Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 6)


image
Judul   : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre   : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts    : 
♡ Harshad Arora as Zain  
     Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya 
     Zain Abdullah
♡ Karan Tacker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as 
      Herself
♡ All Beintehaa Casts

Located : 
       Mumbai, India
       Seoul, South Korea

Chapter Numb : 10 Chapters

BI 2 Chapter 6

Di saat semua orang terpana akan kolaborasi sempurna itu, tidak demikian dengan perasaan Zain. Ia terkejut, ia kesal, ia terbakar, ingin rasanya ia berlari ke arah Aliya dan menarik gadis itu dari atas panggung, namun hasratnya itu berperang dengan ego dan akal sehatnya, jika ia muncul dan merenggut Aliya dari sana, maka semua orang akan tau statusnya dengan Aliya, dan egonya tak mengizinkannya, namun hatinya berkata sebaliknya, hatinya inginkan Aliya untuk turun dari sana, hasrat menginginkan hanya  tak ada yang boleh menatap Aliya seperti itu.

Setelah pergolakan panjang dalam jiwanya, ia tak perduli lagi dengan ego dan akal sehatnya yang melarang keras dirinya untuk mendekati gadis itu, hingga tanpa kendali dan kesadaran penuh, Zain akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Aliya. Namun langkahnya segera terhalang oleh kehadiran seseorang di hadapannya.

“Kak Zain, kau kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana” tanya Tridha lembut dan berlagak tak tau apa-apa. Zain sesaat tak menjawab, ia masih sibuk melirik ke arah panggung dan berniat ingin melanjutkan langkahnya hingga menggapai Aliya, namun lagi-lagi Tridha menghalanginya.

“Ayo ikut aku Kak, ku perkenalkan kau dengan teman-temanku,” ajak Tridha seraya meraih lengan Zain dan mendekapnya lalu menggiringnya menjauh dari panggung. Tridha membawa Zain ke hadapan teman-temannya yang baru datang, mereka terdiri dari empat orang, satu laki-laki dan tiga perempuan.

Dari penampilan mereka terlihat sekali mereka semua adalah anak-anak yang berasal dari golongan orang-orang berkelas, salah satu dari mereka ada yang terlihat seperti orang Eropa, ada pula yang berasal dari kalangan selebritis, dan anak-anak pewaris perusahaan besar di kota Mumbai, Zain yang satu kalangan dengan mereka tentu tak kesulitan untuk berbaur.

“Tridha, Siapa dia?” Tanya salah satu teman Tridha setengah berbisik, dari ekspresinya tampak sekali ia curiga bahwa Zain bukanlah teman biasa bagi Tridha. Tridha tak menjawab secara lugas, ia hanya tersenyum malu-malu lalu berkata,
“Perkenalkan Ini Zain, Kak Zain… pekenalkan ini teman-temanku”
Hello… I’m Zain Abdullah” Sapa Zain ramah sambil menyalami satu persatu teman-teman Tridha, keempatnya pun menyambut hangat jabatan tangan dan perkenalan diri Zain.
“Ahh… jadi kau Zain Abdullah, CEO dari Barkath Group itu?!” Seru salah satunya dengan mimik terkejut.
“Ii…iyaa..,” Jawab Zain tidak ingin terlalu memamerkan posisinya.
“Woahh, ini pertama kalinya aku melihat sosok asli CEO stasiun TV nomor satu di negeri ini! aku hanya pernah melihat mendiang Nonya Surayya, tapi Ayahku pasti sudah mengenali anda,” ungkap si gadis berambut pendek.
“Ya, sebuah kehormatan besar bagi kami bisa bertemu anda secara eksklusif,” tambah si teman pria.
“Ohh.. jadi yang kau maksud si pencuri hatimu itu adalah CEO Barkath Group?” Si gadis berambut pirang bertanya lirih setelah menyenggol pelan lengan Tridha. Tridha tak menjawab dan hanya tersenyum sumringah, memberikan kesan ambigu bagi si penanya.

Sementara itu…

Alunan irama lagu kini tak lagi terdengar, yang terdengar hanya riuh tepukan tangan dari seluruh hadirin yang menyaksikan.

“Sayang, apa kau yakin itu Karan Tacker yang tadi pagi kita tonton di TV? Ini benar-benar tidak mungkin!!” Shaziya tampak frustasi mengetahui yang bersama Aliya kini adalah aktor idolanya.
“Hmmh, kalau dilihat-lihat memang sangat mirip, tapi yang ini terlihat lebih tampan dari yang di TV, bisa saja bukan dia,” Bilal berusaha menenangkan istrinya yang sedang dilanda rasa iri dengki.

Sementara, sepertinya pertunjukan belumlah usai, penonton kini mengakhiri tepukan tangan mereka seakan menantikan pertunjukan menarik selanjutnya yang akan mereka tampilkan. Dua orang yang baru saja menampilkan duet apik mereka di atas panggung itu kini saling terpaku menatap satu sama lain. Karan yang terus menatap Aliya dengan tatapan penuh haru seakan pencariannya telah berakhir, akhirnya ia berhasil menemukan seseorang yang dia cari seumur hidupnya.

Sementara Aliya masih bingung dengan situasi yang dia hadapi sekarang. Semuanya terjadi begitu cepat dan tak teduga, tiba-tiba ia memberanikan diri untuk bernyanyi di hadapan orang banyak, lalu tiba-tiba saja seseorang kemudian muncul seperti seorang malaikat penolong.

Siapa lelaki itu? Aliya tak cukup mengenalnya, tapi lelaki itu tersenyum padanya seolah-olah mereka sudah saling mengenal sejak lama, tapi ia akui memang sepertinya dia pernah melihatnya, tapi dimana?.

Dan kini seakan sedang menampilkan aksi teatrikal, Karan mengulurkan tangannya ke arah Aliya seakan ia sedang mengharapkan dan menunggu Aliya memberikan tangannya.

Dan beberapa saat dalam kebingungannya, Aliya seakan mengikuti jalannya pertunjukan dengan menyambut dan memberikan tangannya kepada Karan. Karan lalu meraih tangan Aliya, lalu perlahan ia mencium punggung tangan gadis itu bak gaya klasik ala Eropa, sesaat Karan tersenyum ke arah Aliya dan mengerlingkan nakal sebelah matanya, Aliya yang kaget sontak menarik tangannya.

Karan tak memberikan kesempatan kepada Aliya untuk mencerna apa yang terjadi, ia lalu merangkul gadis itu di hadapan semua orang, sekali lagi terdengar suara riuh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan. Karan mengarahkan tubuh Aliya untuk membungkuk beberapa kali di hadapan hadirin seakan usai menampilkan sebuah pertunjukan di atas panggung broadway, beberapa saat seperti kerbau yang dicocok hidungnya, beberapa saat dalam kebingungannya, setelah menoleh dan menatap beberapa saat wajah orang di sebelahnya, Aliya kemudian mulai mengingat sesuatu, yaa… akhirnya ia ingat dimana ia pernah bertemu lelaki itu, dupatta? Mesum? Yaa… lelaki itu adalah orang yang sudah mencuri dupattanya dan orang mesum yang paling diingatnya setelah Zain.

Mereka masih berdiri di atas panggung memberikan waktu kepada hadirin untuk memberikan apresiasinya dengan tepukan tangan meriah nan panjang.
“One more! One more! One more!” Kemudian orang-orang mulai mengumandangkan keinginan mereka untuk mendengarkan kembali Karan dan Aliya menyanyikan satu buah lagu lagi.

Aliya masih fokus memandang pria di sebelahnya, dan Karan pun kemudian menoleh dan membuang seulas senyuman manis ke arah Aliya. Namun kali ini reaksi Aliya berbeda, seakan menyadarinya dirinya baru saja tertipu, tanpa mengatakan apapun tiba-tiba ia menginjak keras kaki Karan.

Sontak Karan ingin merintih kesakitan, namun ia tahan sekuat tenaga mengingat mereka sedang berada di atas panggung dan dilihat oleh banyak pasang mata, dan orang-orang tidak ada yang menyadari perbuatan Aliya karena masing-masing sibuk dengan keterpukauan mereka.

Aliya baru saja akan lepas kendali dan sudah mengagendakan adegan penyiksaan terhadap pelaku ‘mesum’ dan ‘pencuri’ itu di depan semua orang agar semua orang tau siapa pria itu, namun Karan segera menghentikannya, dengan kemampuan akting yang sudah tingkat profesional, dengan sigap ia merangkul Aliya dan menggiringnya turun dari atas panggung dan menjauhkan diri dari panggung dan dari hadapan semua orang.

Karan membawa Aliya ke sisi ruangan yang agak sepi dari keramaian, Aliya kembali akan mengamuk dan berteriak, namun Karan segera menyenderkan tubuh Aliya ke tembok mengapitnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya sesaat.

