Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 10 part. A)


image

Judul   : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre   : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts    : 
♡ Harshad Arora as Zain  
     Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya 
     Zain Abdullah
♡ Karan Tacker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as 
      Herself
♡ All Beintehaa Casts

Located : 
       Mumbai & Bhophal India
Chapter Numb : 10 Chapters

Hallaww Guys, maafkeun diri ini yang telah lama menghilang dari peredaran dan bikin aktif readers terTjinta jadi lumutan. Maklumkeun lah, gua adalah tipe penulis yang paling gampang mengawali cerita, tapi paling syusyah mengakhirinya. Hihihi. Itu dulu dari gue Happy reading!!
♡♡♡

“Aliya!!” panggil Zain ketika ia baru saja turun dari taxi dan melihat Aliya dari kejauhan, panggilan itu membuat Aliya menoleh dan menyadari keberadaannya. Aliya pun tersenyum ke arahnya dengan tatapan 
berkaca-kaca karena haru.

Tanpa melepaskan pandangannya dari Aliya, Zain terus berjalan mendekati istrinya itu dengan sebuket bunga mawar di genggamannya, ia pun menyeberangi jalan untuk sampai kepada Aliya.

Namun entah apa rencana langit pada hari itu, suasana sore yang indah dan membahagiakan itu berubah menjadi sore kelabu,

“ZAIN AWAASS!!!” Jerit Aliya ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat dengan begitu cepatnya sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Zain, suara decitan roda mobil yang mengerem mendadak, hempasan besi yang beradu dengan tulang dan daging menggema dan menyita perhatian semua orang.

Tubuh Zain melayang ke udara kemudian menggelinding ke hidung mobil lalu meluncur ke jalanan. Bunga mawar yang ia bawa terlempar dan menggugurkan kelopaknya hingga berhamburan di tengah jalan.

“ZAIN!!” Sekali lagi Aliya berteriak keras hingga hampir melampaui batas oktaf suaranya, sambil berlari kencang memburu tubuh Zain.

Sesampainya pada Zain, Aliya langsung meraih tubuh suaminya itu dan memangku kepalanya, sesaat Aliya mengangkat salah satu tangannya yang usai menyentuh kepala bagian belakang suaminya itu, dan kini tangannya sudah merah berlumuran darah. Tangannya bergetar dan batinnya bergemuruh, buliran air matanya mulai berjatuhan, sekujur tubuhnya ikut melemah, depresi melihat luka parah yang dialami suaminya.

“Ya Allah, Apa yang terjadi?! Oh tidak Zain! Siapapun tolong suamiku, tolong panggilkan ambulance!!” Pekik Aliya histeris kepada semua orang di sekelilingnya yang beberapa saat hanya terpaku menonton adegan memilukan itu tanpa ada inisiatif untuk memberikan pertolongan. Mendengar jeritan Aliya, sebagian orang pun akhirnya panik dan sibuk mencari pertolongan, salah satunya dengan menelepon Ambulance.

Sementara, Aliya memeluki kepala Zain dengan begitu panik seraya terisak, kain sari bagian depan hingga lehernya juga ikut bersimbah darah.
“Kau pasti akan baik-baik saja, Bertahanlah Zain, kumohon!” pinta Aliya parau, seakan mengiba pada suaminya.
“Aliya…” sesaat Zain membuka matanya sambil tersenyum simpul menahan kesakitan bercampur rasa harunya, dengan suara yang begitu lirih hampir terdengar seperti berbisik, ia menatap Aliya dengan tatapan sayu namun Aliya masih bisa melihat tatapan penuh cinta di sepasang bola mata kelam itu.
“Ya.. aku disini Zain, Aliya mu disini bersamamu,” suara Aliya bergetar, air matanya tumpah ruah menetes menjatuhi wajah Zain yang bersimbah darah.

Perlahan dengan bersusah payah Zain mengangkat tangan lemahnya yang bergetar, ia sentuh pipi istrinya dengan lembut, Aliya juga menggenggam tangan Zain dengan tangannya yang bersimbah darah hingga pipinya kini merah dilumuri darah dari kepala Zain.

Zain ingin berkata sesuatu, tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya telah melumpuhkan segala sarafnya.
“Sudah… jangan bicara apa-apa lagi Sayang, kau harus bertahan, sebentar lagi ambulance akan datang, kau akan baik-baik saja!!” cerocos Aliya di tengah kepanikannya.

Meski Aliya sudah memintanya, Zain masih tetap bersusah payah melanjutkan kalimatnya.
“A..Aliya, aku.. aku men..cintaimu,” ucapnya dengan segenap hatinya, sementara Aliya terus menangis dan menggeleng takut sesuatu yang paling buruk akan segera terjadi setelah itu.

Dan benar saja, setelah mengucapkan kata cinta itu, pandangan Zain semakin meredup, kelopak matanya perlahan terpejam, tangannya yang memegang pipi istrinya meluncur tanpa daya jatuh ke tanah,

“Zain… Zain ku mohon jangan tidur!! Kau harus terus bangun, kau harus bertahan! Ku mohon jangan tinggalkan aku, aku tidak akan bisa hidup tanpamu, Zaiinnn!!” Aliya menjerit histeris sambil menepuk-nepuk kedua pipi suaminya seakan membangunkannya.

Tangisnya semakin menjadi menyadari hal yang paling ditakutkan dan tak pernah ingin dibayangkannya kini terjadi, terlebih lagi ia merasa keadaan yang dialami suaminya sekarang terulang kembali seperti yang dialami Ayah Usman beberapa bulan yang lalu, dan peristiwa itu telah merenggut Ayahnya untuk selama-lamanya.

Dan kali ini Aliya tidak bisa menerimanya lagi, ia tidak ingin kehilangan lagi, terlebih lagi rasa sakit yang ia rasakan saat ini jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya, ia sudah begitu banyak kehilangan, kehilangan Ayah dan Ibu di usianya yang masih belia, kehilangan Ayah Usman dan sekarang dia tidak akan melepaskan Zain, dia tidak akan membiarkan suaminya meninggalkannya bagaimanapun caranya.

“Ya.. Allahh!! Tolong suamiku, selamatkan dia!!” Jeritnya pilu dalam do’anya, ia terus menangis dan mengiba, tangisan yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

****
At the Hospital

Di depan ruang UGD, Rehman tampak mondar-mandir kalut mengkhawatirkan keadaan keponakannya yang kini dirawat secara intensif di ruang gawat darurat, sementara Shaziya yang juga tampak ikut khawatir menunggu hasil penanganan Zain, ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, Bilal.

Tridha juga tak ketinggalan hadir, begitu mendapat telepon dari Zarina, dia langsung meluncur ke rumah sakit, ia juga tampak ikut bersedih dan khawatir,
“Aku takut sekali Bi, aku benar-benar takut sesuatu yang buruk menimpanya,” keluh Tridha menyampaikan kekhawatirannya pada Zarina terdengar menahan tangisnya.
“Ssshh, tidak apa-apa Sayang semuanya akan baik-baik saja,” Zarina merangkul dan menenangkan Tridha, seolah Tridha jauh lebih terpukul dibandingkan dirinya sendiri yang notabene Bibi kandung dari Zain.

Sementara Aliya duduk di kursi sambil terus terisak,  Chand Bibi menyandarkan kepala gadis itu di bahunya menenangkan. Dalam hati Aliya terus memanjatkan do’a, do’a yang memaksa kepada Sang Ilahi semoga Dia menyelamatkan nyawa suaminya, dan jangan sampai Dia  mengambilnya darinya.

