegahannya, kekuatan bersenjata, persiapan negara dan angkatan bersenjata bila adanya agresi dan cara-cara untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah teritorial. Doktrin tersebut berisi dua pokok panduan yaitu pertama menyangkut kebutuhan akan personel angkatan bersenjata dan peralatan militer, yang kedua tentang penanganan perang/angkatan bersenjata. Doktrin militer Rusia berisi tentang kekuatan militer dan pasukannya.

Perkembangan Doktrin Rusia dimulai pada Tahun 1990-an. Setelah Pecahnya Uni Soviet, militer Rusia dilihat dalam pembentukan Oganisasi Commonwealth of Independent State (CIS), sebuah organisasi yang berisi dari negara-negara bekas Uni Soviet yang tentunya berada di bawah pengaruh Rusia. CIS merupakan kombinasi angkatan bersenjata dari masing-masing 35 negara anggotanya. Walapun Rusia memiliki peran yang sangat besar, namun organisasi ini tetap memiliki armada persenjataannya sendiri, terpisah dari angkatan bersenjata milik Rusia. Hal ini yang kemudian membuat Rusia merasa perlu untuk merumuskan sebuah doktrin militer yang di sahkan pada tahun 1992.[42] Doktrin inilah yang menjadi awal dari kebijakan Keamanan Rusia.

Pada Doktrin Militer dan Konsep Keamanan Nasional yang akan diperbaharui tahun 2010, dijabarkan bahwa Rusia akan menggunakan kekuatan nuklir strategisnya terhadap negara-negara yang menjadi ancaman bagi Rusia. Doktrin militer yang berlaku saat ini menekankan peranan militer Rusia dalam memastikan pertahanan negara dan, jika diperlukan, mempersiapkan dan melancarkan perang, meski ditekankan bahwa doktrin tersebut bertujuan defensif. Dalam doktrin tersebut disebutkan bahwa senjata nuklir juga dapat dipergunakan dalam konflik lokal jika dianggap ada ancaman kritis terhadap keamanan nasional.[43]

Doktrin tersebut mengandung penekanan tentang pembalasan nuklir dalam kasus serangan nuklir. Pada April tahun 2000, Rusia mencantumkan bahwa ancaman keamanan Rusia berbentuk : Intervensi dalam urusan internal Federasi Rusia, adanya upaya untuk mengabaikan kepentingan Rusia dalam menyelesaikan masalah keamanan internasional, perluasan blok-blok militer dan aliansi, penempatan tentara asing (tanpa sanksi DK PBB) untuk wilayah yang berbatasan dengan Rusia, dan mempersiapkan pasukan bersenjata Rusia yang dapat digunakan di wilayah strategis di luar wilayah Rusia. [44]

Pada tahun 2000, Putin memulai kebijakan militernya dengan menandatangani dokumen keamananan baru yang kemudian di publikasikan sebagai National Security Concept (NSC) pada januari 2000.[45] Ketika Vladimir Putin mengambil alih sebagai presiden Rusia tahun 2000, ia menghadapi kondisi militer yang vakum. Kapal tidak berlayar, pesawat tidak terbang, dan persenjataan tidak dalam keadaan siap pakai.

Putin kemudian mengambil tugas utamanya dalam menstabilkan militer rusia. Kebijakan modernisasi militer dalam hal pertahanan dimulai sejak masa pemerintahan presiden Vladimir Putin yaitu berbentuk Doktrin pertahanan Rusia tahun 2000-hingga yang terbaru pada tahun 2010. Doktrin Militer tahun 2000 tersebut berisi tentang dasar kebijakan pertahanan Rusia dan penggunaan senjata nuklir dalam menanggapi penggunaan senjata nuklir atau WMD (Weapon Missile Defense)/senjata pemusnah massal atas kondisi kritis mengenai situasi keamanan nasional Rusia.

Setelah Medvedev menggantikan Putin pada 2008, kebijakan militer pun beralih kepada keamanan nasional dan kebijakan Pertahanan Medvedev. melanjutkan strategi keamanan nasional 2009 yang menyebutkan NATO sebagai ‘bahaya’ karena ekspansi terhadap negara yang berbatasan dengan Rusia. Pada tanggal 13 Mei 2009,  ditetapkan dengan Keamanan Nasional Strategi Rusia tahun 2020 mendatang, yang pada prinsipnya memberikan dasar bagi Rusia doktrin militer dan kebijakan luar negeri. Strategi ini menguraikan ancaman yang dihadapi Rusia dan  prioritas keamanan perusahaan. [46]

4. Kebijakan Eurasia dan Posisi Cina Dalam Kebijakan Tersebut

         Kehilangan Kerajaan Eropa Timurnya pada 1989 menjadikan Uni Soviet kehilangan identitasnya yang kemudian diperparah dengan keruntuhannya pada 1991. Pecahnya Uni Soviet yang menyisakan Rusia sebagai negara penerusnya menyebabkan negara ini dikelilingi oleh negara-negara yang baru merdeka yang disebut The Near Abroad yang dulunya merupakan Republik-republik bagian dari persatuan Soviet. krisis identitas ini kemudian diupayakan Putin pada masa pemerintahannya dengan kebijakan ‘kembali ke eropa’ nya, karena merasa Rusia secara geografis adalah bagian dari barat khususnya Eropa.

Hubungan yang kurang baik dengan negara-negara bekas konstituen Soviet pasca runtuhnya membuat Putin mengambil tindakan kebijakan dalam rangka menjalin hubungan kembali dengan negara-negara tetangganya tersebut. Selain itu Rusia secara geografis berada di pertengahan antara blok Barat dan blok Timur. Dengan dasar kebijakan non-isolasionis dan kebujakan yang seimbang, Putin kemudian  menerapkan pembangunan kerjasama dengan berbagai kawasan baik itu blok barat dan blok timur yang pada perkembangannya pola kebijakan ini bermaksud menyeimbangan hubungan meluas yang seimbang antar blok Barat dan blok Timur atau antara Eropa dan Asia yang disebut ‘Kebijakan Eurasia’.

Pola Eurasia awalnya diterapkan untuk mendamaikan sayap kanan dan sayap kiri (kaum revolusionis dan kaum komunis). Namun Kegagalan Yeltsin dengan kecondongannya terhadap barat membuat Putin mengambil pelajaran bahwa Rusia tak cukup hanya bekerja sama dengan Barat (AS dan Eropa) untuk maju, tapi Rusia juga butuh bekerja sama dengan negara tetangga lain, yakni negara-negara Timur (Asia, Timur Tengah, dan Afrika), hingga tercipta keseimbangan antara kedua kawasan dan tentu itu akan menguntungkan bagi Rusia Sendiri.

Putin kemudian memperlihatkan ketidak-seimbangan pada Kebijakan Eurasia ini dengan memfokuskan hubungan luar negeri Rusia dengan melakukan pendekatan terhadap negara-negara di kawasan Asia salah satunya dengan menjadikan Cina sebagai prioritas utama kebijakan luar negerinya. Putin pun memulai kerjasamanya dengan Cina sebagai bagian dari Kebijakan Eurasia tersebut. Sebelumnya, Rusia dan Cina telah menjalin hubungan diplomatik mereka dengan baik pada tanggal 2 Oktober 1949. Namun hubungan kedua negara mengalami masa surut ketika terjadi konflik pada 1961 karena sengketa perbatasan sepanjang sekitar 4370 km selama 30 tahun yang menyebabkan terjadinya konflik militer yang berkepanjangan. Pada bulan Mei 1989, setelah adanya kunjungan dari Mikhail Gorbachev ke Cina, hubungan kedua negara ini mulai membaik.

Hubungan kedua negara ini terus berlanjut bahkan setelah runtuhnya Uni Soviet 1991 yang kemudian berganti nama menjadi Rusia hubungan diplomatik ini tetap terjalin dengan Yeltsin memperluas kebijakan luar negerinya hingga kawasan Asia Timur. Pada masa pemerintahan Putin, dengan politik ketimurannya menjadikan hubungan bilateral kedua negara semakin kokoh.

Secara umum, dasar politik Putin dijuluki sebagai ‘Demokrasi Berdaulat’. Berbeda dengan demokrasi liberalisasi ala Gorbachev, ‘Demokrasi Baru’ ala Putin ini diterima warga Rusia, di mana demokrasi Rusia harus ditentukan oleh Rusia. Menurut Putin,  Rusia tidak siap dengan liberalisme klasik ala Barat, dan tidak bisa, atau tidak akan pernah bisa seperti AS dan Inggris.

Putin juga mengkritik para pemimpin Soviet yang gagal membangkitkan negara, dan juga tokoh reformasi Rusia yang telah membuat sejumlah kesalahan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Akan tetapi, Putin juga sama seperti Yeltsin, selalu berusaha untuk menjaga hubungan dekat dengan para reformis. Maka inilah kelebihan Putin daripada Yeltsin yang pada dasarnya memiliki tujuan dan konsep yang sama.

Berbeda dengan Yeltsin yang menunjukkan kecenderungan hubungan luar negeri dengan Barat. Karakter jalan pemikiran Putin yang pelan tapi pasti telah berhasil membuat Rusia menata diri, baik dalam negeri maupun luar negeri. Politik luar negeri Rusia di bawah Putin semakin menemukan bentuknya, tidak sekedar menyenangkan Barat seperti pada masa Yeltsin berkuasa. Tapi Rusia bisa menentukan sendiri misi dan visi politik luar negerinya yang bebas dari keterlibatan pihak luar. Berakhir sudah perdebatan berkepanjangan tentang motivasi politik luar negeri Rusia. Banyak slogan politik yang didengungkan dan diperjuangkan oleh para nasionalis Rusia sebelum Putin berkuasa. Namun Putin telah membentuk sendiri pola kebijakannya.[47]

Sebelum menjadi presiden, Putin memang telah mendengungkan konsep ‘Rusia Raya’ sebagai kampanye kepresidenannya yang mana dalam membentuk kebijakannya Putin mendasarkan pada nilai-nilai kebesaran Rusia. Tahun 2000 setelah berhasil naik menjadi Presiden Rusia, Putin secara cepat menjalankan berbagai program dari slogan ‘Rusia Raya’ nya tersebut dengan program awal orientasi kebijakan luar negeri yang bersifat non-isolasionis, dengan kata lain merubah halua kebijakan isolasionis yang menjadi dasar ‘kebijakan aternatif’ atau kebijakan isolasionis yang dicetuskan Primakov pada periode sebelumnnya.

