Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 1)


image
Judul : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre : Drama, Romance, Comedy n Family
Casts : ♡ Harshad Arora as Zain Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya Zain Abdullah
♡ Karan Tucker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as Herself
♡ All Beintehaa Casts
Located : India (Mumbai, Bhopal)
Indonesia (Jakarta, Jogjakarta)
Eps Numb : 10 Parts

Hai Beintehaa lovers, I’m Back!! Sorry guys, kali ini eke kembali bukan mau ngebeberin fakta tentang Harshad dan Preetika, maaf mengecewakan. Sekarang eke mencoba terobosan baru dengan membuat sebuah Fan Fiction, ehehe bukan terobosan baru sih. Lebih tepatnya gue kembali ke pekerjaan masa lalu gue sebagai seorang Author Fan Fiction.

Fan fict ini gue buat, sebagai bentuk refleksi dari keinginan kebanyakan BI lovers yang menginginkan BI season 2 atau reuni Harshika yang kagak kunjung terkabulkan 😂😂. Ini fan fict India pertama gue guys, jadi maklumin lah kalo baca ini masih berasa nonton drama korea ketimbang serial India. Tapi semoga bisa mengobati kerinduan kalian semua dan pada suka yaa, happy Reading!!

Beintehaa 2 Part 1

terkadang cinta yang selalu kau impikan seumur hidupmu tak jua datang menghampirimu, namun justru cinta lain yang tak pernah kau bayangkan hadir begitu tak terkira hingga kau tidak pernah menduga sampai dimana batasnya.

>>>

Di suatu senja, di sebuah taman kecil pusat kota kecil Bhophal, India sepasang ayah dan anak laki-lakinya sedang asik bermain sepak bola, tawa keceriaan tak pernah luput dari bibir mereka.

“Heei kapten Abdullah! tunjukkanlah tendangan dahsyatmu itu jika kau bisa” ujar sang Ayah seakan menantang sang anak. Dengan senang hati, sang anak pun tak segan menunjukkan kebolehannya bermain sepak bola kepada ayahnya, persis seperti seorang pemain bola profesional yang menunjukkan kebolehannya kepada pelatihnya. Ia fokuskan pandangannya kepada sang kulit bundar yang tergeletak tak berdaya di atas rumput, lalu sekuat tenaga ia tendang bola itu menuju arah sang ayah yang sedang berdiri di hadapannya dan Hap! Sang ayah lagi-lagi berhasil menangkap si kulit bundar yang sudah dilayangkan padanya.

“Kau kalah kapten Abdullah!, hahaha” ejek sang Ayah.

“Ayah curang!” pekik sang anak tak terima dengan kekalahannya, sang Ayah hanya tertawa geli melihat ekspressi kesal putranya itu

“Ayahh!!” Tiba-tiba sebuah suara kecil terdengar di tengah permainan mereka, keduanyapun menoleh ke sumber suara.

Terlihat seorang anak perempuan berusia sekitar 5 atau 6 tahun berlari kecil ke arah sang Ayah dan disambut oleh pria itu dengan membawanya ke dalam gendongannya.

“Masha Allah Putri ayah yang cantik!” ucap sang ayah kepada anak perempuan itu sambil mencium gemas pipinya yang halus nan chubby.

Sementara itu, anak laki-laki berusia 8 tahun itu menatap bingung ke arah sang ayah, ia tentu bingung mendengar gadis kecil itu memanggil ayahnya dengan sebutan ‘Ayah’ sama seperti dirinya, sedangkan yang ia tau ia tak memiliki seorang saudara apalagi seorang adik perempuan.

“Ayah, kakak itu siapa?” tanya gadis kecil berambut panjang ikal itu kepada pria yang dipanggilnya Ayah, sebelum anak laki-laki itu bertanya kepada Ayahnya.

“Dia Zain Abdullah, dia adalah kakakmu Nak, ayo mendekatlah padanya, sapalah dia dan panggil dia Kakak Zain” ujar pria itu sambil menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya.

“Assalamualaikum Kakak. Ini Aaliya, Aaliya Zain Abdullah” sapa gadis kecil itu dengan nada penuh keceriaan dan keramahan kepada anak laki-laki itu, Zain kecil semakin bingung, gadis kecil itu tak hanya memanggil ayahnya dengan panggilan yang sama dengannya, tapi juga nama belakangnya yang terdapat nama dirinya? Siapa sebenarnya gadis kecil yang kini berdiri tepat di hadapnnya?.

Sementara tanpa tau masalah yang sebenarnya, gadis kecil itu tersenyum kecil ke arah Zain, bola matanya yang cokelat terang tampak lucu bergerak-gerak jenaka menatap Zain. Zain mengabaikannya sesaat, Ia malah menatap tajam ke arah ayahnya menanti penjelasan dari kebingungannya itu.

“Ayah, siapa anak ini? Kenapa dia memanggilmu Ayah?”
“Dia Aaliya, adikmu Zain” jawab sang ayah singkat
“Dia bukan adikku Ayah. Zain tidak pernah punya adik!” Zain setengah memekik tak terima, membuat sang Ayah berjongkok di hadapannya mengimbangi tinggi badannya, Tuan Abdullah lalu meraih kedua bahu putra kecilnya menatapnya lekat-lekat lalu berkata,
“Zain…  Mulai sekarang anggaplah Aaliya seperti keluargamu sendiri, bahkan jadikan ia lebih dari itu, hiduplah dengan baik bersamanya, karena kau hanya punya dia dan dia hanya punya kau, dan kelak kalian akan saling membutuhkan satu sama lain, kalian tak akan bisa hidup tanpa satu sama lain, tolong jaga dan lindungi dia lebih dari siapapun… Kau adalah satu-satunya harapan Ayah” lirih sang Ayah lalu tanpa menunggu jawaban dari putranya, tiba-tiba berdiri dan membalikkan tubuhnya kemudian beranjak dari hadapan kedua anak itu.

“Dad! Daddy!….” Teriak Zain kecil, berharap mampu menghentikan langkah ayahnya. Namun seperti memanggil seorang tuna rungu, pria itu sama sekali tak mengindahkan panggilan putranya, ia terus berjalan pelan menuju dimensi tak kasat mata hingga menghilang dan tak mampu lagi dijangkau oleh penglihatan kedua anak itu.

Sambil menggandeng tangan mungil gadis kecil itu entah sejak kapan, Zain terus memanggil dan memanggil ayahnya walau ia tau itu percuma, ayahnya sudah pergi entah kemana.

Mumbai, India Pkl. 5.15
Zain terbangun tepat ketika azan subuh dari sebuah masjid yang tak jauh dari apartemennya berkumandang, Ia terduduk dari pembaringannya dan menyadari semua yang baru saja dialaminya di masa kecil tadi hanyalah mimpi semata, tapi anehnya ia terengah-engah seperti orang yang baru saja berlari, rambutnya kuyup dipenuhi dengan peluh, seakan yang dialaminya tadi adalah bagian dari kehidupan nyatanya.

