Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 9)


image

Judul   : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre   : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts    : 
♡ Harshad Arora as Zain  
     Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya 
     Zain Abdullah
♡ Karan Tacker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as 
      Herself
♡ All Beintehaa Casts

Located : 
       Mumbai, India
       Seoul & Nami Island South Korea

Chapter Numb : 10 Chapters

♡♡♡

Beintehaa 2 Part 9

“Jangan tersenyum dan tampil cantik di hadapan pria lain selain di hadapanku, apakah itu sulit?!”
“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Kau sendiri juga melakukannya dengan Nona Tridha, kenapa kau begitu egois?!”

“Karena aku benci itu!!”
“Kenapa kau selalu membenci apapun yang aku lakukan?!”
“Karena aku mencintaimu, apa itu cukup?! Kau puas?!” Aliya tersentak mendengar ucapan itu, ia masih setengah percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

Untuk sesaat mereka saling terdiam dan menatap, lalu kemudian Aliya bertanya,
Kk.. Kya?” Tanyanya singkat namun tergagap, sesaat Zain terdiam mempersiapkan kalimat yang harus ia lontarkan lagi, lalu ia pun menjawab
“Kau tidak dengar? Aku sudah bilang bahwa… aku… aku mencintaimu,” ulang Zain, mendengar itu bukannya semakin percaya, Aliya malah semakin tak yakin dengan ucapan Zain yang masih terkesan terpaksa mengungkapkannya.

“Zain Abdullah.. berhentilah mempermainkanku seperti ini! Kau harus tau bahwa sekarang aku tidak mau lagi dipermainkan.” Aliya menyudahi kalimatnya, lalu berusaha beranjak pergi, ia melangkah sambil mengusap-usap kedua lengannya yang mulai kedinginan akibat hembusan angin musim dingin yang menusuk tulang.

Tentu saja Zain tak membiarkan Aliya pergi begitu saja, ia kembali manahan gadis itu dengan menarik kedua bahunya kembali pada posisinya semula, kedua lengan Zain kini memagari tubuh Aliya hingga ia tak bisa keluar dan menghindar.

“Tatap mataku, apa kau melihat ada kebohongan disana? Apa kau pikir aku sedang ingin bermain-main?!” Zain menekankan kalimatnya, dan seakan terhipnotis akan ucapan itu, untuk sesaat Aliya menatap lekat sepasang manik mata itu.

🎵Tum hi ho, is playing🎶
Zain benar, Aliya sama sekali tak menemukan kedustaan di mata Zain, untuk pertama kalinya ia bisa melihat ketulusan dan kejujuran di mata itu.

Sementara udara terasa semakin membekukan ketika perlahan salju mulai turun menimpa lembut kepala dan bahu mereka. Aliya dengan pakaian tipisnya tampak semakin kedinginan, hal itu tampak jelas dari hidung dan telinganya yang mulai merah merona, namun sesaat Aliya tak memperdulikan rasa dingin yang mulai mendera sekujur tubuhnya ia seakan tenggelam dalam samudera tatapan Zain.

Menyadari itu, Zain tak membiarkan gadis yang dicintainya itu kedinginan, bermaksud menghangatkan tubuh Aliya, tanpa melepaskan tatapan matanya Zain lalu perlahan mendekap tubuh Aliya erat-erat, hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain, ia lalu memeluk dan  menyelimuti tubuh Aliya dengan mantel yang ia pakai, hingga mereka kini berada di dalam satu mantel.

Seakan terhanyut dan terbawa suasana, Zain kini tak puas jika hanya menghilangkan jarak antara tubuh mereka, kini ia pun mulai memperkecil jarak antara wajah mereka yang memang hanya berjarak lima jari.

Perlahan tapi pasti, wajah Zain semakin dekat dan mendekat terus memperkecil jarak itu,  hingga pada detik berikutnya keduanya saling memejamkan mata meresapi manisnya madu asmara ketika tak ada jarak dan sekat lagi yang membatasi wajah mereka, bibir Zain kini kembali menyentuh bibir Aliya dan menghangatkan bibir merah  yang mulai bergetar karena kedinginan itu.

Ia mengulum bibir Aliya dengan sangat lembut dan dalam, kelembutan dan  kehangatan itu memberikan kenyamanan bagi gadis itu hingga ia bisa menerimanya dengan baik dan mulai membalasnya. Di tengah ciuman itu hati Aliya bergemuruh, ia bisa merasakan hangatnya sentuhan kasih Zain serta hasrat cinta yang disampaikannya melalu lumatan lembutnya, ia bisa merasakan Zain sedang mencurahkan segala asa yang telah lama terpendam yang kini membuncah, untu sesaat mereka menikmati ciuman itu, untuk sesaat keduanya tak ingin mengakhirnya.

Namun sepersekian merengguk madunya cinta, otak Aliya kembali kepada logika dan akal sehatnya, berlawanan dengan hatinya, otak Aliya seakan berkata lain,  Aliya kembali mengulas kembali kenyataan yang sebenarnya.

Aliya kembali terbayang saat Zain memberikan gelang berbandul kunci itu kepada Tridha tepat di depan matanya, dan ketika Tridha memeluk Zain, ingatan itu membuat Aliya kembali berkeyakinan bahwa sebenarnya Zain mencintai wanita lain, bukan dirinya.

“kapan aku tidak membencimu Aliya Ghulam Haider? Kau tau… Aku membencimu sejak dulu, kini, nanti dan selamanya”

kilasan ucapan menyakitkan Zain itu kembali terngiang-ngiang di telinga Aliya, Zain bahkan baru saja mengucapkan hal itu dua hari yang lalu, bagaimana Aliya bisa  secepat itu melupakannya? Bagaimana ia bisa percaya begitu saja dengan ucapan cinta yang hanya terucap dua kali sementara Zain sudah ribuan kali menyatakan kebencian padanya? Tidak!! Aliya tidak bodoh, ia tidak ingin terluka lagi, ia tidak akan membiarkan Zain mempermainkannya lagi.

Semua kegilaan dan kebodohan ini harus berakhir, Aliya harus bangun dari mimpi indahnya sebelum ia semakin terluka dan sakit lagi ketika ia bangun, maka sekuat tenaga ia mendorong tubuh Zain dan menghentikan dekapan dan ciuman itu, tubuh Zain terdorong pasrah dan terhempas ke pagar pembatas kapal.

“Kau tidak mencintaiku Zain, ini bukan cinta!! Kau hanya mempermainkan aku, aku tau kau membenciku, kau hanya ingin balas dendam padaku, kau hanya ingin menjadikan aku budak nafsumu!” Pekik Aliya menahan amarah dan tangisnya.
“Aliya kau salah, sebenarnya selama ini aku…” Aliya memotong kalimat Zain seakan tak ingin mendengarkan apa-apa lagi darinya,
“Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau sudah membenciku dari dulu, saat ini, nanti dan selamanya, dan kau sudah banyak membuktikan ucapan itu Zain, kau sudah membuktikan bahwa betapa kau membenciku, dan kau benar-benar berhasil membuatku menderita dengan kebencian dan aksi balas dendammu itu, dan sekarang aku sudah bisa menerimanya, hanya satu hal  ku mohon padamu, berhentilah mempermainkan aku lagi, jika kau membenciku maka bersikaplah seperti kau memang membenciku, makilah aku, siksalah aku, tindaslah aku sepuas hatimu, tapi jangan lakukan ini lagi padaku Zain, jangan membuatku bingung dan seperti orang bodoh lagi, karena ini lebih menyakitkan dari apapun” Aliya meledak-ledak menyampaikan segala yang mengganjal di hatinya selama ini, suaranya bergetar dan mata berkaca-kaca seakan menahan tangis.

Setelah puas mengungkapkan segala yang ingin ia ungkapkan, Aliya lalu pergi dari hadapan Zain dan kali ini Zain tak bisa menahannya, ia sadar Aliya memang benar, ia yang membuat Aliya berfikir bahwa dia memang sangat  membencinya, ia yang sudah membuat Aliya banyak menderita selama ini.

Tapi Zain juga benar, dia juga benar akan perasaannya, perasaan yang tiba-tiba saja ia sadari dan langsung terungkap begitu saja tanpa kendalinya, namun sayangnya Aliya tak bisa mempercayainya itu,  dan ia tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk membuat Aliya percaya pada cintanya.

Selepas pergi dari Zain, Aliya lalu berjalan menyusuri koridor kapal dengan perasaan tak karuan, air matanya tak mampu lagi ia bendung,  ia benar-benar sakit mengingat Zain memperlakukannya sekejam itu, kenapa ia menyiksanya dengan menanamkan benih asa dan harapan dalam hatinya jika nantinya dia juga akan menyakitinya lagi dan lagi? perasaannya diperlakukan seperti ini jauh lebih sakit dari hanya sekedar Zain memakinya karena ia tau Zain hanya mempermainkannya.

Di tengah perjalanannya, Karan tiba-tiba muncul di hadapannya, yaa.. Karan memang sedang mencari Aliya, karena dia mengkhawatirkannya meski ia tau Aliya sedang bersama suaminya tapi justru itulah yang lebih mengkhawatirkan, ia tau Aliya pasti akan mengalami kesulitan jika bersama pria itu. Dan benar saja, Karan kini menemukan Aliya sedang menangis.

“Aliya, kau kenapa? Kau.. menangis?” Tanya Karan agak panik, Aliya tak menjawab apapun, namun Karan dengan yakin menyimpulkan sendiri siapa yang sudah melakukannya.

Tak lama setelah itu Zain muncul, ia juga baru akan menyusul Aliya untuk menjelaskan segalanya, ia harus meyakinkan Aliya sebelum semuanya terlambat, namun tiba-tiba dengan raut kemarahan Karan mendatangi Zain yang masih berada di di jarak beberapa meter dari mereka, Karan menyampari Zain untuk menuntut jawaban darinya.

“Kau.. apa lagi yang kau lakukan padanya?!” Karan menarik kerah kemeja Zain.
“Ck! Apa yang ku lakukan? Jangan ikut campur dalam masalah kami, kau bukan siapa-siapa!” Ketus Zain sengak seraya menghempaskan tangan Karan dari kerah kemejanya.
“Tentu saja aku harus ikut campur, kau membuat temanku menangis, apa kau pikir aku akan diam saja?!”
“Ck! teman? Kau bahkan orang baru yang datang kemarin sore, enyahlah dari hidup istriku atau kau akan menerima akibatnya!”
“Apa yang akan kau lakukan?! Kau hanyalah orang bodoh yang tidak tau caranya menghargai seorang gadis yang begitu berharga seperti Aliya, ini bukan pertama kalinya aku melihat kau menyakitinya, namunbsebelumnya aku masih diam saja, tapi kau harus camkan baik-baik bahwa mulai sekarang dan seterusnya aku tidak akan pernah diam saja jika kau membuatnya menangis lagi, aku tidak peduli kau suaminya atau bukan, tapi kau harus tau bahwa aku bisa saja merebutnya darimu,” kalimat terakhir Karan menyentak Zain dan membuatnya naik pitam.

Ia jadi gelap mata dan langsung menyerang Karan dan memukul keras wajahnya, sekali dua kali Karan masih melakukan perlawanan hingga menciptakan lebam di tulang pipi Zain dan di dahinya, namun amarah Zain yang jauh lebih besar membuat pria itu benar-benar gelap mata dan begitu bernafsu ingin menghabisi Karan tanpa ampun, ia meninju bertubi-tubi wajah Karan yang sudah terkapar di lantai, tanpa perlawanan.