Karan lalu menempelkan jari  telunjuk tangan sebelahnya di bibirnya dan memberikan kode pada Aliya untuk diam, pandangannya menyiratkan permohonan yang sangat untuk tidak melakukan kekacauan ‘tolong diamlah, biarkan aku menjelaskan semuanya padamu’ itulah makna tersirat dari tatapan Karan, pemuda itu tau dengan jelas gadis itu sudah mengambil ancang-ancang untuk membeberkan ‘kejahatannya’.

Setelah melihat Aliya lebih tenang dan mulai jinak, Karan lalu melepaskan bekapan mulut Aliya dan tak lagi mengapit tubuh gadis itu, namun reaksi tak terduga kembali dilakukan Aliya, tiba-tiba ia dengan kejamnya ia menendang tulang kering Karan. Sesaat Karan tampak menggelinjang tertahan seperti cacing kepanasan menahan rasa sakit di kakinya akibat tendangan kaki kuda Aliya.

“Dasar pria mesum!! Kau benar-benar mengantarkan sendiri nyawamu di hadapan mautmu! Apa kau pikir aku ini bodoh yang akan diam saja setelah kejadian di toilet waktu itu dan sekarang kau mencium tanganku?!” Maki Aliya dengan suara yang ditahan, ia juga cukup sadar diri bahwa dia harus menghormati orang-orang di pesta itu dengan tidak berbuat keributan, tapi setidaknya pria itu harus tau dengan siapa dia melakukan perbuatan tidak senonoh.

Satu dua orang melewati mereka dan setiap kali ada orang yang lewat, Karan akan berlagak seolah sedang mengobrol akrab dengan Aliya.
“Dengarkan aku nona, pertama kau harus tau, aku sama sekali tidak bermaksud mengintipmu, sudah kukatakan aku hanya menghindari…” Aliya segera memotong perkataan Karan,
“Menghindari fans mu? Kau mau bilang lagi kalau kau adalah seorang aktor? Haha… funny! Kau butuh ke psikiater seperti seseorang,” Aliya mulai membawa-bawa Zain dalam masalah ini,
“Aku bersumpah Nona,  selama beberapa hari ini aku tidak pernah berhenti mencarimu demi untuk mengembalikan dupattamu, aku sudah berjanji akan menemuimu lagi dan Tuhan sudah menakdirkan kita untuk bertemu lagi…” Aliya kembali memotong kalimat Karan
“Csh! Sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu dari sebuah tayangan di TV, hei Tuan, berhentilah berlagak bahwa kau adalah seorang aktor terkenal, kau bahkan mengutip kata-kata….” ucapan Aliya terpotong seakan menyadari sesuatu.

Ingatannya mulai menghubung-hubungkan antara suara pria itu dengan aktor dalam acara yang ditonton Shaziya tadi pagi, juga dupatta, lelaki itu bisa bernyanyi bak seorang penyanyi profesional dan mirip sekali dengan suara penyanyi asli lagu itu, serta lelaki itu yang katanya menghindari kejaran fans, mungkinkah dia….? Ah… tidak-tidak! itu tidak mungkin! Aliya menepis pikirannya sendiri.

“Karan!!” Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tak jauh di seberang sana. Aliya dan Karan reflek menoleh ke arah yang sama, yakni ke sumber suara, dan kini tampak Tridha tengah tersenyum ke arah Karan dengan menggandeng seseorang, ia pun berjalan ke arah mereka.

Mata Aliya cukup tak nyaman melihat orang yang digandeng mesra oleh Tridha. Yaa.. Tridha kini berjalan dengan menggandeng Zain Abdullah,
“Hai Karan, long time no see, selamat datang di pestaku anyway,” sapa Tridha dengan akrabnya.

Sementara Zain fokus menatap gadis di sebelah Karan dengan sorot tatapan yang begitu tajam, bahkan jika tatapan bisa membunuh, Aliya pasti sudah terkapar dengan tubuh berdarah-darah, sedangkan Aliya memilih memalingkan wajahnya seakan menghindari kontak mata.
“Yah, long time no see selamat atas kelulusanmu, kau luar biasa,” ucap Karan seraya menyalami Tridha.
“Kau juga semakin sukses saja saja sejak dua tahun belakangan ini, wajah dan suaramu ada dimana-mana, aku bahkan hampir bosan setiap kali menonton TV selalu melihat penampakan wajahmu, haha!!” Canda Tridha, mendengar itu membuat Aliya kaget luar biasa, jadi benar orang di sebelahnya kini adalah seorang selebritis terkenal bernama Karan Tacker? Jadi pria itu tidak berbohong? Jadi dialah yang salah paham selama ini?

“Aish… ini benar-benar memalukan! Karan pasti berpikir aku adalah gadis kampungan yang besar kepala!”

Batin Aliya bergumam frustasi, ia benar-benar malu sekarang, ia bahkan tak sanggup menatap Karan.

Aliya berniat untuk beranjak pergi, tanpa kata ia mencoba mengangkat kaki dari sana namun Karan segera menarik lengannya. Mata Zain semakin melotot melihat pemandangan itu, tapi dia masih menahan diri untuk mengatakan sesuatu.

Tridha yang tau status Zain dan Aliya tentu saja menyadari gejolak di mata Zain saat menatap Aliya, tentu saja ia tidak menyukai tatapan penuh arti Zain itu, kata Bibi Zarina, Zain membenci gadis itu, tapi kenapa Zain menatap Aliya dan Karan seperti orang yang sedang terbakar cemburu?

Tapi tidak! Karan dekat dengan Aliya itu hal yang sangat bagus dan menguntungkan bagi Tridha,
“Wah, Mumbai benar-benar kecil ya?! Aku tidak menyangka Aliya Ji dan Karan Tacker bisa saling mengenal, kalian bahkan sudah sedekat ini?” ucap Tridha lagi.

“Ahhh tidak! sebenarnya kami baru saling mengenal, baru saja! walaupun sudah pernah bertemu beberapa hari sebelumnya, iya kan nona Aliya?” ucap Karan jujur lalu menyenggol Aliya seakan menggodanya.

“Apa?! Jadi baru beberapa hari di Mumbai dia sudah berkenalan dan akrab dengan pria asing? Csh! Aliya Ghula Haider, kau benar-benar gadis liar!”

Batin Zain memaki kesal.

“Ngomong-ngomong tadi itu luar biasa! Kalian benar-benar menampilkan sesuatu yang luar biasa di pestaku, Aliya Ji diam-diam rupanya penyanyi yang baik, kupikir kau adalah seorang penyanyi profesional, tapi yang terpenting adalah Chemistry kalian di atas panggung, kalian benar-benar tampak serasi! Aku sampai berfikir bahwa kalian adalah pasangan yang saling mencintai di kehidupan nyata.” Tridha tampak sangat kagum dan tampak jelas sekali ia mendukung hubungan Aliya dan Karan.

“Oh ya? Haha.. padahal kami melakukannya dengan spontanitas, aku hanya benar-benar terpesona dengan suara Aliya Ji, suaranya benar-benar secantik orangnya,” kali ini Karan mulai melancarkan trik pendekatannya kepada Aliya, padahal pujian itu malah membuat Aliya semakin malu pada Karan.

“Cantik?!  Gadis berhidung seperti bekantan itu dibilang cantik? Ck! Apa sekarang pria ini sudah buta?”

Zain terus berujar sinis dalam hatinya saja. Ia lama-lama tidak tahan juga Aliya terus mendapat pujian yang menurutnya tak pantas ia dapatkan, gadis itu bahkan sudah mulai genit dengan menggoda pria lain, dia tidak terima itu, dia tidak senang melihat kebahagiaan gadis itu. Dia benar-benar harus segera berbuat sesuatu sekarang.

Sementara kini Aliya terus memalingkan pandangannya antara tak ingin melihat wajah Karan karena malu dan  menghindari tatapan mematikan Zain yang tak pernah berpaling darinya.

“Ahh… asik mengobrol aku sampai lupa memperkenalkan kalian, Karan perkenalkan ini Zain, Kak Zain perkenalkan ini Karan, teman lamaku.” Tridha berusaha membuyarkan lamunan Zain.

“Yaa.. bohong sekali jika aku mengatakan bahwa aku tidak mengenal CEO stasiun TV tempat serialku dulu tayang, tapi mungkin Tuan Zain Abdullah lah yang tak mengenalku, tapi ini kehormatan besar bagiku, hai I’m Karan,” sapa Karan sambil mengulurkan tangannya lebih dulu.

Sesaat Zain tampak enggan membalas uluran tangan itu, ia pun berpikir sejenak. Kemudian akhirnya ia membalas uluran tangan persahabatan dari Karan itu.

“Zain Abdullah. Kau tidak perlu memanggilku ‘Tuan’ kita kan sebaya, cukup panggil ‘Zain’ saja,” ucap Zain mulai terdengar ramah
“Ahh! Jika Tridha sudah mengenal Aliya, berarti kalian juga pasti sudah mengenal, bukan? Aku tidak perlu lagi memperkenalkan anda dengan Nona Aliya kan?” Karan memastikan, namun jawaban Zain benar-benar melebihi perkiraan Karan. Zain lalu menatap dan menyeringai sinis ke arah Aliya, gadis itu masih tetap membuang muka.