“Nak… pulang lah dulu, kau berlumuran darah, kau harus membersihkan tubuhmu dan mengganti pakaianmu,” pinta Chand Bibi lembut kepada Aliya, ia benar-benar prihatin melihat keadaan gadis yang sudah dianggapnya sudah seperti menantunya sendiri itu.
“Iya Aliya.. kau pulang dan beristirahatlah dulu, kau tampak sangat lelah dan tertekan,” Rehman menambahkan, turut prihatin.
“Tidak Bibi, Paman, aku tidak akan pergi kemana-mana sampai aku memastikan suamiku akan baik-baik saja,” Aliya menolak dengan suaranya yang masih terisak. Chand Bibi mengelus lembut kepala Aliya mencoba menghiburnya.

“Nak, Percayalah Allah akan selalu melindungi suamimu,” ucap wanita paruh baya itu bijak.

“Hiks.. bagaimana ini bisa terjadi Bi? Bukankah Kak Zain sedang berdinas ke Hyderabat? Dia seharusnya tidak di Colaba dan akhirnya mengalami kecelakaan mengerikan itu,” Tridha mulai mencari seseorang yang bisa disalahkan.

“Iya Aliya, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Zain bisa kecelakaan di Colaba sementara dia baru saja pulang dari Hyderabat?” Shaziya ikut bertanya penasaran, dan tanpa disangka hal itu tiba-tiba saja memicu amarah Zarina, entah itu memang karena dia tidak terima dengan keadaan kritis keponakannya atau ada hal lain yang membuatnya marah.

Belum sempat Aliya menjawab pertanyaan Shaziya, Zarina langsung membentaknya,
“Dasar gadis tidak tau diri!! Semua ini tidak akan terjadi jika saja kau tidak meminta keponakanku untuk bertemu denganmu di Colaba tanpa pulang ke rumah dulu!” Makian Zarina membuat semua orang terkejut.
“Zarina, apa-apaan kau ini?! tiba-tiba menyalahkan Aliya di tengah suasana genting seperti ini!” Rehman menegur prilaku istrinya.

“Tidak Rehman Sab, kalian semua harus tau, kemarin seorang Baba datang ke rumah kita dan melihat aura gadis ini tidak baik! Dia akan membawa kesialan untuk Zain, dan mungkin untuk keluarga kita” Zarina meneruskan ocehannya.

Sementara Aliya hanya menggeleng sedih, ia tau ucapan Zarina itu tidaklah benar, semua yang terjadi adalah takdir yang justru membuat hidupnya menderita. Tapi dia tidak bisa mengatakan apapun untuk membela dirinya.

“Apa maksudmu?! Untuk apa kau memanggil seorang peramal?! kau tau agama kita melarang untuk mempercayainya, Zarina. Soal kecelakaan Zain, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ramalan konyol Baba itu”
“Kenapa tidak ada hubungannya?! Sudah lama aku diam, tapi sekarang aku tidak akan diam saja melihat musibah yang menimpa keponakanku, aku rasa sekarang sudah saatnya aku memberitahukan kalian semua kenapa aku tidak pernah bisa menerima gadis ini!”

Zarina diam sesaat, dengan wajah yang dipenuhi amarah ia berdiri di hadapan Aliya menunjuk wajah gadis itu.
“Baba itu memang benar! Dia.. gadis ini memang pembawa sial! asal kalian tau saja dia yang sudah menghancurkan keluarga Kakakku, karena dia dan Ibunya, Kak Usman dan Kak Surayya bercerai! Karena dia Usman meninggal dan keponakanku terpaksa harus menikahinya, dan sekarang dia juga mencelakakan Zain! tidak cukup kah semua bukti itu?!” Ungkapan Zarina membuat semua orang tersentak, itu adalah fakta baru yang mereka ketahui, namun kenyataan itu tak lantas membuat semua orang berfikiran sempit dan menganggap Aliya adalah pembawa sial seratus persen, tidak juga menyalahkan argumen Zarina.

“Ahh jadi begitu?! ya ampuun! pantas saja selama ini aku merasa aneh Zain bisa menikahi gadis seperti itu,” hanya Shaziya yang kini berkomentar sinis, seakan mendukung pernyataan Zarina.

“Jika gadis ini tidak muncul di kehidupan Zain, Zain sekarang pasti akan baik-baik saja…”
“Zarina cukup!! Apa kau tidak bisa mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini?! semua orang sedang berduka dan khawatir, tapi kau malah memperkeruh suasana,” Rehman sudah tidak tahan lagi, ia harus menutup mulut istrinya dengan suara bentakan dan itu berhasil membungkam Zarina untuk beberapa saat.

“Nak Aliya, ayolah kita pulang saja dulu, sebentar lagi magrib kan? Kau tidak bisa shalat dalam keadaan seperti itu Nak,” sekali lagi Chand Bibi mengajak Aliya, tujuan sebenarnya ia mengajak Aliya selain karena harus shalat adalah untuk menghindarkannya dari ocehan Zarina.

Kali ini Aliya menurut dengan Alasan harus shalat magrib, ia dan Chand Bibi pun memutuskan untuk sementara waktu pulang ke rumah yang letaknya tak jauh untuk Aliya membersihkan diri dan shalat magrib.

🎵Jo bhe jiti Duaa song is Playing🎶
Dalam ibadah shalat magribnya, Aliya secara khusus berdo’a memohon kesembuhan suaminya, Aliya menangis mengiba dalam do’anya, ia mengadu bahwa ia tak akan bisa hidup tanpa suaminya dan ia tidak ingin apa-apa lagi selain kesembuhannya, ia rela melakukan apa saja asal Tuhan berkenan mengembalikan suaminya, bahkan walaupun ia harus menukarkan nyawanya dengan nyawa suaminya.

****
Setelah Aliya dan Chand Bibi kembali ke rumah sakit, tampak kini Bilal sedang sibuk menelepon, sementara Zarina dan Shaziya masih duduk tenang di kursinya. Yang tampak tak ada di sana adalah Rehman dan Tridha.

“Apa yang terjadi?” Tanya Aliya panik, Zarina dan Shaziya menampakkan wajah enggan tak ingin bicara apa pun pada gadis itu dan Aliya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan kedua wanita itu.

Barulah setelah Bilal usai menelepon, Aliya akhirnya mendapatkan jawaban.
“Bilal, apa yang terjadi? Di mana paman Rehman?” Tanya Aliya lagi,
“Ayah dan Nona Tridha sedang melakukan pemeriksaan darah, Kak Zain kehabisan banyak darah, dia butuh donor darah dari pihak keluarga, rumah sakit tidak punya stock darah untuk jenis darah Kak Zain, aku dan Ibu yang keluarganya kandungnya saja bahkan memiliki golongan darah yang berbeda, sekarang aku sedang menelepon beberapa keluarga dekat Kak Zain yang tinggal di Delhi untuk berjaga-jaga, jika darah Ayah dan Nona Tridha tidak cocok,” jelas Bilal, kini bulir air mata Aliya kembali berjatuhan mengetahui keadaan suaminya separah itu.

