Fated (Chapter 3)


image

Judul    : Fated

Author   : Choi Runnisa

Genre    : Drama, Romance, Comedy n Family

Casts     :

    • Super Junior Kyuhyun as Cho Kyuhyun
    • SNSD Sooyoung as Sooyoung Cho Kyuhyun
    • TVXQ Changmin as Shim Changmin
    • T-Ara Jiyeon as Park Jiyeon
    • Other Casts: Find in The Story

    Located  :

      • Korea Selatan (Seoul, Busan)
      • Indonesia (Jogjakarta)]

      Eps Numb : 10 Parts

      Berhubung Author hanya manusia biasa yang gak luput dari salah dan lupa maafkeun kalo typo bertebaran, bagi readers yang menemukan kekeliruan, jangan segan untuk menegur dan ngasih masukan. Happy reading

      Fated PART 3

      Kyuhyun menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar, ia baru saja meninggalkan seorang gadis sendirian di tengah jalan, di tempat prostitusi, apa yang terjadi padanya sekarang??

      Kyuhyun mulai panik, ia sudah melupakan tujuannya, padahal tinggal selangkah lagi dia akan mencapai tujuannya datang ke Jogja untuk menemukan ayahnya, tapi kini ia tak perduli lagi, untuk saat ini hal yang terpenting adalah menyelamatkan Sooyoung. Karena dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada gadis itu, yaa.. untuk alasan yang kurang masuk akal, ia memang membencinya, tapi di lain sisi ia juga tidak bisa membiarkan gadis itu berada dalam bahaya, apalagi karenanya.

      Kyuhyun meninggalkan tempat itu, ia mengambil langkah seribu dan kembali menelusuri jalanan yang tadinya ia lewati dan kembali ke tempat dimana terakhir kali ia meninggalkan Sooyoung. Sesampainya di tempat remang itu Kyuhyun tak menemukan Sooyoung, tidak seorang pun ada di sana.

      Dengan rasa panik yang menjadi-jadi Kyuhyun berteriak memanggil nama Sooyoung, namun tak ada jawaban, Kyuhyun terus mencari seraya memanggil-manggil nama gadis itu namun tak kunjung terjawab hingga ia mulai frustasi.
      “Sooyoung kau dimana?” Kyuhyun mulai putus asa, segala pikiran tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi sudah berkelabat dalam benaknya, Sial!! Gadis itu adalah gadis pertama yang membuatnya uring-uringan seperti orang gila begini.

      Sejurus kemudian ia menemukan sesuatu, sebuah syal biru muda tergeletak di jalanan. Kyuhyun tau itu adalah milik Sooyoung, ia menunduk bermaksud memungut benda itu, dan ketika ia menunduk ia menemukan sesuatu yang berharga di balik tong yang ada di sampinganya, dinaungi keremangan lampu solar cell, Kyuhyun dapat mengenali sosok itu walaupun dalam kegelapan.

      Dia adalah Sooyoung yang ia cari-cari, gadis itu meringkuk ketakutan dan menenggelamkan wajahnya di kedua pahanya. “Sooyoung-ssi!” panggil Kyuhyun pelan seraya berjongkok mengimbangi posisi Sooyoung yang masih meringkuk kaku.

      Kyuhyun menyentuh kedua bahu gadis itu dan menegakkan tubuhnya, tubuh Sooyoung lunglai tak berdaya,
      “Sooyoung kau kenapa? Apa yang terjadi?!” Seru Kyuhyun khawatir. Gadis itu tak menjawab, Kyuhyun kemudian menyentuh wajah Sooyoung dan memandangnya lekat-lekat, wajah gadis itu basah digenangi aliran air mata, wajahnya putih pucat seperti kapas.

      “Sooyoung katakan ada apa?” Tanya Kyuhyun lagi.
      “Appa… Appa…” Sooyoung meracau setengah sadar. Ia masih barada dalam bayangan ketakutan itu.
      “Ayah?”
      “Ayah… jangan tinggalkan aku” Sooyoung masih meracau, air matanya semakin tumpah ruah. Kyuhyun menarik tubuh Sooyoung ke dalam pelukannya bermaksud menenangkannya, namun tangis Sooyoung semakin menjadi.
      “Maafkan aku…” lirih Kyuhyun, masih memeluk tubuh ramping Sooyoung.

      Kyuhyun tau keadaan Sooyoung tidak memungkinkan untuk berjalan dengan kakinya sendiri. Kyuhyun menggendong tubuh Sooyoung dan membawanya keluar dari komplek itu.

      Karena sama sekali tidak tau alamat tempat tinggalnya, Kyuhyun terpaksa membawa Sooyoung ke kamar hotelnya, ia meletakkan Sooyoung yang tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Sesaat Kyuhyun tertegun menatap Sooyoung yang kini terlelap dan tak sadarkan diri, ia selimuti tubuh gadis itu hingga menyisakan kepalanya saja, sejurus kemudian ia singkirkan helai demi helai rambut yang menutupi wajah gadis itu hingga tampak jelaslah wajah cantik nan polos tanpa sapuan make up itu, sesaat ia menatapnya lekat-lekat, hingga membuatnya terpaku hingga sepersekian detik.

      Kyuhyun mulai tidak nyaman dengan perasaan yang perlahan-lahan menelusup ke dalam sanubarinya, segera ia abaikan perasaan aneh itu dengan segera menjauh dari gadis itu.

      Kyuhyun terpaksa tidur di sofa, karena kedua tempat tidur yang ada di kamar itu telah dihuni oleh Minho yang sedang tertidur pulas usai minum obat, sementara tempat tidurnya sendiri sudah dihuni oleh Sooyoung dan ia tidak mungkin tidur disana meski tempat tidurnya cukup lebar jika hanya dihuni oleh dua orang.

      ****

      Sooyoung terbangun tepat ketika adzan subuh dari sebuah surau tak jauh dari hotel berkumandang, ia terlonjak dari pembaringannya, ia merasa seperti sudah melewatkan sesuatu yang sangat penting.

      Sooyoung sempat kaget mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang bukan kamarnya atau rumah sakit tempat ayahnya dirawat, namun Ia kembali teringat kilasan-kilasan kejadian semalam, ketika Kyuhyun memaksanya untuk memandunya ke tempat yang tak ingin ia datangi itu, saat ia bersembunyi di balik tong ketika melihat tiga pria yang sama sekali tak ingin ia temui lagi, lalu kilasan tentang kejadian mengerikan yang menimpa ayahnya, hingga saat semuanya terasa gelap dan ia akhirnya tak sadarkan diri.

      Bersamaan dengan itu, Kyuhyun pun ikut terbangun, ia melihat Sooyoung yang tampak linglung dan mendatanginya.
      “kau baik-baik saja?!” Tanya Kyuhyun, Sooyoung sesaat bingung, melihat sikap lembut dan perhatiannya itu benar-benar terlihat aneh.

