Imprint, The Match From Heaven (Chapter 1)


image

Title    : Imprint

Author   : Chairunnisa

Genre    : Drama, Romance, Comedy n Family (Marriage Life)

Casts     :

    • Harshad Arora as Himself
    • Preetika Rao as Herself
    • Shakti Arora as Himself
    • Other Casts: Find in The Story

    Fan Fiction ini dibuat dengan ketulusan hati Author yang dilatar belakangi akan kerinduan akan moment-moment indah couple dunia akhirat kita Harshika. Semua kisah, penokohan serta setting di dalamnya MURNI hanyalah hasil imajinasi author pribadi yang terinspirasi dari berbagai kisah dengan menggunakan cast Harshad dan Preetika serta artis-artis lainnya. Jadi harapannya semoga tidak terjadi kesalahan penafsiran, mohon anda bisa membedakan antara Fan Fiction dan Fakta.

    Preetika’s POV
    Ketika mendengar tentang jodoh apa yang akan kau pikirkan? Pasangan hidup? cinta sejati? Bagiku, arti jodoh lebih dari itu,

    bagiku jodoh bukan hanya sekedar seseorang yang kau cintai dan mencintaimu dengan tulus seperti cinta sejati bak kisah cinta dalam negeri dongeng, tapi jodoh adalah seseorang yang menjadi alasan kau diciptakan, seseorang yang akan melengkapi hidupmu dan membuat kau akan menjadi utuh sebagai seorang manusia.

    Ya.. jodoh itu seperti kepingan puzzle dalam dirimu yang tercecer dan akan menjadikan gambar dirimu utuh dan tampak indah dengan adanya dirinya.

    Jodoh bumi adalah langit yang ketika tanpa salah satunya akan terjadi bencana besar. Begitu pula dengan manusia, jodoh Adam adalah Hawa, Hawa diciptakan untuk melengkapi hidup sang Adam, ia adalah bagian dari tulang rusuk sang Adam sehingga tanpanya sang Adam pun tak akan hidup dengan sempurna.

    Yaa… seperti halnya Adam dan Hawa seluruh anak keturunan mereka, manusia pastilah diciptakan untuk memiliki jodoh dan berpasangan, dan itu sudah mutlak.

    Tapi bisakah kau mengetahui tentang jodohmu? Untuk siapa kau diciptakan? Manusia bahkan tak punya radar yang mampu mendeteksi keberadaan jodohnya, di antara miliaran manusia di muka bumi ini. Jadi apakah jodoh hanyalah misteri Tuhan yang tak akan pernah bisa kau tebak kecuali setelah kau bersatu dengannya?

    Maka inilah aku dengan segala keyakinanku dan aku hidup dengan keyakinan itu. Seperti halnya Jacob si manusia srigala dalam film Breaking Dawn yang dikaruniai sebuah penglihatan yang mampu mengetahui bahwa Renesmee adalah jodohnya hanya dengan menatap matanya, begitu pula aku percaya bahwa setiap manusia dikaruniai kelebihan semacam itu, seperti halnya Adam dan Hawa yang terlempar ke bumi dan terpisah selama ribuan tahun dan dalam kurun waktu itu bisa saja mereka saling melupakan, ribuan tahun berlalu apa yang bisa orang ingat tentang seseorang? Namun tidak! Adam dan Hawa kembali dipertemukan meski jarak dan waktu membentang jauh dan rasa itupun tetap sama, karena Hawa adalah bagian dari diri Adam dan Adam adalah tempat kembali sang Hawa. Itulah yang terjadi ketika kau bertemu dengan seseorang yang diciptakan hanya untukmu, maka dari itu, aku selalu percaya ketika aku menemukannya, hatiku pasti akan mengenalinya, karena aku tak akan mungkin tak mengenali bagian dari diriku sendiri, itulah yang disebut Imprint.

    Flash Back, 11 Years ago

    Mobil Ayah mendarat di depan sebuah sekolah menengah atas negeri, sekolah yang konon adalah sekolah terbaik di kota kami, dan mulai hari ini akan menjadi sekolah baruku, sejenak aku hanya terdiam tak bergerak di jok mobil di sisi ayahku, ketar-ketir kupandangi gerbang sekolah baruku yang kelak selama 3 tahun ke depan akan ku hanbiskah hari-hariku disini.

    Gerbang sekolah baruku tampak begitu megah dan besar, dalam penglihatanku yang kurang berwawasan dan masih polos ini, aku membayangkan gerbang istana Mughal akan semegah ini. Kulihat satu persatu murid memasuki gerbang, sekolah masih tampak lengang karena Ayah mengantarku pagi-pagi buta, ia terlalu bersemangat, kali ini aku kembali membuatnya bangga dengan diterima masuk ke sekolah negeri terfavorit di kota ini.

    Aku menelan ludah berkali-kali, apa yang akan kulakukan di dalam sana? Aku sangat gugup, dan jika sudah gugup seringkali aku akan berbuat bodoh. Ini tidak seperti saat aku menjadi murid baru di SMP, dulu aku tidak gugup karena teman-temanku dari SD sebagian besar masuk SMP yang sama denganku, namun kali ini berbeda, semua teman-teman dekatku tidak diterima di sekolah ini dan membuat aku mencetak rekor sebagai murid satu-satunya yang berhasil masuk ke sekolah terbaik ini. Ini seperti aku saat masuk SD di hari pertama, namun saat itu Ibu akan mendampingiku hingga masuk kelas sehingga mengurangi rasa gugupku.

    Namun kali ini, tega-teganya Ayah membiarkanku masuk sendirian ke gerbang itu,
    “Kakak.. kenapa lama sekali turunnya? Nanti aku terlambat masuk sekolah, bagaimana?” Shivangi di jok belakang mengomel, hari ini juga hari pertama dia masuk ke sekolah tingkat SMP.
    “Diamlah! ini masih sangat pagi, kau hanya akan bertemu dengan kucing di depan pintu gerbang di jam pagi seperti ini,” balasku ketus
    “Ayolah sayang adikmu benar, apa yang kau lakukan lama sekali? Hanya menatap gerbang. Turunlah cepat, tunggu apa lagi?” Kali ini Ayahku mendukung Shivangi, dan itu membuatku sedikit kecewa
    “Ayah… tidak bisakah ayah mengantarkan aku masuk? Aku gugup sekali, hiks..” rasanya aku ingin menangis saja, entah kenapa perasaanku semakin tidak enak saja.
    “Kau ini! umur berapa kau sekarang? Apa kau tidak malu diantar seperti anak TK?”
    “Iya, tapi…”
    “Tidak ada tapi-tapian! Segera turun dan bersikap dewasalah, kau mau sekolah atau Ayah akan menikahkanmu dengan putra pemilik pabrik kain itu?” ancaman konyol namun mengerikan itu selalu menjadi senjata ayahku untuk menundukkan kekeras kepalaanku.
    “Baiklah, aku tau – aku tau!” Dengan wajah ditekuk maksimal, akupun dengan sangat terpaksa turun dari mobil Ayah, beberapa langkah aku masih menoleh ke belakang, aku benar-benar ingin Ayah mengerti bahwa betapa menderitanya aku sekarang ini, tapi ayah mengusirku seperti seekor ayam hingga aku tak punya pilihan lain, akupun dengan terpaksa melangkah berat memasuki sekolah baruku.

    Langkahku seketika terhenti ketika memasuki area kelas, dimana deretan kelas berlantai 2 berjejer mengeliling sebuah lapangan luas, ternyata siswa yang sudah datang malah jauh lebih banyak dari perkiraanku, ya.. seharusnya aku sudah bisa menduganya, sudah biasa terjadi ketika hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru, para siswa akan mendadak rajin dengan datang lebih pagi, dengan tujuan agar mendapatkan tempat duduk yang strategis.

    Ya, walaupun tergolong orang yang supel, sebenarnya aku adalah tipe orang yang agak takut bertemu dengan orang dan lingkungan baru, tapi mau bagaimana lagi? Hidup terus berjalan dan aku harus menghadapi semua hal-hal yang tidak aku sukai, dan aku tidak punya pilihan lain selain menjalaninya.

    Para siswa baru kini masih berserakan di luar kelas dan melihat daftar nama yang terpampang di depan masing-masing kelas, setelah menemukan kelasku, aku tak langsung masuk seperti murid-murid lainnya, aku justru berdiri terbengong menghadap lapangan, kini perhatianku tertuju kepada seseorang yang tengah berdiri membelakangiku sedang bermain dengan bola cricketnya, ia saling melempar bola bersama seorang temannya.

    Aku bahkan belum melihat wajahnya dan hanya melihat punggungnya, tapi punggung bidangnya dan tubuh tinggi itu saja seakan memanggilku untuk mendekat. Sebenarnya bukan aku saja yang seakan tersihir dan memusatkan perhatian padanya, tapi banyak senior perempuan yang berdiri mengelilingi lapangan dan memandanginya seolah ia adalah pemandangan paling berharga yang tak boleh dilewatkan begitu saja.