“Ck! Yah, tentu saja! Mana mungkin aku tidak mengenal istriku sendiri?!” Ucapan Zain jelas saja membuat semua orang terkejut, Tridha benar-benar sudah berfikir bahwa Zain tidak akan pernah mengakui Aliya sebagai istrinya, karena dia hanya terpaksa menikahinya, begitu juga dengan Aliya, ia yang tadinya mengalihkan pandangan dan menghindari kontak mata akhirnya menoleh terkejut ke arah Zain.

Terlebih lagi Karan, dia yang tadinya tidak tau apa-apa langsung mendapati kenyataan bahwa Aliya, gadis yang cukup menarik perhatiannya akhir-akhir ini sudah bersuami dan tak tanggung-tanggung, dia langsung bertemu sendiri dengan suaminya.

“I… istri? Ka.. kalian?” Karan mengarahkan telunjuknya ke arah Aliya dan Zain secara bergantian.
“Ya! Tepat sekali. Kami baru saja menikah di Indonesia,” ucap Zain sambil tersenyum licik.

Ia lalu berjalan mendekati Aliya lalu merangkulnya.
“Yahh.. bisa dibilang kami ini pasangan pengantin baru, masih hangat-hangatnya iya kan sayang?” Aliya menatap wajah Zain, matanya mengisyaratkan banyak pertanyaan, ‘apa-apaan ini? Apa maksudmu melakukan semua ini?’ itu adalah makna dari tatapan Aliya yang jelas Zain pahami.

“Sepertinya banyak yang belum tau bahwa anda rupanya sudah menikah,” Karan tampak masih shock, ia masih setengah percaya.
“Yaa… kami  hanya belum mengumumkannya, untuk itulah aku membawanya datang ke sini, agar bisa memamerkan kepada semua orang bahwa aku punya istri yang cantik,” Zain menyuil kecil dagu Aliya tampak gemas, tapi Aliya tau pasti itu adalah bentuk ejekan.

“Kalau begitu, ayo sayang ku perkenalkan kau dengan relasi bisnis dan kerabatku, nanti kita kemalaman, kau tau kan setelah ini kita akan melakukan sesuatu yang wajib?” Zain mengerlingkan sebelah matanya seakan menggoda istrinya itu dan mulai memancing pikiran yang tidak-tidak di benak Karan maupun Tridha,
“Kami permisi dulu,” ucap Zain dan tanpa menunggu tanggapan dari Karan maupun Tridha, Zain langsung saja menggiring istrinya ke arah keramaian.

Meninggalkan Tridha dalam kekecewaan dan kecemburuan serta obsesinya yang semakin besar untuk mendapatkan Zain, dan Karan yang masih setengah percaya dengan kenyataan yang barusan ia dapati, apa yang bisa ia lakukan jika wanita yang ia taksir telah bersuami? Tapi haruskah ia mengubur dalam-dalam perasaan yang baru saja bersemi di hatinya? Dengan kenyataan pesimistic seperti itu, entah kenapa hatinya masih tetap menginginkan dan penasaran dengan gadis pemilik dupatta merah muda itu.

Zain benar-benar memperkenalkan Aliya dengan semua orang, dan tentu saja reaksi awal semua terkejut dengan kenyataan itu, namun setelahnya mereka semua mendukung dan memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru yang ‘seharusnya’ berbahagia itu.

“Zain kejutan macam apa lagi ini? Kami bahkan tidak pernah mendengar rencana pernikahanmu selama ini” reaksi awal tuan Chaudhury saat Zain membawa Aliya ke hadapan mereka dan memperkenalkannya sebagai istrinya yang sah.

“Yaa… begitulah, kami bertemu di Jogja dan kami saling jatuh cinta lalu merasa langsung cocok, aku ingin segera memboyongnya ke India jadi mau tidak mau aku langsung saja menikahinya” bohong Zain panjang lebar, ia hanya tidak ingin membahas kepedihan hatinya, tentang Ayahnya di hadapan orang-orang.

Meski kaget dan kecewa untuk Putri mereka, Tuan dan Nyonya Chaudhury dengan berat hati memberikan dukungan dan ucapan selamat pada Zain.

“Wahh! Jadi gadis yang bersuara Indah itu tidak lain adalah istri anda? Anda benar-benar beruntung Tuan Abdullah, kau mendapatkan istri yang cantik dan pandai menyanyi, kalian pasti akan menjadi pasangan yang sempurna,” kali ini Tuan Singh menyampaikan pendapatnya.

“Sepertinya kita akan menghadiri sebuah pesta lagi, bukankah berita bahagia ini butuh untuk dirayakan? Seharusnya pernikahan seorang CEO dari Barkath group dirayakan besar-besaran!” Kata Tuan Khan antusias,
“Ahaha… sebenarnya kami ingin sekali, tapi sejak menikah aku sangat sibuk, aku belum punya waktu untuk mengadakan pesta besar-besaran” Zain beralasan, padahal sejatinya dia tidak pernah menginginkan adanya pesta apapun untuk merayakan kemalangannya menikahi Aliya.

Sementara, masih di ruangan yang sama Zarina bersama Shaziya, Bilal dan Tridha menatap pasangan itu dari jauh dengan tatapan kesal.

“Apa bagusnya Aliya itu? Sihir apa sebenarnya yang dia punya? Dia membuat Zain tergila-gila padanya dan menikahinya, lalu dia membuat Karan Tacker terpesona dan mencium tangannya,” gerutu Shaziya memandang Aliya dengan tatapan penuh kedengkian.
“Dia gadis yang sempurna, dia cantik, pintar masak dan dia pandai menyanyi, Sayang,” celetuk Bilal jujur, dan lagi-lagi kejujuran Bilal membuat Shaziya kesal dan melotot ke arahnya.

“Apa yang sebenarnya Zain lakukan?! Kenapa dia malah memperkenalkan gadis itu kepada semua orang?” Kesal Zarina
“Bibi, Zain memperlakukan gadis itu layaknya istrinya, seperti itukah Zain membenci seseorang?” Tridha menyampaikan kegundahannya
“Kau tenang saja sayang, Bibi yakin Zain pasti punya niatan lain, dia tidak mungkin menganggap gadis itu istrinya” Zarina berusaha meyakinkan Tridha.

****

“Lepaskan Zain, kau menyakitiku!” Ucap Aliya setelah Zain menyeretnya dengan langkah cepat hingga ke tempat parkir, Kaki Aliya yang beralaskan high heels terasa lecet setelah dipaksa berlari kecil.

Zain menyandarkan kasar tubuh Aliya di sisi Mobilnya.
“Sekarang kau senang kan? Akhirnya kau mendapatkan pengakuan juga dariku, sekarang orang-orang tidak akan ada yang memandang rendah lagi dirimu, walaupun kau begitu rendah” Aliya menatap Zain tajam, ia campakkan tangan Zain yang menggenggam pergelangan tangannya sejak tadi.
“Justru aku yang ingin bertanya padamu, kenapa kau melakukan semua ini? Apa lagi yang kau rencanakan untuk menyiksaku?!”
“Haha, gadis pintar! Rupanya IQ mu tidak serendah harga dirimu, Aliya Ji. Kau tau kan aku tidak akan tenang jika membuatmu tenang sedikit saja? aku tidak akan membiarkanmu menikmati segala fasilitas sebagai seorang menantu di rumahku, tapi di luar sana kau berlagak seperti wanita lajang dan menggoda pria lain”
“Jadi sekarang kau cemburu?” Tanya Aliya kemudian, ia sebenarnya tau bahwa jawabannya tidaklah demikian, namun ia hanya ingin mengejek Zain.
Zain menatap Aliya dengan bara api yang meletup-letup di matanya, ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Aliya dan mengurungnya di kedua lengannya. Ia memajukan centi demi centi wajahnya hingga memperkecil jarak di antara wajah mereka, Aliya hanya memalingkan wajahnya berlagak tak gentar dengan perlakuan Zain.

“Kau pikir kau pantas untuk dicemburui? berkacalah, dan lihat dirimu. Maka kau akan tau jawabannya” bisik Zain, mendengar itu membuat Aliya menoleh ke arah wajah di hadapannya hingga pandangan mereka saling bertemu.
“Orang yang cemburu pada seseorang berarti ia mencintai orang itu. Apa kau pikir aku mencintaimu?! Maka bermimpi sajalah, hidup lah dengan angan-angan palsumu itu, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah mencintaimu!”

Setelah mengucapkan kata-kata menohok itu, Zain lalu meninggalkan Aliya, masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mobilnya, sementara Aliya masih terpaku berdiri di tempatnya.

