Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 4)


image
Cover Created by Zaya_Hanna a.k.a Uyul

Judul : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts :
♡ Harshad Arora as Zain 
     Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya
     Zain Abdullah
♡ Karan Tucker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as
      Herself
♡ All Beintehaa Casts

Located :
       India (Mumbai, Bhopal)
       Indonesia (Jakarta &
       Jogjakarta)

Eps Numb : 10 Chapters

Di part sebelumnya banyak yang protes katanya dikit, part ini spesial eke bikin yang panjangan. Siapin kambing guling sebagai cemilan yoo. Happy reading!!

BI 2 Chapter 4

“Berjanjilah kau akan menikahinya dan terus ada di sisinya….” Zain dan Aliya membeku sesaat, tubuh mereka seperti tersengat listrik ribuan volt, yaa… Usman Abdullah, orang yang paling mereka hormati dan sayangi baru saja mengajukan sebuah wasiat yang sangat berat untuk dikabulkan sebagai permintaan terakhir yang harus mereka penuhi.

Zain dan Aliya saling bertemu pandang sesaat, semakin lama mereka memandang satu sama lain, rasanya semakin berat untuk mengabulkan permintaan itu.

“Ya Allah apa yang terjadi? Rencana apa yang sedang Kau siapkan untukku sekarang? Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang sama sekali tak kucintai, bahkan aku cenderung membencinya? Bukankah menikah dengan orang yang tidak punya hati seperti Zain Abdullah akan lebih buruk daripada hidup sendiri? Yah… aku rasa akan lebih baik hidup sebatang kara luntang-lantung di jalanan daripada harus hidup dalam neraka dunia bersama Zain Abdullah” Aliya mengeluh dalam hatinya.

“Ayah… kenapa kau melakukan ini padaku? setelah bertahun-tahun mencarimu, inikah yang kau berikan padaku? bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku menikahi gadis yang sangat aku benci karena telah menghancurkan keluargaku? hidupku juga akan hancur jika menikahi dia” Zain pun berdialog dalam hatinya.

Permintaan tuan Usman benar-benar membuat keduanya merasa bimbang dan serba salah, tapi apa yang bisa mereka lakukan? Bagaimana kalau Ayah Usman benar-benar meninggal sebelum keinginannya terpenuhi?? Dua kepala itu memikirkan hal yang sama, hingga kemudian semuanya terjadi begitu cepat tanpa kendali mereka dan tak memberikan mereka waktu barang sehari  saja untuk mempertimbangkan.

Tak lama setelah sadar dari komanya dan setelah cukup banyak bicara dan mengajukan permintaannya, kondisi Usman kini menurun drastis. Zain dan Aliya seketika panik luar biasa ketika nafas Tuan Usman mulai naik turun, melalui layar monitor di sebelahnya, mereka dapat melihat detak jantung Usman mulai tak beraturan dan sudah semakin melemah.

Zain dan Aliya semakin panik luar biasa, mereka segera memanggil dokter dan suster untuk segera menangani Ayah mereka.

Beberapa saat kemudian Dokter Rian sudah datang dan memeriksa keadaan tuan Usman, mengecek denyut nadi, detak jantung dan pupil matanya.

“Tuan Zain, Nona Aliya, sebaiknya kalian banyak berdo’a dan teruslah di samping Ayah kalian, saya rasa waktunya tidak akan lama lagi, tidak ada langkah pengobatan apapun yang bisa kami lakukan sekarang” dokter Rian terdengar pasrah, hal itu semakin memupuskan harapan Zain dan Aliya.

Aliya hanya bisa meneteskan air mata meratapi kenyataan bahwa sebentar lagi ia benar-benar akan kehilangan ayahnya.

“Saya permisi dulu, jika terjadi sesuatu, kalian bisa memanggilku” Ucap Dokter Rian seraya menepuk bahu Zain, sebagai isyarat untuk memintanya tetap tabah dan bertawakkal.
“Tunggu dokter!” Ucap Zain tiba-tiba sebelum dokter Rian benar-benar pergi, dokter Rian pun langsung menghentikan langkahnya untuk mendengarkan perkataan Zain selanjutnya.
“Bisakah aku minta tolong padamu, Dok?”
“Ya, minta tolong apa Tuan Zain?”
“Bisakah kau memanggilkan kami penghulu dan bisakah dokter jadi salah satu saksi kami?” Dokter Rian sesaat tertegun, penghulu? Menikah? Apakah kami yang dimaksud Zain adalah dirinya dan Aliya? ia pikir selama ini Zain dan Aliya adalah kakak beradik, tapi ia berusaha menerka sendiri kenyataan yang terjadi tanpa harus meminta penjelasan, salah satu di antara Zain dan Aliya pasti ada yang bukan anak kandung Tuan Usman.

Tak hanya dokter Rian, tentu saja orang yang paling terkejut tidak lain adalah Aliya sendiri. Bahkan walau sudah berulang kali memikirkan dan mempertimbangkannya, tetap saja ia masih terkejut dengan ucapan tiba-tiba Zain, yang terkesan memutuskan secara sepihak meski sebelumnya ia pun sudah memikirkan hal yang sama, yaitu memenuhi permintaan terakhir Ayah Usman.

****
Kini Aliya menjadi pusat perhatian beberapa orang yang hilir mudik di rumah sakit. Bagaimana tidak? Selain ia tampak sangat cantik dengan polesan make up yang sangat jarang menghiasi wajahnya dan membuat pria manapun yang melihatnya akan terpukau, berada di tengah-tengah dua orang suster yang mengenakan pakaian serba putih dan seorang perias pengantin yang membantu mengiringi jalannya menyusuri lorong rumah sakit yang juga didominasi dengan dinding serba putih polos, penampilan Aliya tampak mencolok dengan gaun pengantin India berwarna merah menyala dengan kerudung berwarna senada yang ia kenakan.

Gaun itu adalah gaun pengantin peninggalan Ibunya, Aliya masih ingat bagaimana waktu kecil ia sering merengek pada Ibunya agar diperbolehkan mengenakan gaun pengantin cantik yang terdesign tak temakan zaman itu. Saat itu ia belum mengerti bahwa gaun itu terlalu kebesaran untuk ia pakai dan itu adalah gaun yang hanya dipakai sekali seumur hidup oleh seorang wanita, ia hanya tau bahwa gaun itu sangat cantik, dia pasti akan sangat cantik jika memakainya karena di photo pernikahannya, sang Ibu juga terlihat sangat cantik dengan gaun itu.

“Jika Aliya sudah besar dan bertemu dengan pangeran Aliya nanti, barulah Aliya boleh mengenakan gaun ini, Aliya pasti akan cantik sekali jika mengenakannya” Ucap alamrhumah Ibunya dikala itu untuk menenangkan dirinya yang merengek sembari meletakkan gaun pengantin itu ke dalam sebuah kotak jati.

Aliya dengan ketiga wanita yang mengiringinya kini sudah sampai di ruang ICU, tepatnya di hadapan Usman, ruang ICU tidak pernah dihuni oleh orang sebanyak itu, karena itu adalah ruang intensif untuk pasien yang perlu dirawat khusus, namun khusus hari ini, untuk menghormati keinginan terakhir tuan Usman, pihak rumah sakit memperbolehkannya.

