Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya Chapter 10B (ENDING)


image

Judul   : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre   : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts    : 
♡ Harshad Arora as Zain  
     Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya 
     Zain Abdullah
♡ Karan Tacker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as 
      Herself
♡ All Beintehaa Casts

Located : 
       Mumbai & Bhophal India
Chapter Numb : 10 Chapters

Part ini adalah part pelengkap untuk 10 part lainnya, dimana semua kisah yang masih jadi pertanyaan akan terjawab disini. #eeaaa. Happy Reading!!

BI 2 Part 10B

Sesaat kemudian, Tridha dan muncul dengan membawa air minum, kemudian disusul oleh Zarina, Shaziya, juga dokter Sinha, serta Paman Rehman dan Bilal yang baru saja datang.

Mereka semua terkejut melihat Aliya dan Zain saling berpelukan mengingat tadi jelas-jelas Zain mengaku dia tidak mengingat Aliya.

Suasana haru itu sesaat buyar, Aliya mengangkat tubuhnya dan melepaskan pelukannya dengan Zain, ia seka air matanya.

“Anda sudah bangun Tuan Zain? Ini luar biasa, anda siuman sebelum waktu yang diprediksi,” ucap Sang dokter tampak takjub
“Kak Zain… kau sudah ingat segalanya?” Tanya Tridha heran.

“Zain, tadi kau bilang kau tidak mengenal Aliya, kami pikir kau amnesia?” Zarina tampak tidak terima.
“Iya Zain, mana ada orang amnesia hanya dalam hitungan menit?” Shaziya masih saja bersikap sok tau berbekal pengetahuannya dari drama yang pernah ia tonton.

“Aku? Siapa yang bilang begitu? Mana mungkin aku melupakan istriku sendiri?” Zain pura-pura tidak tau, mendengar kabar bahagia dari Aliya mendadak ia langsung segar bugar terdengar jelas dari suaranya yang lantang tak terdengar seperti orang yang baru sadar dari komanya. Zarina, Shaziya dan Tridha jadi bingung sendiri, Aliya menyembunyikan senyum gelinya mendengar baru sadar dari komanya saja, suaminya yang jahil itu sudah mengerjai orang.

“Tuan Zain.. apakah kau masih mengingat terakhir kali kau sadarkan diri sebelum kau pingsan?” Kali ini giliran dokter yang bertanya dan Zain dengan senang hati menjawab.
“Ya.. aku ingat semuanya, aku ingat gerbang india, bunga mawar dan wajah istriku,” ucap Zain seraya memandangi wajah dan menggenggam tangan Aliya yang kini tersenyum haru.
“Apakah kepala anda masih terasa sakit?” Tanya dokter lagi, melanjutkan pemeriksaannya.
“Tidak juga, hanya sedikit berat,”
“baguslah kalau begitu, ini benar-benar keajaiban! tidak ada yang bermasalah dengan kepalamu,” Aliya sangat bersyukur mendengar pernyataan dokter.

“Luar biasa! Semua ini pasti berkat do’a dan cinta dari keluarga anda,” lanjut sang dokter lagi,
“Semua ini berkat do’a dari istriku dan juga hadiah terindah darinya,” kata Zain sambil kembali tersenyum ke arah Aliya,
“Ha.. hadiah?!” Shaziya bertanya penasaran,
“Aku harus segera sembuh agar aku bisa merawat istriku dan bayi kami,” Pernyataan Zain itu mengejutkan semua orang,

“Maksudmu, Nak Aliya sedang hamil?!” Rehman tampak sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Aliya mengangguk haru,
Shukranallah, selamat Nak. Setelah melewati semua musibah ini, kita mendapatkan karunia yang luar biasa, kita patut mensyukurinya,” Rehman memeluk Aliya penuh haru.

Reman, Bilal, bahkan dokter Sinha sangat senang mendengar berita kehamilan Aliya, mereka semua memberikan selamat kepada Zain dan Aliya, Shaziya meski tak cukup senang, tapi dia berusaha berlagak senang dan memberikan selamat, hanya Zarina dan Tridha yang menampakkan dengan jelas ketidak-berkenanannya.

Tridha bahkan tak kuasa menahan kekecewaannya hingga tanpa berpamitan ia langsung berlari keluar kamar, dan Zarina terpaksa harus kembali menyusulnya.

“Tridha.. Tridha sayang, dengarkan Bibi dulu!” Pekik Zarina berusaha menghentikan gadis itu.
“Tridha, Bibi minta maaf, Bibi juga tidak menyangka akan jadi seperti ini, gadis itu benar-benar berbisa, dia berhasil menggoda Zain, tapi kita akan mencari cara lain untuk memisahkan mereka,”
“Hentikan Bibi! usaha apa lagi?! Aku sudah lelah dengan semua ini, harga diriku sudah diinjak-injak, wanita itu sudah hamil anak Kak Zain, aku tidak mau mengemis cinta lagi padanya, tidak akan!!” Tridha berucap dalam tangisnya, Zarina tak tau lagi harus berkata apa untuk meyakinkan Tridha, ia pun pergi dan Zarina tak berusaha menahannya lagi, sepertinya memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia tak punya alasan lagi untuk memisahkan Zain dan Aliya, bagaimanapun gadis itu sedang mengandung cucunya.

****

Setelah memeriksa kondisi tulang kaki dan anggota tubuh lainnya untuk memastikan dampak akibat dari kecelakaan, akhirnya bisa dipastikan keadaan Zain baik-baik saja, tidak ada dampak fatal yang ditimbulkan, lagi-lagi dokter takjub akan kemajuan kondisi Zain. Kini Zain hanya perlu beristirahat dan dirawat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya.

Barkath Ville

Dua minggu berselang, Zain sudah boleh dipulangkan ke rumah karena kondisinya yang mengalami kemajuan pesat, untuk sementara ia harus menggunakan kursi roda, meski sebenarnya ia sudah bisa berjalan dengan normal, hanya saja sedikit lemah.

Setelah dibantu Bilal dan Rehman untuk naik ke kamarnya yang berada di lantai dua, Aliya sendiri yang mendorong Kursi Roda suaminya itu untuk sampai ke kamar.
“Berhenti di sini saja,” ucap Zain tiba-tiba ketika sampai di ambang pintu kamar mereka,
“Ada apa?” Tanya Aliya bingung, lalu tanpa mengungkapkan apapun Zain turun dari Kursi rodanya,
“Zain, apa yang kau lakukan? Kata dokter, kau harus duduk di kursi dulu..” ucapan Aliya terhenti ketika Zain sudah meraih tubuhnya ke dalam gendonganya.
“Zain.. turunkan aku sekarang, kau belum sembuh benar, berjalan sendiri saja kau masih lemah!” Aliya mulai panik, dan sedikit menggeliat dalam gendongan Zain.

Namun sepertinya Zain tidak perduli.
“Harusnya aku yang merawatmu Sayang, kau sedang mengandung anakku,” ucap Zain sebelum membawa Aliya ke tempat tidur, untuk sesaat Aliya membiarkannya, namun tubuh Zain mulai oleng dan tak kuat menggendong, tapi sekuat tenaga dengan susah payah ia tetap membawa tubuh Aliya hingga sampai ke tempat tidur, lalu akhirnya mereka jatuh ke tempat tidur.