Melihat Aliya yang masih diam di depan mobil, ia pun memekikkan klaksonnya, namun Aliya sama sekali tidak terkejut dan bereaksi,
“Hei! Apa yang kau lakukan disana, cepat masuk atau kutabrak kau!” Aliya tak bergeming dari tempatnya, membuat Zain hilang kesabaran, ia lalu keluar dari mobil dan tiba-tiba meraih tubuh Aliya ke dalam gendongannya, Aliya sontak terkejut dengan perbuatan Zain namun hal itu tak bertahan lama karena Zain sudah mendudukkan dirinya di Jok depan mobil.

“Kau pantas mendapatkan piala nobel atas usahamu memperdaya seorang pria, Aliya Ghulam Haider!” Oceh Zain, sementara kali ini Aliya hanya mendiamkan ocehan Zain, masih sibuk dengan kekesalannya walaupun hanya bergejolak dalam hatinya saja, lalu mobil Zain pun melaju meninggalkan parkiran hotel.

Sementara masih di tempat parkir, di dalam salah satu mobil laborgini hitam yang  terparkir, Karan memandang dupatta merah muda milik Aliya yang kini ia genggam, tadinya ia berniat kembali ke tempat parkir hanya untuk mengambil dupatta itu dan akan dia berikan kepada sang empunya seperti janjinya, namun sebelum ia kembali, ia malah melihat sebuah pemandangan dan fakta baru dari dalam mobilnya.

Yaa… ia sudah mendengar semuanya, ia akhirnya tau apa yang sebenarnya terjadi, ia ikut kesal dan kasihan melihat Aliya, melihat perlakuan sang suami terhadap gadis yang dicintainya sejak awal pertemuan itu, ternyata Aliya menyimpan sebuah derita dengan menikahi pria yang sama sekali tidak mencintainya, namun di sisi lain ia juga merasa lega dan senang, rupanya ia masih punya harapan, dalam hati ia berjanji akan membebaskan Aliya dari derita itu dan akan membuatnya bahagia seumur hidupnya.

****
Barkath Group Office

Zain kaget ketika sampai di kantor di pagi hari, tiba-tiba di depan kantor dan di dalam lobby, ia menemukan sudah banyak sekali karangan bunga yang semuanya bertuliskan ucapan selamat atas pernikahannya yang merupakan kiriman dari berbagai instansi relasi bisnisnya, ada pula yang secara pribadi.

Belum lagi ketika berjalan masuk, dari lobby hingga ruangannya setiap kali bertemu dengan karyawannya, Zain tak luput dari berondongan ucapan selamat, hal itu membuat Zain mulai muak.

Ia tak habis pikir dan tak menyangka semua orang akan langsung mengetahuinya seluas dan secepat ini, padahal ia hanya memberitahu beberapa rekan bisnisnya dan di pesta semalam tak ada seorangpun wartawan. Kalau tau akan serepot ini jadinya, ia tak akan memperkenalkan Aliya sampai kapanpun.

“Yang aku dengar istri tuan Zain itu sangat cantik dan seorang penyanyi”  ucap seorang karyawati memulai gosipnya di pagi hari.
“Woahh… apakah dia seorang penyanyi terkenal? Apa kita mengenalnya?” sahut wanita berkaca mata, tampak antusias dengan obrolan yang semakin menarik,
“Aku tidak yakin, tapi istrinya sudah pasti sangat cantik hingga Tuan Zain mau menikahinya, kalian tidak lihat mantan-mantan pacar Tuan Zain yang sering datang ke sini? mereka rata-rata sangat cantik seperti model itu tapi dia mengabaikannya. Aku tidak bisa membayangkan seberapa cantiknya gadis itu, hingga tuan Zain mau menikahinya,”
“Ehemm!” Tiga orang karyawati itu tersentak keget dan menghentikan aktifitas mereka menyadari keberadaan Zain di tengah obrolan panas mereka.
“Apa kalian digaji hanya untuk bergosip? Jika kalian ingin bergosip, maka cepatlah mengundurkan diri dari perusahaan ini dan bekerjalah di perusahaan majalah!” Bentak Zain garang. Membuat ketiga karyawati itu menunduk takut-takut.

Zain lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat, hari ini ia datang lebih pagi demi menghadiri sebuah rapat direksi lanjutan rapat kemarin. Sesampainya di sana, yang baru datang hanya pak Hashmi, salah seorang manager bagian produksi dan salah satu karayawan dari team kreatif.

Dan Zain tiba-tiba tampak gelisah, ia sudah melupakan sesuatu. Ya.. ia meninggalkan sebuah map yang berisi file penting tentang isi rapat hari ini.
“Ada apa, Tuan?” Tanya Pak Hashmi melihat kegelisahan Zain,
“Arrgghh! Aku meninggalkan file ku di rumah,” jawab Zain, lalu buru-buru ia merogoh ponselnya dari dalam kantong jasnya, ia memutuskan untuk menelepon orang di rumah.

Beberapa saat mendengar nada sambung, akhirnya telepon rumah pun diangkat,
“Hallo… ” ucap seseorang di seberang sana, Zain terdiam sesaat, ekspresinya mendadak berubah malas ketika mendengar suara Aliya yang ada di seberang sana.
“Hallo…” sekali lagi Aliya berucap, karena sejak tadi tak ada suara dan akhirnya Zain mengeluarkan suaranya.
“Dimana Chand Bibi?” Tanya Zain tanpa basa-basi. Aliya memutar bola matanya malas mengetahui yang menelepon adalah suaminya.
“Dia sedang sibuk memasak di dapur, katakan saja apa maumu, nanti aku sampaikan,” kata Aliya
“Tidak! Aku hanya ingin bicara dengan Chand Bibi sekarang juga! Cepat panggilkan dia!” Paksa Zain.
“Isshh! Apa-apaan dia ini? Orang yang tidak mengenali suaranya pasti akan berfikir yang menelepon adalah orang gila!” Aliya mengomel setelah menjauhkan mulutnya dari gagang telepon.

Aliya pun dengan terpaksa menuruti keinginan Zain untuk memanggilkan Chand Bibi walaupun wanita paruh baya itu sedang sibuk di dapur.
“Ada apa Nak? Kenapa menelepon pagi-pagi begini?” Tanya Chand Bibi,
“Bi.. aku ketinggalan sesuatu, tolong ambilkan map biru di atas meja lampu di kamarku”
“Kenapa tidak minta istrimu saja yang mengambilkannya? Dia pasti lebih tau,”
“Jangan pernah membiarkan dia menyentuh barang-barangku Bi, aku melarang keras!” Zain mengotot, Chand Bibi hanya tersenyum kecil. Ia seakan mampu memahami sikap Zain seperti biasanya.
“Baiklah Nak, aku akan mengambilkannya untukmu”
“Ya.. nanti tolong minta supir untuk segera mengantarkannya, aku membutuhkannya sekarang juga”
“Baiklah Nak.” Chand Bibi menutup telepon dan segera masuk kamar Zain setelah minta izin kepada Aliya untuk mengambil file.

****
“Ada apa Bi?” Tanya Aliya melihat Chand Bibi tampak kebingungan.
“Bagaimana ini? Semua mobil di rumah ini telah dipakai, masing-masing memakainya untuk tujuan yang berbeda, padahal aku harus mengantarkan map ini ke kantor suami mu segera”
File apa itu Bi?” Chand Bibi memberikan file dalam map biru itu kepada Aliya, sesaat Aliya membukanya dan melihat isinya. Sebenarnya dia enggan sekali mengantarkannya pada Zain, pria itu terlalu angkuh, dia jelas-jelas tadi sudah menolak bantuan Aliya dalam bentuk apapun, tapi jika dilihat-lihat file ini cukup penting, meski ia tak cukup mengerti secara detail, tapi ia yakin pasti akan ada sesuatu yang fatal tanpa file ini.

Setelah berfikir sejenak akhirnya Aliya memutuskan untuk mengantarkannya sendiri.
“Serahkan saja padaku, biar aku yang mengantarnya” kata Aliya akhirnya
“Sungguh? Bagaimana dengan kendaraannya, kau akan pergi dengan apa?” Chand Bibi tampak khawatir.
“Chand Bibi tidak perlu khawatir, aku bisa naik bajaj”
“Kau yakin” Chand Bibi masih khawatir. Dan Aliya mengangguk yakin dengan keputusannya.

Sementara itu….