    Mereka menyemangatinya bak sekelompok cheerleader yang sedang menyemangati team yang sedang bertanding, lebih tepatnya para gadis itu sedang mencari perhatian walaupun jelas-jelas pemuda itu hanya menganggap mereka seperti rumput liar di sekelilingnya yang tak berarti apa-apa.

    Entah keberanian apa yang menggerogotiku? dengan melupakan bahwa aku adalah seorang murid baru aku melangkah dan mendekat, agar bisa melihat ‘objek vital’ itu lebih dekat seperti yang dilakukan para senior, dan BUKKK! entah apa yang terjadi padaku, seolah seseorang sengaja menjebakku, teman dari pemuda itu melemparkan bola cricketnya tepat di hadapanku, dan bodohnya, aku tak menyadari bola itu tepat di bawah kakiku dan aku menginjaknya.

    Terang saja aku terpeleset dan tanpa daya tubuhku tersungkur dan sukses memeluk bumi, dan entah apa rencana langit padaku, aku rasa firasat burukku memang beralasan, sudah kukatakan sejak awal bahwa aku akan melakukan hal-hal bodoh ketika aku sedang gugup, dan sekarang semua itu terbukti, bencana lebih besar terjadi, tepat di hapadanku ada sebuah kubangan lumpur yang sedang dalam masa renovasi dan aku sukses mencetak wajahku di sana.

    Aku tidak melihat wajahku sekarang, beberapa butiran pasir masuk ke mataku, aku hanya bisa mendengar beberapa orang begitu puas menertawakan aku seperti badut, jangankan prihatin dan menolongku, aku bisa mendengar nada tertawa mereka sangat puas seolah-olah mereka sudah lama memendam dendam terhadapku dan sudah lama menantikan kehancuranku.

    Dengan tergopoh aku bangkit dan mengusap ‘masker lumpur’ yang kini menutupi kelopak mataku. Biar bagaimanapun aku tidak bisa melakukan apapun tanpa mataku.

    Ketika membuka mata, kulihat kini wajah orang-orang yang menertawakan aku, dan sekarang aku benar-benar malu, hari ini adalah hari pertamaku di sekolah ini, dan aku sudah menjadi topik utama, aku tidak bisa membayangkan kehidupanku 3 tahun ke depan, maka detik ini ingin rasanya kuledakkan diriku disini, tapi sayang sekali aku tidak punya Bom.

    Seketika, seperti Oase di tengah gurun pasir, setelah merasakan kepedihan dengan perlakuan seperti badut, maka kini aku sudah merasa menjelma menjadi seorang Juliet yang menemukan Romeonya, aku mengerjap-ngerjapkan mataku berkali-kali, bukan karena mataku kemasukan pasir, tapi pandanganku tak percaya bahwa seorang jelmaan Dewa kini muncul di hadapanku, menatapku dengan penuh simpati.

    Tuhan apa yang terjadi padaku sekarang? Mendadak aku merasakan ribuan kupu-kupu keluar dari perutku, aku merasa ini seperti de Javu, aku baru saja memimpikannya dan sekarang mahluk yang ada di dalam mimpiku itu muncul di hadapanku, yaa… ini adalah imprint ku, aku sudah terimprint dengan pemuda itu seperti novel ke tiga Twilight Saga yang minggu lalu baru selesai aku baca.

    “Kau tidak apa-apa?” Sapanya lembut, suara beratnya membuat sekujur tubuhku bergetar, tatapannya membuatku merasa tenggelam dan kehabisan oksigen.

    Lalu mendadak, rasa keterpanaanku yang indah itu seketika musnah ketika aku menyadari satu hal, bahkan seragam putihku saja hitam usai memeluk bumi tadi, lalu apa yang sudah terjadi dengan wajahku? Huaahh… aku pasti sudah tampak seperti lutung sekarang! Tiba-tiba rasa malu karena dipandangi oleh pria yang langsung menempati tempat spesial di hatiku sejak pandangan pertama itu meluap, bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya.

    “Kau tidak apa-apa?” Ia mengulang pertanyaannya dan hal itu justru membuatku semakin malu dan ingin mati saja, kudengar kini orang-orang yang menertawakan aku mulai kasak-kusuk menggunjingkanku, aku bisa mendengar nada iri dalam ucapan mereka.

    Tapi kemudian pemuda itu terus menanyaiku keadaanku bahkan minta maaf dan itu benar-benar membuatku malu, dia pasti memandangku  bukan seperti seorang gadis yang patut dijadikan pasangan sekarang, tapi seorang gelandangan yang patut disantuni.

    Ocehan semua orang yang terdengar seperti suara nyanyian setan dan perlakuan simpatik dari ‘lelaki imprint ku’ membuncahkan rasa maluku, membuatku seketika hilang kesadaran, tubuhku mendadak lunglai dan tak mampu lagi berdiri tegap. Aku bisa merasakan kesadarnku perlahan menghilang dan tubuhku terkulai lemah tak berdaya seperti sehelai kain sutra, seseorang menandahi tubuhku dan menggendongku, aku masih menyadarinya walaupun rasanya seperti antara mimpi dan kenyataan.

    Beberapa saat, kesadaranku seperti timbul dan tenggelam, dapat kurasakan seseorang menggendongku dan membawaku ke suatu tempat, setengah sadar kubuka mataku, dan dengan pandangan buram, samar-samar kulihat wajah orang yang menggendongku. Apakah dia “lelaki imprintku?”.

    Yaa.. tentu saja itu dia, siapa lagi? Ahh… ada hikmahnya juga aku pingsan, baiklah sekarang aku sudah tak bisa terjaga lagi, perlahan-lahan kesadaranku benar-benar lenyap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

    ****
    Aku terlonjak  dan langsung duduk dari pembaringanku ketika aku sadar, aku merasa baru tidur selama beberapa menit, padahal jam dinding di hadapanku sudah menunjukkan jam 1 siang, kulihat kini aku sudah berada di sebuah ruangan yang tampak seperti ruang rawat di rumah sakit. Apakah aku benar-benar sedang berada di rumah sakit? Apa yang terjadi padaku?

    Kuingat-ingat lagi kejadian yang barusan menimpaku sebelum aku tak sadarkan diri dan terbaring di tempat ini, secara runut aku mengulas kembali ingatanku, sekolah baru, tersungkur ke kubangan lumpur, pemuda tampan, seseorang yang menggendong dan membawaku? Aku kembali terlonjak menyadari satu hal, kuraba wajahku yang tadinya terlumuri oleh ‘masker lumpur’ dan ternyata sudah bersih, tak ada lagi lumuran lumpur licin menjijikan itu, dan bajuku, kemeja putihku pun sudah bersih kembali. Apakah semua itu tadi hanya mimpi?

    “Nona Preetika, kau sudah sadar?” Seorang wanita berjas putih seperti seorang dokter mendatangiku dan menyapaku.
    “Di.. dimana aku sekarang… maksudku, apa yang terjadi padaku?”
    “Kau tidak ingat? tadi kau terjatuh ke kubangan lumpur lalu pingsan, sekarang kau ada di UKS,” penjelasan dari dokter membuatku menyadari bahwa yang tadi memang bukanlah mimpi.

    Lalu dimana pemuda itu? Orang yang membawaku kemari? Aku hanya bertanya dalam hati.
    “Dokter, bagaimana aku bisa sampai kemari?” Tanyaku akhirnya, aku tak menanyakan keberadaan pemuda itu secara langsung, jujur saja aku malu menanyakannya.
    “Maksudmu, orang yang membawamu kemari? Dia seniormu kan?”
    “I.. iya, sepertinya begitu, Dokter.. orang itu, apa dokter tau namanya? Aku hanya ingin berterima kasih padanya,”
    “Jadi.. kau benar-benar tidak mengenalnya? Sebenarnya ini aneh sekali, dia memang memintaku untuk tidak memberitahukan identitasnya, tapi anehnya dia memperlakukanmu seperti kalian begitu dekat. Aku bahkan berfikir kau adalah adiknya, atau mungkin malah pacarnya,”
    “a..apa maksud dokter? kenapa dokter bisa berfikir kalau aku ini pacarnya?”
    Baiklah! Sekarang wajahku pasti sudah memerah seperti tomat busuk karena malu,
    “Yaa.. dia yang membersihkan wajahmu, lalu membawakan baju ganti untukmu,”
    “A.. apa?! Dia yang menggantikan bajuku?!” Mendadak aku jadi panik sendiri.
    “Bukan.. bukan seperti itu, aku yang menggantikan pakaianmu, dia hanya membelikanmu yang baru di koperasi sekolah, juga membersihkan wajahmu,”

    Jadi… dia membersihkan wajahku? Oh Tuhan… dia manis sekali! Bukankah ini seperti kisah cinta dalam film-film Bollywood? Aahh.. bagaimana ini? Aku merasa kali ini firasatku tentangnya memang benar! Imprintku sepertinya memang benar. Dialah orangnya, dialah jodoh yang disiapkan Tuhan untukku, cinta sejatiku, calon suamiku kelak.