Zain kini menindih tubuh Aliya, sesaat mereka saling menatap mesra, tatapan penuh hasrat dan kerinduan, sudah lama mereka merindukan saat-saat indah berdua setelah berminggu-minggu di rumah sakit, ia belai lembut wajah istrinya itu, lalu semakin mendekatkan wajahnya. Dan sejurus kemudian ia ciumi kening Aliya, ciuman yang begitu dalam dengan segenap perasaannya.

Berikutnya ia ciumi pipinya, terakhir bibirnya mulai beralih ke arah bibir Aliya, belum sempat ia melancarkan aksinya, tiba-tiba Zain menghentikannya sendiri, ia teringat sebelum lebih jauh ada hal wajib yang harus ia lakukan, yaitu mengunci pintu.

“Sebentar ya Sayang?” Ucapnya sambil mengerling nakal ke arah Aliya, sesaat ia bangkit dari tubuh Aliya, lalu mengunci pintu rapat-rapat.

Seakan tak sabar ia kembali mendatangi Aliya yag kini duduk dan ia pun kembali merengkuhnya,
“Zain… kau belum pulih, kau harus istirahat dulu,” Aliya berusaha memperingatkan,
“Tidak apa-apa, sayang. Aku akan selalu kuat untuk melakukan ini,” Zain seakan tak perduli dan mulai beringasan menciumi bibir istrinya, ia membaringkannya lalu menindihnya, ia mulai aktif menciumi leher Aliya seperti seekor singa yang kelaparan dan menemukan mangsanya.

Aliya yang mulai tersadar segera saja menghentikan aktifitas Zain dengan mendorong tubuhnya menjauh.
“Zain.. kau lupa? aku sedang hamil anak kita!” Kata Aliya memberikan peringatan keras,
“Memangnya kenapa dengan anak kita? siapa tau jika kita melakukannya sekarang, dia akan punya teman, kita akan mendapatkan anak kembar,” ucap Zain dengan segala pengetahuan dangkalnya.

“Waktu pelajaran biologi di sekolah dulu apa kau selalu tidur? Semua orang juga tau wanita hamil muda tidak boleh melakukan hubungan suami istri, apa kau tidak menyayangi anak kita?”
“Ten.. tentu saja! Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya, jadi apakah aku harus menunggu sampai anak kita lahir? 9 bulan aku harus bersabar?” Zain tampak cemberut. Aliya tersenyum gemas lalu memeluk suaminya itu dari belakang.

“Tentu saja tidak akan selama itu, anak kita baru 1,5 bulan sayang, tunggulah sampai empat bulan, itu akan membantu persalinan anak kita nanti,” katanya tersenyuam
“Benarkah?” Zain kembali sumringah.
“Tentu saja,”
“Tapi kalau berciuman masih bisa kan?” Zain tampak berbinar-binar dengan ide alternatifnya.

“Dasar kau ini nakal sekali!” Aliya mencubit kecil perut Zain.
“Tapi berjanjilah kau bisa mengendalikan dirimu, ingat anak kita,” Aliya kembali memperingatkan
“Tentu saja, sayang” tanpa menunggu lagi Zain kembali menyambar bibir Aliya, dan kali ini gadis itu tak punya alasan menolak lagi.

4 bulan kemudian,
Bhopal, India

Empat bulan yang indah penuh dengan kerepotan sebagai calon orang tua sudah mereka lewati, selama kehamilan Aliya, Zain benar-benar menjadi suami siaga, tak ia biarkan Aliya melakukan pekerjaan rumah tangga yang dianggapnya mengancam keselamatan kehamilan istrinya itu, naik dan turun tangga Aliya wajib ditemani, bahkan jika sedang sangat berlebihan, Zain tak segan untuk menggendongnya.

Ia sampai memperpanjang cuti sakitnya demi menjaga istri tercinta di rumah, bekerja di kantor pun ia tidak bisa fokus terlebih ketika sore menjelang, Zain selalu ingin segera pulang memastikan keadaan istrinya. Tak jarang Aliya ataupun orang lain memperingatkan Zain untuk tidak terlalu berlebihan namun Zain tetap saja  tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Aliya.

Kini kehamilan Aliya sudah   menginjak usia 5 bulan, perutnya sudah semakin membesar, dan Zain merasa semakin kerepotan, syndrome suami siaga benar-benar melandanya kini.

Dengan seizin dokter, untuk melakukan perjalanan jauh, Zain memutuskan membawa Aliya pindah tinggal di Bhopal, meski sama-sama punya rumah keluarga di Bhopal, mereka memilih untuk tinggal di rumah bekas almarhum orang tua Aliya dulu.

Zain memutuskan untuk hijrah dari hiruk pikuk metropolitan nan modernnya kota Mumbai, ke kota kecil Bhopal, alasannya karena ia ingin menikmati kehidupan sederhana di kota kelahirannya hanya berdua saja dengan istrinya. Bersama Aliya dia ingin memulai kehidupan baru, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Aliya.

Zain tersenyum melihat sebuah rumah beton tua nan antik terdesign ber-arsitektur khas india, dengan cat dinding yang sudah terkelupas. Sementara mata Aliya tampak berkaca-kaca, melihat rumah yang penuh dengan kenangan itu, terngiang kembali kilasan masa kecilnya yang penuh dengan keceriaan, di sana.

Terbayang jelas dalam penglihatan Aliya, ia sedang bermain bersama ayahnya di halaman rumah dan ibunya yang menyisir rambut panjangnya.

Rumah itu adalah rumah yang ditempatinya bersama ayah ibu dan kakek neneknya dulu, sebelum kakek nenek dan ayahnya meninggal.

Pintu kemudian terbuka, sepasang pria dan wanita tua muncul. Luar rumah tua itu memang tampak tidak terawat, namun di dalamnya cukup layak huni karena dirawat oleh sepasang suami istri yang merupakan pembantu di rumah itu sejak Kakek dan Nenek Aliya masih hidup, Aliya memanggil mereka dengan Kakek Nandhi dan Nenek Kaali, mereka adalah satu-satunya penghuni rumah itu yang masih hidup.

“Kakek, Nenek…” panggil Aliya penuh kerinduan, meski sudah tampak jauh lebih tua dari terkahir kali bertemu tapi Aliya masih ingat mereka dan rupanya meski sudah tumbuh dewasa dan terakhir bertemu di usia 5 tahun, tapi mereka masih mengenali Aliya dengan baik.

“Aliya, kau Aliya kan?!” Kakek Nandhi tersenyum antusias melihat Aliya,
“Iya.. dia benar Aliya! wajahnya sangat mirip dengan Shabana!” Kali ini Nenek Kaali yang menyambut. Satu persatu Aliya memeluki sepasang renta itu dengan perasaan haru.

“Kau sekarang hamil Nak?” Tanya Nenek Kaali seraya memegangi perut buncit Aliya. Kini mereka sudah duduk di dalam rumah.
“Iya Nenek, sekarang aku sudah hamil. Dan ini Suamiku,” Aliya ingin memperkenalkan Zain kepada pembantu Rumah tangga yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri itu.

