Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 8)


image

Cover Created By. @zaayafansindonesia aka Lysha

Judul   : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre   : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts    : 
♡ Harshad Arora as Zain  
     Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya 
     Zain Abdullah
♡ Karan Tacker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as 
      Herself
♡ All Beintehaa Casts

Located : 
       Mumbai, India
       Seoul & Nami Island South Korea

Chapter Numb : 10 Chapters

Sorry ya guys, baru ngepost sekarang. Yang penting eke belom masuk itungan ingkar janji kan? Masih pas seminggu nih Ehehe entah kenapa minggu ini eke bener-bener lagi kagak mood nulis, maunya lebih lama. Cuma eke udah janji dan eke paling gak suka ingkar janji dan PHP in orang 😂. Jadi yaudin deh, walaupun kurang greget eke luncurin saja lah.

Maaf yaa kalo mengecewakan. Happy reading deh guys. Semoga terhibur.

BI 2 Chapter 8

“Karan-Ji, kau tidak apa-apa?! Apa Kau baik-baik saja?!” Aliya terlihat sangat mengkhawatirkan Karan kini. Dan itu membuat Zain tersentak kaget, kenapa Karan? Apa hanya karena ia menolongnya sekali dia langsung jatuh cinta padanya?

Sementara tak kalah terkejutnya dengan Zain, reaksi Karan justru berbeda, ia justru bahagia kini, ini adalah permulaan yang baik untuknya.
“Aku tidak apa-apa, Aliya-Ji.. Bagaimana denganmu? Kau tadi sempat meminum banyak air, dan kau pingsan karen hypotermia? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Karan, tak kalah perhatiannya. Aliya lalu mengangguk dan berkata,
Ha.. aku tidak apa-apa.
Terima kasih banyak Karan Ji, aku berhutang nyawa padamu,” ucap Aliya lagi, sementara Zain mulai kesal merasa keberadaannya kini tak ubahnya seperti hantu.

“Berhutang nyawa? Ck! Apa dia pikir Karan Tacker itu Tuhan? Siapa yang memberinya nafas buatan, apa dia benar-benar tidak tau?!” Batin Zain bergumam kesal.

It’s okay! kau tidak perlu berterima kasih padaku, aku senang melakukannya,”  Zain dongkol melihat cara Karan menatap Aliya seperti melihat berlian cantik yang segera ingin ia curi.

Ditambah lagi saat dia membantu Aliya berdiri dari duduknya dengan susah payah, Zain rasanya benar-benar ingin meninju wajah Karan. Pria itu benar-benar pintar mencari-cari kesempatan,
“Ehemm… !!” Zain berdehem keras dan disengaja untuk menunjukkan eksistensinya.

Lalu seakan baru menyadari keberadaan Zain, Aliya dan Karan menoleh ke arah Zain bersamaan.
“Zain… kau disini?!” Tanya Aliya polos, dan membuat Zain semakin geram.

“Jadi dari tadi kau pikir aku ini hanya sebuah jangkar?!” Kesalnya
“Ehh… tidak, bukan begitu Zain. Aku minta maaf soal cin..” Zain memotong ucapan Aliya
“Kau mau berapa lama berdiam diri disini? Sampai kita semua menjadi es lolipop? Kau bahkaanmasih saja banyak bicara dengan tubuh kuyup bibir bergetaf begitu, kau pikir kau itu beruang kutub?!” Zain mengomel sambil melepas satu persatu kancing mantel hijau lumutnya seakan berniat melepasnya.

Namun belum sempat ia membuka semua kancing kemejanya, Karan muncul kembali entah sejak kapan perginya setelah mengambil mantelnya yang ia lempar sebelum menyemplung ke air dan tergeletak di jembatan tadi.

“Aliya Ji… kau pakailah ini dulu untuk menghangatkan tubuhmu,” Karan menyodorkan Mantelnya pada Aliya
“Apa ini Karan Ji? Kau yang harus memakainya,  kau juga pasti sangat kedinginan,” kata Aliya seraya menyodorkan kembali mantel Karan.
“Tidak… sama sekali tidak!! Kau tidak tau ya aku ini pernah tinggal lama di Rusia, aku terbiasa dengan udara yang jauh lebih dingin dari ini, hehe…,” Karan cengengesan, ia mencoba menunjukkan pada Aliya bahwa dirinya benar-benar tahan menghadapi udara dingin, ia lalu meletakkan mantel cokelat tebalnya di kedua bahu Aliya dan itu membuat Zain semakin panas dan tidak bisa mengendalikan dirinya.

“Ck!! Apakah hari ini hari baik sedunia? kenapa tiba-tiba semua orang bertindak seperti orang suci yang sangat peduli sesama?” Sindir Zain kemudian tanpa melihat ke arah Aliya maupun Karan, lawan bicaranya.
“Sudahlah hentikan hal konyol ini! Aku tidak ingin melihat ada yang mati konyol hanya karena kedinginan,” Zain kemudian melepas mantelnya yang memang ingin ia lepas sejak tadi, lalu ia sodorkan kepada Aliya, bermaksud menggantikan mantel Karan di tubuh Aliya dengan mantelnya. Namun yang dilakukan Aliya malah sesuatu yang melenceng dari maksud hatinya.

“Karan Ji, tidak usah berpura-pura kuat menghadapi dingin begitu, bibirmu itu sudah membiru dan bergetar, kau pakailah mantel ini dulu, kau harus segera menghangatkan tubuhmu,” Aliya memberikan Karan mantel pemberian Zain yang tentunya membuat kekesalan Zain semakin menjadi.

“Siapa yang menyuruhmu memberikan padanya?!” Bentak Zain
“Tapi tadi kau bilang…” ucapan Aliya langsung dipotong Zain
“Kau pikir aku ini seorang relawan atau Bunda Teresa? Berikan padaku kalau kau tidak mau pakai!” Zain menaikkan volume suaranya seakan apa yang dilakukan Aliya benar-benar sesuatu fatal, Ia lalu merampas kembali mantelnya yang belum sempat diambil oleh Karan dari tangan Aliya. Lalu dengan kesal, cepat-cepat ia kenakan kembali mantelnya.

Ia lantas mencopot kembali mantel berwarna cokelat milik Karan yang masih menyangkut di bahu Aliya lalu dengan kasar mengembalikannya pada Karan.

“Bakti sosial sudah berakhir Tuan Tacker, ambil saja mantelmu ini untuk menghangatkan tubuhmu sendiri atau sumbangkan saja ke lokasi bencana alam! ” ucap Zain sengak dan nampak jelas bahwa dia sangat tidak menyukai Karan dan apapun yang dilakukannya.

“Ayo pergi!” Titah Zain lagi, lalu menarik kasar tangan Aliya. Hingga gadis itu mengikuti langkahnya dengan tergopoh-gopoh.

Karan tersenyum kecut melihat pemandangan itu, bukan karena ia senang, tapi justru ia miris melihat perlakuan Zain pada Aliya, dia sama sekali tidak berhak melakukan hal kasar sekecil apapun pada Aliya, tapi ia tau meski Zain bersikap kasar pada Aliya, tapi pria itu juga pasti punya perasaan padanya, tapi ia tak akan merelakan Aliya untuk Zain, meski ia suaminya tapi ia tau Aliya tidak akan bahagia jika bersamanya, dan ia benci jika Aliya menderita.

Beberapa meter berjalan setelah lenyap dari pandangan Karan, Zain sesaat menghentikan langkah cepatnya, ketika tangan yang digandengannya terasa berat. Ia pun berbalik ke arah Aliya, dilihatnya kini Aliya tampak kesulitan untuk berjalan, wajahnya memucat dan bibirnya membiru Karena kedinginan.

“Aku tidak bisa berjalan lagi Zain,” kata Aliya dengan suara bergetar. Zain yang seketika panik dan khawatir, ia langsung saja menanggalka kembali mentalnya, karena rasa kesal itu ia sampai lupa bahwa Aliya sedang kedinginan.

Lalu dalam diam ia memasangkan sendiri mantelnya ke tubuh Aliya dengan gerakan lembut, sangat jauh dari kesan kasar seperti yang barusan dilakukannya.

Ia bahkan tak henti-hentinya menatap Aliya di segala sisi, bahkan hingga memasangkan kancing mantelnya. Setelah itu, masih dalam kediamannya, ia meraih kembali tangan Aliya untuk ia gandeng berjalan bersamanya.

Namun Aliya berjalan terseok-seok seakan kakinya terlalu lemah untuk berjalan. Sesaat Zain menatap mata Aliya yang tampak menahan derita kesakitannya, dan masih tanpa mengatakan apapun ia pun membawa tubuh Aliya ke dalam gendongannya.

“Aku tidak suka berjalan dengan orang yang jalannya lambat seperti keong,” ucap Zain untuk menutupi kegugupannya dan mencari alasan yang tepat akan tindakannya. Sambil menggendong tubuh Aliya, Zain pun berjalan menuju resort yang letaknya hanya sekitar 200 meter lagi.

Sementara Aliya yang berada dalam gendongan Zain tak henti-hentinya menatap bingung wajah yang begitu dekat di pelupuk matanya kini.

Ia ingin sekali mengatakan sesuatu pada Zain, setidaknya dia harus minta maaf karena sudah menghilangkan cincinnya, namun tampang Zain yang terlihat tak mood untuk mengobrol, seakan tak mengizinkannya untuk berkata apapun.

Sesampainya di penginapan, Tridha tampak sudah menunggu di muka. Ia berjalan mondar-mandir khawatir, bukan karena mengkhawatirkan keadaan Aliya yang entah apa yang terjadi padanya mencari cincin yang ia tau dengan jelas tak ada di kapal itu, tapi ia khawatir karena Zain malah pergi menyusulnya padahal niatannya adalah untuk mengerjai Aliya, dan membuat Zain semakin membencinya, tapi itu justru malah membuat Zain menyusulnya.

“Kak Zain, Aliya-Ji, apa yang terjadi?!” Tanya Tridha panik walaupun dalam hati dia sangat terganggu melihat Zain menggendong Aliya.

Zain lalu menurunkan Aliya dari gendongannya, lalu disambut tridha dengan membopong gadis itu,
“Kau tidak apa-apa Aliya Ji?! Kau tampak kedinginan, Kak Zain apa yang terjadi?!” Sekali lagi Tridha bertanya.
“Tanyakan saja padanya hal bodoh apa yang sudah dia lakukan!” Jawab Zain acuh lalu beranjak pergi.
“Zain aku…” Aliya bermaksud ingin berterimakasih sekaligus minta maaf, sesaat Zain menghentikan langkahnya mendengar ucapan Aliya yang masih tertahan lalu ia menoleh sejenak.

