Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 2)


image
Cover Created By. Zaya_hanna a.k.a Uyul

Judul : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts : ♡ Harshad Arora as Zain Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya Zain Abdullah
♡ Karan Tucker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as Herself
♡ All Beintehaa Casts
Located : India (Mumbai, Bhopal)
Indonesia (Jakarta, Jogjakarta)
Eps Numb : 10 Parts

BI 2 Chapter 2

“Ayah, Aliya pergi dulu ya, Aliya harus bekerja lagi, sekarang Ayah istirahat saja, tapi nanti saat Aliya pulang Ayah harus sudah bangun ya?” Aliya kembali berdialog dengan Ayahnya yang masih dalam kondisi koma. Yaa.. setiap akan pergi meninggalkan Ayahnya, permintaan itulah yang selalu ia ucapkan, ‘Ayah harus sudah bangun saat Aliya pulang nanti’. Meski mengucapkan permintaan yang tak kunjung terkabulkan itu terasa menyesakkan dada dan membuat batinnya perih, tapi Ia percaya itu akan memotivasi Ayahnya untuk segera bangun dari tidur panjangnya.

Sementara meski tidak pernah rela diperlakukan semena-mena, namun lagi-lagi Aliya memilih mengalah terhadap sikap kekanak-kanakan Zain. Aliya memutuskan untuk tidak menyerah kepada lelaki itu, permintaan tidak masuk akal itu rupanya tak sulit untuk Aliya kabulkan, Ia pun memutuskan pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah sakit tempat ayahnya dirawat terlebih dahulu untuk shalat subuh, mandi, berganti pakaian dan yang terpenting adalah memasak sarapan menu pesanan kedua client gilanya.

Beruntung meski bertahun-tahun jauh dari negara asalnya tapi Aliya tidak pernah melupakan makanan khas negaranya, itu karena sang Ayah tidak bisa hidup tanpa masakan India, jadi Aliya cukup ahli apalagi jika hanya memasak roti chanai dan curry.

Sedang sibuk dengan olahan curry nya, tiba-tiba ponsel di dalam kantong celemek Aliya kembali berdering, dan ia sudah bisa menebak siapa yang menelepon pagi-pagi buta begini, beberapa kali deringan Aliya pun merogoh  ponselnya dan setelah melihat nama yang terpampang di layar ponsel dan benar saja, panggilan itu berasal dari Zain.

Setengah hati Aliya mengangkatnya,
“Hei.. kenapa lama sekali?! Kami sudah mau mati kelaparan di sini, kau ingin membunuh kami ya?” Aliya bahkan belum mengucapkan apapun seperti yang seharusnya dilakukan seseorang yang menerima telepon, orang India itu benar-benar tidak tau etika dalam menelepon atau apa?
“Ck!” Aliya memutar bola matanya dongkol, tapi sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan sikap semaunya Zain, jadi dia hanya akan menghadapinya dengan sikap elegan.
“Kalau kau mati sekarang, itu mungkin sudah kehendak Tuhan, bukan karena kelaparan” ucap Aliya ketus.
“Apa?!” Zain melongo sesaat.
“Sudahlah, 15 menit lagi aku akan sampai di hotelmu, jangan telepon aku lagi!” Klik!
Tanpa perduli, Aliya langsung saja memutus panggilan Zain.

“Ck! Ya Tuhan, kenapa Kau ciptakan orang menyebalkan seperti dia?” Gerutu Aliya sesaat. Dan sejenak Aliya terdiam, dalam benaknya terlintas sebuah ide, ide gila yang ia yakini akan membuat Zain tak akan menyepelekannya lagi, ia akan menyesal sudah membuatnya sibuk sepagi ini.