    ****
    Sejak kejadian itu, aku terus mencari tau tentang dirinya, cukup banyak yang aku tau, dia adalah senior yang 2 tingkat di atasku. Tidak heran kenapa dia begitu berkarisma dan mempesona semua orang, karena selain tampan,  ternyata dia juga adalah bintang cricket di sekolah. Berkatnya, team cricket sekolah kami sudah menjuarai banyak pertandingan hingga tingkat nasional. Dia berasal dari keluarga Punjabi dan ayahnya adalah seorang dokter.

    Hari itu adalah kali pertama dan terakhir aku bertemu dengannya, ku dengar dia sibuk menjadi atlit cricket profesional hingga jarang masuk sekolah aku jadi tidak punya kesempatan untuk bertemu dengannya, lalu akhirnya ia benar-benar berhenti sekolah karena dia sudah direkrut oleh club cricket Inggris.

    Karenanya aku sempat sedih dan putus asa, Tuhan seakan mempermainkan perasaanku, dan menguji kehidupan percintaanku.
    Tapi kemudian aku tak perlu lagi bersedih hati, setiap waktu aku dapat melihat dan mengikuti perkembangannya di internet, aku tidak pernah ketinggalan satupun pertandingannya, aku bisa ikut merayakan euforia kemenangannya dan kekecawaanku lebih dari semua orang ketika melihat kekalahannya. Seiring berjalannya waktu, Aku juga mengikuti semua akun sosial medianya sehingga ia begitu terasa dekat di pelupuk mata.

    Kuhabiskan masa SMU dan remajaku untuk terus mengikuti setiap perjalanan karirnya. Aku tidak perduli dengan lelaki manapun bahkan itu yang paling populer sekalipun seperti yang dilakukan teman-temanku, karena aku hanya memperdulikan dia. Teman-teman menganggap aku hanyalah seorang fans fanatik seperti banyak gadis lainnya, tapi hanya aku sendiri yang mengerti apa yang melebihi dari hanya sekedar fan fanatik, itu adalah imprint.

    Flash Back End

    Beberapa tahun kemudian, aku merasa takdir semakin berpihak padaku, aku merasa dirinya semakin mendekat kepadaku, siapa sangka dia adalah seseorang yang sangat multi talenta? Dia keluar dari team cricket yang sudah membesarkan namanya sejak kecil dan kembali ke India lalu merambah dunia Bollywood, dan ternyata tak kalah dari dunia atlit, dunia akting pun mampu ia taklukkan, dia menjadi salah satu aktor  muda yang paling diperhitungkan dan semakin bersinar.

    Sejak menjadi bintang baru bollywood, dia semakin memiliki begitu banyak penggemar dari kalangan remaja wanita, membuatku merasa memiliki begitu banyak pesaing, tapi aku tau tak ada yang akan lebih mencintainya melebihi diriku, aku bahkan sudah mencintainya bahkan sebelum ia terkenal seperti sekarang ini. Dia pun berakting dan bermain Film dengan beberapa aktris cantik, bahkan sempat beberapa kali ditimpa rumor berkencan, dan itu sempat membuatku patah hati, tapi itu tak berlarut-larut karena aku tau itu hanyalah akting dan gossip murahan, pada akhirnya dia juga akan kembali padaku.

    Dan inilah kisahku, kisah cinta yang dimulai dari keyakinan akan sesuatu yang disebut dengan imprint, kisahku dengan sosok pria yang dipandang orang seperti seorang pangeran dalam negeri dongeng yang menggapainya hanyalah impian gila setiap gadis. Ini adalah kisahku dengan seorang mantan pemain Cricket kelas dunia yang sekarang bersinar sebagai aktor bollywood, bernama Shakti Arora yang nantinya bukan hanya kisah kami berdua, tapi ada aktor lain yang akan membuat kisah itu menjadi berbeda,  bahkan jauh dari yang aku bayangkan.

    ****

    Dan inilah aku yang sekarang setelah 11 tahun berlalu, Namaku Preetika Rao, orang tuaku biasa memanggilku Preetu, tapi teman-teman akrab memanggilku dengan nama Pree, usiaku 26 tahun, aku berasal dari keluarga hindu India yang sangat konservatif, hingga di usiaku yang sekarang inilah yang sangat rentan akan masalah perjodohan.

    Bagaimana tidak? semua gadis sebayaku sudah menikah dan memiliki anak, karena itulah semua orang mengatakan aku perawan tua, dan gadis malang, orang tuaku juga jadi sangat mengkhawatirkan aku, mereka terus saja mendesakku dan memberondongiku pertanyaan, ‘kapan aku menikah?’

    Seringkali mereka diam-diam menjodohkan aku dengan anak dari keluarga yang mereka kenal walaupun mereka sudah tau bahwa itu tidak akan berhasil. Dan adikku Shivangi, ia selalu saja menuntutku untuk segera menikah agar dia juga bisa secepatnya menikah dengan pacarnya, aku sudah mempersilahkannya untuk menikah lebih dulu saja, aku tidak masalah jika adikku lebih dulu menikah daripada aku, namun karena peraturan utama dalam keluarga konservatif di India termasuk keluargaku, yang tertua harus menikah lebih dulu, haram hukumnya seorang adik menikah lebih dahulu daripada kakaknya dan aku tidak bisa mengendalikan tradisi aneh itu.

    Selain masalah Shivu yang terburu nafsu untuk menikah, aku tak perduli dengan yang lainnya, aku tidak perduli dengan ucapan orang lain, aku bisa mengatasi kegalauan orang tuaku yang sebenarnya hanya termakan ucapan orang-orang saja, bukan karena tradisi fanatik mereka.

    Karena ini adalah hidup yang kujalani, dan aku tau apa yang aku lakukan. Aku tidak akan menjalani perjodohan bodoh apapun, dan tidak akan sibuk mencari pasangan yang tidak jelas. Karena hatiku sudah memilih sejak 11 tahun yang lalu, dan keyakinan itu tetap ada hingga detik ini. Jadi aku hanya perlu menulis takdir cintaku sendiri, dan kisah itu dimulai hari ini.

    ****
    Author’s POV
    “Kakak, ayo cepat turun kami sudah menunggumu sejak tadi!” Shivangi memekik dari bawah tangga, memanggil sang Kakak yang tak kunjung turun.

    Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang makan, pagi ini tampak berbeda dari biasanya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Preetika, seluruh keluarga sudah menghias rumah dengan cukup meriah seolah akan ada acara besar, Ibu memasak hidangan sarapan dengan hidangan special yang biasanya hanya ia masak di hari-hari besar, ia bahkan memasak banyak seolah yang akan makan lebih dari 10 orang. Sementara sang Ayah, sedang berdo’a di hadapan dewa Krishna, mengumandangkan puji-pujian, sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Dewa seolah do’a do’anya telah terkabulkan.

    Setelah berdo’a ia pun kembali ke ruang makan untuk berkumpul, dan sarapan bersama.
    “Ya ampun! Apa yang dilakukan gadis itu? Kenapa lama sekali?” Omel sang ibu tak sabar.
    “Sudahlah Radha, kita tunggu saja. Putri kita sekarang pasti sedang berdandan cantik dan sibuk memilah-milah Saree terbaiknya sekarang,” ucap sang Ayah bijak.
    “Iya kau benar, kita harus sabar menunggunya. Setelah sekian lama akhirnya putri pertama kita akan segera mendapatkan pendamping hidupnya,” sang Ibu setuju, wajahnya berseri-seri tanda ia sangat bahagia.

    Tidak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Ia tampak terkejut melihat kemeriahan dadakan yang telah disulap oleh keluarganya.
    “Ibu, apa yang terjadi? Aku tidak ingat kalau hari ini ada yang berulang tahun?” Preetika bertanya bingung.
    “Selamat Nak, selamat atas hidup barumu, ayah sangat bangga padamu,” sang Ayah mencium dahi Pree lalu memeluknya haru, membuat Pree semakin bingung.
    “Selamat Kakak, akhirnya aku juga akan bisa menikah dengan Arman secepatnya!” Shivangi ikut memberikan selamat.
    “Selamat Nak, semoga Tuhan memberkatimu, tapi ada apa dengan penampilanmu? Kenapa kau tidak berdandan cantik? Dimana saree merah muda yang Ibu belikan untukmu?” Sang Ibu kebingungan melihat penampilan Pree yang tampak biasa-biasa saja, ia masih mengenakan setelan kemeja biru favoritnya dan jeans casual, walaupun wajahnya sedikit tampak merona dengan polesan make up tipis-tipis.
    “Apa maksud ibu? Kenapa aku harus memakai saree? Aku akan bekerja seperti biasanya hari ini,”

    Ayah, Ibu dan Shivangi saling bertukar pandang, mereka tampak mulai kecewa dan merasa salah paham, lalu kemudian pandangan Ayah dan Ibu berpusat pada Shivangi mengisyaratkan, bahwa sepertinya dia baru saja melakukan kesalahan.