“Kyun Bhai?? Ada apa?… ” tiba-tiba sebuah suara lembut nan merdu membisikinya. Dua buah lengan melingkar mesra di perutnya, hembusan nafas hangat membelai tengkuknya.

Zain terkejut luar biasa, reflek ia melerai tangan-tangan yang melingkar di perutnya. Ia berbalik ke arah suara di belakangnya, ia menemukan seorang gadis cantik berpakaian super mini yang bahkan tak ia kenali, ini sudah kesekian kalinya ia menemukan seorang gadis asing di apartemennya saat ia bangun setelah dari club dan mabuk berat di malam harinya.

“Kau… kau siapa? Kenapa kau masuk ke apartemenku?!”
“Apa? Ka.. kau bercanda kan? Kau yang sudah membawaku ke sini semalam Sayang… kau tidak ingat kita sudah melewatkan malam yang indah semalam…” gadis asing itu mencoba berhambur ke pelukan Zain tapi Zain dengan sigap mencekalnya.

“Pakai pakaianmu dan pergi dari apartemenku sekarang!” Tegas Zain. Gadis itu kaget, raut wajahnya berubah bingung. Zain yang ia lihat semalam benar-benar berbeda dari yang ia lihat pagi ini. Zain yang semalam adalah pria yang benar-benar romantis. Namun Zain sekarang berubah dingin.

Yaa… itulah Zain, ia hanya akan datang seperti angin yang sanggup memporak-porandakan hati seorang gadis lalu pergi begitu saja seolah tak terjadi apapun. Ia bisa saja membuai seorang gadis dengan bujuk rayunya, ia begitu pandai menenggelamkan seorang gadis ke dalam pusaran asmaranya, ia bisa saja semalam suntuk membuai seorang gadis dengan berjuta kata cinta dan puisi indah bak seorang pujangga, bak seorang Majnun memuja Laila, namun dengan mudahnya melupakannya di pagi harinya.

Zain meraih dompet dari atas meja kecil di samping tempat tidurnya lalu mengeluarkan beberapa lembar dollar sisa perjalanan ke New York kemarin lalu memberikannya kepada gadis itu.

“Ini ambillah dan pergilah dari sini, aku tidak suka orang lain masuk ke apartemenku tanpa seizinku” gadis itu tampak naik pitam dengan tingkah Zain, tanpa mengambil lembaran dollar itu ia berdiri dari duduknya dan menatap Zain dengan pandangan berapi-api, lalu PLAKK!! sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zain.

“Brengsek!!” Maki gadis itu, Zain tak bergeming, ia hanya mengusap pelan pipi kirinya yang lumayan perih, ia sudah biasa mengalaminya, ia tidak akan membalas gadis itu. Lalu masih dengan pakaian super mininya, gadis itu meraih high heelsnya yang berserakan di lantai lalu berlari keluar dengan wajah yang merah padam dan menangis.

Sesaat kemudian Zain menyusul keluar sebelum gadis itu benar-benar pergi.

“Hei Kau!!” Panggilnya enggan menjauh dari daun pintu. Sesaat kemarahan gadis itu sedikit mereda, ia berbalik ke arah Zain berharap lelaki yang sempat membuatnya terbuai itu akan berubah pikiran.

Namun jauh dari yang diharapkan, Zain malah hanya menyodorkan sebuah tas tangan ke arahnya.
“Ini… tas mu ketinggalan” SIAL!! Batin gadis itu memaki, dengan kekesalan yang meningkat puluhan drajad ia merenggut tas nya lalu buru-buru pergi dari hadapan Zain Abdullah.

Sempat berpapasan dengan gadis itu sebelum Zain sempat menutup pintu apartemennya, seorang pemuda yang ia kenali muncul, cengar cengir ia mendatangi Zain yang kini menyambutnya dengan senyuman. Pemuda yang tak kalah tampannya dengan Zain itu bernama Rizwan, sahabat baiknya sejak di bangku SMP.

“Hey!! Apa lagi yang kau lakukan pada gadis itu? Sepertinya hampir setiap pagi aku melihat seorang gadis keluar dari apartemenmu sambil menangis, hahaha!!”
“Jangan berlebihan! Itu tidak setiap hari bodoh! Lagi pula siapa suruh dia memanfaatkanku saat sedang mabuk?!”
“Haha… kau ini! Apa kau tidak takut hukum karma?”
“Cish!! Kau lupa kita seorang muslim? di dalam keyakinan kita tidak ada yang namanya karma”
“Csh! Orang sepertimu bicara soal agama benar-benar terdengar aneh, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kita ke masjid dan shalat jum’at, tapi dalam keyakinan kita kau tau ada yang namanya dosa kan?”
“Tutup mulutmu, kau benar-benar cerewet seperti Bibi Zarina. Ngomong-ngomong pagi-pagi buta begini apa yang membawamu ke sini?”
“Zain, aku punya kabar baik untukmu”
“Kabar baik? Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam saja”

***
“Kita masih punya harapan menemukan Ayahmu kembali Zain” kata Rizwan tersenyum haru
“Maksudmu… kau tau dimana ayahku?!” Zain terlonjak antusias namun setengah percaya dengan apa yang dia dengar
“tidak sepenuhnya, tapi sekarang kita tau harus mencarinya kemana, dari data terakhir yang diperoleh, dia pergi ke Indonesia tepatnya di kota Jogjakarta”
“Kau yakin?? Kau tidak sedang mengerjaiku kan Rizwan Khan??”
“Tentu saja tidak, aku tau kau sudah menantikan berita baik ini seumur hidupmu,” yakin akan perkataan Rizwan, Zain memeluk sejenak sahabatnya itu dengan penuh rasa haru dan terimakasih, rupanya itulah makna dari mimpinya tadi, tak terasa ia meneteskan air mata bahagia.

Sungguh, benar kata Rizwan, Zain telah menantikan kabar baik itu seumur hidupnya, yaa… selama bertahun-tahun didera rasa rindu yang teramat sangat, belasan tahun terus dalam pencarian dengan harapan yang tak pernah surut, akhirnya Zain mendapatkan kembali harapannya, ia akan segera menemukan Ayahnya kembali, orang tua satu-satunya yang masih ia miliki. Kabar macam apa lagi yang lebih membahagiakan selain menemukan Ayahnya kembali?

“Kau harus menemaniku Rizwan, kita akan ke Jogja hari ini juga!” Ucap Zain begitu berbinar-binar
“Yaa… aku siap menemanimu Zain, tapi tidak juga hari ini. Kita butuh banyak persiapan dan kita tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja”
“Tidak Riz, aku tidak akan menundanya lagi, kau tau seberapa lama aku menantikan saat ini? seumur hidupku tujuan hidupku adalah Ayah, aku tidak akan menyia-nyikannya sedetikpun”
“Ya tentu teman, aku mendukungmu aku berjanji akan menemanimu sampai kau menemukan Ayahmu”
“Kalau begitu tolong urus segala tiket dan administrasi keberangkatan kita, soal pekerjaan di kantor aku akan mengurusnya”
****

“Ceraikan aku sekarang juga!!” pekik sebuah suara wanita setengah menangis dari dalam kamar disertai dentuman pecahan kaca yang terhampas ke lantai marmer.