Sesuai janjinya tak lebih dari 15 menit Aliya sudah sampai di depan pintu kamar Hotel Zain dan Rizwan. Setelah Aliya mengetuk pintu, yang membuka pintu adalah Rizwan, itu lebih baik daripada langsung melihat tampang angkuh yang meluapkan hasrat ingin menampar milik Zain Abdullah.
“Ayo masuk,” Kata Rizwan mempersilahkan, Aliya dengan kikuk memasuki kamar hotel kedua pria asing itu.
“Kau hanya sendirian saja? apakah temanmu itu benar-benar sudah tiada hanya karena terlambat sarapan?” Tanya Aliya setelah mendudukkan dirinya di sofa dan meletakkan kotak makan bawaannya di atas meja, matanya jelalatan mencari sosok Zain.
“Dia sedang mandi, jangan begitu, meskipun Zain gila dan menyebalkan, apa yang dia katakan itu tidak berlebihan, Zain mungkin benar-benar akan mati jika terlambat sarapan, asal kau tau saja dia memiliki penyakit magh akut, begitu bangun tidur dia harus makan, tapi dia sudah bangun sejak jam 4 pagi tadi, sudah 1 jam lebih dia terlambat makan,” Terang Rizwan
“Benarkah? Aku pikir orang yang menderita penyakit kejiwaan tidak akan pernah sakit fisik,” celetuk Aliya,
“Rupanya kau benar-benar tertarik padaku ya? Bahkan kau membicarakan aku di belakangku” dari belakang terdengar suara Zain yang muncul tiba–tiba, reflek Aliya menoleh ke arah belakang dan ia terlonjak kaget ketika menemukan penampilan Zain yang bertelanjang dada dan hanya membalut bagian bawah perutnya dengan sehelai handuk putih.
“Aaaaahhh!!” Pekik Aliya histeris seraya mengalihkan pandangannya dari Zain.
“Aisshh Stupid Guy! Apa yang kau lakukan?! Apakah kau tidak punya sopan santun?!” Maki Aliya kesal, sementara Rizwan hanya tertawa kecil, geli melihat tingkah gila sahabatnya juga ekspressi polos nan lucu milik Aliya.
“Kenapa? Kau lupa ini kamarku? dan aku bebas melakukan apapun di dalam kamarku,” balas Zain
“Ya… tapi setidaknya kau harus menghormati tamumu!”
“Ck! Kenapa aku harus hormat kepada tamu yang membicarakan aku di kamarku sendiri?!” Zain menambah rasa frustasi Aliya ketika tiba-tiba ia melemparkan satu-satunya handuk yang ia pakai untuk membalut bagian bawahnya ia lembarkan ke arah Rizwan.

Hap! Rizwan menangkapnya dengan sigap, sementara mata Aliya melotot frustasi membayangkan apa yang akan ia lihat jika ia menolehkan sedikit saja wajahnya ke belakang.

“Riz… aku minta tolong ambilkan pakaian dalamku, juga kaus dan shortku di dalam lemari,” pinta Zain, sambil memberikan sebuah kode rahasia licik kepada Rizwan

Seakan mengerti akan maksud Zain, Rizwan pun membuka lemari dan mulai mencari pakaian yang dimaksudkan Zain.
“Dimana Zain? aku tidak melihat apapun…” Rizwan tampak bingung mencari-cari
“Ahh, masa kau tidak lihat di laci bagian bawah?”
“Tidak ada Zain, apa kau yakin kau menaruhnya di sana?”
“Ya ampun, kau ini bagaimana sih? Apakah harus aku yang ke sana dalam keadaan seperti ini?” Aliya sudah merasa sebentar lagi benar-benar akan gila mendengar itu.
“Tapi aku benar-benar tidak melihatnya Zain”
“Baiklah, kalau begitu mau tidak mau aku yang akan mencari, tubuhku sudah mulai kedinginan” begitu mendengar langkah pelan Zain yang mulai mendekat, Aliya semakin gugup, ia mulai ketakutan setengah mati. Segera ia menundukkan wajahnya rendah-rendah, memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya rapat-rapat.

“Hadduuhh dimana ya?? Aku rasa aku menaruhnya di lemari?” Suara Zain terdengar begitu menakutkan.
“Ahhh… aku ingat! Aku menaruhnya di sofa!!” Jantung Aliya seketika terasa akan melompat dari rongga dadanya, ia rasa dunianya akan segera berakhir disini.
“Aliya Ji, bisakah kau berdiri dari sofa? Sepertinya kau menduduki pakaian dalamku” Aliya tidak bergeming, dia terus mempertahakan posisinya.
“Aliya Ji, tolong berdiri sebentar, Aku sudah kedinginan,” sekali lagi Zain meminta. Aliya menggeleng ketakutan sambil terus menutup matanya dan seketika ia menjerit ketika dirasakannya Zain mendekat menyentuhnya, seraya berdiri dan membuka matanya dan….

Voila!! Sesuatu di luar dugaan dan ketakutan Aliya yang terjadi, tidak ada pemandangan mengerikan seperti yang ia bayangkan. Tampak Zain masih tetap topless namun mengenakan celana pendek, Aliya terdiam sejenak sembari menghembuskan nafas lega.