“Tridha cepat bawa dia masuk kamar,” titahnya tanpa ingin mendengarkan ucapan Aliya lalu berbalik dan pergi.

****

Pukul 11 malam Aliya belum juga bisa memejamkan matanya, ia sama sekali tak merasakan hawa kantuk seperti biasanya, berkali-kali ia membolak-balikkan tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri, untuk mencari posisi tidur yang nyaman, namun tak juga membuatnya terserang rasa kantuk.

Bagaimana ia bisa tidur jika pikirannya terus mengawang-awang? Entah kenapa ia terus kepikiran masalah cincin itu, ia sangat amat menyesal sudah menghilangkan cincin itu, ia benar-benar merasa bersalah pada Zain.

Sungguh, ia tak bisa berdiam diri lagi, ia tak bisa tenang sebelum bertemu dengan Zain dan minta maaf padanya, dan tanpa pikir panjang lagi, ia memutuskan untuk segera menemui Zain, yaa.. jika tidak sekarang dia tidak yakin nanti-nanti dia masih punya nyali untuk berbicara padanya melihat mood Zain akhir-akhir ini sedang buruk.

Aliya hanya melapisi gaun tidurnya dengan mantel bulu berwarna putih yang senada dengan gaun tidurnya, Ia pun memutuskan untuk keluar kamar dan berniat menuju kamar Zain.

Sementara di dalam kamaranya tampak Zain sedang gamang berjalan bolak-balik kesana kemari, rupanya ia juga memiliki kegalauan yang sama. Yaa.. ia sedang dalam keraguan antara keinginannya yang begitu kuat atau rasa gengsinya untuk menemui Aliya, ia bahkan tak punya alasan pasti mengapa dia harus menemui gadis itu.

Dan beberapa saat dalam pergolakan batin yang mendera, hasrat Zain yang besar untuk bertemu Aliya mengalahkan segala ego dan gengsinya, ia pun memutuskan untuk segera menemui Aliya. Yaa.. ia akan mendatangi Aliya di kamarnya… buru-buru ia berjalan menuju kamar Aliya yang letaknya hanya beberapa petak dari jajaran kamarnya.

Kini di waktu yang bersamaan, kedua orang itu berjalan cepat berlawanan arah. Langkah demi langkah yang mereka lewati, waktu malah terasa semakin lamban, mereka benar-benar tak sabar untuk segera bertemu. Namun keinginan dan asa yang sama tak membuat mereka akan saling bercengkerama satu sama lain saat bertemu, justru malah sebaliknya. Ketika keduanya sama-sama melihat satu sama lain dari kejauhan, langkah Zain maupun Aliya malah semakin melambat, keduanya sama-sama saling memalingkan pandangan ke segala arah untuk menghilangkan kegugupan.

Dan tibalah mereka di hadapan satu sama lain. Keduanya masih saling gengsi untuk menyapa, seperti orang yang baru saling mengenal keduanya sama-sama kikuk, saling memalingkan pandangan dan tak mengatakan apapun.

Hingga akhirnya keduanya bertemu pandang dan saling menyapa.
“Aliya”
“Zain,” keduanya memanggil nama masing-masing secara bersamaan.

Sesaat mereka terdiam kikuk, lalu Aliya melanjutkan kalimatnya.
“Zain, kau mau kemana malam-malam begini?” Tanya Aliya tergagap,
“A..aku, aku sedang.. sedang ingin menemui produser, ada hal yangm.. ingin aku bicarakan,” Bohong Zain, entah kenapa saat melihat tatapan Aliya, dia tidak bisa mengendalikan lidahnya, dan jawaban tak masuk akal itu yang akhirnya meluncur begitu saja dari mulutnya, dan Zain tak bisa lagi meralatnya.
“K..kau sendiri, mau kemana malam-malam begini?” Tanya Zain balik.
“Aku… aku tidak  bisa tidur, jadi aku ingin mencari udara segar,” Aliya setengah berbohong.
“Ka.. kalau begitu, aku pergi duluan,” Ucap Zain sambil berjalan cepat namun, langkahnya tertahan karena Aliya kembali memanggilnya.
“Zain, kamarnya ada di sebelah sana,” ucap Aliya seraya menunjukkan jalan yang berlawanan. Ia menunjukkannya seakan ia mengira bahwa Zain benar-benar salah jalan tanpa curiga sedikitpun akan tingkah aneh nan bodoh Zain.

“Ahahaha… iya, kau benar! aku sampai lupa, kalau begitu…aku akan ke sebelah sana,” Zain segera berputar haluan lalu buru-buru beranjak pergi dari Aliya, untuk sementara ia ingin benar-benar lenyap dari hadapan Aliya dan menghilangkan rasa malunya, Aliya pasti sudah besar kepala dan mengira bahwa dia benar-benar menyukainya.

Sementara Aliya memutuskan untuk mengurungkan niatnya menemui dan meminta maaf pada Zain, sepertinya saat ini Zain sedang tidak ingin diganggu.

Ia pun memutuskan untuk keluar sejenak berjalan-jalan mencari udara segar seperti apa yang dikatakannya pada Zain. Seperti umumnya tempat-tempat di Korea Selatan, Pulau nami juga menawarkan keindahan wisata yang yang menjadi alasan bagi orang-orang untuk berkunjung kesana, Pulau yang terkenal akan keindahan alamnya itu, seakan tak pernah tidur dan lengang. Pada malam hari, berbeda dengan Seoul yang metropolitan dan dipenuhi sesak gedung-gedung tinggi serta kerlap kerlip lampu yang menghiasi sepanjang jalan, maka Pulau Nami justru menawarkan keasrian alam dengan tidak menyalakan lampu, penerangan hanya mengandalkan beberapa lampu solar cell untuk menerangi jalan serta sinar rembulan sehingga kita dapat menikmati pemandangan langit yang yang bertahtakan rembulan dan berhiaskan taburan bintang.

Beberapa saat berjalan-jalan Aliya menemukan tempat yang membuatnya tak menyesal berjalan-jalan malam-malam sendirian, di belakang kawasan resort a menemukan sebuah jembatan yang menjorok ke sebuah danau buatan.

Diterangi lampu pijar serta sinar rembulan yang berpendar, tempat itu tampak nyaman dan sama sekali tidak mencekam meski pada malam hari, dengan mata yang berbinar-binar Aliya pun bediri di pinggir jembatan seraya memandangi sinar bulan purnama yang tampak sangat dekat di pelupuk matanya.

Tak lama ia menikmati waktu kesendiriannya, tiba-tiba Aliya merasakan sekarang ia tidak sendiri, ia seperti merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, kemudian seseorang itu menepuk bahunya dan tanpa berpikir panjang segera ia membalikkan tubuhnya, dan tepat ketika ia membalikan tubuhnya, Aliya terlonjak kaget. Reflek ia memekik lalu memundurkan selangkah kakinya.

Sebelah kakinya bahkan sudah tak menyentuh pinggir jembatan tapi bagian kosong menuju permukaan danau, dan secepat kilat seseorang yang sudah mengagetkannya langsung menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya sesaat.

Sementara itu, Zain kini diliputi penyesalan. Kenapa tiba-tiba sekarang dia menjadi orang yang bodoh di hadapan Aliya? Kenapa ia harus malu? Bukankah mendatangi wanita manapun dimana saja adalah kebiasaannya? Kenapa tiba-tiba saja dia gugup? Bukankah menaklukkan wanita hanya dalam satu kedipan adalah keahliannya?? Kenapa dia jadi seperti ini? Sungguh ia tidak suka dengan dirinya yang sekarang. Kepribadian yang seperti inilah yang paling dia benci. Dia mulai merindukan dirinya yang dulu.

Tak sengaja ketika Zain merogoh kantong mantelnya ia merasakan sesuatu di dalam sana, sebuah benda kecil dan bertali, Zain mengeluarkan benda itu dari dalam kantongnya, dan ternyata ia menemukan gelang bertali hitam berbandul kunci.

Ia menaikkan sedikit bagian lengan kiri mantelnya, dan ia benar saja! Ia masih menemukan gelang yang mirip dengan bandul yang gembok di pergelangan tangannya, Zain tersenyum kecil mengingat kekonyolan Aliya, dia terngiang kembali ketika Aliya memasangkan gelang itu dengan lancangnya dan bagaimana ia memohon agar Zain bersedia memakainya. Ia pandangi kembali gelang pasangan berbandul kunci itu, senyum lebar kembali merekah di bibirnya tanpabia sadari. Sekarang niatnya sudah bulat, ia tidak akan ragu lagi, ia sudah punya alasan yang tepat untuk menemui Aliya.

Tapi sekarang yang menjadi permasalahannya kemanakah perginya gadis itu? Dia bilang ingin berjalan-jalan mencari udara segar, dan mengingat betapa liarnya gadis itu berkeliaran kesana kemari, ia tidak yakin itu hanya berjalan-jalan, dia mungkin sekarang sudah mengeksplorasi seluruh pelosok Pulau Nami. Namun niat Zain untuk menemui Aliya sudah bulat, ia pasti akan menemukannya.*

Setelah berkeliling seputaran resort beberapa saat, akhirnya Zain berhasil menemukan Aliya, namun benar-benar tak sesuai harapannya, Zain menemukan Aliya tidak sendirian, dia menemukan istrinya yang dia nikahi tanpa cinta itu sedang berdua bersama seorang pria. Pria yang sudah mulai ia kenal dengan baik akhir-akhir ini. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka tak hanya berdua di tempat sepi, tapi Zain dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri, mereka saling berpelukan layaknya sepasang kekasih.

Seketika perasaan bahagia dan menggebu-gebu ingin bertemu Aliya itu kini sirna berganti menjadi perasaan sesal, marah, kecewa, sakit hati dan segala yang negatif bercampur aduk dalam hatinya, satu perasaan yang tak akan pernah ia sadari dan ia akui adalah dia sedang terbakar rasa cemburu yang teramat.

Sejenak ia memandang gelang berbandul kunci yang ia genggam, dengan nanar dan penuh kebencian. Apa yang barusan dia pikirkan? Untuk apa gelang murahan ini? Untuk mmberikannya kepada Aliya? tidak! Sampai kapanpun ia tak akan memberikannya, ia lebih baik membuangnya.

Aliya Ghulam Haider tidak pantas mendapatkannya, selamanya dia akan terus begitu. Aliya akan terus menjadi orang di deretan teratas daftar orang yang paling ia benci di dunia ini. Takkan ia biarkan gadis itu mempermainkan hatinya lagi.

Zain langsung saja mencampakkan gelang itu ke rerumputan yang ia pijak, lalu ia pergi begitu saja. Dia  pergi bahkan sebelum Aliya menyadari keberadaannya.