Aliya yang tadinya meneruskan langkahnya dan tak mau perduli dengan perdebatan kedua pria itu, terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara keributan. Dan ketika ia melihat ke belakang dan menyaksikan adegan perkelahian tak imbang itu, Aliya langsung memburu mereka bermaksud untuk menghentikannya.

“Zain!! Apa yang kau lakukan?!” Pekik Aliya, namun Zain masih tak perduli dan terus-terusan menyerang Karan.
“Zain Hentikan!!” Aliya kembali menjerit, dan aksi brutal Zain pun seketika berhenti ketika Aliya berlutut di hadapan Zain dan melindungi kepala Karan.

“Cukup Zain! Hentikan!!” Sekali lagi Aliya menjerit, Zain benar-benar terdiam dengan nafasnya yang memburu, ia sangat terkejut dan kecewa ketika Aliya memilih membela dan melindungi Karan, istrinya itu bahkan kini memangku kepala Karan.

Aliya menatap Zain dengan tatapan berapi-api penuh kekecewaan, namun ia tak mengatakan apapun pada Zain.
“Karan, kau tidak apa-apa?!” Aliya malah bertanya pada Karan dengan penuh perhatian lalu membantu Karan berdiri.
“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja” ucap Karan lemah. Sesaat Aliya menatap Zain dengan tatapan kesal tanpa mengatakan apapun dan sikap itu lebih menyakitkan dari sebuah makian. Aliya pun lalu berlalu pergi dengan membopong tubuh Karan.

Zain benar-benar sedih dan kesal sekarang, Kenapa Aliya lebih membela Karan daripada dirinya? Mengapa Aliya melakukan ini padanya di saat ia yakin akan perasaannya pada Aliya? Namun Zain bukan tipe orang yang mudah menyerah, ia menyukai tantangan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia akan memperjuangkan hati seorang wanita, cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya dan mungkin akan selamanya.

****

Kini Aliya dan Karan sedang duduk di sebuah bangku tak jauh dari Kabin Aliya, sementara Aliya sibuk dengan segala isi di dalam kotak obat yang ia minta dari pelayan di kapal, ia pun mulai melakukan segala aksi perawatan terhadap luka-luka lebam di wajah Karan yang cukup banyak diciptakan oleh kepalan tinju Zain.

Tentu saja Aliya merasa harus bertanggung jawab atas luka-luka di wajah Karan, ia jadi menderita seperti ini karena dirinya dan kelakuan kekanak-kanakan suaminya. Jadi selain permintaan maaf, hal yang wajib Aliya lakukan adalah mengobati lukanya.

🎵Jiya Re, is Playing🎶
Sesekali Karan merintih kesakitan ketika Aliya mengompres satu persatu luka lebam di wajahnya yang membiru, namun senyuman terus mengembang di wajahnya, rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dengan rasa bahagia karena Aliya begitu peduli padanya, untuk pertama kalinya Aliya tampak begitu dekat di pelupuk matanya dan kembali membuatnya terpesona seperti moment saat mereka pertama kali bertemu.

“Sudah selesai! Lukamu dan bekasnya pasti akan segera hilang dalam beberapa minggu,” terasa begitu cepat, Aliya sudah menyelesaikan aksi pengobatannya, ia kini berlagak seperti seorang suster yang usai merawat pasiennya, ia lalu memasukkan satu persatu obat-obatan ke dalam kotaknya.
“Sekarang kau boleh ke kabinmu dan istirahatlah,” ucap Aliya lagi, namun yang diberitahu malah tak bereaksi apa-apa seakan tak mendengarkan ucapan Aliya.

Sejenak Aliya melihat wajah Karan yang tampak terbengong menatap wajahnya lekat-lekat.
“Karan! Apa yang kau lihat?” Aliya sedikit meninggikan suaranya dan itu berhasil membuyarkan lamunan Karan.
“Ehh.. tidak! Tidak ada, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu, kau baik sekali, terimakasih sudah mengobatiku” Karan mempercepat kata-katanya yang terdengar tersendat-sendat karena gugup.

“Yaa.. hanya ini yang bisa ku lakukan, aku benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi hari ini,” Ucap Aliya tampak sangat menyesal, untuk kesekian kalinya ia mengucapkan kata maaf kepada Karan.
“Tidak apa-apa Aliya, aku benar-benar baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir,” Karan berusaha membuat Aliya berhenti merasa bersalah.
“Baiklah, kau sebaiknya beristirahat di kabinmu, sampai kita sampai ke Seoul,” perintah Aliya dan kali ini Karan menurut meski ia tidak rela dan masih ingin bersama dan mengobrol dengan Aliya.

Seperginya Karan, Aliya pun masuk ke kabinnya untuk beristirahat, namun sebelum ia menutup pintu kabin tiba-tiba seseorang muncul dan mengganjal pintu dengan kaki nya dan mendorong daun pintu agar terbuka lebar, ia adalah Zain.

Sesaat Aliya terkejut melihat Zain, lalu kemudian ia masih menampakkan kekesalannya pada Zain dengan berusaha menutup pintu kabinnya, namun Zain mempertahankannya dengan mendorong kuat daun pintu agar tetap terbuka dan tentu saja kekuatan wanita tak akan ada apa-apanya dibandingkan kekuatan pria.

Kalah dengan dorongan Zain, akhirnya Aliya gagal menutup pintu itu rapat-rapat.
“Apa lagi yang kau inginkan?!” Bentak Aliya, dan tanpa menjawab dengan kata-kata, Zain malah mendekatkan wajahnya ke wajah Aliya, refleks Aliya memundurkan wajahnya.

Zain meraih tangan Aliya secara paksa lalu menuntunnya menyentuh wajahnya.
“Apa-apaan ini?!” Marah Aliya seraya menarik kuat tangannya.

“Lihatlah… wajahku juga terluka,” Zain menunjukkan wajah memelas dan lebamnya.
“Lalu apa urusanku?!” Ketus Aliya sambil memalingkan pandangannya
“Lukaku juga butuh diobati, Aliya”
“Aku tidak bisa, aku tidak punya waktu untuk menjadi suster dadakan,” Aliya menolak, ia sebenarnya juga tidak tega melihat wajah lebam di dahi dan tulang pipi Zain, tapi dia tidak ingin lagi menampakkan kepeduliannya padanya.

“Kau tadi mengobati pria itu, dan itu melukai hatiku. Jika kau tidak bisa mengobati luka di hatiku setidaknya kau harus mengobati luka di wajahku,” mendengar ucapan yang cukup mendalam yang sarat akan kesungguhan dari Zain itu membuat Aliya sesaat menoleh menatap wajah Zain, dan sekarang tidak punya pilihan lain, pada akhirnya ia tidak sanggup melihat wajah sedih dan lebam itu juga.

Kini mereka berada di dalam kabin Aliya, tepatnya duduk di sisi tempat tidur. Aliya dengan kikuk melakukan aksi pengobatan terhadap wajah Zain seperti yang dilakukannya pada Karan tadi.

“Hadapkan wajahmu,” pinta Aliya setelah menumpahkan sedikit obat antiseptik ke sehelai kapas.
“Kenapa harus menghadap? Kau mau menciumku ya?” Mendengar ocehan konyol Zain itu sesaat Aliya memelototi Zain. Tentu saja bukan itu alasannya, luka di dahi Zain butuh diberi anti septik tapi Aliya tidak bisa menjangkaunya karena itu adalah di sebelah kanan dahi Zain sementara dirinya ada di sebelah kiri Zain.

“Ohh.. jadi itu maksudnya? Hehe.. baiklah kalau begitu,  Seperti ini?!” Zain menolehkan wajahnya ke arah Aliya, lalu dengan telaten Aliya pun mulai memberikan obat anti septik ke dahi Zain yang terluka.

🎵Sab Tera is Playing🎶
Selama mengobati lukanya, Zain tak henti-hentinya menatap Aliya begitu dalam,

“Aww!” Pekik Zain ketika Aliya mengompres lebam di salah satu tulang pipinya.
“Sakit ya?! Bertahanlah, ini hanya sebentar”  ucap Aliya tampak begitu perhatian dan telaten merawatnya, itu membuat Zain tersenyum bahagia.
“Tidak… bukan wajahku yang sakit, tapi disini” Zain meraih tangan Aliya yang masih menggenggam handuk kompres dan membuat handuk itu terlepas dari tangannya, lalu Zain mengarahkan tangan Aliya ke arah dadanya, ia lalu menempelkan telapak tangan Aliya di dadanya.
“Apa kau bisa merasakan detak jantung ini? Ini sangat berbeda Aliya, irama detak jantung ini tiba-tiba akan berubah hanya ketika aku bersamamu,” Sesaat Aliya terdiam mencerna setiap kata-kata Zain yang terkesan merayu namun terdengar begitu tulus.

Kali ini Zain kembali mengangkat tangan Aliya, Perlahan ia mengarahkan tangan gadis itu ke arah pipinya. Ia tempelkan telapak tangan Aliya di pipinya, dan lagi-lagi untuk sesaat Aliya hanya diam saja seakan menikmati perlakuan Zain.

Zain lalu menciumi telapak tangan Aliya yang ia tempelkan di pipinya dengan sangat lembut. Dan sejurus kemudian, Aliya tersadar dari keterpakuannya, segera saja ia melepaskan tangannya dari pipi dan genggaman Zain.

Aliya langsung bangkit dan bediri di hadapan  suaminya itu.
“Keluar dari kabinku sekarang juga!” cecar Aliya setelah berdiri.
“Aliya.. aku ingin berbicara padamu sesuatu,” ucap Zain Pelan.
“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan! Aku hanya ingin istirahat, sekarang cepat keluar!” Aliya menarik tangan Zain untuk berdiri dari duduknya
“Aliya aku mohon dengarkan aku dulu, aku…”
“Cukup Zain!! Aku lelah dengan semua ini, aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi darimu, tolong kali ini jangan ganggu aku,” Aliya tampak menahan tangis, dan itu membuat Zain tak tega untuk memaksanya.

Setelah Zain berdiri dari duduknya, Aliya mendorong punggung Zain ke arah luar kabin dan kali ini Zain pasrah, sejenak Aliya menatap Zain ketika ia sudah berhasil mengeluarkan Zain dari kabinnya, tatapannya menampakkan dengan jelas isi hati yang berlawanan dengan perlakuannya dan Zain bisa merasakan itu.

Tapi Aliya buru-buru menutupi perasaan itu dengan menutup pintu, atau lebih tepatnya menghampas pintu tepat di depan wajah Zain. Jantungnya kembali berdebar kencang ketika ia terngiang kembali ungkapan cinta dari Zain, dan ketika ia kembali merasakan hangat sentuhan bibir Zain di bibirnya, di tengah guyuran salju tadi.

Apa yang terjadi sekarang? Semuanya berjalan benar-benar  tidak sesuai prediksi, sungguh ia hanya benar-benar terkejut dengan ungkapan cinta Zain, bahkan meski ia sudah mencoba menganggapnya hanya lelucon dan permainan murahan, tetap saja Aliya memikirkannya juga, ia merasa dirinya benar-benar bodoh karena tak  bisa berhenti memikirkan Zain dengan segala aksi gila dan kurang ajar yang sudah ia lakukan padanya itu.