Namun sesaat kemudian Zain dan Rizwan tertawa terbahak-bahak.

“Ahaha… apa yang kau pikirkan Nona? Apa kau mengharapkan  sesuatu yang lebih dariku? Dasar gadis mesum! ahaha!!” Ejek Zain, dan Rizwan terus tertawa terpingkal-pingkal,

“YOU?!!” Aliya benar-benar kesal dan melempari keduanya dengan bantal sofa dan bantal tidur.

****

Beberapa menit kemudian Rizwan masih belum bisa menghentikan tawanya, sesekali ia masih tertawa geli membayangkan ekspressi ketakutan Aliya tadi, sementara Aliya yang merasa dibodohi habis-habisan, masih diliputi dengan perasaan kesal.

“Hey… mana sarapan kami? Kau tidak ke sini hanya untuk melihat Abs ku kan?” Zain masih saja mengeluarkan ocehan menyebalkannya itu,
“Apa kau bilang?!! Heuhh! Lebih baik makanannya ku berikan pada pengemis atau kucil liar daripada kalian,” Aliya semakin dongkol.
“Csh! Jadi kau sekarang merajuk pada kami? it doesn’t work Aliya ji!Cepat keluarkan makanan pesanan kami, aku lapar!” Dengan kesal Aliya mengeluarkan 3 kotak makan dari paperbag yang ia bawa, satu kotak berisi beberapa buah roti chanai, 2 lainnya berisi curry masing-masing untuk kedua turisnya itu.

Aliya sengaja memberikan kotak curry berwarna biru kepada Rizwan dan kotak curry berwarna merah khusus ia siapkan untuk Zain.

“Emmm… Ini benar-benar enak, rasanya persis seperti masakan Ibuku, apakah Aliya Ji memasaknya sendiri?” Rizwan secara objektif memuji masakan Aliya.
“Tentu saja aku memasaknya sendiri, kau pikir dimana aku akan menemukan penjual curry di jam segini?” Sindir Aliya
“Biasa saja, rasanya hambar, masakan pembantuku lebih enak dari ini. Ini karena kita lapar saja Riz, makanya kita terpaksa memakannya,” sergah Zain, namun dari cara makannya yang lahap, berlawanan sekali dengan apa yang dia ucapkan barusan.

Kali ini Aliya mengabaikan hinaan menyebalkan Zain karena kali ini rencananya berjalan dengan lancar. Sebentar lagi Zain akan tau dengan siapa dia berhadapan.

Beberapa menit kemudian semua kotak makan yang dibawa Aliya kini bersih dari sisa-sisa makanan apapun, sepertinya dua orang India itu sangat puas dengan sajian Aliya. Namun sejurus kemudian situasi menjadi berbeda, Zain tiba-tiba mengeluh perutnya mulas dan terpaksa masuk ke kamar kecil, dan entah apa yang terjadi setelahnya, Zain terus merasakan mulas yang luar biasa dan terpaksa harus bolak-balik kamar mandi.

“Hey… apa yang kau taruh di makananku? Apa kau menaruh racun?” Tanya Zain yang kini tampak pucat pasih dan mulai mulas kembali.
“Aku tidak menaruh apapun selain bumbu Tuan Zain, buktinya Tuan Rizwan baik-baik saja, iya kan Tuan Riz?” Aliya menanggapinya dengan santai.
“Iya Aliya Ji benar Zain, aku sama sekali tidak apa-apa setelah menyantap curry Nona Aliya” sahut Rizwan. Zain kembali merasakan mulas yang luar biasa dan harus terus keluar masuk kamar mandi.
“Kau!! Lihat saja nanti aku akan membalasmu!” Ancam Zain kepada Aliya lalu kembali berlari ke toilet untuk memenuhi panggilan alam yang begitu bertubi-tubi.

“Bahahaha!!” Kini giliran Aliya yang tertawa terpingkal-pingkal, sementara Rizwan tertawa kecil antara geli tapi juga kasihan melihat sahabatnya.
“Aliya Ji, jadi kau benar-benar menaruh sesuatu di makanan Zain?” Tanya Rizwan penasaran.
“Ahaha!! Dia pantas mendapakannya, kau lihat wajah angkuhnya hanya akan lenyap jika diberikan pelajaran berharga itu” sahut Aliya tak mampu menghentikan tawa puasnya setelah balas dendam
“Woahh! Aliya Ji, kau berani sekali. Kau tidak tau siapa Zain, sekarang kau dalam masalah besar!” Rizwan memperingatkan
“Ck! Siapa takut? Kalian juga tidak tau siapa aku.” Aliya mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam tasnya.
“Ini, berikan pada temanmu itu, aku pergi dulu” ucapnya sambil meletakkan botol kecil berisi cairan kemerahan yang ternyata merupakan obat penawar mulas Zain kepada Rizwan, lalu beranjak pergi dengan senyum puas penuh kemenangan.