Sementara, Aliya yang terkejut menyadari bahwa seorang pria baru saja memeluknya tanpa seizinnya, buru-buru ia mendorong kasar tubuh pria itu hingga pelukannya terlepas.

PLAKK!! Sekali saja tapi cukup membekas, ia melayangkan tamparannya ke pipi pria itu,
“Auww… Aliya Ji! Ini sudah kedua kalinya kau menamparku, padahal baru tadi sore kau berbuat baik padaku, sekarang kenapa kau melakukan ini lagi?” keluh pria itu, seraya mengelus pipinya yang tampak benar-benar sakit, membuat Aliya yang sempat gelap mata akhirnya menyadari bahwa seseorang yang baru saja mendapat tamparan keras darinya tak lain adalah Karan Tacker.

“Karan Ji, itu kau?!”
“Kau pikir di dunia ini ada yang bisa menyamai wajah tampanku?!” Karan masih saja bertingkah
“Apa?! Ck! Orang ini benar-benar… aku menamparmu karena kau mencoba berbuat asusila padaku,” Aliya mencoba melakukan pembelaan diri meski ia mulai merasa bersalah mengingat orang yang baru saja ditamparnya adalah orang yang baru tadi sore menyelamatkan hidupnya.

“Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin menyelamatkanmu, kalau tadi tidak ku tarik, kau pasti sudah jatuh ke danau seperti tadi sore dan aku benar-benar akan masuk angin jika harus menyemplung ke air malam-malam untuk menyelamatkanmu lagi,” jelas Karan polos. Benar juga apa kata Karan, membuat Aliya merasa semakin tidak enak padanya.

“T..tapi kau datang tiba-tiba dan mengagetkan aku! Tetap saja itu salahmu,” Aliya tak mau disalahkan kali ini,
“Baiklah Nona Aliya, aku yang salah, aku yang harus minta maaf,” Karan tersenyum bijak, membuat Aliya jadi malu sendiri.

“Kau sedang apa disini? Apa kau mengikutiku lagi?” Tanya Aliya kemudian, ia mendudukkan tubuhnya di punggir jembatan sambil menurunkan kakinya ke atas permukaan danau, dan Karan mengikutinya, ini adalah permulaan obrolan akrab dari keduanya.

“Kebetulan tidak, penginapanku ada di sebelah sana, aku suka tempat ini dan aku ingin berjalan-jalan menikmatinya sebelum sibuk dan tidak  bisa lagi menjelajahinya sesuai keinginanku sendiri, kau sendiri apa yang kau lakukan disini malam-malam begini? tadi waktu melihatmu, aku pikir kau adalah hantu penunggu danau, hahaH”

“Apa? Enak saja! mana ada hantu cantik sepertiku?” Aliya mulai mengeluarkan selera humornya pertanda ia mulai nyaman mengobrol dengan Karan.
“Yaa.. kau memang benar, tidak masuk akal ada hantu yang cantik sepertimu,” wajah Aliya lalu bersemu merah dipuji seperti itu.
“Tapi legenda itu memang benar-benar ada,” Karan mendadak terdengar serius.
“Apa maksudmu?!” Aliya mendadak penasaran dan mulai ikut serius.
“Konon katanya, hantu penunggu danau ini adalah seorang gadis cantik yang meninggal karena bunuh diri di danau ini, sejak saat itu penduduk di sini sering melihat penampakan hantu wanita cantik berpakaian serba putih dengan rambut panjang,” mendengar itu mendadak bulu kuduk Aliya merinding, ia benar-benar merasakan sensasi horor karena cerita Karan.
“Ceritamu sama sekali tidak lucu Karan!” Aliya yang berusaha menutupi ketakutannya dengan berlagak marah lalu ingin berdiri dari duduknya.

Namun Karan segera menahannya dengan menarik tangannya untuk duduk kembali.
PRANK! Jadi kau benar-benar percaya pada ceritaku? Kau takut?! hahaha!!” Karan tergelak geli.
“Jadi kau barusan menipuku?! Dasar kurang ajar!!” Aliya meninju pelan lengan Karan.

Malam itu Aliya menyadari bahwa Karan bisa menjadi teman yang baij, meski baru saling mengenal namun Karan selalu memancing Aliya untuk tak ragu mengatakan hal-hal konyol apapun di hadapannya yang ingin ia katakan.

Begitu juga dengan Karan, dia mempunyai selera humor yang bagus, dia seakan tak pernah kehabisan stock cerita yang selalu berhasil membuat Aliya tertawa lepas. Mengobrol asik dengan Karan Aliya bahkan sampai lupa waktu, setelah sekian lama ini kali pertama Aliya bisa tertawa lepas, dan semua itu karena Karan, dan itu membuatnya semakin simpati kepadanya.

Mujse Dosti Karoge?” Karan mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Aliya sebagai tanda ajakan untuk bersalaman.
“Ck! Apa-apaan kau ini? Aku pernah mendengar kata-kata itu dalam film,” bukannya membalas uluran tangan Karan, Aliya malah menepis tangan Karan.
“Tentu saja itu bukan hanya di dalam film, aku hanya ingin menjadi temanmu,”
“Tapi tidak harus dengan cara konyol begitu, untuk apa melakukan itu? kekanak-kanakan sekali!”
“hey.. kau tau? Aku beberapa kali mendapat tindakan penganiayaan brutal dari seorang gadis rimba, dia sudah menamparku dua kaki, menggigit tanganku dan menginjak kakiku hanya karena aku adalah orang asing baginya, aku tidak mau Nona Aliya berlaku brutal seperti gadis itu, apalagi terhadap temannya,” sindir Karan bergurau
“ck! Kau menyindiriku ya?” Aliya tersenyum kecil namun juga malu menyadari selama ini dia memang ‘sedikit’ brutal pada Karan.
“Ohh.. Apakah Aliya Ji merasa tersinggung? Aku tidak bermakud begitu Aliya Ji aku…” Karan menghentikan ucapannya karena akhirnya Aliya membalas uluran tangan dan tawaran persahabatannya seraya tersenyum manis.

“Kau puas?!” Aliya pura-pura terpaksa meski sebenarnya dia sudah merasa ringan hati.
“Belum, Haha!” Karan membalas candaan itu.
****

Shooting Days

Pagi harinya, Tridha dan Aliya keluar dari kamar secara bersamaan, mereka akan ke lokasi shooting bersama-sama. Dalam perjalanan keluar dari penginapan, tak sengaja mereka berpapasan dengan Zain yang tampak juga akan keluar.

Morning, Zain Bhaijaan” Sapa Tridha ceria.
Morning Tridha,” Balas Zain hanya memfokuskan pandangannya ke arah Tridha.
“Kak Zain mau pergi ke mana? kau mau pergi ke lokasi shooting? pergi dengan kami saja,” ajak Tridha antusias.
“Ya.. tapi aku harus ke suatu tempat dulu, baru aku akan ke sana,”
“Zain…” Aliya mencoba ikut menegur Zain, tapi Zain buru-buru memotongnya.
“Tridha Ji, nanti sore setelah pulang shooting maukah kau menemaniku jalan-jalan berkeliling pula Nami?” Tanya Zain cepat seakan mengalihkan pembicaraan dari Aliya, sekejap ia melirik Aliya hanya untuk memastikan ekspresinya yang terabaikan, lalu ia beralih fokus melihat ke arah Tridha sambil tersenyum.

“Tentu saja Kak, aku baru saja ingin mengajakmu, aku akan memandumu berkeliling Pulau Nami!” Tridha tampak kegirangan
“Baiklah, aku pergi dulu, nanti sore jangan lupa!” Zain menepuk bahu Tridha lalu pergi tanpa sudi melihat ke arah Aliya. Dan sekarang Aliya benar-benar bingung dengan sikap Zain yang semakin labil dan berubah-rubah, bahkan semalam ia mulai berbicara padanya dengan ramah, lalu kenapa  sekarang dia begitu acuh? Bahkan  Zain lebih acuh dari yang sebelum-sebelumnya dan Aliya belum bisa mencerna sikap anehnya.

“Kak Zain!!” Panggil Tridha setelah Zain melangkah cukup jauh, namun Zain tak menggubrisnya meski seharusnya dia masih mendengarnya.
“Aliya Ji... bisakah kau ke lokasi shooting sendirian? Aku ada urusan sebentar dengan Zain” tanya Tridha buru-buru.
“Yaa.. tidak apa-apa, kau pergilah,” kata Aliya. Setelah itu, Tridha langsung saja melangkah cepat mengikuti Zain dan meninggalkan Aliya sendirian. Aliya berfikir sesaat, ternyata Bibi Zarina benar, dia pernah berkata Zain dan Tridha adalah mantan tunangan yang masih saling mencintai, dan gara-gara kehadirannya Zain jadi tidak bisa menikahi Tridha. Dalam hati ia berjanji tak akan mengganggu hubungan mereka walaupun dia adalah istri sah Zain.

Zain kembali ke area danau tempat yang semalam sempat ia sambangi, entah kenapa ia jadi begitu menyesal membuang gelang itu dan sekarang ia ingin mencarinya lagi. Beberapa saat dalam pencarian, Tridha tiba-tiba muncul dan membuyarkan segalanya.

“Kak Zain sedang mencari apa?” Zain terlonjak kaget mendengar suara teguran Tridha seperti maling yang tertangkap basah.
“Tidak apa-apa, aku hanya melihat-lihat danau saja,” ucap Zain terburu, dan langsung beranjak pergi tanpa menyelesaikan pencariannya.

Tridha yang penasaran dan ingin tau, diam-diam mengedarkan pandangannya mencari-cari sesuatu yang aneh di balik rerumputan yang sempat Zain teliti, Zain pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dan benar saja, tak butuh waktu lama untuk mencari akhirnya ia menemukan sesuatu di sana, matanya berbinar-binar melihat sebuah gelang berbandul kunci.

Tridha ingat itu adalah gelang yang kemarin ingin ia beli tapi Zain melarangnya, lalu ia pun mengambil kesimpulan sendiri, jadi karena ini kah Zain mengajaknya berkencan nanti sore? yaa.. Zain pasti sengaja membelikan gelang itu sebagai kejutan. Namun nantinya dialah yang akan memberikan kejutan pada Zain.

****

Salah satu yang menjadi daya tarik dari pulau Nami yang berbeda dari tempat wisata lain di Korea Selatan adalah, Pulau ini lebih menawarkan keindahan alam yang bisa kita temui sejauh mata memandang, laut, danau, air mancur buatan, serta pepohonan yang berjejeran dan tertata rapi di setiap pinggiran jalan dan taman-taman tampak begitu menenangkan dan menyegarkan mata.