    “Itu… benar kok, aku melihatnya sendiri di buku diary Kakak,” jawab Shivangi sedikit ragu.
    “Apa? Jadi kau memeriksa diaryku?!” Preetika memekik terkejut.
    “I.. itu.. aku..” Shivangi penggigit bibir bawahnya takut-takut, dia dalam masalah besar sekarang
    “kau benar-benar membaca diary ku Shivangi?! Dasar kau ini! awas kau aku tidak akan melepaskanmu!” Preetika mencoba memukuli Shivangi dengan tasnya, namun Shivangi dengan sigap menghindar.
    “Ampun Kak! Aku hanya penasaran.” Shivangi berlindung di belakang sang Ayah.
    “Kemari kau Shivangi! Aku akan memukulmu!”  Pree mencoba untuk menggapai adiknya, bernafsu ingin memukulinya.
    “Heeey sudah sudah! Maafkan lah adikmu, justru kami bersyukur padanya, karena berkat adikmu kami jadi tau bahwa ternyata kau akan bertemu dengan pria idamanmu itu, iya kan?” Kali ini tuan Deepak, sang ayah bertanya secara langsung.

    Preetika menghentikan aksi mengamuknya, wajahnya mendadak sumringah mendengar pertanyaan ayahnya seolah membenarkan pertanyaan itu.
    “Itu… sebenarnya aku..” belum selesai Pree mengatakan maksudnya ketika Nyonya Rao langsung berhambur memeluknya.
    “Oohh putriku sayang, terima kasih Tuhan, akhirnya kau membuat putriku sadar!” Sang ibu benar-benar terharu seolah harapan dan do’a-do’anya selama ini sudah terkabulkan.

    “Ayo Nak, ayo kita ke kamar, aku akan mendandanimu secantik mungkin, kau harus tampak cantik di depan calonmu itu,” Nyonya Rao tampak terlalu bersemangat yang ada di dalam bayangannya adalah putrinya akan menemui seorang pria secara resmi dan membicarkan kelanjutan hubungan mereka semacam kencan.
    “Ibu, tidak perlu. Ini hanya pertemuan biasa, tidak perlu berlebihan begitu,”
    “Tapi setidaknya kau harus tampil berbeda di hadapannya dan memberikan kesan mendalam padanya,”
    “Aduh tidak perlu Bu, aku harus pergi sekarang, aku sudah terlambat,”
    “Kalau begitu, sarapan lah dulu. Ibu sudah menyiapkan sarapan special untukmu,”
    “Tidak bisa Bu, nanti saja saat aku pulang, tolong sisihkan saja untukku. Aku sudah benar-benar terlambat, aku akan sarapan di kantor,”
    “Ya ampun gadis ini!  kapan dia akan mendengarkan perkataan ibunya?!” Sang Ibu mulai kesal dengan penolakan demi penolakan putrinya itu.
    “Sudahlah Radha, tidak usah memaksanya lagi, hari ini adalah hari yang baik untuk putri kita, kita harus memberkatinya agar semuanya berjalan dengan lancar,” tuan Deepak menengahi.
    “Yah, sekarang kita pun harus mengalah kepada putri kita yang keras kepala ini. Tapi untuk yang ini kau tidak akan bisa banyak alasan,” sang Ibu mengambil nampan berisi persembahan yang sudah ia siapkan, ia pun memulai ritualnya dengan memutar-mutarkan nampan berisi sesaji dan lampu di depan wajah Preetika, lalu memberikan bubuk suci ke dahi gadis itu, dan menyuapinya beberapa butir makanan persembahan itu. Kali ini Pree pasrah, walau bagaimanapun ia harus menghormati keyakinan kedua orang tuanya itu.

    “Tuhan memberkatimu Nak, semoga hari ini berjalan dengan lancar dan kau bisa segera menikah dengan pria idamanmu itu,” do’a sang Ibu dengan tulus, Preetika menyengir kikuk, kenapa ini jadi begitu berlebihan?
    “Do’a ayah selalu menyertaimu Nak, semoga beruntung,” sang Ayah mengusap lembut rambut putri sulungnya itu.
    “Kakak, semoga berhasil! jangan lupa titip salam kepada Kakak ipar,” Shivangi malah menggoda.

    Preetika jadi bingung sendiri, di satu sisi ia tersipu dan mengharapkan do’a terbaik dari orang tuanya akan terkabulkan, tapi di sisi lain ia merasa terbebani, harapan keluarganya begitu besar, padahal itu sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan.

    Preetika pun keluar dari rumah dengan hati yang sedikit gamang, bagaimana jika segalanya terjadi jauh dari harapan? Sebenarnya hari ini ia memang sedang sangat bahagia, baginya hari ini adalah babak baru bagi kehidupannya.

    11 tahun berlalu, ia melewatkan begitu banyak hal yang indah-indah seperti berteman dengan berbagai macam lelaki di usia remajanya, ia hanya terus disibukkan mendambakan seorang lelaki.

    Dan hari ini seakan penantian itu usai sudah. Setelah 2 tahun bekerja sebagai wartawan untuk sebuah situs berita online, akhirnya ia mencapai tujuannya menjadi seorang wartawan. Yah.. selain menyukai pekerjaannya, faktor utama kenapa ia memutuskan untuk menjadi seorang wartawan adalah agar dia bisa leluasa untuk menemui seseorang yang tidak bisa ditemui dengan bebasnya oleh orang-orang yang menginginkannya seperti fans.

    Hari ini kesempatan langka itu datang seperti undian lotre, kesempatan untuk meliput berita tentang pria idamannya, aktor Bollywood yang tengah bersinar, Shakti Arora. Dan Preetika benar-benar merasa gugup, ini pertama kalinya ia bertemu kembali dengan sang ‘Jodoh Khayalan’ secara langsung setelah 11 tahun berlalu ketika selama ini ia hanya bisa memandanginya lewat media massa dan layar lebar.

    Beberapa jam yang ia lewati serasa seperti bertahun-tahun, kegamangan mulai melandanya, bagaimana jika Shakti sudah tak mengenalinya lagi? yaa.. itu kemungkinan besar, bagaimana orang masih akan mengingatmu dengan hanya satu pertemuan setelah 11 tahun? tapi ia hanya takut ia tak bisa menerima kenyataan itu, atau bagaimana jika Shakti sebenarnya masih mengenalinya tapi pura-pura tidak kenal? Ahh.. tidak tidak! Shakti adalah ‘jodohnya’ yang baik lagi rendah hati mana mungkin dia melakukan itu? Tapi bagaimana jika ia melakukan hal bodoh lagi? Meski sudah dewasa, rupanya kebiasaan buruk Preetika itu tidak bisa hilang begitu saja, terkadang ia masih sering melakukan hal-hal bodoh saat gugup. Lalu bagaimana jika ia melakukan kesalahan seperti 11 tahun yang lalu? Yaa.. itulah yang menjadi kekhawatiran terbesar Pree saat ini.

    Sore menjelang. Pree sudah pergi ke lokasi acara karena wawancara itu akan diadakan di sebuah ajang red carpet acara penghargaan besar yang  dihadiri oleh banyak artis-artis bollywood.

    Sore menjelang malam, satu persatu undangan berdatangan, sebagian besar turun dari mobil mewah dengan menampilkan penampilan yang mengagumkan, ajang red carpet memang selalu menjadi ajang pamer penampilan glamor dan gaun-gaun mahal dari designer ternama oleh para selebritis, dan itu biasanya membuat Preetika sedikit nyinyir.

    Kilat jepretan kamera mengiringi kemunculan dan langkah para selebritis menyusuri bentangan karpet merah, sementara Preetika berdiri di antara deretan wartawan yang sudah menunggu di depan podium untuk mewawancarai satu persatu artis yang datang.

    Pree sudah tidak sabar semakin gugup saja, walaupun tanda-tanda kedatangan orang yang dinantikannya sama sekali belum terlihat, wartawan lain bahkan sudah mulai sibuk mewawancarai para selebritis yang berdatangan, tapi Pree sama sekali tak berhasrat dan tertarik untuk mewawancarai satupun dari  mereka, ia seakan tak perduli bosnya akan membunuhnya jika ia tak memperoleh kabar penting di moment  malam ini.