Zain yang masih berusia 8 tahun hanya bisa menangis mendengarkan pertengkaran hebat kedua orang tuanya di balik pintu kamar, ia duduk meringkuk memeluk kedua kakinya sambil terisak.

“Apa yang sedang kau bicarakan itu? Demi Tuhan aku tak akan pernah menceraikanmu!!” Sengit suara pria

“Kalau begitu kau harus memilih salah satu di antara kami, aku dan Zain atau bersama anak harammu itu!!”

“Demi Tuhan Surayya, Aaliya itu adalah anak dari sahabatku Ghulam dan Shabana, dan keduanya telah tiada, mengertilah aku tidak mungkin setega itu meninggalkan anak kecil itu sendirian”

“Kau bawa saja dia ke panti asuhan! kenapa kau yang harus repot merawatnya?!” pria itu terdiam, ia tak menyangka istrinya sebegitu egoisnya, ia tidak mungkin menuruti permintaan istrinya untuk membawa anak itu ke panti asuhan karena anak itu adalah amanah baginya.

“Kau Bohong! Kau pikir aku tidak tau kalau wanita yang bernama Shabana itu adalah selingkuhanmu? Jika Aaliya bukanlah anak harammu kau tidak mungkin bersikeras ingin merawatnya dan aku… aku tidak akan sudi melihat anak haram itu tinggal seatap denganku. Jadi kumohon pergilah”

“Surayya Abdullah!!” Sebuah tamparan keras terdengar, tangis dan ketakutan Zain semakin menjadi, ini pertama kalinya dalam hidupnya ia mendengar Ayah dan Ibunya bertengkar hebat dan entah kenapa itu benar-benar menyakitkan baginya

“Kau sekarang sudah berani menamparku?! Kau menamparku hanya karena Anak Harammu itu?!” Pekik Surayya

“SURAYYA CUKUP!!” bentak Usman

“Aku akan mengurus surat perceraian kita, Jadi kumohon pergilah dan bawa anak itu dari hadapanku!!”

“Baiklah kalau itu memang maumu, aku sudah tidak tahan punya istri pembangkang sepertimu!! Kau dengarkan baik-baik Surayya, aku Usman Abdullah sudah menjatuhkan dirimu talak!!”

****

“Ayah… Ayah….!!” Zain kecil merengek sambil memeluk kaki ayahnya berusaha untuk tak membiarkannya pergi

“Dasar anak tidak tau diri!! Ibu harus katakan berapa kali padamu? bahwa dia bukan Ayahmu lagi Hah?!” Bentak Surayya kepada putra satu-satunya itu.

“Ayah! Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan Zain, Ayah!!” Tangisan Zain semakin menjadi namun Usman sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, sambil menyeret koper yang berisi pakaian seadanya, ia berjalan pelan keluar dari rumahnya..

“AYAH!!” pekik Zain lagi namun tubuh kecilnya ditahan oleh ibunya untuk pergi menyusul ayahnya.

Namun sekuat tenaga, ia lepaskan dekapan ibunya dan berlari keluar menyusul Ayahnya.

Saat di luar rumah, langkahnya seketika terhenti ketika dilihatnya sang Ayah memeluk hangat tubuh seorang gadis kecil, matanya seketika menyipit, ada sebuah perasaan kecewa yang ia rasakan. Zain kecil merasa cemburu saat itu, ia merasa seseorang telah merebut ayahnya dari hidupnya, jadi karena gadis kecil itu kah Ayahnya memilih untuk pergi? Zain menatap garang ke arah gadis kecil itu, yaa seumur hidup ia tak akan pernah memaafkan orang yang sudah merebut Ayahnya dan menghancurkan keluarganya…

****
Zain terjaga dari mimpinya ketika suara pengumuman bahwa pesawat telah tiba di bandara Soekarno Hatta tengah berkumandang.

“Akhirnya 11 jam perjalanan kita sampai juga! Welcome to Indonesia Zain Abdullah” Ucap Rizwan.

Yeahh welcome to Indonesia, aku sudah tidak sabar ke Jogjakarta dan menjelajahi kota itu, ayo kita siap-siap turun”

****
Soekarno Hatta International Airport

Seorang gadis tengah berdiri di antara jejeran para penjemput, dia tampak sedikit menonjol di tengah hiruk pikuk manusia karena penampilannya yang sedikit berbeda, sepintas melihatnya kita pasti sudah bisa menebak dia bukanlah orang pribumi asli, dengan wajah oval telur, hidung bangir dan warna mata cokelat terang tidak seperti kebanyakan orang Indonesia, serta pakaian tradisional yang ia kenakan sudah menonjolkan identitasnya sebagai gadis yang berasal dari negeri Taj Mahal. Rambutnya yang ikal tergerai panjang, sedikit ia tutupi dengan selendang anarkali hijau teranganya.

Kedua tangannya memegang dan memamerkan kertas karton putih bertuliskan huruf sansekerta yang berbunyi nama tamu yang akan ia jemput kali ini. Yaa… kemampuannya berbahasa Hindi tak ia sia-siakan begitu saja, berkat kemampuan bilingual berbahasa Inggris, Hindi sekaligus bahasa Indonesia yang telah dia kuasai selama 7 tahun menetap di negeri ini, serta kebolehannya yang menguasai seluruh sudut kota Jogja membuat ia pantas bekerja sebagai seorang tour guide khusus turis dari negara asalnya, India.

Turis kali ini berbeda dengan turis pada umumnya yang biasa ia pandu, agak aneh lebih tepatnya jika biasanya para turis membutuhkan waktu 3 hari sampai seminggu, namun kali ini turis itu membutuhkan jasanya selama satu bulan penuh bahkan bisa lebih dari itu.

Yah walaupun aneh, tapi proyek kali ini sangat menjanjikan. Menurut Informasi yang dia dapat dari agen wisata tempat ia bekerja, turis itu menyewanya per jam dengan honor menggiurkan, yaa… setidaknya ia tak perlu khawatir lagi mengenai biaya pengobatan ayahnya.

“Haduuhh kenapa di saat-saat seperti ini aku jadi ingin ke Toilet ya?” Keluhnya yang tiba-tiba mendapatkan panggilan alam.

Sempat galau antara akan ke toliet memenuhi panggilan alam atau tetap menunggu sampai turis itu datang, ia pun memutuskan untuk memenuhi panggilan alam sejenak. Buru-buru ia meninggalkan tempat itu dan pergi ke toilet.

Sementara Zain baru saja keluar dari toilet. Seturunnya ia dari pesawat ia memutuskan untuk langsung ke toilet untuk buang air dan membenahi diri, sementara Rizwan menjaga barang bawaan dan berjaga-jaga kalau-kalau mereka sampai berselisih dengan tour guide mereka.