“Apakah dia Zain Abdullah?” pertanyaan Kakek Nandhi membuat Zain dan Aliya terkejut, mereka sebelumnya belum pernah bertemu, Aliya bahkan belum menyebutkan nama Zain,
“Kau Zain, putranya Tuan Usman bukan?” Pertanyaan Nenek Kaali semakin membuat keduanya bingung.
Zain dan Aliya hanya sama-sama mengangguk ragu.

Subhanallah, kami sudah lama menunggu takdir itu! Sejak dulu kami meyakini, bahwa cita-cita Tuan Ghulam, Nyonya Shabana dan Tuan Usman akan terwujud, dan akhirnya hari ini kami melihatnya sendiri,” kakek Nandhi tampak terharu, matanya bahkan berkaca-kaca.
“Cita-cita?” Zain bingung,
“Apa yang dicita-citakan Ayah, Ibu dan Ayah Usman?” Aliya semakin penasaran.

Sebelum menjawab, sejenak Kakek Nandhi menatap ke depan, pandangannya menerawang pada kejadian masa lampau, dimana ia melihat Usman, Ghulam dan Shabana duduk bersama, saat itu perut Shabana tampak buncit, sedang mengandung Aliya.

Kakek Nandhi pun memulai menceritakan yang ia saksikan sendiri dengan mata kepalanya, cerita yang akan membuat segala pertanyaan Zain dan Aliya yang selama ini tak pernah terjawab.

“Kalian mungkin tidak tau, karena Usman ataupun Shabana tak pernah atau tak sempat mengatakan apapun, tapi sudah saatnya kalian harus tau, karena aku yakin pasti ada begitu banyak pertanyaan dalam benak kalian, iya kan?” Zain dan Aliya tersentak, bagaimana bisa pria tua itu seakan tau segalanya bahkan yang ada dalam benak mereka?

“Aku tau segalanya, karena segalanya dimulai dan berakhir di rumah ini, setelah kedua orang tua Shabana meninggal, kami sudah seperti kedua orang tua baginya.

Mungkin kalian berfikir Usman menjodohkan kalian dalam keadaan mendesak, namun ketahuilah, perjodohan kalian sudah terjalin bahkan jauh sebelum kalian lahir.” Zain dan Aliya mengerutkan dahi mereka bersamaan, masih bingung.

“Ayah kalian dulunya bersahabat sejak lama, mereka selalu ada untuk satu sama lain baik suka maupun duka, aku tidak pernah melihat persahabatan seerat itu.

Mereka pun bertekad dan saling berjanji akan saling menjaga diri dan keluarga satu sama lain jika salah satu di antara mereka ada yang pergi lebih dulu, mereka juga berkeinginan untuk mempererat hubungan persahabatan mereka dengan ikatan kekeluargaan, maka dari itu mereka sepakat jika anak yang dikandung Shabana adalah perempuan maka, akan dijodohkan dengan putra Tuan Usman.
‘Aku akan membuat Zain mu tergila-gila dengan putriku kelak, Usman’ candaan itulah yang selalu Tuan Ghulam katakan kepada Tuan Usman.

Di kala itu Tuan Usman dihimpit kesulitan ekonomi, bahkan Usman tak ingin memberitahu istrinya, ia hanya mengadukan segala kesulitannya kepada sahabatnya, Tuan Ghulam.
Tuan Ghulam yang lebih mapan saat itu, tentu berusaha keras untuk membantu Tuan Usman.

Suatu hari, Tuan Usman terjebak dalam kasus penipuan, namanya terseret dalam kasus tersebut dan membuat ia menjadi incaran para Mafia, namun berniat membantu sahabatnya, Tuan Ghulam yang malah menjadi sasaran tembak para mafia tersebut, Tuan Ghulam tertembak yang harusnya itu ditujukan kepada Tuan Usman hingga nyawanya tak tertolong.

Tuan Ghulam meninggal dunia dan meninggalkan istri dan putrinya yang masih kecil, saat itu Tuan Usman benar-benar terpukul, sahabatnya meninggal demi menyelamatkannya, dan  sebagai seorang Sahabat yang sudah berjanji akan selalu melindungi satu sama lain, terlebih lagi Tuan Usman sangat berhutang nyawa kepada mendiang Ghulam, dan rasa bersalahnya yang begitu besar, ia tidak bisa menelantarkan Shabana dan Aliya, ia merasa bertanggung jawab atas mereka, saat itu ia berjanji apapun yang terjadi, ia akan selalu menjaga Shabana dan Aliya, bahkan hingga anak keturunannya nanti.

Namun seiring waktu berlalu, terlalu sering mengunjungi seorang janda muda, malah menimbulkan fitnah di lingkungan masyarakat, mereka menuduh Usman dan Shabana berzinah, bahkan istri Usman, Ibumu Zain, dia juga mulai mencurigai Ayahmu.

Tuan Usman lalu berniat untuk menikahi Nyonya Shabana, namun istrinya bersikeras untuk tak mengizinkan dan Usman akhirnya urung menikahi Shabana, hingga Shabana dinyatakan mengidap penyakit kanker darah, dan divonis hidup tak akan lama lagi, Usman masih diam-diam selalu mengunjunginya dan membiayai pengobatannya di rumah sakit dan itu membuat istrinya semakin curiga dan menuduhnya berselingkuh.

Lalu dua tahun berselang setelah suaminya meninggal, Shabana pun ikut pergi untuk selama-lamanya dan meninggalkan Aliya yang sebatang kara, saat itu Aliya hanya punya kami, namun apa jadinya Aliya jika dirawat oleh orang tua renta seperti kami yang bahkan hanya bisa memberi makan? Atas janji dan tanggung jawabnya kepada Ghulam dan Shabana, Usman pun memutuskan merawat Aliya, apapun yang terjadi, hingga ia rela mengorbankan segalanya demi Aliya, ia rela meninggalkan keluarganya karena ia tau istrinya yang berasal dari keluarga kaya pasti masih akan bisa hidup dengan baik bersama putranya meski tanpa dirinya, tapi Aliya yang sebatang kara tak akan bisa hidup tanpanya,” Kakek Nandhi mengakhiri kisah mengharukannya dengan pandangan berkaca-kaca, pria renta itu seakan menyimpan apik kenangan itu dalam memorinya.

Kini air mata Aliya bahkan Zain sudah tumpah ruah menggenang di wajah mereka, Aliya menyenderkan kepalanya di dada Zain, sementara Zain memeluk erat Aliya yang terisak, tak pernah terbayangkan bahwa pertemuan dan penyatuan mereka tidak sesederhana itu, ada begitu banyak darah, air mata dan pengorbanan di baliknya, mengetahui itu justru membuat mereka semakin menghargai satu sama lain, mereka sadar hubungan mereka sudah dibangun atas dasar penjuangan yang begitu besar dari kedua orang tua mereka dan mereka bertekad tak akan pernah rusak hingga akhir hayat.

****

Saat Zain sedang sibuk mengatur barang-barang bawaan mereka di kamar, kini Aliya hanya berdiri mematung menghadap jendela, pandangannya menerawang jauh membayangkan rahasia masa lalu yang baru terbuka dan ia ketahui. Tak terasa air mata harunya kembali berjatuhan.