Tak lama kemudian Rehman dan Tridha kemudian muncul dengan wajah muram dan membuat semua orang bertambah khawatir
“Paman, apa yang terjadi?!” Aliya langsung menanyai Rehman tak sabar.
“Kami tidak bisa menolong Zain, darah kami tidak ada yang cocok dengan yang dibutuhkan Zain,” Rehman tampak sangat menyesal.
“Bagaimana ini? bahkan aku dan ibu yang sepupu dan bibi Kak Zain saja tidak segolongan darah,” Bilal menambahkan membuat semua orang jadi semakin cemas.
“Bilal, apa kau sudah menghubungi keluarga Tuan Usman yang ada di Delhi? Mereka adalah keluarga dari pihak ayah, mungkin salah satu di antara mereka ada yang cocok dengan darah Zain dan bersedia mendonorkan darahnya,” Rehman bertanya pada Bilal,
“Sudah Ayah, beberapa dari mereka ada yang bersedia mendonorkan darah mereka dan mereka langsung berangkat dari Delhi malam ini juga,” jawab bilal
“Syukurlah kalau begitu, kita akan menunggu beberapa jam lagi,” Rehman sedikit lega.

“Beberapa jam lagi? Tidak! Tidak Paman, Zain butuh pertolongan segera, dia tidak boleh terlalu lama menderita Paman, aku mohon!” Sambar Aliya begitu frustasi.
“Aliya kau harus tenang, Zain akan baik-baik saja dalam waktu beberapa jam lagi,” Rehman berusaha menenangkan Aliya,
“Tidak paman, hitungan jam terlalu lama, aku takut Zain tidak bisa bertahan selama itu,”

“Apa yang kau katakan Aliya?! Kau bertingkah seolah-olah kau seorang dokter yang tau segalanya, atau memang kau benar-benar mendo’akan kematian Zain?!” Semprot Zarina hingga cukup menyesakkan dada Aliya
“Tidak Bi, aku hanya mengharapkan suamiku berumur panjang dan sekarang aku
yang akan mendonorkan darahku untuknya, bagaimana pun dia harus mendapatkan pertolongan segera agar bisa tetap hidup,” sejenak semua orang terdiam tak bisa membantah keputusan Aliya.

“Kau yakin kau akan melakukannya?” Tanya Rehman berusaha meyakinkan dirinya, Aliya mengangguk diiringi oleh derai air mata yang kembali bergulir di pelupuk matanya.

****

“Nona… sejauh ini, dari seluruh anggota keluarga darah anda adalah satu-satunya yang cocok dengan yang dibutuhkan pasien, tapi sayangnya anda tidak bisa melakukan donor darah,” ucap dokter Sinha kepada Aliya usai melakukan pemeriksaan darah Aliya di laboratorium.

“Ke..napa dokter? Kenapa tidak bisa?!” Aliya tentu saja tidak terima begitu saja dengan perkataan sang dokter.
“Karena anda sedang hamil, Nona,” Aliya benar-benar terkejut mendengar ucapan dokter Sinha, ia tidak bisa percaya begitu saja, ia ragu, mungkin tadi ia salah dengar.
“A..apa?” Tanyanya lagi
“Ya… anda sedang mengandung, apakah anda tidak tau? Anda sudah hamil 2 minggu, orang yang sedang mengandung dilarang keras melakukan donor darah apalagi di usia rentan seperti kandungan anda saat ini,” lagi-lagi hanya buliran air mata haru yang berjatuhan dari sepasang mata light hazel miliknya.

Perasaan campur aduk yang ia rasakan kini, tentu saja wanita manapun di dunia ini akan sangat bersyukur bisa menjadi seorang ibu, itu adalah sebuah anugerah terbesar seumur hidupnya, tapi lebih dari itu, yang paling menyedihkan adalah ayah dari anak dalam kandungannya sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati, dan sekarang ia bahkan tidak bisa menolong Zain karena kehadiran bayi mereka.

“Apakah anda baru mengetahuinya? Kalau begitu aku ucapkan selamat Nyonya, anda akan segera menjadi seorang Ibu, anda harus segera memberitahu suami anda,” dokter itu bahkan tidak tau bahwa pasien yang sedang bertaruh nyawa itu adalah ayah dari bayinya yang sedang dikandung Aliya.

****

“sebenarnya kami sangat membutuhkan darah untuk pasien sesegera mungkin, aku sudah memberitahu seluruh keluarga bahwa Tuan Abdullah tidak akan bertahan lama jika terlalu lama kehabisan darah, kami juga sudah mengupayakannya, tapi bahkan di Bank darah sudah tidak menyediakan stock yang sesuai dengan yang dibutuhkan Tuan Zain, kami hanya bisa berharap kepada anggota keluarga agar bisa secepatnya mendapatkan pendonor yang tepat,”


masih terngiang jelas di telinga Aliya pernyataan dokter Sinha beberapa waktu lalu yang membuatnya hampir putus asa.

Kini dalam kesendirian dan kesedihannya, ia menyandarkan punggungnya ke tembok, lalu perlahan tubuhnya terduduk lemah di lantai diiringi isak tangisnya yang menyayat hati.

Ia pegangi perut datarnya yang kini ia ketahui tengah ditinggali oleh seorang mahluk kecil yang begitu berharga baginya, perlahan ia mulai bisa merasakan kehadiran malaikat kecil itu di dalam rahimnya.

Namun, Aliya benar-benar gamang dalam menentukan pilihan, antara suaminya atau bayi yang ada dalam kandungannya, di satu sisi ia rela melakukan apa saja demi menyelamatkan Zain, ia bahkan rela menukar nyawanya jika bisa, demi kehidupan suaminya. Tapi dia juga tidak bisa membahayakan dan mengorbankan buah cinta nya bersama Zain yang kini menyatu dengan dirinya, ia juga tidak akan sanggup kehilangannya, bahkan ia yakin jika Zain mengetahui kehadiran bayi mereka, dia juga tidak akan restu jika harus kehilangan bayi mereka demi menyelamatkan dirinya.

Beberapa saat kemudian dari ujung lorong rumah sakit muncul seseorang. Dari kejauhan orang itu melihat Aliya seakan mengenalnya, pria itu lalu berhenti di hadapan Aliya,
“Aliya…” suara yang tak asing bagi Aliya itu menyapanya.

Sesaat Aliya tak menjawab dan tak juga melihat ke arahanya, pria itu lalu menurunkan posisi tubuhnya dengan berjongkok mengibangi posisi Aliya yang duduk meringkuk, ia pandangi lekat-lekat wajah Aliya yang kini kuyup digenangi oleh air mata, dan mata indahnya yang tampak membengkak karena terlalu sering menangis hari ini.

“Aliya… kau kenapa? Apa yang terjadi?” Tanya pria yang tak lain adalah Karan Tacker, ia yang sejak beberapa waktu lalu mulai memasuki kehidupan Aliya.
“Karan… Zain, suamiku..” Aliya tak kuasa melanjutkan kalimatnya, tangisnya semakin menjadi.

Karan yang prihatin melihat keadaan gadis itu lalu membawanya ke dalam rangkulannya, ia sangat tau di saat terberat dalam hidupnya itu, Aliya tidak punya sandaran tempat ia mengadu, Aliya pun meluapkan segala tangis pilunya dalam rangkulan Karan seakan ingin mengadukan segalanya, ia sudah tidak tahan menanggung derita itu sendirian dan hanya Karan yang bisa menjadi satu-satunya sandaran untuk saat ini.

Dan tepat ketika itu, Zarina tiba-tiba lewat tanpa sepengetahuan mereka, wanita paruh baya itu menyeringai sinis melihat adegan mengharu biru namun sangat mencurigakan itu. Gadis itu berada di dalam pelukan pria lain di saat suaminya sedang sekarat, hal itu semakin menguatkan alasannya untuk memisahkan Zain dari gadis itu sesegera mungkin.

“Suamiku, kau lihat apa yang dilakukan menantu kesayanganmu itu?” Ucap Zarina kepada Rehman yang baru saja menghampirinya. Rehman pun agak terkejut ketika melihat adegan yang memang tampak sangat provokatif, namun kemudian ia mencoba mengabaikan hal itu demi meredam kecurigaan Zarina pada Aliya, karena sedikit banyak apapun yang ia lihat kini, ia tetap percaya pada gadis itu.