Di sisi lain gadis berkerudung hijau itu telah keluar dari toilet dan menemukan sebuah benda berkilau tak jauh dari pintu masuk toilet pria. Celingak celinguk ia mencari seseorang yang tampak kehilangan sesuatu namun tak satupun yang terlihat seperti itu. Ia memutuskan untuk mendekati benda itu dan mengambilnya, sebuah cincin? Tampak seperti sebuah cincin pernikahan pria.

Tanpa ragu ia memunguti cincin emas yang tampak mahal itu, sekali lagi ia mengendarkan pandangannya berharap akan menemukan seseorang yang tampak mencari sesuatu, namun semua orang hanya tampak sibuk hilir mudik dan tak satupun yang tampak mencari sesuatu.

Gadis itu berjalan pelan sambil meneliti cincin emas di tangannya, cincin itu memiliki ukiran yang unik, di lingkaran bagian dalamnya terdapat tulisan sansekerta, ia enggan mengumumkan penemuannya itu kepada semua orang secara langsung karena ia tau karakter orang Indonesia yang bisa saja mengakui barang yang sebenarnya bukan milik mereka. Gadis itu memutuskan untuk sementara memakai cincin yang hanya muat di jari jempolnya berharap pemiliknya akan mengenali cincinnya jadi dia tidak perlu lagi ke pusat Informasi.

“Mbak Mbak… ” panggil seorang pria di tengah perjalanannya. Pria berkulit legam berwajah sangar itu mendekati gadis itu lalu bertanya
“Kau bisa berbahasa Indonesia kan?”
“Yaa… tentu saja” jawab gadis itu
“Kalau begitu berikan cincin itu padaku”
“Cincin? Cincin apa??” Gadis itu pura-pura tidak tau, ia tau jelas bahwa cincin itu pastinya bukan miliknya, pria itu adalah orang pribumi dan cincin itu jelas-jelas bertuliskan huruf India.
“Cincin itu milikku jadi serahkan padaku” Gadis itu menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya, gawat! Sepertinya sebentar lagi pria itu akan memerasnya. Dengan memberanikan diri ia berucap,
“Kalau cincin ini memang milik mas, tolong sebutkan ciri-cirinya” tantang gadis itu.
“Cepat serahkan saja cincin itu, kalau tidak..”
“Kalau tidak apa? Saya yang akan melaporkan anda ke polisi kalau macam-macam!”
“Kau… beraninya yaa..”
“Pak polisi!!” baru saja pria itu akan mengancam ketika gadis itu dengan cerdiknya mengalihkan perhatiaannya dengan berpura-pura memanggil polisi, pria sangar itu sempat terkecoh, ia membalikkan pandangannya ke belakang, kesempatan itu digunakan gadis itu untuk segera kabur.

Buru-buru ia berlari kencang dan beberapa meter langkahnya terhenti ketika tubuhnya bertabrakan dengan tubuh yang lumayan tinggi dan besar, Brukk!! bokong gadis itu menimpa lantai.

“Awww!!” Keluh gadis itu sambil memagangi pingganganya yang kesakitan. Kerudung hijaunya jatuh ke lantai dan menyingkap seutuhnya rambutnya yang tergerai indah nan ikal mayang, sementara seseorang yang ia tubruk kini untuk sesaat mengamatinya dalam diam. 🎵Theme Song Beintehaa mengalun🎶

Bersamaan dengan itu cincin yang ia sematkan di jempolnya itu terlepas dan menggelinding bebas beberapa meter di lantai.

Awww Mere Ring!!” Gadis itu reflek berucap dalam bahasa ibunya seolah cincin itu adalah miliknya, tanpa memperdulikan orang yang ia seruduk, dan tanpa bangkit dari lantai, ia merangkap dan buru-buru mendekati cincin itu berniat untuk memungutinya, namun seseorang sudah lebih dulu memungutnya.
Sorry Sir… may I have my Ring?” Pinta Gadis itu dengan sopan kepada pria yang tampaknya bukan orang pribumi itu namun anehnya cukup tak asing di matanya.

Namun bukannya menjawab, pemuda itu malah masih sibuk menatapinya dengan tatapan yang sulit diartikan, apakah terpukau seperti kebanyakan lelaki yang melihatnya pertama kali? Atau ada yang aneh dengan penampilannya? Entahlah, yang jelas itu membuat gadis itu merasa aneh dan agak risih.

“Sir… bolehkah aku mengambil cincinku kembali?” Ulang gadis itu lagi dan seakan tersadar dari lamunannya, pemuda itu akhirnya angkat suara.

“Cincinmu?? Kau bilang ini cincinmu?!” Tanya pemuda bernama Zain itu kepada gadis itu setelah mereka sudah sama-sama bangkit dari lantai fan berdiri.

“I..iya itu cin… cinku” jawab gadis itu ragu, ia hanya sedikit trauma dengan pria legam yang mengaku-ngakui cincin tadi, meski pemuda itu terlalu tampan untuk menjadi seorang penipu, tapi bisa saja pria asing itu juga mencoba untuk menipunya, kerasnya hidup telah mengajarkan dia untuk selalu waspada akan segala kemungkinan.

“Kau yakin??” Tanya Zain lagi dengan raut curiga, gadis itu hanya mengangguk.

Zain mulai berdiskusi dengan Rizwan yang baru saja datang menyusulnya.
“Riz, lihat! bukankah ini cincinku? Kita sekarang mendapatkan pencurinya” Tanya Zain menunjukkan cincinnya, sengaja ia pelankan suaranya agar gadis itu tak mendengarnya
“Yaa… itu memang cincinmu. Tapi, gadis itu tidak mungkin mencurinya kan? Dia terlalu cantik untuk mencuri”
“Ck!! Di dunia ini jangan pernah melihat orang dari penampilan luarnya saja, kau lihat saja nanti, aku akan memberikan gadis pencuri itu pelajaran,” seakan tak butuh pendapat Rizwan lagi, Zain segera mendatangi gadis itu.
“Ikut denganku!” Tanpa menjelaskan apapun, Zain tiba-tiba menarik tangan gadis itu
“Hey… apa-apaan ini?!” Tanya gadis itu panik dan bingung,
“Kau tidak akan bisa lari kemana-mana lagi, pencuri!!” hardik Zain
“A..apa?! Pencuri?!” Zain tak perduli lagi, ia membawa gadis itu ke pusat keamanan bandara, sementara Rizwan dengan trolli barang bawaannya menyusul di belakang.