Buliran air mata Aliya kembali berjatuhan tatkala melihat Ayahnya yang kini terbaring sekarat memperjuangkan nafasnya yang mulai tersengal-sengal.

“Di dunia ini, apa yang membuat Ayah paling bahagia?” Aliya teringat sekilas kenangan ketika ia bermain truth or dare dengan ayahnya.
“Hal yang paling membahagiakan Ayah di dunia ini… adalah melihat putri ayah mengenakan pakaian pengantinnya” Aliya tersipu malu di kala itu, namun suasana kali ini jauh berbeda, kenangan manis itu justru membuat Aliya semakin sesak dan tak kuasa membendung air matanya.

“Ayah… lihatlah, putrimu ini sudah mengenakan pakaian pengantin seperti impianmu” Aliya bergumam dalam hati,

Sementara itu, Zain juga sudah siap dengan pakaian tradisional India yang tak lain adalah pakaian Ayahnya, terpaksa ia memakainya karena ia hanya membawa beberapa lembar kaus dan kemeja, tak ada satupun pakaian tradisional yang harusnya ia pakai layaknya pengantin pria di India pada umumnya.

Sejak tadi ia hanya mematung dengan raut wajah kaku tanpa ekspresi, namun sebenarnya itu adalah ekspresi dari kepedihan yang mengganjal dalam hatinya.

Pak penghulu pun telah datang, seluruh saksi yang dibawa dokter Rian termasuk ia sendiri sudah hadir. Dan tepat di hadapan tuan Usman, dengan membaca teks yang sudah disiapkan penghulu, penyatuan ikatan hubungan suci atas restu sang Kuasa itupun berlangsung dengan penuh keharuan, dan dengan begitu cepatnya status Zain dan Aliya seketika berubah, mereka telah sah menjadi sepasang suami istri secara agama.

****
Ruang ICU itu kembali lengang karena memang tak seharusnya ruangan intensif itu dipenuhi oleh banyak orang, dan kini tinggallah Zain dan Aliya dengan pakaian pengantin yang belum mereka ganti dan dengan status baru mereka sebagai sepasang suami istri, bersama-sama kini mereka menjaga tuan Usman, ya… mereka tidak akan meninggalkan Ayah mereka barang sedetikpun dalam kondisi seperti ini.

Kini mereka duduk saling berseberangan tanpa ingin memandang satu sama lain, Zain terus memegangi tangan Ayahnya seakan tak ingin melepasnya, ia pandangi lekat-lekat wajah sang Ayah sambil terus mengingat masa-masa Indah kanak-kanaknya yang ia lewati bersamanya.

Sementara Aliya terus menyibukkan diri dengan lantunan ayat suci al qur’an khususnya surat yasin untuk meringankan sang Ayah menghadapi sakratul maut yang menyiksanya, ia sudah ikhlas jika memang harus kehilangan sang Ayah, ia hanya tidak ingin ayahnya kesakitan lagi.

“Z…zain…” tanpa terduga tiba-tiba tuan Usman dengan susah payah memanggil nama putranya,
“Ya, Ayah… aku disini” ucap Zain antusias seraya mendekatkan wajahnya ke wajah sang Ayah.
“Aliya…” kini giliran Aliya yang baru saja menyudahi aktifitas membaca yasin nya dipanggil oleh Usman.
“Yaa… Aliya disini. Ayah, sekarang Aliya sudah menjadi pengantin, kau pasti sangat bahagia bukan?” bulir air mata Aliya terus berjatuhan, Usman mengangguk lirih dan tersenyum simpul.
“Terimakasih Nak, sekarang aku sudah bisa tenang” kalimat itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan tuan Usman sebelum ia benar-benar menghadapi sakaratul mautnya, Zain dan Aliya menggenggam kuat-kuat kedua tangan Usman seakan tak ingin melepaskannya, berkali-kali Aliya membisikkan lafaz syahadat di telinga kanan Usman, hingga akhirnya Usman mengucapkan lafaz suci terakhir itu dengan penuh kepayahan sebelum nyawanya sampai ke tenggorokan, dan akhirnya ia benar-benar telah merenggang nyawanya.

Hening, untuk sesaat suasana hening yang tercipta, suara nafas berat yang tersengal itu sudah tak terdengar lagi, monitor penunjuk detak jantung menunjukkan tanda garis lurus yang menandakan jantung tuan Usman sudah berhenti berdetak.

Menghadapi kenyataan itu Aliya pun tak kuasa menahan kepedihannya, ia menangis sejadi-jadinya sambil terus memanggil-manggil Ayahnya, ia merasa segalanya mendung, langit telah runtuh dan menimpanya.
Innalillahi wa Innailaihirojiun” lirih Aliya seraya terisak pilu.

Sementara Zain untuk beberapa saat membeku, untuk sesaat tak ada reaksi nyata yang ia tampakkan, ia hanya merasakan dadanya terasa sangat sakit, tenggorokannya terasa tercekat, seperti sebuah belati telah menghujam tepat di ulu hatinya, ia bahkan tidak mampu bersuara, tidak juga mengeluarkan air matanya untuk meluapkan segalanya, sebenarnya perasaannya jauh lebih sakit dari yang terlihat. Bahkan untuk sesaat Zain telah mati, ia telah mati bersama dengan kenangan Ayahnya.

****

🎵Baarish Song, mengalun🎶
Hari itu langit telihat jauh lebih mendung dari biasanya, bumi Jogja kuyup, langit seakan turut menangis, tetesan air hujan turun berbondong-bondong membasahi bumi seakan turut mengantarkan kepergian Usman ke peraduan terakhirnya.

Hari itu usai shalat Jum’at, pemakaman tempat jazad Tuan Usman akan dikebumikan cukup ramai dengan kehadiran banyak tetangga dan orang-orang Rumah sakit yang cukup mengenal Aliya dan Tuan Usman dengan baik.

Zain tampak tegar meski di dalamnya hancur berkeping-keping. Masih dengan pakaian ijab kabul yang ia kenakan sejak pagi tadi ia mengantarkan sendiri jazad ayahnya ke liang lahat yang kini digenangi oleh air hujan,  proses pemakaman ayahnya yang dipercepat membuat ia tak sempat walau barang hanya mengganti pakaian saja. Perasaan Zain semakin terluka melihat kenyataan jazad sang Ayah akan dibaringkan di tengah genangan air, “Ayah pasti akan sangat kedinginan disini” gumam Zain dalam hati.

Sementara Aliya bersama kedua sahabatnya Zydna dan Dian turut mengantarkan jazad tuan Usman ke pemakaman, sama seperti Zain, dia juga bahkan tak sempat mengganti pakaian pengantinnya sejak tadi pagi, hanya kini tak ada lagi polesan make up yang menempel di wajahnya, luntur akibat air mata yang kerap mengalir menggenangi wajahnya serta guyuran air hujan.