“Sudahlah Zarina, itu hanya pelukan biasa seorang teman, mungkin laki-laki itu hanya mencoba menenangkan Aliya, ayo pergi dari sini, biarkan dia sendiri dulu,” kata Rehman bijak lalu menarik istrinya pergi dari sana.

“Yaa.. aku sudah tau dari Tridha, Zain mengalami kecelakaan, untuk itulah aku datang ke sini, aku hanya datang untukmu Aliya,” ucap Karan tulus. Ya.. ia berkata jujur, ia memang tidak menyukai Zain, hampir bisa dikatakan ia benci padanya karena sudah mengalahkannya dalam merebut hati wanita yang dicintainya itu, selama beberapa hari dia bahkan memutuskan berlibur ke luar negeri karena patah hati akan cintanya yang tak kesampaian, tapi setelah kembali ke India ia langsung mendapatkan berita tak mengenakkan itu, dan ia tidak bisa untuk tak ada ketika ia tau Aliya sedang membutuhkannya.

“Karan, aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku hamil dan aku tidak bisa menolong suamiku…” Karan tersentak mendengar kenyataan yang baru saja keluar dari mulut Aliya begitu saja, dia bahkan adalah orang pertama yang mengetahui kehamilan Aliya.

Sejenak ia lepaskan rangkulannya pada Aliya, Ia tatap lekat-lekat wajah Aliya yang kuyup, seakan tak percaya, ia hanya ingin memastikan dengan sejelas-jelasnya.
“Kau… kau ha..mil?” Karan tergagap tanda keterkejutannya, Aliya mengangguk dalam tangisnya. Baginya berita tentang kehamilannya bukan poin utamanya, tapi kenyataan bahwa Zain sedang membutuhkan pertolongan dan ia tidak bisa menolongnya, saat ini nyawa suaminya adalah yang terpenting dari apapun.

Namun tidak demikian bagi Karan, baginya kenyataan bahwa Aliya sedang mengandung anak Zain adalah kenyataan paling pahit yang kembali harus ia telan, itu sama saja artinya Aliya sudah mematahkan hatinya untuk kesekian kalinya dan memaksanya untuk mengakhiri segalanya dan mengubur dalam-dalam perasaan cintanya, tapi ia rasa tak akan semudah itu melakukannya, bahkan hingga detik ini, perasaannya semakin mendalam terhadap Aliya.

“Zain… membutuhkan donor darah secepatnya dan tak ada yang cocok dengan darahnya, bahkan aku istrinya sendiri juga tak bisa membantunya, Karan aku harus bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpanya, aku sangat mencintainya, bayiku membutuhkan Ayahnya” Karan lagi-lagi harus menelan pil pahit mendengar Aliya mengungkapkan kecintaannya terhadap suaminya. Tak henti-henti Karan menatap lekat-lekat raut kedukaan dan kekhawatiran yang mendalam di wajah Aliya, dan sejujurnya itu menggores hatinya.

Baginya kesedihan Aliya adalah kesedihannya, duka Aliya adalah dukanya, dan tangis Aliya adalah lukanya. Ia tidak bisa melihat wanita yang dicintainya itu bersedih, ia hanya ingin melihat Aliya bahagia, meski kebahagiaan Aliya akan melukainya, namun ia akan rela memberikan dunianya demi mengembalikan kebahagiaan di wajah cantik gadis itu.

“Ku mohon jangan menangis lagi Aliya… aku akan membantumu, aku… aku yang akan melakukannya,” ucapnya akhirnya.
“Apa maksudmu Karan?” Tanya Aliya masih terisak, namun perlahan tangisnya sedikit mereda.

Sebelum menjawab pertanyaan Aliya, sesaat Karan memeluk gadis itu.
“Aku yang akan mengembalikan suamimu padamu,” lirihnya kemudian, membuat Aliya sedikit tak percaya namun seketika bisa bernafas lega melihat secercah cahaya harapan kini datang padanya.

****
Dan benar saja, atas seizin Tuhan darah Karan ternyata cocok dengan darah Zain dan ia bisa mendonorkan darahnya untuk Zain sesegera mungkin bahkan sebelum pihak keluarga dari Delhi datang.

“Terima kasih banyak Nak Karan, hatimu sungguh mulia, kelak kami akan berhutang banyak padamu,” ucap Rehman kepada Karan sebelum Karan mendapatkan panggilan untuk memasuki ruang transfusi,

Dan satu persatu orang berterima kasih kepada Karan, dan Karan hanya membalas mereka dengan segala kerendahan hati dan keikhlasannya.

Sesaat kemudian, panggilan itu datang, sesaat lagi Karan akan melakukan pendonoran darah untuk Zain, menjelang masuk ke dalam ruang transfusi, Aliya menggenggam tangan Karan, matanya berkaca-kaca menatap haru Karan yang dengan segala kemurahan hatinya bersedia menyelamatkan suaminya.

Semua orang mengabaikan pemandangan itu, karena hanya Karan dan Aliya yang tau yang sebenarnya terjadi. Namun hanya Zarina yang terus mengamati mereka, kecurigaannya semakin menguat saja, ia sudah seperti bom waktu atau gunung berapi yang sewaktu-waktu bisa meledak dan mengeluarkan laharnya.

****
“Karan!” Panggil Aliya setelah beberapa meter mengejarnya, usai ia melakukan pendonoran darah untuk Zain dan langsung pergi begitu saja.

“Karan, kau baik-baik saja?” Tanya Aliya cukup Khawatir melihat wajah Karan yang memucat dan jalannya yang tampak sedikit sempoyongan, ketika ia sudah berada di hadapan Karan.
“Ya… aku baik-baik saja Aliya, kau tidak perlu khawatir,” Karan tersenyum simpul.
“Terimakasih banyak atas bantuanmu Karan, aku tidak tau lagi bagaimana cara membalas segala kebaikanmu, bahkan jika seumur hidup menjadi budakmu mungkin tak akan cukup..” Karan memotong perkataan Aliya.
“Aliya.. kau tidak perlu berlebihan begitu, darah yang aku donorkan ini akan segera kembali hanya dengan makanan dan istirahat, tapi mengembalikan nyawa dan kebahagiaan seseorang, itu adalah hal terpenting, sekarang aku pergi dulu aku harus istirahat,” kata karan mengakhiri pernyataannya lalu mulai melangkah pergi, namun baru selangkah ia menjauh Aliya menahannya dengan menarik lengannya.

“Karan, kenapa kau begitu baik padaku dan Zain? Sampai kau rela mendonorkan darahmu demi Zain?” Tanya Aliya, sesaat Karan berbalik dan menatap Aliya dalam-dalam.
“Aku tidak pernah berkorban untuk siapapun, selain hanya untukmu, Aliya” ucapnya getir.

“aku? K.. Kyu?” Aliya semakin penasaran
“Karena aku ingin kau selalu bahagia,”
“Kenapa kau ingin aku selalu bahagia?” Aliya terus memberondongi Karan dengan pertanyaan, sebenarnya ia mulai mengerti arah jawaban Karan.
“Karena aku mencintaimu Aliya,” pernyataan spontan Karan itu terang saja menyentak Aliya. Ia baru saja mengetahui sebuah kenyataan yang tak pernah ia sadari selama ini.
“Aku sangat mencintaimu dan selalu inginkan yang terbaik untukmu, aku rela melakukan apa saja, demi melihat kebahagiaanmu, karena kebahagiaanmu adalah sumber kebahagiaanku, tapi kau hanya mencintai Zain, dia adalah kebahagiaanmu, jadi aku hanya bisa merelakanmu untuknya,” Karan tampak getir mengungkapkan segala isi hatinya yang selama ini terpendam, sementara Aliya hanya terdiam dan meneteskan air mata.