      “Kau? Kenapa kau membawaku ke sini? aku.. aku seharusnya menjaga Ayahku sekarang,” jawab Sooyoung tampak panik, perasaannya benar-benar tidak enak setiap kali mengingat Ayahnya yang entah bagaimana keadaannya sekarang setelah ditinggal semalaman.
      “Aku tidak tau dimana rumahmu, jadi aku membawamu ke sini,”
      “Aku.. aku harus pergi sekarang, Ayahku pasti sedang membutuhkanku!” Sooyoung berusaha bangkit dan ingin pergi namun Kyuhyun menahannya.

      “Kau istirahatlah dulu, aku akan mengantarmu nanti,”
      “Kau menyuruhku untuk tinggal lebih lama lagi disini?! Apa kau pikir aku masih sudi tinggal sedetikpun dengan orang sepertimu?! Yyaa.. Cho Kyuhyun! Apa kau seburuk ini?! Kenapa kau suka sekali membuatku menderita? Kau selalu saja berbuat semaumu, kau meminta ini itu dan menyulitkanku, kau membuatku terpaksa harus bangun pagi-pagi sekali, kau juga membuatku harus keluar malam dan pergi ke tempat yang sama sekali tidak ingin kudatangi dan membuatku hampir mati karena ketakutan! Kau juga membuatku harus meninggalkan Ayahku sendirian di malam hari, gara-gara permintaan tidak masuk akalmu itu aku tidak bisa merawat ayahku dengan baik dan sekarang kau ingin aku tinggal lebih lama?! Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini Cho Kyuhyun? Apa salahku padamu?!!” Cecar Sooyoung histeris, ia benar-benar sudah tidak kuasa lagi menahan segala amarah yang membuncah di dalam dadanya, ia menatap Kyuhyun dengan tatapan berapi-api dan dengan air mata yang mengalir deras.

      Sementara Kyuhyun hanya bisa terpaku, ia membeku tak mampu berucap, ia tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya, bahkan walaupun hanya mengatakan maaf saja ia tak mampu meski ia begitu ingin.

      “Sekarang aku tidak mau lagi, aku tidak akan pernah lagi menuruti kemauanmu, lebih baik aku mati daripada harus menjadi budakmu, bahkan aku tidak ingin lagi melihatmu, aku hanya ingin merawat ayahku, jadi kita akhiri saja hubungan kerja ini, aku tidak akan lagi melayanimu, jadi lebih baik kau cari saja tour guide lain yang bisa kau perlakukan seperti budak,” setelah menyerocos tanpa jeda dan merasa sudah puas meluapkan segala isi hatinya, Sooyoung akhirnya melangkah pergi dari hadapan Kyuhyun.

      Kyuhyun masih membeku di tempatnya, ia tak bisa lagi menahan kepergian Sooyoung meskipun ia begitu ingin, rasa bersalah yang begitu besar bercampur gengsi dan keangkuhan dalam diri yang sulit ia buang membuatnya tak bisa melakukan apapun untuk menahan kepergian Sooyoung apalagi memohon padanya.

      ****
      Sesampainya di rumah sakit, Sooyoung tidak menemukan sang Ayah di ruangannya.
      “Appa? Appa!!” Gadis itu mulai panik, panik yang berlebihan, ia mencari Ayah nya ke seluruh sudut ruangan bahkan ke kamar mandi meskipun itu sama sekali tidak masuk akal. Firasatnya tentang ayahnya sejak bangun tidur tadi membuat ia benar-benar khawatir, segala pikiran tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi sudah berkelabat dalam benaknya, bagaimana kalau ayah sudah…

      Ah.. Tidak! Itu tidak mungkin! Otak Sooyoung mencoba untuk membantah firasat buruknya. Dengan perasaan yang kacau, buru-buru ia berlari ke pusat informasi Rumah sakit.
      “Suster!! Ayahku! Dimana Ayahku? Kenapa dia tidak ada di kamarnya??!” Sooyoung menyerocos kepada dua suster yang berjaga.
      “Maksud anda Tuan Cho Jino?”
      “Iya Suster, dia ayahku!! Dimana dia sekarang?!”
      “Ayah anda sudah dipindahkan ke ruang ICU, semalam keadaannya mendadak kritis”
      “A..apa? Ayah kritis?”
      “beruntung kami segera menemukannya, kami terpaksa memindahkannya ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif,”

      Sooyoung benar-benar sedih sekarang, air matanya tak terbendung sudah, ia menyesali diri telah meninggalkan ayahnya dalam keadaan parah, andai saja semalam dia tidak pergi dan menjaga ayahnya mungkin saja ayahnya akan baik-baik saja, Sooyoung tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang lebih buruk kepada Ayahnya, satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.

      ****

      “Ayah anda harus segera dioperasi,” ucap Dokter Rian kepada Sooyoung.
      “O.. operasi?” Sooyoung tergagap kaget.
      “Gumpalan darah di kepalanya sudah mulai membeku, itu akan membuat beliau koma dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi dan itu akan berdampak kepada jaringan saraf motoriknya, Ayahmu akan lumpuh total dan kemungkinan untuk bangun dari koma nya akan semakin kecil. Operasi adalah jalan satu-satunya, tapi operasi ini pun sangat beresiko, hanya akan ada dua kemungkinan, jika berhasil Ayahmu akan bisa bangun lagi, tapi kemungkinan besar beliau akan lumpuh, tapi jika gagal, maafkan aku Sooyoung, mungkin dia tidak akan pernah bangun lagi, kita kembalikan semuanya kepada Tuhan,” lagi, Sooyoung hanya bisa meneteskan air mata kepedihan mendengar kondisi ayahnya yang sudah semakin parah, ucapan Dokter Rian terus menggema di telinganya, selama ini ia berusaha untuk tetap tegar, ceria dan begitu bersemangat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah karena ia percaya ayahnya akan segera bangun dari tidur panjangnya, tapi sekarang harapan itu perlahan mulai sirna, ia sudah hampir putus asa.

      Sooyoung mendatangi sebuah gereja, disana ia memanjatkan do’a untuk ayahnya dengan penuh kekhusyukan, ia percaya prediksi dokter manapun tidak akan berarti apa-apa jika Sang Kuasa berkehendak lain. Ia tau Tuhan menyayanginya, Dia tidak akan mengambil satu-satunya orang yang ia miliki dan membuatnya sendirian, ia tau Tuhan selalu bersamanya. Usai berdo’a gadis itu merasa lebih tenang dan dapat berpikir dengan jernih, yaa… dia tidak boleh berlama-lama bersedih, jika ia hanya berdiam diri dan larut dalam kesedihannya, bagaimana ia akan menemukan harapan akan kesembuhan ayahnya??

      Yaa… Ayah harus dioperasi, dan Ayah Jino pasti akan bangun lagi untuknya. 300 juta rupiah, uang yang ia harus dapatkan dalam waktu singkat sebagai biaya operasi ayahnya, ia harus dapatkan dimana uang sebanyak itu? Ia bahkan belum menadapatkan honor apapun dari Kyuhyun, menurut perjanjian, honor itu akan dibayar setelah satu bulan, yakni setelah masa kontrak kerja sama antara tour guide dan turisnya usai, namun Sooyoung sendiri lah yang memutuskan kontrak itu secara sepihak tanpa sudi mengambil apapun.