“Gadis itu… dia benar-benar cari masalah denganku, kau lihat saja apa yang bisa ku lakukan padanya” omel Zain dengan penuh rasa dendam setelah kondisi perutnya membaik usai minum obat mujarab pemberian Aliya.

****
Jln. Maliboro, Jogjakarta. Pkl. 9.10

Di sebuah toko yang menjual pernak-pernik khas Jogja masih sepi dari pembeli terdengar gelak tawa tiga orang gadis, tawa itu adalah tawa milik Aliya dan dua orang sahabatnya, ya… di waktu senggangnya selain di rumah sakit Aliya lebih sering menghabiskan waktunya dengan membantu berjualan di toko milik kedua sahabat terdekatnya itu.

Kedua gadis berjilbab kakak beradik yang kesehariannya menjaga toko milik orang tua mereka itu tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan cerita Aliya tentang kejadian yang barusan dialaminya tadi, tentang aksi beraninya membuat seorang Zain Abdullah kehilangan keangkuhannya.

“Ahaha… kau benar-benar keterlaluan Al, aku tidak bisa membayangkan wajah pucat orang India itu saat harus bolak-balik toilet, ahaha pasti konyol sekali,” ucap gadis berjilbab biru berkacamata yang bernama Dian.
“Bayangkan saja wajah Mr Bean yang sedang panik seperti apa,” celetuk Aliya
“Untung saja Mbak menyediakan obat penawar, kan kasihan juga Mbak kalau seharian dia harus tiduran di toilet, hahaha” seloroh Zydna, adik Dian.
“Yahh… orang angkuh seperti dia pantas mendapatkannya”
“Ngomong-ngomong, jadi penasaran dengan tampang kedua turis India ekskulsif mu itu, maklum aku adalah penggemar Mr Bean, hehe..” sambung Dian.

Di tengah obrolan seru itu, belum sempat Aliya menyahuti ucapan Dian, ponsel Aliya kembali berdering dan perasaannya mendadak tidak enak. Senyum Aliya seketika lenyap ketika melihat lagi-lagi nama Zain yang muncul di layar. Setengah hati ia pun mengangkatnya.

“Ada apa lagi?!” ketus Aliya. Canda tawa Dian dan Zydna mendadak terhenti ketika mengetahui orang yang menelepon kini adalah orang yang barusan mereka bicarakan.
“Hey Kau…Kau dimana? Apa kau sudah lupa, kau dibayar untuk menjadi tour guide 24 jam kami?” Omel Zain dengan keangkuhannya yang terdengar berlipat ganda.
“Tidak mau! Aku mau libur hari ini, potong saja honorku untuk hari ini, sudah ya aku sibuk,” klik! Tanpa perduli lagi Aliya memutuskan panggilan Zain.

“Eehh… sampai dimana tadi obrolan kita?” Tanya Aliya kembali kepada dua sahabatnya.
“Tadi Mbak bilang, orang itu mirip Mr Bean, aku sudah bisa membayangkan turis Mbak itu adalah seorang pria tua yang konyol, ahaha” Zydna mulai berimajinasi.
“Percayalah dia lebih buruk dari itu” kata Aliya tampak begitu meyakinkan.
Excuse me!” Tiba-tiba terdengar suara dari depan, mungkin itu adalah pelanggan.
Excuse me, Madam” panggil orang itu lagi, Aliya sesaat terhenyak suaranya sedikit tak asing, tapi ia abaikan, ia enggan berbalik ke belakang dan melihat seseorang yang datang, biarkan Dian dan Zydna sebagai yang empunya toko saja yang melayani.