Rasa haru membuncah dalam dadanya, ia tidak menyangka ternyata seseorang bisa sangat mencintainya bahkan rela memberikan hidupnya demi kebahagiaan, Aliya tak pernah melihat cinta sebesar itu selain juga cinta dari Zain, namun ia sangat sedih, ia bahkan tak bisa memberikan kebahagiaan apapun demi seseorang yang mencintainya itu.

“Aku harus pergi,” karan kembali berbalik dan beranjak meninggalkan Aliya yang masih mematung, Aliya kali ini tak menahannya lagi, ia bingung bagaimana harus menyikapi pernyataan cinta Karan dan Karan bisa memahami itu, dia memang tak membutuhkan jawaban apapun dari Aliya, karena ia tau pada akhirnya dia akan kecewa.

****
Setelah dilakukan pendonoran darah dan operasi batok kepala, dan setelah selama sehari semalam terlewati dengan penuh ketegangan dan kekhawatiran, akhirnya Zain bisa melewati masa kritisnya, ruang rawatnya pun kini dipindahkan dari UGD ke ruang rawat inap biasa.

Selama lebih dari 3 minggu Zain koma yang diramalkan dokter akan berlangsung lebih dari sebulan mengingat luka di kepalanya cukup parah, bahkan efek dari kecelakaan itu belum bisa diprediksi oleh dokter dan harus menunggu hingga Zain sadar.

Selama 3 minggu itu pula Aliya hampir tak pernah meninggalkan rumah sakit, sementara yang lain hanya bergantian datang dan pergi menjaga Zain, Aliya menghabiskan waktunya berhari-hari berada di sisi suaminya dan merawatnya, ia merawat Zain dengan penuh ketelatenan dan kesabaran. Sama seperti dulu ia merawat Usman dan Ibunya yang lama dirawat di rumah sakit karena penyakit kanker, setiap hari Aliya juga membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan bercerita kepada Zain meski ia sedang koma, setiap saat Aliya membisikkan ke telinga suaminya itu bahwa betapa ia mencintainya dan ia tidak boleh meninggalkannya.

Selain Karan, belum ada yang tau tentang kehamilannya, ia tau jika semua orang tau dia sedang hamil, Paman Rehman atau Chand Bibi tak akan mengizinkannya berlama-lama di rumah sakit, tapi ia tidak akan bisa tenang jika sedetik saja tak memantau suaminya, yang terpenting lagi, ia ingin sebelum orang lain mengetahuinya, Zain harus lebih dulu mengetahui kehadiran bayinya.

Kini Aliya menatap Zain dengan tatapan penuh kerinduan, meski sudah melihatnya setiap saat, ia merindukan gurauan dan rayuannya, ia merindukan suara bentakan dan tawanya. Aliya lalu menempelkan telapak tangan Zain yang tanpa daya di perut datarnya seperti yang sering ia lakukan, meskipun Zain sedang koma, ia ingin Zain merasakan kehadiran bayi mereka dalam kandungannya yang semakin lama semakin terasa kehadirannya bagi Aliya, ia juga ingin bayinya merasakan sambutan dan kasih sayang hangat ayahnya, ia ingin kehadiran bayi mereka akan menjadi penyemangat bagi Zain untuk segera bangkit dari komanya.
“Sayang, apa kau merasakannya? Dia sedang membangunkanmu… dia bilang, ‘Ayah.. ayo cepat bangun, ayo kita bermain bersama’, kau dengar itu?” Ucap Aliya getir, dengan tetesan air mata di pipinya.

Sesaat kemudian, Zarina dan Tridha muncul dan membuyarkan monolog Aliya dengan Zain. Menyadari kehadiran mereka buru-buru Aliya melatakkan tangan Zain di tempat tidur di sisi tubuhnya lalu menyeka air matanya .

“Aliya, sebaiknya kau pulanglah dulu dengan Shaziya, hari ini biar Bibi dan Tridha yang akan menjaga Zain,” ucap Zarina yang tiba-tiba terdengar lebih manis dari biasanya. Setelah berhari-hari tak menjenguk keponakannya dengan alasan tidak enak badan, Zarina akhirnya muncul di rumah sakit dengan membawa serta Tridha bersamanya.

“Tidak Bi, biar aku yang menjaga Zain,” tolak Aliya lembut, dalam hati Zarina sebenarnya kesal namun ia kembali memaksakan senyumnya.
“Kau sudah berhari-hari disini, kau butuh udara segar Aliya, kau harus istirahat, wajahmu benar-benar tampak kusam,” Zarina mulai sedikit memaksa
“Benar Aliya Ji.. kau pulanglah dulu, nanti kami yang akan menginap disini untuk menjaga Kak Zain,” Kali ini Tridha yang meminta.
“Ta.. tapi aku sudah berjanji akan merawat Zain sampai dia sembuh…”
“Jadi kau tidak percaya pada kami? kau pikir akan terjadi sesuatu yang buruk pada Zain jika bukan kau yang merawatnya?” Kali ini Zarina sudah tidak tahan lagi, ia rasa tidak ada gunanya tampil berlagak baik di hadapan gadis itu,
“Bukan begitu Bi, aku tidak bermaksud seperti itu, kalau begitu baiklah, kita akan bergantian menjaga Zain, aku akan pulang sekarang,” kali ini Aliya memilih mengalah meski sejujurnya itu terasa berat baginya.

“Shaziya, kau pulanglah lebih dulu, temani Aliya” dengan wajah ditekuk tak suka diperintah, Shaziya pun terpaksa bersedia pulang bersama Aliya.
Dengan berat hati Aliya yang sejak tadi duduk di sisi tempat tidur Zain akhirnya berdiri dan akan beranjak pergi dari kamar inap Zain.

Namun tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi, baru saja Aliya akan melepas tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan suaminya itu, ketika tiba-tiba tangannya tertahan.

Aliya sangat terkejut, karena yang ia lihat kini, tangan Zain yang masih tampak terlelap menggenggam tangannya seakan menahan kepergiannya.
“Zain! Zain kau bangun?!” Pekik Aliya antusias, membuat semua orang terkejut juga antusias.

Ketiga wanita itu kini merapat ke sisi tempat tidur Zain ingin melihat reaksi apa yang ditunjukkan Zain,
“Zain.. kau mendengarku? Ini aku Aliya,” Aliya menciumi punggung tangan Zain.

Dan beberapa saat kemudian, do’a-do’a Aliya terjawab, perlahan Zain membuka kelopak matanya yang terasa berat akibat sudah cukup lama tertutup rapat.
“Zain…” lirih Aliya, diliputi keharuan dan kebahagiaan ketika perlahan Zain melebarkan matanya dan menatapnya sebagai orang pertama yang ia lihat sewaktu ia bangun dari tidur panjangnya.

Blank, lama tak sadarkan diri, tentu ia butuh waktu untuk mencerna situasi dan mengenal sekitarnya kembali, setelah cukup lama menatap Aliya seperti menatap orang asing, ia kini mengedarkan pandangannya kesekelilingnya.

Dengan ekspresi linglung, Ia pandangi satu persatu wanita yang ada di sekelilingnya selain Aliya.
“Zain… ini Bibi Zain,” ucap Zarina kemudian, namun Zain tak mengatakan apa-apa.
“Zain, kau kenal aku kan? kau tidak amnesia kan?!” Tanpa berbasa-basi Shaziya langsung menanyakan hal itu, dan lagi-lagi membuat Zarina kesal dan menyenggolnya.