      Dan sekarang Sooyoung agak menyesal, darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu, terlebih lagi sekarang dia sudah tidak bekerja? Tapi tidak! Harga diri Sooyoung tak mengizinkannya untuk menyesal telah memutuskan hubungan kerja dengan turis gila itu.

      “Aku lebih baik jadi pengemis daripada memohon padanya untuk kembali menjadi tour guidenya!” Sooyoung berdialog kepada dirinya sendiri. Dia optimis, walaupun sulit, Tuhan akan membantunya, dia akan segera mendapatkan uang itu dan bisa mengoperasi ayahnya.

      ****
      Sementara di tempat yang berbeda Kyuhyun bingung, apa yang harus dia lakukan tanpa Sooyoung, pemandu jalannya mencari ayahnya? Bahkan dengan menyingkirkan harga dirinya yang setinggi langit itu, Kyuhyun mencoba menghubungi Sooyoung berkali-kali, namun gadis itu bertingkah jual mahal dengan sama sekali tak ingin menjawab panggilannya.

      Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat semalam, ia harus melanjutkan penelusurannya walaupun tanpa Sooyoung dan tanpa Minho, karena sahabatnya itu terserang demam karena kurang cocok dengan cuaca di Indonesia, Minho sebenarnya bisa saja memaksakan diri untuk menemaninya, tapi Kyuhyun lah yang menyuruhnya untuk istirahat total agar bisa cepat pulih kembali.

      Dengan mengandalkan taksi dan daya ingatnya Kyuhyun akhirnya sampai ke tempat itu lagi. Suasana di siang hari jauh lebih kondusif daripada malam hari, sekilas komplek itu tampak seperti komplek perumahan kumuh biasa, tak jauh berbeda dengan komplek perumahan kumuh di Korea.

      Kyuhyun kembali menyusuri komplek dengan mengikuti arahan kertas yang bertuliskan alamat detailnya. Alamat itu tidak mudah dilacak karena tempat itu bahkan tak terlacak oleh google maps sekalipun, mungkin karena itu adalah perumahan kumuh di tanah ilegal.

      “Ehh… mas ganteng yang semalam ya? Kok balik lagi? Cari saya ya Mas?” Sapa ramah seorang wanita paruh baya berpakaian daster dengan tempelan koyo di kedua pelipisnya, Kyuhyun menghentikan langkahnya di hadapan wanita itu walaupun dia tidak mengerti apa yang dikatakan wanita itu, tidak juga ia tau apa yang harus dia katakan, tapi ia rasa wanita itu dapat membantunya.

      “Excuse me Madam, could you show me this place?”
      Kyuhyun tidak yakin apakah wanita itu bisa mengerti maksudnya atau tidak, ia hanya berusaha menunjukkan alamat serta nama lengkap ayahnya.

      “Ahh… Mister Cho yang orang Korea itu?” Wanita itu menjawab dengan bahasa Indonesia, tentu saja Kyuhyun tak mengerti apapun, tapi wanita menyebut kata Korea dan ia yakin wanita itu pasti mengenal ayahnya.
      “Do you know him?” Tanya Kyuhyun antusias
      “Not here, not here!” kata wanita itu berbekal bahasa Inggris seadanya sambil melambai-lambaikan tangannya dan menggeleng kepalanya tanda kalimat negatif yang diucapkannya, padahal Kyuhyun cukup mengerti ucapan wanita itu tanpa harus ia menjelaskannya dengan gerakan tubuh.
      “Where?” Tanya Kyuhyun berusaha memahamkan wanita itu.
      “Hospital, hospital!!” Jawab si wanita.
      “Hos… hospital?” Kyuhyun terkejut.
      “Yes yes, he is…aduh mau ngomong opo toh…?” Wanita itu mulai kesulitan mencari cara yang tepat untuk memahamkan Kyuhyun.

      Bak seorang pantomim, wanita itu pun mulai mempraktekkan segala yang ingin dijelaskannya dengan bahasa tubuh dan sedikit banyak Kyuhyun mampu mengerti maksud wanita itu, yang ia tangkap Ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena seseorang sudah melukai kepalanya.

      Wanita itu menuliskan nama rumah sakit tempat Tuan Jino dirawat, namun hanya itu, hanya itu yang dapat wanita itu informasikan. Tapi itu saja sudah cukup membuat Kyuhyun sangat bersyukur, inikah akhir dari pencariannya selama ini??

      Tapi yang menggalaukan hatinya kini, Ayahnya berada di rumah sakit? Ada apa? Apa yang terjadi dengan ayahnya? Sakit Apa? Parahkah sakitnya? Seberapa parah? Benarkah ia masuk rumah sakit karena dianiaya seseorang? Bagaimana kehidupan Ayahnya selama ini? Apakah layak? Ada begitu banyak tanya yang belum terjawab.

      Dalam kekhawatiran itu, Kyuhyun buru-buru menuju rumah sakit, baginya tidak ada waktu untuk menunda-nunda, ia tidak ingin kehilangan kesempatan itu lagi, ia tak akan membiarkan ayahnya pergi dari sisinya lagi.

      ****
      Meski baru pertama kali, Kyuhyun tidak kesulitan mencari rumah sakit itu. Setibanya di rumah sakit tempat Tuan Jino dirawat, Kyuhyun langsung mendatangi resepsionist dan menanyakan kamar atas nama Cho Jino.

      “Ahh… Mr Cho Jino?” Perasaan Kyuhyun membuncah ketika mendengar nama itu disebut ulang oleh resepsionist. Seakan asa dan harapan yang ia tanam sejak bertahun-tahun dalam dada kini patut ia semai.
      “Yeahh… Cho Jino” Kyuhyun, membeo mengikuti ucapan wanita itu.
      “Dia sekarang ada di ruang ICU….,”

      Setelah mendapatkan arahan detail dari sang resepsionist Kyuhyun pun segera menuju ruangan yang dimaksud, dari kejauhan ia melihat tulisan ICU terpampang, hatinya seketika bergemuruh, langkahnya semakin pelan, “Jadi sekarang Ayahku sedang terbaring disana?” Batin Kyuhyun.

      Dan kini Kyuhyun sudah berada di depan pintu ruang ICU, kakinya bergetar hebat saat mulai memutar kenop pintu kamar dan melangkahkan kakinya masuk.

      Setelah mengenakan baju protektif pengunjung, Kyuhyun pun menyibak tirai penyekat di hadapannya, sesaat hanya terdengar suara monitor pengecek detak jantung disana dan kini di hadapannya terpampang jelas tulisan ‘Tn. Cho Jino’ di kaki ranjang pasien. Batinnya semakin bergemuruh, rasa rindu bercampur pedih yang ia rasakan kini.

      Kini yang ia lihat, seorang pria tua dengan rambut yang didominasi warna putih sedang terbaring tak berdaya di tempat tidurnya.