“Ya, Mister?” salah seorang security bertanya kepada Zain yang secara mengejutkan mendatangi mereka dengan kemampuan bahasa Inggris seadanya.
“Pak, saya ingin melaporkan gadis ini atas tuduhan pencurian, dia sudah mencuri cincin saya,” cerocos Zain dalam bahasa Inggris. Dan mau sampai dimana lagi kemampuan berbahasa Inggris para security bandara? Tentu saja mereka sama sekali tidak mengerti.
“Apa?? Pencuri?! Aku sama sekali tidak mencuri apapun!!” Elak gadis itu tegas.
“Mbak.. Mbak bisa berbahasa Indonesia kan? Tolong jelaskan apa yang dia katakan” salah satu security yang sudah sering melihat gadis itu lalu lalang di bandara tau betul bahwa dia bisa berbahasa Indonesia dengan baik
“Ini pak!! Orang bule gila ini menuduh saya mencuri!! Bapak percaya sama saya kan? Mana mungkin saya mencuri?!” Ketiga security itu mengangguk setuju.
Sir, apapun yang dia katakan itu semuanya bohong! Ini buktinya, dia mencuri cincin saya yang berharga ratusan juta ini!!” Zain masih dengan bahasa Inggris, ia masih belum sadar bahwa para security itu sama sekali tak paham dengan apa yang dia katakan. Kali ini Ia menunjukkan cincinnya yang menjadi barang bukti.
“Soal cincin itu, yaa memang benar itu bukan milikku, tapi aku tidak mencurinya, aku menemukannya di jalan” gadis itu beralih bahasa ke bahasa hindi, tanda ia sedang berbicara kepada Zain.
“Nah kan ketahuan, akhirnya kau mengakuinya cincin ini bukan milikmu, kau mencurinya dariku kan?!” Cecar Zain.
“Apa kau bilang?! Hei kau!! Kau menuduhku pencuri hanya karena aku yang menemukan cincin itu, kau sendiri bagaimana? Apa kau punya bukti bahwa cincin ini milikmu?”
“Tentu saja, di sisi bagian dalamnya ada sebuah tulisan yang mungkin tak kau mengerti”
“Heh! Tentu saja kau tau, karena kau sudah melihatnya, cincin itu ada di tanganmu sekarang. Cincin itu adalah cincin pernikahan, dan aku yakin orang sepertimu pasti belum menikah, karena tidak akan ada gadis yang mau menikah denganmu!!” Sengit gadis itu
“Apa kau bilang?!” Zain merasa tak terima
“Pak, bapak mudah saja jika ingin membuktikan aku mencurinya atau tidak, tinggal lihat CCTV, tapi yang patut kita waspadai adalah orang asing itu, kita buktikan saja apakah cincin itu miliknya atau bukan, cincin itu adalah cincin pernikahan, periksa saja paspornya apakah dia sudah menikah atau belum” Gadis itu kembali berbahasa Indonesia kepada ketiga satpam itu dengan sedikit berbisik seperti sedang melakukan konspirasi.

Hei Sir, Your Passport” pinta salah satu sekuriti bertubuh bongsor.
What?!” Tanya Zain agak bingung.
Your passport passport, Give me” ucap sang satpam dengan bahasa inggris seadanya. Zain yang akhirnya paham, tanpa ragu mengeluarkan passportnya. Ketiga security itu ditambah Aliya berkumpul mengamati isi passport Zain.
“Hey Tuan, kau bahkan belum menikah berarti jelas-jelas itu bukan milikmu” kata salah satu security tanpa perduli Zain mengerti atau tidak bahasanya.
“Apa??” Zain melongo bingung
“Mbak tolong diterjemahkan” si security menyenggol gadis itu.
“Csh! Kau bahkan sama sekali tak mengerti bahasa Indonesia, tapi sudah berani membuat masalah disini, dengar ya Tuan, Bapak-bapak yang bijak ini berkata cincin ini jelas-jelas bukan milikmu dan kau seorang penipu ulung!”
“Apa kau bilang?! Hei.. kau tidak tau siapa aku?”
“Siapa yang peduli siapa kau?!” Ketus gadis itu.

Di tengah perdebatan sengit itu tiba-tiba handphone gadis itu berdering, ia terlonjak menyadari sesuatu, gara-gara insiden kecil tak penting ini bahkan ia belum menyelesaikan tugasanya menjemput client nya. Gadis itu segera membalikkan tubuhnya dan menerima telepon.

“Hallo Pak Andri…?” pelan gadis itu
“Apa kau sudah bertemu dengan Tuan Zain dan Tuan Rizwan?” Tanya Bos nya.
“Be.. belum Pak, saya sedang menunggu mereka sekarang”
“Aku sudah mengirimkan poto tuan Zain agar kau tidak kesulitan mencarinya, cek sekarang”
“Baik Pak” ucap gadis itu buru-buru lalu segera memutus panggilannya dan melihat pesan masuk di Ponselnya.

Dibukanya segera pesan whatsapp berupa photo client nya dan gadis itu terlonjak kaget melihat penampakan di layar ponselnya, reflek ia mengangkat HPnya lekat-lekat ke wajahnya dan memelototi sosok yang ada di dalam gambar, sesaat gadis itu menoleh ke belakang memastikan apa yang benar-benar dia lihat itu nyata.

Dan sekarang pemuda yang baru saja dimaki-makinya itu tersenyum puas ke arahnya, pemuda itu jelas baru saja mengetahui sesuatu. Tak lama kemudian giliran ponsel Zain yang berbunyi, dengan senyum penuh ketenangan pemuda itu mengangkatnya.

Yeah, Mr Andri?” Gadis itu terlonjak lebih kaget lagi, ia berbalik ke arah Pemuda itu, gawat! kebenaran kekhwatirannya hampir mencapai 100%,
“Belum, tapi aku yakin aku akan menemukannya segera. Ahh… photonya? Yeah… itu lebih baik untuk kami, siapa namanya? Siapa?! Ahh… Aliya? Baiklah sepertinya aku sudah menemukannya Pak, terimakasih” Zain menutup teleponnya, sambil terus menatap Aliya dengan senyum penuh kemenangan.

Damn! Kenapa semua orang yang bernama Aliya selalu menyebalkan?!” Ejek Zain. Dan kali ini Aliya tak berkutik, ia hanya bisa menundukkan wajah antara malu, merasa bersalah tapi juga khawatir akan kelangsungan pekerjaannya.

“Rizwan, sepertinya kita tidak perlu repot-repot mencari pemandu wisata kita, karena dia sudah datang sendiri,” Zain berkata pada Rizwan tapi matanya terus terfokus pada Aliya.

“Ehhh.. itu… soal kejadian tadi aku benar-benar minta maaf, a… aku tidak bermaksud menuduh anda, aku hanya berusaha bersikap waspada,” terang Aliya dengan penuh kehati-hatian, sangat kontras dengan sikapnya yang tadi. Zain bersedekap dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan penuh keangkuhan.

“Ck!! Riz… ini pertama kalinya kita datang ke Indonesia, dan pemandu wisata kita adalah orang seperti dia? Apakah menurutmu kita akan aman?”
“Kalau begitu kita telepon Mr. Andri saja, kita minta ganti tour guide saja,” saran Rizwan, Aliya langsung menggeleng dengan wajah memelas namun sebelum dia mengeluarkan suaranya, Zain terlebih dahulu berucap,
“Tidak perlu Riz… kita tidak perlu mengganti tour guide. Sepertinya akan sangat menyenangkan dipandu olehnya” Zain tersenyum licik seperti merencanakan sesuatu yang jahat.

