Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 5)


image

Cover Created By. Uyul (@Zaya_Hanna)

Judul   : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre   : Drama, Romance, Comedy n Family
Casts    :
♡ Harshad Arora as Zain
     Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya
     Zain Abdullah
♡ Karan Tacker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as
      Herself
♡ All Beintehaa Casts

Located :
        India (Mumbai, Bhopal)
        Indonesia (Jakarta &
        Jogjakarta)

Chapter Numb : 10 Chapters

BI 2 Chapter 5

“Jadi sekarang kau mau mencoba menggodaku?” Bisik Zain lembut tepat di belakang daun telinga Aliya, bulu roma Aliya merinding ketika merasakan hangat desah nafas Zain menyentuh kulit tengkuknya.
“Si… siapa yang menggodamu?!” Aliya mulai gelagapan, menyadari itu Zain berpindah posisi ke hadapan Aliya. Ia lalu membuka kancing kemeja bagian atasnya hingga menampakkan sedikit bagian dadanya,
“Apa-apaan ini? Apa yang kau lakukan?!” Aliya mulai panik, Zain menjawabnya dengan hanya menyeringai jahat, tiba-tiba ia merengkuh tubuh aliya, pakaian ganti yang ada di tangan Aliya sampai terjatuh ke lantai. Sesaat Aliya berusaha memberontak dalam rengkuhan Zain, namun itu justru membuat mereka sama-sama jatuh di tempat tidur.

Kini Zain menindih tubuh Aliya, ia terus menatap Aliya seperti seekor binatang buas yang menatap mangsanya dan siap melahapnya hidup-hidup.
“Zain, apa yang kau lakukan? Lepaskan!” Pekik Aliya
“Kau ini istriku bukan? kalau begitu sekarang buktikan kalau kau memang benar-benar istriku” ucap Zain sambil membelai lembut wajah Aliya.
“Lepaskan Zain, kalau tidak aku akan teriak!!” Aliya ketakutan, Zain dapat merasakan ketakutan itu dari getar suaranya.
“Berteriaklah, siapa yang akan peduli padamu jika kau bilang kau sedang dilecehkan oleh suamimu sendiri? Kau ini seorang muslim yang taat bukan? Kau tau kan adalah sebuah dosa besar jika seorang istri menolak melayani suaminya? jadi sekarang penuhilah tugasmu sebagai seorang istri” Zain benar-benar tampak menakutkan sekarang dia benar-benar tampak buas ingin menerkam Aliya, perlahan tangannya mulai nakal dengan mulai menarik tali pengikat baju mandi yang melingkar di perut Aliya.

🎵Tumhi ho Female version is playing 🎶
Dengan perasaan ketar-ketir Aliya reflek memejamkan matanya, tubuhnya melumpuh sesaat, ia tidak lagi punya daya dan kekuatan untuk melawan.

Perlahan Zain membuka ikat simpul tali pengikat di bagian perut Aliya, dada Aliya sesak ketika dirasakannya jemari Zain mulai menyibak kerah baju mandinya, lalu membelai lembut bahunya. Aliya dapat merasakan bahunya kedinginan ketika hembusan angin menyentuh kulit bahunya yang terbuka.

Tanpa daya, gadis itu hanya mampu meremas seprai ketika sejurus kemudian dirasakannya bibir Zain mulai menyentuh bahunya yang terbuka, tubuhnya menegang ketika perlahan secara aktif bibir Zain mulai menjelajahi lehernya hingga meninggalkan jejak-jejak kekuasaanya di sana.

Seakan puas melahap habis leher Aliya, kini bibir Zain mulai mencoba mencicipi sesuatu yang lain, ia mulai tertarik mencicipi bibir ranum yang terkatup rapat itu, dan Aliya seketika ingin menjerit ketika dirasakannya sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, tapi seakan sebuah sihir yang menawannya Aliya bahkan tak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa pasrah dengan perlakuan suaminya itu.

Untuk beberapa saat yang indah Aliya justru menikmati perlakuan itu, ia menerima dengan baik perlakuan Zain itu seakan ia juga menginginkannya sejak lama. Zain terlalu berpengalaman, seakan sudah mencumbu ribuan wanita, ia sangat ahli membuai seorang gadis dan menenggelamkannya ke dalam pusaran samudera asmara sesaatnya.

Sepersekian detik membiarkan Zain menikmati permainnya, beberapa saat dalam kegilaan semu yang memabukkan itu, Aliya seketika seakan terbangun dari ketidaksadaran dan kelumpuhan yang membelenggunya, Aliya membuka matanya yang beberapa saat terpejam lebar-lebar, ia dapat melihat wajah Zain tepat di depan wajahnya tanpa jarak se-centi pun. Sontak dengan mengumpulkan segala kekuatannya, gadis itu mendorong kuat-kuat tubuh Zain dari atas tubuhnya dan itu berhasil menghentikan aktifitas gila Zain.

Aliya segera bangkit dari pembaringannya, segera ia memperbaiki kera bajunya yang sempat dipeloroti Zain dan menutup bahunya yang sempat terbuka dan secara bebas dinikmati oleh Zain, lalu… PLAKK!! Sebuah tamparan keras dari tangan mungil Aliya mendarat di pipi Zain.

Pipi Zain memerah menandakan tamparan Aliya cukup keras dan bohong sekali jika Zain bilang rasanya tidak perih, tapi ia hanya menatap Aliya dengan menyeringai penuh kemenangan, ia tampak bahagia sekali melihat kemarahan dan ketakutan di mata Aliya seakan reaksi semacam itulah yang dia inginkan.

Aliya beranjak dari hadapan Zain, berlari masuk kamar mandi dan buru-buru menghampas daun pintunya lalu menyandarkan punggunya di balik pintu, napasnya menderu-deru seakan jantungnya ingin melompat dari rongga dadanya.

Kemudian dengan sisa-sisa kewarasannya, segera ia mengganti pakaian mandinya yang kini dianggapnya sudah terkutuk itu dengan pakaian tidurnya yang lumayan tertutup menjuntai ke seluruh tubuhnya.

“Dasar maniak!! Beraninya dia melakukan itu padaku atas dalil agama, dia berlagak seperti seorang ulama hanya untuk urusan sex?!” Gerutu Aliya kesal masih sibuk dengan pakaian tidurnya.
“Aishhh!! Sebenarnya siapa yang lebih bodoh? Zain Abdullah atau malah kau sendiri Aliya Ghulam Haider? Kenapa kau hanya diam saja ketika dia melakukan itu padamu? Harusnya kau membunuhnya atau setidaknya membuat dia impoten!!” Aliya memaki dirinya sendiri setelah menepuk kepalanya.

Lalu tiba-tiba ia terdiam, ia merasakan sesuatu yang aneh yang beberapa saat berusaha ia abaikan, ia menggigit bibir bawahnya ketika kilasan ciuman itu kembali berkelabat dalam benaknya bahkan ia masih merasakan hangat sentuhan bibir Zain di bibirnya. Aliya tampak frustasi mengusap-usap bibirnya yang polos seakan bibir itu dipenuhi kotoran dan dia harus membersihkannya.

Ia kemudian menyadari  sesuatu.
“Ahhh tadi itu apa? Barusan itu ciuman pertamaku?! Apa Zain Abdullah baru saja merebut ciuman pertamaku?! Tidakk!!” Tidak… ini sama sekali bukan yang dia inginkan, dia pasti sedang bermimpi buruk, dalam mimpi indahnya ia selalu membayangkan ciuman pertamanya adalah bersama suami yang mencintai dan dicintainya, di atas balkon dan di bawah sinar rembulan yang berpendar, bukan dicuri secara licik dengan orang yang dibencinya.

Aliya mengacak rambutnya frustasi, seperti orang stress ia membentur-benturkan kepalanya pelan ke tembok.
“Ahhh… Tidakk!! Aku sudah kotor! Aku sudah tidak berharga lagi, Aku ingin mati saja sekarang, Ya Allah ambil saja nyawaku sekarang! Ayah Ibu… tolong jemput saja aku sekarang, aku tidak ingin hidup di dunia ini lagi…!!” Aliya merengek frustasi, tubunya merosot ke lantai.

Sementara, Zain yang duduk di sisi tempat tidur masih merasakan suhu tubuhnya panas dingin, ada sebuah hasrat dalam dirinya yang belum terpenuhi. Zain tersenyum-senyum sumringah sendiri mengingat apa yang baru saja dilakukannya dengan Aliya, rasanya tidak terlalu buruk meski dia membencinya, bahkan itu cukup menyenangkan.

Ia sedikit kagum pada Aliya, baru kali ini ada gadis yang mampu menolak rayuannya, itu rekor baru yang dicetak oleh gadis liar itu. Tapi ia bersyukur, Aliya segera menghentikannya, kalau tidak ia yakin ia pasti sudah lepas kendali dan melahap habis gadis itu. Dan Zain tidak rela, ia tidak sudi menghabiskan malam dengan gadis itu, gadis itu terlalu rendahan dan tidak pantas untuk menikmati belaiannya.