      Dengan perasaan mengharu biru, pelan-pelan Kyuhyun mendekati sosok itu. Ia pandang lekat-lekat wajah yang sedang terlelap itu, ia dapat melihat sosok itu lebih dekat. Yaa… benar itu Ayahnya! ayah yang selama bertahun-tahun ia cari, bagaimana ia bisa melupakan wajah sang ayah? sosok yang paling ia kagumi sejak kecil, bahkan jika teman-teman seusianya di kala itu banyak mengidolakan sosok super hero ala film hollywood, ia malah mengidolakan ayahnya, ia selalu bangga ketika menceritakan segala kehebatan ayahnya yang menurutnya jauh lebih hebat dari tokoh Superman.

      Tapi sekarang, sang Ayah sudah banyak berubah, sungguh hati Kyuhyun merasa pilu menyaksikan ayahnya yang dulu begitu perkasa dengan otot-otot tubuhnya yang besar dan tulang punggungnya yang tegap kini tampak ringkih dan terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan kepala berbalut perban.

      Garis wajahnya yang dulu tegas menyiratkan keperkasaannya kini berganti menjadi keriput yang berdesakan menampakkan diri di wajahnya, matanya yang berkantung dan menghitam, membuat ia tampak dua kali lipat lebih tua dari usia sebenarnya.

      Kyuhyun terduduk di kursi di samping ayahnya, sedikit ragu ia meraih tangan keriput sang ayah lalu menciuminya, tak terasa air mata yang sejak tadi berusaha ia bendung kini sudah jatuh menggenang membasahi pipinya.

      Ia tempelkan tangan lemah itu di pipinya, sudah lama ia tidak merasakan sentuhan hangat itu? sambil terus meneteskan air mata haru dan kerinduan yang mendalam, untuk pertama kalinya sejak belasan tahun Kyuhyun tidak pernah menangis, Kyuhyun bahkan lupa caranya menangis, ia pikir air matanya sudah membeku sejak 20 tahun silam ketika ayahnya pergi, dia bahkan tak menangis ketika Ibunya meninggal 5 tahun lalu.

      “Ayah… ini Kyuhyun, ini Cho Kyuhyun putramu, kau mendengarku…?” ucap Kyuhyun dengan suara bergetar, lalu melanjutkan,
      “Kau kemana saja selama ini? Kau tau, selama bertahun-tahun aku mencarimu kemana-mana, aku tidak pernah putus asa mencarimu, tidakkah kau merindukan aku?…, Ayah kau dengar aku? Ada banyak yang ingin ku tanyakan padamu, jadi kumohon bangunlah…” lirih Kyuhyun tertahan.

      Dan entah inikah yang dinamakan keajaiban, kehadiran, sentuhan dan suara Kyuhyun benar-benar memberikan reaksi positif bagi tuan Jino. Perlahan dia menggerakkan jemarinya yang sejak lama mematung.

      “Ayah… kau mendengarku?!” Kyuhyun begitu gembira ketika melihat tanda itu namun sesaat kemudian tak ada reaksi lagi
      “Ayah, kumohon bangunlah untukku, kau harus melihatku, putramu ini sudah besar sekarang bahkan jauh lebih tinggi darimu” Kyuhyun mulai mendesak, frustasi.

      Untuk beberapa saat, Kyuhyun terus meluapkan segala kerinduan yang tak pernah terpenuhi, melontarkan berbagai tanya yang tak pernah terjawab dan akhirnya keajaiban itu benar-benar datang, sang Ayah benar-benar memenuhi permintaan putranya yang sudah lama tak ia temui.

      Jino bangun dari tidur panjangnya, perlahan ia membuka matanya yang sudah lama terkatup, dengan mata sayu ia pandangi wajah putranya yang kini sudah ada di pelupuk matanya, benar itu Kyuhyun. Kyuhyun putra satu-satunya yang paling ia rindukan, ia takkan pernah melupakan wajah putranya meski putra kecilnya yang nakal kini telah menjelma menjadi pria dewasa yang tampan.

      Untuk sesaat tak ada yang bisa ia lakukan selain meneteskan air matanya penuh haru dan kerinduan yang mendalam.

      “Kk.. Kyuhyun-aa” ucapnya dengan suara yang hampir seperti berbisik.
      “Yyee Aboji ini Kyuhyun, putramu…”
      “Kyuhyun-aa.. ,” Jino kembali memanggil nama putranya kali ini volume suaranya sedikit naik, sungguh betapa ingin ia bangkit dari tidurnya dan memeluk puteranya tapi tubuhnya benar-benar tak berdaya.

      ****
      “Syukurlah, ini benar-benar sebuah keajaiban besar Tuan Kyuhyun, ayah anda langsung bisa bangun dari koma panjangnya karena kehadiran anda, inilah yang dinamakan kekuatan cinta seorang ayah dan tentunya atas kehendak Tuhan,” Dokter Rian baru saja memeriksa keadaan tuan Jino yang mendadak membaik secara drastis yang bahkan tidak bisa dijelaskan secara medis.

      “Terima kasih dokter, terima kasih karena sudah merawat Ayahku selama ini” ucap Kyuhyun
      “Berterima kasih lah kepada Adik anda, selama ini dialah yang berjuang seorang diri untuk merawat Ayah anda,”
      “Adik?” Kyuhyun bahkan hampir lupa bahwa Ayahnya selama ini pergi tidak sendiri, bukankan Ayah pergi karena gadis yang disebut-sebut adiknya itu?

      Sementara itu…

      “Mbak, bisakah saya membayar setelah Ayah saya dioperasi terlebih dahulu?” Sooyoung berusaha bernegosiasi kepada pihak administrasi rumah sakit, seharian dia sudah berusaha mencari pinjaman kesana kemari, tapi dia masih belum bisa mengumpulkan uang sebanyak yang dibutuhkan bahkan walau hanya 10 persennya.

      “Tidak bisa Nona, prosedur di rumah sakit ini tidak bisa diganggu gugat,” Kata salah seorang pihak administrasi.
      “Kalau begitu saya jual saja ginjal saya sekarang juga,” ceplos Sooyoung tanpa berpikir panjang, ia benar-benar frustasi dan kehilangan akal
      “Tidak bisa seperti itu Nona, ada banyak hal yang harus Nona pertimbangkan dan hal seperti itu ilegal di rumah sakit ini.”

      Sooyoung semakin putus asa dan sedih, apa yang harus dia lakukan sekarang? ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Ayahnya. Dengan langkah gontai dan penuh keputus asaan, Sooyoung berjalan menuju ruangan Ayahnya, entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu merindukan Ayahnya meski ia selalu melihatnya setiap hari, dia ingin selalu melihat dan memeriksa keadaannya bahkan ada di sisinya sepanjang waktu, karena keadaan yang memaksa, terpaksa Sooyoung harus sering-sering meninggalkan ayahnya sendirian.