Melihat kesedihan Aliya itu, Zain mendatangi istirnya, ia berdiri di belakangnya lalu ia lingkarkan kedua lengannya dari belakang di perut Aliya, kedua lengannya bahkan hampir tak muat karena perut istrinya yang sudah berkali-kali lipat lebih besar dari normalnya, kemudian dengan manja Zain letakkan dagunya di bahu kanan Aliya.

“Ada apa sayang, hmmh?” Bisiknya lembut, sambil menciumi tengkuk Aliya,
“Aku hanya merindukan Ayah, Ibu dan Ayah Usman,” ucap Aliya, dengan suara bergetar karena tangis.
“aku juga merindukan mereka, tapi melihat kita bahagia, aku yakin sekarang pasti mereka sudah bahagia disana,” ucap Zain ringan.

“Rupanya ada begitu banyak rahasia tersembunyi yang tak pernah kita ketahui selama ini,” kata Aliya lagi, mendengarkan ucapan Aliya itu, Zain membalikkan tubuh istrinya itu menghadapnya.

Ia sentuh wajah Aliya dengan kedua tangannya dan ia usap lembut air mata di pipi Aliya dengan ibu jarinya.
“Aku juga punya rahasia sejak lama yang belum kau ketahui,”
“Rahasia?” Aliya mengerutkan dahinya penasaran.

Zain mengangguk lembut, lalu mulai menceritakan rahasia masa kecilnya yang tak seorang pun mengetahuinya,

Flashback,

Zain kecil sedang bersembunyi di balik sebuah pohon besar seraya menatap dua orang yang tampak seperti sepasang ayah dan anak perempuannya dari kejauhan.

Pria yang tak lain adalah ayah Zain itu, kini sedang membungkukkan badannya ke arah anak perempuan itu, sambil memberikan sebuah permen lollypop warna-warni yang ia beli dari perdagangan asongan di taman itu.

Zain kecil yang masih berusia 8 tahun menatap iri pemandangan akrab itu, terlebih ketika Usman menyentuh kepala gadis kecil dan mencium gemas pipinya,

“Aliya, bisa menunggu Ayah di sini sebentar? Ayah akan ke toko di seberang jalan itu, jangan kemana-mana ya?” Kata Usman di seberang sana, sementara itu.
“Iya Ayah…” jawab Aliya kecil yang kini duduk di bangku taman.

Pria itu pun meninggalkan Aliya kecil beberapa saat dan buru-buru menyeberangi jalan setapak dan memasuki sebuah toko.

Sementara itu, Zain menyandarkan tubuhnya di pohon, ia menangis sesenggukan .. Zain merindukan ayahnya, ia merindukan belaian kasihnya, sudah beberapa minggu sang Ayah pergi, ia bahkan tak bisa lagi menemui Ayahnya, karena Ibunya akan memukulinya jika tau ia menemui sang Ayah.

Di tengah tangis kerinduan itu, Zain terkejut ketika tiba-tiba sesosok gadis kecil muncul di hadapannya. Gadis kecil itu adalah gadis yang sejak tadi diintilinya diam-diam bernama Aliya Ghulam Haider yang ia kenal.

Dengan tatapan polos seorang gadis kecil tanpa dosa, Aliya tersenyum padanya, perlahan ia melangkah maju mendekati Zain yang masih mematung. Aliya sodorkan permen lollypop yang bahkan belum ia buka bungkusnya kepada Zain. Sesaat Zain menatap ragu, namun tanpa kendalinya, ia terima pemberian gadis kecil yang menurutnya kini paling dibencinya itu.

“Jangan menangis Kakak,” ucap gadis kecil itu seraya tersenyum manis, mata cokelat terangnya yang bulat bergerak jenaka, ia menyengir lucu dengan memamerkan deretan gigi susunya yang tanggal satu di bagian depan.

Zain terpaku sesaat ketika menatap wajah polos nan ceria itu, untuk sesaat ia terpesona, ada sebuah desiran aneh yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya, ia merasa seakan ribuan kupu-kupu keluar dari dalam dadanya, untuk sesaat ia bahkan tidak punya alasan apapun untuk membenci gadis kecil itu.

Sejak saat itu Zain tak pernah melupakan Aliya, Aliya selalu menempati posisi khusus dalam memorinya, Zain kecil tentu tak mampu mengartikan perasaan aneh itu saat itu, yang ia tau, ia hanya membenci gadis itu, dan ia tidak akan melupakan orang yang sudah menghancurkan keluarganya dan merebut ayahnya,

Flash back End

“Haha… aku bahkan sudah melupakannya, jadi kau menyimpan permen itu selama bertahun-tahun?,” Aliya terkekeh geli mendengar cerita rahasia konyol Zain, kini perasaan sedihnya mengingat orang tuanya lenyap berganti tawa karena cerita Zain.
“Iyaa… aku menyimpannya hingga aku masuk SMU, permen itu sudah meleleh tak tersisa dan aku akhirnya bertemu gadis-gadis cantik yang membuatku melupakanmu sesaat,” ucapan Zain terdengar konyol namun itu jujur dari dalam hatinya. Ia kini menempelkan perut buncit Aliya di perutnya dengan melingkarkan kedua lengannya di pinggul istrinya itu.

“Csh! Aku tidak percaya ini! Seorang anak berusia 8 tahun sudah jatuh cinta?” Ejek Aliya tersenyum sinis, sejujurnya ia sedikit cemburu mendengar Zain membahas tentang gadis-gadis.
“Biarkan saja! Toh cinta pertamaku itu, sekarang sudah menjadi istriku dan ibu dari anakku, cinta pertamaku yang kelak akan menjadi cinta terakhirku, bukankah aku ini pria yang paling setia?” Zain menatap dalam Aliya lalu mencium kening istrinya itu dengan segenap hatinya.

****

3 bulan kemudian,

Usia kandungan Aliya saat ini sudah memasuki bulan ke sembilan, tinggal menghitung hari untuk persalinannya, perutnya sudah semakin membesar maksimal tampak seperti akan meledak sewaktu-waktu, Zain semakin perhatian padanya, sebaliknya mood Aliya sekarang semakin naik turun tak bisa ditebak.

“Aku sudah kenyang Zain, perutku sudah tak muat lagi,” Aliya menyodorkan semangkuk sari kurma yang baru dimakannya tiga sendok, padahal sudah susah payah Zain beli, ia bahkan rela meninggalkan rapat kantor cabangnya, hanya gara-gara Aliya menelepon dan merengek mengidam sari kurma.

“Ini, kau saja yang makan, aku akan menyuapimu, Aaa…” Zain menatap enggan sari kurma di atas sendok yang disodorkan Aliya ke mulutnya, dan mau tak mau ia kembali harus memakannya meski ia sedang tak ingin, sekarang pekerjaan sambilan Zain sebagai suami siaga adalah menghabiskan sisa-sisa makanan yang diidam oleh istrinya.
“Sayang, aku dengar wanita mengidam itu hanya untuk yang hamil muda, ini sudah sembilan bulan dan kau masih mengidam?” Ungkap Zain akhirnya setelah menelan sesendok sari kurmanya.