Kini Ia tampak jauh lebih tegar. Ia tak lagi menangis, lebih tepatnya tak lagi meneteskan air matanya, karena nyatanya setiap detik hatinya tak pernah berhenti menangis, setiap saat selalu ada goresan yang melukai hatinya dan tak akan pernah kering dan sembuh. Dian dan Zydna yang tau betul bagaimana perasaan sahabat mereka, hanya bisa menenangkan dengan merengkuhnya serta memberikan sandaran untuk gadis yang biasanya tampak ceria itu.

Liang lahat itu kini telah tertutupi dengan gundukan tanah, tubuh Usman sudah dikebumikan, perlahan derasnya hujan pun mulai mereda, satu persatu orang-orang mulai pergi hingga meninggalkan Zain yang masih berlutut kaku di sisi pusara  sang Ayah, dan Aliya beserta kedua sahabatnya yang tak ingin meninggalkan Aliya sendiri dalam kesedihannya.

“Ayo Al, kita Pulang kau harus istirahat” ajak Dian lembut kepada Aliya yang tampaknya enggan untuk mengangkat kakinya dari sana.
“Iya Mbak kita pulang, Mbak kasihan kedinginan, nanti sakit” Tambah Zydna meyakinkan Aliya.
“Tidak, kalian pulanglah duluan, aku masih ingin bersama Ayahku,” ucap Aliya getir. Dian dan Zydna memahami itu, jika memang Aliya sudah berkata demikian, maka tak ada yang bisa mereka lakukan untuk membujuknya.

Kedua gadis itu pun pergi dan meninggalkan Zain dan Aliya berdua saja. Aliya turut berlutut di sisi kanan pusara Usman tepatnya di hadapan Zain, dengan mengabaikan keberadaan Zain, perlahan air matanya kembali mengalir.

“Ayah… bagaimana ini? Baru beberapa jam saja, aku sudah merindukanmu” ucap Aliya dengan suara parau seraya mengelus nisan kayu Ayahnya.

Seketika Zain menatap Aliya lekat-lekat, ada tatapan penuh luka juga bara api yang meletup-letup disana. Ia kembali teringat ucapan polisi yang datang saat prosesi pengkafanan Usman dan memberikan informasi bahwa pelaku penganiayaan Tuan Usman sudah ditangkap.

“Tuan Usman sudah hampir dua tahun tinggal di komplek prostitusi itu bersama putrinya, dua bulan lalu beberapa pihak di tempat itu mulai merasa terusik dengan prilaku Tuan Usman yang mulai mendakwahi warga di sana hingga beberapa wanita sudah mulai terpengaruh dan memutuskan untuk tidak lagi menjajakkan diri mereka, hal itu membuat germo disana terancam merugi, hingga menyewa preman untuk menawan Putrinya untuk dijadikan wanita panggilan primadona sebagai ganti rugi bisnis mereka, Tuan Usman terus kekeuh tidak memberikan putrinya, hingga terjadilah penganiayaan itu” Kata seorang polisi menjelaskan.

Zain terus menatap Aliya, ia terus teringat bayangan masa kecilnya yang pahit, ketika Ayah dan Ibunya bertengkar hebat, Ayah yang pergi meninggalkan mereka, kematian Ibunya, hingga kenyataan bahwa Usman meninggal karena menolongnya.

Dan semakin Zain memikirkan hal itu, ia semakin dendam, ia semakin menyalahkan Aliya atas segala yang terjadi pada dirinya dan keluarganya, dan kenyataan bahwa ia terpaksa harus menikahinya setelah apa yang gadis itu lakukan padanya, membuat kebenciannya semakin menggunung.

Aliya tidak nyaman dengan tatapan pria yang kini telah berstatus suami sah nya itu, ia tau tatapan itu adalah tatapan kebencian yang nantinya akan menjadi neraka baginya. Aliya pun memutuskan beranjak dari hadapan Zain.

“Aliya Tunggu!” Panggil Zain tiba-tiba dan menghentikan langkah Aliya.

Zain bangkit dari berlututnya, lalu sejurus kemudian dia sudah berada di hadapan Aliya. Tatapan Zain masih sama seperti tadi, dan kali ini Aliya tak bisa menghindari tatapan menakutkan itu lagi
“Kau tau, apa tujuanku kemari, kan?” Zain mulai bicara dengan raut penuh kepedihan,
“Yahh… Selama bertahun-tahun aku mencari Ayahku ke sana kemari seperti orang gila, karena aku benar-benar sangat merindukannya, aku benar-benar ingin bertemu dengannya, selain itu ada banyak yang ingin kutanyakan padanya, ada banyak sekali. Tapi hal yang paling ingin aku tanyakan adalah, kenapa dia meninggalkanku? Kenapa dia lebih memilihmu daripada aku?! Kenapa dia meninggalkan semuanya hanya demi dirimu?!” Zain meninggikan suaranya yang sempat tertahan
“yahh… aku benar-benar ingin tau jawabannya. Tapi hingga saat aku bertemu dengannya setelah sekian lama, setelah aku menemukannya bahkan setelah dia pergi untuk selamanya, aku masih saja tak mendapatkan jawabannya, dia malah pergi dengan meninggalkan bahkan berkali lipat pertanyaan dalam benakku. Kenapa? Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa dia malah membuatku harus menikahi orang yang sudah menghancurkan hidupku? Kau pikir kenapa dia sekejam itu Aliya Ghulam Heider?” Aliya tak menjawab cecaran Zain itu karena dia sama sekali tak punya jawabannya, ia juga sama terlukanya, ia juga sama enggannya, apa yang Zain Abdullah pikirkan? Apa dia pikir menikah dengannya adalah impian setiap gadis? Tidak! Aliya tau betul itu akan menjadi penderitaan seumur hidupnya, seandainya ia bisa memilih, ia lebih baik mati daripada harus menjadi istri Zain Abdullah, tapi ia bahkan tidak punya pilihan lain, ia setuju menikah dengannya hanya karena itu adalah permintaan terakhir sang Ayah yang paling ia cintai. Maka  sama seperti Zain, Aliya pun ingin menanyakan hal yang sama kepada Usman, kenapa Ayah tega melakukannya?

Aliya tak ingin menjawab apapun, batinnya masih terlalu disesaki dengan kedukaan yang mendalam, ia tidak punya energi untuk bertengkar dengan Zain, ia memutuskan beranjak pergi, tapi Zain menghentikannya dengan menarik lengannya.

“Mungkin sekarang aku sudah menemukan jawabannya…., kenapa Ayah menginginkan aku menikahimu? karena dia ingin memberiku kesempatan, kesempatan untuk membalas dendam, membalas segala yang kau lakukan pada kami! So… welcome to my life Aliya Ghulam Heider, welcome to the hell” ucapan itu bukan sekedar ancaman, Aliya tau betul melalui tatapan penuh amarah itu, Zain sedang tidak main-main dengan ucapannya, itu adalah ucapan jujur yang sudah lama ingin ia ungkapkan dan mungkin inilah saatnya.
Aliya tetap diam meski ucapan Zain itu sedikit banyak menyentaknya, ia mencampakkan tangan Zain yang menggenggam lengannya lalu melangkah pergi, ia tampak tak perduli namun sebenarnya ia sedang menguatkan hatinya, ia sedang  mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam biduk rumah tangganya bersama Zain kelak, karena mulai hari ini adalah babak baru dari kehidupannya, kisahnya bersama Zain Abdullah baru saja dimulai.