****
Kapal pesiar berlabuh di Seoul keesokan paginya, rombongan shooting program valentine pun akan langsung menuju bandara dan meninggalkan Korea selatan menuju Mumbai, India.

Aliya keluar dari cabin dengan menyeret koper berisi barang bawaannya. Begitu keluar dari kabin dilihatnya kini Zain sedang berada di koridor tak jauh dari kabinnya, ia tampak sibuk mondar-mandir seakan menunggu kemunculan seseorang.

Sesaat Aliya menghentikan langkahnya belum siap bertemu dengan Zain, namun ia memutuskan untuk meneruskan langkahnya dengan pelan. Namun sebelum Zain menyadari keberadaan Aliya, Tridha yang kabinnya bersebelahan dengan Aliya muncul dari belakang, ia tidak membawa beban apapun, karena barang-barangnya sudah ia titipkan kepada asistennya.

Lalu dengan mengabaikan keberadaan Aliya, Tridha berjalan cepat mendahului Aliya dan langsung memburu Zain.

“Kak Zain!!” Panggil Tridha langsung menggandeng tangan Zain.
“Kau?! Dimana Aliya?” Pertanyaan Zain membuat Tridha kecewa dan Aliya menghentikan langkahnya.
“Di.. dia.. tadi sepertinya aku melihat dia sudah pergi dengan Karan.” Tridha mencoba meyakinkan Zain sambil berusaha memalingkan pandangannya agar tidak menoleh ke belakang.

Ia tau meski Aliya mendengar kebohongannya, Aliya juga tidak akan memprotes dan marah padanya, karena tanpa kebohongannya sekalipun, Aliya memang sedang menghindari Zain dan Tridha harus memanfaatkan peluang itu semaksimal mungkin.

Dan memang benar, meski tidak habis pikir dengan kebohongan Tridha yang jelas-jelas di depan matanya, tapi Aliya tak akan melakukan apapun, itu lebih baik daripada Zain terus-terusan mengganggunya.

“Ayo Kak! Kita turun sekarang,” lanjut Tridha sambil memeluk lengan Zain dan menggandengnya cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Sementara sesaat Zain tampak kecewa mendengar kenyataan bahwa Aliya sudah pergi dengan Karan, namun ia masih meragukannya tapi semua itu percuma karena Tridha sudah menyeretnya pergi.

Aliya harusnya lega, sekarang ia tau bahwa di antara Zain dan Tridha memang terjalin sebuah hubungan yang erat, setidaknya keputusannya untuk menghindari dan menolak Zain adalah keputusan yang tepat. Tapi tidak seperti itu jadinya, Aliya bisa merasakan rasa sakit itu, Aliya bisa merasakan kecemburuan itu menelusup halus ke dalam sanubarinya, namun berusaha ia ingkari.

Sementara Aliya sedang berjalan gontai menyusuri koridor sambil menyeret kopernya yang lumayan berat dengan perasaan gamang, Karan tiba-tiba muncul dari belakang dan sengaja sedikit mengagetkan Aliya dengan mendadak menyentuh kedua bahunya.

“Karan?!” Aliya sedikit terkejut dengan kehadiran Karan. Karan hanya tersenyum sesaat lalu merenggut gagang koper Aliya lalu membawanya.
“Koper bawaanmu mana?” Tanya Aliya
“Aku ini seorang seorang selebriti dan selebriti tidak membawa kopernya sendiri, seharusnya kau juga minta seseorang untuk membawakannya, bahkan Pak sutradara pun akan menurut jika kau yang meminta,” seloroh Karan panjang. Karan dan Aliya pun keluar dari kapal secara bersamaan.

Mereka akan ke bandara dengan menggunakan sebuah bus eksklusif yang sudah disiapkan oleh pihak kedutaan. Aliya dan Karan masuk ke dalam bus ketika bus sudah hampir penuh, Karan mengajak Aliya untuk mengambil tempat duduk di urutan kedua dari belakang.

Sementara Zain yang sudah duduk lebih dulu bersama Tridha di kursi bagian depan, namun sejak tadi celingak-celinguk mencari keberadaan Aliya, kini tanpa memperdulikan Tridha yang berusaha menahannya langsung mendatangi Aliya ketika ia dan Karan sudah duduk di kursi mereka.

“Karan Ji, bisakah kita bertukar tempat duduk? Aku ingin duduk bersama istriku,” Zain berlagak sopan, dan tampak sangat dibuat-buat, tentu saja yang menyadari itu hanya Karan dan Aliya. Semua orang yang memperhatikan hanya sempat bingung kenapa pasangan suami istri pimpinan mereka itu malah duduk terpisah dengan pasangan yang berbeda?

Namun pertanyaan mereka itu akhirnya terjawabkan dengan sikap Zain yang tampak wajar sebagai seorang suami.
“Maaf tuan Abdullah, bisakah aku minta waktu istrimu sebentar? Aku ingin sedikit berdiskusi dengan Aliya Ji tentang lagu baruku, Perjalanan ke bandara hanya butuh waktu 45 menit? Apa waktu itu terlalu lama untuk anda?” Ucap Karan tak kalah sok sopannya.
“Tidak… hanya saja, aku hanya mengkhawatirkan istriku, akhir-akhir ini keadaannya begitu lemah dan membutuhkan suaminya, benar kan sayang?” Zain mengerlingkan sebelah matanya, namun Aliya berlagak acuh dan memalingkan pandangannya.

Meski sebenarnya tidak bersedia, namun menyadari kini semua orang menatapnya seperti melihat pihak antagonis dengan anggapan bahwa dia adalah seorang pria yang sedang berusaha mendekati istri orang lain, maka Karan pun akhirnya bersedia berpindah tempat duduk ke samping Tridha, sementara Aliya terpaksa menerima Zain yang kini duduk di sisinya.

Sejenak Zain tersenyum senang ke arah Aliya ketika gadis itu memandang ke arahnya sesaat dengan ekspresi terganggu, namun sejurus kemudian Aliya kembali memalingkan pandangannya dari Zain dengan melemparkan pandangan ke arah jendela.

15 menit perjalanan tanpa kata, sesekali Karan menoleh ke arah Aliya memastikan gadis itu baik-baik saja, entah kenapa ia selalu khawatir kepada Aliya jika bersama Zain, seolah Zain tidak pernah membuat Aliya aman.

Beberapa saat kemudian, wajah Aliya berubah pucat dan terpaksa mendesak Zain untuk memberikannya sesuatu.

“Kau kenapa Sayang?” tanya Zain panik, Aliya tak menjawabnya dengan kata-kata melainkan mimik mual seperti ingin meminta sesuatu. Dan Zain pun langsung mengerti itu, Aliya tampak ingin muntah, lalu buru-buru ia meminta kantung plastik kepada pihak bus pengantar dan memberikannya kepada Aliya.

Melihat itu, semua orang bengong sesaat, setelah sempat panik massal, lalu secara massal pun semua orang memikirkan hal yang sama, dan isi pikiran dari semua orang itu langsung diwakilkan oleh Nyonya Kapoor, ia merupakan penulis naskah di program mereka,

“Ohh.. sekarang aku mengerti kenapa Tuan Zain begitu peduli dan over protektif kepada Nyonya Aliya, mudah-mudahan dugaanku ini tidak salah, apakah Nyonya Aliya sedang hamil?” Mendengar pertanyaan tidak masuk akal itu membuat Zain maupun Aliya terdiam sesaat, apa yang bisa mereka jawab?

“Bagaimana mungkin? Bagaimana Aliya bisa hamil? Aku bahkan belum pernah menyentuhnya, apa mungkin seorang wanita bisa hamil hanya dengan berciuman?” Zain mulai berfikiran konyol

Sementara Aliya tau persis kondisinya dan kenapa dia bisa mual-mual seperti tadi, tentu saja dia sama sekali tidak sedang hamil. Dia hanya sedikit mabuk darat jika naik bus, biasanya dia selalu menyediakan obat anti mabuk ke mana pun ia pergi, terutama saat ia bekerja menjadi seorang tour guide, tapi kali ini ia tak membawanya.

“Hehe… i..iyaa.. sepertinya begitu,” jawaban Zain begitu meragukan namun ambigu, membuat Aliya melotot menatap kesal Zain yang sudah asal bicara, namun semua orang langsung berkesimpulan yang sama, istri pimpinan mereka itu memang sedang hamil.

“Waah, selamat tuan Zain!! sebentar lagi kehidupan anda akan lengkap dan utuh, anda akan segera menjadi seorang Ayah, aku senang mendengarnya, selamat Tuan dan Nyonya Abdullah” ucap Nyonya Kapoor turut senang sambil menyalami Zain dan Aliya,

“Anda benar-benar luar biasa Tuan Zain! sepertinya musim dingin di Korea sangat membantu dalam proses pembuatannya, hahaha!” Sang produser tertawa geli dengan guyonannya sendiri, dan membuat semua orang ikut tertawa dan menyahuti dengan godaan mesum mereka.

Satu persatu orang di dalam bus pun memberikan selamat dengan penuh suka cita dan mereka semua berharap berita baik itu bisa dirayakan dengan meriah.

Kecuali Karan dan Tridha yang jelas-jelas tau bagaimana hubungan Zain dan Aliya, mereka tentu dilanda shock dan kebingungan mendengar pemberitahuan itu.

Sementara Aliya menyenggol keras perut Zain karena sudah menimbulkan isu besar dan  melakukan pembohongan publik, Zain hanya bisa merintih dalam hati menyembunyikan kesakitannya dari semua orang, namun ia bisa tersenyum di tengah kesakitan perutnya, ia cukup senang dengan reaksi dan anggapan semua orang, itu adalah kesempatan baginya untuk selalu berdekatan dengan Aliya di depan semua orang.

Incheon International Airport, South Korea
9.10 am KST

“Tuan Zain, sebaiknya anda membantu istri anda turun dari bus, wanita yang sedang hamil muda harus sangat hati-hati terhadap goncangan sekecil apapun” ucap Nyonya Kapoor ketika melihat Zain yang ada di hadapannya akan turun dengan sendiri dari bus, sesampainya mereka di depan bandara.

Zain sebenarnya bukannya tidak berniat ingin membantu Aliya turun dari bus, namun gadis itu seakan menyembunyikan tangannya darinya agar Zain tidak bisa menggandengnya seakan menunjukkan bahwa dia bisa melakukannya sendiri.

“Ahh.. iya anda benar, kandungan istriku sepertinya lemah. Selama beberapa bulan ini aku harus terus siaga menjaganya, hehe..” Zain cengengesan, menyetujui saran Nyonya Kapoor..

Melihat Aliya yang masih enggan dan jual mahal ketika Zain mengulurkan tangannya untuk membantunya turun. Zain yang mulai tak sabar dan tanpa ingin menunggu lagi, ia raih tubuh Aliya ke dalam gendongannya.

“Heyy.. Apa yang kau lakukan?!” Pekik Aliya kaget dan panik.
“kau sepertinya sangat lemah sayang, bandara Incheon cukup luas, kau harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke boarding room kau akan kelelahan berjalan,” ucap Zain licik, Zain lalu berjalan pelan membawa Aliya masuk bandara tanpa rasa malu diperhatikan banyak orang dengan aksi gendong menggendongnya. Sementara semua orang terkejut namun menyetujui aksi heroik nan romantis Zain.