    Beberapa saat terbengong, handphonenya tiba-tiba berdering, Preetika terlonjak ketika menemukan nama yang terpampang di layar smart phone nya adalah nama Pak Nakuul, pimpinan redaksinya yang menyeramkan seperti vampir yang siap menghisap darah ketika sedang marah.

    “Halo…” Pree mengangkat ponselnya takut-takut,
    “Apa kau sedang mewawancara?” Tanya Pak Nakuul tanpa basa basi.
    “I.. ini baru saja aku akan mewawancara Salman Khan, Pak.” Pree tergagap.
    “Kau jangan coba-coba menipuku, acara itu disiarkan secara langsung di TV, dan aku bahkan belum melihat Salman Khan datang,”
    “Hehe.. maaf Pak,” Preetika menggigit bibirnya takut-takut.
    “Ahh.. sudahlah! sekarang kau masih ku ampuni, lain kali tidak lagi. Dengar, rencana kita ralat, kau tidak akan mewawancarai Shakti Arora sebagai  head line situs kita,”
    “A..apa?!” Pree terkejut ia tidak percaya mendengar itu.
    “Dengar, yang akan kau wawancarai nanti adalah musuh abadi Shakti Arora, Harshad Arora,”
    “A.. apa?! Siapa kau bilang?! Kau bercanda kan?!” Saking terkejutnya, Pree bahkan sampai lupa bahwa dia sedang berbicara dengan atasan yang ia segani selama ini.
    “ya, aku mau kau mewawancarai HARSHAD ARORA! jelas?!”
    “Kenapa harus dia Pak? Aku sudah menyiapkan daftar pertanyaan untuk aktor Shakti Arora,” protes Preetika dengan penuh rasa frustasi, sungguh dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan mahluk itu.
    “Memangnya kenapa kalau dia? Shakti Arora dan Harshad Arora itu bahkan disebut-sebut sebagai Shahrukh Khan Vs Salman Khan Junior, mereka punya marga yang sama, usia yang sama, latar belakang yang sama tapi berseteru secara terang-terangan, jadi kau tidak perlu mengganti pertanyaannya, karena tidak akan ada bedanya, kau hanya perlu mengganti namanya saja, lagi pula aku yakin 100 % Shakti tidak akan datang ke acara itu,”
    “Tidak datang? Bagaimana mungkin? dia bahkan masuk 3 nominasi, bagaimana mungkin dia tidak datang?!” Preetika menyerocos, ia tak bisa menerima pernyataan  atasannya yang baginya tidak masuk akal itu.

    “Hey Preetika Rao yang cantik, sudah berapa lama kau menjadi seorang wartawan? Semua orang tau bahwa gunung himalaya akan pindah ke Arab Saudi jika mereka bertemu dalam satu acara sejak perseteruan besar 2 tahun yang lalu, tadi pihak manajemen Harshad sudah mengkonfirmasi bahwa dia akan datang, jadi sudah bisa dipastikan Shakti Arora tidak akan datang, jadi tidak ada salahnya kau mengganti target wawancara kali ini dengan Harshad Arora, pokoknya aku mau tema head line website kita kali ini adalah ajang IIFAA dan berfokus pada perseteruan antara double Arora, mengerti?!”
    “Mengerti Pak,” Preetika pasrah kali ini ia tak berdaya, harapan yang sudah ia pupuk selama bertahun-tahun luluh lantak detik itu juga.

    Harshad Arora. Preetika benar-benar membenci nama itu, dia memang tidak memiliki masalah dengannya, mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya, kesalahan terbesarnya terhadap Pree adalah Harshad sudah menjadi musuh dan saingan Shakti, yaa.. musuh Shakti tentu juga akan menjadi musuhnya.

    Pria itu benar-benar menyebalkan, dia adalah penjiplak sejati Shakti, dia seolah sangat senang disanding-sandingkan dengan mahluk multitalenta seperti Shakti Arora, saat Shakti bersinar menjadi atlit dan bintang cricket, dia muncul dan menjadi perbicangan baru berkat prestasinya sebagai atlit balap mobil, dan sekarang Shakti sukses menjadi seorang aktor, diapun tak mau terkalahkan dan ia pun merambah Bollywood pula, insiden saling sindir dua tahun lalu memperjelas persaingan dan perseteruan antara keduanya, tak cukup jelas latar belakang kenapa persaingan dan perseteruan mereka tampak begitu nyata, konon mereka pernah satu sekolah dan bertetangga, rumor yang beredar mengatakan bahwa Shakti dan Harshad adalah saudara satu Ayah, dan menurut perkiraan Pree kalaupun itu benar, Harshad pasti adalah anak haramnya, anak dari hasil hubungan gelap ayah mereka, versi lain mengatakan Harshad pernah merebut pacar Shakti.

    Apapun itu, Harshad Arora adalah mahluk paling hina di mata Preetika, dan sekarang untuk pertama kalinya mereka akan bertemu secara langsung, Pree akan melihat wajah jeleknya itu bahkan akan mewawancarainya. Pree tidak bisa menjanjikan wajah pria itu akan aman dari cakarannya saat ia sudah tidak tahan melihatnya.

    Beberapa saat kemudian sebuah limosin hitam berparkir di depan gedung, riuh wartawan memburu dan menjepretkan kamera mereka ke arah mobil yang kini terbuka. Seseorang kemudian muncul dari dalam mobil. Seorang pria tampan dengan senyum menawan, Harshad Arora. Wajahnya yang mulus tanpa cambang usai dicukur dan juga model rambut yang lebih rapi membuat ia tampak lebih muda dan lebih segar dari biasanya, setelan kemeja abu-abu berpadu jas biru tua yang senada dengan celananya membuat ia tampak sangat menawan.

    “Csh! Ada apa dengannya? Dia pasti senang sekali karena Shakti ku tidak datang,” celoteh Pree di dalam hatinya. Setelah bergaya dengan dihujani oleh kilau kamera, ia  kemudian berjalan menuju tempat dimana para wartawan akan mewawancarainya.

    Sebagian besar wartawan termasuk Pree bergerombol mewawancarainya. Satu persatu wartawan kemudian berlomba melontarkan pertanyaan kepadanya, tentang kesannya terhadap acara ini, tentang pakaian yang dikenakannya saat ini, tentang film barunya, dan kini giliran Pree, dia sudah menyiapkan pertanyaan pamungkas yang sebenarnya melenceng dari pertanyaan yang sudah ia siapkan tadinya untuk Shakti dan ia yakini akan membuat Harshad mati kutu.

    “Harshad, kau dan Shakti kembali disandingkan dalam satu nominasi, tahun lalu dia memenangkan kategori aktor muda terbaik mengalahkan anda, apakah anda yakin bisa mengalahkannya kali ini?” Pree tersenyum licik usai melontarkan pertanyaan menjebak yang sukses membuat Harshad terdiam sesaat dan tampak kikuk, semua orang pun terkejut mendengar pertanyaan paling sensitif itu.

    Dan tanpa melihat wajah si penanya dengan angkuhnya ia seolah tak mendengar pertanyaan Pree dan langsung meninggalkan red carpet.
    Kkya? Tadi itu apa? jadi barusan dia mengabaikan pertanyaanku? Haruskah aku menulis artikel tentang kesombongannya itu?!” Pree mengomel sendiri, tidak salah jika ia menjadi anti fansnya, “ya ampun!! Sungguh dia tidak pantas mendapatkan banyak cinta, wajahnya bahkan tidak bisa disandingkan dengan ketampanan Shakti.”

    Pada ajang Red carpet di awal acara, Preetika tak membuahkan hasil apapun, ia gamang berada di antara tanggung jawabnya terhadap Pak Nakuul dan keengganannya mewawancarai orang menyebalkan itu. Acara kemudian berjalan dengan megah dan meriahnya. Meski tidak datang, Shakti berhasil menyabet dua piala sekaligus untuk filmnya tahun ini yang sedang booming dan sukses mencetak record box office, tapi celakanya ia tak berhasil memenangkan penghargaan untuk nominasi “Aktor Of The Year” dimana ia bersaing dengan saingan dan musuh abadinya, dan justru yang kali memenangkan kategori itu adalah Harshad Arora sendiri.

    “Astaga! Dia sudah pasti membayar penyelenggara untuk memenangkannya, film nya bahkan sama sekali tidak menarik!” Umpat Preetika di hadapan Naveen, seorang photografer sekaligus sahabatnya, ketika mereka bersama-sama melihat siaran langsung dari luar gedung dengan layar LCD.
    “Hmmh, tapi memang ku akui aktingnya meningkat pesat di film itu,” Naveen mencoba bersikap objektif.
    “Csh! Sudah kuduga kau tidak punya selera dalam menentukan aktor berkualitas,”

    “Terimakasih untuk piala kedua pada malam hari ini, akhirnya piala yang seharusnya aku dapatkan di tahun lalu  akhirnya ku dapatkan malam ini”

    Harshad berpidato singkat, masih tetap dengan kepercayaan diri dan kesombongannya.