“Kak Zain, ini Tridha. Apa kau sudah merasa baikan?!” Kali ini giliran Tridha yang memberondongi Zain dengan pertanyaan. Dan mengejutkan, kali ini Zain akhirnya bereaksi, ia mengucapkan sesuatu yang membuat semua orang bingung.

“Tridha?” lirihnya parau, dan membuat semua orang bingung. Kenapa hanya Tridha yang seakan ia kenali?
“Iya Kak Zain… ini aku, Tridha.” Tridha menggenggam tangan sebelah kiri Zain terharu, sementara tangan kanan Zain masih digenggam oleh Aliya.

“Tridha..? kau sudah pulang dari Paris?” Pertanyaan Zain itu terang saja membuat semua orang bingung, Zain seakan hanya mengingat sesuatu yang sudah lama terjadi.
“Ya Tuhan! Zain, jadi kau benar-benar amnesia?!” Shaziya menyimpulkan sendiri.
“Zain.. ini bibi Zarina Zain, kau ingat?” Zarina kembali bertanya,
“Tentu saja Bi, mana mungkin aku tidak mengenal Bibiku sendiri? Dimana Paman Rehman dan Bilal?” semua orang lega mendengarnya,

“Aku?! bagaimana denganku, kau juga masih mengingatku kan Zain?” Shaziya ikut bertanya, ia masih berfikir pasti ada yang salah dengan diri Zain.
Miss World, dimana Saif? Aku merindukannya,” bahkan Zain masih mengingat nama panggilan khususnya untuk adik iparnya itu. Shaziya sesaat bernafas lega, sepertinya tidak ada yang bermasalah dengan ingatan Zain.

Sejurus kemudian, Zain dengan susah payah ingin mendudukkan tubuhnya dari pembaringan, Aliya dan Tridha dengan sigap membantunya, Aliya menyenderkan bantal di punggungnya agar Zain bisa duduk bersandar.

“Lalu dia? Bagaimana dengan dia? Kau mengingatnya kan?!” Shaziya sudah seperti seorang wartawan yang menyodorkan begitu banyak pertanyaan, tak perduli Zain masih sangat lemah setelah bangun dari komanya. Ia kini menunjuk-nunjuk Aliya masih penasaran bagaimana sikap Zain terhadap Aliya setelah sadar, ia yakin Zain pasti akan segera sadar bahwa dia sudah salah menikahi gadis seperti Aliya.

“Dia… siapa dia?” Semua orang tersentak kaget mendengar pertanyaan Zain. Terlebih lagi Aliya, dia sangat sedih namun tidak percaya Zain semudah itu melupakannya.

“Oh Ya Ampun! Aku pernah melihat ini dalam drama, Zain amnesia sebagian, istilahnyaa.. hmmh… entahlah aku lupa, yang jelas ia hanya mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, itu kenapa dia melupakan Aliya yang baru ditemuinya beberapa bulan yang lalu, ternyata hal itu bisa terjadi di kehidupan nyata! Ya ampun ya ampun!” bak seorang domter Shaziya menyampaikan diagnosanya.

Jika selama ini ucapan konyol Shaziya tak pernah digubris, kali ini semua orang seakan benar-benar percaya dengan ucapannya.
“Zain.. kau benar-benar tak mengenal gadis ini?” Tanya Zarina, dengan raut tak percaya namun juga senang, sesaat ia melirik tersenyum ke arah Tridha.

Kali ini Zain tak menjawab, ia malah memegangi kepalanya yang tampak sakit, mungkin karena berfikir terlalu keras.
“Sudah tidak usah terlalu banyak berfikir Nak, biar kupanggilkan dokter!” Zarina cepat-cepat melangkah keluar.
“Ibu aku ikut!” Shaziya mengintili Zarina keluar dan meninggalkan Zain bersama Aliya dan Tridha.

Sesaat mereka tampak kikuk tak ada hal yang bisa dibicarakan, terlebih lagi Aliya yang kini sangat sedih dan kecewa, ia sedang menahan tangisnya kini.
“Kak Zain kau sudah merasa baikan?” Tanya Tridha akhirnya,
“Ehmm ehmm, aku haus sekali, bisakah kau memberikan aku air?” Pinta Zain…
“Oh Ya ampun! Kenapa pihak rumah sakit ini tak menyediakan air minum di ruangan ini sih?” Bukannya segera bergerak, Tridha malah mengomel.

“Biar aku ambilkan,” lirih Aliya, dengan raut yang masih sedih merasa terabaikan. Ia lalu berdiri dari kursinya untuk pergi mengambil minuman, namun Zain menahan langkahnya dengan menarik pergelangan tangannya.

“Kau tidak perlu melakukannya,” Zain lalu melepaskan genggamannya dan entah kenapa itu juga melukai Aliya.
“Aku tidak mengenalnya dan aku tidak percaya padanya, Tridha bisakah aku minta tolong kau yang mengambilkannya?” Pinta Zain, sesaat Tridha menampakkan raut kecurigaannya. Namun dengan terpaksa ia keluar dan memenuhi permintaan Zain.

Kini tinggal Zain dan Aliya saja yang ada di sana, sesaat mereka terdiam. Dan Aliya tak bisa lagi menahan kesedihannya, menerima kenyataan bahwa ia adalah orang satu-satunya yang dilupakan Zain.

Ia ingin keluar dari ruangan itu dan menyembunyikan tangisnya, namun lagi-lagi Zain menahan langkahnya dengan menarik lengannya.
“Lepaskan Tuan Zain Abdullah, aku hanya akan keluar sebentar,” ucap Aliya getir.

Bukannya melepaskannya, Zain malah menarik Aliya semakin mendekat hingga mendudukan tubuhnya di atas pangkuan Zain.

“Zain?” Sejenak Aliya bingung dengan perlakuan Zain. Zain menjawab semua pertanyaan dalam benak Aliya dengan memeluknya dari belakang lalu meletakkan dagunya di bahu Aliya.
“Aku merindukanmu, Sayang,” bisiknya lembut, membuat Aliya terkejut namun kemudian ia menolehkan wajanya ke arah Zain.

“Kau.. kau mengingatku? Kau.. tidak amnesia?!” Suara Aliya bergetar, Air matanya mulai berjatuhan. Zain menjawabnya dengan senyuman meyakinkan lalu memeluk istrinya itu kali ini dari depan.
“Bodoh! Bahkan jika aku lupa akan diriku sendiri dan seisi dunia ini, aku tak akan pernah melupakanmu, kau hadir di setiap hembusan nafasku seperti udara, bagaimana kau bisa berfikir aku akan melupakanmu?” lirih Zain, seraya mempererat pelukannya
“Kau mempermainkan aku lagi Zain, aku benci padamu!” Aliya kesal dalam harunya seraya memukul-mukul dada suaminya itu.
“Dan aku mencintaimu, Aliya” Balas Zain terharu.

“Zain… ” panggil Aliya kemudian
“Hmmhh..?” Jawab Zain seraya masih memeluk erat istrinya itu, meski keadaanya masih cukup lemah untuk duduk.
“Ada yang ingin aku beritahu,”
“hmmh..” Zain mempersilahkan Aliya untuk bicara, ia masih menikmati berada dalam pelukan Aliya, ia menjadikan tubuh Aliya sebagai tumpuan tubuhnya yang masih lemah.