      Sudah berada tak jauh dari ruang ICU tempat sang ayah dirawat, Sooyoung melihat dr. Rian baru saja keluar dari kamar Ayahnya, penasaran dengan keadaan sang ayah, segera ia memburu dokter Rian untuk menanyakan perkembangan keadaan ayahnya.

      “Dokter, apa yang terjadi?” Sooyoung bertanya dengan raut yang begitu penasaran.
      “Nona Sooyoung akhirnya kau datang juga, aku punya kabar baik untukmu, sekarang ayahmu sudah sadar dari komanya,” dokter tampan itu tersenyum
      “Benarkah? Dokter serius?!” Sooyoung seketika berbinar, itu benar-benar berita yang membahagiakan
      “Tentu saja serius Nona Sooyoung, ini merupakan sebuah keajaiban, berkat do’a anda dan juga berkat kehadiran Kakak Anda, Tuan Jino akhirnya sadar dari komanya”
      “Kakak?…” Sooyoung bertanya-tanya dalam hatinya siapa seseorang yang dimaksud kakaknya oleh Dokter Rian?

      Siapa orang itu? Mungkinkah anak Ayah Jino yang selalu diceritakannya tapi tak pernah disebutkan namanya itu? Mungkinkah dia orangnya?

      Setelah menyudahi obrolannya dengan dokter Rian, Sooyoung memutuskan untuk segera mendatangi Ayahnya, ia sungguh tidak sabar melihat dan menyapa sang Ayah setelah sekian lama menantikan saat-saat membahagiakan itu, tapi Sooyoung sedikit ragu, batinnya terus bertanya-tanya siapakah orang yang datang dan sudah memberikan kekuatan pada Tuan Jino yang bahkan melebihi dirinya? Entah kenapa perasaan senang dengan keadaan ayahnya berubah menjadi perasaan tidak enak.

      Sesampainya di ruangan sang Ayah, Sooyoung jelas terkejut luar biasa mendapati seseorang yang benar-benar di luar prediksinya, begitu pula sebaliknya, Kyuhyun terang saja terlonjak kaget ketika menemukan seseorang yang muncul dibalik tirai penyekat.

      Untuk sesaat, pandangan mereka saling bertemu, segalanya terasa hening. Lalu kemudian keduanya mulai mencerna keadaan yang terjadi, mereka mulai menghubung-hubungkan semua kebetulan yang tak mereka sadari selama ini. Kyuhyun baru menyadari banyak hal, Sooyoung berasal dari Korea, dan memang bukan terjadi kesamaan nama, tapi memang Sooyoung yang dia temui 20 tahun lalu dan Sooyoung yang dia temui sekarang adalah orang yang sama, ia juga mengingat-ingat perkataan dokter Rian, juga Sooyoung yang selalu menyebut-nyebut ayahnya. Begitu juga dengan Sooyoung, dia baru menyadari kenyataan bahwa Kyuhyun punya nama belakang yang sama dengan Ayah Jino, kenyataan bahwa Kyuhyun datang ke Jogja untuk mencari seseorang dan saat Kyuhyun mengajaknya pergi ke komplek prostitusi itu.

      “Sooyoung-aah..” panggilan tuan Jino yang lirih membuyarkan lamunan keduanya.

      Dengan perasaan tak karuan dan ragu Sooyoung berjalan mendekati Ayah angkatnya itu. Ia mengambil posisi di samping kiri Tuan Jino tepat berhadapan dengan posisi Kyuhyun, sementara pemuda itu terus menatapnya lekat-lekat, ia menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan. Tatapan yang tak pernah ia lihat dari mata Kyuhyun, bahkan walaupun selama beberapa hari kebersamaan yang dibumbui dengan percekcokan.

      “Kyuhyun, ini Sooyoung, kau.. masih ingat?” Kata tuan Jino pelan meski ia sudah berusaha keras untuk bicara lantang. Yaa… mungkin Kyuhyun sempat lupa wajahnya, tapi dia tidak pernah lupa akan kebenciannya dan apa yang sudah dilakukan gadis itu pada keluarganya.

      “Sooyoung… ini Kyuhyun, Kakakmu…” kali ini tuan Jino berkata kepada Sooyoung, sementara gadis itu masih mematung, masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
      “Sooyoung… mendekatlah” Tuan Jino memanggil Sooyoung dengan Volume suara yang semakin menurun. Dengan ragu Sooyoung semakin mendekatkan dirinya ke sisi pembaringan tuan Jino.

      Tuan Jino lalu meraih tangan Sooyoung ke atas perutnya, lalu perlahan giliran tangan kanan Kyuhyun yang diraihnya. Pria paruh baya yang mulai tampak sekarat itu menyatukan tangan keduanya seperti menyatukan Kyuhyun dan Sooyoung dalam sebuah hubungan yang sangat kuat dan tak terpisahkan. Kyuhyun maupun Sooyoung sempat bingung dengan maksud tuan Jino, yang mereka tau yang jelas mereka tidak akan menyukai itu.

      “Kyuhyun-aa Ayah tau, ayah bukanlah Ayah yang baik, Selama ini Ayah tak pernah minta apa-apa darimu karena Ayah tau Ayah tak berhak memintanya, tapi kali – ini- to-long…” suara tuan Jino semakin melemah dan terputus-putus, namun ia berusaha untuk melanjutkan kalimatnya,

      “To-long, nikahilah Sooyoung,” ucapan Jino yang terbata itu seperti sebuah petir menyambar telinga Kyuhyun maupun Sooyoung, mereka belum bisa percaya sepenuhnya, mereka pasti sudah salah dengar.

      “Kyuhyun-aa Tolong, Ayah mohon dengan sangat… Anggap saja ini penghormatan terakhir bagi Ayahmu, hidup ayah tidak akan lama lagi dan Sooyoung akan sendirian, dia adalah gadis yang kuat, tapi dia hanyalah seorang gadis biasa yang tidak bisa hidup sendirian, maka permintaan terakhir Ayah, tolong nikahi Sooyoung, Agar dia punya keluarga yang bisa menjaga dia, dia gadis yang baik, kau tidak akan pernah menyesal menikahinya, kelak kau tidak akan bisa hidup tanpanya… ” Air mata Ayah Jino menetes di kedua pelipisnya,

      “Berjanjilah kau akan menikahinya dan terus ada di sisinya….” Kyuhyun dan Sooyoung membeku sesaat, tubuh mereka seperti tersengat listrik ribuan volt, yaa… Cho Jino, orang yang paling mereka hormati dan sayangi baru saja mengajukan sebuah wasiat yang sangat berat untuk dikabulkan sebagai permintaan terakhir yang harus mereka penuhi….
      Kyuhyun dan Sooyoung saling bertemu pandang sesaat, semakin lama mereka memandang satu sama lain, rasanya semakin berat untuk mengabulkan permintaan itu.

      “Ya Tuhan, apa yang terjadi? Rencana apa yang sedang Kau siapkan untukku sekarang? Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang sama sekali tak kucintai, bahkan aku cenderung membencinya? Bukankah menikah dengan orang yang tidak punya hati seperti Cho Kyuhyun akan lebih buruk daripada hidup sendiri? Yah… aku rasa akan lebih baik hidup sebatang kara luntang-lantung di jalanan daripada harus hidup dalam neraka dunia bersama Cho Kyuhyun” Sooyoung mengeluh dalam hatinya.