    “Kau dengar?! Apa yang aktor kelas teri itu katakan? Oh ya ampun! aku tidak menyangka dia sepercaya diri itu! kenapa artis dengan bad-attitude seperti itu bisa memiliki fans?” Pree masih saja menggerutu di tempatnya.

    Malam semakin larut, perhelatan akbar tahunan itupun berakhir sukses, meskipun nantinya ada saja peraih pengahargaan yang menjadi kontroversi karena dianggap tidak pantas dan Pree berharap, masyarakat segera menyadari betapa tidak pantasnya seorang Harshad Arora mendapatkan piala yang seharusnya diperoleh oleh Shakti Arora.

    Seperti halnya di awal acara, kini di red carpet kembali dilakukan sesi wawancara kepada para pemenang penghargaan. Dan kembali, Pree harus melakukan hal yang ia benci dengan mewawancarai Harshad yang malam ini sukses menyabet 2 piala.

    Kini dengan bangganya Harshad menggenggam 2 pialanya, lalu kemudian piala yang satunya ia titipkan kepada asistennya dan menggenggam piala yang paling dibanggakannya, piala yang ia peroleh melalui persaingan dengan Shakti, seluruh wartawan kemudiaan merapat padanya, ada yang mengambil photo, ada pula yang mewawancara, Naveen mengambil beberapa photo Harshad yang menggenggam piala kemenangannya dari beberapa angle, sementara Pree menyodorkan mikrophone ke arah mulut Harshad yang kini menyampaikan kesannya.

    “Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut dengan piala ini, mengingat di media sosial begitu banyak dukungan dan fans mengatakan aku pasti akan memenangkan banyak penghargaan berkat kiprahku di film terbaruku, bahkan sejak tahun lalu ketika aku tidak menang, itu menjadi kontroversi, mereka semua bilang hanya aku yang pantas mendapatkannya, yah mau bagaimana lagi? hehe…” Harshad terus saja mengoceh dengan sombong dan kepercayaan dirinya yang setinggi langit.
    Pree yang kini berada di himpitan wartawan mulai dibuat geram, hatinya terus saja membantah setiap pernyataan sang aktor, hingga akhirnya dia mulai tidak tahan dan melakukan sesuatu yang di luar akal sehatnya.

    Ia berlaku seolah-olah tak berdaya terombang-ambing di antara gerumbunan wartawan lain, tubuhnya seolah terdorong ke depan dan sukses menubruk sang aktor. Tujuan Pree sebenarnya adalah ingin menyeruduk wajah sang aktor agar segera bungkam dan tau rasa, tapi malah justru yang terjadi adalah hal yang di luar dugaan. Tubuh Pree justru jatuh ke dalam pelukan Harshad dan seolah situasi berjalan dengan keinginannya sendiri, tatapan mereka tanpa sengaja saling bertemu dan terkunci satu sama lain, untuk sesaat waktu terasa berhenti dan hanya dimiliki mereka,

    Oh God! Apa yang sudah terjadi padaku, kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku? Orang ini, bukankah Harshad Arora? Tapi kenapa rasanya aku sudah pernah bertemu dengan sebelumnya dan mengenalnya sejak lama? apa yang terjadi padaku? Apa sekarang aku sudah gila?” otak dan logika Pree masih berjalan  dengan normal, tapi entah kenapa hatinya tak bisa berkompromi dan mengendalikan seluruh syarafnya.

    Sepersekian detik larut dalam debaran aneh yang melumpuhkan, mereka akhirnya tersadar, dan begitu sadar Pree langsung mengambil langkah seribu dan menghilang dari tempat itu, sementara tanpa ia sadari hidung Harshad mengeluarkan darah, akibat sebelumnya hidungnya terhantam pialanya sendiri.

    Harshad.. kau tidak apa-apa? apakah kau mengenal gadis tadi? Apa mungkin dia anti fans yang menyamar menjadi wartawan?

    Para wartawan mulai memberondonginya pertanyaan soal insiden singkat namun mengejutkan tadi. Namun Harshad enggan menjawab  dan memutuskan untuk tidak menerusman wawancara itu dan pergi.

    “Kau tidak apa-apa?” Sumeet sang asisten pribadi memberikan tisu untuk Harshad membersihkan darah mimisannya.
    “Gadis itu pasti sudah gila! Berani sekali dia menyerangmu di depan banyak orang! Mungkin dia seorang fans yang menyamar menjadi wartawan, perlukah kita menuntutnya?” Tanya Sumeet lagi.
    “Ahaha, untuk apa? Kau jangan berlebihan, Aku baik-baik saja, gadis itu sama sekali tidak membahayakanku,” Harshad justru tersenyum sumringah, mengingat bagaimana gadis itu tiba-tiba menyeruduknya, wajah polosnya dan tatapannya, membuat Harshad tersenyum-senyum sendiri seolah ia menyukainya.

    ****
    Malam harinya Pree pulang ke rumah dengan hati hampa, segalanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil, harapannya sirna sudah. Soal kelanjutan kisahnya dengan Shakti yang hari ini gagal total ia belum memikirkannya.

    Tepat ketika ia membuka pintu rumah, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kemunculan ketiga anggota keluarganya dari balik pintu seolah-olah mereka sudah lama menantikan kehadiran Pree dan penasaran akan sesuatu.

    “Kakak, bagaimana kencan Kakak tadi? Menyenangkan tidak?” Shivangi bertanya dengan raut penasaran.
    “Sayang, apa yang terjadi apakah semuanya baik-baik saja?” Ibu juga ikut melontarkan pertanyaan.
    “Tolong jangan tanyakan itu lagi, tidak ada yang terjadi dan yang akan terjadi. Jangan paksa aku lagi!” Pree tampak tak bersemangat dan enggan bercerita apapun. Ia pun langsung beranjak naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya dan menghampas pintu tanda moodnya sedang tidak baik.

    Hal itu membuat kegembiraan dan harapan seluruh anggota keluarga ikut pupus. Sepertinya mereka harus lebih bersabar lagi hingga Pree benar-benar menemukan lelaki yang tepat.

    ****

    Starnews Office

    “Apa ini? Bukankah gadis gila ini adalah kau?!” Pak Nakuul menunjukkan update berita perhelatan semalam kepada Pree yang bahkan baru saja datang dan belum sempat melakukan apapun, pagi hari yang sejuk begini Pak Nakuul sudah tampak menyeramkan.

    “I.. itu, aku tidak sengaja melakukannya Pak,” pelan Pree takut-takut.
    “Oh ya? Begitukah?! kalau begitu bacalah isi beritanya,” Pree melotot ke ke arah komputer Pak Nakuul dan ia tidak perlu membaca isinya, cukup dengan membaca judulnya saja ia sudah bisa mengetahui kekacauan apa yang terjadi.

    SEORANG ANTI FANS YANG MENYAMAR MENJADI WARTAWAN MENCOBA MENYERANG AKTOR HARSHAD ARORA

    Dilampiri dengan gambar saat dirinya menyeruduk sang aktor walaupun wajahnya tidak terekspose, gambar saat ia melarikan diri, dan gambar Harshad mengeluarkan darah dari hidungnya, memberikan kesan seolah kejadian semalam adalah tragedi penyerangan yang serius dan sekarang keamanan seorang Harshad Arora sedang terancam.

    “Apa-apaan ini? Itu semua tidak benar! Aku benar-benar tidak sengaja,” sebenarnya Pree juga mulai takut, karena nyatanya dia memang sengaja menyerang sang aktor untuk mencelakakannya walaupun tak seburuk dan segawat yang diberitakan.
    “Kau tau apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana kalau sampai pihak Harshad Arora mengusut kasus penyerangan ini dan mengetahui bahwa kau adalah wartawan disini? kantor berita kita bisa hancur, kau tau itu?!” Pak Nakuul membentak Pree dan membuat gadis itu terlonjak berkali-kali.
    “Sekarang kau DIPECAT!!” mata Pree terbelalak ketika Pak Nakuul melontarkan keputusan sepihak itu.

    “Pak! Tolong jangan pecat aku pak! Aku mohon!” Pree mengiba dengan menempelkan kedua telapak tangannya di dadanya.
    “Pergilah! hari ini kau tidak perlu bekerja lagi, pesangonmu akan langsung ku transfer ke rekeningmu hari ini juga!

    “Pak, jangan seperti itu, aku tidak bersalah sama sekali, lagipula mereka juga belum melakukan apa-apa terhadap kasus ini, kalaupun Bapak memecatku, mereka juga akan tetap tau bahwa aku bekerja untuk kantor berita ini, dan kalau bapak memecatku, aku tidak janji untuk tidak mengatakan kepada polisi bahwa semua itu adalah perintah dari atasanku!”
    Mendengar ancaman Pree itu, tampak jelas sekali Pak Nakuul terlonjak, Preetika tau dengan jelas pria itu seketika merasa terancam.