Kemudian Zain mendengar Aliya merengek dari dalam kamar mandi, gadis itu pasti sedang frustasi sekarang. Bukannya merasa bersalah, ia malah terkekeh geli mendengar rengekan Aliya yang sudah seperti orang gila.

“Biar tau rasa kau Aliya Ghulam Haider, ku pastikan kau tidak akan lagi berani melawanku, kau akan tidur di lantai seumur hidupmu” Zain bermonolog, dia begitu puas karena satu pembalasan dendamnya terhadap Aliya berjalan dengan sukses.

Aliya berusaha menenangkan dirinya, ia menghapus air matanya dan bangkit dari duduknya sekaligus bangkit dari keterpurukannya. Tangan Aliya tertahan ketika dia akan memutar kenop pintu kamar mandi, dia ragu untuk keluar, dia belum siap bertemu Zain. Jujur saja dia masih trauma dengan kejadian tadi, tapi dia berfikir Zain pasti sengaja melakukannya, dia tidak benar-benar ingin melakukannya karena dia merasa dia adalah suaminya, tapi murni hanya ingin menakut-nakutinya saja.

Jika dia bersembunyi dan menampakkan ketakutannya, Zain pasti akan merasa menang dan semakin menjadi-jadi, dia malah akan melakukan hal yang lebih mengerikan lagi. Tapi Zain harus tau Aliya Ghulam Heider tidak selemah itu, lama hidup di lingkungan prostitusi dan bertemu dengan orang-orang mengerikan seperti Zain membuat Aliya kebal, dia sudah terbiasa dan sudah tau caranya menghadapi mahluk maniak seperti Zain Abdullah, lihat saja, dia tidak akan menyerah! serangan ini terlalu ringan untuk membuatnya gentar apalagi jika itu dilakukan oleh pria yang sudah berstatus suaminya sendiri.

Perlahan Aliya memutar kenop pintu hingga pintu pun terbuka. Menyadari kehadiran Aliya, Zain pun tak bisa mengalihkan pandangan darinya. Pemuda itu cukup tertegun ketika melihat Aliya sudah tampak tenang seperti air di danau, ekspresinya sama sekali tak menampakkan raut ketakutan seperti yang ia pikirkan.

Aliya lalu berdiri tegak-tegak di hadapan Zain, ia berkacak pinggang, dan menaikkan dagunya tinggi-tinggi penuh keangkuhan seakan menantang suaminya itu.

“Pria maniak dan mesum sepertimu derajadnya tidak lebih tinggi dari seekor kucing liar!” Maki Aliya kemudian
“Apa?!” Zain tak percaya dengan yang barusan didengarnya, gadis itu berani sekali mengatainya.
“Dengar ya, Zain Abdullah! Kita sudah menikah secara sah, aku adalah istrimu jadi jangan pernah berfikir bahwa aku akan takut jika kau menakut-nakutiku dengan hal mesum seperti itu lagi. Ya kau benar, sebagai seorang muslimah aku memang melakukan dosa besar dengan menolak melayani suamiku, tapi… aku akan lebih berdosa lagi jika melayani nafsu bejatmu dengan perasaan jijik!” cecar Aliya lagi, Zain kini terkekeh geli mendengar ocehan Aliya.
“Allah maha tau, Dia tau apa yang sebenarnya terjadi di antara kita, jadi bermimpi sajalah jika kau pikir kau bisa memperlakukanku sebagai budak nafsumu saja! Kau dengar itu?!” Aliya meninggikan suaranya, dan tanpa memberikan kesempatan pada Zain untuk bicara ia segera mengambil bantal dan selimut dari atas ranjang,

“Jangan pikir aku tidak tidur di sini karena aku takut, aku hanya tidak nyaman dengan seorang maniak!”
“Ck!” Zain mendecis geli namun juga sedikit kesal dengan cecaran Aliya, tapi Aliya tidak memberinya kesempatan untuk membalas ucapannya, Gadis itu sudah beranjak  keluar kamar, tepatnya ke arah balkon.

Di balkon kamar Zain yang menjorok ke arah kolam renang itu tedapat sebuah ayunan yang bisa ditiduri, dan disana lah Aliya membaringkan tubuhnya. Zain mendecak tak percaya dengan aksi berani Aliya itu, tapi dia cukup senang dengan keputusan Aliya, kali ini dia berhasil memenangkan pertempuran.
“Sayang, hati-hati di luar sana banyak nyamuk Zica, kasihan anak kita nanti, kepalanya nanti akan kecil seperti kepalamu!!” Teriak Zain bermaksud mengejek Aliya.

Aliya tidak menjawab apapun, dia terlalu cemerlang untuk hal remeh temeh seperti itu, tinggal lama di perumahan kumuh membuat ia selalu menyediakan lotion anti nyamuk, Zain menggeleng kagum namun setengah gemas dengan ketangguhan Aliya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana ayahnya dulu mendidik gadis itu.

Malam semakin larut, dari balik kaca jendela tampak Zain sudah tertidur pulas dengan nyamannya menguasai ranjang king size nya, sementara Aliya masih terjaga, ia bungkus tubuhnya yang mulai kedinginan dengan selimut tebal yang tadi ia bawa.

Ia pandangi bulan sabit di tengah pekatnya malam, ia teringat kembali akan Almarhum Ayah Usman yang baru saja meninggalkannya, kerinduan yang mencekik itu kembali menyesaki dadanya, kepedihan karena kehilangan itu kembali menderanya, air mata itu kembali mengalir di pelipisnya, di saat-saat seperti ini ia butuh kehadiran sang Ayah yang selalu menjadi pendengar yang baik segala keluh kesahnya, yang selalu menguatkan dan menasihatinya, memeluknya dan menenangkannya di kala hatinya gusar. Namun ia tak bisa lagi merasakan itu sekarang meski ia benar-benar membutuhkannya, yang tersisa kini hanya tanya yang tak kunjung terjawab, “Mengapa Ayah? mengapa kau lakukan ini padaku? mengapa kau menyatukan aku dengannya jika nyatanya kami tidak akan pernah bisa menyatu?” gumam Aliya sambil terisak, Aliya terus menangis dan bergelut dengan kerinduan yang melandanya hingga akhirnya matanya terpejam.

****
“Ayah, kenapa ya Allah memberikan kita kehidupan yang seperti ini? terpaksa hidup di tempat maksiat, padahal Ayah adalah orang yang sangat baik dan taat beragama, sedangkan mereka yang jahat dan suka korupsi, tinggal di rumah mewah dan diberikan segala kenikmatan,” keluh Aliya sambil menyantap nasi dan beberapa potong gudeg sebagai lauk seadanya. Usman menyudahi makannya, setelah mengeringkan tangannya dengan serbet, ia lalu berkata,
“Kau lupa?  Bukankah Allah sudah berkata dalam firmannya, boleh jadi apa yang tidak engkau sukai, padahal Allah menjadikannya kebaikan yang banyak padamu” Aliya ikut mengucapkan kalimat sang Ayah yang merupakan salah satu ayat di dalam Al Qur’an yang sudah sering ia dengar bahkan dia hafal.
“Nah.. itu kau masih ingat kan, untuk apa bertanya lagi?” ucap Usman bijak. Aliya juga menghentikan acara makannya yang masih bersisa, ia tiba-tiba menampakkan wajah merengut sedih seakan ada yang mengganjal di hatinya,
“Tapi Ayah, kenapa Ayah menikahkanku dengan Zain? bukankah dia itu menyebalkan dan jahat?  Bukankah Allah juga mengatakan, laki-laki yang baik hanya untuk perempan yang baik? tapi kenapa Ayah menikahkanku dengannya? Bukankah aku akan menderita bersamanya? Apakah ayah tidak memikirkan kebahagiaanku?” Kali ini Aliya lebih terkesan memprotes daripada bertanya, pertanyaan itu adalah pertanyaan selalu ingin ia kumandangkan.

Tuan Usman tersenyum takzim, seakan itu adalah pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab, ia lalu menepuk pundak putri angkat yang dikasihinya melebihi anak kandungnya sendiri itu,
“Bersabarlah Nak, karena apa yang kau paling benci saat ini kelak akan menjadi yang paling kau cintai, karena apa yang kau benci boleh jadi Allah telah menyiapkan yang terbaik di baliknya, maka bersabarlah” pesan itu adalah pesan terakhir yang disampaikan Usman ketika adzan subuh membangunkan Aliya dan membuatnya terjaga dari mimpinya.

Usai mandi dan menunaikan shalat subuh, Aliya berinisiatif menyiapkan segala atribut kerja Zain,  sementara Zain sendiri masih bergelut dengan mimpinya. Ya, itu akan menjadi pekerjaan rutinnya mulai saat ini, Aliya benar-benar memikirkan makna tersirat di dalam mimpi yang baru saja dialaminya, ia tau mimpi itu bukan sekedar mimpi, mimpi itu seperti nyata, Usman sudah mengamanahinya dan demi sang Ayah yang paling dia cintai dan dia hormati, dia akan mengemban amanah itu dengan baik, ia akan melaksanakan segala kewajibannya, ia akan bersabar hingga waktu yang dijanjikan Usman itu datang.