*****
Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji, Mumbai, India.
Pkl. 10.30

“Ibu, kenapa kita harus repot-repot menjemput anak itu?! Bukankah dia sudah biasa datang dan pergi kemana-mana sesuka hati?” Protes Shazia, untuk kesekian kalinya, dia benar-benar merasa ada yang aneh dengan prilaku Ibu mertuanya itu. Mereka kini tengah berdiri di antara jajaran penjemput tamu yang diumumkan sudah tiba 3 menit lalu.
“Sudah diam saja, sebentar lagi tamu kita akan segera datang!” Zarina tampak sumringah menanti seseorang, ia bahkan menyiapkan kalung bunga untuk tamu teristimewanya itu.
“hmmhh… aku mulai mencium gelagat mencurigakan di sini, Ibu.. cepat beritahu aku, apa yang sebenarnya Ibu rencanakan? Ini pertama kalinya aku melihat Ibu perduli dengan keponakan Ibu itu, biasanya Ibu hanya perduli dengan uangnya saja” Shaziya terus menyerocos membuat Zarina mulai kesal.
“Shaziya tutup mulutmu! Aku tidak minta kau bungkam untuk selamanya, tapi bisakah kau bungkam barang sebentar saja?!” Bentakan Zarina membuat Shaziya terdiam sesaat.
“Ya Tuhan! Kenapa Kau memberikan aku menantu yang cerewet, bodoh dan hanya tau menghabiskan uang seperti ini?!” Zarina menepuk dahinya frustasi, dan kali ini Shaziya hanya bisa merengut tersinggung dengan perkataan Zarina, ia  tak bisa membantah Ibu mertuanya yang terkadang sangat menakutkan itu, meski dia ingin sekali membantahnya.

“Ahh itu dia!” Seru Zarina,
Beberapa saat kemudian.
“Zain? Dimana Zain?!” Shaziya celingak-celinguk mencari sosok kakak Ipar yang secara usia lebih pantas menjadi adik iparnya itu.

Namun yang muncul adalah sesosok gadis cantik, dari tampilannya ia tampak lebih seperti seorang selebritis. Yah.. lama menetap dan menempuh pendidikan fashion di kota mode seperti Paris membuat penampilannya jauh dari kesan tradisionalis khas wanita India pada umumnya, gayanya tampak sangat modis ala wanita modern masa kini, dengan kaca mata hitam dan high heels 15 cm yang ia kenakan ia melangkah pasti dengan begitu percaya diri bak seorang model berjalan di atas panggung catwalk meski sambil mendorong trolly koper bawaannya.

Dari kejauhan gadis itu sudah tersenyum ke arah Zarina seraya terus berjalan mendekat, lalu berhenti  di hadapan wanita paruh baya itu, gadis itu membuka kaca mata hitamnya dan menyangkutkannya di atas kepalanya lalu tersenyum ke arah Zarina. Shaziya jadi bingung sendiri mengetahui bahwa tamu yang dimaksud Zarina bukanlah Zain yang setaunya juga akan datang hari ini.

“Selamat datang kembali di Mumbai, Tridha sayang” Sambut Zarina, seraya mengalungkan rangkaian bunga yang telah ia siapkan lalu memeluk akrab gadis yang merupakan anak dari sahabatnya sekaligus sahabat dan rekan bisnis kakaknya, Almarhumah Surayya.
“Terima kasih Bibi, aku senang sekali ada yang menjemputku, padahal aku sedih sekali ketika Ayah dan Ibu bilang mereka tidak bisa menjemput karena mereka sedang berada di Thailand”
“Yaa… tentu saja, aku sudah lama menantikan kedatanganmu. Ngomong-ngomong selamat atas kelulusanmu, kau pasti akan menjadi designer yang sukses nantinya”
“Terima kasih atas do’anya Bibi” ucap Tridha.
“kau tau, Bibi punya kejutan untukmu! ini akan menjadi hadiah yang Indah atas kelulusanmu”
“Apa itu Bi? Aku bahkan sengaja pulang lebih awal karena Bibi sudah menjanjikan akan memberikan kejutan” Tridha tampak antusias, Ia sudah tak sabar mendengar kabar baik itu.
“Tunggulah beberapa menit lagi” ucap Zarina.

Beberapa saat menunggu, akhirnya kejutan yang dijanjikan Zarina itupun terpenuhi.
“Oh, Itu Zain!” Seru Shaziya heboh ketika melihat Zain bersama Rizwan muncul dari kejauhan.
“Kakak Zain!” Tridha pun menyeru pelan meski dia sebenarnya benar-benar bahagia.
“Itu dia kejutannya” bisik Zarina, dan benar saja kejutan Zarina benar-benar mengejutkan dan menggembirakan bagi Tridha.

Yaa… ia sudah lama menantikan saat-saat itu, sudah lama ia tidak bertemu dengan Zain Abdullah, sosok pemuda yang membuatnya tak pernah berpaling dengan pria manapun, lebih tepatnya pria yang mendekatinya selama ini hanya dijadikannya selingan sebagai pelampiasan atas ketidak-pedulian padanya Zain selama ini.

Mereka bahkan sudah dijodohkan sejak lama oleh Nyonya Surayya sendiri sebelum ia meninggal 5 tahun yang lalu, tapi Zain menolak dengan alasan ia belum siap menikah dan ingin melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Dan Zain benar-benar melakukannya, setelah Ibunya meninggal dia pergi ke New York untuk waktu yang tidak sebentar, Tridha yang sakit hati dengan perbuatan Zain yang menolak perjodohan dengannya dan prilaku Zain yang kerap bergonta-ganti pacar secara terang-terangan di depan matanya, membuat Tridha memutuskan untuk pergi ke Paris dan melanjutkan pendidikan Fashion di sana, Alhasil mereka pun lama tak bertemu. Dan lama tak  bertemu rupanya tak merubah perasaan Tridha terhadap Zain, dia masih tetap mencintainya dan mengharapkannya.

“Bagaimana? Kau senang kan?” Bisik Zarina lagi, Tridha mengangguk senang sambil terus menatap sosok Zain yang mulai mendekat. Buru-buru ia mencopot kalung Bunga di lehernya dan merapikan penampilannya yang sama sekali tak berantakan, Tridha memang selalu ingin tampil sempurna di mata Zain. Dan sejurus kemudian Zain pun telah ada di hadapan mereka.

“Selamat datang kembali Nak, Bibi sangat merindukanmu” Sambut Zarina lalu memeluk Zain, Zain hanya menanggapinya dingin. Ia mengabaikan kenyataan bahwa Zarina yang selama ini tak pernag memperdulikannya sedang ada maksud lain dengan tumben nya menjemputnya di bandara.

“Zain, coba lihat Bibi bersama siapa!” Zarina antusias sendiri. Niat Zarina untuk memberikan kejutan pada Tridha memang berhasil, tapi tidak dengan Zain, ekspresi Zain melihat Tridha sama sekali dingin dan tak menunjukkan keterkejutan apalagi kesenangan.
“Hai Tridha, apa kabar?” Sapanya datar, namun itu malah menjadi sesuatu bagi Tridha,
“Kak Zain!” Seru Tridha langsung mengalungkan rangkaian Bunga di leher Zain dengan malu-malu lalu berhambur memeluk Zain.