Sementara sejenak Dian dan Zydna terpaku melihat pemandangan sosok di hadapan mereka.
“Subhanallah, I…itu siapa Mbak?” Tanya Zydna tanpa mampu mengedipkan matanya.
“Entahlah, sepertinya kita sedang kedatangan bintang Bollywood” Dian tampak begitu terpesona
“Csh! Yan… berhentilah bersikap berlebihan saat melihat pria tampan, kau layani saja pelanggan pertamamu itu” Aliya mengingatkan. Dian, tak ketinggalan Zydna mendekati dua pelanggan mereka itu.
Yes Sir? Need something?” Tanya Dian tak mampu menyembunyika rasa grogi.
“Kami membutuhkan gadis yang ada di dalam itu” Dian dan Zydna bengong, mereka bertukar pandang sesaat.
“Csh! Riz… Rupanya tour guide kita punya banyak pekerjaan sampingan, ternyata dia juga menjaga toko ya?” Mendengar ocehan khas itu Aliya reflek menoleh, dinaungi sinar matahari yang merambat menerobos masuk ke dalam toko, wajah sosok dua pria tinggi itu tak terlihat jelas dari tempat Aliya duduk, tapi gadis itu jelas mampu mengenali mereka.
“Ka… kalian? Sedang apa kalian disini?” Aliya tergagap kaget
“Kami datang ke sini untuk menjemput tour guide kami” sedikit bingung dengan situasi yang terjadi, Dian dan Zydna mendatangi Aliya meminta penjelasan.
“Hei… jadi, mereka itu touris yang kau maksud itu?” Dian mulai mengintrogasi
“Mbak bilang ada yang mirip Mr Bean? Tapi yang kami lihat, tak ada satupun yang mirip Mr. Bean,” tambah Zydna polos
“Mirip Mr. Bean apanya sih Al…? itu mah sama Amir Khan juga kalah ganteng” seperti biasa, Dian selalu berlebihan dalam menilai pria tampan tapi tidak dipungkiri itu memang benar adanya.
“Jangan terlalu berlebihan Yan, mirip artis Bollywood apanya sih?” Aliya berusaha mengelak.
“Woahh.. Kau sepertinya butuh kacamata sepertiku Al,”
“Mbak, kenalin kami sama mereka dong!” kali ini Zydna memelas.
“Iya Al, please kenalin kami sama mereka,” Dian setengah memaksa.
“Tidak! Aku tidak mau!” Aliya menolak keras.

Dan kali ini Dian dan Zydna seakan tak mau tau, mereka menarik dan menyeret Aliya ke hadapan Zain dan Rizwan. Kini Aliya berada tepat di hadapan Zain, pemuda itu menyeringai licik ke arahnya.

“Bagaimana kalian bisa ke sini dan kalian tau dari mana aku disini?” Tanya Aliya.
“Ck! Hey.. this is 21st century girl, dengan ini kami bisa menemukanmu bahkan di lubang semut sekalipun” kata Zain sambil menunjukkan I-Phone serie terbarunya.
“Kami menggunakan jasa Gojek dan menggunakan GPS untuk melacak keberadaanmu”
“Ck! Kalau begitu kenapa masih menggunakan jasa tour guide?” Gerutu Aliya pelan.

Dan merasa tak sabar, Dian menyenggol Aliya untuk mengingatkannya akan tugasnya,
“Ini teman-temanku ingin berkenalan dengan kalian,” ucap Aliya terpaksa.
“Oh Hai!” Dengan ringannya Zain menjabat tangan Dian dan Zydna, menyebut nama mereka satu persatu dan menyapa mereka dengan ramah dan hangat nya membuat kedua gadis itu berada di atas angin dan begitu bersimpati, kesan pertama yang mereka terima sangat jauh dari sosok yang dideskribsikan Aliya, begitu pula dengan Rizwan, ia juga sukses membuat kedua gadis itu tersipu.
“Mau berfoto dengan kami?” Rizwan tiba-tiba menawarkan tawaran menggiurkan kepada dua gadis pribumi itu, mereka seakan tau betul kebiasaan para gadis yang suka berselfie ria.

“Mau.. mau!” Dian dan Zydna mengangguk antusias.
“Aliya Ji, bisakah kau memotret kami?” Pinta Zain sok sopan namun nyatanya itu adalah hinaan.
“Tidak mau!” Ketus Aliya seraya menyedekapkan kedua tangannya di atas perutnya. Namun lagi-lagi Dian membuat Aliya tidak punya pilihan lain dengan langsung memberikan i-phone miliknya kepada Aliya. Aliya pun dengan terpaksa menjadi potografer dadakan.