Melihat Zain yang masih tertidur pulas dengan nyamannya, Aliya tidak tinggal diam, ia akan merubah kebiasaan buruk Zain yang selalu bangun sesuka hatinya, ia termasuk orang yang percaya bahwa orang yang bangun kesiangan akan dijauhkan dari rezeki, entah itu rezeki dalam bentuk apapun, tidak harus materi.

Aliya menyibak tirai jendela kamar lebar-lebar dan membiarkan sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dan mengenai wajah Zain yang masih pulas, dan itu berhasil membuat Zain mengerutkan dahi merasakan silau yang membuatnya tak bisa lagi memejamkan matanya rapat-rapat.
“Eeerrgghh! Apa-apaan ini?! Chand Bibi, kenapa jendelanya dibuka? Kau tau kan aku tidak bisa tidur di ruangan terang?” Zain meracau malas sambil masih berusaha memejamkan matanya.
“Chand Bibi?!” Panggil Zain lagi, ketika dirasakannya tidak ada reaksi seperti yang seharusnya dan matanya segera terbuka lebar ketika menyadari sesuatu, percuma saja ia memanggil-manggil nama pengasuhnya yang selalu menuruti kemauannya itu karena bukan dia yang ada di sana.

Zain membuka mata dan menemukan sosok Aliya yang sudah tampak segar, ia berdiri membelakangi jendela dan menatapnya dengan raut wajah tegas bak seorang komandan militer yang akan memberikan komando kepada pasukannya.
“Bangunlah anak manja, saatnya untuk pergi ke sekolah” ucap Aliya seraya menyedekapkan kedua tangannya di perutnya. Zain mendesis kesal melihat kelancangan Aliya, gadis itu membuat ia tak bisa tidur lagi meskipun ia ingin, sekarang rasa kantuknya benar-benar sudah hilang.

“aku sudah menyiapkan segala keperluanmu, ayo bersiap-siap untuk pergi ke kantor, aku akan membuat sarapan untukmu” ucap Aliya yang terdengar seperti seorang Ibu memerintah anaknya, lalu beranjak pergi ke luar kamar.
“Brengsek!!” Serapah Zain sambil meninju kasurnya yang empuk, ia tak terima dengan perlakuan semena-mena Aliya, dalam hati dia bertekad untuk membuat Aliya Ghulam Heider kehilangan kesombongan dan keberaniannya, sebentar lagi gadis itu akan tau dimana posisinya.

****
Hari ini untuk pertama kalinya Aliya memasak sarapan untuk seluruh keluarga dan dibantu oleh Chand Bibi, ia menyiapkannya di meja makan. Sasaat kemudian keluarga Paman Rehman dan Bibi Zarina pun sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan.

“Woahh!! Aliya, kau yang memasak sarapan sebanyak ini?” Paman Rehman tampak takjub.
“Iya… ini pertama kalinya aku memasak di sini, semoga kalian menyukainya”
“Woahh! kelihatannya enak. Aku sudah tidak sabar ingin mencicipinya!” Seru bilal antusias.
“Sayang, sepertinya kau harus belajar memasak dari Aliya, dia hebat sekali bisa memasak sebanyak ini dan kelihatannya semuanya enak, kau memasak bubur saja buburnya hangus” ucap Bilal kepada istrinya, perkataan Bilal yang polos dan apa adanya malah membuat Shaziya merasa tersinggung dan kesal, ia mencubit pelan perut suaminya. Bilal hanya mengadu pelan lalu terdiam, ia gentar dipelototi oleh istrinya sendiri, semua orang mengabaikan aksi pasangan suami istri konyol itu karena hal konyol seperti itu sudah menjadi pemandangan biasa bagi mereka.
“Aku sempat khawatir Zain menikah terlalu cepat, dia sepertinya sama sekali belum siap berumah tangga dan tak akan bisa memilih calon istri yang baik, tapi sekarang aku lega Zain memilih gadis yang tepat sepertimu Nak,” puji Paman Rehman yang tampak sangat salut dengan Aliya.

Zain tiba-tiba muncul tepat ketika Paman Rehman melontarkan pujiannya kepada Aliya. Ia sudah tampak rapi dan segar dengan atribut kerjanya yang tadi disiapkan Aliya. Ia awalnya menyeringai sinis, namun kemudian ia malah merangkul Aliya dengan senyum palsunya
“Sudahlah Paman, jangan terlalu memujinya, paman belum terlalu kenal istriku ini dengan baik, aku hanya takut dia akan mengecewakanmu” Zain menyindir, namun Aliya tidak perduli.
“Ahaha… kau ini ada-ada saja Zain. Yasudah, kalau begitu ayo kita sarapan sekarang, aku sudah lapar dan tidak sabar mencicipi masakan menantu cantik kita ini,” Semuanya pun sudah duduk di meja makan, sedikit ragu awalnya, namun akhirnya Aliya mengambil tempat duduk di samping Zain, tepatnya di kursi kosong di antara Zain dan Bilal.

Mereka pun mulai mencicipi masakan perdana Aliya di Barkath Villa, dan hampir semua orang sepakat mengatakan bahwa masakan Aliya benar-benar enak, Bilal dan Rehman bahkan kompak mengontrak eksklusif Aliya untuk menjadi juru masak di Barkath villa dan Aliya setuju. Semuanya memuji masakan Aliya bahkan Shaziya tidak bisa berkomentar apapun karena merasa rendah diri dan takut mertuanya akan semakin merendahkannya dan membanding-bandingkannya dengan menantu baru mereka itu. Hanya Zain yang secara tersirat menolak mengakui masakan istrinya sendiri, ia memilih sarapan dengan roti tawar dengan selai kacang ketimbang ikut menyantap masakan Aliya.

“Zain, kenapa kau tidak ikut makan nasi briyani buatan istrimu? Kenapa hanya makan roti? Bukankah ini makanan favoritmu?” Tanya Zarina bermaksud mengorek Zain, ia ingin menunjukkan bukti bahwa Zain jelas tidak mencintai Aliya.
“Tidak apa-apa Bi, hari ini aku ada rapat penting, aku tidak mau sakit perut di saat-saat penting,” sindir Zain menilik kepada insiden racun curry di Jogja waktu itu, namun semua orang mengabaikan dan menganggap itu hanya candaan Zain saja, hanya Zarina yang merasakan keanehan itu, ia pun tersenyum senang memikirkan rencananya akan berjalan dengan lancar.

“Ahh… aku hampir saja lupa!” Seru Shaziya seakan baru saja melewatkan sesuatu yang penting.
Ia menghentikan sejenak kegiatan sarapannya, ia meraih remote TV di meja kecil di belakangnya, lalu menyalakan TV yang ada di sudut ruang makan yang letaknya memang tertata strategis agar dapat ditonton oleh semua orang di ruang makan.

“Shaziya, apa yang kau lakukan? Kenapa menyalakan TV saat sedang makan?” protes Zarina terganggu dengan tingkah tak sopan Shaziya.
“Ibu, semalam aku tidak sempat menonton variety show favoritku karena harus menjaga Saif yang demam semalaman, aku tidak akan bisa tenang jika melewatkannya sehari saja, sekarang adalah tayangan ulangnya, ini kesempatanku untuk menontonnya” Shaziya beralasan, Zarina ingin memarahinya tapi dia rasa, saat sarapan bukan waktu yang tepat untuk marah-marah, ia pun hanya mendiamkan prilaku tak beradab menantunya itu.

“Woahh, beruntung sekali aku menonton episode ini, bintang tamunya adalah artis kesukaanku! Masha Allah Karan benar-benar tampan! Sayang, lihat aktor favoritku tampan sekali bukan?!” Seru Shaziya berbagi kekagumannya terhadap aktor di layar kaca dengan suaminya, Bilal.

“Tentu sayang, aku memang tidak setampan dia, tapi putra kita Saif pasti akan jauh lebih tampan dari dia nantinya, karena Ibunya yang sangat cantik, hihihi” Bilal terkekeh konyol, Zarina melotot ke arahanya merasa tersinggung, maksudnya apa mengatakan bahwa Saif akan tampan karena Ibunya cantik? jadi dengan kata lain Bilal tidak tampan karena Ibunya yang notabene adalah Zarina sendiri tidak cantik?!

Kecuali Shaziya dan Bilal, semua orang masih sibuk dengan sarapannya, hanya sesekali Zarina melirik TV ketika mendengar sesuatu yang menarik.

“Karan Ji… anda dikenal sebagai icon fashion di dunia tellywood, jadi pada sesi ini kita akan sedikit menyoroti fashion anda, aku penasaran dengan fashion stylemu kali ini, apa yang anda pakai di leher anda itu? Itu seperti dupatta wanita, apakah itu juga bagian dari Fashion?” Tanya sang MC di dalam acara tersebut, merujuk kepada Dupatta berwarna pink yang melingkar di leher Karan, sebenarnya itu tampak cukup terlihat aneh sebuah dupatta berwarna pink dikenakan oleh seorang pria, tapi karena dupatta itu dikenakan oleh artis fashionista seperti Karan, dengan pembawaannya yang selalu enak dipandang, maka itu jadi lebih terlihat unik ketimbang aneh.