“Memangnya kenapa kalau aku mengidam? ini kan keinginan bayi kita, Kau tidak suka? Apakah aku begitu merepotkan?!” Aliya menarik sendok berisi makanan yang ia sodorkan pada Zain lalu menunduk sedih, membuat Zain jadi serba salah. Aliya benar-bena sensitif kini.

“Tidak Sayang, bukan begitu. Arrggh… Baiklah baiklah! aku akan memakannya,” Zain kembali harus mengalah, dengan berat hati ia raih mangkuk berisi sari kurma di tangan Aliya.

“Sayang, dia bergerak lagi! Putra kita menendang-nendang perutku!” Aliya tampak antusias memegangi perutnya,
“Benarkah?!” Zain antusias, ia menaruh mangkuk sari kurma di meja kecil di sampingnya,
“Aww, geli dia menendang lagi, sekarang semakin keras,” Aliya tertawa, Zain yang penasaran kemudian menyentuh perut istrinya itu,

“Kau bisa merasakannya?” Tanya Aliya,
“Yaa… Sayang, jangan-jangan anak kita nantinya akan jadi pemain sepak bola, bagaimana kalau kita beri nama dia Lionel? Dari nama Lionel Messi, itu adalah pemain sepak bola favoritku,”
“Isshh! Nama macam itu?! Tidak ada artinya! Kita harus memberikan nama yang baik dan islami untuk anak kita,” kata Aliya bijak. Zain tersenyum lalu menempelkan telinganya di perut Aliya.

“Nak.. apa yang sedang kau lakukan? Kau sudah tidak sabar ya ingin cepat-cepat keluar?” Zain berbicara kepada bayi yang ada di perut Aliya seraya mengelus, lalu mengecupnya.

“Sayang, apa kau mau ku bantu mengeluarkannya dengan mudah?!” Tiba-tiba Zain bertanya,
“Maksudmu?” Aliya mulai mencium gelagat mencurigakan
“Kau lupa apa kata dokter? di usia kandungan yang sudah semakin tua, kita disarankan untuk melakukannya agar bayi kita lebih mudah keluar,” Zain mengerlingkan nakal matanya.
“Zain.. maafkan aku, tapi selama hamil ini aku sama sekali tidak mood melakukannya,” Aliya enggan.
“Ayolah Sayang, kita sudah lama tidak melakukannya, Zain Junior juga sudah tidak sabar ingin segera keluar, iya kan Sayang?” Zain kembali berbicara kepada perut Aliya, ia mulai melancarkan bujuk rayunya.
“Baiklah, tapi pelan-pelan ya?” Aliya akhirnya bersedia, dengan senang hati, ia lepaskan blezer kerjanya, lalu mulai membaringkan tubuh Aliya,

Zain mulai melancarkan aksi ‘balas dendamnya’ Namun baru di pertengahan jalan, sepertinya misi Zain kali ini kembali gagal, ketika terdengar suara ketukan pintu, ia terpaksa berhenti, dengan kesal Zain bangkit lalu membuka pintu, dan di balik pintu ada Nenek Kaali tersenyum.

“Nak Zain, di luar ada tamu yang mencarimu,” katanya
“Siapa Nek?” Zain penasaran,
“Entahlah, Nenek tidak kenal. Tapi dia sangat tampan,”
“Tampan?!” Zain bingung namun juga penasaran, ia pun segera berjalan ke pintu luar untuk melihat siapa yang datang, dan dia terkejut melihat punggung seorang pria awalnya.

“Anda mencari siapa?” Tanya Zain sopan, pria itupun berbalik dan melepas kaca mata hitamnya, dan menampakkan dengan jelas sosoknya, ternyata dia adalah Karan,
“Kau?!” Zain tampak tidak mengharapkan kehadiran Karan.
“Ya.. it’s me. Kenapa kaget begitu seperti melihat hantu?” Karan mengejek
“Tidak! Hanya saja aku sedang tidak mengharapkan tamu di saat aku hanya ingin berdua saja dengan istriku,” balas Zain,
“Ohh.. maafkan aku tuan Zain, aku tidak tau kalau jam segini adalah jam untuk berdua, aku pikir ini adalah jam kerja.” Sindir Karan tak mau kalah.
“Apa yang kau inginkan? Kalau kau datang kemari untuk mendekati istriku lagi, maka jangan harap! kau akan berhadapan denganku!” Zain tampak serius dengan ancamannya.

Belum sempat Karan membalas pernyataan Zain ketika tiba-tiba Aliya muncul dari belakang Zain.
“Karan?! Itu kau?!” Aliya kini antusias menyambut Karan, ia hampir menyampari Karan dan memeluknya, namun Zain segera menghalanginya dengan lengannya.

“Karan? Bagaimana kau bisa sampai ke sini?” Aliya melanjutkan pertanyaannya, pandangannya berbinar-binar melihat Karan.
“cinta yang membawaku datang ke sini,” Zain ingin sekali meninju wajah Karan mendengar jawaban ambigu dan provokatifnya.

“Aku datang ke sini bukan untuk Aliya, tapi untuk saudaraku dan keponakanku yang sebentar lagi akan lahir,” lanjut Karan seakan tak peduli dengan kemarahan Zain. Dan kini Zain dan Aliya dibuat bingung.

“Saudara? Keponakan?” Tanya Aliya.
“Aliya, Kau tidak memberitahu suamimu siapa yang menyumbangkan darahnya waktu dia kecelakaan dan menyelamatkan hidupnya?” sindir Karan.
“Yaa.. tentu saja! Zain aku sudah memberitahumu kan?” Kali ini Zain melunak, ia jadi salah tingkah sendiri, mengingat orang yang ia maki itu, ia berhutang nyawa padanya.

“I..iyaa.. terima kasih banyak untuk itu, jadi kau mau kesini untuk mengambil darahmu kembali?! Baiklah ayo kita ke palang merah sekarang! aku akan mengembalikan darahmu dari tubuhku!” Karan dan Aliya terkekeh geli mendengar ucapan kekanak-kanakan Zain yang mungkin tak ia sadari.

“Lalu apa hubungannya dengan saudara dan keponakan?” Aliya melanjutkan pertanyaannya, penasaran dengan maksud Karan,
“Di dalam darah Zain, itu mengalir darahku, kami sudah jadi satu darah, berarti dia sekarang adalah saudaraku,  dan otomatis anak yang kau kandung itu adalah keponakanku bukan?!” Aliya mengangguk setuju, sementara Zain hanya mendesis sinis mendengar pernyataan konyol Karan tapi jika dipikir-pikir ada benarnya juga.

Dengan alasan sedang liburan, Karan memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Bhopal dan tentunya menginap di rumah Zain dan Aliya, ia berencana akan di sana sampai Aliya melahirkan, ia benar-benar memegang teguh prinsipnya bahwa, Zain adalah saudaranya dan anak yang dikandung Aliya adalah keponakannya. Aliya tentu senang, dia jadi tidak kesepian saat Zain bekerja di kantor, Karan adalah teman mengobrol yang asik, namun seperti biasa awalnya Zain menolak dengan berbagai alasan, tapi akhirnya ia mengalah karena tidak punya alasan kuat untuk menolak Karan.

seminggu kemudian

Aliya dan Karan sedang asik bermain catur di depan rumah, tawa keceriaan tak luput dari wajah mereka, sementara Zain masih sibuk bekerja di Kantor.