Pulau Nami atau yang biasa disebut Namira Island sering disebut pulau romantis karena sempat menjadi lokasi shooting drama Korea terkenal ‘Winter Sonata’. Yang uniknya, di setiap musimnya pepohonan itu akan berubah warna dan mendominasi warna di setiap tempat, namun sensasi romantis tetap sama di setiap musimnya.

Pada musim Semi pepohonan yang menghiasi setiap jalan akan didominasi warna hijau rindang menyegarkan mata, di musim panas dataran Nami akan didominasi oleh warna merah kekuningan. Pada musim gugur warna pepohonan akan berubah menjadi warna kuning dan berguguran di sepanjang jalan. Dan di musim dingin kali ini sepanjang jalan dan daratan Pulau Nami akan didominasi warna putih berpermadanikan salju berhiasan peopohonan tanpa dedaunan dan hanya bertahtakan dahan dan rantingnya saja.

Di pagi hari salju belum tebal menyelimuti jalanan, hanya beberapa tempat yang tanahnya ditutupi salju, hanya saja udara sudah sangat dingin menggigit tulang.

Di sebuah taman yang di belakangnya terdapat air mancur buatan, Zain sudah siap dengan penampilan klimis namun tetap maskulinnya, ia mengenakan tuxedo berwarna hitam bak seorang bangsawan Eropa yang akan menghadiri sebuah perhelatan akbar, ia serta para crue dan perangkat shooting sudah dipersiapkan. Dan mereka hanya perlu menunggu Aliya yang masih dalam proses periasan.

“Woahh.. Kak Zain, kau benar-benar tampan dengan mengenakan rancangan spesialku ini! sepertinya nanti-nanti aku akan meminta bantuanmu menjadi model spesial untuk rancangan spesialku!”
Decak Tridha seraya merapikan kerah baju Zain, ia hadir sebagai penyedia kostum sekaligus ingin melihat sesi pemotretan.

Zain tak menjawab, matanya malah jelalatan seperti menunggu kemunculan seseorang.
“Kemana Aliya..? kenapa dia tidak datang bersamamu?” Tanya Zain kemudian sambil matanya terus jelalatan mencari keberadaan orang yang ia tanyakan, Tridha sempat kecewa karena bukannya membalas pujiannya, Zain malah menanyakan Aliya.

“Kak Zain sudah tidak sabar bertemu dengan Aliya Ji? ya?” Pertanyaan mengena Tridha itu sempat membuat Zain sedikit tersentak.
“Maksudku kami semua sudah menunggunya, udara dingin begini dia membuat kami terlalu lama menunggu,” Zain sedikit tergagap namun dia berusaha keras agar Tridha tidak salah paham.

Beberapa saat menunggu,  akhirnya Aliya muncul dengan penampilan yang sudah siap untuk melakukan sesi pemotretan dan shooting, sesaat Zain tertegun menatap penampilan mengesankan Aliya.

Gadis itu muncul dengan penampilan berbeda dari biasanya, ia mengenakan Saree dengan design modern berwarna hijau daun yang ditutupinya dengan mantel bulu berwarna putih tulang, rambut panjangnya yang ikal mayang kini tampil lurus tergerai menyentuh punggung dan bahunya, dengan riasan wajah tipis-tipis yang tampak lebih natural dan sesuai dengan tema musim dingin, namun tetap saja  Zain melihatnya tampak berbeda.

Untuk beberapa saat Zain terpaku tak mampu mengalihkan pandangannya, tak juga ia mampu mengedipkan matanya.

“Kak Zain…” Tridha memanggil Zain, namun pemuda itu seakan tak mendengar panggilan dari Tridha yang jelas-jelas  berdiri tepat di sampingnya
“Kak…” sekali lagi Tridha memanggilnya, namun tetap tak ada tanggapan. Membuat ia mulai kesal,
“Kak Zain… Sutradara memanggilmu dari tadi,” ucap Tridha kesal dengan menaikkan volume suaranya. Dan akhirnya itu berhasil membuyarkan keterpakuan Zain.

Sesaat Aliya melihat ke arah Zain sambil tersenyum tipis, dan Zain memanfaatkan kesempatan itu dengan sengaja membelai puncak kepala Tridha tiba-tiba.
“Aku shooting sebentar ya..,” Zain tersenyum manis kepada Tridha, tampak sekali ia hanya sengaja memanas-manasi Aliya.

Yaa.. dan itu tampaknya berhasil, karena senyum Aliya seketika memudar berganti gurat-gurat kesedihan di wajah cantiknya melihat adegan itu, Zain tersenyum licik melihat reaksi Aliya itu, ia benar-benar puas membalas dendam, sementara Tridha sebenarnya tidak cukup senang, ia tau Zain sedang memanfaatkannya hanya untuk memanas-manasi Aliya, tapi ia tidak perduli, ia senang setidaknya Zain sudah menjauhi gadis itu dan perlahan dia akan  membuat Zain kembali membenci Aliya dan membuat ia jatuh cinta padanya.

****
Kini Aliya menyenderkan punggungnya di bawah pohon, pandangannya lekat-lekat tertuju ke arah wajah di hadapannya meski ia cukup ketar-ketir namun ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tampil lebih tenang dan profesional.

Sementara Zain berdiri di hadapan Aliya meletakkan  salah satu telapak tangannya di batang pohon tepat nya di samping kepala Aliya. Berkali-kali ia menelan ludahnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, entah apa yang terjadi padanya kini.

Ini pertama kalinya dalam hidupnya merasakan debaran yang tak biasa semacam ini, sihir apa yang sudah dilakukan Aliya padanya hingga tiba-tiba ia bertingkah seperti orang bodoh?  Bukankah selama ini dialah yang sengaja mempermainkan gadis yang ia yakini adalah orang yang paling dia benci itu dengan kelakuan nakalnya?

Lalu kenapa sekarang dia yang merasa akan gila berhadapan dengan Aliya seperti ini? Entahlah.. pasti Aliya sudah melakukan sesuatu yang buruk padanya yang tak ia sadari dan ia tak akan membiarkan hal ini berlangsung lama.

Menuruti arahan dari sutradara Zain pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Aliya, seakan-akan ingin menciumnya, sial!! Kenapa sekarang sesuatu yang paling mudah untuk ia lakukan menjadi begitu sulit?

CUT!!” Untuk kesekian kalinya sutradara memekikkan kata-kata itu, dan semua masalah itu terletak pada Zain. Entah karena dia memang tidak punya bakat berakting atau karena dia gugup berhadapan dengan Aliya istrinya sendiri, dia selalu saja melakukan kesalahan yang tidak sesuai dengan arahan.

“Tuan Zain, tolong bersikaplah alami sedikit, jangan tegang begitu… kau tidak perlu malu-malu, anggap saja kalian sedang berdua di kamar, hehe” pinta sang Sutradara mulai hilang kesabaran namun setengah bercanda.

“Sudah! Aku tidak ingin shooting lagi, aku rasa pemotretan yang melelahkan tadi sudah cukup, aku tidak mau melakukan ini lagi!” Zain tiba-tiba menunjukkan rasa muaknya, semua orang jadi terdiam bingung, baru kali ini ada model yang membantah arahan sutradara dan bertindak semaunya.

Tapi tentu saja tidak ada yang bisa mereka lakukan, bagaimana bisa mereka memprotes atas tindakan tidak profesional Zain itu? mengingat dia sendiri adalah CEO pemilik channel, dia bisa saja sejak awal menolak tawaran sebagai Icon valentine itu, jadi kenapa juga dia harus mengikuti prosedur?

Tapi yang aneh kenapa dia begitu tampak kesal dan muak? Ini bahkan masih siang, waktu shooting mereka seharusnya hingga sore dan Zain sudah ingin menghentikan semua kegiatan itu hanya karena moodnya sedang buruk, dan mau tidak mau seluruh crue harus menuruti titahnya.

Dengan tampang kusut Zain langsung  saja berlalu pergi dari hadapan kamera dan dari hadapan Aliya. Semua orang terlebih lagi Aliya semakin bingung dengan sikap labil Zain. Aliya memutuskan untuk mengejar Zain, dia butuh penjelasan dan jawaban dari segala kebingungannya.

Sejauh beberapa meter dari lokasi shooting, Aliya terus mengejar Zain yang tak kunjung tergapai seraya terus memanggilnya, Aliya bahkan sampai lupa dia
hanya mengenakan Saree yang berbahan tipis karena mantel bulunya harus di lepaskan saat pengambilan gambar tadi. Namun Zain seakan tak perduli, ia terus melanjutkan langkahnya dengan perasaan tak karuan.

Hingga akhirnya Aliya berhasil menghentikan langkah Zain dengan meraih pergelangan tangannya, mereka kini berada di sebuah jalan setapak yang sepi tanpa kendaraan, jalanan itu dipagari dengan pepohonan yang sudah mulai tampak menghijau dan kembali oleh ditumbuhi oleh dedaunan rindang persiapan pergantian musim, memasuki musim semi. Pepohonan itu tumbuh berjejer rapi di samping kanan dan kiri seakan memagari dan menaungi jalanan hingga lebih tampak seperti lorong.

“Zain.. kau kenapa? Kenapa kau pergi begitu saja meninggalkan shooting? Kasihan para crue sudah bekerja keras”

“Tau apa kau dengan acara ini? Aku adalah CEO di perusahanku, untung ruginya aku yang lebih tau” ketus Zain
“Tapi kenapa tiba-tiba Zain? Kau membuat semua orang bingung dan serba salah, hanya karena kau marah padaku, kau melimpahkannya ke semua orang?”
“Ck! Jadi kau pikir aku sedang marah padamu?! kau pikir apa kau begitu hebat sehingga bisa menghancurkan moodku seperti ini?!” Zain meninggikan suaranya, itu adalah bunyi bantahan tapi itu justru malah bentuk kejujuran yang tak disadarinya keluar begitu saja dari mulutnya.

“Apa kau masih marah soal cincin itu?” Tanya Aliya lagi.
“Cincin? Cincin yang mana?!” Zain tersenyum sinis, pura-pura melupakannya tapi Aliya tidak perduli, dia harus tetap membahasnya.
“Zain, aku minta maaf karena sudah ceroboh menghilangkan cincin itu, aku akan menabung dan menggantinya,” mendengar solusi yang ditawarkan Aliya entah kenapa Zain malah semakin marah, jadi Aliya berfikir cincin itu bisa ditukar dengan barang manapun?