****
Hari itu Aliya kembali menjalani tugas dan takdirnya menjadi tour guide serba bisa Zain dan Rizwan, Dian dan Zydna tidak bisa ikut serta karena mereka harus menjaga toko meski mereka benar-benar ingin, tapi Zain menjanjikan lain waktu mereka akan kembali dan membeli dagangan mereka serta mengajak mereka jalan-jalan.

Aliya memandu Zain dan Rizwan ke banyak tempat wisata di Jogja, dan sudah pasti memandu Zain tidak akan semudah itu, butuh kesabaran dan kekebalan ekstra, ia benar-benar membuat Aliya tampak seperti jongos dibandingkan tour guide, semaunya ia menyuruh Aliya membawa barang belanjaan mereka sepanjang jalan, tugas Aliya sebagai photografer dadakan tidak sampai di toko Dian dan Zydna saja, tapi sepanjang kunjungan mereka ke tempat-tempat wisata dan keramaian, kesok-ramahan dan tingkah mereka yang seolah aktor bollywood terkenal Zain dan Rizwan membuat ada saja orang yang ingin berfoto bersama mereka dan Aliya lagi-lagi terpaksa harus jadi relawan photografernya.

****
Hari berikutnya Aliya kembali dikejutkan dengan tingkah Zain. Bukannya kapok dibuat m*ncret, Zain malah kembali meneleponnya tepat di jam sebelum ayam berkokok dan ketika Aliya masih tertidur pulas, dan dengan permintaan yang sama, membuatkan sarapan khas India,

“Pagi ini aku ingin dibuatkan nasi briyani” titah Zain kala itu.
“Tidak! Aku tidak akan mau lagi, lebih baik aku menyapu jalanan di pagi hari daripada harus memasak untukmu lagi!” Pekik Aliya tegas.
“kau benar-benar tidak mau? Bagaimana dengan penambahan honor?”.

Dan akhirnya di hari-hari setelahnya Aliya resmi menjadi tour guide yang merangkap jadi koki khusus Zain. Aliya tentu tau maksud jahat Zain melakukan semua itu, tapi setelah negosiasi dan penawaran tarif tiga kali lipat yang menggiurkan akhirnya Aliya setuju untuk menambah pekerjaan barunya itu, semua itu untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi pengobatan Ayahnya. Jadilah setiap pagi di Jam yang sama, Aliya harus bangun lebih awal sebelum subuh karena secara rutin Zain membangunkannya lewat telepon, padahal dia sendiri tidur kembali setelah itu.

Selama beberapa hari Aliya memandu para turisnya itu untuk berkunjung dari satu kantor kelurahan ke kantor kelurahan lain yang ada di kota Jogja. Meski menjadi pemandu mereka, tapi Aliya sama sekali tidak tau apa yang mereka cari, yang jelas mereka pasti sedang mencari data seseorang. Tapi anehnya, Zain maupun Rizwan sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi mereka sama sekali tak meminta bantuan walau hanya untuk sekedar sebagai translator antara mereka dan pihak kelurahan atau membantu mereka membacakan arti data yang mereka cari.

“Aneh sekali, apakah aku sedang memandu dua orang agen rahasia? Agen FBI?” Aliya mulai berimajinasi liar, ketika termenung menunggui Zain dan Rizwan yang tengah masuk ke ruangan data salah satu kantor kelurahan yang mereka datangi.
“Ahh tidak-tidak! Mana mungkin? Wajah Zain terlihat terlalu bodoh untuk menjadi seorang agen rahasia, dia lebih cocok jadi teroris” Aliya meralat pikirannya sendiri.

Dan sialnya, setiap kali usai penelusuran yang sepertinya tak membuahkan hasil membuat Zain semakin labil dan meluapkan kekesalannya dengan semakin meningkatkan level kesemena-menaannya kepada Aliya.

Hingga akhirnya Aliya tak mampu lagi mentolerir tingkah laku Zain.
“Aliya kau harus datang secepatnya ke sini, aku mau kau menemaniku ke suatu tempat,” ucap Zain melaluintelepon, level gaya bicara angkuhnya terdengar sedikit menurun tapi itu tak mengurangi rasa kesal dan terganggu Aliya karena dia memintanya benar-benar di waktu yang tidak tepat, bagaimana tidak? Jika biasanya dia menelepon di jam menjelang fajar, sekarang dia meneleponnya saat tengah malam, di saat Aliya sedang bergelut dengan mimpinya, padahal gara-gara harus membuatkan sarapan untuknya Aliya harus tidur lebih awal agar bisa bangun pagi, dan sekarang Zain menambah penderitaannya dengan harus begadang dan keluar selarut ini?