“Hahaha… jadi sekarang kau sudah mendapatkan kekasih baru?” Tanya Aliya seraya memindahkan salah satu pion caturnya.
“Yaa, aku mana betah sendirian lama-lama,”
“Siapa dia? Darimana asalnya? Apakah dia seorang selebriti juga?” Aliya menyerocos penasaran,
“Kau bertingkah seperti Ibuku Aliya, nanti saja aku perkenalkan di acara pertunangan kami,”
“Pertunangan? Scepat itu kau mau menikahi gadis yang beru kau kenal,” Karan tersenyum, Aliya benar-benar tampak seperti Ibu-ibu cerewet yang mengintrogasi anaknya.
“Kau saja bisa menikah dengan Zain dalam hitungan hari kenapa aku tidak bisa?”
“Csh! Jangan samakan kami, ini yang namanya Rab Ne Bana Di Jodi, haha”
“Haha! Yaa.. Kau tenang saja, aku sudah mengenal dia sejak lama, hanya saja kami saling jatuh cinta dan memutuskan menjalin hubungan baru sekarang, dan aku rasa dia wanita yang tepat untukku,” mendengar itu, Aliya lega dia justru kini menyelamati Karan.

“Auww! Karan.. anakku menendang keras sekali, aku sampai kesakitan!” Ucap Aliya tiba-tiba menghentikan permainan mereka, namun ia masih tersenyum.
“Benarkah? Dia pasti akan jadi jagoan hebat nantinya seperti pamannya, hahaha” Karan tergelak, namun tawa itu seketika sirna ketika melihat raut wajah Aliya berubah tegang, ia mulai pucat pasih.

“Karan, perutku.. sakit sekali!” keluhnya, dan seketika Karan panik.
“Benarkah? Apakah ini sudah saatnya?!”
“Sepertinya begitu,” Aliya mengangkat sedikit roknya dan melihat cairan bening sudah mengalir hingga kakinya, ketubannya sudah pecah, menandakan status persalinannya kini sudah gawat darurat

“Aliya.. kau benar-benar akan melahirkan! kita harus segera ke rumah sakit!” Karan panik, lalu memanggil Kakek Nandhi dan Nenek Kaali, lalu dengan sigap segera membawa Aliya ke rumah sakit.

*****

Kini Karan sedang mondar mandir panik di depan ruang persalinan menunggu Aliya yang kini sudah ditangani dokter. Tak lama kemudian, Zain muncul dan berhenti di depan Karan dengan nafasnya yang tersengal-sengal usai berlari kencang.

“bagaimana keadaan istriku Aliya?” Tanya Zain dengan nafasnya yang memburu.
“Dia sudah di dalam, sebentar lagi dia akan melahirkan,” jawab Karan ketar-ketir.

Sesaat kemudian seorang dokter muncul dari balik pintu ruang bersalin,
“Tuan, apakah anda suami dari nyonya Abdullah?” Tanya sang dokter malah kepada Karan, dan itu sedikit banyak membuat Zain dongkol, padahal dokter itu tidak salah karena yang ia tau Karan lah yang membawa Aliya ke rumah sakit.

“Dokter, aku yang suaminya! Aku Ayah dari bayi itu,” Zain tak mau mengalah
“Silahkan masuk Tuan, istri anda sedang membutuhkan anda,” Zain lalu ikut masuk ke dalam dan menemani Aliya melewati proses persalinannya.

Dalam masa persalinan yang mendebarkan itu, kini dengan mata kepalanya sendiri, Zain melihat perjuangan besar istrinya, dalam kepanikannya melihat kesakitan Aliya, ia genggam tangan wanita yang paling dicintainya itu erat, ia seka keringat yang mengalir di dahi istrinya itu dan sesekali ia kecup  keningnya penuh sayang dan ia bisiki kalimat penyemangat.

****

“Selamat! Bayi anda laki-laki Nyonya, dia sangat tampan!” ucap seorang suster seraya tersenyum, ia membawa seorang bayi dalam bedongan di tengah-tengah keluarga yang sudah hadir mengelilingi pembaringan Aliya,  di sana sudah berkumpul seluruh keluarga dari Mumbai, bahkan Chand Bibi pun tak ketinggalan, mereka begitu tampak bahagia dan sumringah melihat anggota baru di keluarga mereka telah lahir.

“Berikan bayi itu padaku,” pinta Zain sebelum sang suster memberikannya pada ibunya. Meski tadi sudah meng-adzan-kannya sewaktu pertama kali keluar, tapi Zain tetap ingin menjadi orang pertama yang menggendong putra kecilnya itu.

“Pelan-pelan Tuan, anda harus meninggikan sebelah lengan anda di bagian kepala,” sang suster tampak khawatir tidak yakin akan keahlian menggendong Zain. Setelah memperbaiki posisi gendongnya, Zain tatap lekat-lekat wajah bayinya mungilnya yang kini terlelap dengan penuh haru.

Tadi saat meng-adzan-kan ia sudah melihat mata bayi yang terbuka itu sangat mirip dengan mata hazel indah milik ibunya, namun kini yang ia lihat putra kecilnya itu begitu mirip dengannya, dagu dan dan hidungnya sama persis, ia bisa membawangkan dirinya dulu sewaktu masih bayi. Ia ciumi wajah bayinya itu dengan penuh keharuan dan kebahagiaan, hingga ia lupa rasanya kesedihan.

“Sayang.. ini putra kita,” Zain menunjukkan wajah bayi yang masih dalam gendongannya kepada Aliya dengan senyum percampur tangis bahagia
“Putra kita…?” Aliya yang kini bersandar lemah di tempat tidur menatap wajah bayinya, ia pun tak mampu membendung air mata harunya. Zain kemudian memberikan Zain Junior kepada ibunya,

Tak henti-hentinya Aliya menatap haru buah cintanya dengan Zain itu
“Dia mirip sekali denganmu,” lirihnya lagi. Ia kecup dahi bayi mungil itu dengan segenap jiwanya.
“Zain… aku akan memberi dia nama Zain Abdullah,” ucap Aliya, sedikit mengagetkan semua orang, aneh sekali Aliya menamakan bayinya persis seperti nama Ayahnya.

“Sayang, kenapa namanya harus sama persis denganku?” Tanya Zain mewakili pertanyaan semua orang.
“Karena aku ingin bayiku seperti ayahnya,” ucap Aliya tersenyum, sambil memainkan hidung mungil putranya.
“Kalau begitu kita beri dia tambahan nama Junior, Zain Abdullah Junior,” tambah Zain, dan kali ini semua orang tersenyum setuju dengan nama itu, nama seperti itu cukup lazim di kalangan masyarakat dunia, banyak orang-orang hebat yang menamain anaknya sama persis dengan nama ayahnya.

Aliya tau semua orang menantikan mendapat giliran menggendong bayinya, namun baginya orang terpenting yang harus mendapatkan kehormatan itu tak lain adalah Karan.

“Ini Paman Nak,” lirih Aliya, seraya menyerahkan bayi itu kepada Karan. Karan yang agak terkejut, tampak kikuk menerima bayi Zain Junior ke dalam gendongannya.
“dia mirip sekali dengan Ayahnya,” kali ini Karan berkomentar secara objektif, seraya memandangi wajah Zain Junior, membuat Zain tersenyum bangga.