“Ya, ini memang Dupatta milik seorang wanita. Dupatta ini sangat lembut dan memiliki wangi yang khas, mengingatkan aku dengan seseorang yang selalu ingin kutemui” jawab Karan dengan wajah tersipu.

Aliya tercenung sesaat, sepertinya dia pernah mendengar suara orang yang di TV itu, entah kapan dan dimana, ia tidak bisa melihat TV karena penglihatannya terhalangi oleh kepala Bilal, meski sedikit penasaran ia rasa ia tidak perlu berusaha menjulurkan kepalanya hanya untuk menonton TV. Aliya tidak perlu mencari tau, tentu saja suara pria itu familiar karena dia adalah seorang aktor, mungkin saja dia pernah mendengarnya di salah satu film yang ia tonton, atau memang hanya mirip saja?

“Wah! apakah gadis itu benar-benar spesial bagi anda?” Tanya sang MC lagi
“Ya, sepertinya begitu. Ini memang terdengar konyol, tapi aku bahkan rela terlihat aneh seperti ini dan sengaja memakainya karena aku ingin dia melihatnya, dan setelah itu aku berharap bisa bertemu dengannya lagi”
“Siapa gadis beruntung yang mampu mencuri hati seorang Karan Tacker? Apakah dia dari kalangan selebritis, atlit, atau kalangan orang biasa? Tidakkah anda berfikir ini akan menjadi berita besar dan menjadi sorotan media selama berpekan-pekan?”
“Entahlah, aku bahkan tidak mengenalnya, bahkan belum tau namanya, bagaimana mungkin akan menjadi skandal?” Karan tampak sedikit kecewa
“Maksudmu, ini seperti kisah cinta pada pandangan pertama?” Sang MC tampak semakin tertarik mengorek lebih jauh.
“Entahlah…” jawaban Karan terdengar Ambigu, namun senyumannya yang malu-malu menandakan jawaban positif yang ia siratkan.
“Wahh… ini kisah cinta yang luar biasa dari seorang Karan Tacker, mungkin ini akan bisa menjadi inspirasi anda untuk menciptakan lagu romantis berikutnya.  Kalau begitu kita semua sangat berharap Karan Tacker akan segera menemukan Cinderellanya. Karan Ji, apa ada yang ingin disampaikan kepada gadis Cinderella mu itu? Mungkin saja saat ini dia sedang menonton acara ini dan segera menemuimu,” kamera close up mengarah ke wajah Karan,
“Yaa… kepada gadis yang merasa memiliki dupatta ini, aku sudah berjanji akan menemuimu lagi dan mengembalikan dupattamu ini, aku akan memenuhi janji itu, jadi tolong jangan bersembunyi dariku, tampakkanlah dirimu karena aku tidak akan pernah lelah untuk mencarimu” tatapan Karan tampak bersungguh-sungguh penuh pengharapan.

“Wah! Karan Tacker sedang jatuh cinta?? Ini akan menjadi berita besar! kau tau sayang? Dia sudah sering dikabarkan menjalin hubungan dengan banyak selebritis cantik di negeri ini, tapi dia sama sekali tidak pernah mengakuinya! Dan sekarang dia dengan terang-terangan mengakui bahwa dia jatuh cinta dengan seorang biasa yang baru pertama kali dilihatnya, siapapun gadis itu benar-benar beruntung! Dia benar-benar seorang Cinderella! Ahh Sayang! Sepertinya aku harus memeriksa salah satu dupattaku, jangan-jangan ada yang hilang? Bagaimana kalau ternyata Karan jatuh cinta kepada wanita yang sudah menikah sepertiku?” Dengan percaya dirinya, Shaziya mulai memikirkan hal yang tak masuk akal.
“Eeii… tidak mungkin Sayang! Karan pasti akan jatuh cinta kepada gadis yang lebih cantik dan lebih muda” jawaban jujur nan apa adanya yang dilontarkan Bilal itu sempat membuat Shaziya marah, namun…
“Shaziya cukup!! Hentikan semua ini, kau membuat semua orang tidak nafsu makan dengan ocehanmu itu, cepat matikan TV nya!!” Bentak Zarina yang sudah habis kesabaran, Shaziya tersentak, bahkan ia belum sempat memarahi Bilal sebelum dia dimarahi lebih dulu oleh ibu mertuanya.

Dengan wajah ditekuk tak rela, ia segera mengakhiri tontonannya dan mematikan TV. Ruang makan kembali hening untuk beberapa saat, sebelum Bilal kemudian kembali memecahkan suasana, matanya melotot sesaat ketika tak sengaja ia menemukan leher Aliya terdapat beberapa tanda biru ketika Aliya menyibak gerai rambutnya ke belakang, tanda biru seperti lebam yang tak asing baginya dan tentu saja ia tau betul tanda biru itu pasti adalah hasil perbuatan Zain.

“Wah! Kakak Ipar! Sepertinya kau juga membutuhkan sebuah dupatta seperti Karan Tacker tadi untuk menutupi lehermu, hehehe” Bilal terkekeh geli.
“A… apa? Ke.. kenapa?!” Aliya gelagapan menutupi lehernya dengan tangannya walaupun tetap tak mampu menyembunyikan jejak kekuasaan Zain di lehernya. Sementara Zain juga kaget luar biasa ketika baru menyadari maksud Bilal, benar saja! hasil perbuatannya semalam terbongkar sudah, sebringas itu kah ia semalam hingga harus meninggalkan bekas?

“I..itu, a.. aku juga..” Zain bingung harus menyangkal dengan cara apa, dia sudah kehabisan kata-kata.
Shaziya memotong dan kembali ikut berkomentar,
“Iya kau benar Sayang, Aliya… kau benar-benar membutuhkan dupatta, syal, atau semacamnya, jika tidak orang-orang akan berfikir kau telah menikahi seorang vampir, hihihi” Shaziya terkikik menggoda, bahkan kini bukan Bilal dan Shaziya saja yang tertawa geli membayangkan pertempuran pasangan pengantin baru itu semalam suntuk.

Bahkan Paman Rehman dan Chand Bibi pun tak bisa menyembunyikan perasaan geli mereka meski tawa mereka tertahan. Semua orang merasa lucu dengan fikiran mesum mereka kecuali Zain dan Aliya yang kini malu luar biasa seakan sudah dipergoki habis-habisan dan juga Zarina yang tidak bisa menerima kenyataan itu, dia benar-benar harus segera bertindak sebelum terlambat, sebelum Zain benar-benar jatuh cinta kepada Aliya dan sebelum gadis itu benar-benar hamil.

“Aku… pergi ke kantor sekarang,” ucap Zain buru-buru, ia pun mendadak  menyudahi sarapannya meski rotinya baru termakan sepotong, ia lalu buru-buru beranjak pergi dari hadapan semua orang, tampak jelas sekali ia sedang menghindar,
“A… aku juga ke kamar sekarang, aku harus membersihkan kamar” giliran Aliya yang buru-buru kabur, ia ingin segera menghindar dan menyudahi rasa malu yang menderanya.

“Aliya tunggu!” Aliya meringis ketika langkahnya tertahan ketika baru beberapa langkah ia berjalan, Zarina langsung memanggilnya.
“I.. iya Bi?” Jawab Aliya setelah terpaksa membalikkan tubuhnya,
“Jangan lupa, nanti malam kita akan pergi ke pesta teman Bibi, kau siapkanlah segalanya mulai dari sekarang”
“Baik Bi, aku akan mempersiapkan gaun yang akan aku pakai”
“Apa kau butuh ke salon? Aku rasa kau akan butuh bantuan salon untuk memoles sedikit wajahmu yang pucat itu”
“Tidak perlu Bi, aku bisa make up sendiri”
“Baiklah kalau begitu, paling lambat jam 7 malam kita sudah harus berangkat”
“Baik Bi” lirih Aliya pasrah lalu buru-buru pergi.
“Jangan lupa pakai dupattanya ya! hihihi” Shaziya masih sempat-sempatnya melemparkan kalimat godaan ke arah Aliya, menambah rasa malu Aliya yang sudah mulai menyiksanya.