Sebagian menertawakan aksi gila pimpinan mereka yang biasanya di kantor tampak garang itu, namun tak sedikit yang memandang mereka iri karena pasangan muda itu kini tampak begitu romantis.

Selama perjalanan, di dalam pesawat Zain  dan Aliya duduk bersisian namun tidak mengatakan apapun, Aliya selalu menampakkan keengganannya untuk berbicara kapada Zain dengan terus-terusan membuang pandangannya ke luar jendela meskipun Zain sudah berusaha untuk membangun topik menarik dengannya.

Setengah perjalanan Aliya mulai tertidur, tanpa sadar ia meletakkan kepalanya di bahu Zain, Zain menerimanya dengan baik, senyum Zain mengembang ketika ia kembali teringat di awal-awal pertemuan mereka, ketika berada di kereta menuju Jogja, Aliya juga melakukan hal yang sama, yaitu tertidur di bahu Zain, namun jika saat itu Zain menyingkirkan kepala Aliya yang terasa begitu mengganggunya,  kali ini ia biarkan kepala Aliya untuk tetap bersandar di bahunya bahkan ia ingin selamanya.

Namun keinginannya itu sepertinya tak akan terpenuhi, karena kini Aliya terlonjak setengah sadar dari tidurnya dan langsung mengangkat sendiri kepalanya dari bahu Zain lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya, lalu kemudian kembali mulai tertidur,

Goncangan kecil pesawat membuat kepala Aliya terombang-ambing tak berdaya dalam tidurnya. Zain tak membiarkannya, ia berinisiatif meraih kepala Aliya lalu kembali ia sandarkan di bahunya, dan kali ini Aliya bertahan pada posisi tidurnya, senyum Zain kembali mengembang ketika menautkan jemarinya ke sela-sela jemari Aliya dan mencium lembut puncak kepala Aliya tanpa Aliya sadari. Namun sebenarnya tanpa sepengetahuan Zain, Aliya pun menyadarinya, sejak Zain menyenderkan kepalanya di bahunya, Aliya sudah  terbangun, namun kali ini Aliya memutuskan untuk tak menolak malah justru menikmatinya dalam diam.

Mumbai India,
7.30 PM IMT

Sesampainya Zain dan Aliya di depan Barkath Villa dan turun dari mobil, Zain tak membiarkan Aliya menginjakkan kakinya di atas tanah, lagi-lagi tanpa seizin Aliya, Zain kembali menggendong ala bridal dirinya.

Seluruh anggota keluarga di Barkath Villa yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu tampak terkejut melihat perilaku Zain yang jauh dari biasanya, biasanya dia justru tampak sangat ketus kepada istrinya.

“ya ampun! Apa yang sudah merasuki Zain sekarang? Sesuatu pasti terjadi pada mereka di Korea!” Shaziya mulai mengeluarkan komentarnya.
“Apa lagi yang terjadi Sayang? Tentu saja Udara dingin di Korea membuat mereka keseringan saling menghangatkan, aku jadi teringat waktu kita pertama kali menikah dulu, hihihi.” Bilal terkikik mesum

“Zain.. apa-apaan ini?! Kau sudah menggendongku sepanjang hari seperti orang cacat! Sekarang apa yang ingin kau tunjukkan pada keluarga kita?” Protes Aliya pelan tak ingin didengar anggota keluarga lain.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa aku mencintaimu,” jawab Zain ringan
“Kau gila Zain! turunkan aku sekarang?” Zain tidak peduli, kini ia terus melangkah dan berhenti di hadapan keluarganya.
“Selamat datang Zain, Aliya, Bibi senang melihat kalian kembali,” ucap Zarina berlagak sok ramah.
“Selamat datang Nak, walaupun sedikit terlambat, tapi Paman senang melihat kau meneruskan tradisi keluarga kita. Memang sudah seharusnya sejak awal kau melakukan hal ini saat Aliya datang ke rumah,” ucap Paman Rehman bijak

“Ehmm, sepertinya Bulan madu di Korea nya benar-benar sukses! Sayang, sepertinya untuk memberikan adik kepada Saif, kita juga harus ke korea dulu.” Bilal menyapa dengan guyonan mesum khasnya.
“Bibi Aliya, Bibi Bilang waktu itu Bibi akan membelikan aku boneka beruang yang sebesar beruang aslinya?” kini Saif yang menuntut. Sesaat Aliya menggigit bibirnya menyadari bahwa ia melupakan janjinya pada Saif.

“Saif, i.. itu.. maafkan Bibi, Bibi..,” Shaziya memotong ucapan gelagapan Aliya,
“Saif tidak perlu mendapatkan boneka beruang dari Bibi, karena Paman Zain dan Bibi Aliya sepertinya akan memberikan yang lebih bagus dari boneka beruang, mereka sepertinya sudah menyiapkan adik bayi yang lebih lucu untuk Saif,” Shaziya berbicara kepada putranya, namun sebenarnya dia sedang menggoda Zain dan Aliya
“Iya Kan Bibi Aliya, hmmh?!” Shaziya menjulingkan matanya ke arah Aliya, menggodanya membuat wajah Aliya merah padam karena malu, ia tidak bisa berucap meski ia ingin membantah.
“Shaziya, jaga bicarmu jangan asal bicara!” Bentak Zarina dan seperti biasa membuat Shaziya terdiam.

Mendengar ocehan tak masuk akal Shaziya itu, Zain buru-buru masuk ke dalam rumah masih dengan menggendong Aliya, agar Shaziya segera menutup mulutnya.

****
🎵Titli Song is Playing🎶
Sesampainya di dalam kamar, Aliya tiba-tiba merasa kikuk ketika Zain menutup pintu kamar terlebih lagi ketika ia menguncinya, ia membalikkan tubuhnya membelakangi Zain lalu mematung sesaat.

Aliya mendadak merinding sendiri memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya padahal seharusnya tak ada yang akan dilakukan. “Apa yang kau pikirkan Aliya? Memangnya Apa yang akan kalian lakukan?Tidak ada, kan?!” Batin Aliya bergumam, ia benci dengan pikiran kotor yang memenuhi otaknya, sesaat berikutnya ia masih berdiri mematung memikirkan banyak hal.

Aliya berpikir bahwa ia harus mengalihkan segala ketegangan dan kekikukan ini dengan berbicara, ia akan memprotes banyak kejadian yang dilakukan semaunya oleh Zain kepada dirinya hari ini.

“Zain Abdullah, apa maksudmu melakukan…” ucapan Aliya terhenti ketika ia berucap sambil membalikkan badannya menemukan Zain sudah barada tepat di hadapannya.

Aliya menatap panik wajah Zain yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, perlahan Zain melangkah memperkecil jaraknya dengan Aliya, sementara Aliya memundurkan tubuhnya selangkah.

Langkah kedua, Aliya semakin panik karena tanpa melepaskan pandangannya dan terus melangkah mendekatinya, Zain mulai menanggalkan blezernya yang membalut tubuhnya membuat Aliya berkeyakinan bahwa kekhawatirannya beralasan. Aliya terus memundurkan tubuhnya selangkah demi selangkah setiap kali Zain memajukan langkahnya.

Ia terus berjalan mundur hingga tanpa terasa punggunganya sudah menempel mentok di tembok. Sejurus kemudian Zain mulai mendekatkan wajahnya ke arah Aliya seperti aksi yang sering dilakukan saat memulai ciuman.

Jantung Aliya mulai kembali berdetak kencang, reflek seperti  pasrah dengan apa yang akan dilakukan Zain padanya, Aliya menolehkan wajahnya ke samping seraya menutup rapat-rapat matanya. Sepersekian detik yang menggetarkan jiwa, Aliya membuka kembali matanya seakan badai yang menghantam sudah berlalu.

“Minggir!” Singkat Zain dan  saat membuka matanya, Aliya malah menemukan sesuatu yang berbeda, Zain hanya menggantung belezernya di gantungan dinding yang kini di atas kepala Aliya dan memberikan kesan hanya itulah yang ingin ia lakukan.

Aliya melotot polos ke arah Zain, apakah sekarang dia sudah tampak seperti orang bodoh? Sementara Zain malah tertawa geli.
“Hehehe, apa yang barusan kau pikirkan?” Zain terkekeh kecil membuat wajah Aliya merah padamu, kulit wajahnya terasa dikuliti.
“Apakah kau berfikir aku akan…” Zain melancarkan godaannya.
“Apa?! Aku tidak memikirkan apapun!!” Elak Aliya seraya memalingkan pandangannya.
“Apa kau ingin kita…”  Zain membisiki Aliya, membuat merinding bulu roma gadis itu.
“Jangan pernah bermimpi!” Ketus Aliya lalu beranjak dari hadapan Zain. Ia mulai menyibukkan dirinya dengan mengambil baju ganti dari dalam lemari untuk dirinya dan suaminya itu.

Setelah mandi dan berganti baju dengan gaun tidur, Aliya keluar dari kamar mandi dan melihat Zain sedang berbaring di tempat tidur seraya memejamkan matanya seakan tertidur. Sejenak ia memandangi Zain yang tampak tertidur pulas, ia berfikir sejenak apakah dia harus tidur di satu ranjang dengan Zain atau tidur di balkon seperti biasanya.

Berhubung Zain akhir-akhir ini suka sekali membuat ia sport jantung, ia memutuskan untuk mengambil bantal dan selimut lalu berlalu pergi menuju balkon dan tidur di ayunan saja.

“Aliya, kau mau tidur dimana?” Tanya Zain yang tiba-tiba bangun, rupanya sejak tadi ia hanya pura-pura tidur.
“tidur di tempat tidurku sendiri” jawab Aliya ketus seraya menyibak pintu kaca menuju balkon.

Cepat-cepat Zain menarik tangan Aliya dan menahannya untuk tidak keluar.
“Kau tidak perlu tidur di balkon,” singkat Zain dengan kesungguhannya, Aliya mencampakkan genggaman Zain lalu berkata,
“Aku lebih nyaman tidur di balkon daripada harus tidur satu ranjang denganmu,” ucap Aliya tajam dan langsung keluar ke balkon meletakkan bantal dan selimutnya di atas ayunan, dan kali ini Zain tak bisa menahannya dan tak ingin memaksanya.

Malam semakin larut, namun Zain tak juga tidur matanya terus menatap ke arah luar memperhatikan Aliya yang sebenarnya tak tidur, meski tampak tenang seperti orang yang sedang terlelap namun matanya sebenarnya juga sama sekali tidak terpenjam.

Beberapa saat kemudian, angin malam berhembus kencang menusuk tulang, Aliya mengeratkan selimut ke tubuhnya agar merasa lebih hangat. Lalu sejurus kemudian terdengar suara gemuruh dan hujan mulai turun disertai gelegar suara petir.

Sekali hentakan petir disertai kilatannya Aliya tersentak kaget, ia mendudukkan tubuhnya. Sementara di dalam kamar Zain pun terduduk kaget, ia mulai mengkhawatirkan Aliya di luar sana, ia berfikir bahwa Aliya memang harus segera masuk ke dalam kamar.