****

Untuk pemanduan pertama, Aliya memandu kedua client nya itu ke kantor kedutaan besar India, untuk mencari data-data Ayah Zain, dan benar saja data terakhir yang mereka perolah adalah data 7 tahun lalu, Tuan Abdullah terdata tinggal di Jogja, namun tidak diketahui alamat pastinya, menurut pihak kedutaan kemungkinan Tuan Abdullah sudah tidak di Indonesia lagi cukup besar, karena seharusnya mereka sudah dideportasi.

Namun Zain dan Rizwan memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja, agenda mereka untuk mengelilingi kota Jogja untuk mencari Ayah Zain harus tetap dijalankan.

“Haahh… yang benar saja?! Kita akan ke Jogja naik kereta api? Kenapa tidak naik pesawat saja?” Protes Aliya ketika Zain tiba-tiba meminta dipandu ke stasiun kereta api untuk pergi ke Jogja.
“Kenapa tidak? Aku lebih suka perjalanan darat daripada udara”
“Tuan… bisakah kau membandingkan ini? Naik pesawat dengan 1 jam dengan naik kereta api selama 8 jam.” Aliya mencoba memperingatkan.
“Iya… benar juga Zain, kita akan menghemat waktu 7 jam jika kita naik pesawat.” Rizwan kali ini berada di pihak Aliya.
“Tidak tidak tidak! keputusanku sudah bulat, aku ingin ke Jogja naik kereta api, ini pertama kalinya kita ke Indonesia Riz, kita harus menikmati setiap perjalanannya, kita tidak akan bisa melakukan itu jika di pesawat”
“Tapi Tuan…” Aliya masih bersikukuh
“Kalau kau mau naik pesawat silahkan saja, tapi kau juga harus membayarkannya untuk kami juga”
“Apa? Ck! Dasar orang india pelit” gerutu Aliya pelan.

****
Stasiun Pasar Senen, Jakarta.
Pkl. 12.15

Jadwal keberangkatan mereka pada pukul 13.00 sore hari, itu artinya mereka akan sampai di malam hari nantinya.

“Aliya Ji, kami mulai mengantuk, bisakah kau membelikan kopi kalengan?” Itu adalah perintah kesekian kalinya yang diajukan Zain kepada gadis yang seharusnya menjadi tour guide nya itu. Dan sekarang Aliya lebih tampak seperti jongos ketimbang Tour guide.

Meskipun kekesalan akan tingkah semena-mena Zain yang sudah di ubun-ubun, tapi Aliya masih mencoba untuk bersikap sabar, bagaimanapun orang menyebalkan itu adalah client nya yang menjanjikan ia keuntungan berlipat ganda.

Waktu keberangkatan tiba, Zain, Rizwan dan tentunya Aliya mengambil tempat duduk yang pas untuk tiga orang, satu tempat sudah diisi oleh seorang kakek-kakek berblangkon, berpakaian tradisional jawa.

Rizwan mengambil tempat duduk di sebelah sang Kakek sementara Zain duduk di depan Rizwan, sisanya Aliya terpaksa mengambil tempat duduk tepat di samping Zain dan di hadapan kakek itu.

Dan Zain benar-benar berniat mengerjai Aliya habis-habisan, tak ia biarkan Aliya merapatkan bokongan di tempat duduk dengan terus menyuruhnya mangambil ini itu. Terakhir kali Aliya habis kesabaran, ia hamburkan berbungkus-bungkus snack ke hadapan Zain.

“Dengar! Apapun yang kau mau, aku tidak akan mengangkat pantatku lagi sampai kita tiba di Jogja, kau dengar itu?!” Bentak Aliya dan dengan tubuh lunglainya ia pun segera duduk dan kali ini Zain mengalah, bagaimana pun ia harus membiarkan gadis itu hidup lebih lama lagi.

“Kau tidak apa-apa nona?” Tanya kakek itu akhirnya kepada Aliya
“Tidak apa-apa Kek, aku hanya sial saja bertemu dengan orang-orang gila ini” jawab Aliya dalam bahasa Indonesia.

Beberapa saat Kakek itu terus berceloteh panjang lebar dan lama-lama melontarkan rayuan-rayuan lawasnya kepada Aliya, tatapannya yang mulai mesum membuat Aliya risih, dan tak ingin lagi menggubrisnya.

Zain yang menyadari hal itu tiba-tiba berinisiatif, melawan goncangan kereta ia berdiri pelan-pelan,
“Aliya geser” katanya
“Ke…kenapa?” Aliya belum menangkap maksud baik Zain.
“Kita tukar tempat duduk bodoh, apa kau senang ditatap seperti itu terus oleh tua bangka itu?” Dengan perasaan ragu takut Zain ada maksud lain, Aliya menurut perintah Zain untuk bergeser ke hadapan Rizwan dan kini berganti Zain yang berhadapan langsung dengan kakek ‘mesum’ itu.

Setelah posisi aman, beberapa menit kemudian beberapa orang mulai terlelap, Rizwan yang tidak banyak tidur di pesawat akhirnya bisa menambah porsi tidurnya, kakek itu pun tampak tertidur pulas setelah tak punya lawan bicara dan kini tinggal Zain yang terjaga, ia memang tidak terlalu bisa tidur pulas dalam perjalanan darat, kenapa dia memilih kereta api dibandingkan pesawat? Entahlah… mungkin karena Aliya ingin mereka naik pesawat, entah kenapa dia selalu ingin menyelisihi dan selalu ingin menghindari hal hal yang membuat gadis itu senang.

Sementara Aliya yang mungkin sudah sangat kelelahan setelah membabu, rupanya mulai tertidur pulas pula, Zain menyadarinya ketika kepala Aliya tanpa disadarinya menyender di bahu Zain. Zain yang merasa tidak sudi, menoyor kepalanya menjauh dari bahunya. Namun tak butuh waktu lama kepala Aliya yang tampaknya begitu pulas kembali mendarat di bahu Zain, sekali lagi ia kembali menoyor kepala gadis itu tapi sepertinya gadis itu memang sangat keras kepala walau hanya dalam tidurnya, kepalanya lagi-lagi kembali bersandar di bahu Zain dan kali ini parahnya ia mengunci lengan Zain dengan dekapannya seakan mendekap guling.

Dan kali ini Zain pasrah, gadis yang baru saja ditemuinya tadi pagi itu bahkan sudah menuliskan banyak cerita untuk diary pencarian ayahnya hari ini, gadis asing yang baru ia kenal tapi serasa seperti sudah bertemu ribuan kali entah kapan dan dimana. “Nona Aliya… siapa kau sebenarnya? Apa kau penyihir yang dikirimkan Aliya Ghulam Haider untuk menghancurkan hidupku juga?” Zain bergumam dalam hatinya.

****

Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta.
Pkl. 19.10

Zain yang sempat ketiduran, akhirnya terbangun ketika Rizwan berusaha membangunkannya tanda mereka sudah tiba di kota Jogjakarta. Sesaat Zain bingung ketika Rizwan senyam senyum penuh makna ke arahnya, dan pemuda itu pun terkejut ketika menyadari kepala Aliya rupanya masih menyender di bahunya dan gadis itu masih mendekap lengannya persis seperti tadi sebelum ia tertidur. Gadis itu bahkan masih tertidur lelap dan nyaman seakan kereta api ini adalah rumahnya sendiri.