****
Malam Harinya…

“Sayang… bagaimana penampilanku? Tidak kalah cantik dengan Aliya Bhatt kan?” Shaziya memutar tubuhnya di hadapan Bilal, memamerkan penampilannya yang dianggapnya sudah paling cantik dengan saree berwarna merah maroon berpayet keemasan dengan tatanan rambut yang disanggul rendah.
“Woahh Istriku, kau benar-benar cantik! Tidak salah aku memilihmu di antara sekian banyak wanita cantik yang mengantri, hehe” Bilal memuji istrinya berlebihan, membuat Shaziya tersipu girang.
“Kenapa gadis itu lama sekali?” Zarina mulai tak sabar menunggu Aliya, sejak beberapa menit yang lalu mereka telah siap dan berkumpul untuk pergi ke pesta, tinggal Aliya yang mereka tunggu, dan Zarina tidak akan pergi tanpa Aliya.
“Jangan-jangan dia tidak tau caranya berdandan Bu. Melihat penampilan kampungannya itu aku sudah bisa menebak, dia tidak akan bisa dibawa ke pesta” sahut Shaziya
“Kalau begitu coba kau ke kamarnya dan lihat dia, apa yang dia lakukan selama ini? Kita bisa pergi kemalaman kalau begini” Zarina melirik jam mulai was was.

Shaziya pun menuruti titah mertuanya dan pergi ke kamar Aliya.
“Aliya, apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali?!” Pekik Shaziya setelah mengetuk pintu.

Sementara di dalam sana, Aliya tampak frustasi melihat tanda biru seperti lebam di lehernya.
“Huahh Lintah itu! apa yang dia lakukan padaku?! Dia benar-benar menjijikkan!” Gerutu Aliya serasa ingin menangis, sambil memolesi lehernya dengan fondation dan bedak.
“Aliya kau tidak apa-apa? Apa kau butuh bantuan?!” Tanya Shaziya lagi.
“Iya kak sebentar!!” Teriak Aliya dari dalam kamar.
“Aliya kalau kau tidak bisa ikut bilang saja” kata Shaziya lagi, sesaat Shaziya menunggu dan mulai tak sabar, ia memutuskan untuk turun saja.

“Ibu, kita pergi saja sekarang, kita tinggalkan saja Aliya. Aku yakin dia tidak mau ikut, itu lebih baik dia tau diri dari sekarang daripada dia membuat kita malu di depan semua orang-orang berkelas itu,” ucap Shaziya sesampainya di hadapan Zarina.
“Apa kau bilang?! Tidak! Kita tidak akan pergi kemana-mana tanpa Aliya, aku lebih baik pergi tanpamu daripada pergi tanpa Aliya!” Tegas Zarina membuat Shaziya cemberut.
“Ibu… kenapa Ibu berkata seperti itu? Ibu tidak lihat menantu Ibu sudah secantik…” Shaziya menghentikan kalimatnya ketika seluruh pandangan teralihkan.

Terdengar suara derap langkah kaki menuruni tangga dan tampak kini Aliya sedang menuruni tangga dengan langkah anggun, sementara bilal satu-satunya pria disana sempat dibuat melongo tak bisa mengatupkan mulutnya untuk beberapa saat ketika melihat penampilan Aliya yang tampak jauh dari prediksi.

Dengan mengenakan saree berwarna biru muda berpadu payet pink, menampakkan kulit lengan dan bahunya yang biasanya tertutupi dengan anarkali serba tertutup, warna Saree yang tampak kontras dengan kulitnya membuat ia tampak lebih bersinar, rambutnya yang ikal mayang dibiarkannya tergerai ke salah satu bahunya serta saree yang terdesign backless menampakkan sebagian punggungnya. Polesan make up tipis-tipis dengan lipstik merah maroon, membuatnya tampak lebih natural namun sensual.

Sementara Shaziya sempat terpaku menatap penampilan Aliya yang benar-benar jauh dari prediksinya, namun ia berusaha untuk bereaksi biasa saja, ia masih merasa penampilannya tetaplah yang paling cantik malam ini, namun dia mulai kesal dengan mata jelalatan suaminya, ia pun mencubit perut Bilal pelan dan menyadarkannya dari keterpakuannya.

“Woahh… jika melihat penampilan kakak ipar yang seperti ini, aku semakin mempertanyakan sihir apa yang sudah digunakan Kak Zain untuk memikat gadis cantik?” Decak Bilal.
“Maaf, aku agak terlambat” ucap Aliya singkat, mengabaikan ucapan Bilal, sesampainya ia di hadapan mereka
“Sudah… kita pergi sekarang saja.” Kata Zarina buru-buru dan mereka pun akhirnya pergi.

Dari pihak laki-laki di Barkath Villa hanya Bilal saja yang pergi, Paman Rehman yang seorang guru mengaji tak pernah tertarik dengan pesta kecuali pesta pernikahan, sementara Zain bahkan belum pulang sejak pergi ke kantor tadi pagi dan Aliya tidak perduli itu.

****
“Zain, ini tuan Mehta. Kau benar-benar tidak bisa datang ke pesta putri kami?” Kali ini Tuan Mehta Chaudhury turun tangan sendiri setelah dibujuk-bujuk oleh putrinya yang paling ia manjakan. Itu adalah langkah terakhir yang bisa Tridha lakukan untuk membuat Zain mau datang ke acara pesta kelulusannya, mengingat sang Ayah adalah rekan bisnisnya sekaligus orang yang dia hormati karena notabene adalah sahabat mendiang Nyonya Surayya, Zain pasti akan berpikir dua kali untuk menolaknya. Yaa.. Tridha benar-benar menginginkan kehadiran Zain di pestanya, tidak ada yang akan menyenangkan di pestanya tanpa kehadiran orang yang paling spesial baginya.

“Baiklah Tuan Chaudhury, karena anda yang meminta aku usahakan untuk datang” Zain yang awalnya lebih memilih menghabiskan akhir pekannya dengan berpesta di club malam mau tidak mau harus memenuhi undangan eksklusif dari rekan bisnisnya yang ia hormati itu tanpa memikirkan bahwa Tuan Mehta menginginkan kedatangannya hanya untuk putrinya. Tanpa mengganti baju kerja, Zain pun akhirnya memutuskan untuk menghadiri pesta undangan tuan Mehta.

*****
Di Pesta…

Pesta kelulusan itu diadakan di sebuah bellroom hotel mewah berbintang 5. Pesta yang mengusung tema internasional itu tampak dihadiri oleh berbagai kalangan orang-orang atas yang merupakan kerabat ataupun relasi bisnis Tuan Mehta, baik itu kalangan pebisnis, tak sedikit pula dari kalangan enterteiner mengingat bisnis tuan Mehta yang begelut di bidang hiburan.

“Hallo Tuan Chaudhury, apa kabar? Kita sudah lama tidak bertemu, anda sepertinya terlalu sibuk bepergian keluar negeri” sapa Zain setelah sempat menjabat tangan Tuan Mehta.
“Hallo Zain, apa kabar? Yaa.. sudah lama kita tidak bertemu, tapi sepertinya bukan aku saja yang sibuk bolak balik luar negeri, hehe” Ucap tuan Mehta dengan akrabnya.
“Yaa benar, bukankah kau juga baru saja pulang dari Indonesia?” Kali ini Nyonya Chaudhury yang menambahkan
“Yahh.. begitulah, aku ke sana sebentar untuk sebuah urusan penting”
“Ya, sebenarnya urusan kami di Thailand juga belum selesai, tapi demi menyambut kedatangan putri tersayang kami ini, dan merayakan kesuksesannya, kami harus menyempatkan diri untuk datang.” Tuan Mehta merangkul bahu putrinya.
“Ahh.. Tridha Ji, selamat atas kelulusanmu, aku dengar kau mendapatkan peringkat ke dua lulusan terbaik” Zain menjabat tangan Tridha dan gadis itu menyambutnya dengan tersipu. Tridha merasa berbunga-bunga mendengar Zain mengetahui tentang prestasinya, berarti itu bisa ditafsirkan bahwa Zain cukup memperhatikan perkembangannya. Padahal tanpa sepengetahuan Tridha, Zain hanya tak sengaja menguping obrolan Ibu-ibu yang membicarakan Tridha saat dia lewat di depan tadi.

“Terimakasih banyak Bhai atas kedatangannya, lama tak bertemu,” ucap Tridha lembut.
“Yahh sudah lama kita tidak bertemu, dan kau kelihatan semakin cantik saja sekarang.” Zain sukses membuat Tridha tersipu malu, yaa… melambungkan angan-angan seorang gadis adalah keahlian utama Zain Abdullah.
“Ya, kau benar Zain, kami benar-benar beruntung punya putri yang sangat cantik dan pintar seperti dia,” Tuan Chaudhury merangkul kembali putrinya, bangga.
“Yaa, Tridha memang luar biasa, putri anda ini adalah perpaduan antara bakat dan penampilan, siapapun pria yang mendapatkannya pastilah pria yang paling beruntung” Wajah Tridha semakin memerah dan sikap Zain yang seperti inilah yang membuatnya tak pernah bisa berpaling, entah itu jujur atau palsu, yang pasti Zain selalu berhasil membuat hatinya ketar-ketir.

“Suamiku, ada Tuan dan Nyonya Singh, kita harus menyambutnya.” Nyonya Chaudhury memberitahu suaminya.
“Ahh iya! Tridha, kau temanilah dulu Zain, kami tinggal dulu. Kalian mengobrol dan bernostalgia lah” ucap Tuan Chaudhury seraya menepuk pundak Tridha, lalu bersama istrinya beranjak pergi dan meninggalkan Zain dan Tridha berdua saja, tentu saja inilah moment yang paling diharapkan Tridha.