Putin membuktikan perubahan orientasi kebijakan luar negerinya tersebut dengan mencetuskan kebijakan ‘Kembali ke Eropa’ yang mana Rusia bergabung menjadi anggota Uni Eropa yang kemudian berlanjut dengan bergabung menjadi anggota NATO. Hingga akhirnya Putin kemudian mengumumkan kebijakan ‘Eurasia’ sebagai Orientasi kebijakan luar negerinya. Kebijakan Eurasia sendiri memiliki tujuan untuk menyeimbangkan hubungan Rusia dengan Negara-negara tetangganya yang berada di dua benua dan kawasan yang berbeda yakni Barat (Eropa dan AS) dan Timur (Asia). Kebijakan Eurasia inilah yang menjadi awal kembali eratnya hubungan Rusia dan Cina untuk tahun-tahun setelahnya, yang ditandai dengan adanya kebijakan Putin yang fokus terhadap perbaikan hubungannya dengan Cina dalam upaya membuka jaringan kerja sama dengan Asia Timur.[48]

Pada  tanggal 16 Juli 2001 Rusia dan Cina menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Treaty of Good Neighborliness and Friendly Cooperation yang pada saat itu ditanda tangani oleh kedua pemimpin negara yaitu Jiang Zemin dan Vladimir Putin pada 16 Juli 2001. Perjanjian ini secara garis besar menjadi dasar bagi hubungan baik kedua negara dalam bidang ekonomi, diplomatik dan juga geopolitik. Dalam perjanjian ini terdapat peningkatan kerjasama dalam bidang militer, konservasi energi dan lingkungan, serta perdagangan internasional.[49]

Tahun 2001 menjadi awal kemitraan strategis Cina-Rusia dalam mencapai tingkat baru. Kedua belah pihak memperdalam saling percaya di bidang politik, memelihara kontak erat tingkat tinggi. Dalam satu tahun itu Presiden Jiang Zemin dan Presiden Putin mengadakan 3 kali pertemuan, dan 6 kali pembicaraan telepon. Perjanjian rukun tetangga, persahabatan dan kerja sama kedua negara yang ditandatangani kepala negara kedua negara pada tahun 2001 serta Pernyataan bersama yang dikeluarkannya telah dengan bentuk hukum mengukuhkan ide perdamaian kedua negara dan rakyat kedua negara untuk bersahabat turun temurun dan tidak saling bermusuhan untuk selama-lamanya.

Pada tanggal 26 sampai 28 Mei tahun 2003, Presiden Cina Hu Jintao mengadakan kunjungan kenegaraan terhadap Rusia. Selama beberapa tahun ini, hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral serta kerja sama ekonomi dan teknologi kedua pihak semakin erat. Pertukaran dan kerjasama kedua negara di bidang-bidang kebudayaan, iptek dan pendidikan semakin sering dilakukan.[50]

Pada perkembangannya, hubungan kedua negara lebih banyak mengacu kepada hubungan kerja sama ekonomi dan militer yang kemudian kerjasama ini berkembang menjadi perhatian dunia Internasional dikarenakan kolaborasi kedua negara tersebut diprediksi menjadi kolaborasi raksasa melihat kekuatan ekonomi dan militer kedua negara yang seimbang dan menjadi hegemoni baru di dunia.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Alasan Vladimir Putin Memprioritaskan Cina dalam Kebijakan Ekonomi dan Militer Rusia

Cina bagi Rusia memiliki potensi secara geopolik dan geostrategi yang melatar-belakangi Cina menjadi salah satu wilayah prioritas kebijakan luar negeri Presiden Vladimir Putin. Saat ini Cina merupakan salah satu mitra Rusia yang paling dekat, dalam dua dekade terakhir. Putin banyak memfokuskan kebijakan luar negerinya pada negara tetangga satu ideologi tersebut, terutama dalam bidang ekonomi dan militer. Berikut ini beberapa alasan geopolitik dan geostrategi yang melatar belakangi kebijakan ekonomi dan militer Vladimir Putin terhadap Cina :

  1. Kekuatan Ekonomi Cina Sebagai ‘Suplemen’ Bagi Pemulihan Perekonomian Rusia Pasca Runtuhnya Uni Soviet

Semenjak diberlakukannya sistem perdagangan bebas dan liberalisasi pasar ekonomi, negara-negara di dunia mulai berlomba-lomba untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya demi menjaga eksistensinya pada era globalisasi ini. Tak pelak lagi kemajuan teknologi dan industri pun tercipta demi mewujudkan kepentingan nasional masing-masing negara. Cina merupakan salah satu raksasa Asia yang menjadi perhatian dunia dengan percepatan ekonomi yang mencengangkan.

Tahun 1992 merupakan tahun peningkatan kembali perekonomian Cina setelah mengalami penurunan sigifikan sejak tahun 1954. Reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Presiden Deng Xiau Ping membawa dampak pada melajunya tingkat perekonomian Cina. PNB Cina sebesar 2663,8 USD perkapita serta PDB yang mencapai 2.287 USD perkapita atau pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 14,2% setelah sebelumnya hanya 9,2%  pada tahun 1991.[51] Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi Cina terus naik tiap tahunnya bahkan sejak tahun 2005 PDB Cina menempati urutan ke 4 terbesar di dunia setelah Jepang, Jerman dan Inggris.[52] Hingga tahun 2008, dengan PNB Cina mencapai 31.404,5 USD per kapita dan PDB 3.414 USD per kapita dengan  rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 9,6 %.[53]

Di sektor perdagangan dunia, sejak 2001 hingga selama 6 tahun berturut-turut perdagangan Cina meningkat 20% hingga pada tahun 2007 Cina mulai menguasai perdagangan dunia dengan menjadi negara pengekspor terbesar dunia  ke-dua setelah Jerman dengan peningkatan ekspor mencapai nilai 1,218 triliun USD atau 25,7% dari total perdagangan dunia. Dengan kontribusi mesin peralatan sebesar 40,7 % dari total perdagangan dunia yang mengalami peningkatan 13,0 % dengan nilai 55.981 triliun USD. Kontribusi 11,1% dari total, untuk pertama kalinya melampaui Amerika Serikat dengan kontribusi 10,8%. [54] Dalam upaya memperluas pengaruhnya di kancah dunia, Cina memanfaatkan kekayaan dan kemajuan industrinya tersebut dengan melakukan ekspansi besar-besaran melalui investasi ke negara-negara lain.[55]

Sementara dalam proses memulihkan kembali kekuatan ekonominya, Rusia butuh investor dalam bidang eksplorasi sumber daya energi, produksi persenjataan, serta industri lain yang dimilikinya. Untuk itu Rusia butuh modal yang besar, sementara sebagai negara yang baru bangkit kembali, Rusia butuh negara penopang yang mampu mendanai modal industri di negara ini.[56] Maka dengan melakukan kerjasama ekonomi  dengan Cina, diharapkan mampu menarik para investor dari cina untuk berinvestasi di Rusia dan memberikan bantuan dana bagi pembangunan industri Rusia.

  1. Kekuatan Militer Cina Sebagai Negara Penunjang Rusia Membangun Kembali Hegemoninya di Dunia

Tingkat persaingan hegemoni antara negara-negara di dunia membuat Cina terus meningkatkan kekuatan militernya dengan melakukan peningkatan kapasitas militernya di berbagai kawasan terutama di Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Tengah. Selain itu, Cina juga melakukan modernisasi peralatan militer yang dimilikinya dalam beberapa tahun terakhir.

Cina menambah kuantitas persenjataannya dengan membeli sejumlah tank, pesawat terbang, rudal balistik, pengembangan teknologi nuklir, selain itu Cina juga mengembangkan teknologi militer mandiri yang meliputi pengembangan kapal induk Liaoning 3, kapal perang, rudal, teknologi nuklir. Kuantitas pasukan militer Cina juga sangat besar, berjumlah sekitar 2,28 juta orang untuk pasukan militer aktif dan 800 ribu orang untuk komponen pasukan cadangan.[57]

Cina juga melakukan pengembangan teknologi militer terbaru seperti pengembangan sejumlah kapal perang, pesawat dan misil balistik. Kapal selam terbaru yang dikembangkan oleh Cina adalah kapal perang Tipe 052D yang memiliki 64 rudal yang siap ditembakkan dalam serangan udara, serangan laut dan serangan darat. Negara ini juga disebut memiliki kekuatan militer perairan terbesar di kawasan Asia dengan sekitar 50 kapal perang, 50 kapal amfibi, 1 kapal induk dan sekitar 85 kapal peluncur yang disertai dengan misil.

Di bidang maritim, Cina telah melakukan peluncuran kapal induk Liaoning yang memungkinkan sebagai landasan pacu bagi pesawat- pesawat militer Cina yang akan diterbangkan atau didaratkan kembali dalam sebuah operasi militer di tengah lautan lepas. Kapal induk Liaoning ini dapat memuat sekitar 50 pesawat terbang dan helikopter sekaligus, memiliki panjang sekitar 300 meter, kecepatan sekitar 32 knot dan dilengkapi dengan misil dan rocket launcher.