      “Ayah… kenapa kau melakukan ini padaku? setelah bertahun-tahun mencarimu, inikah yang kau berikan padaku? bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku menikahi gadis yang sangat aku benci karena telah menghancurkan keluargaku? hidupku juga akan hancur jika menikahi dia.” Kyuhyun pun berdialog dalam hatinya.

      Permintaan tuan Jino benar-benar membuat keduanya merasa bimbang dan serba salah, tapi apa yang bisa mereka lakukan? Bagaimana kalau Ayah Jino benar-benar meninggal sebelum keinginannya terpenuhi?? Dua kepala itu memikirkan hal yang sama, hingga kemudian semuanya terjadi begitu cepat tanpa kendali mereka dan tak memberikan mereka waktu barang sehari saja untuk mempertimbangkan.

      Tak lama setelah sadar dari komanya dan setelah cukup banyak bicara dan mengajukan permintaannya, kondisi Jino kini menurun drastis. Kyuhyun dan Sooyoung seketika panik luar biasa ketika nafas Tuan Jino mulai naik turun, melalui layar monitor di sebelahnya, mereka dapat melihat detak jantung Jino mulai tak beraturan dan sudah semakin melemah.

      Kyuhyun dan Sooyoung semakin panik luar biasa, mereka segera memanggil dokter dan suster untuk segera menangani Ayah mereka.

      Beberapa saat kemudian Dokter Rian sudah datang dan memeriksa keadaan tuan Jino, mengecek denyut nadi, detak jantung dan pupil matanya.

      “Tuan Kyuhyun, Nona Sooyoung, sebaiknya kalian banyak berdo’a dan teruslah di samping Ayah kalian, saya rasa waktunya tidak akan lama lagi, tidak ada langkah pengobatan apapun yang bisa kami lakukan sekarang,” dokter Rian terdengar pasrah, hal itu semakin memupuskan harapan Kyuhyun dan Sooyoung.

      Sooyoung hanya bisa meneteskan air mata meratapi kenyataan bahwa sebentar lagi ia benar-benar akan kehilangan ayahnya.

      “Saya permisi dulu, jika terjadi sesuatu, kalian bisa memanggilku,” Ucap Dokter Rian seraya menepuk bahu Kyuhyun, sebagai isyarat untuk memintanya tetap tabah dan bertawakkal.
      “Tunggu dokter!” Ucap Kyuhyun tiba-tiba sebelum dokter Rian benar-benar pergi, dokter Rian pun langsung menghentikan langkahnya untuk mendengarkan perkataan Kyuhyun selanjutnya.
      “Bisakah aku minta tolong padamu?”
      “Ya, minta tolong apa Tuan Kyuhyun?”
      “Bisakah kau memanggilkan kami pendeta dan bisakah dokter jadi salah satu saksi kami?” Dokter Rian sesaat tertegun, pendeta? Menikah? Apakah kami yang dimaksud Kyuhyun adalah dirinya dan Sooyoung? ia pikir selama ini Kyuhyun dan Sooyoung adalah kakak beradik, tapi ia berusaha menerka sendiri kenyataan yang terjadi tanpa harus meminta penjelasan, salah satu di antara Kyuhyun dan Sooyoung pasti ada yang bukan anak kandung Tuan Cho.

      Tak hanya dokter Rian, tentu saja orang yang paling terkejut tidak lain adalah Sooyoung sendiri. Bahkan walau sudah berulang kali memikirkan dan mempertimbangkannya, tetap saja ia masih terkejut dengan ucapan tiba-tiba Kyuhyun, yang terkesan memutuskan secara sepihak meski sebelumnya ia pun sudah memikirkan hal yang sama, yaitu memenuhi permintaan terakhir Ayah Jino.

      ****
      Kini Sooyoung menjadi pusat perhatian beberapa orang yang hilir mudik di rumah sakit. Bagaimana tidak? Selain ia tampak sangat cantik dengan polesan make up yang sangat jarang menghiasi wajahnya dan membuat pria manapun yang melihatnya akan terpukau, berada di tengah-tengah dua orang suster yang mengenakan seragam serba putih dan seorang perias pengantin yang membantu mengiringi jalannya menyusuri lorong rumah sakit, penampilan Sooyoung tampak mencolok dengan gaun pengantin yang walaupun sederhana namun menjuntai menyentuh lantai.

      Gaun itu adalah gaun pengantin peninggalan Ibunya, Sooyoung masih ingat bagaimana waktu kecil ia sering merengek pada Ibunya agar diperbolehkan mengenakan gaun pengantin cantik yang terdesign tak temakan zaman itu. Saat itu ia belum mengerti bahwa gaun itu terlalu kebesaran untuk ia pakai dan itu adalah gaun yang hanya dipakai sekali seumur hidup oleh seorang wanita, ia hanya tau bahwa gaun itu sangat cantik, dia pasti akan sangat cantik jika memakainya karena di photo pernikahannya, sang Ibu juga terlihat sangat cantik dengan gaun itu.

      “Jika Sooyoung sudah besar dan bertemu dengan pangeran Sooyoung nanti, barulah Sooyoung boleh mengenakan gaun ini, Sooyoung pasti akan cantik sekali jika mengenakannya” Ucap mendiang Ibunya di kala itu untuk menenangkan dirinya yang merengek sembari meletakkan gaun pengantin itu ke dalam sebuah kotak jati.

      Sooyoung dengan ketiga wanita yang mengiringinya kini sudah sampai di ruang ICU, tepatnya di hadapan Jino, ruang ICU tidak pernah dihuni oleh orang sebanyak itu, karena itu adalah ruang intensif untuk pasien yang perlu dirawat khusus, namun khusus hari ini, untuk menghormati keinginan terakhir tuan Jino, pihak rumah sakit memperbolehkannya.

      Buliran air mata Sooyoung kembali berjatuhan tatkala melihat Ayahnya yang kini terbaring sekarat memperjuangkan nafasnya yang mulai tersengal-sengal.

      “Di dunia ini, apa yang membuat Ayah paling bahagia?” Sooyoung teringat sekilas kenangan ketika ia bermain truth or dare dengan ayahnya.
      “Hal yang paling membahagiakan Ayah di dunia ini… adalah melihat putri ayah mengenakan pakaian pengantinnya” Sooyoung tersipu malu di kala itu, namun suasana kali ini jauh berbeda, kenangan manis itu justru membuat Sooyoung semakin sesak dan tak kuasa membendung air matanya.

      “Appa… lihatlah, putrimu ini sudah mengenakan pakaian pengantin seperti impianmu,” Sooyoung bergumam dalam hati,

      Sementara itu, Kyuhyun juga sudah siap dengan tuxedo hitamnya, satu-satunya pakaian formal yang ia bawa dari Korea,
      Sejak tadi ia hanya mematung dengan raut wajah kaku tanpa ekspresi, namun sebenarnya itu adalah ekspresi dari kepedihan yang mengganjal dalam hatinya.