Tak butuh waktu lama untuk gadis itu untuk memeluk sosok yang dirindukannya, karena dengan dinginnya Zain melepaskan dekapan gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tridha sempat kecewa, namun dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri Bahwa Zain sedang lelah atau sedang Jetleg dan tidak mau diganggu.

Subhanallah, luar biasa Tuhan mengatur semua ini! kalian datang di saat yang bersamaan dan secara kebetulan dipertemukan! Bukankah ini takdir?!” Zarina berusaha memecahkan suasana, ia berlagak seolah pertemuan Zain dan Tridha adalah kebetulan padahal dialah yang sengaja menyuruh dan mengatur jadwal kedatangan Tridha agar bisa bersamaan dengan kedatangan Zain.

Tridha tampak tersipu malu sedangkan Zain tetap dingin dan kaku.
“Zain… ngomong-ngomong dimana gadis itu?” Rizwan clingak-clinguk mencari keberadaan orang yang dia maksud.
“Biarkan saja, dia tidak akan tersesat dia sudah biasa hidup liar” kali ini Zain mengucapkan kalimat panjang hanya karena membicarakan orang yang Rizwan cari.
“Nah, itu dia!” Seru Rizwan seraya menunjuk seorang gadis.

Ya… kini Aliya sedang susah payah mendorong trolly yang berisi dua koper miliknya dan milik Zain yang cukup berat, seperti biasa Zain kembali berbuat semena-mena padanya.

Di tengah perjalanan, salah satu koper besar yang berada di bagian atas trolly terjatuh, koper itu terhempas ke lantai dan terbuka hingga mengeluarkan beberapa isinya, dan itu adalah koper milik Zain.

“Heuhh! Biarkan saja, peduli apa? yang penting bukan milikku!” Aliya bermonolog seakan tak lagi peduli, ia terus mendorong Trollynya dan meninggalkan koper yang tergeletak itu.
“Hei kau!” Mau tidak mau Zain yang melihat kelancangan Aliya itu segera berlari mengambil kopernya.

Setelah memunguti beberapa pakaiannya yang tercecer, menaruhnya di dalam koper ia pun berjalan dengan menjinjing kopernya yang lumayan berat.

“Hey Aliya Ghulam Heider! Apa maksudmu melakukan semua ini? Beraninya kau menjatuhkan koperku dan meninggalkannya!” Maki Zain pada Aliya yang kini menghentikan langkahnya sesaat setelah Zain menghalau jalannya.

“Csh! Ternyata kau bisa sendiri kan membawa barangmu sendiri?! jika bisa sendiri, kenapa menyuruh orang lain?! Kau bahkan sekarang tak membayarku untuk melakukan ini!” Sengit Aliya lalu kembali melanjutkan langkahnya mendekati posisi Rizwan.

“Si.. siapa gadis itu?!” Tanya Zarina bingung, perasaannya mulai tidak enak.
“Dia… Gadis itu.. adalah istrinya Zain,” Jawab Rizwan merasa tak enak hati.

Sesaat Zarina, Shaziya dan Tridha tertegun, mereka setengah percaya dengan apa yang mereka dengar.
“Kau… kau jangan bercanda Rizwan, apa ini masuk akal?! bagaimana mungkin Zain menikah begitu saja seperti kucing?” Cerocos Shazya.
“Yaa.. itu memang benar, Zain menikahi gadis itu dua hari yang lalu”
“Apa?!” Semua orang tersentak terutama Zarina, dia tau keponkananya itu memang gila, tapi bukankah Zain sama sekali membenci pernikahan?
“Ibu, jangan-jangan Zain sudah menghamili gadis itu,” ceplos Shazya.
“Tutup mulut Shaziya! Jangan bicara sembarangan!” Bentak Zarina, ia kesal dengan kebiasaan menantunya yang suka ceplas-ceplos itu. Terlebih lagi dia tidak ingin Tridha yang mendengar menjadi salah paham dan rencananya untuk menjodohkan Tridha dan Zain gagal.

Zain dan ‘Istrinya’ kini telah sampai di hadapan mereka, Zain tampak enggan bicara apapun, dia tau pertanyaan tentang identitas Aliya sebentar lagi akan dikumandangkan oleh ketiga wanita itu.
“Zz… Zain! Coba jelaskan! Katakan pada kami! Siapa gadis ini?!” Zarina masih tidak terima.
Assalamualaikum Bibi, ini Aliya istrinya Zain” ucap Aliya spontan dan Zarina hampir pingsan. Sementara Zain ikut terkejut, Aliya benar-benar lancang dan begitu percaya dirinya memperkenalkan dirinya sebagai istri seorang Zain Abdullah.
“Istri? Kau.. kau yakin?!” Giliran Shaziya yang menanyakan pertanyaan konyol.
Assalamualaikum Kak,” sapa Aliya, meski belum kenal, ia pastinya sudah bisa menebak bahwa Zarina dan Shazya pastilah bagian dari keluarga Zain.
“Daann.. kau? Kau.. Adiknya Zain ya? Perkenalkan, aku kakak iparmu” Sapa Aliya kepada Tridha dengan ramahnya, Aliya juga berfikir bahwa Tridha pasti adalah salah satu dari bagian keluarga Zain.

Namun reaksi tak terduga datang dari Tridha, dia benar-benar patah hati dan hancur menerima kenyataan bahwa gadis yang menurutnya tidak lebih cantik dari dirinya itu sudah menjadi istri Zain, terlebih lagi Aliya malah menyapanya dan menyebut dirinya adik Zain seakan mengejeknya dan menaburkan garam di luka hatinya.

“Aku pergi sekarang” ucap Tridha, lalu tiba-tiba beranjak pergi tanpa ingin mendengar apapun lagi.
“Tridha! Tridha sayang, dengarkan Bibi dulu!” Zarina berusaha memperbaiki keadaan dengan memanggil Tridha.
“Tridha!!” Panggilnya lagi, namun gadis itu buru-buru pergi dengan Taxy.
“Kalian… keterlaluan!” Sesal Zarina kepada Zain dan Aliya namun tak seorangpun yang peduli dengan kepergian Tridha selain Zarina sendiri.

****
Barkath Villa

Aliya tertegun memandangi seisi rumah besar yang baru ia masuki, ini pertama kalinya ia memasuki rumah sebesar itu, segala yang ada di depan matanya tampak berkilau seperti berlian, rumah berlantai dua itu benar-benar tampak seperti  istana yang sering ia lihat di film-film India, namun ia berusaha bersikap biasa saja, ia tidak boleh tampak kampungan.

Kedatangan Aliya dan Zain disambut hangat oleh seluruh penghuni Barkath Villa, mulai dari Paman Rehman suami Zarina, Bilal puteranya yang tak lain adalah suami Shazya, Saif putra kecil Bilal dan Shaziya yang lucu dan ramah berusia 7 tahun, Chand Bibi pembantu sekaligus pengasuh Zain yang sudah dianggapnya Ibu kandung sendiri, beserta jajaran pembantu lainnya, seperti supir, tukang bersih-bersih tukang kebun dan pengasuh Saif, mereka semua menyambut Aliya dengan baik.