“Pada moment Valentine kali ini program kita akan mengusung tema Rabne Bana Di Jodi, Beintehaa Mohabbat, dimana kita akan membuat sebuah lomba menulis cerpen  berdasarkan kisah cinta nyata kontestan bertemu pasangan mereka yang tak terduga, dan pemenangnya akan mendapatkan tiket gratis  honey moon romantis dengan pasangannya ke Korea Selatan” ucap salah seorang team kreatif menyampaikan presentasinya.
“Yaa, program kali ini akan spektakuler karena kita akan menyelam sambil minum air, selain mengadakan lomba untuk menarik rating yang setinggi-tingginya, kita juga akan menampilkan sebuah film spesial Valentine yang berlokasi di pulau Namhee, ini sekaligus akan menjadi kerja sama diplomatik pertama kita dengan pihak pemerintah Korea Selatan untuk sektor pariwisata mereka,” giliran kru bagian humas yang berbicara ,
“Lalu bagaimana dengan icon pasangan Valentine tahun ini?” Kali ini Zain angkat suara
“Kita sudah memilih icon  pasangan ideal di negeri ini, Ranveer Singh dan Dipeeka Padekone, mereka juga akan membintangi film yang akan kita garap bekerja sama dengan Fortune Production,” salah satu karyawan pihak bagian produksi menjawab

“Tapi karena lomba ini berkonsep kisah cinta berdasarkan kisah cinta nyata, aku rasa kita juga harus mencari satu Icon pasangan yang nyata yang sudah suami istri, bukan dari kalangan selebritis agar sesuai dengan konsepnya”

Di Lobby…

“Tolong berikan map dan kotak ini kepada tuan Zain Abdullah,” ucap Aliya kepada respesionist ketika berada di kantor Zain seraya menyodorkan sebuah map dan sebuah paperbag berisi kotak makan.
“Tuan Zain Abdullah? ini dari siapa Nona?”
“Katakan saja ini dari rumah,” Aliya tidak ingin menyebutkan namanya karena ia tidak ingin Zain besar kepala dan menganggap bahwa dirinya masih peduli padanya.
“Apakah anda Nyonya Aliya?!” Tebak sang resepsionist tampak antusias.
“I.. iyaa..” Aliya bingung, kenapa tiba-tiba gadis itu tau namanya?

“Nyonya Aliya?!” Tiba-tiba seorang pria lagi menyapa nya, membuat Aliya semakin terkejut. Gadis itu reflek menoleh ke arah pria tersebut namun dia sama sekali tak mengenal pria berkumis dan berkacamata itu. Kenapa semua orang jadi mengenalnya? Apakah sekarang di keningnya sudah tertuliskan nama Aliya?

“Siapa?” Tanya Aliya hati-hati, takut dianggap sombong dan menyinggung hati pria itu, mungkin saja mereka memang pernah bertemu sebelumnya tapi dia sudah melupakkannya.

“Nyonya Aliya tidak mengenalku? Aku Surinder, manajer bagian keuangan disini, aku sudah melihat anda semalam di pesta bersama Tuan Zain”
“Ohh ya? senang bertemu denganmu Tuan,” Aliya  menyapa pria itu dengan ramah, walaupun masih merasa aneh.
“Anda ingin bertemu dengan suami anda?” Tanya Surinder lagi.
“Aku hanya ingin mengantarkan ini padanya” Aliya menunjukkan map dan paperbag yang belum sempat disimpan oleh resepsionist.
“Mari kuantar anda ke ruangannya”
“Tidak perlu Pak, aku hanya akan menitipkan ini”
“Tidak apa-apa Nyonya, Tuan Zain pasti senang istrinya yang cantik datang.” Tuan Surinder langsung melangkah bermaksud memandu Aliya.
“I.. itu…” Aliya yang tadinya tak berniat sama sekali menemui Zain terpaksa harus mengikuti pria itu dan menerima niat baiknya.

“Tuan Zain sedang rapat di dalam, silahkan masuk, Nyonya,” kata Tuan Surinder setelah berhenti di depan pintu ruang rapat.
“Tidak! Anda saja yang masuk dan mengantarkannya” ucap Aliya sembari menyodorkan map biru dan paperbag di tangannya kepada pria itu

“Tidak Nyonya, kau saja. Rapat di dalam bukan bagianku, kalau Nyonya yang masuk tidak akan ada yang merasa terganggu.” Surinder menolak, lalu mengetukkan daun pintu untuk Aliya.
“Tapi…” baru saja Aliya bersikukuh untuk menolak masuk ketika Tuan Surinder sudah membukakan pintu dan menampakkan Aliya di hadapan semua orang yang ada di ruang rapat.

Seketika pembahasan di rapat buyar, semua orang di ruangan itu sesaat terdiam menatap bingung kehadiran Aliya yang tiba-tiba. Dan tentu saja orang yang paling terkejut dalam hal ini adalah Zain sendiri, ia menatap Aliya seperti melihat hantu.

“Apa yang kau lakukan di sini?,” tanya Zain setengah berbisik.
“Maaf mengganggu, aku ke sini hanya untuk mengantarkan ini” ucap Aliya kikuk setelah masuk ke dalam ruangan sambil menaruh map biru dan paperbag kotak makan tepat di depan Zain.
“Woahh! Apakah dia istri anda tuan Zain?” Pak Farhan tiba-tiba bertanya, membuat semua orang jadi penasaran. Sejenak Zain tidak menjawab, ia benar-benar enggan mengakui Aliya untuk kedua kalinya.

Melihat ekspresi enggan Zain itu, membuat Aliya berfikir untuk balas dendam padanya, jika semalam Zain memperkenalkannya di depan semua orang di saat dia belum siap, kenapa dia tidak bisa melakukannya juga?

“Selamat pagi semuanya, perkenalkan aku Aliya Zain Abdullah,” Ucap Aliya ramah, Zain kaget luar biasa melihat kelancangan Aliya, semua orang mulai kasak-kusuk, Zain dapat mendengar semua orang mulai membicarakan Aliya dan yang menyebalkannya, semuanya dalam hal positif.

“Pantas saja Tuan Zain langsung menikahinya dalam waktu singkat, dia wanita yang sangat cantik” ucap salah satu dari mereka.
“Nyonya sangat ramah, dia kelihatannya juga baik dan sederhana,” ucap yang lain, berpendapat
“Dia terlihat pintar, ku dengar dia juga sangat pandai menyanyi, hidup Tuan Zain benar-benar sempurna!” Kata yang lain dan itu membuat Zain kesal dan tak terima.

Sempurna apanya? Aliya Ghulam Haider lah yang membuat hidupnya dan keluarganya hancur, hidupnya tak pernah utuh lagi karenanya

“Kita lanjutkan rapatnya!” Ucap Zain, berusaha membuyarkan obrolan semua orang dan tentu saja itu berhasil, namun tak lantas membuat semua orang mengabaikan kehadiran Aliya.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” Aliya berniat untuk meninggalkan ruangan itu tapi…
“Tunggu Nyonya Aliya,” salah satu kru bagian kreatif menahan kepergian Aliya dan membuat semua orang bingung dan penasaran,

“Tuan Zain, melihat istri anda yang mengesankan membuatku jadi terinspirasi dalam menentukan icon pasangan nyata kita. Sekarang kita tidak perlu lagi kesulitan mencari Icon Real Couple. Kisah cinta kalian yang cukup mengejutkan dan langsung menikah dalam waktu singkat sangat cocok dengan konsep kita kali ini, kalian bisa menginspirasi semua orang bahwa cinta itu benar-benar tak terduga jika Tuhan telah memasangkan dua insan,” kru itu dengan bangga menyampaikan ide briliannya yang dianggap sebuah kelancangan oleh Zain.
“Yaa.. ide yang sangat brilian! aku setuju. Aku kira ini bagus untuk sekaligus mengumumkan pernikahan anda kepada khalayak ramai sebelum rumor yang tidak mengenakkan terjadi jika berita pernikahan CEO Barkath Group yang mendadak dan tertutup tercium oleh media,” Yang lain menambahkan pendapatnya.
“Yaa.. ini benar-benar sempurna mengingat Tuan Zain dan Nyonya Aliya baru saja menikah, jadi kita bisa menghubungkan dengan konsep bulan madu program kita.”

Semua orang setuju dengan ide itu tanpa adanya bantahan, dan Zain tak punya alasan untuk menolak atas nama profesionalisme dan kemajuan perusahaan meski sebenarnya ia benar-benar enggan.

Rapat pun di akhiri dengan kesimpulan akhir bahwa pasangan yang akan mengikuti program honey moon ke Korea selatan ada tiga pasangan, Ranveer Singh dan Dipeeka Padekone sebagai pemeran dalam film, pasangan nyata dalam variety show yakni pemenang lomba, serta Zain dan Aliya sebagai Icon Real Couple nya.

Rapat berakhir dan semua orang meninggalkan ruang rapat kecuali Zain dan Aliya.
“Apalagi yang kau lakukan di sini? Belum puas mencari muka?!” Tanya Zain ketus
“Kau sendiri? kenapa masih disini? Kenapa tidak ke ruanganmu saja?” Balas Aliya tak mau kalah.

Dengan gerakan kikuk Aliya merogoh paperbag yang dibawanya, mengambil kotak makan dari dalamnya lalu menyodorkannya pada Zain.
“Ck! Kau pikir kantor ini sawah dan aku petaninya?”
“Tadi kau tidak sempat sarapan karena terlalu buru-buru, cepatlah sarapan. Nanti magh mu kambuh,” ucap Aliya tanpa berani melihat ke arah Zain.