“Aliya Karan Tacker…” lagi-lagi Karan mengeluarkan pernyataan yang bersifat ambigu dan membuat semua orang bertanya-tanya.
“Kelak.. jika aku punya anak perempuan, akan kuberi dia nama ‘Aliya’, dan akan aku buat Zain kecil ini jatuh cinta pada Aliyaku,”

The End

Hefft Finally!! *tebar bunga kamboja* kelar jugak nih Fan Fict! legaaa syalalala makasih banyak buat semua teman2 yang sudah mensupport karya saya yang masih banyak kekurangan inihh, yang gak bisa gue sebutin namanya satu persatu, yang bantuin bikin cover, yang rajin ngebedah tiap chapternya, yang ikut promoin, yang baca dan ngekomen berulang-ulang, yang rajin ngebombardir walaupun kadang nakutin, yang setia menunggu, terlebih lagi untuk yang suka ngekomen panjang lebar dan menyemangati, for all Beintehaa Fans dan semua-muanya, pokoknya yang ngerasa ikut andil dalam fan fict ini kalian luar biasaaaa, you rock man! You the real MVP. tengkyu somad dah pokoke

Pelajaran moral dari Fan Fict ini adalah, JANGAN JADI SIDER, JADILAH PEMBACA YANG BIJAK, HARGAI PENULISNYA. Harapannya semoga reader yang selama ini bungkam dimudahkan ngekomennya, biar gue bisa menyadari keberadaan kalian di dunia yang fanah inih

Buat The next Project entahlah… mau liat situasi dan peluang dulu . 😆😆 yang jelas eke mau piknik dulu chiinnn,

NB: Yang tau kontaknya penerbit tolong kabarin eke yeey. Hihihi

bye bye manjah deeehh

Advertisements

36 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya Chapter 10B (ENDING)

  1. Keren dek cerita happy endingnya, sumpeh aq pgn bgt minta ttdmu, takut keburu km jdi penulis terkenal kan jadi susah minta nya, hehehe,,,makasih jg udh bkin cerita “seindah” ini…aku suka suka suka banget…karyamu patut di apresiasi…q tunggu karyamu lainnya …❤💙💚💛💜💗💞💝💖💕

  2. WOW 👏 kisah happy ending yang luar biasa 😍 terharu dengan Zain yg jadi suami siaga,,pingin deh ntar klu pnya suami kyk Zain Abbdullah 😂 #ngarep okehhh kak kererennn bingittttt maksih buat Fan Fict nya,,bhohot sukriya 😍😘👏 terus berkarya kak nisa I lope u pulllll 😄😘

  3. Hmmm…jd ga ada chapter 11 nya niihhh,,,???
    Tp makasiihhh bngtt ya,,ini jd obat rindu yg mujarab sm mereka berdua…
    And cerita nya menarik & bagus bngttt…
    Terus berkarya ya…

  4. Ulalaaaaaaaaa secaaatttaaaaaaaaaaaaassssss bgt 😍 ditunggu smga kisah ank2 mrkaaa bisa di lanjtkan 😍 aahaaaa tp siapa ya cucok jd pemeranx ??? Smga ga sprti yg tunglala disblh akakkakakaakakakak

  5. Waaaah masih tetep nangis bacax 😂 Akhirx happy ending…Legaa bgt.Makasih jg telah menemani hari2 q …..muah💋💋cipok terbang 😘😘.Sekali lg TERIMA KASIH FAN FIC X KEREN 👍👍👍. I 💝 U

  6. Happy ending 😍 keren fan fict nya 👍👍👍 thanks buat sang penulis yg udah mengobati rindu bagi harshika/zaaya lovers.. ditunggu karya selanjutnya

  7. Kereeen…..keren bgt, makasih buat ceritanya, yang sudah sangat menghibur dan membuat saya seperti org jatuh cinta , slalu menunggu hasil karya tulisan mu neng nisa di setiap chapternya, smoga sukses dan slalu terus berkarya,

    pengen minta tanda tangannya bener kata wingkinav, soalnya kalau sudah terkenal ntar susah, mau minta nya😀😀

    Sukses slalu😘😘😘😘

  8. Finally,.. It’s Happy ending so sweet love story… Atmofsirnya Serasa lihat film di bioskop dan setelah berakhir… kok cepet ya… mo pingin lagi nech…please mbak nis yg cantik super duper keren muslimah sejati bikin next story nya dounk… biar kayak film spiderman ada season 1,2,3, Thanks For all, thumb up, well done… Very brilliant story to be appointed at the movie theaters bollywood. 😛

    • Happy ending keren fan fict nya thanks buat sang penulis yg udah mengobati rindu bagi harshika/zaaya lovers…pokonya keren abis deh sm cerita selalu buat orang2 pada rasa baper dan selalu bikin orang2 pada penasaran dngn ceritanya oh iya jangan lama2 yah pikniknya…. ditunggu karya selanjutnya

  9. Huaaaaaa ka nisa kok aku gk rela nih funpict End yah hikkkksssss.. bener2 menggagumkan karya ka nisa … aku bahkan bisa membayangkn setiap adegan dan raut wajah dri casts nya…
    Btw…… di next dong ka funpict yg lain nya… aku menunggu nya hehehhehe aku selalu syuka … love for the love Kak Nisa.. :*

  10. Alhamdulillah happy ending, thank’s buat authornya yg sudah memberikan hiburan dgn karya fantastisnya ini 😉. Maaf kalo sering ngebombardir dan bikin rusuh di twitter 😁😁, karena kami sangat menyukai dan menantikan part2 selanjutnya. Terus berkarya vrooooh, selamat piknik dan segera menemukan ide baru untuk Fanfic lainnya. 😘😘😘😘

  11. suskses selalu y mbak… semoga msih bnayk ide2 brilliant yg nempel d memori untuk terus berkarya… semoga anda kelak bisa jadi penulis yg hebat.. salm sukses mbk nisa Allah Hafidz..

  12. akhirnya 😭😭
    tamat 😭😭
    kenapa tamat 😭😭

    btw, 👏👏 kerreeenn 👏👏👍👍
    sukaaaa banget 👌

    aku irii ih sama kebahagiaan aliya zain 😆😃😄

    pengen ketemu sama lelaki yg seperti zain 😂😂✌✌

    karyamu memang t.o.p b.g.t dan jeung 👍👍

    sumpah bagus bgt,
    kisah yg indah banget 😭

    ngikuti dr awal hingga akhir,
    jd berasa kisah yg sgt indah,
    bnr bnr jodoh tak terduga 😍😍

    akan selalu menunggu karya karya hebatmu selanjutnya 😉👌

    tapi,
    tridha kemana ya?? 😃😄
    aku kira akhirnya nikah dg karan 😂😂✌✌
    ternyata meleset 😄😃😁