Awalnya mereka cukup terkejut dengan kehadiran Aliya dan kenyataan bahwa Zain sudah menikahinya secepat itu, namun dengan sikap ramah dan santun Aliya dan kepandaiannya dalam membawa diri, semua orang langsung bersimpati padanya, kecuali Zarina yang masih tidak terima dengan kehadiran Aliya yang sudah menghancurkan rencananya dan Shazya yang merasa posisinya sebagai calon nyonya rumah ini terancam oleh kehadiran Aliya sebagai istri Zain.

Zain sebenarnya sangat jarang pulang ke Barkath Villa, terlebih setelah ibunya meninggal 5 tahun lalu, ia lebih senang menghabiskan waktu di apartemen pribadinya dan membiarkan rumah peninggalan orang tuanya itu dihuni oleh Bibinya Zarina beserta suami, anak, menantu bahkan cucunya dan menikmati fasilitas di sana. Namun karena kehadiran Aliya sebagai istrinya dan karena tradisi di keluarga India yang mewajibkan menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertuanya, maka Zain pun terpaksa harus tinggal di sana bersama Aliya.

Malam harinya, Zain dan Aliya sudah menempati kamar mereka, kamar Zain yang berukuran cukup besar yang dulunya hanya ditempatinya seorang diri itu kini juga akan ditempati oleh Aliya. Zain tentu saja tidak rela dan tidak suka melihat kehadiran Aliya di dalam kamarnya, tapi semua orang pasti akan curiga jika keduanya tidur di kamar yang berbeda.

“Csh! Apa-apaan ini?! Berani sekali dia menaruh barang-barangnya di atas ranjangku!” Omel Zain usai mandi ketika melihat pakaian Aliya ada di atas tempat tidurnya, kini giliran Aliya yang mandi.

Zain lalu menyingkirkan pakaian Aliya dan membiarkannya tergeletak di lantai.
“Ck!! Apa dia juga berpikir dia akan tidur di ranjang yang sama denganku?! Heuuh, Tidak! Tidak akan kubiarkan” Zain segera meniduri ranjang King Sizenya dengan posisi diagonal sehingga tidak memberikan space untuk Aliya tiduri. Beberapa saat ia memainkan PSP nya sebelum akhirnya ia tertidur.

Sementara setelah mandi Aliya pun menemukan bajunya yang tercecer di lantai dan ia sudah tau siapa pelakunya. Sambil menggerutu Aliya pun memunguti pakaiannya.

Aliya ingin tidur dan ia lihat Zain sudah menguasai seluruh tempat tidur, dan dia tau Zain pasti sengaja melakukannya. Sesaat Aliya berpikir, dia sebenarnya sangat amat enggan untuk tidur seranjang dengan suaminya itu, bahkan jika bisa ia tidak ingin sekamar bahkan satu atap dengan Zain Abdullah, ia lalu mulai mengambil bantal dan akan tidur di lantai, tapi sebelum itu ia lakukan, ia kembali berfikir, kenapa juga dia harus membuat tubuhnya pegal dan kedinginan dan membuat Zain menang? Tidak! Harga dirinya tak mengizinkannya untuk mengalah, ia akan membuat Zain yang terpaksa harus tidur di lantai, bukan dirinya.

Aliya mengangkat kaki Zain dan memutar tubuhnya agar berada di posisi yang benar, secara horizontal dan memberikan tempat bagi tubuhnya, Zain yang sepertinya kelelahan setelah perjalanan yang melelahkan selama 11 jam tak menyadari akan perbuatan Aliya padanya. Aliya pun tanpa pikir panjang tidur di sebelah Zain dengan menaruh guling di antara mereka sebagai penyekat. Hingga akhirnya Aliya pun terlelap dalam  tidurnya.

Sementara itu….

“Ya… terimakasih banyak Rizwan atas informasinya, sebagai bibinya yang diamanahi menjadi orang tuanya sepeninggal Ibunya, tentu kau tau Bibi berhak untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Zain. Ya.. terima kasih banyak, kau memang teman yang baik, sering-seringlah mampir ke Barkath Villa,” Zarina menutup pembicaraannya dengan Rizwan.
“Jadi gadis itu adalah gadis yang menghancurkan rumah tangga kakakku?” Zarina bermonolog, ia baru saja mengetahui fakta baru setelah mengorek informasi dari Rizwan. Zarina sekarang punya alasan yang kuat untuk menghancurkan gadis itu, tak hanya karena dia ingkn menjodohkan Zain dengan Tridha, tapi karena Aliya lah penyebab dari hancurnya rumah tangga kakaknya, dalam hati dia bertekad, dia pasti akan menyingkirkan gadis itu bagaimanapun caranya.

Setelah berpikir sejenak, Zarina kembali menghubungi Tridha, dia akan menjelaskan fakta yang sebenarnya terjadi….

“Gadis itu bukanlah sainganmu Sayang, Zain tidak pernah dan tidak akan mencintainya, dia menikahinya karena terpaksa” Zarina berusaha meyakinkan Tridha.
“Bagaimana kalau suatu saat nanti Zain jatuh cinta padanya?” Tridha tetap was was.
“Aku mengenal keponakanku itu dengan baik, dia tidak akan jatuh cinta dengan gadis kampungan seperti itu, lagipula menurutmu apakah mungkin seseorang akan jatuh cinta kepada orang yang sudah menghancurkan keluarganya dan menjadi penyebab ayahnya meninggal?” setelah menjelaskan panjang lebar akhirnya Zarina pun berhasil meyakinkan Tridha, dia berjanji akan menyingkirkan Aliya dan membuat Zain menikahi Tridha segera.

****

Pagi harinya,

Selama hampir semalaman hujan turun dengan derasnya bahkan sisa-sisa genangan dan dentingan rintiknya masih terdengar, udaranya yang dingin masih terasa hingga pagi menjelang.

Zain yang masih bergelut dengan tempat tidurnya, merasakan sejuknya udara hujan memang selalu membuat seseorang nyaman untuk tidur. Merasa kedinginan, sambil matanya masih terkatup ia pun menghangatkan tubuhnya dengan secara spontan menarik selimut yang tak jauh dari hadapannya, ia juga bermaksud memeluk guling agar tidurnya terasa lebih nyaman. Tapi Zain seketika terbangun, ia merasa aneh dengan sesuatu yang ada dalam dekapannya. Perlahan ia membuka matanya, tanpa kendalinya perlahan ia tarik selimut yang menutupi seraut wajah yang berjarak hanya 5 jari dengan wajahnya.

Hingga perlahan tampak seraut wajah polos nan pulas disana, 🎵Beintehaa Title Song mengalun🎶 wajah tanpa polesan make up itu tampak bening dinaungi oleh sinar matahari yang menerobos melalui kaca jendela. Sesaat Zain terpana, ia seakan melihat seorang malaikat hadir di hadapannya dan menyapanya.