“Hohoo… jadi sekarang Nyonya Aliya sudah mulai memperhatikan suaminya?” Goda Zain.
“Itu dari Chand Bibi, dia yang menyuruhku membawakannya untukmu,” Aliya beralasan, padahal dia sendirilah yang berinisiatif. Ia masih ingat ucapan Rizwan yang memberitahukan bahwa Zain punya penyakit magh akut dan tidak boleh terlambat makan.

“Kalau begitu katakan pada Chand Bibi kalau masakannya sudah dirancuni dan aku tidak akan memakannya!” Zain menolak keras dan menyingkirkan Lunch box itu dari hadapannya.
“Ohh.. jadi menurutmu ini beracun? Baiklah!” Aliya membuka penutup lunch box itu kemudian berniat untuk membuangnya ke keranjang sampah namun,
Kriyuuukk! Suara perut keroncongan Zain tak mampu berbohong dan mengelurakan bunyi nyaringnya.

Aliya melihat kini Zain memegangi perutnya menahan rasa sakit. Melihat itu membuat Aliya mengurungkan niatnya membuang makanan itu, ia membawa kembali makanan itu ke hadapan Zain.

“Pelajaran moral bagimu Mr. Abdullah, jangan berlagak kuat jika sebenarnya kau lemah, makanlah atau kau akan mati!”
“Kenapa? Kau tidak rela kalau aku mati?” Zain masih saja menggoda di tengah kesakitannya, namun Aliya tak menjawab.

Tanpa permisi ia menyuapkan nasi bersama curry ke mulut suaminya itu.
“Dengan begini kau akan menutup mulutmu” ucap Aliya sembari mengaduk-aduk makanan itu. Zain sempat dibuat gugup diperlakukan seperti itu oleh Aliya.

“A… aduhh, perutku sakit sekali!” Adunya untuk menghilangkan perasaan gugupnya. Lalu kemudian Aliya melanjutkan suapannya seperti menyuapi seorang anak kecil.

****
Beberapa hari kemudian,

The Shilla Seoul Hotel,
Seoul, South Korea.
2.30 PM, KST

Bulan Januari, daratan Korea Selatan memasuki musim dingin dengan suhu terdingin dari minus 3 hingga 6 derajat Celcius. Pada musim dingin, hari-hari menjadi lebih pendek, sinar matahari muncul lambat dan matahari tenggelam lebih awal. Biasanya siklus tiga hari dingin yang diikuti empat hari hangat yang disebut dengan istilah Samhansaon selalu berulang selama musim dingin.

Dan setelah mengupayakan berbagai macam usaha dan alasan agar tidak harus mengikuti program bulan madu stasiun TV miliknya sendiri, akhirnya Zain tak punya alasan lagi untuk menghindar, jadilah ia kini melakukan perjalanan ke negeri yang tak pernah ia impikan untuk berkunjung ke sana, Korea Selatan. Bersama seseorang yang menurutnya adalah orang yang paling ia benci yang tak lain adalah istrinya sendiri.

“Satu kamar saja? Harusnya tersedia dua ruangan untuk kami, kenapa hanya satu kamar saja?” protes Zain kepada resepsionist hotel saat sedang check in.
“Kamarin yang direservasi hanya satu kamar sweet room, Tuan. Disini tertulis, kamar direservasi untuk pasangan suami istri, atas nama Tuan dan Nyonya Zain Abdullah,” resepsionist membela diri.
“kalau begitu tidak bisakah kami memesan kamar yang satu lagi?”
“Tidak bisa tuan, kebetulan musim dingin ini semua kamar hotel sudah penuh.”
“Bagaimana dengan double bed?” Zain masih terus mengupayakan apapun caranya agar dia tidak sekamar paling tidak satu tempat tidur dengan Aliya. Sementara Aliya hanya diam saja, biarkan saja yang mengupayakannya toh keinginan mereka kali ini sama.
“Tidak bisa Tuan, seluruh kamar hotel benar-benar sudah dibooking,” lagi-lagi jawaban sang resepsionist cukup mengecewakan dan Zain kini tidak punya pilihan lain.

****
Aliya baru saja kembali ke kamar setelah turun ke bawah sesaat untuk membeli minuman hangat, segelas green tea. Sengaja ia tak menelepon pihak pelayanan hotel untuk memesan dan memilih membeli sendiri karena ia ingin berjalan-jalan sedikit mencuci mata mengamati hotel megah layaknya istana itu.

Di kamar, Aliya tak menemukan Zain,
“Kemana dia? Apakah dia langsung pergi keluar?” Aliya bermonolog sambil mengedarkan pandangan mencari Zain.

Setelah melepas syal dan topi musim dinginnya ia memutuskan untuk masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak setelah perjalanan melelahkannya.

Tanpa ragu ia pun segera memutar kenop pintu kamar mandi dan membukanya, lalu…. “AAAA!!” sontak ia menjerit histeris ketika mendapati pemandangan Zain sedang mandi  di dalam sana. Sementara seakan sudah terbiasa memamerkan tubuh eksotisnya itu, Zain hanya terkekeh licik melihat wajah panik dan ketakutan Aliya.

Dan reflek Aliya pun segera menghampas kasar pintu kamar mandi  dan berlari menjauh dari pintu terkutuk itu, ia berjalan menuju balkon yang menampakkan pemandangan indah sebagian besar wajah kota Seoul yang tampak cukup tertata rapi dan sangat metropolis.

“Dasar bodoh! Idiot!! Hanya orang idiot yang tak mengunci pintunya saat mandi!!” Maki Aliya kesal, sejujurnya ia cukup shock melihat pemandangan yang barusan ada di depan matanya.

“Huahhh!! Tadi yang aku lihat itu apa?!” Aliya menggeleng frustasi, entah kenapa ia terus membayangkan pemandangan itu meski ia sangat tidak menyukainya.

Aliya mencoba menghilangkan bayangan ‘mengerikan’ itu dari dalam benaknya dengan menyaksikan pemandangan luar biasa yang membentang di depan matanya, sungguh ia seperti sedang bermimpi berada di kota impian Seoul, setidaknya itu kota impian teman-teman K-Popers nya di Indonesia dulu.

Sungguh yang di dalam drama Korea itu bukan hanya editan komputer semata, bagi Aliya Seoul benar-benar luar biasa, bahkan hanya dari balkon hotel berbintang lima tempat ia menginap zaja, ia dapat melihat menara terkenal Namsan Tower yang tampak mengala indah dengan sinar pelanginya dan sungai Han sebagai pusat keindahan alam Korea Selatan dari kejauhan, dan ia betekad ia harus datang ke sana.

“Eheemmm!! Berhentilah bersikap kampungan, kau sadar? kau seperti orang utan yang dilepaskan dari kandangnya,” tiba-tiba terdengar suara ocehan dari belakang dan sukses membuat buruk mood Aliya.

Zain lalu berjalan dan berdiri di sebelah Aliya dengan penampilan yang ternyata  hanya mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada menampilkan otot-otot tubuhnya yang mulai terbentuk, sontak saja Aliya terkejut dengan kejutan Zain itu.

“Hei.. apa yang kau lakukan?!” Pekik Aliya.
“Apa? Memberikanmu tontonan gratis. Daripada harus mengintipku secara ilegal” ucap Zain santai mengejek Aliya.
“Apa?! Si.. siapa yang mengintipmu?!! Cepat pakai bajumu, apa kau tidak kedinginan?!” Suara Aliya mulai bergetar gugup, dan Zain paling menyukai ekspresi Aliya yang semacam itu.

Kebetulan hari ini memasuki siklus 4 hari cuaca hangat di musim dingin walaupun tak sehangat cuaca di musim yang lain. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan, tubuh telanjang Zain masih bisa menahan udara dingin, hanya demi membuat Aliya tampak ketakutan.

“Siapa bilang aku akan kedinginan? Sekarang aku malah kepanasan, apalagi jika kau yang menghangatkan tubuhku, Sayang” Zain terus saja menggoda Aliya dan membuat gadis itu gemetaran setengah mati.

Zain kembali melancarkan aksinya, tiba-tiba ia sudah berdiri di belakang Aliya.
“Apa yang akan kau lakukan?!” Pertanyaan monoton penuh ketegangan itu kembali dikumandangkan Aliya.
“Aku hanya mengukur tinggi badanmu” ucap Zain lembut.
“Dasar bodoh!” Maki Aliya pelan.
Zain kembali melakukan aksi berikutnya dengan melingkarkan kedua lengannya di perut ramping Aliya.