Cina memiliki pesawat jet-fighter di antaranya adalah pesawat jet fighter J-15, J-16, J-20 dan J-31 yang dilengkapi dengan misil udara jarak dekat dan jarak jauh. Negara ini juga terus melakukan pengembangan uji coba rudal balistik, yang terbaru adalah rudal balistik Dongfeng-41 yang memiliki daya jangkau sejauh 14,000 km yang kemungkinan dilengkapi dengan nuclear warheads. [58]

Sementara bagi Rusia, untuk membesarkan kembali kekuatan militernya dan mengembalikan eksistensi keadidayaannya di mata internasional, Rusia memerlukan negara kuat yang mampu menunjang Rusia mencapai tujuan nasionalnya tersebut. Untuk itu, dengan kekuatan militer secara kualiatas dan kuantitas persenjataan maupun pasukan militer yang, sedemikian besarnya yang dimiliki Cina, menjadi daya tarik bagi Putin untuk melakukan kerjasama militer dengan negara tersebut. Maka, hubungan yang baik kedua negara secara geopolitik maupun secara ideologi menjadikan tawaran kerjasama yang diajukan Putin disambut baik oleh Cina.

  1. Cina Sebagai Pangsa Pasar Bagi Perdagangan Rusia

Kepadatan penduduk dan peningkatan industri yang terus meningkat  menyebabkan permintaan terhadap energi yang semakin besar. Sebesar 70 % dari sumber energi utama yang digunakan untuk kebutuhan dalam negerinya Cina berasal dari sumber daya batu baranya. Cina memproduksi dan menggunakan batu bara lebih banyak dari negara manapun di dunia. Menurut Energy Information Administration (Badan Informasi Energi) A.S. atau EIA, negara ini memiliki 104 ton cadangan batu bara, sekitar 13 persen dari cadangan dunia secara keseluruhan. Namun, besarnya cadangan batu bara yang dimilikinya bahkan belum mampu memenuhi kebutuhan Cina akan energi tersebut. Maka, untuk memenuhi bertambahnya kebutuhan energi tersebut, Cina butuh mencari wilayah yang menjadi sumber-sumber energi yang dibutuhkannya.[59]

Sebaliknya, wilayah Rusia yang merupakan peninggalan Uni Soviet merupakan daerah penghasil energi terbesar dunia yang ketika zaman pemerintahan Yeltsin belum mampu dikelola negara dengan baik akibat perekonomian yang melemah sehingga Rusia tak memiliki teknologi memadai untuk mengelola sumber daya energi tersebut dengan baik. Maka, sejak zaman pemerintahan Presiden Vladimir Putin peningkatan ekonomi perdagangan, menjadikan negara sudah mampu mengeksplorasi sendiri sumber daya energinya, pada perkembangannya Rusia kemudian mampu memproduksi sumber daya energi dalam jumlah yang sangat besar.

Kebutuhan yang besar akan energi oleh Cina, serta hubungan yang baik kedua negara ini menjadi peluang bagi Putin untuk menawarkan impor energi negaranya ke negara sekutunya tersebut. Letak geografis kedua negara yang saling berdekatan yang akan mempermudah transportasi energi dan bisa mengontrol dengan mudah tanpa perlu mengeluarkan modal dan biaya yang banyak menjadi pertimbangan Cina menerima tawaran Rusia tersebut. [60] Selain kebutuhan akan energi, secara demografi Cina memiliki Populasi terbesar dunia,  tercatat hingga tahun 2010 populasi cina mencapai 1,34 Miliar jiwa.[61] Sangat timpang dengan demografi Rusia yang hanya berpopulasikan 142 juta jiwa. [62]

Dengan populasi penduduk Cina yang cukup besar ini, tentu Cina sangat konsumtif dalam berbagai kebutuhan, tidak hanya energi tapi juga kebutuhan pokok masyarakat lainnya. Hal ini dilihat Rusia sebagai peluang yang besar bagi pasar produksi dalam negerinya, dengan melakukan hubungan kerja sama dengan negara tersebut, peluang Rusia untuk mengekspor produksi dalam negerinya semakin besar. Hal ini tentu mendatangkan devisa yang besar bagi Rusia dan menjadi pendukung pemulihan  perekonomian Rusia.

  1. Cina Sebagai Konsumen Utama Industri Pertahanan Rusia

Ekspor persenjataan Rusia ke Cina yang sudah dimulai sejak masa pemerintahan Yeltsin pada 1990-an bahkan bisa dirunut sejak masa imperium Uni Soviet sebelum terjadinya ‘konflik 30 tahun’ kedua negara pada 1960-an, semakin menjadi prioritas utama bagi Rusia untuk meningkatkan suplai persenjataannya ke negara tersebut.

Adanya modernisasi persenjataan militer yang juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, menjadikan Cina terus  meningkatkan anggaran militer yang cukup besar. Anggaran militer ini terus menaik dari 2005 hingga 2009 akhir sebanyak 15-20 % setiap tahunnya.[63] Kenaikan anggaran belanja militer Cina dari tahun ke tahun tentunya juga tak dapat dipisahkan dari memanasnya keadaan internasional, selain kenyataan mengenai modernisasi militer yang sedang dilakukan oleh Cina.

Memanasnya keadaan internasional seperti meletusnya perang di wilayah Timur Tengah yang kemudian dikenal dengan Arab Spring, perlombaan senjata dengan Taiwan dan Asia Tenggara, serta memanasnya kembali persoalan semenanjung Korea membuat Cina harus bersiap-siap dengan meningkatkan persenjataannya. Aliansinya dengan Korea Utara, pada kenyataannya telah membuat Cina harus turut mempersiapkan diri apabila perang sewaktu-waktu kembali terjadi, sehingga kebutuhan memenuhi persenjataan militer bagi Cina saat ini merupakan hal yang paling krusial.

Kondisi  Cina ini dilihat Rusia sebagai potensi ekonomi yang menjanjikan bagi Rusia untuk menjadikan Cina sebagai konsumen  utamanya dalam industri pertahanannya. Pemerintah dan para industrialis pertahanan Rusia percaya bahwa Cina sedang membutuhkan peningkatan jumlah pasokan peralatan militer melalui pengadaan senjata terkait dengan masalah memanasnya kondisi internasional tersebut.[64] Rusia sebagai produsen peralatan militer yang besar melihat peluang untuk menjual persenjataannya dengan Cina, dan hubungan perdagangan ini akan sangat menuntungkan bagi Rusia karena akan menambah penghasilan dan meningkatkan taraf ekonomi dalam negerinya.

  1. Rusia Membutuhkan Cina Sebagai Patner Dalam Membendung Pengaruh Amerika Serikat di Asia Tengah

Sejak runtuhnya Uni Soviet serta naiknya Putin sebagai Presiden Rusia, kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang menjadi prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya, negara-negara di kawasan ini merupakan negara-negara bekas jajahan Uni Soviet yang memerdekakan diri dan berdiri sebagai negara-negara baru setelah runtuhnya Uni Soviet  yang disebut pemerintah Rusia sebagai kawasan ‘near abroad’.[65]

Pada dekade 1990-an, kawasan Asia Tengah mulai mendapatkan perhatian dari negara-negara industri besar seperti Amerika Serikat. Bagi AS sendiri, tujuannya memasukkan pengaruhnya ke kawasan tersebut adalah untuk menguasai energi yang terkandung di kawasan tersebut. AS merupakan salah satu negara industri yang sangat membutuhkan sumber daya energi dan mulai membidik Asia Tengah sebagai sasaran strategis untuk eksplorasi energi yang terkandung did alamnya. Negara adi daya ini mulai masuk ke kawasan Asia Tengah, awalnya dengan dalih memberikan subsidi yang disalurkan melalui United Satate Aids for Internasional Development (USAID).

AS kemudian semakin gencar memperkuat pengaruhnya di Asia Tengah tidak hanya dalam kerjasama bilateral saja, tapi juga dengan cara memberikan bantuan dalam bentuk persenjataan dan penempatan pangkalan militer, serta ikut andil dalam suplai persenjataan dan penempatan pangkalan militer, serta ikut andil dalam mengatasi konflik internal dengan gerakan Islam Radikal yang mulai berkembang di kawasan Asia Tengah, bahkan mulai mempromosikan paham demokrasi terhadap kawasan tersebut. [66] Pengaruh AS yang paling signifikan di Asia Tengah adalah penempatan pasukan militernya di beberapa wilayah seperti Menes, Kirgystan, Uzbekistan dan Georgia.[67]

Pengaruh AS ini menjadi kekhawatiran bagi Rusia akan peningkatan hubungan yang terjadi antara AS dengan negara-negara yang ada di dalam kawasan tersebut. Rusia khawatir, keberadaan AS akan menurunkan pengaruhnya di kawasan yang berada di bawah pengaruh besar Rusia sejak awal pemerintahan Putin tersebut, serta akan memudahkan AS menguasai energi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, penempatan pasukan militer AS di beberapa wilayah di Asia Tengah tersebut yang merupakan daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Rusia, dianggap mengancam keamanan nasional Rusia. Terlebih lagi, menurut para intelejen Rusia, sistem rudal AS terkesan dibangun mengarah sebagian ke Rusia dan sebagian lagi ke Iran.  Rusia tentu tak tinggal diam, dalam hal ini butuh adanya strategi khusus, misalnya bekerjasama denga negara lain yang mempunyai kekuatan bsar untuk menjadikan Rusia sebagai negara yang mempunyai kekuatan Penuh hubungan Internasional.[68]

Sementara di pihak lain, kebutuhan minyak dalam negeri telah menjadi kebutuhan krusial bagi Cina. Pertumbuhan ekonomi dan kemajuan industri Cina yang meningkat pesat berbanding lurus dengan permintaan terhadap energi. Negara ini banyak mengimpor minyak dan energi keamanan untuk pasokan kebutuhan minyak dalam negeri. Dalam memenuhi kebutuhan energi tersebut, Cina banyak mengimpor kebutuhan energi tersebut dari Rusia dan Timur Tengah, namun untuk menghidari ketergantungan terhadap satu daerah penyuplai energi, Cina butuh wilayah alternatif yang lebih strategis, negara-negara berkembang yang memiliki sumber energi yang besar namun tidak mampu mengelola sendiri kekayaan alam yang dimiliki menjadi sasaran utama dalam eksplorasi energi Cina.