Kembali kilat menyilaukan mata pertanda sambaran kedua akan segera tiba, Aliya yang memang pada dasarnya paling takut akan petir tidak bisa bertahan di sana dan ia pun memutuskan untuk masuk kamar, setelah menutup pintu kaca, ia berlindung di balik dinding, namun kilatan petir seakan menerobos ke dalam kamar, Aliya memekik sekali seraya menutup telingnya mendengar  suara petir yang datang susul menyusul.

“Aliya…,” panggil Zain mengkhawatirkannya, dengn ekspresi ketakutan yang berlebihan, Aliya tak bisa menahan diri lagi, ia berlari ke arah Zain lalu berhambur ke pelukannya. Sejenak Zain membalas pelukan itu dengan semakin mengeratkannya, dan ia pun mulai menikmati pelukan itu.

Sejurus kemudian ketika, tak ada suara petir lagi, Aliya segera mendorong tubuh Zain dan keluar dari pelukannya. Namun belum lama ia merasa lega, cahaya kilat kembali menerobos masuk pertanda gelegar suara petir pun akan segera menyusul.

Aliya hampir saja kembali menghambur ke pelukan Zain, namun ia urung karena keengganannya. Zain tak membiarkannya begitu saja, ia tau akan sulit memaksa Aliya yang lumayan keras kepala. Ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Aliya.

“Baiklahh… kalau kau tidak mau memeluk dari depan, aku bisa memberikan jasa dipeluk dari belakang.” Ucap Zain menggoda dengan  kiasan. Aliya masih enggan, meski dalam hati ia juga butuh sebuah pelukan.
“Ayo peluk!! Petir malam ini sepertinya sedang berdemonstrasi,” ucap Zain lagi, namun Aliya masih tetap ragu.

Zain kemudian memikirkan cara lainnya, ia kemudian membaringkan tubuhnya secara menyamping dan tetap membelakangi Aliya.
“Baiklah.. sekarang aku akan tidur, jika petir datang lagi dan kau butuh memeluk sesuatu, jangan sungkan punggungku siap siaga untuk dipeluk,” ungkap Zain lagi, lalu pura-pura tidur.

Cahaya kilat kembali menyilaukan membuat Aliya panik dan langsung membaringkan tubuhnya  menyamping menghadap punggung Zain lalu menutup tubuhnya dengan selimut yang sama dengan selimut yang menutup tubuh suaminya itu.

Tak lama setelah Aliya berbaring, benar saja petir seakan tak henti-hentinya susul menyusul, Aliya masih saja terkejut meskipun sudah sejak tadi mendengar berondongan gelegar petir, dengan sedikit keraguan dan ketakutan yang sangat ia terpaksa memeluk punggung Zain diam-diam, Aliya tidak tau saja bahwa Zain sedang tersenyum penuh kemenangan ketika melihat lengan Aliya melingkar di perutnya.

****

Pagi menjelang siang, ketika semua orang di Barkath Villa sudah memulai aktifitas harian mereka, seperti biasa Aliya yang bertugas sebagai juru masak di rumah bersama Chand Bibi sedang sibuk memasak untuk makan siang.

Di tengan kesibukan itu tiba-tiba telepon rumah berdering,
“Biarkan aku yang mengangkatnya, Bi” ucap Aliya ketika Chand Bibi bermaksud beranjak mengangkat telepon.

“Hallo…” Ucap Aliya setelah menerima telepon
“Hallo Aliya Ji, ini Rizwan,” ucap suara tak asing di seberang sana
“Ya, Rizwan Ji ada apa?” Tanya Aliya
“Bisakah kau secepatnya datang ke kantor?” Rizwan terdengar panik, Aliya tentu tau kantor yang dimaksud Rizwan adalah kantor Barkath Company, mengingat Rizwan juga bekerja di sana.
“Ada apa?” Aliya bingung
“Zain.. zain..” Rizwan terdengar berat mengatakannya membuat Aliya semakin khawatir.
“Zain, kenapa dengan Zain? Tolong bicara dengan jelas!”
“Zain, kau tau kan dia punya penyakit magh akut? Dan.. sekarang magh nya sedang kambuh karena dia belum makan siang, bisakah kau membawakan makanan ke sini?”
“A..apa? Kenapa tidak ada yang memberinya makan di kantor?!” Aliya setengah panik tapi juga ingin mengomel.
“Kami sudah menyuruhnya makan, tapi dia bilang sekarang dia sedang ketergantungan masakan istrinya, jadi dia tidak bisa makan makanan lain,”
“A..apa?!” Aliya kesal, ia tidak habis pikir Zain benar-benar konyol, dia seperti anak kecil saja yang pilih-pilih makanan.

Namun tetap saja Aliya khawatir, ia tidak bisa berdiam diri. Ia harus ke sana segera dan melihat keadaan Zain, ia tau magh bukan penyakit yang bisa disepelekan. Aliya pun akhirnya menyiapkan makan siang untuk suaminya itu lalu buru-buru pergi ke kantor Zain.

Sesampainya ia di kantor, pertama ia bertemu dengan sekrataris Zain di lobby,
“Nyonya…” sapa gadis itu
“Zain, dimana Zain?!” Aliya bertanya setengah panik.
“Tuan Zain, dia…” gadis itu menunduk tampak takut-takut membuat kekhawatiran Aliya semakin membuncah. Mungkinkah dia sudah terlambat?

Tanpa menunggu sekertaris itu menjelaskan semuanya, Aliya langsung bergegas pergi memburu ruangan Zain dengan perasaan ketar-ketir.

“Rizwan! Apa yang terjadi?! Bagaimana keadaan Zain?!” Cerocos Aliya ketika bertemu Rizwan di koridor menuju ruangan Zain.
“Kau lihat saja sendiri, dia hanya membutuhkanmu sekarang,” lirih Rizwan, dan ekspresi Rizwan yang tampak sedih itu membuat Aliya semakin panik.

Ia kembali melewati Rizwan tanpa penjelasan yang terang lalu segera memburu ruangan Zain.
“Zain!” Aliya memanggil nama Zain seraya membuka pintu ruang kerja Zain tanpa mengetuknya.

Ketika pintu terbuka, sesaat ia lihat kini Zain sedang duduk santai di kursi kerjanya sambil kakinya ia selonjorkan ke atas meja, dan ketika menyadari keberadaan Aliya ia langsung berlagak kesakitan.

“Aduuhhh! Perutku sakit sekali!” ia mulai merintih sambil memegangi perutnya. Menyadari Zain sedang berpura-pura Aliya menatapnya kesal, ia tau Zain sedang baik-baik saja, tidak seperti yang dikhawatirkannya. Aliya dengan kasar meletakkan kotak makan di atas meja Zain.
“Jadi kau mengerjaiku lagi Zain?! Kau jahat sekali Zain, aku benci padamu!!” Pekik Aliya menahan tangis dan berniat untuk berlalu pergi, namun Zain segera menahannya dengan memeluknya dari belakang.
“Maafkan aku sayang, aku hanya merindukanmu, aku hanya ingin bertemu denganmu,” bisik Zain lembut tepat di punggung telinga Aliya.
“Kau menyebalkan Zain,” maki Aliya lagi, membuat Zain merasa harus menhadapkan tubuh Aliya ke arahnya.
“Sekarang beri aku makan, sebelum magh ku benar-benar kambuh,”

Zain membawa Aliya ke rooftop puncak teratas gedung kantornya. Jika di ruangannya mereka tidak bisa leluasa dan dikhawatirkan Aliya akan lepas kendali dan mengamuk di depan semua karyawannya.

“Kenapa kau terus menyiksaku seperti ini Zain? tolong hentikan semua ini Zain, kau sudah terlalu sering mempermainkan aku kau sudah keterlaluan!!” Cecar Aliya mengungkapkan isi hatinya yang mengganjal selama ini,
“Menyiksa apa Aliya? Aku sama sekali tidak sedang mempermainkanmu, aku sudah bilang bahwa aku benar-benar mencintaimu, dan aku berusaha untuk membuatmu percaya,” Zain menggenggam kedua bahu Aliya dan menatapnya tulus, namun Aliya mencampakkan kasar kedua tangan Zain.

“Aku tidak bisa percaya padamu, dan seperti yang kau katakan waktu itu bahwa kau akan membenciku dulu, saat ini dan seterusnya, begitu juga aku tidak akan pernah bisa percaya padamu sampai kapanpun,”
“Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa percaya padaku?!” Zain hampir putus asa dengan sikap Aliya. Namun Aliya tetap keras hati, ia berbalik membelakangi Zain dan ingin pergi meninggalkannya.

Zain mulai putus asa melihat kebekuan hati Aliya, ia tidak tau harus berbuat apa lagi agar Aliya bisa percaya padanya. Dengan pikiran gilanya, ia nekat berdiri di atas pagar yang jika terjatuh dari sana kita akan meluncur melewati 24 lantai dan bisa dipastikan nyawa melayang atau paling tidak tulang belulang akan remuk.

“haruskah aku lompat dari gedung ini agar kau percaya padaku?!” Teriak Zain. Mendengar itu sesaat Aliya menghentikan langkahnya namun ia enggan berbalik.
“Terserah! lakukan apa maumu, kau tidak akan bisa menipuku lagi” kata Aliya tanpa berbalik, sesaat Zain tak bisa berkata apapun ketika Aliya melanjutkan langkahnya.

Namun sesaat kemudian terdengar suara sebuah benda jatuh terhempas menimpa jalanan di bawah sana. Mendengar suara mengejutkan itu langkah Aliya kembali terhenti, kakinya seketika melumpuh dan lemas, jantungnya terasa hampir berhenti berdetak bahkan ia kesulitan bernafas menahan sesak di dadanya.

Ia bahkan tak sanggup berbalik dan melihat kenyataan yang terjadi,
“Zain… zain..!” Suaranya tertahan di kerongkongannya seraya memegangi dadanya yag terasa teramat sakit, ia tersungkur ke lantai karena kakinya yang melumpuh tak mampu menopang tubuhnya.

Air matanya mulai tumpah ruah dan perlahan ia mulai mengeluarkan suara rengekannya. Apa yang sudah dia lakukan? Kenapa dia tidak bisa percaya pada kesungguhan Zain? penyesalan itu mulai menderanya.

“Zain.. hiks hiks!” Ia terisak pilu membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Zain.
“Zain jangan tingglkan aku!!” Pekiknya tertahan. Namun tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.

“Aliya.. aku di sini” lirih Zain seraya berjongkok di hadapan Aliya.
“Zain, kau tidak apa-apa kau tidak terluka?” Aliya tampak begitu panik hingga ia seakan kehilangan akal, ia memeriksa sekujur tubuh Zain yang sama sekali tidak terjadi apa-apa. Zain lalu membawa Aliya bangkit dari berdirinya, lalu berkata,

“Sebenarnya aku tidak terjatuh, tadi aku tidak sengaja menendang pot bunga besar, dan benda itulah yang terjatuh.” Zain tersenyum kecil
“Apa?! Jadi.. jadi aku menangis hanya untuk sebuah pot? Semudah itu kau mengatakannya?! Kau melakukan ini lagi Zain! kau pasti sengaja melakukannya!! kau mempermainkan aku lagi, aku benci padamu!! Aku benci!!” Aliya begitu frustasi dan marah, ia memukul-mukul dada Zain seraya terus memakinya. Zain pun membawa Aliya ke dalam pelukannya.