Karena perasaan gengsi dan malu ditertawakan sahabatnya, buru-buru Zain menyingkirkan kepala Aliya dengan menoyornya menjauh dari bahunya, BUKK!! kepala Aliya menghantam pelan kaca jendela kereta dan sukses membangunkannya.

“Hoammhh! Ada apa? Kita sudah sampai ya?” Dengan polosnya Aliya bertanya, sepertinya dia tidak sadar selama berjam-jam tertidur didekapan pria yang baru saja dikenalnya dan kepalanya menghantam kaca jendela karena seseorang dengan jahatnya baru saja menoyornya.

Tugas terakhir Aliya malam itu adalah membawa mereka makan malam dan mencarikan hotel yang nyaman untuk para client nya itu, sengaja ia mencarikan hotel yang berada di sekita jalan Malioboro agar keduanya dapat dengan mudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

Setelah itu Ia pun mohon diri untuk pulang ke rumahnya, ia tidak perduli walaupun Zain lagi-lagi meminta hal yang aneh-aneh dengan menyuruhnya menginap di hotel yang sama dengan mereka dengan alasan agar bisa standby 24 jam jika mereka membutuhkannya.

“Kau boleh tanyakan sendiri kepada bosmu, kami berani membayarmu mahal karena mereka menjanjikan kau akan berkerja full service dan full time untuk kamu, jadi kau harus berada bersama kami selama 24 jam” Zain mengotot, ia tidak akan melepaskan Aliya begitu saja.
“Terserah lah apa katamu!! Client aneh sepertimu tidak harus dituruti semua permintaanya” Aliya cuek dan tanpa memperdulikan sergahan Zain, ia pun segera undur diri.

Aliya sebenarnya tidak pulang ke rumahnya, tapi ia pulang ke rumah sakit, yaa… selama hampir dua bulan ini rumah sakit menjadi rumah singgahnya sepulang bekerja sejak ayahnya masuk rumah sakit. Pasca kejadian mengerikan yang mencelakakan Ayahnya, sang Ayah belum pernah bangun dari pembaringannya, bahkan walau hanya membuka matanya dan menyapa putri tersayangnya, selama dua bulan terakhir Aliya harus berjuang sendiri, beruntung sejak kecil Ayahnya, Usman selalu mendidiknya untuk menjadi wanita yang mandiri dan sudah saatnya ia bersikap demikian.

“Ayah… maafkan Aliya, seharian ini Aliya tidak bisa menemani, karena putri ayah ini sangat sibuk dengan pekerjaannya” Aliya mencoba berdialog dengan Ayahnya, yaa.. meski ia tau Ayahnya sedang koma dan tak sadarkan diri, di setiap kesempatan ia selalu mencurahkan segala isi hatinya kepada sang Ayah, ia tau meski tubuh Ayahnya tertidur, tapi otaknya tidak pernah tidur, pendengarannya juga masih berfungsi dengan baik, dia pasti bisa mendengar semua yang ia katakan.

“Ayah… client ku kali ini wajahnya lumayan tampan sepertimu tapi kelakuannya benar-benar jauh darimu, dia selalu marah-marah dan memerintahkan ini itu semaunya. Tapi Ayah jangan khawatir, kau kenal putri Ayah kan? Ayah selalu bilang aku ini Wonder Woman, dan aku sudah membuktikan itu padanya, jadi tidak akan ada yang bisa menindas putrimu ini, client itu bahkan akan memberikan uang yang banyak untuk kita, untuk pengobatan Ayah, agar ayah bisa segera sembuh,” mata Aliya berkaca-kaca mengucapkan kalimat terakhir, pertanda asa dan pengharapan yang begitu besar. Ia genggam tangan ayahnya lalu menciuminya, beberapa saat kemudian Aliya tertidur di samping pembaringan ayahnya, ia duduk di kursi dan hanya meletakkan kepalanya di atas tempat tidur dan mulai terlelap tanpa melepaskan genggaman tangannya.

****

Beberapa jam berselang, Aliya terlonjak bangun dari tidurnya ketika ponselnya berdering tanda panggilan masuk,
“Siapa yang menelepon pagi-pagi begini?” Gerutunya ketika melihat jam yang menunjukkan masih pukul 4.15 pagi, orang gila mana yang menelepon sepagi ini?

Dengan malas-malasan tanpa memperhatikan nama si penelepon, Aliya menjawab teleponnya.

“Hallo…” ucap Aliya setelah menempelkan ponselnya ke telinganya sambil matanya masih terkatup.
“Hai.. Aliya Ji” ucap seseorang yang suaranya tak asing di seberang sana
“Ya… ada apa?” suara Aliya masih parau.
“Cepat datang segera ke hotel, kami membutuhkanmu,” mata Aliya terbelalak, tanpa harus menyebutkan nama, mendengar suara sengaknya Aliya langsung tau persis siapa yang menelepon.
“Apa? Pagi-pagi begini?!” Protes Aliya
“Kami lapar, dan kami butuh sarapan, ayo cepat carikan kami sarapan”
“Hei… apa kau sebelumnya tidak pernah menginap di hotel? baiklah aku beritahu kau satu hal, telepon lah resepsionist hotel dan mintalah mereka menyediakan sarapan untuk kalian, mengerti?”
“Ck! Apa kau pikir aku ini bodoh? Kami tidak mau makanan di hotel ini, kau lupa? kami ini orang India, kami hanya makan makanan India, kami tidak akan bisa sarapan tanpa roti chanai dan curry”
“Apa?!” Aliya kaget, sudah banyak turis India yang ia pandu selama ini, namun tak ada yang secerewet Zain.
“Kau tidak dengar? Kami mau roti chanai dan curry”
“Kau sudah gila? Orang gila mana yang menjual roti chanai di jam yang bahkan ayam saja belum bangun?!” Protes Aliya.
“Kami tidak mau tau, kami hanya ingin sarapan roti chanai dan curry!”  dengan otoriternya, Zain mematikan handphone seraya tersenyum puas, dia benar-benar tampak sangat bahagia sudah sukses membuat gadis itu kesulitan.
“Hoammhh… *Rizwan menguap*,
jadi kau membangunkan aku sepagi ini hanya untuk mendengarkanmu menjahati seorang gadis? Woahh Zain Abdullah, gadis itu benar-benar sudah membuatmu tergila-gila, kau yang biasanya bangun di atas jam 9 pagi sekarang bangun sebelum ayam berkokok, kurasa kau akhirnya jatuh cinta pada seorang gadis juga” seloroh Rizwan.