Cina melihat Asia Tengah secara geoplitik sebagai negara tetangga dan juga sebagai kawasan penghasil energi yang besar yang cukup potensial dan strategis, serta paling nyaman bagi pemenuhan  kebutuhan energinya. Namun Cina tidak sendirian membidik Asia Tengah, masih ada Rusia dan AS yang telah lebih dulu berpengaruh besar di sana, Rusia sejak masa pemerintahan Vladimir Putin telah menanamkan pengaruh besarnya di sana dengan menciptakan ketergantungan ekonomi terhadap negara-negara di kawasan tersebut melalu CIS, sementara AS muncul sebagai hegemoni baru di Asia Tengah hal ini tentu menjadi penghambat utama Cina untuk menguasai energi di kawasan tersebut.

Di sisi lain, Rusia yang menyadari bahwa menghadapi kekuatan Amerika Serikat tidak bisa sendiri, butuh partner yang mampu membantu Rusia dalam membendung dominasi Amerika Serikat, bahkan mengusir AS keluar dari Asia Tengah. Dalam  hal ini Rusia memilih Cina sebagai mitra kerjasama menghadapi kekuatan Amerika Serikat di Asia Tengah. Meski dalam menanamkan pengaruhnya ke Asia Tengah, kedua negara ini lebih tampak seperti saingan daripada mitra, Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia dan Cina telah saling mengetahui sejarah masing-masing dan budaya antara kedua negara dengan sangat baik, bahkan kedua negara memiliki kemungkinan untuk tetap menjaga hubungan yang baik dan mencapai keuntungan dari kerjasama yang telah mereka bentuk. [69]

Bagi Rusia, Cina adalah bentuk jaminan yang paling menjanjikan dari kebangkitan dan potensi perkembangan dalam negeri Cina. Selain itu Rusia yang telah banyak berpengalaman dalam menjalin hubungan kerjasama dengan wilayah Barat, namun barat dianggap mitra yang tidak bisa dipercaya, yang menimbulkan kekecewaan dan tidak nyaman bagi Rusia, terlebih lagi Posisi negara-negara Barat yang merupakan sekutu AS.

Baik Rusia maupun Cina yang memiliki kedekatan secara geografis dengan Kawasan Asia Tengah memiliki kekhawatiran yang sama akan pengaruh AS di Asia Tengah karena kawasan ini merupakan Shutterbelt, kawasan sebagai bagian dari Playing Field negara besar seperti Amerika Serikat (kekuatan dari eksternal). Maka, hubungan geopolitik dengan Cina yang semakin dekat, serta kekhawatiran yang sama terhadap pengaruh AS di Asia Tengah, membuat Putin tak ragu merangkul Cina sebagai negara mitra strategisnya.

Dalam upaya merangkul Cina tersebut, Rusia yang memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Tengah, memanfaatkan kebutuhan akan energi yang besar Cina di kawasan Asia Tengah, dengan membantu memudahkan akses Cina untuk mengeksplorasi energi di kawasan Asia Tengah. Sebagai timbal baliknya, Cina dengan kekuatan militer dan ekonominya yang besar harus membantu Rusia untuk mempertahankan pengaruhnya di Asia Tengah.

Keyakinan Rusia akan kemampuan Cina mengimbangi kekuatan AS di Asia Tengah karena Rusia memandang bahwa kekuatan Cina terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, Rusia menyadari bahwa kekuatan Cina semakin kuat. Dalam pandangan Rusia, Cina adalah negara yang mempunyai kekuatan ekonomi tanpa batas, politik dan juga dalam bidang militer. Jika Cina terus mengalami perkembangan, maka kerjasama antara Rusia dan Cina juga akan terus mengalami peningkatan dan membuat kekuatan Amerika Serikat di Asia Tengah akan terus menurun.[70]

B. Kebijakan Ekonomi dan  Militer Rusia Terhadap Cina Pada Masa Pemerintahan Vladimir Putin

Setiap pemimpin sebuah negara pasti memiliki kebijakan-kebijakan yang berasal dari pemikiran-pemikirannya sendiri dalam menjalankan roda permerintahan. Kebijakan luar negeri tersebut merupakan kumpulan kebijakan suatu negara untuk mengatur hubungan-hubungan luar negerinya dengan negara lain. Kebijakan luar negeri merupakan bagian dari kebijakan nasional dan semata-mata dimaksudkan untuk mengabdi kepada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, khususnya tujuan untuk kurun waktu yang sedang dihadapi atau disebut kepentingan nasional. Pada hakikatnya, kebijakan luar negeri merupakan suatu kebijakan, sikap atau respon terhadap lingkungan ekologisnya.[71]

Dalam menjalin hubungan strategisnya dengan Cina, Rusia lebih banyak melakukan kebijakan luar negerinya dalam bidang ekonomi dan militer, adapun kebijakan ekonomi dan militer Rusia terhadap Cina antara Lain:

  1. Kebijakan Ekonomi Rusia Terhadap Cina

Kemajuan ekonomi-industri Cina yang semakin menanjak, serta pertambahan populasi yang terus meningkat, membuat Rusia terus mempertahankan Cina sebagai prioritas kebijakan ekonomi-perdagangannya. Hubungan strategis kedua negara yang semakin dekat membuat  hubungan barter ekspor-impor kedua negara semakin meningkat pula. Data perdagangan antara Rusia dan Cina dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Struktur Perdagangan Barter Rusia-Cina(persen) 1995-2005

Produk Ekspor Rusia Impor Rusia
1995 2000 2005 1995 2000 2005
1 Makanan dan Hewan hidup 3,39 7,32 7,18 27,35 6,15 4,74
2 Minuman dan Tembakau 0,00 0,00 0,00 2,10 0,89 0,08
2 Bahan Mentah (Yang tidak bisa dimakan, selain bahan bakar) 9,92 18,10 20,51 2,16 1,81 0,74
3 Bahan Bakar, Pelumas, dll. 5,29 13,48 41,25 0,50 2,22 0,97
4 Hewan, Minyak sayur, lemak, lilin 0,00 0,00 0,00 0,14 0,00 0,00
5 Bahan-bahan kimia, reltd. prod. nes. 33,69 19,83 13,75 2,43 3,76 3,65
6 Barang-barang manufaktur 32,72 30,14 15,09 9,45 6,79 13,76
7 Mesin dan alat-alat transport 10,07 4,15 1,92 5,96 7,19 19,08
8 Macam-macam barang manufaktur 0,85 1,68 0,21 49,91 71,18 56,97
9 Dll 4,08 5,29 0,08 0,00 0,00 0,00
Total 100 100 100 100 100 100

Source: UN Comtrade data, SITC Rev 3, access February 11, 2007 (reported by China)[72]

Data di atas menunjukkan bahwa dalam hubungan perdagangan barter antara Rusia – Cina, ekspor Rusia terhadap Cina lebih unggul dari pada sebaliknya. Terutama untuk barang-barang seperti Bahan Mentah,  Bahan Bakar, pelumas, bahan-bahan kimia, Barang-barang manufaktur, Mesin dan alat-alat transport, dan lain-lain. Sementara impor Cina hanya lebih unggul dalam perdagangan Minuman dan Tembakau , Misc manufactured artcls Hewan, Minyak sayur, lemak, dan lilin.

Kerjasama ekonomi dengan Rusia juga menjadikan Cina yang lebih banyak memasok Rusia yang sebelumnya banyak mengimpor sumber energi dari daerah lain seperti Timur Tengah. Hal terpenting bagi Cina adalah karena Rusia sepakat akan menjual produksi bahan bakarnya dengan harga yang  lebih murah kepada Cin.[73] Pada tahun 2005 Cina mengimpor 12 juta ton minyak mentah dari Rusia yang berarti sekitar 10 % dari kebutuhan minyak domestik Cina. Rusia menyuplai energi yang dibutuhkan Cina seperti minyak, produk minyak, batu bara, dan listrik sebesar 40 %. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat sekitar 60 % pada tahun 2006. Perdagangan bilateral Rusia-Cina meningkat tajam dari tahun 2000-2005, meningkat sebanyak 30 % pertahun dengan nilai perdagangan mencapai 33 miliar USD pada tahun 2006 dan Rusia berhasil mempertahankan surplus perdagangan sekitar 2 miliar USD. [74]

Di bidang investasi, tahun 2001 Cina mencapai konsensus dengan Rusia untuk membangun pipa minyak transmisi dari Angarsk yang berada di Siberia Timur ke Daqing yang berada di Laut Cina. Pada KTT yang diadakan pada akhir Mei 2003, China National Petroleum Company (CNPC) dan Rusia Yukos (Coorporation) mulai membangun kesepakatan awal yang telah diproses selama bertahun-tahun. [75]

Pada tahun 2006, investasi Cina di Rusia melibatkan 657 proyek senilai 1 Milyar USD. Sebagian besar investasi Cina dalam bidang pertanian, peralatan, pengolahan  kayu, mikroelektronika, dan sektor telekomunikasi. Cina kemudian mengumumkan untuk meningkatkan investasi di Rusia menjadi 12 Miliar USD pada tahun 2010.[76]

Pada tahun 2013 perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft kembali berusaha melakukan peminjaman dana senilai 30 miliar USD dari Cina. Dari dana tersebut, Rusia berencana menjadikan Beijing sebagai konsumen terbesar. Jika pinjaman tersebut berhasil didapat, selanjutnya Rosneft bisa mengalihkan pasokannya dari Eropa untuk Cina. Dan pada oktober 2013 atas pertimbangan terhadap pasokan energy ke wilayahnya, Cina setuju untuk meminjamkan modal kepada perusahaan minyak milik Rusia tersebut. Rosneft kemudian menandatangani kontrak senilai 60 miliar USD, untuk menyuplai minyak mentah ke Rusia.[77]

  1. Kebijakan Militer Rusia Terhadap Cina

Bangkitnya kembali kekuatan militer Rusia sejalan dengan terus membesarnya kekuatan Militer Cina membuat kedua negara ini semakin menajamkan eksistensinya di kancah dunia. Ancaman kolektif yang dihadapi kedua negara mendorong kedua negara untuk memperkuat kerjasama militer dengan membentuk aliansi strategis di bidang pertahanan. Maka kedua negarapun banyak melakukan hubungan kerjasama militer dalam bentuk kerjasama bilateral maupun multilateral.