“Apa kau bilang? Tolong bersikaplah waras sedikit, kau tau ini jam berapa? Apa aku harus mengajarimu cara melihat jam?!” bentak Aliya yang kini sudah kehilangan rasa kantuknya.

“Ayolah Aliya kau harus membatuku, aku hampir mencapai tujuanku datang ke sini, aku akan pulang dan tak akan mengganggumu lagi,” untuk pertama kalinya Zain memohon pada Aliya.
“Belum cukupkah kau membuatku harus bangun pagi? Sekarang kau menyuruhku keluar semalam ini?”
“Besok pagi kau tidak perlu memasak sarapan untuk kami, yang penting malam ini kau harus menemaniku ke sana”
“Kenapa tidak besok saja?! Kenapa kau terus menyiksaku seperti ini Zain Abdullah?!” jerit Aliya
“Ayolah kumohon, setelah ini aku tidak akan menyiksamu lagi” kali ini Zain benar-benar bersungguh-sungguh hingga membuat Aliya akhirnya luluh.

****

Zain benar-benar tidak ingin menundanya lagi, setelah mendapatkan informasi dari teman lama Tuan Usman, ayah Zain yang mengabarkan bahwa dua tahun lalu Tuan Usman pernah menghubunginya lewat telepon roaming dan lewat panggilan itu pihak kepolisian Mumbai akhirnya berhasil melacak lokasinya yang untungnya masih berada di Jogja, Zain pun langsung saja menghubungi Aliya sebagai pemandunya tak perduli akan ketidaktepatan waktunya.

Rizwan tidak bisa ikut karena dia mendadak demam setelah terkena guyuran hujan saat mengunjungi candi Prambanan kemarin. Jadilah Zain pergi hanya berdua dengan Aliya.
“Zain, untuk apa kita kemari?” tanya Aliya seturunnya mereka dari Taxi, perasaannya mulai tidak enak, daerah itu cukup tak asing baginya.
“Untuk menemui seseorang” Jawab Zain singkat lalu menggandeng tangan Aliya yang mulai tampak ragu untuk melangkah.

Dan benar saja hal yang ditakutkan Aliya, Zain mengajaknya mendatangi sebuah kawasan yang benar-benar tak ingin dia datangi, melihat plang nama jalannya saja sudah membuat sekujur tubuh Aliya merinding dan dadanya tiba-tiba sesak.

Semuanya terasa begitu mencekam bagi Aliya ketika mereka memasuki kawasan yang tampak seperti pemukiman remang nan kumuh itu. Aliya berhenti melangkah dan membuat Zain yang masih menggandeng tangannya merasa bingung, wajah Aliya tampak pucat, dia benar-benar ketakutan seperti melihat hantu.
“Ck! Kau kenapa? Takut? Seorang Aliya yang bahkan tidak takut kepada sepuluh orang preman ternyata takut hantu ya?” Ejekan Zain tak digubris Aliya, ia terus bersikukuh tak ingin ikut Zain walaupun Zain sudah menarik tangannya.

Tak lama kemudian, seorang pria muncul, pria berambut gimbal bertubuh kerempeng khas pecandu dengan wajah sangar, tubuhnya bergerak sempoyongan dan mengeluarkan bau menyengat khas alkohol. Aliya reflek berlindung di balik tubuh Zain, memicu insting melindungi Zain.

“Ehh… Neng Aliya… Balik ke sini lagi Neng? Asik dong!” ucap pria itu menyapa Aliya seakan ia sudah lama mengenal gadis itu, Zain tentu tak mengerti ucapan pria itu, tapi ia tau itu bukan sesuatu yang baik.

Sedikit lega, pria pemabuk itu melanjutkan langkah sempoyonganya melewati mereka.

Zain kembali ingin melanjutkan langkahnya, menelusuri gang mengikuti arahan alamat detail yang tertulis di kertas yang ia bawa sejak tadi. Tapi Aliya tetap bersikukuh tidak mau bergerak dari tempatnya.