“Apa?! Aku jatuh cinta padanya?! Hanya orang sinting yang mengira aku jatuh cinta pada gadis itu, aku justru sangat-sangat membencinya,”

“Ck, apapun itu kau jahat sekali Zain Abdullah, kau benar-benar tidak punya hati” Rizwan menggeleng takjub atas kejahatan sahabatnya yang sudah setingkat mafia itu.
“Haha… dia pantas mendapatkannya, sejak awal dia sudah mencari masalah denganku” jawab Zain
“Tapi Zain, aku tau kau ini orang yang sama sekali tidak punya hati, tapi aku belum pernah melihat kau sejahat ini bahkan kepada pembantu saja kau tidak pernah sejahat ini?” Rizwan mulai menggali.
“Kau tau, aku membenci gadis itu karena namanya Aliya”
“Haha… kenapa? Kau pasti iri karena kau tidak diberi nama secantik itu kan?” Rizwan menanggapinya dengan candaan, namun sebaliknya, wajah Zain berubah serius.
“Aku benci semua orang yang bernama Aliya, dan gadis itu sudah mengingatkan aku kepada seseorang, seseorang dengan nama yang sama dan juga sama-sama menyebalkan. Seseorang yang menghancurkan keluargaku, dan membuatku terpisah dari Ayahku, seseorang yang paling aku benci seumur hidupku”

To Be Continue

Gimana Guys? Eke udah pantes bersaing sama Om Udin (sutradara Beintehaa) kan??

Ehehe, Sorry ya Guys kalo masih jelek, maklum pertama kali bikin fan fict ala sungai gangga, maafken lah kalau gaya dan tastenya masih sungai Han punya 😂. Next part adalah part klimaks, jadi mohon tinggalkan jejak alias komen biar eke bisa tau sejauh mana antusiasme kalian, saran dan kritik yang membangun sangat gue tunggu, boleh juga request pemain, misalnya mau masukin artis mana atau diri sendiri juga boleh deh dipertimbangken tapi sesuai isi ceritanya, yang komen eke do’ain dapat suami seganteng Harshad Arora daahh 😆😆.

Biar makin antusias nunggu kelanjutannya, eke kasih bocoran part 2 dikit ya?

Teaser BI 2 Part 2

– Aliya memutuskan berhenti menjadi tour guide Zain, setelah sebuah pertengkaran hebat di suatu malam.
– Sementara Aliya butuh uang yang banyak untuk biaya operasi Ayahnya.
– Zain mendapatkan informasi bahwa Ayahnya telah ditemukan sedang berada di sebuah rumah sakit.
– Zain dan Aliya sama-sama terkejut ketika bertemu di rumah sakit dan mengetahui bahwa orang yang Zain cari selama ini adalah Usman Abdullah, orang yang disebut-sebut Aliya selama ini sebagai Ayahnya.
– Tuan Usman sekarat, sebelum meninggal Tuan Usman mengajukan sebuah permintaan terakhir kepada Zain dan Aliya, sebuah permintaan yang sama sekali tidak mereka inginkan tapi harus mereka lakukan.

Permintaan Apakah itu??

Ditunggu ya guys… pokoknya part 2 dijamin seruu, luchuuu, dan mengharu biru… jangan lupa komen ya temanss… komen dimana aja boleh, di FB, IG, Twitter, diatas tulang, prasasti atau pelepah kurma juga silahken, asal nyampe ke ekenya ya guys. Jadi kagak ada alasan dah buat jadi sider, nih Fan Fict responnya bagus loh di forum Korea, kalo Indian Lovers gak respon, eke beralih ke Fan Fict korea lagi nih!! *ehehe ngancem*. Okok?!! Allah Hafeez…

Advertisements

23 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 1)

  1. KEREN say. good luck.
    drama.y seola2 kita berada dalam situasinya. sejahat/selicik2nya zain pasti memiliki perasaan peduli yang luar biasa. abang memang bikin gemez. kalau begini cara.y moveOn nya bagaimana? ahaha
    masih penasaran apakah sang penulis akan membawa dirinya dalam fan fic ini. dan dia sebagai apa? wkwkwk
    #harshikacrazyfans
    sungkeman ma kpla genks star kite.

  2. Mba nisya…aje gile…cerita nya kereeennn…and kece bambang…di tunggu ya cerita selanjutnya..salut dah buat mba nisya…wah..coba diangkat jadi novel mba..pasti meledak…

  3. kalau mengajukan pertanyaan boleh?? 😊

    kenapa memilih indonesia??
    jadi mengingatkan dengan cdltm.. hehehe..

    btw.. tulisannya bagus 👍👌

    sekali lagi saya berasa masuk dalam set yang dalam cerita ☺

    • Kenapa milih Indonesia? Karena kalo milih Thailand bahasanya belibet Chiiinn. Ahaha, biar aman aja, lebih tau seluk beluknya say, klo luar negeri eke msti googling mnimal tempat2 wisata n kbiasaan masyarakatany. Ribet euyy

  4. Dgn antusias sy mmbcanya dgn pnuh seksama hngga brulang2 kali, sy jd snyum2 sndri. Bgus bngt mbk,rasanya kyk nnton serial india rasa drakor ehehe Dirimu sngt brbkat jd pnulis, sukses dtnggu part slnjutnya 🙂

  5. Keren banget mba nisa ceritanya aqu jadi ngga sabar nunggu next ceritanya . . .smoga part 2 nya secepatnya di share . . .sekses buat blognya mba 😊😊👍👍

  6. good job mbk..
    sya doin mbk aj deh,mga dpt suami segnteng akang harshad arora :-)..
    d tunggu kelnjutannya mbk..
    klu bsa on air..
    hehehe

  7. Daebaakk….puas bnget bacanya.. ditunggu part 2 nya ye…. fighting! Tetap smngat nulisnya ya mb nis.. i’m supprorting u.. whenever..😚👏👏😉😉

  8. MasyaAllah keren mba,duh gemes jg sma si abang ih jhatnyaaaaa ntar tau rasa klo udh cintrong sma si mba tuh 😁.mba mf ig ku kan bru aktf lgi,boleh tau nma ig mba ap?d ig blm bnyk tmn2 harshika soalnya,mau d follow.syukriya😊

  9. Keren abizzzz dah pokoknya..
    q bacanya aja smbil ngebayangin tmpt n ilustrasinya..
    berasa nntn serialnya..
    d tnggu y kelnjutannya..
    oya mksh jg doanya,,mdh2an d kbulkan.. Aamiinn,.

  10. Keren abisss, bagus bangetttt, Zain bangetttt & Aaliya bangetttt, jadi inget Beintehaa, terharu campur aduk, lanjutkan !!!!

  11. Critanya udah keren abiezzZZ, tp lbh keren lagi klo di filmkan beneran, suer deh cz jujur aja aku gak trlalu suka baca yg pnjg2 begini, tp berhubung critanya oke bingit, jdinya scara gak lgsg nyuruh aku bwt nyelesain bacanya, buju buneh, jdi ketagihan neh…ampek lupa blm makan siang saking asiknya baca ne crita, gregetan bgt…jdi tmbh kgn ama Harshika maen brg lage….wkekeke…aminnn

  12. Dr awal aja sikap zein udah jahat bgt… Ksian alliya yg mkin menderita gara2 ulah zein & cerita mbk nisa nie slalu sukses bwt aq baper.. Kali ini hti q rsax sdih,bgai d remet2 pake garem,ngerasain penderitaan alliya😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s