Kerjasama bilateral dalam bidang militer kedua negara ini dapat dilihat dari nilai kontrak militer keduanya yang mencapai 13 miliar dolar selama tahun 2000 hingga 2005.[78] Kerjasama kedua negara semakin dilancarkan, salah satunya dengan menggelar latihan militer bersama, kegiatan latihan militer gabungan tersebut dilaporkan pertama kali pada tahun 2005 yang mereka beri nama ‘Misi Perdamaian 2005’. Kegiatan yang dilakukan adalah Simulasi perang yang dilakukan di tiga kawasan tersebut yaitu di Semenanjung Jiadong, Laut Kuning, dan pangkalan Vladivostok tersebut dilakukan selama seminggu.

Kegiatan latihan militer gabungan juga berlangsung di tahun-tahun berikutnya, khususnya pada masa kepresidenan Vladimir Putin. Kegiatan serupa diselenggarakan pada tahun 2012, dan pada 2013 latihan gabungan angkatan laut terbesar kedua negara di laut Jepang, dimana keduanya mengerahkan total 23 kapal perang dan latihan militer bersama ini direncanakan akan kembali diadakan pada 2014 yang menandakan kerjasama militer kedua negara terus berjalan, yang kemudian mengindikasikan kedua negara ingin membentuk sebuah aliansi dan meningkatkan kehadiran militer mereka di daerah-daerah strategis.

Latihan militer ini menjadi tampak lebih signifikan adalah pengaruhnya terhadap dunia Internasional. Amerika Serikat sebagai negara  lawan dari Rusia bahkan menjadikan kerjasama Militer Rusia-Cina sebagai ancaman terhadap pengaruh AS di Taiwan  bahkan pengaruhnya terhadap dunia internasional mengingat kolaborasi kedua negara besar ini semakin menguatkan eksistensi kedua negara di kancah dunia dan perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan baru sebagai penyeimbang kekuatan AS. [79]

Sementara dalam kerjasama multilateral, kerjasama pertahanan yang paling menonjol dari kedua negara tersebut, adalah pembentukan SCO (Shanghai Coorporation Organisation) yang diprakarsai oleh Rusia dengan merangkul Cina sebagai patnernya. Inisiatif Rusia untuk membentuk organisasi ini dilatarbelakangi oleh masuknya pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia Tengah dalam  upayanya menguasai energi di kawasan tersebut, menimbulkan  kekhawatiran yang sama bagi Rusia dan Cina yang memiliki kedekatan geografis dengan Asia Tengah. Oleh karenanya Rusia dan Cina secara kontinental kemudian membentuk sekaligus mengotrol SCO.

SCO adalah organisasi multilateral antara yang dibentuk pada tahun 2001 di Shanghai oleh Rusia dan Cina dengan menggandeng negara-negara di kawasan Asia Tengah. Organisasi ini mulanya dibentuk untuk memerangi terrorisme, ekstremisme and separatisme.[80]Pembentukan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) pada tahun 2001, dinilai sebagai pertanda yang baik bagi kerjasama keamanan kedua negara. SCO adalah organisasi regional keamanan dunia yang tidak ikut melibatkan partisipasi dari Amerika Serikat dan tentu hal ini membuat Amerika Serikat memiliki beberapa sikap curiga dan pandangan negatif terhadap SCO. [81]

SCO sebagai kekuatan kontinental yang kemudian pada 2007 menambah keanggotaannya dengan bergabunganya negara-negara lain yang berada di kawasan Asia Tengah, hingga  beranggotakan Kazakhstan, Kyrgystan, Uzbekistan dan Tajikistan serta dua negara besar yang paling berpengaruh yaitu Rusia dan Cina. Tujuan dari kerjasama multilateral negara-negara ini adalah untuk membentuk kolektif security di kawasan Asia Tengah.[82] Baik Rusia mapun Cina merupakan kekuatan besar dan sebagai kekuatan kontinental di kawasan Asia Tengah, yang harus tetap menjaga pengaruhnya agar tetap di kawasan Asia Tengah dan membendung kekuatan eksternal yang masuk ke kawasan yang dapat mengganggu kestabilitasan regional Asia Tengah.

Kerjasama dalam SCO kemudian menjadi sangat penting bagi Cina, Rusia dan negara-negara Asia Tengah lainnya, Rusia tetap bisa mempertahankan pengaruh besarnya di Asia Tengah dan Cina mendapatkan minyak dengan pipa langsung dari Kazakhstan dan dari Rusia, sedangkan negara-negara lainya mendapatkan keamanan dari kekuatan kontinental, latihan militer bersama antar angota SCO menjadi pilihan dalam upaya menjaga keamanan di kawasan Asia Tengah.[83]

  1. Kebijakan Ekonomi – Militer Rusia Terhadap Cina

Hubungan ekonomi-militer yang paling signifikan antara kedua negara adalah, perdagangan senjata, kemajuan perekonomian Rusia juga banyak bertumpu kepada ekspor perdagangan senjatanya ke Cina, mengingat Cina merupakan konsumen terbesar untuk industri pertahanan ini.

Rusia dan Cina memiliki sejarah hubungan perdagangan senjata yang cukup kompleks di masa lalu. Selama awal hingga pertengahan 1950an, Uni Soviet merupakan supplier senjata terbesar bagi Cina. Namun, kerjasama harus terhenti ketika tensi ketegangan hubungan kedua negara meningkat  di era 1960an. Sebagai partner lama di bidang perdagangan senjata, Cina yang saat itu sedang mengalami embargo senjata akibat tragedi Tiananmen di tahun 1989 dipandang sebagai pasar yang potensial bagi industri pertahanan Rusia.

Pada 2001, di bawah kepemimpinan Putin hubungan perdagangan senjata Rusia-Cina dimulai kembali, dimana pada tahun ini Rusia kembali mensuplai peralatan militer dan lisensi teknologi kepada Cina dengan menjual 24 pesawat tempur SU-27S.  Ekspor pesawat tempur ke Cina ini  memberikan keuntungan sebesar 1,2 miliar dollar. dimana suplai pesawat ke Cina terus berlanjut dengan kesepakatan Cina membeli 50 pesawat tempur SU-27s  dalam lima tahun selanjutnya, serta lisensi produksi di bawah perusahaan Cina sebanyak 50-200 pesawat tempur.

Adanya kerjasama ekonomi-militer dengan Cina berdampak pada pertahanan Rusia yang perlahan mulai bangkit kembali dan mampu berproduksi. Perusahaan-perusahaan senjata Rusia mengalami peningkatan pendapatan yang besar dari hasil penjualan ke Cina. Setelah penjualan senjata menurun hingga 28,6 miliar USD di tahun 1991 setelah sebelumnya mencapai 61 miliar dollar di tahun 1988 mulai memperlihatkan kenaikan sebesar 15,4 miliar dollar di tahun 1995 dan terus naik mencapai 20 miliar dollar di tahun 1999.[84]

Rusia menjadi supplier senjata terbesar bagi Cina, tercatat antara tahun 1991 hingga 2010, diperkirakan 90 persen dari impor senjata konvensional utama Cina masih disuplai oleh Rusia. Hingga selama lebih dari satu dekade ini sejak masa pemerintahan Yeltsin yang kemudian dilanjutkan dengan Putin, ekspor senjata Rusia telah menjadi dimensi paling penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Bahkan, perdagangan senjata yang terjadi antara kedua negara ini dapat dikatakan sebagai pondasi terkuat dari normalisasi hubungan Rusia dan Cina.[85]

Kemitraan ekonomi dan militer kedua negara ini berjalan fluktuatif, dimana ketika masa berdirinya Uni Soviet sempat mengalami konflik perbatasan namun memulai kembali hubungan baiknya pada ketika Rusia berdiri, setelah melakukan kerjasama ekonomi militer yang cukup baik dan berjalan dengan lancar, hubungan kedua negara kembali menurun seiring meningkatnya produksi persenjataan Cina yang semakin mandiri hingga mengurangi impor senjata dai Rusia dan sempat ditengarai  berbuat curang dengan mencopy persenjataan Rusia, yang berlangsung pada masa Pemerintahan Medvedev.

Hubungan kedua negara cukup berkembang sejak masa pemerintahan Putin yang memperlihatkan dengan jelas kecondongan ke Timur dan semakin mendekatkan Rusia kepada mitra geopolitiknya. Dalam masa awal penerapan kebijakan luar negerinya, Putin selalu cermat melihat kekurangan dan kelebihan dan potensi sebuah negara. Maka dengan melihat potensi ekonomi dan militer Cina, Putin pun lebih banyak melakukan kerjasama dengan Cina pada kedua sektor tersebut.

Pada tahun 1999, awal pemerintahan Putin, Cina mengambil kesepakatan dengan Rusia dengan induksi untuk 100 Sukhoi Su-27 fighter, produk Rusia. Tahun 2005, kerjasama ekonomi-militer kedua negara samakin bergulir dengan dilaksanakannya kegiatan latihan militer. Rusia bahkan mendapatkan keuntungan lebih dalam kerjasama militer ini, selain semakin memperkuat kekuatan militernya, pada saat yang bersamaan Cina berencana akan meningkatkan anggaran militer sampai sebesar 18% dari tahun 2004 sehingga mencapai sebesar 417 miliar yuan (59 miliar USD), tetapi menurut pengamat berdasarkan kebiasaan Cina dalam menetapkan anggaran riilnya tidak dapat semata melihat anggaran angka resminya. Bisa jadi akan terealisasi sampai dua sampai tiga kali lipat dari angka resminya.