“Heuh! Aliya Ghulam Haider, apa kau selalu menganggap dirimu itu penting? Kenapa juga aku harus marah hanya karena cincin formalitas yang tidak bernilai dari hanya sekedar beberapa lembar Won saja?!” sejujurnya itu melukai Aliya, dia sangat sedih mengetahui arti cincin itu dan dirinya bagi Zain.

“Lalu kenapa kau seperti ini Zain? Kenapa kau melakukan ini padaku?! Apa aku berbuat kesalahan lagi?”
“Hey Aliya Ghulam Haider! aku tidak mengerti kau menaruh otakmu dimana, jau bersikap seolah-olah aku pernah mencintaimu, kau pikir kapan aku tidak membencimu?! Bahkan Setiap detik, setiap tarikan dan hembusan nafas dalam hidupku aku selalu membencimu, yaa.. aku membencimu dari dulu, kini, nanti dan selamanya. Lalu kau masih mempertanyakannya?!,”

Zain menatap Aliya dengan tatapan nanar, dia dapat melihat kesedihan yang mendalam di mata Aliya, tapi dia tidak ingin peduli, gadis itu pantas mendapatkannya, namun itu justru semakin melukainya.

“Enyahlah dari hadapanku, jangan pernah tebar pesona dan cari perhatian lagi di hadapanku, karena aku sangat membencimu, Aliya Ghulam Haider!” Zain menegaskan dengan suara tertahan membuat Aliya hanya terdiam tak mampu berkata-kata menahan rasa sakit di dalam dadanya.

Zain mencampakkan tangan Aliya yang sejak tadi menggenggam pergelangan tangannya dan tiba-tiba secara tidak sengaja tangan Aliya menyibak lengan tuxedo di pergelangan tangan Zain. Mata Aliya sejenak menatap gelang yang ia kenali dengan baik karena itu adalah gelang pemberiannya, Aliya sesaat terpaku melihatnya lalu melihat ke arah Zain, ia tak mengatakan apapun, tapi ekspresinya jelas mengisyaratkan pertanyaan ‘kau masih memakai gelang itu?’.

Yaa.. jika mampu bersuara Aliya jelas akan menanyakan itu, mengingat Zain saat itu benar-benar tak menginginkan gelang itu, tapi waktu itu Aliya memaksanya untuk memakainya walau barang hanya sehari saja tapi ini sudah hari ke tiga dan Zain masih memakainya. Apakah itu hanya berarti Zain menyukai gelangnya? Aliya tidak menanyakan apapun, tapi Zain tau apa yang Aliya fikirkan saat ini.

“Jangan salah paham!! Aku hanya lupa mencopotnya, tapi kau tenang saja aku akan segera membuangnya!” Ucap Zain lalu beranjak pergi menjauhi Aliya dan meninggalkan gadis itu sendirian.

Belum jauh ia melangkah ketika, lagi dan tiba-tiba Tridha muncul di hadapan Zain.
“Tridha?!” Tanya Zain kaget melihat kehadiran Tridha, ia harap Tridha tidak melihat semua yang terjadi antara dia dan Aliya.

“Kak Zain sudah berjanji padaku akan mengajakku jalan-jalan sore ini, karena sudah selesai Shooting jadi aku menagih janji itu,” seloroh Tridha.
“Oh yaa? Aku berjanji begitu ya? Aku sampai lupa, kalau begitu ayo kita pergi,” Zain sebenarnya bisa saja menolak ajakan Tridha dengan segala alasan yang ia buat-buat, tapi berhubung Aliya masih melihatnya, dia manfaatkan saja kesempatan itu untuk membuat Aliya cemburu.

“Dan satu lagi,” Tridha berucap sebelum mereka melangkah pergi,
“aku punya kejutan untukmu… Tada!!!” Tridha memamerkan pergelangan tangan kanannya yang kini terlingkar sebuah gelang berbandul kunci.

Zain terang saja terkejut, gelang itu tiba-tiba berada di tangan Tridha padahal sejak tadi dia sudah berniat untuk mengambilnya kembali dan menyimpannya, dia benar-benar tidak menyangka apalagi menginginkan gelang yang entah kenapa begitu berharga baginya itu jatuh ke tangan Tridha.

“Da.. darimana kau mendapatkan gelang itu?!” Zain tergagap
“Hmmhh.. aku tidak suka diberi kejutan Kak Zain, tapi aku suka memberimu kejutan, terimakasih atas niat kejutannya walaupun tidak berhasil, hihi..” Tridha menyengir begitu yakin akan anggapannya. Sejenak Zain bingung harus mengatakan apa kepada Tridha, dia ingin jujur agar Tridha berhenti salah paham, namun di belakangnya masih ada Aliya yang pasti akan tau jika dia mengungkapkannya sekarang.

“Terimakasih Kak Zain, aku benar-benar menyukai hadiah sederhana ini,” lirih Tridha seraya berhambur ke pelukan Zain dan jelas membuat Zain terkejut dan merasa serba salah.

Sementara tak jauh dari sana, Aliya sedang menahan tangis kesakitannya, ia sudah berusaha untuk menerima hubungan Zain dan Tridha, tapi kenapa rasanya begitu sakit ketika mengetahui bahwa gelang pasangan itu akhirnya diberikan kepada Tridha? Kenapa ia merasa begitu sedih saat akhirnya ia tau Zain sudah menemukan pemilik kunci untuk gembok hatinya? Aliya ingin menangis, tapi sekuat tenaga ia bendung air mata itu agar tidak tumpah.

Ia bahkan lupa bahwa sekarang tubuhnya mulai terasa kaku dan membeku karena kedinginan, ia menyedekapkan erat kedua tangannya dengan kain sari ke tubuhnya seraya menggosok-gosok kedua lengannya dengan telapak tangannya, dengan langkah gontai ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan membiarkan Zain dan Tridha berdua saja.

Namun dalam perjalanan pelannya tiba-tiba dari arah belakang Aliya seseorang muncul dan meletakkan sesuatu di atas bahu Aliya. Ia hadir seperti pahlawan super yang menghangatkan tubuh Aliya yang sedang kedinginan dan mengurangi sedikit kepedihan Aliya.

“Karan?!” Tegur Aliya melihat kemunculan Karan sambil tersenyum ke arahnya. Aliya melihat kain yang diletakkan Karan di bahunya adalah sebuah kain lembut berwarna merah muda yang ia kenali.

“Ini… dupattaku?” Tanya Aliya sedikit ragu
“Kau tidak lupa kronologi awal pertemuan kita kan?” Karan malah bertanya balik.
Dan kini gilaran Zain yang mengalihkan pandangan ke arah Aliya bersama pria itu setelah melepaskan pelukan Tridha.

“Csh! Sejak kapan kau mengikutiku, Karan?” Tanya Aliya tampak jauh lebih ceria.
“Sejak hatimu butuh pertolongan dan memanggil nama Karan Tacker,” mendengar jawaban konyol dari Karan, Aliya hanya meninju gemas otot lengannya. Tak terasa tangis yang hampir-hampir saja tadi tumpah membanjiri wajah Aliya, kini berubah menjadi senyum merekah di wajahnya.

“Ayo pergi ke suatu tempat! Aku akan menunjukkanmu tempat-tempat yang menyenangkan di Pulau Nami!”
“Kita akan jalan-jalan?!” Karan menjawabnya dengan menarik tangan Aliya dan membawanya pergi.

Karan dengan cueknya berjalan sambil menggandeng tangan Aliya ketika lewat di hadapan Zain, ia benar-benar tak peduli bahwa normalnya seorang suami akan marah jika istrinya digandeng mesra begitu oleh pria lain, ia memang sengaja melakukannya, toh sekarang Zain pun melakukan hal yang sama dengan bersama wanita lain secara terang-terangan di depan Aliya.

Namun reaksi Zain tidak seacuh itu, tentu saja sama seperti suami lainnya perasaannya juga sedang terbakar melihat istrinya digandeng oleh pria lain, hal itu terlihat jelas dari tatapannya yang berapi-api dan seperti bom atom yang siap meledak, namun bodohnya dia tidak bisa melakukan apapun, setidaknya suami lain akan meninju wajah Karan karena sudah lancang mendekati istrinya, tapi Zain tidak melakukan itu hanya karena dia gengsi dan Karan sudah bisa memprediksi itu.

Namun tidak demikian dengan Aliya, meski berfikir bahwa Zain tidak akan peduli dia tetap tak ingin mengkhianati Zain dan membuatnya salah paham terhadapnya. Segera ia lepaskan gandengan tangan Karan dan berjalan cepat menjauhi mereka dan Karan pun mempercepat langkahnya menyusul Aliya.

****
Setelah berganti kostum, Karan dan Aliya pun berjalan-jalan menelusuri sudut-sudut Pulau Nami, menikmati keindahan alam yang ditawarkan pulau Nami sejauh mata memandang.

Aliya begitu antusias mengunjungi setiap tempat dan tak segan berselfie ria dengan kamera ponselnya, saking asik dengan dunia dan kesenangannya sendiri, ia tak peduli bahkan tak sadar, bahwa pria yang kini bersamanya tak henti-hentinya menatap lekat penuh kekaguman dan tak jarang memotret Aliya di setiap pose dan latar belakang.

Terlebih lagi ketika berada di kawasan dimana terdapat patung dan gambar tokoh dalam Drama Icon Pulau Nami ‘Winter Sonata’ yang secara khusus dibuat tampak seperti monumen bersejarah.

Eksploarasi kembali berlanjut dengan mengunjungi dermaga yang menampakkan keindahan lautan luas, lalu danau buatan dimana pengunjung bisa melakukan wisata air dengan menaiki perahu bebek.

Dan entah mungkin sudah takdir, atau memang salah satu di antara mereka ada yang membuntuti satu sama lain. Karan dan Aliya kembali dipertemukan dengan Zain dan Tridha.

Sesaat mereka tampak kikuk satu sama lain antara harus berlagak saling mengenal atau malah pura-pura saling tidak mengenal saja.

“Ck!! Kekanak-kanakan sekali sampai harus membuntuti!!” Sindir Zain sambil memalingkan pandangannya seakan tak sudi melihat Karan dan Aliya.

Excuse Me sir, kau sedang membicarakan siapa?” Tanya Karan bertingkah sok ramah namun itu tampak begitu menyebalkan di mata Zain.

“Hemmhh.. Tridha coba kau pikirkan, Pulau Nami bahkan tidak sekecil gedung Barkath Company, tapi aneh sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang sama dalam waktu sehari di tempat yang berbeda, apa namanya jika tidak membuntuti?” Kali ini Tridha hanya diam saja, padahal ia tau pasti bahwa ide membuntuti Karan dan Aliya adalah ide sepihak Zain, dia bahkan tidak setuju untuk melakukannya.