    “Jadi sekarang kau mengancamku?!” Pak Nakuul masih meninggikan volume suaranya untuk menutupi kegentarannya.
    “Tidak begitu Pak, ayolah beri aku satu kesempatan lagi. Bagaimana kalau kita membuat perjanjian dengan pihak Harshad Arora untuk melakukan wawancara khusus? Aku janji akan minta maaf padanya dan memperbaiki segalanya, tapi kumohon jangan pecat aku,” Pree mulai melancarkan aksi cerdik dan bujukan mautnya.

    Preetika akhirnya berhasil membujuk Pak Nakuul untuk tidak memecatnya dengan jaminan pihak Harshad Arora tidak akan menuntut mereka dan Pree harus memberikan kontribusi lebih bagi perusahaan, dalam waktu dekat ia harus memperoleh topik yang paling menarik dan mampu meningkatkan jumlah readers.

    Dan kehidupan selebritis pastilah akan menjadi sasaran paling empuk untuk menarik minat pembaca, maka demi itu semua, Pree harus rela menjadi paparazzi dadakan untuk beberapa saat. Pekerjaannya setiap malam usai bekerja adalah mengintili tempat parkir apartemen para selebritis, rumah tempat tinggal ataupun tempat-tempat hang out yang biasa para selebritis datangi bermodalkan informasi dari stalking update sosial media mereka.

    Malam ini adalah sabtu malam, akhir pekan seperti ini pasti banyak kaum seleb yang menghabiskan waktu mereka untuk bersenang-senang di club malam. Dan terget operasi Pree kali ini adalah Tridha Chaudhury, seorang aktris televisi yang sedang gencar-gencarnya diisukan sedang berkencan dengan Harshad Arora. Artis debutan itu sangat mudah dijadikan objek paparazzi mengingat dia terlalu show off di akun media sosialnya, dia selalu mencantumkan tempat-tempat dimana ia sering bepergian, jadi walaupun Harshad dikenal sebagai artis yang berkepribadian sangat tertutup akan masalah pribadinya, namun kepribadian gadis itu yang justru terlalu terbuka membuat hubungan mereka dengan mudahnya tercium oleh media.

    Mereka selama ini membantah hubungan mereka, tapi kali ini Pree yakin di tangannya lah bukti kebenaran hubungan mereka akan segera terbongkar, karena sekarang ia akan menjadi paparazzi mereka dan membongkar semuanya dengan jelas.

    Sesampainya di depan club, Pree memutuskan tak masuk masuk ke dalam club, untuk beberapa saat ia berdiam di tempat parkir dan melihat-lihat situasi yang terjadi. Kini ia tampak seperti seseorang wanita muslim dengan baju gamis hitam dan cadar hitam yang ia kenakan, bisa dipastikan dia tidak akan bisa masuk club dengan penampilan seperti itu bahkan kalau pihak club melihatnya, mereka pasti menangkapnya karena mengira dia adalah teroris yang berencana mengebom club.

    Beberapa saat, sebuah mobil memarkir tak jauh dari tempat ia berdiri, Pree menyembunyikan dirinya di sisi mobil yang berparkir seolah orang yang datang itu akan memergokinya,  dan kali ini percuma saja dia bersembunyi karena yang datang adalah pengunjung biasa. Beberapa mobil datang menyusul dan tak satupun dari mereka yang bisa dijadikan target operasi.

    Hingga bermenit-menit kemudian, sebuah sebuah mobil chevrolet hitam berparkir, lagi-lagi Pree memanjangkan lehernya seperti jerapah seperti sedang mengintip.

    Dan kali ini keberuntungan di pihaknya, target operasinya yang muncul, Tridha Chaudhury! Pree girang bukan kepalang. Segera ia mengaktifkan kameranya dan memotret target itu diam-diam, tapi ada yang aneh, Tridha tampak datang bersama seorang pria asing berperawakan Eropa, meskipun sempat bingung tapi Pree masih sempat mengabadikan gambar mereka.

    “Aisshh!! Kalau wanita itu bersama pria lain, apa menariknya? Dasar!! Apa seorang Harshad Arora saja tidak cukup?” Gerutunya pelan.

    Beberapa saat menimbang-nimbang dan mencari-cari, sepertinya Harshad kali ini tak datang, wanita itu pasti sudah tau bahwa Harshad tidak akan datang makanya dia berani membawa pria selingkuhannya. Pree baru saja akan beranjak dari sana ketika ia melihat kemunculan seorang pria dari dalam club, itu Harshad Arora! Rupanya dia sudah lebih dulu berada di dalam club. Sang aktor tidak sendiri karena ia keluar bersama pria Eropa yang datang bersama Tridha tadi.

    Seperti seekor kura-kura, buru-buru Pree menyembunyikan kepalanya dari balik mobil yang berparkir itu.

    “Harshu jujurlah padaku, apa kau mencintai Tridha?” Pria asing itu bertanya dalam bahasa inggris, suaranya terdengar akan menangis membuat Pree merasakan sesuatu yang janggal.
    “Aahh.. jadi ini cinta segi tiga? Wanita itu pasti sudah menduakan Harshad dengan pria asing itu,” gumam Pree
    “Danielle, sudah ku bilang, aku sama sekali tidak mencintainya, kami berdua hanya teman biasa, kami bekerja secara profesional,  kami tidak memiliki hubungan khusus sama sekali,” Harshad terdengar berusaha membuat pria itu mengerti.
    “Lalu kenapa kalian begitu dekat? Itu membuat aku cemburu!!” Pria Eropa itu terdengar bergetar seperti sedang menangis,

    “Ahaa!! Ini kesempatan emas, sebentar lagi pasti akan ada aksi perkelahian dan aku tidak boleh melewatkannya begitu saja,” ucap Preetika antusias, gadis itu kemudian kembali memanjangkan lehernya dari sisi mobil, ia sudah menyiapkan kamera untuk mengabadikan adegan perkelahian itu, namun hal yang diluar dugaan terjadi. Bukannya saling hantam yang tampak, justru mereka malah saling berpelukan, pria Eropa itu memeluk manja tubuh Harshad seperti seorang gadis.

    “Ya Tuhan! Apa ini?!” itu adalah ekspresi keterkejutan Pree, ia masih setengah percaya dengan apa yang ia lihat, tapi ia sudah mengabadikan adegan itu dalam dua jepretan.

    “Aku mencitaimu, aku tidak bisa melihat kau dengan wanita lain,” ucapan pria itu membuat Pree tersentak namun membuat semuanya menjadi jelas, ia kembali menyembunyikan tubuhnya di balik mobil, matanya terbelalak membayangkan apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Ia menutup mulutnya rapat-rapat khawatir ia tak bisa menahan diri untuk berteriak sekencang-kencangnya.

    Oh My God!! Harshad Arora… seorang Gay?!” Gumam Preetika setengah percaya.
    “Ini akan menjadi berita besar! Aku harus pergi sekarang!” Pree merasa ia tak perlu melakukan aksi paparazzi nya lebih lanjut, mengingat foto-foto dan fakta yang ia ketahui itu sudah menjelaskan segalanya, ia berniat untuk menyudahinya dan akan pergi diam-diam tanpa jejak dengan mengendap-ngendap.

    Namun nasib malang selalu saja menimpanya, segala yang ia rencanakan dengan matang tak ada yang berjalan dengan sempurna, tak sengaja ia menyenggol mobil yang berparkir di belakanganya dan ternyata mobil itu memiliki alarm yang seharusnya ditujukan untuk pencuri, hal itu tentu saja sampai ke telinga kedua pria itu dan membuat keduanya penasaran.

    “Hey!! Siapa disana?!” Pekik Harshad, sementara Pree kembali berjongkok  di samping mobil untuk menyembunyikan dirinya,
    “Kau tunggu disini, aku yang akan ke sana,” Harshad meminta pria asing untuk tetap di tempatnya dan membiarkan dirinya mengecek sendiri apa yang ada di sana, mungkin saja itu benar-benar pencuri,
    “Siapa kau?!” Tepat ketika Harshad melontarkan pertanyaan itu saat memergoki gadis berpenampilan misterius nan mencurigakan itu, seketika itu si gadis misterius langsung menghindar dan mencoba melarikan diri,
    “Hey!!” Harshad masih sempat menahan gadis itu dengan menarik tangannya hingga tubuh gadis itu tertarik ke arahnya, sesaat pandangan mereka saling bertemu ia bisa menatap mata gadis bercadar itu, mata indah yang pernah ia lihat sebelumnya.
    “Kau?” Tanya Harshad kemudian seolah ia sudah mengenalinya, namun gadis itu memanfaatkan kesempatan dari keterpakuan Harshad untuk mencari cela dan meloloskan diri dan ia berhasil meloloskan diri.