Anggaran yang besar ini akan sangat efektif jika Cina berkolaborasi dengan Rusia dalam suatu kerjasama militer. Bisa jadi Cina hanya menjadi konsumen mesin militer Rusia saja atau bahkan Cina menjadi investor terhadap riset dan pengembangan teknologi militer Rusia yang potensial. Maka, dalam kesempatan ini, juga dimanfaatkan Rusia untuk melakukan promosi senjata dan tentu itu menguntungkan bagi Rusia dan menjadi sumber penghasilan Rusia. Bahkan hingga 2009 anggaran militer Rusia terhadap Cina mencapai $ 60,0 miliar dan menempatkan Cina pada posisi keempat konsumen peralatan militer Rusia.[86]

                                                           BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya penulis dapat menarik kesimpulan dalam beberapa poin penting. Ada empat poin penting yang dapat penulis simpulkan, yakni; Pertama, di awal abad XXI ini, Rusia muncul sebagai salah satu kekuatan baru dunia. Kemajuan Rusia ini tentu tak terlepas dari peran presiden kedua Rusia, Vladimir Putin dengan segala kebijakan-kebijakan revolusionisnya yang mampu membawa Rusia pada era kebangkitannya. Salah satu kebijakan Vladimir Putin yang sangat signifikan dan berpengaruh besar terhadap kemajuan negaranya adalah kebijakan luar negerinya terhadap Cina khususnya dalam bidang ekonomi dan militer.

Kedua, ada berbagai macam faktor yang melatar-belakangi perlunya Putin memprioritaskan Cina sebagai negara strategis kebijakan luar negerinya. Segala pertimbangan ini kesemuaannya tak terlepas dari pandangan Putin yang menilai bahwa Cina  mampu memenuhi kepentingan geopolitik dan geostrategis Rusia. Kerjasama ekonomi  dan militer dengan Cina menjadi sektor penting dan bernilai strategis dalam kebijakan luar negeri Rusia terhadap Cina, mengingat Cina memiliki kekuatan besar pada kedua sektor tersebut.

Ketiga, kebijakan ekonomi dan militer Rusia terhadap Cina terbukti menemukan hasil yang nyata. Kerjasama ekonomi dengan Cina mampu memulihkan kembali perekonomian negara ini, bahkan mendatangkan keuntungan berlipat ganda bagi industri-perdagangan Rusia ke depannya. Kerjasama militer dengan Cina juga menjadikan negara ini memiliki pertahanan yang lebih kuat dan kembali menguatkan eksistensi Rusia di mata dunia.

Keempat, kebijakan ekonomi dan militer Rusia terhadap Cina yang berupa jalinan kerjasama ini tidak hanya menguntungkan bagi pihak Rusia sendiri, tapi juga bagi semakin terdepannya Cina sebagai sebuah negara ‘Super Power Baru’. Bahkan bisa dikatakan kerjasama kedua negara induk komunis yang ini merupakan sebuah kolaborasi raksasa, yang menguntungkan kedua negara sekaligus dan membuat kedua negara dapat besar dan maju secara beriringan. Hal ini bahkan menjadi perhatian dunia, karena diprediksi mampu membentuk kekuatan dan aliansi baru dunia, serta muncul sebagai kekuatan baru yang mampu menyaingi hegemoni Amerika Serikat

  1. Saran

         Melihat keberhasilan yang diperoleh Rusia di bawah kepemimpinan Putin ini, maka sudah sangat wajar kebijakan visioner Putin ini patut dijadikan contoh, terutama bagi negara-negara berkembang yang sempat mengalami krisis ekonomi seperti Rusia, khususnya Indonesia.

Adapun masukan dan saran yang diberikan adalah agar kebijakan luar negeri yang berpola Eurasia ini lebih seimbang lagi dalam penerapannya, sebagaimana yang telah dikonsepkan sejak awal. Terlebih lagi, belajar dari kegagalan pemerintahan sebelumnya yakni pemerintahan Yeltsin yang hanya fokus pada hubungan luar negerinya dengan Negara-negara Barat tanpa memperhatikan hubungannya dengan negara-negara Timur. Hingga berakhir dengan kegagalan yang ditandai dengan krisis ekonomi yang parah.

Maka yang perlu diperhatikan Putin disini adalah hubungan luar negerinya yang tidak hanya condong dan fokus pada hubungan dengan negara-negara Asia saja, tapi Rusia juga perlu membuka diri lebih luas lagi atas hubungannya dengan negara Eropa yang notabene adalah negara-negara satu kawasan, bahkan yang lebih luas lagi dengan negara-negara di kawasan lain seperti Afrika, Timur Tengah dan lain-lain. Sehingga Rusia memiliki lebih banyak relasi dan akses untuk memudahkannya mencapai kepentingan-kepentingan nasionalnya di negara lain, serta akan lebih menguatkan eksistensi Rusia di kancah Dunia Internasional.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Bucley, Mary, 2002. Persepsi Perang  dan  Dampaknya,(diedit oleh Sally N Cummings) London: Continuum.

Donfeng, Ren, 2003. The Central Asia policies of China, Russia and the USA, and the Shanghai Cooperation Organization process: a view from China, Stockholm: International Peace Research Institute

Fahrurodji, A, 2005. Rusia Baru menuju Demokrasi: Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya.  Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Flint, Colin, 2006. Introduction To Geopolitics.  New York and London: Routledge

Harsawaskita, Adrianus, 2007. Great Power Politics di Asia Tengah: sudut Pandang Geopolitik , dalam Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Graha Ilmu

Holsti, K. J. 1998. Politik Internasional: Kerangka untuk Analisis. Edisi ke-IV,  Jilid ke I (Diterjemahkan oleh M. Tahir Azhari), Jakarta: Erlangga

Krisna, Didi, 1993. Kamus Politik Internasional, Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Morgenthau, Hans J, 1978.  Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. New York: Alfred knopf

Plano, Jack C. dan Roy Olton, 1999. Kamus Hubungan Internasional, Bandung: Abardin

Fawn, Rick, 2008. Realignments in Russian  Foreign  Politics, London: Portland

Rodhan, Al dan Nayef R.F, 2009. NeoStatecraft And MetaGeopolitics: Reconciliation of Power, Interests and Justice in the 21st Century

Shleifer, Andrei dan Daniel Treisman, 2001. Without a Map, Political Tactics and Economic Reform in Russia, Cambridge, Massachusetts, London: The MIT Press

Siragih, Simon, 2008. Bangkitnya Rusia : Peran Putin dan Eks KGB, Jakarta: Kompas,

Tompson, William, 2005. Putin and the Oligarchs : A Two Sided Commitment Problem, dalam Leading Russia : Putin in Perspective, (diedit oleh Alex Pravda) Oxford University Press

Trenin, Dmitri, 1999. Russia’s China Problem: For a discussion of the discrepancy between Russian and Chinese economies in this period, Moscow: Carnegie Center

Wilson, Jeanne L, 2004.  Strategic Partners : Russian-Chinese Relations in the Post Soviet Era, Armonk, New York ; M.E Sharpe

­SKRIPSI

Busthomi, Muhammad Ali, 2010. Analisis Faktor Penyebab Terciptanya Diplomasi Energi Rusia Dalam Mengimplementasikan Paradigma Energi Sebagai Komoditas Strategis. FISIP UI

Garanina, Olga, Russian – Chinese relations : towards an energy partnership, PhD Student , University Pieere Mendes France  Of Grenoble (France), St Petersburg State University of Economics and Finance (Russia).

Noormalinda, Febi, 2009. Kepentingan Geopolitik Jepang Dalam Perebutan Pulau Takeshima Dengan Korea Selatan. FISIP UNMUL

Rahayuni, Sri, 2012. Kebijakan Pertahanan Rusia Dan Dampaknya Terhadap Nato. JURUSAN Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar

Sucitra, Juni, 2008. Kebijakan Luar Negeri Australia Terhadap Indonesia Pada Masa Pemerintahan John Howard. Samarinda: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik,Universitas Mulawarman

JURNAL

  1. Gelb, Bernard, Russian Oil and Gas Challenges, Special Report, Congressional Research Service. The Library Congress.’

De, Archelli R. , Glasnot: Pragmatisme Politik Luar Negeri Vladimir Putin. Vol. 4 No. 2, Oktober 2008-Maret 2009.

Ding  LU, “East Asian Policy, China’s Path to the World Largest Economy: Limits of Extrapolation”, dari Professor and Senior Associate, Canada The  University of The Fraser Valey. Vol.2 No.4 2013 (PDF)

Mankoff, Jeffrey, Eurasian Energy Security, Council Special Report No. 43 February,  2009.

Mearsheimer, John J. China’s Unpeaceful Rise , Current History, April 2006

Meitasari, Bella Nur, 2013. Kebijakan Perdagangan Senjata Rusia Terhadap Cina  Tahun (2006-2012), Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Airlangga

Prasetyono, Edy. 1994. Peningkatan Kekuatan Militer Negara-Negara Asia Pasifik dan Implikasinya terhadap Keamanan Regional. CSIS, XXIII, No.6, November-Desember

Setiyadi, Mas Wigrantoro Roes, Di Balik Sukses Ekonomi Cina dan India, (Makalah).

Zvezda, Krasnaia, 8 April 1999 hlm. 1, Vremia MN, 26 March 1999.