“Aliya Ji kau kenapa? Sedikit lagi, kita akan menemukan tempatnya, setelah itu kau akan bebas” ucap Zain lembut, tapi itu tak membuat Aliya bergeming, ia menggeleng kuat dengan ekspressi yang masih sama seperti tadi.
“Yasudah kalau begitu, biar aku yang pergi, kau tunggu di sini saja”
Kali ini Aliya setuju, dia lebih baik menetap di tempat sepi ini daripada memasuki area yang benar-benar tak ingin ia datangi lagi.
“Kau tunggulah sebentar, aku akan segera kembali” Zain melepaskan tangan Aliya dan meninggalkannya sendirian dalam keremangan itu.

Tak lama setelah punggung Zain menghilang di balik tikungan gang tiba-tiba muncul tiga orang pria, dari kejauhan Aliya seperti mengenali siluet pria-pria yang berpenampilan serampangan itu. Dan ketiganya semakin mendekat, Aliya semakin mengenali wajah sangar mereka, beberapa saat ia ingin sekali melangkah jauh dan pergi tapi tubuhnya terasa membeku, serasa seluruh jaringan sarafnya terputus karena perasaan trauma yang sangat mendalam. Sejurus kemudian ketiga pria yang asik mengobrol di perjalanan mereka itu melangkah mendekat namun mereka belum menyadari keberadaan Aliya dalam keremangan itu.

Dan akhirnya insting melindungi diri Aliya mengalahkan perasaan traumatiknya, ia berhasil melangkahkan kakinya dan segera bersembunyi di balik sebuah tong di pinggir jalan. Ia meringkuk dan mengerucutkan tubuhnya seakan ingin menghilang dan tak terlihat oleh para pria berperawakan sangar itu.

Sejurus kemudian, ia merasakan berada di dalam dimensi yang berbeda, ia seperti berada dalam sebuah ruangan lembab yang kotor, semuanya serasa gelap dan dingin, aroma cat bercampur karat besi tua tercium kentara di hidungnya, Aliya menutup telinganya rapat-rapat, suara gelak tawa ketiga pria itu terdengar membahana di telinganya, keringat dingin membasahi pelipisnya, ia terus mengerucutkan tubuhnya seakan menghindari tiga orang pria yang mencoba untuk menjamahnya, lalu tiba-tiba Aliya mendengar dentuman pecahan kaca, kini pemandangan lain yang terlihat, Aliya melihat ayahnya kini ada dalam pangkuannya, darah segar mengalir deras dari kepala bagian belakangnya, sesaat pandangan sang Ayah menatapnya sayu, ia memegang pipi putri tersayangnya yang sudah digenangi oleh air mata, lalu kemudian tangannya meluncur ke lantai kemudian pandangannya meredup sebelum kemudian akhirnya terpejam. Aliya berusaha berteriak memanggil Ayah tapi seakan suaranya tertahan di kerongkongannya.

Sementara itu, Zain masih menelusuri gang itu untuk menemukan alamat yang ia cari, namun semakin ke dalam ia memasuki komplek, semakin ia menemukan hal-hal yang janggal, banyak warung yang menyediakan minuman keras dan sepanjang jalan terdapat penjudi dan yang paling menonjol adalah hampir di setiap rumah tampak wanita sedang duduk manis dan berpakaian terbuka, seakan mrnggoda setiap pria yang lewat, apakah mungkin ini tempat… Ahh! Zain tidak yakin, namun kemudian di perjalanannya seorang wanita mendatanginya dan mulai merayunya, wanita paruh baya yang lebih pantas menjadi bibinya itu kemudian menggodanya dan membujuknya untuk masuk ke dalam rumah.

Dan saat itulah Zain menyadari dan meyakini sesuatu, komplek ini bukan komplek biasa, ini adalah komplek lokalisasi prostitusi. Dan seketika itu Zain menyadari sesuatu. Ia baru saja meninggalkan seorang gadis di tempat seperti ini, entah apa yang terjadi padanya sekarang.

To Be Continued

Fiyuuuh *elap keringet*, Maaf ya guys part 2 agak melenceng dari teaser. Abis mau dilanjutin kepanjangan entar eneg lagi, ehehe… Tenaaangg yang lucu-lucu, yang romantis, yang tragis ampe yang sedih-sedih bakal eke lanjutin di part 3 dan part-part setelahnya, Part 3 SOON. Jadi stay tune terus ya guys. Komennya ditunggu bingits lho! seperti biasa komen dimana azza boleehh, mau di blog, FB, IG, twitter ataupun surat kaleng silahken, asal nyampe lah ke eike. Klo gak komen eke ngambek nih, gak dilanjutin nih:). See you, Allah Hafeez. :*

Advertisements

10 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s