“Maaf Tuan Zain, hanya orang yang ingin tau urusan orang saja yang kurang kerjaan membuntuti.” Kali ini Aliya yang membalikkan tuduhan Zain.
“Karan, perahunya sudah siap ayo kita naik saja…” dengan cueknya dia mengajak Karan agar untuk menghindari Zain dengan segala ucapan sinisnya.

Namun itu malah semakin membuat Zain semakin panas,

“Aliya Ghulam Haider, dengan siapa sebenarnya kau ke Korea, siapa sebenarnya suamimu?!”

Batin Zain menggerutu kesal…

Kini Karan dan Aliya tengah menikmati wisata air dengan terus mengayuh santai perahu bebek mengitari danau. Sementara Zain semakin tidak senang melihat pemandangan itu, dia sudah tidak tahan lagi, dia harus melakukan seseuatu.

Ia pun tidak mau kalau dengan mengajak Tridha naik perahu Bebek. Sementara Karan dan Aliya asik menikmati berkeliling danau dengan mengayuh pelan perahunya, tidak demikian dengan Zain, ia sangat bernafsu sekali ingin menyusul perahu milik Karan dan Aliya.

“Kak Zain, kenapa begitu terburu-buru mengayuh perahunya? Santai saja, kita kan sedang tidak balapan!” Protes Tridha yang sudah mulai kewalahan mengayuh perahu.
“Tidak apa-apa, aku hanya sangat menyukai bermain ini saja, jika kau lelah kau tidak perlu mengayuhnya, aku bisa mengayuhnya sendiri,” ucap Zain lalu terus fokus mengayuh dan pandangannya terus menuju ke arah perahu Karan dan Aliya, seakan mereka adalah sasarannya.

Melihat perahu Zain yang semakin mendekat, Karan dan Aliya memilih untuk mengabaikannya, mereka terus mengayuh perahu dengan pelan sambil mengobrol seru dengan akrabnya, tak jarang Aliya tergelak ketika mendengar guyonan Karan, begitu pula sebaliknya.

Dan terang saja hal itu membuat Zain semakin gondog dan tak bisa menahan diri, kini dia mulai bertingkah kekanak-kanakan dengan memepetkan perahunya di badan perahu Karan dan Aliya lalau sesekali menabarakkannya.

Sekali tabrak, Aliya kaget dan memekik, namun ia masih berusaha bersikap santai, kedua kalinya Karan mulai menegur kecil Zain,

“Tuan Zain, sepertinya perahumu terlalu memepet perahu kami, bisakah kau menjaga jarak?!” Pinta Karan halus.
“Entahlah Karan Ji, aku juga tidak mengerti kenapa bisa begini, aku sedikit tidak bisa mengendalikan perahuku, sepertinya perahu ini bermasalah” Zain beralasan.

Namun tentu saja itu hanyalah alasan kekanak-kanakan Zain, karena untuk ketiga kalinya ia kembali menabarakkan badan perahunya dengan perahu Karan, namun efeknya malah benar-benar jauh dari niatannya. Goncangan pada perahu membuat perahu Karan dan Aliya sedikit oleng dan Aliya hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Karan langsung menangkap tubuhnya.

Dekapan yang tampak mesra serta temu pandang antara Karan dan Aliya pun tak terhindarkan, Zain semakin muak saja, ini benar-benar menyebalkan, Aliya dan Karan seakan sengaja membakarnya habis-habisan, dan ia tak akan membiarkan mereka mempermainkannya lagi.

“Kau tidak apa-apa Aliya Ji?” Tanya Karan setelah Aliya melerai dekapannya.
“Aku baik-baik saja, sebaiknya kita berhenti saja, aku sepertinya ingin pulang saja, aku lelah ingin istirahat,” Aliya beralasan.

Karan pun menuruti permintaan Aliya untuk menepikan perahu, dan Zain pun sudah tidak ada alasan lagi untuk berada di perahu, ia pun ikut-ikutan mengakhiri wisata perahu bebek itu.

Malam harinya Zain tampak mulai kacau dan bertingkah aneh, kembali ia mendatangi kamar Tridha yang disana juga ada Aliya, ia benar-benar menaruh dendam terhadap perlakuan Karan dan Aliya yang dianggapnya sudah mempermainkannya.

Ia begitu ingin membalas dendam pada Aliya dan begitu penasaran ingin memastikan apakah Aliya benar-benar merasa terganggu dengan kedekatannya dengan Tridha atau tidak.

“Zain… ada apa?” Aliya sedikit terkejut ketika ia membuka pintu dan menemukan Zain dibalik pintu. Dan bagi Zain hal itu benar-benar anugerah, kebetulan sekali Aliya yang membuka pintunya, ini adalah kesempatannya untuk memanas-manasi Aliya dengan memamerkan kebersamaannya dengan Tridha.

“Aku tidak ada urusan denganmu, aku hanya ingin bertemu dengan Tridha,” ucap Zain seraya menyeringai sinis.
“Ohh.. begitu? Baiklah akan kupanggilkan,” raut wajah Aliya memang kelihatan kurang senang, tapi itu tidak cukup membuat Zain puas.
“Kak Zain ada apa?” Tanya Tridha dari belakang Aliya sebelum Aliya memanggilnya.

“Aku sedang bosan di kamar, ayo kita pergi clubbing” ajak Zain kemudian, membuat Aliya terkejut mendengarnya.
Clubbing?! Kenapa tiba-tiba begini?” Tridha agak bingung
“Kita sudah lama tidak clubbing bersama sejak aku kuliah di luar negeri, aku dengar di Pulau Nami ada club malam yang bagus”
“Baiklah! Siapa takut?! Aku siap-siap dulu” Ucap Tridha dengan senang hati, lalu dengan semangat segera ia masuk ke dalam untuk berganti pakaian dan sedikit berhias.

Berniat ingin bicara dengan Zain, Aliya segera keluar dari dalam kamar dan menutup pintunya dari luar.

“Kau mau kemana Zain, clubbing?!” Tanya Aliya menampakkan ketidak setujuannya.
“Memangnya kenapa? Apa ada masalah denganmu?” Ketus Zain
“Apa yang akan kau lakukan disana? Kau tau itu bukan tempat yang layak kan?!”
“Aku yakin orang sepertimu tidak pernah datang ke tempat seperti itu, jadi kau tidak akan pernah tau hal menyenangkan apa yang akan kau dapatkan disana?”
“Aku memang tidak pernah ke sana Zain, tapi semua orang tau bahwa tempat itu adalah tempat maksiat, kau pasti akan minum-minum dan melakukan sesuatu yang dilarang, tidak Zain! aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana!” Aliya kekeuh

“Berhentilah berlagak seperti seorang pemuka agama atau Ibuku, Aliya! kau bukan siapa-siapa kau tidak berhak mengatur hidupku!”
“Yaa.. aku memang tidak berhak mengatur hidupmu, tapi bagaimana dengan Tridha? Kau membawa seorang gadis ke tempat seperti itu malam-malam Zain, dia..” Zain langsung memotong kalimat Aliya

“Ahh.. jadi sekarang kau cemburu? Kau cemburu karena aku mengajak Tridha bukannya kau?” Zain tersenyum sinis
“Bukan begitu Zain, aku..”
“Aku apa?! Kau mau aku tidak pergi? Maka terus terang saja, jika kau cemburu, maka aku tidak akan pergi,” Zain menyeringai, ia cukup puas bisa memberikan syarat brilian itu kepada Aliya, sementara Aliya masih ragu. Ia tidak bisa mengatakan itu pada Zain,
“Ti..tidak Zain aku, aku hanya khawatir pada Tridha…”
“Kalau begitu lupakan saja! Kau tidak perlu mengkhawatirkan Tridha, kau malah harus mengkhawatirkan dirimu sendiri, dan aku.. aku hanya akan bersenang-senang dengan Tridha malam ini,” semprot Zain, lalu sesaat kemudian Tridha sudah keluar dengan make up casual serta mantel bulu cokelat yang dibaliknya gaun malam hitam tanpa lengan, sepaha yang bermotif glitter.

“Ayo Bhai, aku sudah siap” ucap Tridha kemudian. Zain sekilas hanya menatap sinis Aliya, lalu menggandeng Tridha dari hadapan Aliya.

Aliya tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menatap sedih suaminya itu dalam kegundahan dan kekhawatirannya.

****
Hingga pukul 1 pagi, Zain dan Tridha tak kunjung pulang, Aliya yang tidak bisa tidur memikirkan suaminya, mondar-mandir di muka penginapan menantikan kedatangan mereka dengan perasaan khawatir. Bahkan sejak awal Zain memutuskan pergi ke club perasaannya sudah tidak enak, apalagi mereka belum pulang hingga jam segini.

Hingga akhirnya cahaya lampu mobil menyilaukan mata Aliya, Tridha dan yang mengejutkan Karan turun dari mobil lalu Karan membuka pintu mobil bagian belakang dan mengeluarkan tubuh Zain dari jok belakang mobil dan membopongnya di bantu Tridha

Aliya terkejut dan panik melihat kondisi Zain yang tampak tak sadarkan diri,
“Apa yang terjadi?!” Tanya Aliya sambil membantu membopong tubuh Zain.
“Dia mabuk berat, aku sudah berusaha menghentikannya tapi dia tidak mau” jelas Tridha.

Mereka lalu meletakkan Zain di tempat tidurnya masih dengan pakaian lengkapnya.
“Karan, kau juga ada disana?” Tanya Aliya kemudian, ia tampak lebih tenang,

“Tadi aku yang menelepon dia, aku tidak tau harus minta tolong kepada siapa,” malah Tridha yang menjawab.
“Baiklah terimakasih atas bantuannya,” ucap Aliya lembut.
“Kalian pulang dan istirahatlah, aku yang akan merawatnya” lanjutnya.
“Tapi..” Tridha tadinya tidak ingin meninggalkan Aliya dan Zain berdua saja, tapi Karan langsung mencegahnya,

“Biarkan Aliya yang merawatnya,” lirih Karan lalu mengarahkan tubuh Tridha untuk keluar dari kamar dan meninggalkan Zain dan Aliya berdua saja. Kali ini Karan memilih untuk tak ikut campur.

Sepeninggal Karan dan Tridha Aliya lalu menutup pintu kamar. Ia pun segera mencopot sepatu dan kaus kaki Zain, juga mantelnya. Saat melepas mantel tiba-tiba Zain yang setengah sadar meracau dan mengucapkan sesuatu yang mengejutkan Aliya.