INTERNET

Alexander A, Sergounin and Sergey V. Subbotin, 1998. “Sino Millitary – Technical Cooperation: a Russian View.” in Russia and The Arms Trade, edited by Ian Anthony , SIPRI, Oxford University Press. http://books.sipri.org/product_info?c_product_id=162

Alfrin Aladdin, Yuri, “Vladimir Putin, Penyelamat Rusia Keluar dari Krisis”, http://www.antaranews.com/print/47428/

Arms Contol Association. 2000.  “Russia’s National Strategy”.

http://www.armscontrol.org/act/2000_01-02/docjf00

Bailes, Alyson J. K, dkk, 2007, http://www.peacepalacelibrary.nl/ebooks/files/SIPRI_Policypaper17%5B1%5D.pdf

Ben Blanchard, “Putin says to push military ties with China”, diakses dari

http://www.reuters.com/article/2012/06/06/us-china-russia-military-idUSBRE8550BG20120606

Bernard, Antoine , 2007.  Shanghai Cooperation Organisation: a vehicle for human rightsviolations” http://www.fidh.org/IMG/pdf/sco_report.pdfhttp://www.fidh.org/IMG/pdf/sco_report.pdf

BISNIS.COM, “Rosneft Pasok Minyak Mentah Ke China Senilai US60 Miliar” http://www.bisnis.com/rosneft-pasok-minyak-mentah-ke-china-senilai-us60-miliar

  1. BP “Statistical Review of world Energy 2005 : Energy Information Administration”, Penwell Publishing company, Oil & Gas Journal . 20 Desember 2004. diakses dari, http:/./www.eia.doe.gov/ / em UE/ipsr/11b.xls

Cao, Haiye, “Anggaran Militer Cina Meningkat”, http://www.dw.de/anggaran-militer-cina-meningkat/a-16653055

“China vs US energy consumption” http://www.guardian.co.uk/business/datablog/2010/aug/03/us-china-energy-consumption-data

China-Rusia Kerjasama Militer dan Ekonomi Global”, Rabu, 6 Juni 2012 | 13:46, www.investor.co.id/home/china-rusia-kerjasama-militer-dan-ekonomi-global/37741

“Demografi Rusia” diakses dari id.m.wikpedia.org/wiki/Demografi/Rusia

“Deputy of Commonwealth of Independent States (CIS)”. May 2007.

http://cns.miis.edu/inventory/pdfs/cis.pdf

Donaldson, Robert H.  and John A.Donaldson. “The Arms Trade in Russian-Chinese Relations: Identity, Domestic Politics, and Geopolitical Positioning” International Studies Quarterly, Vol. 47, No. 4 December, 2003, pp. 713. http://www.jstor.org/discover/10.2307/3693642?uid=3738224&uid=2129&uid=2134&uid=2&uid=70&uid=4&sid=21102317975171

GDP growth in Cina 1952-2011”, www.chinability.com/GDP.htm, source National Bureau of Statistics, China Statistics Worldbooks, Natonal Bureau of Statistics plan report, Natonal Bureau of Statistics communiqués

“GDP percapita (Current US $)” data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD

“Hubungan Tiongkok-Rusia”, diakses dari  http://indonesian.cri.cn/Cinaabc/chapter4/chapter40303.htm

Hensel, Paul R. dan Paul F. Deihl, “Testing Emprical Propositions about Shatterbelt”, 1945-1976, diakses dari: www.paulhensel.org/Research/pgq94.pdf

Indonesian Voice, “Amerika Serikat, Rusia dan China Berebut Pengaruh di Asia Tengah”. 2010. indonesianvoice.com/index.php?option=com_content&view=article&id=193:amerika-serikat-rusia-dan-china-rebutan-pengaruh-di-asia-tengah-&catid=39:isu-gerakan-anti-perang&itemid=60

IRIB Indonesia“Rusia-Cina, Kerjasama untuk Aliansi Strategis”, Selasa 24 Januari 2014, Indonesian.irib.ir/focus/-/asset_publisher/v5Ce/content/rusia-cina-kerjasama-untuk-aliansi-strategis

Isharyanto, Mas, “Menengok Aspek Ekonomi Hubungan China-Rusia” 24 September 2013. m.kompasnia.com/post/read/594580/3/menengok-aspek-ekonomi-hubungan-china-rusia.

Jetro Jakarta Newsletter Vol.46, “Buku Putih Perdagangan dan Investasi JETRO Edisi 2008” www.jetro.go.jp/indonesia/newsletter/nl47.html

Lucas, Edward, “Russia’s New Cold War”, online.wsj.com/news/articles/SB10001424052702304675504579388913610934806

Makarim, N.A. “Geopolitik”. www.kompas.com/kompas-cetak /041228/utama

Makmun, Heri Hidayat, Kerjasama Militer Rusia – Cina dan Pengaruhnya Terhadap Kebijakan Amerika Serikat di Asia Timur diakses dari http://indonesianvoices.com/index.php?option=com_content&view=article&id=77:kerjasama-militer-rusia-Cina-dan-pengaruhnya-terhadap kebijakan-amerika-serikat-di-asia-timur&catid=1:latest-news

Megasari, Dyah “Putus dari Eropa, Rusia berpaling ke China” Kamis, 14 Februari 2013 | 14:26 WIB, diakses dari http://mobile.kontan.co.id/news/putus-dari-eropa-rusia-berpaling-ke-china (Sumber : Reuters)

“Penduduk Cina Jadi 1,34 M Orang” www.menkokesra.go.id/content/penduduk-china-jadi-134-m-orang/

“Perkembangan Industri Migas di Rusia” http://www.esdm.go.id/beritagas.php?news_id=340

Richardson, Michael. Japan Times, ‘ New Ships Give China’s Navy A Stronger Punch’,   http://www.japantimes.co.jp/text/eo20120912mr.html

“Russian Military Reform and Defense Policy” http://www.fas.org/sgp/crs/row/R42006.pdf

“Russians Positive on China’s Foreign Policy, Economic Model, Negative on U.S. Policies, Bush”, Questionnaire Transcript of Panel Discussion, http://www.worldpublicopinion.org

Staf  FORUM “Selera Cina Untuk Minyak Bertambah Besar” 1 April 2011, apdforum.com/id/article/rmiap/articles/print/departments/terrorist_update/2011/04/01/feature-09

Suara Media. “Doktrin militer Rusia siap jungkir balikkan NATO”.

http://www.suaramedia.com/berita-dunia/eropa/11993-doktrin-militer-rusia-siap-jungkirbalikkan-serbuan-nato.html#.

Syah, Efran : Cina, Kekuatan Udara Baru di Dunia, diakses dari http://www.artileri.org/2013/01/Cina-kekuatan-udara-baru-di-dunia.html

Wahyono, “Sejarah Awal Berdiri Negara Rusia” http://www.badiklat.dephan.go.id/index.php/berita-pusbahasa/703-sejarah-awal-berdiri-negara-rusia

Wiedodo, Arief : “Kepentingan Rusia Di Kawasan Asia”,  http://www.indonesia.mid.ru/ros_asia_ind_1.html&catid=1:latest-news

Vibiznews “Ekspansi Bisnis China Ke Luar Negeri Meningkat Tajam” vibiznews.com/2013/12/20/ekspansi-bisnis-china-ke-luar-negeri-meningkat-drasti

[1]A. Fahrurodji,  2005.  Rusia Baru menuju Demokrasi : Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm. 186-187

[2] Mary Bucley, 2002 Persepsi Perang  dan  Dampaknya, (diedit oleh Sally N Cummings) London: Continuum,  , hlm. 156

[3]Archelli R.de, Glasnotst: Pragmatisme Politik Luar Negeri Vladimir Putin. Vol. 4 No. 2, Oktober 2008 -Maret 2009,  hlm. 50, didownload pada 21 Februari 2013 (Jurnal)

[4] Rick Fawn , 2003. Realignments in Russian  Foreign  Politics, London: Portland, OR.  hlm 14-15

[5] Archelli R.de Ibid  hlm 198-201

[6]Muhammad Ali Busthomi, 2010, “Analisis Faktor Penyebab Terciptanya Diplomasi Energi Rusia Dalam Mengimplementasikan Paradigma Energi Sebagai Komoditas Strategis”. FISIP UI, hlm 81, didownload pada 19 Maret 2013

[7]  Rick Fawn ibid  hlm. 16

[8] “Russia and Eurasia Program”

Diakses dari http://csis.org/program/russia-and-eurasia-program, pada 1 Mei 2013

[9]Arief Wiedodo : “Kepentingan Rusia Di KawasanAsia” Diakses dari, http://www.indonesia.mid.ru/ros_asia_ind_1.html&catid=1:latest-news. pada, 16 Februari 2013

[10] Hans J Morgenthau, 1978. Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. New York: Alfred knopf. hlm. 23

[11] Didi Krisna, 1993,  Kamus Politik Internasional, Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia, hlm 7

[12] Jack C.Plano,  dan Roy Olton. 1999, Kamus Hubungan Internasional, Bandung: Abardin, hlm 5

[13] K. J. Holsti, ,1998, Politik Internasional:Kerangka untuk Analisis. (diterjemakan oleh M. Tahir Azhari.), Edisi ke-IV,  Jilid ke I , Jakarta: Erlangga, hlm. 107

[14] Febi Noormalinda, 2009. Kepentingan Geopolitik Jepang Dalam Perebutan Pulau Takeshima Dengan Korea Selatan.  FISIP UNMUL, hlm. 16

[15] Colin Flint, 2006. Introduction To Geopolitics.  New York and London: Routledge, hlm. 13

[16] Febi Noormalinda, ibid  hlm.14

 [17] N.A Makarim, 2004. “Geopolitik”. diakses  dari www.kompas.com/kompas-cetak/041228/utama, pada 3 Mei 2013

[18]Al-Rodhan dan Nayef R.F, 2009. NeoStatecraftAnd MetaGeopolitics: Reconciliation of Power, Interests and Justice in the 21st Century. hlm 24

 

[19]Juni Sucitra, 2008. Kebijakan Luar Negeri Australia Terhadap Indonesia Pada Masa Pemerintahan John Howard. Samarinda :Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik,Universitas Mulawarman

 

[20] Juni Sucitra, ibid

[21] Juni Sucitra, loc.cit

[22] Didi Krisna, loc.cit

[23] Febi Noormalinda, op.cit  hlm.14

[24]Al-Rodhan, loc.cit

[25] Wahyono “Sejarah Awal Berdiri Negara Rusia” diakses dari

http://www.badiklat.dephan.go.id/index.php/berita-pusbahasa/703-sejarah-awal-berdiri-negara-rusia,

pada 11 Desember 2013

[26] A. Fahrurodji, op.cit  hlm. 17 – 20

[27] Wahyono, loc.cit

[28] A. Fahrurodji, loc.cit

[29] A. Fahrurodji, loc.cit

[30] Mary Bucley dan Sally N Cummings, op.cit hlm 158

 [31]A. Fahrurodji, op.cit hlm. 207 – 208

[32] Simon Siragih, Bangkitnya Rusia : Peran Putin dan Eks KGB, Jakarta: Kompas, 2008, hlm.108