      Pak pendeta pun telah datang, seluruh saksi yang dibawa dokter Rian termasuk ia sendiri sudah hadir. Dan tepat di hadapan tuan Jino, dengan membaca teks yang sudah disiapkan penghulu, penyatuan ikatan hubungan suci atas restu sang Kuasa itupun berlangsung dengan penuh keharuan, dan dengan begitu cepatnya status Kyuhyun dan Sooyoung seketika berubah, mereka telah sah menjadi sepasang suami istri secara agama.

      ****
      Ruang ICU itu kembali lengang karena memang tak seharusnya ruangan intensif itu dipenuhi oleh banyak orang, dan kini tinggallah Kyuhyun dan Sooyoung dengan pakaian pengantin yang belum mereka ganti dan dengan status baru mereka sebagai sepasang suami istri, bersama-sama kini mereka menjaga tuan Jino, ya… mereka tidak akan meninggalkan Ayah mereka barang sedetikpun dalam kondisi seperti ini.

      Kini mereka duduk saling berseberangan tanpa ingin memandang satu sama lain, Kyuhyun terus memegangi tangan Ayahnya seakan tak ingin melepasnya, ia pandangi lekat-lekat wajah sang Ayah sambil terus mengingat masa-masa Indah kanak-kanaknya yang ia lewati bersamanya.

      Begitu pula dengan Sooyoung, seraya menggenggam tangan kiri sang Ayah seraya air matanya tak hentinya menetes, ia terus mengingat masa-masa indah bersama sang Ayah dan betapa besar pengorbanannya untuknya yang tak akan pernah bisa ia tebus dengan apapun.

      “K…Kyu…” tanpa terduga tiba-tiba tuan Jino dengan susah payah memanggil nama putranya,
      “Ya, Ayah… aku disini,” ucap Kyuhyun antusias seraya mendekatkan wajahnya ke wajah sang Ayah.
      “Sooyoung-aa…” kini giliran Sooyoung yang juga melakukan hal yang sama.
      “Yaa… Sooyoung disini. Ayah, sekarang Sooyoung sudah menjadi pengantin, kau pasti sangat bahagia bukan?” bulir air matanya terus berjatuhan, Jino mengangguk lirih dan tersenyum simpul.
      “Terimakasih Nak, sekarang aku sudah bisa tenang,” kalimat itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan tuan Jino sebelum ia benar-benar menghadapi sakaratul mautnya, Kyuhyun dan Sooyoung menggenggam kuat-kuat kedua tangan Jino seakan tak ingin melepaskannya, hingga akhirnya genggaman itu tak berguna lagi, tak ada yang bisa menahan nyawa seseorang untuk keluar dari raganya, akhirnya Jino benar-benar telah merenggang nyawanya.

      Hening, untuk sesaat suasana hening yang tercipta, suara nafas berat yang tersengal itu sudah tak terdengar lagi, monitor penunjuk detak jantung menunjukkan tanda garis lurus yang menandakan jantung tuan Cho sudah berhenti berdetak.

      Menghadapi kenyataan itu Sooyoung pun tak kuasa menahan kepedihannya, ia menangis sejadi-jadinya sambil terus memanggil-manggil Ayahnya, ia merasa segalanya mendung, langit telah runtuh dan menimpanya.
      “Selamat Jalan Appa,” lirih Sooyoung seraya terisak pilu.

      Sementara Kyuhyun untuk beberapa saat membeku, untuk sesaat tak ada reaksi nyata yang ia tampakkan, ia hanya merasakan dadanya terasa sangat sakit, tenggorokannya terasa tercekat, seperti sebuah belati telah menghujam tepat di ulu hatinya, ia bahkan tidak mampu bersuara, tidak juga mengeluarkan air matanya untuk meluapkan segalanya, sebenarnya perasaannya jauh lebih sakit dari yang terlihat. Bahkan untuk sesaat Kyuhyun telah mati, ia telah mati bersama dengan kenangan Ayahnya.

      ****

      Hari itu langit telihat jauh lebih mendung dari biasanya, bumi Jogja kuyup, langit seakan turut menangis, tetesan air hujan turun berbondong-bondong membasahi bumi seakan turut mengantarkan kepergian Jino ke peraduan terakhirnya.

      Hari itu, pemakaman tempat jazad Tuan Jino akan dikebumikan cukup ramai dengan kehadiran banyak tetangga dan orang-orang Rumah sakit yang cukup mengenal Sooyoung dan Tuan Jino dengan baik.

      Kyuhyun tampak tegar meski di dalamnya hancur berkeping-keping. Terlebih lagi perasaannya semakin terluka melihat kenyataan jazad sang Ayah akan dibaringkan di tengah genangan air, “Ayah pasti akan sangat kedinginan disini,” gumam Kyuhyun dalam hati.

      Sementara Sooyoung bersama kedua sahabatnya Regina dan Ivani turut mengantarkan jazad tuan Jino ke pemakaman.
      Kini Ia tampak jauh lebih tegar, ia tak lagi menangis, lebih tepatnya tak lagi meneteskan air matanya, karena nyatanya setiap detik hatinya tak pernah berhenti menangis, setiap saat selalu ada goresan yang melukai hatinya dan tak akan pernah kering dan sembuh. Regina dan Ivani yang tau betul bagaimana perasaan sahabat mereka, hanya bisa menenangkan dengan merengkuhnya serta memberikan sandaran untuk gadis yang biasanya tampak ceria itu.

      Liang lahat itu kini telah tertutupi dengan gundukan tanah, tubuh Cho Jino sudah dikebumikan, perlahan derasnya hujan pun mulai mereda, satu persatu orang-orang mulai pergi hingga meninggalkan Kyuhyun yang masih berlutut kaku di sisi pusara sang Ayah, dan Sooyoung beserta kedua sahabatnya yang tak ingin meninggalkan Sooyoung sendiri dalam kesedihannya.

      “Ayo Soo, kita Pulang kau harus istirahat,” ajak Regina lembut kepada Sooyoung yang tampaknya enggan untuk mengangkat kakinya dari sana.
      “Iya Eonnie kita pulang, Eonnie kasihan kedinginan, nanti sakit;” Tambah Ivani meyakinkan Sooyoung.
      “Tidak, kalian pulanglah duluan, aku masih ingin bersama Ayahku,” ucap Sooyoung getir. Regina dan Ivani memahami itu, jika memang Sooyoung sudah berkata demikian, maka tak ada yang bisa mereka lakukan untuk membujuknya.

      Kedua gadis itu pun pergi dan meninggalkan Kyuhyun dan Sooyoung berdua saja. Sooyoung turut berlutut di sisi kanan pusara Jino tepatnya di hadapan Kyuhyun, dengan mengabaikan keberadaan Kyuhyun, perlahan air matanya kembali mengalir.