Dalam diam, Aliya baringkan tubuh suaminya yang masih lemah itu di tempat tidurnya, ia pun mendudukkan diriya di sisi tempat tidur di samping Zain, lalu dengan lembut ia raih tangan Zain dan menuntunnya menyentuh perutnya yang masih datar, sesaat mereka saling menatap penuh haru, sebelum mengatakan apapun Zain sudah bisa menebaknya, tapi ia ingin mendengarnya langsung dari mulut wanita yang dicintainya itu.

“Apa kau bisa merasakannya? Bisakah kau merasakan kehadirannya?” Tanya Aliya menahan tangis harunya,
“Dia… ada disini? Bayi kita?” Zain, hampir tertawa dalam tangis harunya, Aliya mengangguk bahagia,
” ‘Selamat datang Ayah’, dia bilang dia sangat merindukanmu..” lirih Aliya, lalu memeluk Tubuh Zain yang berbaring, lebih tepatnya menindihnya,
“Terima kasih, sayang… terimakasih sudah memberikan aku hadiah seindah ini,” Zain mengecup lembut puncak kepala Aliya dalam tangis harunya.

To Be Continued

Bagaimanakah akhir dari kisah ini?! Yang jelas gue adalah pecinta film disney yang doyan kisah cinta Happy ending ever after seperti slogan di blog gue.

Eke cut part ini sampai dulu yee. Kalo Harry Potter n Hunger Games aja bisa dicut jadi dua part maka gue pun sekarang sok2 ngecut *hihihi 😆😆

Kenapa? Karena gue gak mau ada sider alias silent reader atau yang gue sebut pembaca ilegal lagi, capek vroh diginiin, emang gampang opo nulis sebanyak inih? 😂😂

Maka dari itu gue tantang kalian semua untuk memenuhi kuota gue, gue butuh 100 komen, 40 dari instagram, 20 dari blog, 30 dari facebook dan paling gak 20 RT atau komen di twitter. Kalo kuota ini berhasil terpenuhi maka part Ending bakal langsung gue luncurin!

Kalo kagak?, yahh.. mungkin minggu depannya lagi lah ehehe. Yaa sorry kalo permintaan gue terlihat berat dan kepedean, tapi kalo kalian liat viewers blog gue, kalian akan tau komen yang gua ajuin terlalu sedikit dan kalian akan menyadari bahwa betapa banyaknya Readers Ilegal yang begitu kejam yang berkeliaran di muka bumi inih. Karena tak ada alasan untuk hanya diam dan membaca Sekian, eke tunggu ya boook.

Advertisements

48 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 10 part. A)

  1. Aaaaaahhh sumveh gw dag dig dug kebangetan dgn zain yg pura2 amnesia… taunya hanya berchandha.. ohh ya ampunnnnnnnnnn hampir copot nih jantung akakakka

  2. Asli degdegan bacanya, @allbeinteha jangan lama2 dong sambngannya…….tiap saat buka instagram udah kaya org yang sangat amat menunggu kabar dari sang kekaksih hati. Temaan temaaan buruan baca dan langsung komen biar sambungannya cepet keluar lagi😀😀😀

  3. Astaga sdh tegang dan bahagia2 nya ternyata amnesia zain sekedar ngerjain aliyaa & deg2an nya wkt aliyaa memberitahu kehamilannya eeeh langsung dicut 😦
    Ini fanfict dibaca diblog gini aja udah serasa masuk apalagi bisa djadiin novel & dibuatin film dijamin eike ga bakalan mau ketinggalan buat beli & nontonnya…
    Super duper keren mantaaaff surantaaap binggo laah pokoknya bisa sekeren ini bikin tulisannya…
    Berharap mlm ini udah bisa mencapai target 100komenannya,,yg biasa hnya jd silent reader ngomen jempol 10 laah udah oke biar kita bs segera baca kelanjutannya apalagi kalo bisa ngomen lbh panjang :-))
    Ditunggu segera next part2 nya :-*

  4. Bravo Story Jengs……. setiap part berjalan menyusuri part selanjutnya selalu menegangkan… dan bikin hati dag dig dug… and finally happy ending…. Woh rasanya hati ini bacanya kayak naek roaler coaster gtu… huft… wahhhhwwww… Amazing bok….

  5. sumfeehhhh keadaan zain bikin gue shokkk berat apalagi waktu zain sadar n lupa sama Aliya itu bikin mata gue ber embun…n trnyta gue kena jebakan batman haaahhh lega gue jadinya 😂 n pling gue suka waktu Aliya meletakkan tngan zain ke perutnya 😄 gueee terharu bacanya 😘,,kuerennnn bingit kak nisa smpai g bisa nng apa”,,,diunggu part slnjutnya 😍👏👌

  6. Ternyata ini cara Zain supaya bisa berduaan ama Aaliya, pura2 amnesia tp tangan tetep gak mau lepas…hehehe.
    Hampir aja Aaliya percaya klo’ Zain amnesia. Aahh…senengnya ngeliat mereka bersama lagi, apalagi mo ada bayi yang akan mewarnai kehidupan mereka.
    Mereka berdua benar2 beruntung punya teman seperti Karan…walopun kecewa krn cintanya bertepuk sebelah tangan tp Karan tetep berjiwa besar demi kebahagiaan Aaliya…Karan…you’re a man…hahaha…
    Happy ending…semua bahagia…(termasuk trio kwek2 gak ya…tridha, zarina ma saziya) hehehehe…

  7. Hmm…Udah deg2anbangeeeeeet ternyata cuman bercanda…
    Aduuhh pake di cut segala…bneran mba setiap buka instgram aq selalumenunggu cerita ini diluncurkan…so, jangan lama2 yah terusannya udah penasaran pake bangeeeeeet…!!!

  8. Ehm , ceritanya keren bner2 tak terduga, jahat km dek udh bikin cerita sebagus ini, deg2an aq kirain amnesia…..wah…sweet bgt ya zain..mksi ya dek udh bkin cerita sekeren ini…
    👏👏👏👏👏💋💋💋💋💋❤💙💚💛💜

  9. gilaaaaa.. keren banget mbak nisa.. aku sampe nangis bacanya.. tulisan yg kayak gni nih yg bisa bikin emosi pembacanya campur aduk kayak gado gado.. jgn jadi penulis FF lah mbak, yakin eh mbak nisa mah bakat banget jadi penulis novel terkenal yg bikn hati pembacanya jdi sesak karna pgn nangis baca tulisannya mbak…

  10. aduuh,… ga terasa air mata ini jatoh juga,….
    deg degan pas Zain bilang ga inget aliya,…
    . tapi soo sweet deh,… ga taunya dia cuma pengen ber dua aja
    makasih udah di post,… biarpun kita dibikin panik,…

  11. Dg d iringi rntik2 hjn aq mmbc part ini trs lbh nyesss d hati heee lebay.com. Zain…zain…kasihn kn aaliya d gituin hmpr ja aq nangis wkt zain lp ma aaliya pdhl aaliya kn lg hmil. skiiit ni ati zain nyebut nm tridha :-|;-( lanjut lg y..y..y..y.. Semangat!!!