“Aliya Ghulam Haider!!” Panggil Zain dalam racauannya dengan mata yang terpejam. Aliya tak menjawab dan hanya mendengarkan seksama racauan Zain.
“Aku mencintaimu Aliya!” Tadinya Aliya tidak percaya dengan apa yang dia dengar karena artikulasi Zain juga kurang jelas. Hingga kemudian Zain mengulangi perkataannya dengan lebih jelas.
“Aku mencintaimu Aliya!! Aku mencintaimu sampai rasanya mau gila,”
Aliya terdiam sesaat, ia tidak ingin mempercayainya karena Zain sedang dalam keadaan mabuk, tapi kenapa jantungnya berdegup kencang dan hatinya begitu bahagia mendengar itu?

Meski begitu Aliya mencoba untuk mengabaikan racauan itu, ia menyibukkan dirinya dengan melanjutkan melepas mantel Zain dengan susah payah mengangkat tubuhnya yang lumayan berat, namun bukannya berhasil mengangkat tubuh Zain, tubuh Aliya yang malah tertarik ke tubuh Zain karena tiba tiba Zain menariknya ke dalam pelukannya.

Kini posisi Aliya sedang menindih tubuh Zain. Sesaat Zain membuka matanya dan menatap Aliya lalu berucap,
“Aku mencintaimu, Aliya” bisiknya kemudian memutar tubunya ke samping dan membawa Aliya berbaring di sampingnya dan dalam dekapannya.

Kini ia memeluk tubuh Aliya begitu erat, Aliya berusaha mengeluarkan tubuhnya dari sana, namun dekapan Zain terlalu kuat hingga ia tidak bisa melakukan apapun. Zain tampak tertidur pulas seraya terus memeluk tubuh Aliya.

Sementara Aliya tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya pasrah berada dalam pelukan Zain dan tertidur di sana.

Pagi Harinya….

Aliya bangun terlebih dahulu dan masih menemukan dirinya berada pada posisi yang sama yakni di pelukan Zain, ia kembali terngiang akan ucapan Zain semalam, namun ia segera mengabaikan pikiran konyol itu.

Aliya rasa sudah saatnya untuk keluar dari pelukan Zain. Perlahan ia melerai lengan Zain yang melingkar di tubuhnya, ia berusaha agar Zain tidak terbangun karena aksinya itu.

Namun sebelum Aliya bisa melepaskan dekapan Zain, pria itu sudah membuka matanya. Sesaat ia terdiam tak mengatakan apapun. Mereka sama-sama saling menatap tanpa kata, hingga kemudian kesadaran Zain kembali dan buru-buru ia melepaskan sendiri pelukannya dari Aliya.

Ia lalu segera mendudukkan tubuhnya, dan Aliya pun mengikuti,
“Apa yang kau lakukan disini?” Zain pura-pura tidak ingat apapun, padahal dia beberapa kilasan kejadian semalam kenapa Aliya bisa berada di kamarnya.
“Semalam kau mabuk berat, jadi aku merawatmu,” jawab Aliya.
“Kau pikir aku Bayi yang harus dijaga?!” Kali ini Aliya tidak ingin berdebat dengan Zain, ia memutuskan untuk pergi karena baju-baju gantinya ada di kamar Tridha.
“Aliya…” panggil Zain sebelum Aliya keluar dari kamarnya.
“Pokoknya apapun yang terjadi semalam, apapun yang kukatakan, semua itu pastilah tidak benar, jadi jangan memikirkan apapun tentang semalam,” Aliya sesaat menoleh ke arah Zain.

“Ya.. aku tau, kau tidak perlu khawatir, kau memang tidak pernah mengatakan hal yang benar,” ucapan Aliya yang cukup mengena itu membuat Zain terdiam. Aliya pun buru-buru meninggalkan kamar dengan diliputi rasa kecewa.

****

Setelah 3 hari kegiatan shooting yang berlatar pemandangan di Pulau Nami, kegiatan diakhiri dengan sebuah pesta perayaan atas kesuksesan kegiatan sekaligus pesta perpisahan antara para crue, artis, pihak kedutaan India dan pihak pariwisata Korea Selatan dan Pulau Nami.

Yaa… karena para undangan yang menghadiri Pesta adalah orang-orang penting dan kalangan artis Bollywood, maka pesta pun diadakan megah dan meriah di atas sebuah kapal pesiar di atas perairan pulau Nami yang akan berlayar ke Seoul.

Menjelang pesta, di cabin kapal Aliya belum mempersiapkan apapun, dan Karena Aliya terlalu lama, Tridha yang tampak buru-buru ingin datang ke pesta mohon diri untuk mendahului Aliya dan mengajak Zain untuk pergi bersamanya.

Sementara ia benar-benar tidak yakin bisa pergi atau tidak, dia tidak menyangka akan ada pesta megah nan berkelas, jadi dia tak mempersiapkan gaun apapun untuk ia pakai. Namun Tridha berusaha membantunya dengan meminjamkannya sebuah gaun miliknya. Tanpa sepengetahuan Aliya, Tridha sengaja memberikan gaun yang ia yakini tak akan pernah dikenakan oleh Aliya dan dia tidak akan pernah pergi ke pesta itu.

Dan benar saja, gaun pesta berwarna hitam itu memang sangat Indah dan mewah, Aliya yakin dia tidak akan pernah mampu membeli baju semahal itu meski ia mengumpulkan gajinya sebagai tour guide setahun penuh tanpa berbelanja. Namun gaun itu benar-benar sangat minim kain bagi Aliya yang kesehariannya hanya mengenakan style anarkali tradisional. Gaun yang menjuntai hingga mata kaki itu terdesign backless alias tak berpunggung dengan belahan dada yang cukup terbuka. Sungguh, ia tidak akan percaya diri dan nyaman memakainya.

Tapi ia jadi serba salah, jika ia tak mengenakan pakaian itu dan hanya memakai Saree sederhananya, ia akan mempermalukan Zain sebagai pimpinan perusahaan di depan para pejabat dan artis-artis, tapi jika dia tidak hadir hal itu juga akan dipertanyakan mengapa istri dari CEO tak menghadiri pesta dan mendampingi suaminya.

Setelah berfikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk tetap menghadiri pesta. Ia mensiasati gaun terbukanya itu dengan sebuah selendang yang senada dan tampak cocok dengan design gaun dan dibantu oleh mantel bulu berwarna senada, kali ini Aliya menyanggul rendah rambutnya dan bersolek tipis-tipis dengan lipstik merah menyala yang dangat cocok dengan warna kulitnya.

“Kau dimana? Zain dan Tridha di sini sejak tadi, kau bilang akan datang bersama mereka?” Tanya Karan menelepon Aliya,
“A.. aku sudah di perjalanan” bohong Aliya, padahal dia masih ada di cabin dan belum mengenakan sepatunya.
“Apa mau kujemput agar kau tidak masuk sendirian?”
“Tidak! Tidak perlu aku segera datang” Setelah mengakhiri panggilannya, Aliya lun segera memasang sepatu silver nya lalu pergi.

At The Party…

Benar saja apa yang Aliya duga, pesta itu benar-benar megah seperti pesta yang ia lihat di film-film dan tak ada seorang pun yang mengenakan pakaian tradisional, semua orang mengenakan pakaian mewah dan berkelas Internasional, hampir saja ia membuat Zain malu.

Begitu memasuki area ruang serba guna kapal, Aliya langsung disambut oleh seorang pelayan yang menawarkan penitipan mantel.
“Silahkan mantelnya Nona,”
“A.. apa?!” Aliya terkejut mantel yang membantunya menutupi tubuh terbukanya harus ditanggalkan.
“Mantelnya boleh dititipkan” ucap sang pelayan lagi, Aliya ketar-ketir berfikir sejenak, beruntung ia sudah melapisi gaunnya dengan sebuah selendang yang ia sematkan si kedua bahu dan lengannya. Ia pun akhirnya bersedia menanggalkan mantelnya dan memberikannya pada pelayan.

Celingak-celinguk seperti orang bodoh Aliya mencari sosok yang mungkin ia kenali, karena ia benar-benar akan seperti Alien tanpa mereka di pesta ini.

“Aliya!” Aliya lega, seseorang yang ia kenali memanggilnya dan itu adalah Karan, pemuda itu lalu segera menghampiri Aliya dengan senang hati.

Seperti sebelum-sebelumnya Karan tampak terpukau menatap Aliya dengan penampilan super cantiknya.
“Kau cantik sekali Aliya,” Pujinya jujur
“Yaa.. memang sejak lahir kau baru menyadarinya ya?”
“Csh! Tentu saja aku tau,” balas Karan membuat Aliya tersipu.

Sementara dari kejauhan Zain lagi-lagi melihat kebersamaan dan keakraban Aliya dan pria itu, ia tidak ingin peduli, tapi tetap saja ia peduli dan terus menatap ke arah Aliya meskipun Tridha sedang berdiri di hadapannya.

Aliya kini tampak mencicipi sepotong kue dan dengan mesranya Karan membersihkan bibir Aliya yang belepotan dengan cream dari kue, sesaat Aliya tampak kikuk diperlakukan Karan sedemikian manisnya. Dan di seberang sana kini seseorang sedang terbakar cemburu.

Lalu beberapa saat akhirnya Aliya pun menyadari keberadaan Zain bersama Tridha, dan menyadari itu Zain kembali melancarkan aksi balas dendamnya, tepat ketika sesi dansa dimulai Zain mengajak Tridha berdansa dan dengan senang hati Tridha menerimanya.

Tubuh Zain memang kini ada di pelukan Tridha, ia pun hanya menggerakkan tubuhnya ke sana kemari sekedarnya saja tapi mata dan fikirannya terus berfokus ke Aliya.

Hal yang sama terjadi pada Aliya di seberang sana, fikiran dan hatinya sedang tertuju kepada Zain yang kini berdansa mesra dengan wanita lain, namun ia masih bisa mengalihkan pandangannya pada Karan dan mencoba untuk mengobrol dengannya.

“Mau berdansa?” Tanya Karan kemudian, ia harus mengalihkan fikiran Aliya dari Zain.
“Tidak! Aku sama sekali tidak bisa berdansa” tolak Aliya.
“Ayolah.. aku akan mengajarimu,”

“Tidak, aku tidak bisa. Aku merasa tidak enak badan, mau pulang saja,” ucap Aliya getir tak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Aliya berniat untuk pergi dengan atau tanpa izin Karan,
“Aliya!” Karan mencoba menghentikannya namun Aliya tak mendengarkan.

Ia berjalan di tengah kerumunan tetamu yang sedang berdansa, dan entah siapa yang melakukannya, selendang Aliya yang menutupi kulit punggung dan dadanya terlepas seperti seseorang menariknya dari belakang.