  13. Terkuak sudah semuanya…rahasia dibalik hubungan aliya dan zain, usman dan keluarganya, usman dan aliya…bener2 klimaks part ini. Semua pertanyaan yg muncul sudah terjawab. Ternyata aliya adalah cinta masa kecil zain to…ulalalala…
    Zain bener2 suami siaga…selalu siap dalam kondisi apapun…bahkan saat persalinan pun dia selalu siaga…sosok suami yg ideal…
    Berawal dr cinta masa kecil yang tak disadari karena benci yang teramat sangat hingga menjadi dendam…sampai akhirnya perlahan tp pasti cinta itu tumbuh lagi…drama india dengan rasa korea…top markotop good marsogood…two thumbs untuk authornya…
    Ditunggu karya2nya yang lain… 😉

  14. Semoga ada kelanjutannya.
    Sukses selalu bikin pembaca baper baper dan baperrrrr
    Sampai eke scren.supaya kalo gak punya kuota tetep bisa baca.
    Makasih bangettt lengkap sudah ceritanya…kagak ngegantung.
    Muachhhhhhh

  15. Keren top markotop mbak. Puinter bbanget nulisnya. Jadi penulis buat novel ato apalah biar dunia tahu siapa dirimu!! Hehe 😆😆😆😆😆😅

  16. terhura,sneng snyum sndri ngeliatny,,happy ending bgt crtany bkin deg2 ser jg,,next project dilnjutin say ffny.. 😘😘👌

  17. Baru x ini komen krn mw tw cerita dari awal ampe ending nya gmn dan kesindir juga dibilang sider wahahahh, ternyata fanfict nya cetaarrr sekaleee, ceritamu bisa membuat org berimajinasi dengan kata2 penulisanmu cyiinnnn
    Oke fix nice job buat mu
    Horas bah 🙂

  18. mewek lagi deh,, habis baca novel best seller,, kelak kamu akan jadi penulis yg terkenal kawan jika kamu bersungguh-sungguh,, good job 🙂 tulisanmu memberikan semangt kepadaku, sebagai anak sastra

  19. Double wow wow , triple top top top , 10 jempol dehh kalo bisa buat kakak, salut nih sama hasil karyamu kak , author berbakat yuk buatin novel and film kak wkwkkkw, semangat terus ya kak, top banget trh fan fictnya, gue kaget plus seneng bgt diluncurinnya cepet gua kira mah udah minggu depan, so happy ending after forever bahahaha, mengharukan bangettt kak, aku udh ngikutin dri part 1 smpe sekarang, veryy veryy amazingg dehh kagak bisa ngomong apa lagu saking kelewat bagusnyaaa, heuhh kak ditunggu next projeknya ehehehe , makasi bangett ya udh ngibur, yah udh ending nihh jdi sepi deh gaada yang gue tunggu tunggu lagi mah, bisa bisa baca ulang dari part 1 mah ini kalo lagi bosen wkwkwkw, yang pasti makasi atasss perjuangan kakak selama ini eaaa yang sudah bersusah payah membuat cerita semenakjubkan ini, semangat terus buat next projeknya aku selalu jadi reader setiamu kak, sukses terus ya kak, salam manis dari akuuu, so muchhhhhhh fullyyy loveeeee 😘😘😘😘😘💓💓💓💓💓💓, kagak bisa komen lagi dah yang pasti ditunggu bingit next projek, tag me di facebook ya qaqa, keep fighting 😚😚

  20. Aku tunggu karya2mu selanjutnya… Terima kasih karena telah menghiburku dg krymu. Sungguh karya yg tk trkira. Semoga nm zaaya bkn hanya happy ending d dlm sebuah cerita, tp akn brstu slamanya d dunia nyata #brhrpplusmaksahahaha*

  21. Tq bgt buat authornya BI love story zaya choirunnisa sumpah gw sedih bgt mau pisah sm sedihnya wktu sinet BI on antv berakhir,jujur loe ud menghibur bgt mg byk pahala ats kesuksesanya bikin happy para reader,mg next loe bs jd penulis novel trs bisa on screen dn yg main semuanya harshika amin,good job nisa di tgu karya selanjutnya ttg harshika love u polllllll

  22. Tq tq tq bgt buat authornya chairunnisa keren top bgt,ud bikin happy para reader mg dpt jodoh seperti zain abdullah,di tgu y next karya ttg harshika pastinya so sweet and nice to meet you in funfict

  23. Wah… ✔ sip dah… makasih udah hibur aku selama baca fanfict ini, jangan dihapus dari blog yah… nanti air mata gue jadi seembernih… Chapter 11 nya donk… hahaha… nggak nggak, udah ah… ditunggu karya karya selanjutnya.!!!!!

  24. Thanks ya thor, udah menghibur hati semua BL dengan capek2 buat cerita ini… Kangen sm zaaya sedikit terobati..ditunggu karya selanjutnya yaaa

  25. ko cerita cincin yang dibawa zain pas kecelakaan ga dilanjut mba,….?
    apakah ada seseorang yang menemukannya???
    tapi ga mengurangi keseruan cerita ini kok….
    sukses mba ya,…..

  26. Baru tau kalo ternyata, ehm ehm ehm membantu persalinan. Sumpah deh ini bikin imajinasi liar menerawang jauh, maaaaaakkkkkkkkkk pengen dikawinin.

    Dan ehm, terjawab sudah kenapa ustman abdullah care sama aliya. Dlu awal baca, msh rada aneh koq segitunya ngorbanin keluarga sendiri demi anak temen ternyata ada masalah kutang piutang nyawa disini.

    Idenya karan buat namain anakna “aliya” keren. Berarti ntr zain dewasa punya mammu khi bhanji yaitu aliya karan tacker. Hah.

    Adegan mesum disini bikin ketawa sendiri, dan ngences berkepanjangan mbk. Cool. Ur sexy.

    Pengen deh nge-print ini dr awal part sampe ending lalu ketemu sama mbk nisa dan minta ttd.

    Good luck mbak. Thank u. Muaaach.

  27. Wow wow wow!!! Critane keren bgt mba nisa!! Kite2 blm tw dg nasib ny tridha dan karan… Ga mungkin si tridha ngilang gitu aj.. Ayolah mbaaaa season 3 😉 hehehe..
    All the best for you!! 😀

  28. Kereeeeennnnn bingit mba…wah bakal kangen baca karya nya mba nis nih…kalo bisa ch lanjutin ya mba kisah cinta anak nya aliya sama karan..pasti seru…di tunggu karya2 nya..mbae..pokoknya mba nis..is the best dah…….mmmmuuuuaaacchhhhh buat mba nis.. sukses selalu ya mba

  29. Finally happy ending yeeaaaayy 😙😙
    Kuereeeen bisa bikin fan fict kaya gini 👍👍👍👍👍
    Author bs buat pembaca baper & masuk ke dlm cerita utk ikut berimajinasi bersama 👭👭👭
    Syeediiih krn ga ada lg yg ditunggu2 buat dibaca 😓 Berharap akan ada next ff nya atau fakta harshika yg lain 😅😅😆😆
    Terus berkarya yaaa dan moga ntah kapan akan jd penulis hebat yg terkenal di nusantara bahkan sampai mendunia 🙇🙏
    Thank you & Good Luck 😘😘

  30. Selamat mbak bisa udh nyelesaian sampek ending ..
    Semangat yak buat bikin season 3 . Hahaha .
    Mksih bingit dah menghibur sampek chapter 10B . Lup mbak nisa . Muachhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s