Namun hal itu tak bertahan lama, karena Aliya mendorong tubuh Zain.
“Kumohon pergilah dari hadapanku! Aku tidak ingin melihatmu lagi, aku benci padamu!!” maki Aliya berapi-api dia bahkan sudah tidak sadar apa yang dia katakan.
“Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Aliya” ucap Zain tulus.
“Kenapa tidak bisa? Yaa..aku tau itu adalah rumahmu, jadi akulah yang akan pergi, aku yang seharusnya pergi!” Aliya masih saja tetap keras hati hingga membuat Zain hampir menyerah.
“Tidak Aliya aku yang akan pergi, itu adalah rumah mertua dan suamimu. Jadi aku yang akan pergi, aku akan pergi hanya jika kau mengatakan bahwa kau menginginkan aku pergi dan kau sama sekali tidak mencintaiku!” Tegas Zain.
“Pergilah Zain, aku menginginkanmu pergi” Aliya menghindari kontak mata dengan Zain.

Hingga Zain yang masih penasaran menggenggam kedua bahu Aliya dan memaksanya untuk tetap fokus menatap matanya.
“Tatap mataku dan katakan bahwa kau sangat menginginkan aku pergi dan kau sama sekali tidak mencintaiku,” sesaat Aliya terdiam, ia ragu serasa tak bisa melakukannya, ia juga tak bisa membohongi hatinya sendiri, namun ia sudah lelah dengan permainan balas dendam Zain yang begitu menyiksanya, permainan hati yang sudah dilakukan Zain benar-benar membuat Aliya menderita. Ia pun sebisa mungkin menatap lekat mata Zain, lalu berkata,
“Zain Abdullah, aku benci padamu, aku ingin kau enyah dari hadapanku! Aku sama sekali tidak mencintaimu,” Aliya mengepal erat-erat kedua tangannya di kedua sisi tubuhnya seakan menahan asa yang hampir membuncah.

Ia mengakhiri perdebatan itu dan langsung berlalu pergi dari hadapan Zain sambil air matanya terus menggenang di wajahnya. Di koridor, Aliya sempat bertemu dengan Rizwan. Sahabat suaminya itu jelas saja penasaran dan bertanya apa yang terjadi, namun Aliya tak menjawab apapun dan langsung pergi.

****

Malam harinya Aliya dirundung rasa gamang, Zain bahkan belum pulang hingga larut. Tidak biasanya di hari-hari kerja begini Zain pulang terlambat.

Apa mungkin karena pertengkaran tadi siang?? Ahh.. tidak! Aliya tau Zain tidak pernah serius akan ucapannya, dia adalah orang paling senang melihat orang lain terlihat bodoh. Aliya yakin Zain tidak akan rela meninggalkan istananya hanya karena mengalah padanya.

Tapi kenapa semakin lama Aliya semakin galau tanpa kehadiran Zain begini? Bukankah ini yang dia inginkan? Tidak melihat wajah Zain? setidaknya dan seharusnya Aliya bisa tenang semalam saja tanpa gangguan dari Zain. Tapi bodohnya dan betapa ia tidak mengerti kenapa ia malah merindukannya begini?

“Zain kau dimana?” Tanpa sadar Aliya mengucapkan kata-kata galau itu dari mulutnya seraya berjalan modar mandir menimbang-nimbang keputusan. Hingga akhirnya dengan membuang segala kekesalan dan gengsi Aliya mengumpulkan segala keberaniannya untuk menelepon Zain.

“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalaj beberapa saat lagi” suara mengecewakan dari operator itu menandakan bahwa saat ini Aliya tidak akan bisa menelepon Zain entah apa yang terjadi padanya, yang pasti lagi-lagi Zain berhasil membuat Aliya khawatir.

Aliya tidak kehabisan akal, ia kini memutuskan untuk menelepon Rizwan satu-satunya teman Zain yang ia miliki nomor kontaknya,
“Hallo Rizwan” ucap Aliya tepat ketika Rizwan mengangkat teleponnya,
“Aliya? Kau sedang mencari Zain ya?” Aliya sedikit terkejut dengan tebakan tepat Rizwan
“Bagaimana kau tau? Apa dia sedang bersamamu?”
“Tidak, dia sedang tidak bersamaku, tapi aku yakin salah satu dari kalian pasti akan saling mencari”
“Apa kau tau dimana dia sekarang? Kalau kau bertemu dengannya tolong katakan orang rumah mencarinya,” Rizwan tersenyum geli mendengar Aliya masih saja gengsi tak mengakui bahwa dirinya sendiri lah yang mencari suaminya.

“Kau sampaikan sendiri saja padanya,”
“Kau salah paham, aku… aku tidak…”
“Aliya dengarkan aku, mungkin kau tidak akan percaya padanya tapi kau bisa percaya padaku, Zain tidak akan pernah kembali sebelum kau yang memintanya. Aliya.. aku kenal Zain sejak kecil jadi aku sangat mengenali dia, aku bisa menebak apa yang ada di dalam hatinya hanya dengan melihat gelagatnya. Untuk pertama kalinya tadi siang aku melihat dia menangis karena seorang wanita dan itu hanya karenamu, aku tau dia sangat mencintaimu Aliya, dia mencintaimu sejak pertama kali melihatmu, kau adalah cinta pertama dalam hidupnya, tapi hanya kalian lah yang tidak menyadari itu,” Aliya tidak ingin percaya akan ucapan Rizwan, tapi entah kenapa hatinya tergugah mendengar itu, Aliya tak bisa membendung air mata harunya.

“Aliya, kau harus percaya padanya, kau harus menemuinya, ucapkan apa yang ingin kau ucapkan, jangan kau sia-siakan cinta Zain yang terlampau mahal untuk diberikan kepada gadis lain,” Lanjut Rizwan
“Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu..” Aliya mencoba untuk menyembunyikan tangisnya
“Dia pasti sekarang ada di apartemennya, kau temuilah dia,” Rizwan seakan tak mau tau akan penolakan gengsi Aliya, ia sengaja memberitahunya karena Aliya pasti sedang membutuhkan informasi itu.

****
Setelah berbicara dengan Rizwan, perasaan Aliya malah semakin tidak tenang, ia tidak bisa tenang di dalam kamarnya. Sementara hujan kembali turun dengan derasnya, Aliya berusaha untuk tidur tapi matanya sama sekali tak bisa terpejam.

Ia terus terngiang akan persitiwa mengerikan yang hampir membuatnya berhenti bernafas tadi siang, hal itu menyadarkannya bahwa betapa ia tidak akan sanggup kehilangan Zain, otaknya juga kembali mengulas ucapan cinta Zain, cara ia menatap matanya, dan segala kejadian romantis menggetarkan jiwa penuh hasrat yang sudah mereka lalui bersama. Kesemuannya itu membuat ia semakin yakin akan perasaan tulus Zain dan perasaannya sendiri terhadap pria itu.

Dan tanpa menimbang apapun lagi, Aliya memutuskan untuk pergi menemui Zain bagaimanapun caranya. Yaa… ia tidak boleh menundanya lagi, malam ini juga ia harus bertemu dengan Zain dan mengungkapkan segalanya.

Sudah lebih dari satu jam hujan turun dengan derasnya membanjiri tanah Mumbai, namun seakan tak pernah sepi dari hiruk pikuk kendaraan, lalu lintas di kota pusat Industri dan komersial di India itu selalu padat dengan arus lalu lintas.

Aliya pergi ke apartemen Zain dengan menggunakan bajaj. Dua pertiga perjalanan tiba-tiba bajaj yang ia tumpangi mogok akibat banjir yang mulai menggenang.
“Maaf Nona, bajajnya tidak bisa berjalan, mesinnya rusak karena genangan banjir” kata Tuan supir Bajaj memberitahu Aliya.
“Tidak apa-apa, aku turun di sini saja!” Setelah membayar ongkos bajaj, Aliya pun segera turun dan berlari menyusuri pinggir jalan Mumbai yang sesak, menuju alamat detail apartemen Zain yang sudah dibertahu Rizwan.

Ia kini tak peduli lagi dengan guyuran hujan yang membuat sekujur tubuhnya kuyup serta udara dingin yang menusuk tulang dan membuat bibirnya bergetar.

Aliya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal dan menggigit bibir bawahnya gugup ketika ia sudah sampai di depan pintu apartemen yang diyakini tempat Zain menginap.

Sejurus kemudian,seakan tak sabar akhirnya ia beranikan diri untuk mengetuk pintu, ketukan ke dua kalinya, pintu terbuka dan dada Aliya langsung bergemuruh ketika melihat di hadapannya kini adalah Zain, orang yang paling ia rindukan dan ia damba.

“Aliya?” Zain sedikit terkejut namun lebih besar rasa bahagianya melihat kehadiran Aliya yang seakan menjadi kejutan istimewa baginya.

Aliya tersenyum haru sesaat dan tanpa ragu lagi ia langsung menghambur ke pelukan Zain, tak perduli kini sekujur tubuhnya kuyup dan ikut membasahi pakaian kering Zain. Zain awalnya terkejut namun selanjutnya ia sangat bahagia dan menyambut hangat pelukan Aliya.

“Zain, aku minta maaf atas sikapku tadi siang…” Zain menghentikan kalimat Aliya dengan melintangkan salah satu telunjuknya ke bibir Aliya. Dalam diam dan hanya menatap Aliya dengan tatapan intens, ia raih tubuh kuyup Aliya dan menggendongnya masuk ke dalam apartemennya, tanpa melepaskan pandangan sedetikpun Zain membawa Aliya ke dalam kamarnya.

Ia lalu menurunkannya di sisi tempat tidur, sesaat Zain mengalihkan perhatiannya dengan menyibukkan diri mengambil baju ganti miliknya untuk Aliya pakai sementara waktu.

“Zain aku…” Zain seakan belum memberikan Aliya kesempatan untuk mengucapkan apapun dengan memotong ucapnnya,
“Kau Basah Aliya, kau harus ganti baju” Ucap Zain cepat, hingga Aliya pun menurut dan masuk kamar mandi sambil membawa baju ganti yang diberikan Zain.

Beberapa saat kemudian, Zain terpaku menatap Aliya yang muncul dengan hanya mengenakan kemeja putih kebesaran miliknya yang agak tipis hingga menampakkan siluet tubuh gadis itu. Kemeja itu tampak menjuntai menyerupai gaun di tubuh Aliya dan menampakkan paha mulusnya, salah satu bagian dari tubuh Aliya yang baru pertama kali dilihat Zain.

“Aliya kau tidak apa-apa mengenakan pakaian seperti itu?” Tanya Zain gelagapan
“Tidak.. aku menyukainya, aku tidak pernah berpakaian seksi seperti ini,” lirih Aliya, seakan mulai menggoda sambil perlahan mendekati Zain.

“Zain, aku ingin bicara padamu,” lirih Aliya tepat di depan wajah Zain karena ia mendekat terlampau dekat hingga tubuh mereka hampir saling menempel.

“I love you Zain,” akhirnya Aliya mengucapkan kalimat yang terlampau mahal itu, sejenak keduanya sama-sama terdiam, mata mereka saling bicara, lalu Aliya meneruskan ucapannya,
“aku sudah memikirkannya lagi dan lagi, dan tetap saja hatiku mengatakan bahwa Aku…” Zain menghentikan kalimat Aliya dengan sebuah kecupan kilat.
“Sudah, jangan bicara lagi. Aku sudah tau semuanya” ucap Zain lembut.
“Jadi sekarang kau percaya padaku?” Pertanyaan Zain itu hanya dijawab dengan anggukan pelan namun meyakinkan.