Seketika Aliya begitu malu, ia merasa seseorang sedang menelanjanginya, ia mematung dan menundukkan wajah sambil memeluki tubuhnya yang terasa kedinginan, ia kini terjebak di tengah kerumunan orang dan seakan tak ada yang peduli padanya, sesekali ada saja pria yang lewat di hadapannya dan memandanginya dengan tatapan penuh birahi namun tak ada yang berani menyentuhnya karena ini adalah acara berekelas dan semua orang harus menjaga image. Tapi bagi Aliya ini benar-benar memalukan, ia merasa rendah saat itu.

Karan yang melihatnya terang saja tak membiarkan Aliya dalam kondisi memprihatinkan itu, segera ia melepas tuxedo abu-abunya berniat ingin menutupi tubuh Aliya, namun seseorang yang lain mendahuluinya, dan itu tak lain adalah Zain.

Zain memeluk tubuh Aliya dan menggiringnya keluar dari tempat itu, sementara Tridha tampak kesal, rencananya selalu berjalan tidak sesuai harapan, rencananya untuk menjauhkan Zain dan Aliya malah semakin mendekatkan mereka.

Zain menarik Aliya menjauh dari keramaian hingga berada di bagian atas kapal. Ia menghempaskan kasar tubuh Aliya di dinding dan mengapitnya. Tatapannya berapi-api menyimpan amarah yang meletup-letup.

Ia tiba-tiba meninju dinding kapal tepat di samping kepala Aliya tanda amarahnya yang membuncah, sehingga membuat gadis itu ketakutan dan menangis.

“Katakan apa maksudmu melakukan semua ini?!”
“Aku tidak mengerti apa yang ingin kau tanyakan Zain” lirih Aliya, terisak
“Kau mengacaukan fikiranku dan juga hidupku dan kau tidak sadari itu?!”
“Aku minta maaf, tapi aku sama sekali tidak bermaksud begitu,”
“kau bohong Aliya, kau bohong!! Lihat dirimu sekarang, kau berpakaian seperti ini, tersenyum manis dan tebar pesona di hadapan pria lain. Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?! Kehebatanmu? Pesonamu? Kau sengaja mengaduk-aduk perasaanku dan membuatku cemburu?! katakan Aliya katakan!!” Zain mendesak Aliya dengan menggoncang kedua bahunya.

“Lalu apa yang ingin kau dengarkan dariku?!! Kau ingin aku menjawab apa Zain?! Kau selalu membuat saja membuatku bingung, suatu waktu kau berlaku seolah-olah kau mencintaiku, kau mencumbuku lalu merayuku hingga membuatku melayang entah kemana, lalu kau menghempaskanku ke jurang yang dalam, menghinaku, dan menyakiti perasaanku!! Kau selalu berbuat sesuka hatimu, kau memperlakukanku seperti batu yang tak punya hati,. Lalu apa yang ingin kau dengarkan dari batu yang tak berhaga ini?! Apa?!” Aliya menjerit, dengan berurai mata.

“Mauku? Aku hanya ingin kau berhenti tersenyum dan tebar pesona kepada pria lain dan berusaha membuatku cemburu!”

“Sudah kubilang aku tidak pernah bermaksud seperti itu, kenapa kau tidak mengerti juga?!”
“Tapi kenyataannya aku benar-benar cemburu, Aliya” pada akhirnya Zain tak bisa juga memendamnya lagi.

“K.. Kyu Zain, apa maksudmu?!” Aliya masih bingung dengan ucapan Zain meski itu cukup jelas.

“Jangan tersenyum dan tampil cantik di hadapan pria lain selain di hadapanku, apakah itu sulit?!”
“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Kau sendiri juga melakukannya dengan Nona Tridha, kenapa kau begitu egois?!”

“Karena aku benci itu”
“Kenapa kau selalu membenci apapun yang aku lakukan?!”
“Karena aku mencintaimu, apa itu cukup?! Kau puas?!” Aliya tersentak mendengar ucapan itu, ia masih setengah percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

To Be Continued

Udah ya guyss… maaff banget kalo part ni kacau 😂😂. Buat next part eke kagak bakal janjiin lagi soal waktu, biar gak kewalahan gini. Satu hal yang bisa gue janjiin buat next part adalah Kalian boleh demo sepuas-puasnya kalo udah lebih dari seminggu kagak publish, dan yang paling penting lagi, berhubung part ini kurang greget jadi harapan gue malah bakal lebih banyak yang komen dan ngelike. Karena apa?? Yang gue bisa janjiin di next part kalo rating part ini bagus adalah adegan Consummation alias MALAM PERTAMA!! Yak yang mesum yang mesum!! Dan kali ini gue mau bikin petisi soal level Hot nya 😆😆 bukan cuma ramen aja lho yang punya level hot adegan MP buatan gue juga ada level hot nya. Dari 1 – 10
Silahkan dipilih;

1- 2 level Skip
3 – 4 level MP di Beintehaa aslinya (level cemen)
5 – 6 level gue banget (masih elegan)
7 – 9 level anak K-Pop, level detail (kalo bisa jangan yaak. gue mulai panas dingin, jelas gue pakein password)
10 bunuh gue aja. Kagak sanggup ahaha.

Silahkan dipilih mau leve yang mana, yang paling banyak bakal gue bikinin daahh.. ehehe.

Advertisements

28 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 8)

  1. Level 7-9… scara brohhh kita anak kpopersssssss wkakakaakakak
    naega jaeil ja naga..
    Hey mamacita naega ayaaaaayaayayya..
    Bbbring the boys out.. we brings the boysss outt…
    naega wolf auuuuuuuuuuuuuu 😍😘😍😘😍😘

  2. 5_6 boleh kali mbak hahaha ….. jujur saja agak d buat jenuh sih bacaan soalnya cm ajg bikin cemburu” an yang d ulang” …. tapi ttp msh bagus mbak , LANJUTKAN

  3. Aduuuhhh…lg. seru2nya malah. Bersambung…!!!
    Level apa yah?????????? Level 10 aja keli yeee…!!!😝😍😘😜😁😁😁

  4. level 7-9…😂😂 keren n lucu critax 😊. gk mo koment pjng lg coz da 2x koment pjng gagal terkirim n lsng ilang tu koment q 😢capek ni jempol mo buat nulis lg😂

  5. Kereen mb nis good job aku pilih level 7-9…. mb nis critanya kurang panjang kwkwkw di tunggu kelanjutannya minggu depan 👍👏👏😊

  6. Mending gak usah janji2 lg deh de’ lgsg aja kyk season sblm2nya biar ceritanya lbh natural n lbh ngalir, qt yg nunggu jg kgk berharap tiap hari buka IG udh nongol blm (lg curhat ne, hehehe) syg kn udh bkin pnjg2 tp ceritanya …… ✌(maap ya q ngomong ini cmn mau ksh masukan aja biar lbh semangat, ✌) soal MP q ngikut yg nulis aj tp brharapnya c beda bgt sama yg di BI 1….semangat!!!!! Kiss n hug from me, wkakaka

  7. Level 10 kak nis … Muehehehhehee pingsan yg nulis yg bca gmn lgi yak ahaha😄
    lvl yg mn aja boleh asl yg nulis ga kepanasa, akakakakaka

  8. Manchaaappppp…. Akhirnya cerita yang dinanti2 melucur juga… Perlahan tp pasti ngebacanya … Biar dirasa lama dan panjang… Dn itu membuat makin penasaran ketika ada tulisan to be continue…. Aaaaaaaaa rasanya q pengen bacanya gk kelar2 berjam2 wkwkwkw lenay yeh kata2 nya 😊😁😂 but thnks bamged say amat sangat terhibur aku suka aku suka… 😘😘
    Sukses terus buat karyanya….

  9. Keren mbak lucu ceritanya. Gak sabar nunggu part 9. Buat MP gak request cz aku masih dibwah umur wkwkw #sokpolos

  10. hihihihi udh g bisa ngomong apa” kak,,,cambur aduk atuh rasanya kek makan gado” 😂 hhhhmmm lagi” enak”nya baca waktu Zain akhirnya mengungangkap perasaannya ke Aaliya malah To be Continued aaaccchhh pingin tuh ya jngn selesai dlu lagi seru”nya 😁 n soal MP *mikir* jujur ya aku milih level 7-9 wuhahahahah…yes sukses trus kakak syantikkkk n ditunggu part selanjutnya 😚 n secepatnya 🙏👏

  11. kueeerreeeennnnn kakak syantikkkk aku g bisa ngmong apa” perasaanky udh diaduk” kyj mau buat kue hihihi untuk level aku milih 7-9 wkwkwkw biat greget n pastinya ngalahin pnya nya si Udin wuhahahaha

  12. Mantaapss kak, greget kok kak, ditunggu next partnya yang lebih seru yaa, part ini buat baperr abiss, oh ya buat part selanjutnya level 10 aja hihihi, ditunggu ya kak 🙂 semoga cepet nyelesainnya hihihi

  13. Akhirnya yang di nanti2 sabtu malam tiba juga….nis…bener2 kamu bikin aku berasa usia 20 tahunan…degdegan baca cerita ini sampe bacanya pelan2, sambil mendalami karakter aliya….hahahhahhaa…..cemburu tingkat monas, sampe akhirnya keluar juga kata2 “aku mencintaimu” dari mulut zain…..puas rasanya hahhahahaa….

    Bikin level 5-6 aja….biar degdeganya berasa…..lebel 7-9 nya nanti aja

    Makasih yah nis untuk hiburannya..

    Semngat terus yaaah bikin cerita sambungannya😀😀😀😀👍

  14. Wadoh2… Ini yg lg ga mood aja critany udh cetar membahana kya getoh! Gmna ntar klo mood ny lg waras. Bsa2 kknyangan sma adegan2 me*um inih. 😀 😀 ttep bercerita buat kmi ya mba..

  15. Keren2 abizzzz ditunggu y chapter 9 jgn lama2 da gk sbr ngebayangin ZAYA MP,q sich pengenya level 7-9 wkwkwkwwkk sukses y shyantikkkkk……

  16. 2 part terakhir ngrepnya sih yg happy2 aja g ad lg brantem2an. Klo soal level, plih yg maximal high quality ahahaha. Good job mba

  17. Mantaafff laaah chap 8 ini soal zain yg terus menerus cemberu sm aliiya sampai akhirnya mau ungkapin perasaannya wlw dgn tdk manis (si abang lg bergejolak api cemburu) 😅😅😆😆 kurang gregetnya emang ada sedikit tp ttp kuereeen lah sampe bisa buat fanfic kaya gini 😉😉 chapt selanjutnya ditunggu dgn cerita lbh panjaaaang,lbh hot,& lbh greget yaaa 😁😁 kalo utk level aq milih 7-10 it’s oke laaah 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s