“Apa lagi ini? Lepaskan Zain!” Aliya mulai meninggikan suaranya.
“Aku hanya mengukur lingkar perutmu, apa tidak boleh?” Jawab Zain asal, Aliya dapat merasakannya suara Zain semakin mendekat tepat di punggung telinganya,

“Ya ampun! Kau benar-benar kurus Aliya, aku seperti memeluk sehelai kain” Zain masih saja mengejek, tapi Aliya masih bersabar meski ia sudah mulai kesal.

Dan puncaknya tubuh Aliya menegang ketika dirasakannya Zain dengan lancangnya menenggelamkan wajahnya di bahu dan tengkuk gadis itu.
“Zain Abdullah, kau benar-benar bosan hidup?!” Pekik Aliya.
“Apa yang ku lakukan? Aku hanya mencium wangi shampoo mu, shampoo apa yang kau pakai dan sepertinya sekarang aku tau, itu wangi Vanilla kan?” Aliya serasa benar-benar ingin mencekik Zain, tapi masih terpasung dalam kegugupannya

Lalu kedua lengan Zain yang tadinya melingkar di perut Aliya perlahan berpindah dan melingkar di dadanya. Aliya menggigit bibir bawahnya, matanya reflek terpejam, tubuhnya semakin tegang seperti tersengat listrik ribuan volt, nafasnya menderu-deru menahan asa, terlebih lagi ketika tak sengaja telapak tangannya menyentuh kulit perut Zain dan menyadari Zain sedang bertelanjang dada, dia bisa mati berdiri jika hal ini terus berlangsung beberapa menit ke depan saja.

“Zain, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” suara Aliya gemetaran cerminan isi hatinya.
“Aku sedang mengukur lingkar da…” bukkk!! Zain belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Aliya menyikut keras perutnya meninggalkan Zain yang sedang merintih menahan sakit perutnya.

Aliya berlari masuk ke dalam kamar. Dengan perasaan yang dilanda amarah, ia mengenakan baju hangat, dan syalnya bersiap untuk keluar.

“Aliya Ghulam Haider! Berani sekali kau berbuat kasar padaku! Ini kekerasan dalam rumah tangga,” protes Zain sambil memegangi perutnya yang sakit.
“Csh! Laporkan saja aku ke polisi, dan aku akan membeberkan bahwa suamiku adalah seorang maniak!” Balas Aliya ketus.

“Mau kemana kau?” Tanya Zain penasaran
“Ingin keluar mencari udara segar!” Ketus Aliya.
“Jangan kampungan! Kita masih akan lama berada di sini, sekarang waktunya untuk istirahat”
“Apa pedulimu?! besok kita pasti sudah harus shooting dan pemotretan setelah itu ke pulau Namhee, aku akan jalan-jalan sekarang saja,”
“Ck! Tau apa kau tentang negara ini? awas saja kau diculik lalu dibunuh dan organmu di jual”
“Haha…Funny! Tapi aku tidak bodoh sepertimu.”
Aliya menunjukkan sebuah kertas yang merupakan peta kota seoul yang sudah dipersiapkannya semenjak berencana akan ke Korea.

“Pergilah, kalau perlu jangan kembali lagi! itu akan sangat membantu.” Aliya tidak memperdulikan ocehan sinis suaminya itu, lalu segera beranjak pergi.

“Dasar gadis liar! Dia pikir dia siapa? Penemu google maps?!” Gerutu Zain selepas Aliya pergi namun setelah berpikir galau sejenak, ia tak akan membiarkan Aliya bersenang-senang sendirian, lagipula ia sudah lapar, akhirnya Zain memutuskan untuk mengikuti Aliya.

****
Kawasan Myeongdong, Seoul, Korea Selatan
4.00 PM KST.

Pukul 4 sore di musim dingin langit Seoul sudah tampak mendung, menjelang malam. Myeongdong adalah kawasan wisata belanja di kota Seoul yang terdiri dari banyak toko-toko kosmetik dan rumah-rumah makan dengan harga yang cukup terjangkau di sepanjang jalan.
image

Dengan mengandalkan peta dan teknologi internet yang ia bawa, serta keahlian alaminya sebagai tour guide dengan jam terbang tinggi, Aliya berhasil menggapai kawasan itu. Dengan berjalan kaki di sepanjang jalan, Aliya memasuki satu persatu toko kosmetik meskipun sangat jarang ia membelI produknya.

Kebiasaannya memanfaatkan sesuatu yang gratis terbawa hingga luar negeri, dari tiap toko ia pakai semua tester dari lipstik hingga CC Cream yang digadang-gadang dipakai oleh banyak artis Korea.

“Ck! Apa yang aku lakukan di sini? Kenapa aku mengikuti gadis rimba itu sejauh ini?” Omel Zain pada dirinya sendiri sembari memantau Aliya dari jauh, tentu saja dia tak akan membiarkan Aliya mengetahui keberadaannya.

Aliya kemudian tampak memasuki sebuah kedai kecil sea food, dan dengan menjaga jarak Zain pun tetap mengintili Aliya secara diam-diam hingga ke kedai.

Banyak menonton drama Korea akibat dicekoki teman-temannya di Indonesia dulu membuat Aliya banyak tau tentang kebiasaan masyarakat Korea. Ia tau ia tidak boleh sembarangan memilih makanan di Korea karena sebagian besar makanannya berasal dari bahan yang tidak halal.

Maka Aliya pun mencari aman dengan mengisi perutnya si kedai Sea Food yang sudah terjamin kehalalannya.

I choose this one,” Aliya menunjuk gambar Sushi dan segelas green tea kepada Ahjumma pelayan kedai.

Menyadari keberadaan Zain yang mengintilinya sejak tadi. Lalu niatan ingin membalas dendam pada Zain pun terlintas dalam benak Aliya.

“Ahjumma, come here!!” Panggil Aliya lagi kepada Ahjumma yang baru akan beranjak,
“Also this one” Aliya menunjuk ke salah satu seafood ter-ekstrim Korea selatan bernama Sanakjji.

Zain yang sama sekali buta akan pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Korea Selatan lalu mencari aman dengan meminta sang Ahjumma untuk memberikan menu yang sama dengan yang dipesan Aliya.

Beberapa menit kemudian Zain shock mendapati menu yang dipesannya adalah seekor gurita kecil yang masih hidup dan utuh menggeliat-geliat di atas piring dengan taburan wijen dan kecap ikan diatasnya.

Mwogo…” ucap Sang Ahjumma dengan bahasa korea yang artinya ia mempersilahkan Zain untuk makan, lalu mengacungkan jempolnya menandakan bahwa makanan itu sangat enak.

Zain sangat tidak yakin untuk memakannya, tapi perutnya sudah keroncongan dan si Ahjumma terus saja mempersilahkannya untuk memakannya. Zain lalu pelan-pelan memasukkan gurita segar itu kedalam mulutnya hidup-hidup, dan hal yang melebihi ketakutan Zain pun terjadi, sang Gurita mini terus menggeliat dalam mulut Zain dan dia bahkan tak bisa mengunyahnya apa lagi menelannya.

****

“Ini… untuk mengompres bibirmu,” Aliya memberikan sebuah es krim lolly kepada Zain, setelah meminumkannya obat yang diberikan oleh Ahjumma pemilik kedai. Mereka kini berada di sebuah taman kecil tak jauh dari kawasan Myeongdong, mereka duduk di ayunan yang tersedia di taman tersebut.

“Mmphph…muahahaha!!” Aliya kembali tergelak setiap kali melihat bibir jontor Zain akibat sengatan tentakel gurita. Dia tak bisa menghentikan tawanya walaupun dia sedikit kasihan.
“Ini semua karena ulahmu! Aku benar-benar akan membalasmu, ingatlah perlakuan burukmu ini padaku!!” kesal Zain sambil mengompres bibir bengkaknya dengan Es Krim yang masih berada di dalam kemasannya.

Menunjukkan ketidak-takutannya akan ancaman Zain, Aliya lalu meneruskan kejahilannya dengan memotret Zain dengan bibir jontornya dengan memakai kamera ponselnya.

“Aliya Ghulam Haider! Kau benar-benar!!”
“Ahaha! Sekarang kita satu sama dan aku akan memenangkannya dengan telak skor 3-1,” ucap Aliya dengan angkuhnya lalu beranjak pergi meninggalkan Zain.

“Hey!!” Pekik Zain
“Bersembunyilah dulu, nanti seluruh warga kota akan ketakutan melihat manusia berwajah monster, ahaha!!” Ejek Aliya lalu berlari meninggalkan Zain.

Langit sudah gelap, lampu-lampu di kota Seoul menyala di sepanjang jalan bagaikan gugusan bintang beradu dengan pelangi. Seakan tak kenal lelah, Aliya terus mengeksplorasi kota Seoul yang seakan menyajikan kawasan pariwisata di setiap sudutnya.

Aliya mencicipi berbagai jajanan yang tentunya ia pilih yang aman untuk dikonsumsi oleh seorang muslim. Dan Zain seperti anak ayam yang terus mengikuti langkah induknya meski secara diam-diam. Ia terus mengintai Aliya dari jauh seakan Aliya tak akan pernah menyadari kehadirannya.