Untuk sesaat mereka tampak kikuk, lebih tepatnya perasaan itu hanya dimiliki Tridha seorang, namun tentu saja Zain paling pandai mencairkan suasana. Mereka pun mulai mengobrol dengan akrabnya, Zain terus mengeluarkan celetukan yang membuat Tridha tak kuasa menahan tawanya dan membuatnya kesulitan membedakan antara rayuan nyata dan candaan, apapun itu yang jelas itu membuat Tridha semakin tak bisa lepas dari jerat cinta Zain.

Sementara itu seturunnya dari mobil, Zarina langsung melancarkan jebakannya dengan mengajak Shaziya dan Bilal untuk berjalan lebih cepat dan meninggalkan Aliya yang tampak agak kesulitan berjalan dengan high heels nya dan membuat gadis itu sendirian menghadapi pesta yang masih asing baginya. Tak ada yang menyambutnya seperti tamu lainnya karena ia memang tidak kenal siapapun dan tak pula ada yang mengenalnya.

Dan beberapa saat pandangan Zain teralihkan ketika melihat sosok yang tak asing baginya baru saja datang. Zain terpaku memandanginya sesaat, jujur saja Zain cukup pangling. Apakah matanya sedang bermasalah atau dia sedang membayangkan kehadiran istrinya di pesta ini? Yaa… Zain pasti sedang mengkhayal, Aliya sudah menjadi momok dalam hidupnya dan sudah mengganggu ketenangan hari-harinya hingga ia selalu terbayang gadis itu ada dimana-mana.

Namun semakin lama gadis itu mendekat semakin ia sadar bahwa sosok itu nyata adanya. Tapi benarkah itu Aliya istrinya? Kenapa dia jadi kelihatan cantik sekali? Zain bahkan tak bisa mengalihakan pandangannya pada siapapun, tanpa sadar kakinya sudah mulai melangkah meninggalkan gadis cantik di sebelahnya dan berjalan mendekati gadis ber-saree biru yang belum menyadari kehadirannya karena sibuk mengedarkan pandangannya kebingungan seorang diri.

🎵Yeh Fitoor Mera Song is Playing 🎶
Dan kini Zain berhenti tepat di belakangnya, namun gadis itu belum juga menyadarinya. Gadis itu menoleh ke samping dan Zain dapat menyaksikan dengan jelas dan dekat wajah itu, yaa… itu benar! Dia memang Aliya, Aliya yang tampak lebih cantik dari biasanya, meski pesonanya selalu sama. Zain belum juga mampu mengedipkan matanya, bahkan untuk mengalihkannya barang sedetik saja ia seakan tak rela.

Aliya yang tak kunjung menyadari kehadiran Zain karena sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan Zarina berniat beranjak pergi dari sana, namun Zain menghentikan langkahnya dengan menarik lengan Aliya, membuat gadis itu secara otomatis menyadari keberadaannya. Sesaat pandangan mereka saling bertemu, sejenak Zain merasakan batinnya berdesir yang tak ia ketahui apa sebabnya sebelum akhirnya Aliya berbicara,
“Kau?!” Aliya tampak sangat kaget melihat kehadiran Zain seakan melihat kehadiran mahluk asing yang tak seharusnya berada di tempat yang bukan habitatnya.

Sebelum menjawab pertanyaan Aliya, terlebih dahulu Zain menggiring Aliya dari keramaian ke tempat yang lebih sepi.
“Sedang apa kau disini?” Tanya Aliya lagi
“Aku? haha! Seharusnya aku yang bertanya padamu sedang apa kau disini? Apa kau sengaja mengikutiku?!” Zain balik bertanya.
“Mengikutimu? Csh! Jika tau kau ada disini, aku tidak akan sudi datang ke tempat seperti ini, Bibi Zarina lah yang mengajakku ke sini, jika tidak aku lebih senang tidur di rumah saja!” Balas Aliya
“Lalu dimana Bibi Zarina? Sejak tadi aku tidak melihatnya?” Zain masih menganggap Aliya berbohong dan sengaja datang sendiri untuk mengikutinya.
“Entahlah, aku juga bingung mereka dimana, tadi mereka jalan cepat sekali, aku jadi ketinggalan.” Aliya kembali mengedarkan pandangannya mencari Bibi Zarina dan yang lainnya.

“Csh! Bilang saja kau rela-rela datang kemari demi mengikutiku, dan lihat penampilanmu sekarang… Saree? Kau pikir dengan saree mahal itu akan membuatmu terlihat lebih cantik dan membuat pria di pesta ini akan tergila-gila padamu? Lebih baik kau pulang sekarang Aliya Ghulam Heider! Daripada kau mempermalukan dirimu sendiri, kau tidak pantas berada di tempat seperti ini!” Zain mengoceh panjang lebar.
“Yah, mungkin pria disini tak akan ada yang tergila-gila padaku, tapi yang aku lihat sekarang kau lah yang sudah mulai tergila-gila!” Serangan balik Aliya yang cukup mengena itu membuat Zain kehabisan kata-kata, ia hanya menyeringai tak percaya dengan ketangguhan gadis itu.

Aliya lalu beranjak pergi dari hadapan Zain dengan tampang kesal. Zain tadinya masih belum puas mengganggu Aliya, ia ingin menyusulnya, namun ia pikir-pikir lagi biarkan saja gadis itu sendirian di pesta seperti orang bodoh, dengan begitu dia akan tau posisinya.

Acara inti dimulai, kini Tridha dan kedua orang tuanya sudah berada di atas panggung dan sudah disaksikan banyak pasang mata, sebelum prosesi pemotongan kue, Tridha membisiki sesuatu ke telinga MC, sang MC pun kemudian berucap.

“Ya, sepertinya Princess kita ini tak bisa menikmati kesuksesannya sendirian, rupanya dia butuh seseorang yang spesial ada di sampingnya. Kalau begitu kita panggilkan saja pria beruntung yang tampaknya begitu spesial bagi seorang Tridha Chaudhury itu, ini dia Zain Abdullah!” Tepukan tangan bergemuruh dari semua tamu, Zain awalnya agak bingung tiba-tiba namanya dipanggil, namun dengan tingkahnya yang cuek, ia tak berpikir panjang dan langsung naik ke atas panggung untuk memenuhi panggilan itu. Ia pun tak keberatan menemani Tridha memotong kue tart, menuangkan sampange dan ketika Tridha menyuapinya potongan pertama kuenya.

Zain hanya menikmatinya dengan santai, ia sudah sering diperlakukan istimewa oleh banyak gadis, dan ia tidak akan memikirkan apakah Tridha punya maksud lain atau punya perasaan dan pengharapan lebih terhadapnya.

Zarina yang berada di bagian depan deretan tamu, melihat Aliya dari jauh, gadis itu masih tampak kebingungan dan sendirian, ia menyeringai puas, rencananya berjalan dengan lancar. Aliya pasti sudah melihat kebersamaan Zain dengan Tridha, dia pasti sudah menyadari posisinya sekarang.

Sementara itu…

Seorang tamu spesial baru saja tiba, kegiatannya yang super padat membuat ia sering kali harus terlambat untuk menghadiri hal-hal yang bersifat pribadi seperti ini. Wajahnya yang sangat familiar membuat kehadirannya cukup menjadi sorotan. Seorang Karan Tucker hadir di pesta putri Tuan Chaudhury, itu tidaklah mengherankan mengingat Karan adalah salah satu artis yang berada di bawah naungan manajemen artist C&C Enterteinment milik keluarga Chaudhury, ia juga kenal baik dengan putri satu-satunya keluarga Chaudhury yang sedang merayakan kelulusannya itu.

Beberapa langkah yang penuh sorot memasuki bellroom, pandangan Karan langsung tertancap kepada seseorang di seberang sana, ya… Karan tak mungkin salah, ia sangat yakin, dialah orangnya! Gadis ber-saree biru itu, ia tidak akan pernah lupa wajahnya, meski sekarang gadis itu berpenampilan berbeda, tampak lebih cantik, ia masih dapat mengenali sosok itu dengan baik, dialah pemilik dupatta merah muda yang ada padanya. Ini adalah takdir, Tuhan mempertemukannya kembali dengan Cinderellanya. Kali ini Karan merasa ia tidak boleh kehilangan kesempatan emas ini, ia tidak akan membiarkan gadis itu menghilang lagi darinya.

Bhai kau mau kemana?” Tanya seorang asisten yang datang bersamanya.
“Tunggu sebentar, aku ada urusan penting!” jawab Karan lalu tanpa menunggu persetujuan sang asisten, ia langsung bergegas pergi.