    Harshad memutuskan untuk tak menahan gadis itu, ataupun mengejarnya meski itu mudah baginya, karena gadis itu sudah meninggalkan jejaknya. Sebuah badge, yang merupakan tanda pengenalnya.

                To Be Continued

    Teaser Chapter 2

    “Coba lihat berita ini! Harshad Arora seorang Gay?” (Seseorang)

    “Anda kami tangkap Nona” (seorang polisi)
    “Ke… kenapa?! Aku tidak melakukan apapun!” (Pree)
    “Anda ditangkap atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik,” (Polisi)

    “Preetu, ada yang datang mencarimu” (Ayah Pree)
    “Siapa?”
    “Dia seorang pria yang sangat tampan, dia sepertinya adalah seorang aktor”
    “Ak..aktor? Si..siapa?”
    “namanya… entahlah dia tampak seperti artis Bollywood, Ayah lupa namanya, Arora…arora…”
    “Shakti Arora?!”
    ****

    Cukup syekian dulu guys chapter 1 untuk kisah inih, eke tunggu responnya loh! Bagus enggaknya kelanjutannya, cepat lamanya ngepostnya, panjang pendeknya, DILANJUTIN ENGGAKNYA. Itu semua tergantung pada anemo readers, kalo kurang memuaskan maafkeun saja, kelanjutannya imajinasi masing-masing. So, wahai good readers yang budiman, ungkapkan lah isi hati kalian tentang fan fict terbaru eke inih, yang hanya bisa bungkam alias silent readers, GO AWAY.  Oke deehh!

    Advertisements

    31 thoughts on “Imprint, The Match From Heaven (Chapter 1)

    1. W O W keren 👍👍👍👍 makin bagus ceritanya n ga ketebak sama sekali, surprise bgt si sumeet juga ada disini, bner2 romance komedi aku syuka aku syuka 😍😍

    2. Pertama- tama seneng bgt ada fan fic lg 😍😘# gitu aja y….terkejut waktu tau orang yg disukai Pree , jodoh khayalan Pree itu Shakti 😱tp y sdhlah 😊pertengahan cerita aq merasa ceritax hampir mirip dg SANAM TERI KASAM #aq bahkan ngebanyangin jg 😁, tp rada ambigu waktu Pree nubruk Harshu n saling pandang 👈 disitu aq merasa jangan2 Pree salah orang yg nolongin dia waktu pingsan di SMA itu bknx Shakti tp Harshu……hehehe gitu ajah sih, makin penasaran keljtanx 😊😊 Dan satu lg baru tau tentang IMPRINT 😁😁

    3. WoW… BagusNya… Keder2 bacanya berasa aq berdiri diantara cerita ini liat langsung .. Well Done… Fresh Story… Unpredictable… Saking Happy nya … ampe bad mood hari ini ilang,,, lupa… gegara nih,,, loveeee itttttttttt … mbak to be continue jgan lama2 ya… besok di release ya… muahhhh

    4. woww … bagus mbak , sampai d baca 2x biar bisa membayangkan haha …. menurut ku jg yg nolongin pree itu harsu bkn shakti , tapi walohualam dah nunggu lanjutan nya aja # sambil penasaran hehehe

    5. Ceritanya seru banget.. Aku kira pria impiannya itu Harshad eh ternyata Shakti.. Ceritanya gak gampang ketebak.. Jangan lama lama ya mbak lanjutannya

    6. Hebat eeuuyy..ditunggu part selanjutnya mbak..maaf aku gk bisa comment banyak..saking seneng nya..hehe thanks ya mbak..

    7. Wow FFnya keren banget kak😍. Sampe2 ane jatuh cinta bacanya. Kata2 disetiap kalimatnya itu yang bikin apalah2 gimanaaaaagitu. Aduh kak aku nggak bisa coment bawel apalagi. Next secepatnya aja kak hhehehe😉

    8. W.O.W FF kakak keren bangeettttt sumpah. Bikin aku lopelope diudara😍😍 disetiap kata2 nya itu loh yang bikin apalah2 gimanaaaaagitu. Maaf kak nggak bisa coment bawel. Next secepatnya yah kak hehehehh

    9. OoooooMmmmmmmGgggg akhirnya…😍😜 yampyuunnn Preetika smpai sgtu yakinnya klu lelaki impern ny adlh Shakti Arora 😆 n sgtu benciny dg yg namnya Harshad Arora 😂 ehh disitu ada semut rangrang alias summet si Tridha jga ada yak..aku harap dia jdi cameo doank 😜jdi motivasi pree jdi wartawan itu krn shakti? Hahaha 😂😂 hhmm hati” ye jngn tlu membenci orang ntar kena tulah lho Pree 😆 n soal club mbaksay mmbuka aib lama trkait clubbing 😂😂 aachhhh jdi penasaran kelanjuannya 😄 menarik ceritanya makasih mbak say 😘👏💐 dituggu chapter selanjutna 😄😍

    10. Critanya bagus banget Nisa, aq suka n mulai penasaran sama kelanjutan critanya, tapi sayangnya nama2 nya pakek nama asli kurang sreg aja bacanya, sori ya Nis, q takut e klo ntr ke depannya km kenak mslh, mending nama2nya km ganti aj deh, ato nama yg nyrempet2 gto,,,tp selebihnya ceritanya OK kok,,,,goodjob

    11. Go Away trus kaakk jangan pernah mnyerah trus lanjut (kek org mw prgi perang ajaa) 😀 truuss smngat yaa kaakk …Panjang” episodenya yaa

    12. howah….

      paling berkesan di awal awal part..
      keren banget..
      jadi berasa seperti nasibku.. hehehe

      di awal seperti fairy tale ya..
      seperti kisah dongeng..

      sangat menarik..

      sampai di cerita,
      (jujur) aku masih rada bingung..
      apa yang menolong itu benar shakti atau harshad ketika 11 tahun yang lalu..

      karena aku merasa ambigu ketika pree dan harsh bertatap mata seolah pernah mengenal..

      jadi merasa bahwa tidak ada yang bisa menebak jodoh, secara pree terlalu yakin pada shakti.. lah saat ketemu harsh juga merasa kenal..

      mungkin karena episode pembuka jadi aku masih merasa bingung ya..
      hehehe..

      jujur lagi nih, tulisannya panjang tapi aku merasa ceritanya pendek..
      cepet banget bersambungnya..
      huhuhu…

      but, bagus.. aku suka.. suka banget.. setidaknya berasa berimajinasi tentang kisah harshika.. hehehe..

      next part ditunggu….

    13. Ahahahahaha bisa di bayanhin dong gimana kucing dan tikus bertemu , seperti hal nya preetika dan harshad , ya ampuuunnnn pree jd seorng wartawan dn harshu jd aktornya , bakal dapet hujatan ajh dri pree, kereeennnn mba nisa , dinext ahhh secepatnya , udah lama banged nungguin FF nya ka nisa ,

      Sukses terus ka nisa 🙂

    14. waduuuh,…mba nisa kueren abis mba,…. seperti kisah nyata ya,….terlebih songongnya si harshad….knapa harus ada si tridhul mba???
      good job mba,… dan ditunggu part selanjutnya
      jangan lama lama mba,…….hehehehe

    15. Omaiigottt, omg heloo ceritanyaa keren binggoioooo, next dong kakk secepetnyaa,, gabisa ngomong apa lagii , yang pasti top dehhh, mangat terus kakakkkkkkk😘😘😘 semoga cevaf di next udh penasaran++++++++ minta ampun dahhh

    16. Mungkin gue bakal jadi komen Bawel terbawel *pret😂
      Gila keren banget, panjang banget, puas banget, dan gak gue harap update nya bakal lama banget 😭
      Kisah Pree yang menggelegar sekalee… ditambah gue ngakak parah waktu adegan Harshad tertusuk sama piala nya sendiri sampe hidung berdarah ditambah dijadiin new gosip soal harhsad yang gay. OMG! 😨
      Gue suka dan demen banget waktu gue baca Teaser, sumpah keren banget… berasa nonton drakor wkwk… jadi pengen baca cerbung tentang drakor lagi.. terus berkarya kakak! 😊
      Jangan lama lama update nya, maaf baru komen soalnya habis UTS! Dan kakakk menghiasi uts ku dengan karya kakak yang menyejukkan jiwa *asekkk
      Good luck! Semangat!

    17. gila keren buanget nih ff nya……
      kak nisa selamat berhayal bebas ya wkwkwkwk….. tapi kak menurutku pree ga pantes klo buat shakti pantesnya ya buat prince harshad walau ada terpaan angin dari sono sini ttg si nenek lampir noh….
      tapi aku mah suka buanget nget nget s ma karyamu kak.. teruskan langkah mu ya kak…. baru baca chap1 aja udah suka apa lagi yg slanjutnya….

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s