Sementara di luar sana, Bilal sedang menempelkan telinganya di daun pintu kamar Zain, rupanya dia sedang menguping aktifitas yang terjadi di dalam, kemudian Shazya istrinya muncul dan menegurnya.
“Sayang, apa yang kau lakukan di sana?! Itu tidak sopan, bukankah Ayah menyuruhmu untuk memanggil mereka sarapan?”
“Dari tadi aku mengetuk-ngetuk, tapi tidak ada jawaban, Sayang… apakah mereka sedang melakukan ronde ke dua? Rupanya hujan membuat mereka tidak puas juga, hihihi” Shazya juga ikut terkikik geli membayangkan apa yang pengantin baru itu lakukan sekarang. Bukannya mengetuk pintu, dia juga jadi ikut-ikutan suaminya menguping.

Hingga akhirnya Zarina muncul dan turun tangan.
“Hey.. apa yang kalian lakukan?!” Tegurnya kepada putra dan menantunya.
“I.. itu, Ibu itu… aku sudah mengetuk, tapi mereka tidak menjawab” Bilal cengengesan.

Sementara…

Zain terpaku menatap wajah pulas Aliya untuk beberapa saat, sepersekian detik ia tak mampu berkedip, entah apa yang terjadi dengan organ di dalam dadanya, tapi Zain merasa seakan ribuan kupu-kupu keluar dari dalam sana, perasaan semacam ini tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Hingga semuanya pun buyar ketika terdengar sebuah ketukan yang lebih mirip gedoran dari balik pintunya, Zain terlonjak kaget, lalu reflek mendorong tubuh Aliya jauh-jauh sebelum gadis itu menyadari tubuhnya sempat berada dalam dekapan Zain, dorongan reflek nan kuat dari Zain membuat tubuh aliya tergelinding dari tempat tidur ke lantai.

“Auwww!! Aliya sontak saja terjaga dari tidurnya dan mengadu kesakitan, beruntung tubuhnya masih berbalut selimut hingga tubuhnya tidak terlalu merasa kesakitan berbenturan dengan lantai. Kembali terdengar gedoran pintu, Zain buru-buru bangkit dan membuka pintu.

Begitu Zain membuka pintu, tampak Zarina, Bilal dan Shazya sudah berada di balik pintu.

“hehe, sudah selesai ya Kak?” Tanya Bilal dengan tampang mesumnya,
“Apa?” Zain bingung dengan maksud mesum Bilal.
“Apakah Aliya sudah bangun?” Tanya Zarina mengalihkan.
“Ya… ada apa Bi?” Tanya Aliya yang tiba-tiba muncul dari belakang Zain.
“Aliya, Bibi ingin mengajakmu ke sebuah acara pesta teman Bibi, sekalian memperkenalkanmu dengan seluruh kerabat di sini, apakah kau mau?” Ajak Zarina
“Baiklah Bi, aku akan ikut” Jawab Aliya
“Kalau begitu bagaimana kalau hari ini kita pergi berbelanja untuk membeli gaun pesta?”
“Tentu Bi, aku akan mandi dan bersiap-siap”
“Baiklah, bibi akan menunggumu” melihat perubahan sikap Bibi Zarina kepada Aliya, Zain jadi merasa agak heran mengingat jelas-jelas kemarin dia terlihat sangat tidak menyukai Aliya.
“Sial!! Gadis itu… Apa yang sebenarnya ada pada dirinya hingga membuat semua orang mencintainya bahkan rela mati untuknya?” rutuk Zain dalam hati.

****
Zarina dan Aliya mengunjungi sebuah Department Store di sebuah mall besar di Pusat kota Mumbai, Zarina mempersilahkan Aliya untuk memilih baju mana saja yang dia sukai berapapun harga dan jumlahnya. Aliya memilih dua buah Saree, yang satunya berwarna dasar biru muda namun bercorak pink dan yang satunya lagi berwarna kuning cerah.

Setelah berbelanja, Aliya mohon izin kepada Bibi Zarina untuk ke toilet, sementara Zarina masih sibuk memilah-milah baju.

Sementara itu, segerombolan orang yang sebagian besar terdiri dari para gadis kini berlarian mengitari mall sedang mengejar seseorang, seseorang yang baru saja mereka sadari keberadaannya dan menghebohkan seisi mall, seorang bintang besar yang lagu-lagunya terdengar dimana-mana dan hampir setiap hari wajahnya menghiasi layar TV india, dia adalah seorang penyanyi, aktor sekaligus host ternama, Karan Tucker. Siapa yang tak mengenal nama itu? Seantero India bahkan Internasional pun kini mulai mengenalnya.

Sementara usai memenuhi panggilan alam, Aliya baru saja membuka pintu toilet, ketika seorang Pria muncul tepat di depan pintu, pria itu mengenakan topi serta slayer yang menutupi mulut dan sebagian wajahnya, Aliya kaget luar biasa dan langsung panik, toilet tampak lengang dan hanya dihuni oleh dirinya dan pria itu, yang ada di otaknya kini adalah seorang pria mesum baru saja mengintipnya.

Aliya berteriak cukup keras, namun pria itu segera membekap mulutnya dengan telapak tangannya, menyenderkan tubuh gadis itu di pintu toilet setelah ia menutupnya dan mengapit tubuhnya. Aliya berusaha memberontak, namun apalah daya? tenaga wanita pasti akan selalu kalah dengan tenaga pria.

Aliya jelas tidak mengenal sosok itu, ia bahkan tak melihat wajahnya secara keseluruhan, ia hanya melihat sepasang mata elang dengan sorot tajam menatapnya lekat-lekat dengan posisi wajah yang sangat dekat.

Beberapa saat, terdengar derap kaki dan riuh sekelompok orang berlarian sambil meneriakkan nama seseorang melewati toilet. Pria itu sedikit lega dan merenggangkan bekapannya, dan kesempatan itu tak disia-siakan Aliya begitu saja, dengan sigap dan kanibalisme nya ia menggigit tangan pria itu hingga membuat pria itu sontak melepaskan bekapannya, mengibas-ngibaskan tangannya dan merintih kesakitan.

Aliya kembali akan berteriak namun pria itu segera kembali membekap mulutnya dan sejurus kemudian ia membuka masker yang menutupi wajahnya.
“Tenang, ini aku!” bisiknya, Aliya kembali melepaskan bekapan pria itu, dan kali ini ia berhasil tanpa harus memberontak, merasa sedikit aman Aliya kali ini tak lagi berteriak. Sesaat Aliya menatap wajah pria yang sudah tidak bermasker itu, namun tetap saja ia tak mengenalinya, meskipun pria itu cukup tampan dan tidak tampak seperti pria mesum dan dia berlagak seolah Aliya pasti akan mengenalinya.
“Maaf Nona, aku tidak bermaksud mengintipmu, aku hanya terpaksa ber…” PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu.
“Hey Nona, kenapa kau menamparku? Sudah kukatakan aku tidak bermaksud mengintipmu, aku hanya menghindari kejaran para fans”
“Ck! Berhentilah bersikap seolah kau adalah seorang selebritis hanya demi menutupi kejahatanmu, kau bahkan tidak tampak seperti artis” maki Aliya, sejujurnya ia tidak benar-benar jujur dengan mengatakan wajah pria itu tidak tampak seperti artis karena nyatanya wajah pria itu memang tampan seperti artis bollywood.
“Jadi kau tidak mengenal siapa aku?!” Pria itu memastikan
“Ck! Tentu saja aku mengenalmu, kau adalah pria mesum tukang intip!”
“Apa?!” Pria itu heran, rupanya di negeri ini masih ada saja yang tak mengenalinya.
“Apa gadis ini tidak punya TV di rumahnya,” bati Karan.