🎵Chup Chup Ke Song, playing🎶
Karan berjalan cepat mendekati sosok gadis yang tak menyadari keberadaannya karena matanya tampak sibuk mencari-cari sesuatu. Dalam perjalanannya, Karan merasa langkah cepatnya terasa terlalu lambat dan jauh untuk mencapai gadis itu, ia ingin terus mempercepat dan mempercepat langkahnya agar bisa segera menggapainya, bahkan sekarang ia ingin berlari.

Namun tinggal beberapa langkah lagi ia menggapai si gadis misterius ketika tiba-tiba Tuan dan Nyonya Chaudhury muncul di hadapannya dan menghalangi jalannya.
“Karan Ji, kau sudah datang rupanya?” Sapa Tuan Mehta, Karan ingin melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan, namun Tuan Mehta semakin memasungnya dengan kalimatnya,
“kau mau ke mana? Jika ingin menemui Tridha nanti saja, dia masih sibuk mengobrol dengan orang spesialnya”
“I.. itu aku..” Baru beberapa detik Karan mengalihkan pandangannya dari gadis itu karena mendengarkan ucapan tuan Mehta dan gadis itu langsung menghilang dari pandangannya.

Karan mengedarkan pandangannya ke segala arah namun sosok itu tak terlihat dimana-mana.
“Sudahlah Karan, kami tau kau sibuk, tapi santailah sedikit dan nikmati saja pestanya. Kau juga harus menyumbangkan sebuah lagu untuk putri kami nantinya” Nyonya Chaudhury menambahkan. Harapan Karan akan pertemuannya dengan gadis itu lagi sedikit pupus, namun membuat ia semakin penasaran dan berhasrat ingin mencarinya.

Lelah dengan pencariannya, Aliya memutuskan untuk menjauh dari kemeriahan pesta dan memilih berdiam diri di area kolam renang di belakang bellroom yang cukup lengang. Ia duduk di pinggir kolam sambil memandangi biasan cahaya rembulan yang dipantulkan air kolam.
“Ck!! Apa yang aku lakukan disini? Ini bukan tempatku…” kesah Aliya kepada dirinya sendiri sambil mengayun-ayunkan kakinya di air setelah melepas high heels yang lumayan menyiksa kakinya.
“Ya… sudah kubilang kan ini bukan tempat mu? Kau sama sekali tidak pantas berada di sini,” tiba-tiba terdengar suara Zain dari belakangnya, Aliya reflek menolehkan kepalanya ke sumber suara dan dia menemukan Zain sedang berdiri menyender di dinding dengan tangan yang ia sedekapkan di atas perutnya.

Rupanya diam-diam ia mengikuti Aliya dengan niatan konyol hanya untuk mengejeknya. Zain lalu berjalan mendekati Aliya, dan berdiri di pinggir kolam tepat di samping Aliya.
“Kau pasti tidak pernah melihat kolam sejernih ini kan? apa lagi mau berenang di dalamnya.” Zain melanjutkan ejekannya.
“Ya.. kau benar, aku hanya pernah melihat kolam ikan dan berenang di kali. Kau puas?!” Aliya meninggikan suaranya kesal,

“Oh iya… apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya menemani Nona Chaudhury? pesta itu takkan berlangsung tanpamu” sindir Aliya lagi dengan nada suara sinisnya.
“Oh.. jadi sekarang kau cemburu?” Zain setengeh tergelak, pertanyaan Zain itu entah kenapa benar-benar membuat Aliya kesal, ia lalu berdiri dan bermaksud beranjak dari hadapan Zain namun Zain buru-buru menariknya dan merengkuh tubuh gadis itu,

“Bilang saja kau cemburu” lirih Zain.
“Csh! Sekali-sekali kau harus dibawa ke psikiater, penyakit sydrome narsismu itu sudah tingkat akut,”
Aliya sedikit memberontak namun itu malah membuat tubuhnya oleng dan hampir jatuh ke dalam kolam renang namun dengan sigap Zain menangkap tubuhnya.

Untuk beberapa saat posisi mereka tertahan. Posisi Zain merengkuh tubuh Aliya ke dalam dekapannya, dan pertemuan pandangan pun tak terhindarkan.

🎵Hasi female version is playing🎶

Untuk sesaat yang penuh hasrat dan gejolak, mereka saling menatap dengan sorot mata yang tak bisa diartikan oleh satu sama lain. Tanpa kendalinya, Zain memajukan wajahnya dan terus memperkecil jarak dengan wajah Aliya, matanya sudah terfokus dengan bibir merah merekah milik Aliya seakan kembali tertarik ingin menenggelamkan diri di sana.

Namun kemudian Aliya tersadar dari keterpanaannya, ia melepaskan dirinya dari dekapan Zain lalu tanpa mengatakan apapun ia beranjak dari hadapan suaminya itu dan kali ini Zain tak berusaha menahannya.

Aliya kembali ke dalam keramaian pesta, lantunan musik modern india mengalun memenuhi seisi ruangan, sesi ini adalah sesi bebas, jadi saatnya semua orang menikmati pesta sambil menikmati minuman dan kudapan yang telah disiapkan dan ada pula yang asik mengobrol dan bercengkrama satu sama lain. Hanya Aliya yang masih kebingungan tanpa seorangpun yang bisa ia ajak mengobrol.

“Aliya!” Aliya mendengar sebuah suara memanggilnya di saat ia baru saja berpikir bahwa sebaiknya dia pulang duluan dan sedirian dengan kendaraan umum saja.

Namun akhirnya ia menemukan Bibi Zarina, Bilal dan Shaziya yang sejak tadi ia cari-cari. Dengan perasaan lega ia bergabung dengan keluarga barunya ditambah kehadiran Tridha di sana.

“Kau kemana saja? Kami dari tadi mencarimu ke mana-mana?” Ucap Zarina berlagak perhatian.
“Iya.. aku juga sejak tadi mencari kalian, banyaknya tamu membuatku kesulitan mencari kalian.” Aliya menerangkan.

“Selamat datang Aliya Ji, terimakasih sudah datang ke pestaku, aku harap kau menikmati pestanya. Maaf baru bisa menyambutmu sekarang, tadi aku sibuk menyambut tamu-tamu penting,” ucap Tridha berlagak ramah.
“Tidak apa-apa, aku ucapkan selamat atas kelulusanmu Nona Tridha,” ucap Aliya tulus seraya menyalami Tridha.
“Oh iya, ku dengar kau sangat pandai bernyanyi, aku sangat penasaran ingin mendengarmu bernyanyi, jadi aku sudah bicara dengan MC untuk memanggilmu, kau tidak keberatan kan?” Aliya terkejut mendengar pernyataan Tridha, kenapa dia melakukannya sudah sejauh itu? Padahal Ia benar-benar belum siap, tidak ada niatan sama sekali untuk melakukan aksi panggung apapun di pesta itu.

“Siapa yang bilang aku bisa menyanyi? Sebenarnya aku tidak bisa…”
“Ahh, Aliya Ji sangat rendah hati. Kau jangan kaget, tidak ada yang Zain Bhaijaan sembunyikan dariku” ucap Tridha dengan bangga memotong ucapan Aliya.
“Zain?!” Aliya benar-benar kesal sekarang, dia benar-benar tidak menyangka Zain sangat berniat ingin menjatuhkan dan mempermalukannya sejauh ini, ia akan membunuh Zain Abdullah.

“Tidak apa-apa kakak Ipar, sekarang kau bebas menunjukkan bakatmu disini, kami mendukungmu!” Ucap bilal antusias
“Tapi…” Aliya baru saja akan menjelaskan bahwa dia sama sekali belum siap, dan dia ingin Tridha segera membatalkan dan mencoret namanya di list MC. Namun, seakan semuanya terlambat tiba-tiba sang MC sudah memanggil namanya.

“Kepada Aliya Ghulam Haider, dipersilahkan untuk segera naik ke atas panggung dan menyumbangkan suara emasnya,” ucap sang MC disusul dengan suara riuh tepuk tangan para hadirin, membuat Aliya semakin panik, rasanya ingin sekali ia menghilang dari keramaian itu namun tanpa kendalinya Sang MC kemudian menunjuk dirinya secara spesifik.

“Kepada nona Aliya Ghulam Haider, Nona cantik bersaree biru di seberang sana, sekali lagi kami mengharapkan kesediannya untuk menyumbangkan suara emasnya” ucap sang MC lagi seraya mengarahkan pandangannya ke arah Aliya, dan membuat semua pandangan kini terarah padanya.

Aliya tak bisa menghindar lagi, ia tak punya pilihan lain selain memenuhi panggilan itu, meski ia benar-benar tak ingin, dengan langkah diseret Aliya berjalan ke arah panggung, sementara Zarina, Tridha dan Shaziya tampak menyeringai licik, sebentar lagi mereka akan melihat pertunjukan yang sangat menarik.