🎵Kabhi Jo Baadal Barse, is Playing🎶

Lalu tanpa ingin menunggu lagi, Zain menarik tubuh ramping Aliya menempel di tubuhnya dan ia lingkarkan kedua lengannya di perut wanitanya itu, sejurus kemudian ia pun mulai menciumi kening Aliya, pipinya lalu terakhir bibirnya. Zain awalnya melumat lembut bibir Aliya, namun gadis itu seakan menginginkan yang lebih dengan melingkarkan kedua lengannya di tengkuk Zain hingga memperdalam ciuman itu dan mulai membuatnya semakin panas dan bringas.

Tanpa melepaskan ciumannya Zain sedikit mengangkat tubuh Aliya dan menuntun gadis itu untuk melingkarkan kedua kakinya di pinggul Zain. Lalu ia pun mulai membawa Aliya ke tempat tidur.

Zain kini duduk di tepi ranjang sementara Aliya duduk dengan melingkarkan kedua kakinya di pangkuan Zain. Satu persatu Zain lepaskan kancing kemeja longgar milik Aliya dan memeloroti kerah bajunya hingga lengan, bibir Zain lalu mulai aktif menjelajahi leher dan dada Aliya dengan begitu bergairahnya.

Setelah melepaskan seluruh baris kancing kemeja tipis Aliya, Zain lalu membuangnya ke sembarang arah hingga menampakkan segala milik Aliya yang tak pernah Zain lihat sebelumnya, sejenak Zain menatapnya dengan penuh kekaguman Aliya awalnya tampak malu-malu dan menutupi tubuhnya dengan memeluk Zain, namun Zain sesaat melepaskan pelukan Aliya dan malah menuntun tangan gadis itu untuk membuka baju kaus yang dikenakan Zain, seakan ia ingin membuat segalanya menjadi impas.

Sedikit ragu Aliya melakukannya, hingga ia berhasil membukanya, ia pun membuang baju itu ke sembarang tempat, dan kini mereka saling bertelanjang dada dan saling melihat satu sama lain penuh kekaguman dan tanpa ragu, meski perasaan gugup itu masih ada.

Merasa sudah saatnya, Zain menuntun tubuh Aliya berbaring di tempat tidur dan menindihnya, Aliya yang masih sedikit malu karena tidak adanya pengalaman, ia menengkurapkan tubuhnya dan menampakkan seluruh punggungnya yang mulus.

Namun itu justru membuat Zain memiliki lahan lain yang bisa ia garap, ia kemudian kembali mencicipi setiap jengkal punggung itu dengan menciuminya dan meninggalkan jejak kekuasaannya di sana.

Seakan tak sabar, sejurus kemudian Zain membalikkan tubuh Aliya agar telentang menghadapnya, kembali ia cium kening Aliya. Lalu sejenak ia menghentikan aktifitas dan permainannya yang mulai memanas.

Sebelum Zain melakukan segalanya, Zain ingin memastikan kesiapan Aliya, ia belai wajah cantik istrinya itu dan ia tatap lekat-lekat matanya, melalui tatapan itu seakan segala isyarat tersampaikan bahwa betapa mereka saling mencintai dan merindui dan betapa mereka saling mendambakan satu sama lain.

“Aku mencintaimu Aliya,” lirih Zain dengan penuh kesungguhan. Aliya bahkan tak bisa mengatakan apapun karena rasa haru yang membuncah dalam dadanya, ia juga ingin mengatakan hal yang sama namun hanya air mata yang kaluar dan membasahi pelipisnya.

“Kau percaya padaku kan?” Tanya Zain lagi, Aliya menjawabnya dengan melingkarkan kedua lengannya di punggung Zain, lalu mengecup pipi lalu bibir suaminya itu sesaat, seakan mempersilahkannya melakukan hal yang sudah seharusnya ia lakukan.

Diiringi suara rinai hujan yang terdengar seperti nyanyian merdu, diterangi cahaya kilat yang datang sesekali, kedua insan yang saling mendamba itu kini menyalurkan segala hasrat cinta mereka yang sekian lama terpendam itu.

“Kau cantik sekali Aliya,” Zain memuja Aliya bak seorang Majnun memuja Laila ketika ia melihat rintihan kesakitan dari bibir gadis itu ketika Zain menyatukan jiwa dan raga mereka dan ketika ia menyentuh mahkotanya untuk pertama kali. Dengan penuh sayang ia membelai rambut Aliya seraya menciumi bibirnya serta pipinya. Dan malam itu menjadi malam yang panjang bagi Zain dan Aliya, malam yang indah yang tak akan pernah terlupakan sekaligus penanda akan penyatuan jiwa dan raga mereka seutuhnya dan selamanya.

Pagi harinya….

Keluar dari kamar mandi, dengan rambut basahnya, Aliya terkejut melihat Zain sedang khusuk dalam shalatnya. Diam-diam Aliya bersender di dinding sambil memperhatikan Zain dari belakang, ia seakan terpukau melihat suaminya itu sedang berkomunikasi kepada Sang Pencipta untuk pertama kalinya.

“Ehemm!!” Aliya berdehem menggoda ketika Zain menyelesaikan shalat sunnah rawatib subuhnya.
“Mimpi apa kau semalam tiba-tiba shalat begini?” Goda Aliya ketika Zain melihat ke arahnya.
“Semalam aku bermimpi bercinta dengan seorang bidadari, maka aku patut bersujud syukur kepada-Nya sudah memberikanku mimpi seindah itu.” Zain berseloroh jenaka. Sesaat pipi Aliya merona merah disinggung akan peristiwa indah yang mereka lalui semalam.
“Ck, aku tidak percaya ternyata kau hafal gerakan shalat juga!” Aliya berusaha mengalihkan topik
“Jangan sepelekan aku ya! dulu waktu masih kecil setiap hari aku dan Ayah shalat di masjid,” keceplosan menyebut nama ayahnya, Zain terdiam sedih begitu juga dengan Aliya, sedikit rasa bersalah kepada Zain menelusup ke dalam relung hatinya.

“Ayo, sebentar lagi fajar menyingsing, kita shalat subuh bersama,” Zain berusaha mengalihkan suasana tak mengenakkan itu.

Dan untuk pertama kalinya mereka pun shalat berjamaah, rasa syukur tiada henti-hentinya mereka panjatkan karena telah dikaruniai pasangan yang sangat mereka cintai. Aliya kembali menitikkan air mata harunya ketika usai shalat Zain mengecup lembut keningnya, kini sempurnalah sudah pernikahan yang telah mereka bina yang disatukan oleh Ayah tersayang mereka, Usman dan diridhoi oleh Sang Maha Kuasa, tidak ada lagi kebahagiaan yang sempurna selain mendapatkan kehidupan yang lengkap. Zain dan Aliya merasa kini kehidupan mereka sudah sempurna karena satu sama lain saling melengkapi, do’a tulus mereka kepada sang maha kuasa, semoga kabahagiaan ini tak akan pernah berakhir dan tidak akan ada lagi yang mampu memisahkan dan merusak hubungan mereka yang sudah terjalin erat.

1 bulan kemudian,
Satu bulan setelah peristiwa indah itu mereka lalui dengan hari-hari yang indah penuh kemesraan, Zain dan Aliya sedang merengguk madunya berumah tangga, setiap hari serasa seperti bulan madu, setiap hari penuh dengan romantika, mereka lebih seperti sepasang kekasih ketimbang sepasang suami istri, meskipun tak jarang pertengkaran dan perdebatan kecil sering terjadi karena masalah kecil atau hanya karena kecemburuan kecil tak beralasan.

“Zain, sudah lepaskan! Aku sedang sibuk!” Protes Aliya dengan gangguan Zain yang masih saja bermanja-manja dengan memeluk Aliya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di bahu istrinya itu.

Sementara Aliya sedang sibuk mengepak barang-barang Zain, untuk keberangkatannya ke Hyderabat dalam perjalanan bisnis esok hari.
“Hmmh, tidak mau… selama aku disini aku tidak akan jauh-jauh darimu, besok kita akan berpisah Sayang, memangnya kau tidak sedih?” ucap Zain manja dan mulai nakal menciumi leher Aliya.
“Aku juga sedih Zain, ini pertama kalinya kita berpisah sejak pernikahan kita, tapi ini cuma tiga hari Zain. Kau tidak mungkin tidak kemana-mana dan terus menempel padaku,” Aliya berusaha memberikan pengertian seperti seorang Ibu kepada anaknya yang butuh pengajaran.

Mendengar itu, Zain malah memutar tubuh Aliya menghadapnya,
“Kalau begitu ayo berikan aku jatah malam ini,”
“Zain.. tadi pagi kita baru saja melakukannya, apa kau tidak lelah?!”
“Tidak… aku tidak akan pernah lelah sayang, ayo kita lakukan lagi sampai kita mendapatkan Zain Junior,” Zain mengerlingkan sebelah matanya menggoda Aliya.
“Kau ini…” Aliya akhirnya pasrah ketika Zain mulai kembali menciumi bibirnya dan mulai meraba punggung dan menarik tali anarkalinya.

****
Chhatrapati Shivaji International Airport,
Mumbai, India

“Hati-hati di jalan, jangan lupa makan tepat waktu,” Aliya menangis ketika mengantarkan keberangkatan suaminya ke bandara.
“Heyy.. kenapa jadi kau yang menangis?! bukankah kau sendiri yang selalu bilang kalau ini cuma tiga hari?” tanya Zain ikut sedih melihat duka di mata Aliya.

“Entahlah Zain, aku merasa bahwa aku akan sangat merindukanmu,” Aliya terisak, Zain dengan lembut ia menghapus air mata di kedua pipi Aliya dengan kedua ibu jarinya, lalu memeluk tubuh Aliya dengan segenap hatinya.
“Aku akan segera kembali Sayang, bahkan sebelum kau merindukanku,” lirih Zain sambil mengelus lembut rambut Aliya.

Pengumuman pemberangkatan sudah berkumandang, membuat Aliya semakin sedih, entah kenapa di detik-detik terakhir dia benar-benar tidak sanggup melepas kepergian Zain.
“Aku pergi sekarang,” terakhir salah satu tangan Zain membelai pipi Aliya, sementara tangan yang satunya menggenggam erat tangannya. Dengan lembut bibir Zain menyapu kening Aliya, lalu perlahan ia melangkah menjauh, Aliya begitu berat melepaskan genggaman tangan Zain, namun kemudian Zain terus melangkah menjauh dan dengan berat hati ia harus melepaskannya.

Tangis Aliya semakin menjadi selepas kepergian Zain, dan itu menjadi perhatian Shaziya yang turut menemaninya mengatar Zain ke Bandara bersama suaminya Bilal,
“Oh Ya Ampun! ada apa dengan mereka? Cinta macam apa yang tidak bisa berpisah walau hanya 3 hari?” Gerutu Shaziya menganggap Aliya terlalu berlebihan. Yaa.. memang itu terkesan berlebihan, Aliya menyadari itu, tapi ia juga tidak mengerti kenapa perasaannya jadi tidak enak begini?