Beberapa saat kemudian, handphonenya berdering dari kantung jaketnya membuat pria itu buru-buru pergi, namun sebelum itu dengan lancangnya dia menarik dupatta yang terselempang di bahu Aliya

“Hey!! Apa yang kau lakukan?! Dupattaku!”
“Pinjam sebentar, aku pasti akan mengembalikannya, kita pasti akan bertemu lagi” pria itu mengerlingkan sebelah matanya dan mengerudungi kepalanya dengan dupatta pink milik Aliya, lalu beranjak pergi dari hadapan Aliya.
“Hey kau! Apa yang kau lakukan?! Hey! Tolong ada pencuri!! Aku akan melaporkanmu ke polisi!!” Pekik Aliya ketika pria itu beranjak pergi, namun pria itu berlari cepat sekali, Aliya tak bisa menjangkaunya lagi.

****
Malam harinya,

Aliya baru saja selesai mandi, kali ini ia keluar dengan mengenakan baju mandi berwarna Baby pink selututnya, karena lupa membawa pakaian ke kamar mandi, rambutnya setengah basah tanpa disisir usai bershampoo.

Ia agak terkejut ketika melihat Zain sudah pulang, dengan kemeja kerja yang masih ia kenakan, suaminya itu berbaring sambil bermain game online di atas tempat tidur dengan posisi diagonalnya, seperti semalam.

Sesaat Aliya mendiamkannya, ia membuka lemari dan mengambil baju tidurnya, lalu membuka lemari milik Zain yang tak terkunci dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu, yaa… meskipun tak pernah menyukainya selayaknya suami, Aliya sudah berkomitmen untuk melayani Zain dengan baik selayaknya seorang istri, setidaknya menyiapkan keperluan sehari-harinya.

Ia letakkan pakaian Zain yang masih terlipat rapi di sampingnya.
“Hey Aliya Ghulam Heider, berhentilah bersikap seolah-olah kau itu benar-benar istriku, dan mulai malam ini, jangan coba-coba tidur di ranjangku lagi,” ucap Zain tiba-tiba
“Kenapa? Aku memang istrimu, jadi sudah kewajibanmu berbagi tempat tidur denganku” Aliya berlagak menantang.
Aliya ingin menunjukkan kepada Zain bahwa dia tidak takut akan ancamanya. Ia mengambil bantal dan guling serta selimut dan meletakkannya di salah satu sisi ranjang.
“Ini adalah tempatku, aku akan tidur disini” ucap Aliya penuh kepercayaan diri.

Lalu tiba-tiba Zain bangun dari tidurnya ia dekati Aliya dari belakang ia menciumi wangi strawberry rambut lembab Aliya lalu meraba lembut kedua lengan istrinya itu,
“Jadi sekarang kau mau mencoba menggodaku?” Bisik Zain, bulu roma Aliya merinding ketika merasakan hangat desah nafas Zain menyentuh kulit tengkuknya.
“Si… siapa yang menggodamu?!” Aliya mulai gelagapan, Zain berpindah posisi ke hadapan Aliya membuka kancing kemeja bagian atasnya hingga menampakkan sedikit dadanya,
“Apa-apaan ini? Apa yang kau lakukan?!” Aliya mulai panik, Zain menjawabnya dengan hanya menyeringai jahat, tiba-tiba merengkuh tubuh aliya dan mereka sama-sama jatuh di tempat tidur.

Kini Zain menindih tubuh Aliya, ia terus menatap Aliya seperti binatang buas yang menatap mangsanya dan siap melahapnya hidup-hidup.
“Zain, apa yang kau lakukan? Lepaskan!” Pekik Aliya
“Kau ini istriku bukan? kalau begitu sekarang buktikan kalau kau memang benar-benar istriku” ucap Zain sambil membelai lembut wajah Aliya.
“Lepaskan Zain, kalau tidak aku akan teriak!!” Aliya ketakutan
“Berteriaklah, siapa yang akan peduli padamu jika kau bilang kau sedang dilecehkan oleh suamimu sendiri? Kau ini seorang muslim yang taat bukan? Kau tau kan adalah sebuah dosa besar jika seorang istri menolak melayani suaminya? jadi sekarang penuhilah tugasmu sebagai seorang istri” Zain benar-benar tampak menakutkan sekarang dia benar-benar tampak buas ingin menerkam Aliya, perlahan tangannya mulai nakal dengan mulai menarik tali pengikat baju mandi yang melingkar di perut Aliya….

To Be Continued

Apa yang bakal dilakukan Zain selanjutnya? Ada yang bisa nebak? Molla… authornya sendiri aja belom memutuskan. Menurut kalian mestinya gimana? Udah halal lho, kuis yee. Yang menang hadiahnya yaa do’a yang tulus dari eke ehehe 😆😆.

Okay Guys! Kali ini sengaja gak bikin teasernya biar gak ketebak dan makin penasaran. Butuh komen yang banyak nih. Ditunggu dimana azzahh yoo. Seperti biasa sosmed eke siap menerima komen, saran dan kritikannya. See you in Chapter 5.

Advertisements

20 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 4)

  1. Awal bacax hmpr jatuh ni air mata q😢, sljtx da mulai tegang…….lg seru2x knp bersambung😥😥, kereen 🙌 n next 5😍😍😍😘😘😘jgn lama 2 ye 😘😘

  2. sekali lagi,
    pas lagi serunya,
    malah bersambung 😥

    sebenarnya, antara melihat dan membaca ada sesuatu yang berbeda..
    ketika melihat jika terdengar suara musik itu terasa lebih dramatis atau romantis,
    tapi ketika membaca aku merasa aneh jika ada kalimat lagu mengalun..
    hehehe..
    mungkin karena ini baru pertama kali aku baca cerbung ala india sih 😁

    btw, good job..
    keren !!!
    lanjutkan kreatifitasmu..
    jangan lama lama ya episode selanjutnya 😉

    udah gak sabar dan penasaran banget nih 😄😅

  3. Lanjut mba, Yg mrk berdua sama sama jail, berantem, jaim, tp butuh kasih sayang, jgn keburu belah duren yaa, suka bangettttt

  4. Wah, ending nya bikin makin penasaran, udah kemana2 ne otak mikirin apa lanjutannya, wkakakaka….tp sygnya sosok surayya udh gak ada,..

  5. Heemmmpmmmm sayang banget aku baru baca chapter 4 hehhehe:D yah kenapa tbc padahal tanggung wkwkwkkw ghak papa lah khan udah halal ini:) aku berharap nya sih setelah malam pertama ini sikap zain ama aliya berubah amiiin:D

  6. Keren ceritanya kerenn… next secepatnya ya. Serasa masuk ke dlam cerita ni wkwkwk…abis kta ktany bener” menyentuh… top lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s