Sementara Zain sempat kaget, ia baru saja datang dan melihat Aliya sudah berada di atas panggung. Ia kemudian tersenyum senang melihat ekspresi panik Aliya, sudah bisa dipastikan gadis itu akan segera mempermalukan dirinya sendiri seperti prediksinya. Zain menyedekapkan kedua lengannya di atas perutnya, tak sabar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aliya menggigit bibir bawahnya ketika sang MC mempersilahkannya untuk memulai pertunjukannya. Dengan tangan yang gemetaran Aliya meraih microphone di hadapnnya, tampak sekali ia sangat gugup. Membuat ketiga wanita itu semakin menikmatinya, dan Zain yang semakin tak sabar melihat kejatuhannya.

Musik kemudian mengalun sebelum Aliya merasa benar-benar siap. Memasuki intro, ia berusaha untuk mempersiapkan dirinya, namun hingga memasuki tempo lagu, ia tak juga mampu mengeluarkan suaranya, sesaat orang-orang mulai kasak-kusuk membicarakan ketidak mampuan Aliya dalam bernyanyi, kecuali seorang pemuda di seberang sana, yang tak berkedip menatap Aliya, yaa.. ia benar-benar sudah menemukan Cinderellanya!

Hingga hampir setengah menit Aliya tak juga mengeluarkan suara emasnya seperti yang digadang-gadangkan oleh sang MC. Lalu sejurus kemudian pertunjukan itu menjadi semakin menarik dalam artian yang sebenarnya.

Aliya akhirnya mengeluarkan suaranya tepat ketika lagu memasuki bagian Reff,
🎵Sun raha hai na tu, doorahi hu mein, Sun raha hai na tu, doorahi hu mein… 🎶, Aliya melantunkan lagu berjudul ‘Sun Raha Hai’ yang setaunya merupakan salah satu soundtrack sebuah film populer bollywood. Meski tak pernah menonton film itu, tapi Aliya hafal semua lagu-lagunya karena teman-teman penggemar Bollywood nya di Indonesia sering memintanya untuk menyanyikan lagu-lagu hindi kesukaan mereka.

Yaa… selain teman-temannya di Indonesia, tak ada yang tau bakat menyanyi Aliya, bahkan ayah Usman sekalipun, apalagi Zain. Aliya memang tidak suka memamerkan bakat terpendamnya itu, karena baginya menyanyi hanya sekedar hobby.

Namun hobby dan bakat terpendam itu kini telah sukses membuat semua orang terpana dan hanyut akan lantunan suara indah mendayu-dayu milik Aliya. Zarina, Shaziya dan Tridha tampak bingung, saling bertukar pandang menyiratkan mereka semua tak ada yang menyangka jadinya akan seperti ini.

Zain pun tak luput dari keterpanaan itu, yaa.. dia bukan hanya terpana, tapi terpesona, matanya benar-benar hanya fokus menatap Aliya dengan tatapan penuh kekaguman yang tak pernah sudi ia akui.

Lalu di bait-bait terakhir lagu, seluruh hadirin disuguhi kejutan dengan pertunjukan tambahan yang tak pernah mereka duga, yaa… sesaat Aliya menghentikan nyanyiannya ketika bait itu secara sepihak diambil alih oleh suara lain, suara bass seorang pria. Di tengah-tengah kerumunan orang Karan muncul dengan microphone yang sudah ia genggam sambil melantunkan lagunya, Aliya terpana ketika pelan tapi pasti pemuda itu berjalan mendekatinya lalu berhenti di hadapannya.

Saat itu orang-orang baru menyadari sesuatu yang penting, penyanyi asli lagu itu muncul sendiri di hadapan mereka, yaa… lagu itu adalah ciptaan dan dipopulerkan sendiri oleh Karan.

Aliya tercenung sesaat ketika Karan sudah berdiri di hadapnnya seakan mengajaknya untuk berduet. Dan di bait terakhir, secara spontan terciptalah kolaborasi duet yang apik antara Karan dan Aliya yang sukses membuat semua orang terpana.

Di saat semua orang terpana akan kolaborasi sempurna itu, tidak demikian dengan perasaan Zain. Ia terkejut, ia kesal, ia terbakar, ingin rasanya ia berlari ke arah Aliya dan menarik gadis itu dari atas panggung, namun hasratnya itu berperang dengan ego dan akal sehatnya, jika ia muncul dan merenggut Aliya dari sana, maka semua orang akan tau statusnya dengan Aliya, dan egonya tak mengizinkannya, namun hatinya berkata sebaliknya….

To Be Continued.

Jeng Jeng!! Part 5 eke syudahi dulu sampai di sini guys… Next part bakal gue bikin lebih membara lagi, dan rencananya bakal pindah lokasi shooting ke Korea. Judulee Hanimun In Korea lah kira-kira 😆😆So… pantengin terus ya guys, budget gede banget lho inih. Rugi eke kalau readersnya pada bungkam semua. Sangat amat ditunggu komenan cetarnya, makin cetar dan panjang komennya, maka makin cetar dan panjang pula part 6. See ya 😗😗

Advertisements

29 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 5)

  1. Wow..cpet bnget udh dipublish.. loppph loppph uu mb nysssss.. 😚😘😙
    Ninggalin jejak dlu sbelum mbaca.. 😅😅
    Next chapter ke KOREA!!!! WOW WOW WOW!! 😃😉

  2. Dr awal bcax sdh ketawa-ketiwi 😂, # jejak kekuasaan =apa ini👈😱#, pnsran apa yg mo dikatakan karan ke aliya di panggung😦, zain yg mulai cemburu😱, n kelicikan trisula 😈 ( Zarina, Tridha,Shaziya= ZTS, kusingkat dwe 😁), ni part yg paling berbobot 👏👏👏* kyk kritikus ae😄*, cerita x mkin pjng mkin puas, eng ing eng makin pnsran part selanjutnya 🙀😹😉…KEREN ABIS👍👍👍👏👏👏

  3. omg…keren….lanjut donk chapter 6 atau sekaligus 7 8 9 10…gak sabar happy ending…ser seran baca nya terbawa alur cerita dan berkhayal bebas..heee thankz author

  4. Wow… Unique,,,, Beinteha,,, bingitz ceritanya,,,, tak terduga,,, tapi semakin dibaca semakin menarik .. it’s true briliant love story….. bener bener seperti penulis film … pokonya satu kata dech mbak… OK Bingitz,,, Next…. Gag Sabar nech….Pengen cepet diriis lanjutanya,,,, 🙂

  5. Duhhhh aiii kezel jga sama tingkah zain… gak jauh beda sama yg dia peran kn di beintehaa… but its really fun say… bisa membayangkan gimana guhup nya aaliya.. marah nya aaliya.. kesalnya aaliya dengan tingkah zain… di next secepatnya yah say jgn biarkan kami lama menunghu hihiji… sukses terus buat karya2 nya…

  6. Aduhhh….udah gregetan bacanya sangking penasaran ama reaksi zain ehhh….malah bersambung,jadi sedih sendiri nih,jangan lama lama ya buat chapter 6 nya,juga jangan lupa buat chapter 6 nya yang panjang………..banget,selalu banyak penggemarnya loh cerbung ini,kayak lagi nonton sinetron beintehaa next generation beneran di tv
    Jangan lupa ya chapter 6 nya secepatnya n yang panjang…….banget(menyiksa penulis😂)Next terus ya kak

  7. Aliya ft karan yah yg bikin zain terbakar ? Wkwkwkkw rasain siapa suruh jadi orang cuek bebek banget tar istri nya di gendol orang bari tay rasa zain

  8. WOW!! emejing mba.. Mauny si Karan trgila gila sampe mati sma Aliya, trus Zain cemburu, dan si nenek sihir *itu tuh* lbih cmburu lg, stres, akhirny jdi org gila deh..ahahahaha.
    Sukses buat FF nya 😉
    Chapter6 ny jgn lamo2 ya mbwaaa..

  9. Ayo mbak gak sabar part 6 nya …… kalo bisa besok udah jadi… gakdeng lu kira bikin ginian gampang setdah… maaf ya mbak soalnya udah gak sabar sumvpahhhh

  10. Mbaaaaa…. bisa banget yee bt org penasaran, lgi enak2ny baca nyambi ngayaall, tb2 bersambuuunng..
    Untung kt jauh y mb, kl g, udh ak uwel2 mbaaa nyaaa.. hehehhe

  11. Waduh makiin makin seru ae ich.. Ditunggu bgt kak nis , bulan madu di korea plg hrs bwa kbr aliya hamil ya kak nis , 😡 smgaaaaaah 😍

  12. Pasti pas honeymoon diKorea banyak Aksi dan tingkah lucunya si Zain dan Aaliya..Pulang bawa oleh2 Zain Junior ya..hihihi..SEMANGAT YA NULISNYA, CHPATER 6 NYA DITUNGGU BANGET

  13. Bagus banget. Keren 👍cepetan dilanjut dong. Udah ga sabar pengen tau kelanjutannya pasti seru banget 👏 top banget deh

  14. Emejinggggggggggggggg,,,,,gilaaaaaaaaakkkkkkkk,,,,,baca ne crita bikin susah beranjak dr tempat duduk, puanjang tp keren critanya, baru kali ini seumur idup aku mau baca crita yg puanjang bgt kyk gini….salut ama yg nulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s