****
3 Hari kemudian,

Selama tiga hari berpisah, hampir setiap saat, Zain menghubungi Aliya dan melaporkan keadaan dan segala kegitannya juga menanyakan keadaan dan kegiatan istrinya itu, di setiap waktu luang, sebelum tidur bangun tidur, makan siang, makan malam, Zain selalu melaporkannya, ribuan kata cinta dan rayuan rindu selalu Zain ungkapkan lewat telepon untuk menghibur Aliya yang sedang merindu.

“Besok setibanya aku di Mumbai, aku mau kita langsung pergi berkencan,” kata Zain melalui telepon sambil sibuk mengepak pakaiannya ke dalam koper.
“Berkencan? Kau tidak ingin pulang ke rumah dulu?” Tanya Aliya ceria sambil menyisir rambutnya di depan kaca rias.
“Tidak.. hanya koperku saja yang akan sampai di rumah, kau harus menemuiku di Getaway of India, aku punya kejutan untukmu, dandan yang cantik ya,”
“Hemmhh, tidak perlu aku sudah cantik, baiklah sampai bertemu besok,” usai menutup teleponnya, Aliya terlonjak bahagia, tak sabar akan pertemuannya dengan orang yang ia rindukan besok.

Gateway of India,
Colaba, Mumbai
India.
4.45 PM IMT

Setelah mendengar kabar bahwa Zain sudah tiba di bandara, buru-buru Aliya berangkat menuju kawasan Coloba tempat ia dan Zain berjanji untuk bertemu.

Karena macet, Aliya tiba ke Get away of India lebih dulu daripada Zain, Aliya tampak menikmati berada di salah satu tempat terindah kebanggaan kota Mumbai itu.

Tempat wisata yang pernah menjadi lokasi shooting film legendaris ‘Mann‘ itu merupakan salah satu tujuan wisata favorit di kota Mumbai, Gerbang India merupakan sebuah gerbang besar bernuansa gabungan arsitektur Islam dan Hindu, dua agama dengan peradaban terbesar di India, bangunan bersejarah itu Di bangun untuk menghormati dan peringatan atas kunjungan Raja Inggris (King George V dan Ratu Mary).

Selain arsitekturnya yang unik dan historis, yang menjadi daya tarik dari Getaway Of India adalah karena tempat itu tampak sangat romantis dengan dihuni oleh ratusan burung merpati yang beterbangan bebas. Itu mengapa tempat itu tak pernah sepi dari pengunjung terutama pada sore hari seperti ini.

Sesuai dengan permintaan suaminya, Aliya sudah berpenampilan cantik dengan mengenakan saree cantik berwarna merah muda yang pas dengan warna kulit dengan riasan natural yang membuatnya tampak cantik maksimal. Meskipun tidak sabar menunggu tapi Aliya menunggu Zain dengan hati riang.

Sementara di perjalanan, di dalam taxi Zain tampak gelisah karena ia tak kunjung sampai ke Colaba karena kemacetan parah, Zain tersenyum ketika membuka sebuah kotak biru beludru yang ia ambil dari kantong blezernya, kotak itu berisi cincin Aliya yang sempat ia anggap hilang dan tak sempat Zain kembalikan, itu juga merupakan salah satu kajutan yang ia siapkan selain sebuket bunga mawar merah dan makan malam romantis yang sudah ia reservasi.

15 menit berlalu, akhirnya taxi yang Zain tumpangi sudah sampai di depan gerbang India. Dari kejauhan sebelum Zain menyeberangi jalan, matanya langsung tertuju pada Aliya.
“Aliya!!” panggilnya, membuat Aliya menoleh dan menyadari keberadaannya. Aliya pun tersenyum ke arahnya dengan tatapan
berkaca-kaca karena haru.

Tanpa melepaskan pandangannya dari Aliya, Zain terus berjalan mendekati istrinya itu dengan sebuket bunga mawar di genggamannya, ia pun menyeberangi jalan untuk sampai pada Aliya.

Namun entah apa rencana langit, suasana sore yang indah dan membahagiakan itu berubah menjadi sore kelabu,

“ZAINN!!!” Jerit Aliya ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat dengan begitu cepatnya sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Zain, suara decitan roda mobil yang mengerem mendadak, hempasan besi yang beradu dengan tulang dan daging menggema dan menyita perhatian semua orang tubuh Zain melayang ke udara menggelinding ke hidung mobil lalu meluncur ke jalanan.
“ZAIN!!” Sekali lagi Aliya berteriak keras hingga hampir melampaui batas oktaf suaranya, sambil berlari kencang memburu tubuh Zain.

To Be Continued

Fiuuhhh… selesai juga, tobat Nasuhah, gue udah banyak mikir mesum buat bikin adegan MP yang bisa mwncapai level 9, tapi rupanya ku tak bisa….. merinding Vrohh, lama2 gue eneg sendiri ngeliat tulisan mesum maksa gue heddeuuhh, maafkeunlah gue cuma bisa menyuguhkan adegan NC tingkat 7. 😄😄

Next part bakal banyak kejutan guys!! soo.. nantikan terus kisah Zaya di part selanjunya. BYE maksimal!!

Advertisements

25 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 9)

  1. kuereeennnnnn kak nis,,g bisa ngmong apa” akhirnya mreka melakuknnya juga 😂 ihhh sumpehhh to twitt bingit n lomantisss 😍😘 sampi ikutan baperr 😂😁 pkoknya WOW bingittt kak 👏👍 kya? 😱 Zain kecelakaan 😭 apakah dia akan baik” saja? Zain jngn dimatiin karakternya Aliya belom hamil 😭 knp ada scene kecelakaan segala sih,,kasihan mereka baru romantis”nya udah dikasih cobaan 😭 jngn gituh atuh kak 😞 semoga part 10 alias last part jdi happy ending n Zain junior lahir 😘 sukses trus kak buat fan factionnya..part nya ditambahin lagi donk 🙏😍💃

  2. Wow keren mbak….👍hhhhmmm……knp ada tulisan kyk gini👉duduk mengangkang 👈😂😂, emang sih msh bhsx INA tp tetep aja aneh 😂……ok next ya…..👉aq sprtx emang hrs sll mengulangi koment q 😫coz yg pertama pasti gagal kirim n ilang 😭👈,……ok trims muach💋💋😍😍😘😘

  3. Lanjutkan kak, makin asik ceritanya nih…tapi knp pas lagi enak2 Zain malah ketabrak?..ternyata diluar dugaan nih ceritanya, bagusss..penasaran sama Zain selanjutnya gmn..semangat

  4. Mrinding bulu roma ku…
    Kya ny kurang deh mba klo cm smpe part 10..hohoho.
    Lama publishny gpp lh mba, asal hsilny kya yg d atas..hahaha 😀 lop yu pull!!

  5. Wow!!!! No koment no koment.. hihihihi…ini beneran bagus polllll…. ttp diakhir cerita ada sesuatu yg membuat penasaran… sukses terus buat karyanya. 😉

  6. Wooow kk Nisa level 7 z udh bikin baper tingkat jagad raya apalgi tingkat 9 ya? Gx bz byangin dech hihi kereeeen abiiis, v koc ada kecelakaan y? Ya nma y juga khidupan yee tak luput dri ujian, hihi sukSes selalu kaka😊

  7. Aaaawww kak niiiiis😍😍 kya baat hai kya baat hai
    afaa2an iniiih keren bgt setidak x dr ini ba ngobatin kerinduan kta sma best cop zaaya
    thx buat usaha dan krj krs x untk menghibur kami semoga dr fanfiction ini bs jd hal yg sungguhan 😍 aamiin ya allah
    buat kak Nisa top maaaaaarkooootoooooopppp!👍👍👍👍👍 Bahkan 5 jempol kga cukup untuk ini 😂😆

  8. Yg ketabrak zain yg pusing ipit, bukan perkara ketabraknya tapi adegannya bikin ngences sendiri, kalo kyk gitu bisa dipastiin mreka punya byk koleksi zain junior. Good job mbak nisya, ditunggu adegan mesum lainnya. Muach Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡

  9. Huuuuhhhhh hebat hebat sampai tempat tinggal oppa gue di datengin ama mereka. Tapi mereka gak ketemu ama leeyongjae dan ji en. Lain kali suruh mereka berkunjung lagi.di tunggu part berikutnya

  10. Keren keren keren…
    Ceritanya bener2 surprise de’ ..
    Aku suka suka suka banget banget banget..
    Gak nyesel aq nunggunya..
    Km emg brilliant.. (Q ampek kehabisan kata2)
    Sukses ya de’ bwt next partnya…😄☺😊😆😉😍😘

  11. Widiwwwwwwww topp bangett dehh kaak, kebayarr dehhh 1 minggu penantian hehe, kerennnn bangettt dehhh cerintanyaaa, ditunggu ya suprisenya di part berikutnya 😊, semangat ya nulisnyaa:)

  12. Aduh panas dingin bacanya,..
    Tp terlihat jelas begitu besar cinta Zain:-)
    Knapa harus kecelakaan??
    Ditunggu. Kelanjutannya,….:-)

  13. Top markotop suupeeer duper kureeeennn iiihhh ini chapter 9 nya 👍👍👍👍👍😍😍 baper banget sm ceritanya,,mengobati rindu sm pasangan zaaya 👫 request chapternya jgn hanya sampai 10 yaaa 😅😆 pengen trs tenggelam sama cerita zaaya “penawar rindu hati” 😁
    Next chapter semoga cepat rilis dgn cerita yg lbh panjang,bahagia,& gregetnya yaaa 😉😉
    Semangat berkarya 💃💃💪💪😙😙

  14. Bingung harus ngomg apa pokoke top markotop gut marsogut jos gandoss kotos kotos sampek mbledos 😂😂😂😂😂semangat terus chayooo

  15. Akhirnya kedua muda mudi ini saling menyatakan cinta… Waduh…sampe tutup mata nih ngebayangin MP ala Zaaya (pikiran lgs ngeres…hahaha), kira2 klo’ diangkat k visual di sensor gak ya ama KPI? Akhir episode selalu penuh kejutan…bikin penonton…eh pembaca jd penasaran ama kelanjutannya… Gmn nasib Zain ya? Terus Aaliya gmn? Karan ama Tridha gmn? Ditunggu chapter selanjutnya… Bagus banget…2 jempol buat authornya… 😉

  16. Sumpah gk bs bilang ap2 selain tq bgt,km da menghibur, mg aj bs dijadiin sinetron beneran sm sutradara BI wkwkwk#ngarep#di tgu y chap selanjutnya,kerasa nonton zaya ohhhhhhh love u so much

  17. Hadeuh…bikin suhu budanku lumayan jd panas niiehh,,,
    Tp knp zain harus kecelakaan…???semoga zain gpp yah, jangan smp cacat apalagi ninggal…:'(
    Penasaraaaannn semoga nnt.nya ttp happy ending…;)
    Ditunggu bangeeeeeet chapter 10 nya……..

  18. setelah dihitung-hitung kayaknya aku udah baca ampe 5 kali deh,
    aku bawa dan cermati satu-persatu tulisannya
    gilee 🙂 🙂 kagak bosan Gw
    ditunggu chapter 10 mbak nissa

  19. Sumpahh merinding banget😂😂, ini lebih merinding dari beintehaa yang pertama, dijelaskan secaera detail banget 😅😅
    Baguss kakkk

    God jobbbbb 😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s