  12. 👏👏👏 keren👍
    tulisannya yg panjang seimbang dg isi cerita yg panjang,
    tiap kalimatnya juga bagus, tdk membosankan,
    naik turun ceritanya keren 👍👍

    dr chapter 1 hingga 10a ini rasanya ini yg terbaik (bg ku)

    imajinasi author dlm menulis bnr bnr mengagumkan 👏👏👍

    dr segi cerita aku kira bnr bnr ilang ingatan 😂😂✌
    ternyata cuma pura pura 😪

    di bagian akhir bikin baper bikin iri,
    romantis amet sih 😭😭😍😍

    semoga 10b gak lama ya 😁😆

    dr seluruhnya,
    bagus banget deh 👌👍👏👏👏😍

  13. Q bacax sambil deg2 ser😱, gimn coba mo habis seriesx malah kecelakaan 😢* btw airmata q pingin tumpah tp q tahan2 lah coz gk bawa ember mbk 😅 membaca dr awal meresapi jln ceritax yg mengharu biru, perasaan q jd ikut gk karuan seperti ada sesuatu yg mo meledak dlm dada ini *lebat dikit GPP kan😂 seperti sebuah bom waktu timerx sdh dinyalakan tp mo meledak LHA kok bersambung ini jdx PHP in 😬……tp KEREN

  14. OMG sumpehh dehh ni cerita buat perasaan jadi baper aja yak, campur aduk rasanya, dag dig dug hatikuu ehh kok malah nyanyi sihh, yaampunn bacanya udh kyk dibioskop aja nih kayak film beneran, ceritanya emng top maktop dehh bikin semua pemirsa ehh pembaca jadi buaperr tingkat dewaa, udh penasaran maxx dehh sama endingnya pasti happy ending, yaampuj si zain jail amat dah gue kira udh amnesia beneran tau taunya zonk krepet dahh, wkwkwkwk, mantapss kak, top dehh, kagak bisa ngomong apa lagi ni, cihuyyy emng berbakat bngt buat jd author sekalian luncurin novelnya qaqa wkwkkwkw, ditunggu ya last part with happy endingnya sesegera mungkin, woyy yang lain pada komen dong jgn jdi sider kasian noh si qaqa udh ngetik panjang lebar ga dikasi up close and semangatt, heuhh , fyuhhh segini dulu ya kak komennya tetap semangatt 45 buat ngetiknya, btw kalo udh ending, buat yg lain yak wkwkwk , sukses terus yaa, salam maniss from mee, much loveeee so full for your story💓💓💓💓💓💓

  15. huhuhu bacanya sampi berjatuhan air mata gue ini gak kerasa kalo gue nangis gue suka bangat sm ceritanya keren abis deh pokonya cerita bikin gue jd baper deh…… ditunggu yah part selanjutnya suka bangat deh sm ceritanya😍🙅💝💞👌

  16. Sumpeeeehhh part ini bnr2 part yg bikin gemeter, dagdigdug, sarserser, kek naek rollcoaster, omigoott mbaaaakkk bisa bgt ya bt crita kek begini, br yg baca serasa ikut main dicrita ny, kek sy ngerasa jdi aliyah d crita ini, dan mb jdi thida hihihi..
    Pkkny the best bangeeeettt laaaaaaaaaa mb nis… mmooooaaaaccchhh *cipokbasah

  17. gue harus komen apa nis? pujian apa yang kau butuhkan? *belagak kocak kayak harshu diminta wartawan kasih komentar tntg lagu barunya mbak.ku (red. Pree). buahahhaa….
    perfect nis, always waiting ur writing. wlpun sll demo tp tetap calm kok demo.y

  18. hhaaaaa,,,, gak terasa air mataku jatuh di moment dimana dokter mengatakan kalau aliya hamil, trus dia tidak bisa mendonorkan darahnya untuk suami tercintanya,, sumpehhhhhh bapeeerrrrrrrrrr bangat thanks Nisa you make me happy, sad and nothing to talk (mixhappy), all the best

  19. Keren,amazing,dan semakin matang, q doain mg bs diangkat ke layar kaca dan pemainya ttp harshika, gk ad yg gk mungkin kok selagi trs berusaha dn diiringin doa2 harshika lovers, sumpah baper bgt tambah susah move on, isi otak sm mata hanya ad Harshika haha…..ha… ditgu endingnya

  20. kalo kata mario teguh, cerita nya SUPER SEKALI. salut bingittt bikin reader nya jadi susah move on dari beintehaa season 2.
    dan buat mba nisa, hampir sama ky ceritanya suka bikib deg degan ampe ceritanya di cut2 pulak.
    sesegera mungkin ya mba diterbitin, takutnya senyum2 sendiri ngebayangin gimana ending nya.

  21. Keren mbak hampir aja aku nangis karena zain tega teganya amnesia. Tapi endingnya pas ngasih tahu kalo aliya hamil kok dicut . Hehe…
    Pokoknya kuerennnnnnnnnnn 👍👍👍

  22. suuupeeerrrpp..udh bca brkali2,tetep aj suka n buka lagi.. berasa msuk dikehidupanny zaaya,moga aj mreka brdua disatukan ddunia nyata,aamiinn

  23. Kereeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnn….lanjut secepatnya jangan dulu end . BABY ZAY.. Belum lahir dan kalo dia udah lahir .. Ceritanya pasti lebih kerwen lagi.karena zain musti jadi suami dan ayah yg harus membuat istri dan anaknya selalu bahagia dan tidak ingin jauh dari mereka….sambut kedatangan family zain aaliya yg bikin keluarga lain tdk bisa melakukan seperti yg mereka lakukan….harapan gue cerita nya lebih panjang lagi
    ………. Welcome to “baby zayid zain abdullah”
    … Sampai nangis bacanya.

  24. Keren banget👍👍👍,tadi aku kira zain amnesia beneran padahal nggak.ditunggu kelanjutanya ya😀😊👏👏👏😂

  25. Aaah…sperti biasa, lg enak2 ny baca, tiba2 muncul tulisan “to be continued”.
    Tapi aku ra popo.. Eke puas bacany, wlwpun nungguny agk lama smpe2 diri ini berubah jd tempe bosok karena terlalu lama dibiarin jamuran 😀
    part ny d tmbahin lg ga pa2 kali ya mba nis…hihihi

  26. Udah baca sampe 5X tapi belum bosan, aduh ga sabar nunggu part B nya, kenapa lama bingits padahal sudah melampaui kuota.

  27. Udah jantungan duluan kirain bnr2 amnesia bang zain x.. Nyata x cuma pngn berduaan sm aliya akakaka lol
    tpi ne yeeee bnr2 ff tingkat internasional dah… Kak anis keren bgt si ! Ajarin buat yg bgnian dong ahaha
    luaaaaaaaaaaar biasaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

  28. Baguss ,keren,pokoke endol,surendol,takendol kendol 👏👏👏👍👍👍pokoke ceritanya buagussss bikin penasaran d tunggu ya part berikutnya yg lebih seru,romantis,dan lucu pokoke happy anding deh….

  29. aduhh mbaa keren bngtt haha, aku pmbaca baru sih dsini tapi aku suka bmgt sama beintehaa please mba cpet smbungnin aku udh ikutin kuota yng mba minta di fb dn instagram hehe,fighting!

  30. Ya allah, sumfeh jadi pengen cepet2 dilamar… Mesranya aliya zain itu terasa sampe ke hati, ngebaca ini tuh senyum2 sendiri.

    “Zain, kau mengerjaiku lagi. Aku membencimu !! Dan aku mencintaimu aliya” so sweeeet ini kalimat pamungkas sederhana tapi nyess.

    Mbak nisya, demi dewa ini keren. Disini ada sedih, ada lucu, ada haru, ada bahagia, ada romantis, ada jebakan sempak batman juga ternyata zain amnesia KW.

    Cepeeeeet atuh part berikutnya…. Kiss cipok terbang mbk nisya…

  31. Ceritanyoo..begitu mengharu biru..tak kuasa..romantis nya tetep ada..lengkap deh pokoke..semangattt mba nis..buat luncurin part berikutnya… eke pembaca setia mu… hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s