[33] Rick Fawn, op.cit hlm 17

[34] Jeffrey Mankoff, Eurasian Energy Security, Council Special Report No. 43 February 2009, hlm.7. (Jurnal)

[35] Edward Lucas, “Russia’s New Cold War”, diakses dari online.wsj.com/news/articles/SB10001424052702304675504579388913610934806, pada 10 Maret 2014

[36] ibid

[37] Edy Prasetyono. Peningkatan Kekuatan Militer Negara-Negara Asia Pasifik dan Implikasinya terhadap Keamanan Regional. CSIS, XXIII, No.6, November-Desember. 1994, Hlm.504 (Jurnal)

[38] “Russian Military Reform and Defense Policy”, diakses dari http://www.fas.org/sgp/crs/row/R42006.pdf     pada 5 Januari 2013

[39] Rick Fawn, op.cit  hlm. 2

[40] Robert H.  Donaldson, and John A.Donaldson. “The Arms Trade in Russian-Chinese Relations: Identity, Domestic Politics, and Geopolitical Positioning” dalam International Studies Quarterly, Vol. 47, No. 4 December, 2003, pp. 713. diakses dari http://www.jstor.org/discover/10.2307/3693642?uid=3738224&uid=2129&uid=2134&uid=2&uid=70&uid=4&sid=21102317975171, pada 10 Maret 2014

[41] Sergounin ,Alexander A and Sergey V. Subbotin, “Sino Millitary – Technical Cooperation: a Russian View.” dalam Russia and The Arms Trade, SIPRI, Oxford University Press, 1998. diakses http://books.sipri.org/product_info?c_product_id=162 pada 10 Maret 2014

[42] “Deputy of Commonwealth of Independent States (CIS)”. May 2007. Diakses dari

http://cns.miis.edu/inventory/pdfs/cis.pdf. pada 14 Maret 2014

[43] Suara Media. “Doktrin militer Rusia siap jungkir balikkan NATO”. Diakses dari

http://www.suaramedia.com/berita-dunia/eropa/11993-doktrin-militer-rusia-siap-jungkirbalikkan-serbuan-nato.html#. pada 14 maret 2014

[44] Sri Rahayuni, 2012. Kebijakan Pertahanan Rusia Dan Dampaknya Terhadap Nato. JURUSAN Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar, hlm 12

[45] Arms Contol Association. 2000. Russia’s National Strategy.diakses dari,

http://www.armscontrol.org/act/2000_01-02/docjf00. Pada 13 Maret 2014

[46] Rick Fawn, loc.cit

[47] Diantaranya adalah Menlu Andreii Kozyrev, Sergei Makov, Menteri Perdagangan Alexei Kudrin dan Vladimir Zhirinovsky.

[48] Rick Fawn, op.cit hlm. 18

[49] Heri Hidayat Makmun, “Kerjasama Militer Rusia – Cina dan Pengaruhnya Terhadap Kebijakan Amerika Serikat di Asia Timur” diakses dari http://indonesianvoices.com/index.php?option=com_content&view=article&id=77:kerjasama-militer-rusia-Cina-dan-pengaruhnya-terhadap-kebijakan-amerika-serikat-di-asia-timur&catid=1:latest-news, pada 5 maret 2013

[50] Cina ABC, “Hubungan Tiongkok-Rusia”, http://indonesian.cri.cn/Cinaabc/chapter4/chapter40303.htm diakses pada 12 Desember 2013

[51] “GDP growth in Cina 1952-2011” di akses dari www.chinability.com/GDP.htm, source National Bureau of Statistics, China Statistics Worldbooks, Natonal Bureau of Statistics plan report, Natonal Bureau of Statistics communiqués, pada 27 Februari 2014

[52] LU Ding, “East Asian Policy, China’s Path to the World Largest Economy: Limits of Extrapolation”, dari Profeseor and Senior Associateat The Universityof The Fraser Valey, Canada. Vol.2 No.4 2013 (PDF)

[53] “GDP percapita (Current US $)” diakses dari data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD pada 28 Februari 2014

[54] Jetro Jakarta Newsletter Vol.46, “Buku Putih Perdagangan dan Investasi JETRO Edisi 2008”, diakses dari www.jetro.go.jp/indonesia/newsletter/nl47.html pada 28 Februari 2014

[55] Vibiznews “Ekspansi Bisnis China Ke Luar Negeri Meningkat Tajam” diakses dari vibiznews.com/2013/12/20/ekspansi-bisnis-china-ke-luar-negeri-meningkat-drastis/ pada 10 Maret 2014

[56] Dyah Megasari, “Putus dari Eropa, Rusia berpaling ke China” Kamis, 14 Februari 2013 | 14:26 WIB diakses dari http://mobile.kontan.co.id/news/putus-dari-eropa-rusia-berpaling-ke-china,  pada 10 Maret 2013

[57] John J. Mearsheimer, China’s Unpeaceful Rise , Current History, April 2006,  didownload pada 14 Maret 2014. hlm 160.  (Jurnal)

[58] Michael Richardson, “ New Ships Give China’s Navy A Stronger Punch”,  diakses dari http://www.japantimes.co.jp/text/eo20120912mr.html , pada 27 Februari 2014

[59] Staf  FORUM “Selera Cina Untuk Minyak Bertambah Besar” 1 April 2011, diakses dari apd.com/id/article/rmiap/articles/print/departments/terrorist_update/2011/04/01/feature-09, pada 9 Maret 2014

[60] Bernard A. Gelb, Russian Oil and Gas Challenges, Special Report, Congressional Research

Service. The Library Congress (PDF) di download pad 13 Desember 2013

[61] “Penduduk Cina Jadi 1,34 M Orang” diakses dari www.menkokesra.go.id/content/penduduk-china-jadi-134-m-orang/, pada 11 Maret 2014

[62] “Demografi Rusia” diakses dari , id.m.wikpedia.org/wiki/Demografi/Rusia, pada 10 Maret 2014

[63] Haiye Cao, “Anggaran Militer Cina Meningkat” diakses dari,  www.dw.de/anggaran-militer-cina-meningkat/a-16653055 pada 12 Desember 2013

[64]  Bella Nur Meitasari, 2012. Kebijakan Perdagangan Senjata Rusia Terhadap Cina  Tahun (2006-2012), Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Airlangga. hlm. 4

[65] Rick Fawn, loc.cit

[66] Adrianus Harsawaskita, 2007. Great Power Politics di Asia Tengah: Sudut Pandang Geopolitik, Yogyakarta: Graha Ilmu. hlm.197

[67] Indonesian Voice, 2010. “Amerika Serikat, Rusia dan China Berebut Pengaruh di Asia Tengah”. diakses dari, indonesianvoice.com/index.php?option=com_content&view=article&id=193:amerika-serikat-rusia-dan-china-rebutan-pengaruh-di-asia-tengah-&catid=39:isu-gerakan-anti-perang&itemid=60

[68] William Tompson, 2005. Putin and the Oligarchs : A Two Sided Commitment Problem, diedit oleh Alex Pravda: Oxford University Press. hlm 192

[69] Ren Donfeng, 2003.The Central Asia policies of China, Russia and the USA, and the Shanghai Cooperation Organization process: a view from China, Stockholm: International Peace Research Institute, hlm.11

[70] Jeanne L. Wilson, 2004,  Strategic Partners : Russian-Chinese Relations in the Post Soviet Era, New York: M.E Sharpe, hlm. 11-12

[71] Hans J Morgenthau, loc .cit

[72] Garanina, Olga,  Russian – Chinese relations : towards an energy partnership, PhD Student , University Pieere Mendes France  Of Grenoble (France), St Petersburg State University of Economics and Finance (Russia). Di download pada 10 Maret 2014

[73] ibid

[74] Mas Isharyanto, “Menengok Aspek Ekonomi Hubungan China-Rusia” 24 September 2013. Diakses dari, m.kompasnia.com/post/read/594580/3/menengok-aspek-ekonomi-hubungan-china-rusia. Pada 13 Maret 2014

[75] Dyah Megasari, loc.cit

[76] ibid

[77] BISNIS.COM, “Rosneft Pasok Minyak Mentah Ke China Senilai US60 Miliar” di akses dari http://www.bisnis.com/rosneft-pasok-minyak-mentah-ke-china-senilai-us60-miliar

[78] IRIB Indonesia“Rusia-Cina, Kerjasama untuk Aliansi Strategis”, Selasa 24 Januari 2014, diakses dari Indonesian.irib.ir/focus/-/asset_publisher/v5Ce/content/rusia-cina-kerjasama-untuk-aliansi-strategis, pada 10 Maret 2014

[79] Heri Hidayat Makmun, Kerjasama “Militer Rusia – China dan Pengaruhnya Terhadap Kebijakan Amerika Serikat di Asia Timur”, Diakses dari http://indonesianvoices.com/index.php?option=com_content&view=article&id=77:kerjasama-militer-rusia-Cina-dan-pengaruhnya-terhadap-kebijakan-amerika-serikat-di-asia-timur&catid=1:latest-news, pada 5 mei 2013

[80]Antoine Bernard, 2007. “Shanghai Cooperation Organisation: a vehicle for human rightsviolations” didownload dari http://www.fidh.org/IMG/pdf/sco_report.pdfhttp://www.fidh.org/IMG/pdf/sco_report.pdf. pada 10 Maret 2014

[81] Trenin, Dmitri , Russia’s China Problem: For a discussion of the discrepancy between Russian and Chinese economies in this period,  Moscow: Carnegie Center, 1999. hlm. 28

[82]Alyson J. K. Bailes, et al,  2007, diakses dari: http://www.peacepalacelibrary.nl/ebooks/files/SIPRI_Policypaper17%5B1%5D.pdf pada 10 Maret 2014

[83] Antonio Bernard, ibid, hlm. 12

[84] Haiye Cao, op.cit hlm. 2

[85] Bella Nur Meitasari, loc.cit

[86] Heri Hidayat Makmun, loc.cit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s