      “Appa… bagaimana ini? Baru beberapa jam saja, aku sudah merindukanmu,” ucap Sooyoung dengan suara parau seraya mengelus nisan kayu Ayahnya.

      Seketika Kyuhyun menatap Sooyoung lekat-lekat, ada tatapan penuh luka juga bara api yang meletup-letup disana. Ia kembali teringat ucapan polisi yang datang saat prosesi periasan Sang Ayah dan memberikan informasi bahwa pelaku penganiayaan Tuan Jino sudah ditangkap.

      “Tuan Jino sudah hampir dua tahun tinggal di komplek prostitusi itu bersama putrinya, dua bulan lalu beberapa pihak di tempat itu mulai merasa terusik dengan prilaku Tuan Jino yang mulai mempengaruhi warga di sana untuk meninggalkan pekerjaan mereka, hingga beberapa wanita sudah mulai terpengaruh dan memutuskan untuk tidak lagi menjajakkan diri mereka, hal itu membuat germo disana terancam merugi, hingga menyewa preman untuk menawan Putrinya untuk dijadikan wanita panggilan primadona sebagai ganti rugi bisnis mereka, Tuan Jino terus kekeuh tidak memberikan putrinya, hingga terjadilah penganiayaan itu” Kata seorang polisi menjelaskan.

      Kyuhyun terus menatap Sooyoung, ia terus teringat bayangan masa kecilnya yang pahit, ketika Ayah dan Ibunya bertengkar hebat, Ayah yang pergi meninggalkan mereka, kematian Ibunya, hingga kenyataan bahwa Jino meninggal karena menolongnya.

      Dan semakin Kyuhyun memikirkan hal itu, ia semakin dendam, ia semakin menyalahkan Sooyoung atas segala yang terjadi pada dirinya dan keluarganya, dan kenyataan bahwa ia terpaksa harus menikahinya setelah apa yang gadis itu lakukan padanya, membuat kebenciannya semakin menggunung.

      Sooyoung tidak nyaman dengan tatapan pria yang kini telah berstatus suami sah nya itu, ia tau tatapan itu adalah tatapan kebencian yang nantinya akan menjadi neraka baginya. Sooyoung pun memutuskan beranjak dari hadapan Kyuhyun.

      “Sooyoung tunggu!” Panggil Kyuhyun tiba-tiba dan menghentikan langkah Sooyoung.

      Kyuhyun bangkit dari berlututnya, lalu sejurus kemudian dia sudah berada di hadapan Sooyoung. Tatapan Kyuhyun masih sama seperti tadi, dan kali ini Sooyoung tak bisa menghindari tatapan menakutkan itu lagi
      “Kau tau, apa tujuanku datang kemari, kan?” Kyuhyun mulai bicara dengan raut penuh kepedihan, ia tak memberikan kesempatan Sooyoung untuk menjawab,
      “Yahh… Selama bertahun-tahun aku mencari Ayahku ke sana kemari seperti orang gila, karena aku benar-benar sangat merindukannya, aku benar-benar ingin bertemu dengannya, selain itu ada banyak yang ingin kutanyakan padanya, ada banyak sekali. Tapi hal yang paling ingin aku tanyakan adalah, kenapa dia meninggalkanku? Kenapa dia lebih memilihmu daripada aku?! Kenapa dia meninggalkan semuanya hanya demi dirimu?!” Kyuhyun meninggikan suaranya yang sempat tertahan
      “yahh… aku benar-benar ingin tau jawabannya. Tapi hingga saat aku bertemu dengannya setelah sekian lama, setelah aku menemukannya bahkan setelah dia pergi untuk selamanya, aku masih saja tak mendapatkan jawabannya, dia malah pergi dengan meninggalkan bahkan berkali lipat pertanyaan dalam benakku. Kenapa? Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa dia malah membuatku harus menikahi orang yang sudah menghancurkan hidupku? Kau pikir kenapa dia sekejam itu Choi Sooyoung?” Sooyoung tak menjawab cecaran Kyuhyun itu karena dia sama sekali tak punya jawabannya, ia juga sama terlukanya, ia juga sama enggannya, apa yang Cho Kyuhyun pikirkan? Apa dia pikir menikah dengannya adalah impian setiap gadis? Tidak! Sooyoung tau betul itu akan menjadi penderitaan seumur hidupnya, seandainya ia bisa memilih, ia lebih baik mati daripada harus menjadi istri Cho Kyuhyun, tapi ia bahkan tidak punya pilihan lain, ia setuju menikah dengannya hanya karena itu adalah permintaan terakhir sang Ayah yang paling ia cintai. Maka sama seperti Kyuhyun, Sooyoung pun ingin menanyakan hal yang sama kepada Jino Appa, kenapa Ayah tega melakukannya?

      Sooyoung tak ingin menjawab apapun, batinnya masih terlalu disesaki dengan kedukaan yang mendalam, ia tidak punya energi untuk bertengkar dengan Kyuhyun, ia memutuskan beranjak pergi, tapi Kyuhyun menghentikannya dengan menarik lengannya.

      “Mungkin sekarang aku sudah menemukan jawabannya…., kenapa Ayah menginginkan aku menikahimu… karena, dia ingin memberiku kesempatan, kesempatan untuk membalas dendam, membalas segala yang kau lakukan pada kami! Jadi selamat datang di kehidupanku Choi Sooyoung, selamat datang di nerakamu” ucapan itu bukan sekedar ancaman, Sooyoung tau betul melalui tatapan penuh amarah itu, Kyuhyun sedang tidak main-main dengan ucapannya, itu adalah ucapan jujur yang sudah lama ingin ia ungkapkan dan mungkin inilah saatnya.

      Sooyoung tetap diam meski ucapan Kyuhyun itu sedikit banyak menyentaknya, ia mencampakkan tangan Kyuhyun yang menggenggam lengannya lalu melangkah pergi, ia tampak tak perduli namun sebenarnya ia sedang menguatkan hatinya, ia sedang mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam biduk rumah tangganya bersama Kyuhyun kelak, karena mulai hari ini adalah babak baru dari kehidupannya, kisahnya bersama Cho Kyuhyun baru saja dimulai.

      To Be Continued

      Abis ini pindah lokasi ke Korea ya Ching, Seperti yang author janjiin, 3 part ini mungkin masih mirip sama Only You To Me, tapi part 4 ke atas kalian kagak bakal ngeliat kesamaan itu lagi. Abis ini kalo responnya masih poor kayak part 2, part 4 bakal Author protect. Kamsha hamnidaa… ditunggu RCLnyaa

      Advertisements

      52 thoughts on “Fated (Chapter 3)

      1. Huwee soo onnie kasian sebenci itu kyuhyun sama soo eonni.
        Pertanyaan yang sama dengan kyuhyu yang muncul dalam benak saya adalah kenapa ayahnya kyu lebih memilih pergi sama sooyoung eonni?
        Waahh daebak. Keren2 ceritanya bikin penasaran sama kelanjutannya.

      Leave a Reply

      Fill in your details below or click an icon to log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

      Connecting to %s