“Hei Nona, apa kau tidak menyadari pria itu terus mengintaimu sejak tadi?” bisik Ahjussi penjual kue ikan tempat Aliya membeli jajanan yang ternyata adalah imigran asal filipina yang tentunya bisa berbahasa inggris.
“Iya.. aku juga merasa begitu, bagaimana ini? Aku adalah seorang gadis lemah yang berjalan sendirian di malam hari,” Aliya berlagak ketakutan,
“Kau hati-hatilah Nona, orang itu benar-benar mencurigakan aku akan memantaumu dari jauh” ucap sang Ahjussi filipina yang berjiwa kepahlawanan itu. Aliya lalu mengangguk polos dan beranjak setelah mengucapkan terima kasih.

Dan bak seorang pengintai melancarkan operasinya, Zain kembali mengintili Aliya tetap dengan diam-diam dan menjaga jarak. Ahjussi filipina itu membisiki dua orang pemuda asli korea yang lewat, dan memintanya untuk memantau gerak-gerik mencurigakan Zain.

Tempat selanjutnya yang Aliya kunjungi adalah Gwanghamun Square Fountain, salah satu tempat romantis Korea selatan yang wajib dikunjungi, destinasi wisata ini berupa Air mancur di tengah jalan yang memancarkan air dari deretan lubang kecil yang berseberangan setiap beberapa detik, dan akan mengeluarkan cahaya berwarna warni yang cantik seperti pelangi pada malam hari, serta di tengah-tengahnya terdapat patung pahlawan Korea, Lee Sun Shin.
image

Mata Aliya berkaca-kaca menyaksikan pemandangan menakjubkan yang tak pernah ia lihat sebelumnya bahkan walau dalam mimpi. Aliya sempat kaget ketika merasakan pancaran air dari lubang yang ia pijak. Beberapa detik berikutnya air mancur kembali memancar dan menampilkan tarian yang indah di atas kepalanya. Meski bajunya setengah basah, namun Aliya tak peduli, ia mulai menikmati panorama dan sensasi romantis itu walau hanya seorang diri, tentunya dengan mengabaikan sosok Zain yang mengintilinya sejak tadi.

Kini Aliya tampak seperti anak kecil yang bermain air, berlari-larian ke sana ke mari, berkejar-kejaran dengan air yang meluncur secara tiba-tiba, kini tanpa sadar Zain sudah berada di belakang Aliya seakan tertarik ingin bermain bersamanya, Aliya memundurkan tubuhnya dan tak sengaja menabrak Zain yang ada di belakangnya.

Spontan ia membalikkan tubuhnya dan menemukan Zain tepat di hadapannya, menatapnya lekat-lekat,

🎵Jeena Jeena is Playing🎶

Namun Aliya mengabaikan tatapan dalam itu, dengan jahil ia mendorong Zain ke arah air mancur yang memancar hingga baju Zain kuyup.

Setengah kesal Zain menarik Aliya dan memelintir tangannya kebelakangnya dan menahannya dalam dekapannya, untuk beberapa saat mereka bertemu pandang, dan percikan aneh itu pun kembali muncul di relung keduanya.

Namun Aliya masih menggeliat menyadari Zain tak pernah melakukannya karena cinta, namun Zain terus menawannya, ia kemudian memajukan wajahnya perlahan hingga memperkecil jarak wajah mereka, Zain menatap bibir Aliya seakan bersiap untuk mengecupnya, namun tiba-tiba suasana romantis itu buyar seketika.

Dua orang pemuda muncul dan menghentikan aksi Zain, mereka mengunci Zain dengan memelintir kedua tangannya ke belakang. Salah seorang pria baru akan melayangkan tinjunya ke arah perut Zain tapi Zain segera menghentikannya.

Woah… woahh! What’s wrong dude?” Tanya Zain mencoba mengajak berdamai.

Kedua pria sipit itu malah menjawabnya dengan bahasa Korea yang jelas-jelas tak dipahami oleh Zain maupun Aliya.
“Anda sudah mencoba melecehkan seorang wanita di negara kami, kami tidak akan diam begitu saja, Arasseo?!” Jawab salah satunya.

Salah satunya kembali ingin meninju wajah Zain namun kali ini Aliya yang menghentikannya.
“Tolong jangan, jangan sakiti dia,” Aliya mencoba untuk menenangkan kedua pria yang sudah tampak emosi itu dengan menggelengkan kepalanya isyarat larangan, namun sepertinya kedua pria itu tidak mengerti maksud Aliya walaupun dalam bahasa Inggris.

“Tenang Nona, kau tidak perlu khawatir, kami sudah melaporkannya kepada polisi, sebentar lagi si mesum yang mencoba berbuat macam-macam padamu ini akan segera diringkus,” ucap salah satunya yakin merasa ia sudah melakukan yang terbaik dan tetap saja Zain maupun Aliya tak mengerti maksud mereka.

Dan baru beberapa saat setelah pemuda itu mengatakan sudah menghubungi polisi, suara sirine mobil polisi pun terdengar, Zain dan Aliya tidak bereaksi apa-apa karena mereka merasa tak ada alasan apapun untuk berurusan dengan polisi.

Kemudian dua orang polisi muncul dan meringkus Zain,
“Apa-apaan ini Pak?!” Tanya Aliya bingung juga panik
“Pria ini ditangkap atas tuduhan pelecehan seksual!” Pak polisi juga mengucapkannya dengan bahasa Korea seakan tak perduli dua orang yang dari tampilan mereka saja sudah tak seperti orang Korea akan mengerti atau tidak. Zain dan Aliya kebingungan dengan apa yang terjadi…..

To Be Continued,

Gimana guys?? Panjang khaann… sampai disini dulu yak! Bab Explore Korea bakal dilanjutin lagi di next Chapter, bakal lebih seru, bakal lebih berasa korea nya, ntar kita eksplorasi Namsan Tower dan Namhee Island yak!! Ditunggu komennya yang banyak biar cepet publish. Read, like, comment and wait ya guys XOXO😗😗

Advertisements

34 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 6)

  1. Hohoho. Berbekal ingatan adegannya zaya bikin kita berasa lagi nonton beneran ..
    Wah,, abang zainnya dibkin lebih *nekat lagi ya mbak .. Hahaha ****dasar pembaca dan penghayal mesum.
    Ditunggu next chapter nya …. segera ya mbak . Buat hiburan soalnya dimana-mana bertaburan foto nya si abang sama si uler ketket…

  2. Tadi itu shrusny monggo mba, bkn mwogo.. Wehehehe. Awesome bwambhang lah pkoknya.. Next chapter slalu d tunggu.

  3. Tadi itu hrusnya monggo mba, bkn mwogo..wehehehe. Awesome bwambhang lh pkoknya. Next chapter slalu d tunggu lho..

  4. Aaahahha mana ada pak seorang suami melakukan pelecehan seksual terhadap sang istrinya sendiri.. wkwkwkkw next say.. makin kesini bikin baper banged deh… ini yg bkin suka sama cerbung kmu… wawasan nya luas…. sukses buat kmu….

  5. Seru + Asik banget… huahhahaha…. mulutnya Zain bikin aku ngakak abis… 🙂 Zaaya is the best! :*

  6. Gatot boci gara2 baca ne crita, suer! Kayak kesirep baca ne crita, alurnya gak ketulungan bagusnya, ampyun mbk, km keren keren keren bingit….serasa masuk ke dlm critanya n kyk beneran kejadian tu ada di dpn mata….NEXT

  7. Seruu bgt, jangan.lama2 bikin sambungannya yah, bacanya sambil.menghayal wajah zain abdullah.dan.alya.ghulam haidar hahahahaa…asliii seruuuu

  8. Keren banget mbk, udah kyak writer huebat banget,, banyakin adgan aaliya sma karan gti mbk, biar zain mkin kbakar,, dtunggu ya mbk chapter 7 nya,, jngan lma”,,😁😁😁

  9. Kereeeennn binggo 😙😙 ditunggu chapter selanjut-selanjutnya ga pake lama 😁*pembaca.betingkah* hahahaa…
    tp dibuat usaha keras dl yeee abang zain nya dapetin princess aliiya 😄😄

  10. Ayo Mbak cepetan gih Chapter 7 Nya,,, Lagi bete nech soalnya banyak berita harshad ma tridul melulu,,, fotonya aduh… cewek itu kecentilan bingitz… jadi bad mood bin eneg dech ngeliatnya,,,,

  11. Part 7nya blom mendarat. ….hiks sedih mbak gak sabar nunggunya. Pengen baca klnjutannya…. semoga part 7nya cetar membahenol wkwkw 😆😆😆. Sumpah nunggunya gak sabar

  12. Akhirnya ketemu chapter 6 nya…maaf ya mba panik ga karuan…rupanya keselip di bawah…hehehehe😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s