Imprint, The Match From Heaven (Chapter 4)


image

Title        : Imprint

Author   : Chairunnisa

Genre    : Drama, Romance, Comedy n Family (Marriage Life)

Casts     :

    • Harshad Arora as Himself
    • Preetika Rao as Herself
    • Shakti Arora as Himself
    • Other Casts: Find in The Story

    Hello Guys, sebelumnya maafkeun diri ini baru bisa ngepost chapter 4 setelah sekian lama. Ada begitu banyak hal yang membuat gue gak bisa ngepost part ini secepat part sebelumnya. Faktor kesibukan *jiahh , berbagai permasalahan yang terjadi, dan juga karena kurang pikniknya author sehingga membuat gue kekurangan inspirasi menjadi alasan paling masuk akal kenapa gue buat susah banget mengpost kilat Chapter ini, maaf ya guys kalo udah lama ngepost tapi ceritanya kurang apalah-apalah, tapi semoga pada gak lupa dan tetep sukak sama part ini yo guys. Ok deh, sekian dulu sambutan dari gue, happy reading!!

    Preetika’s POV

    Pertemuan pertamaku dengan Shakti persis seperti yang aku impikan selama ini, seperti pertemuan Shahrukh Khan dan Kajol dalam film-film romantis mereka. Diiringi alunan musik syahdu nan romantis, kami saling memandang penuh makna seolah mengungkapkan begitu banyak hal hanya dengan sebuah tatapan, dan yaa.. kami hanya fokus kepada satu sama lain, seolah tak ada yang lain selain hanya kami.

    Aku kembali mengalami de javu persis seperti kejadian 11 tahun yang lalu, keadaan yang sama dengan orang yang sama, aku bahkan sontak mematung seperti orang bodoh ketika ia menyentuh wajahku dan mengusap kotoran di wajahku. Apa maksud semua ini? Apa dia mengenaliku setelah 11 tahun berlalu? apa imprint itu bukan hanya aku yang mengalaminya? aku sekarang tidak bermimpi bukan?

    Sebenarnya lebih dari bahagia aku justru merasa tidak merasakan gejolak apapun, mungkin aku belum bisa percaya begitu saja, apa sekarang aku sedang berada dalam acara variety show? Tidak! Ini hanya terlalu sempurna sehingga aku sudah lupa pahitnya rasanya menanti.

    Namun tentu saja, seperti sewajarnya sebuah realita, semuanya tak akan sesempurna yang aku perkirakan, segala situasi yang sudah tersetting indah bak sebuah film romantis itu hanya berlangsung dalam hitungan detik lalu segalanya buyar dan kembali seperti semula, aku seperti terbangun dari mimpi indahku dengan kehadiran sang tokoh antagonis dalam kisah ini, seperti biasa, dia melakukan segalanya sesuka hatinya.

    “Ayo kita pergi dari sini,”  buru-buru Harshad yang tidak kalah mengerikannya dari seorang Hitler menarik tangan kananku dan mencoba membawaku pergi seolah aku ini kantong kresek belanjaannya, tapi lagi-lagi sesuatu yang mengejutkanku dan tak pernah ada dalam bayanganku selama 11 tahun adalah ketika Shakti mempertahankanku dengan menarik tangan kiriku. Tuhan.. apa lagi ini? Apa sekarang terjadi cinta segi tiga seperti dalam Film Dil To Pagal Hai? Baiklah! aku baru tau bahwa ternyata perasaan Madhuri Dixit saat diperebutkan oleh Shahrukh Khan dan Akshai Kumar akan sebodoh ini.

    “Csh! Apa maunya si brengsek ini?… Hey! Nona Cinderella, sudah waktunya pulang, saatnya meninggalkan sang pangeran buruk rupamu ini,” Harshad sekarang meracau, aku tau pasti dia sekarang sedang mabuk. Heft.. Sudah ku duga, dia hanyalah manusia tak bermoral dan putus asa yang hanya bisa meluapkan segala masalahnya dengan alkohol. Tuhan… jauhkan aku dari orang-orang seperti ini.

    “Lepaskan dia!” Ucapan Shakti itu semakin menambah keyakinanku akan perasaan yang akhirnya berbalas ini.

    Namun seolah diombang-ambing, diangkat lalu dijatuhkan bak bola tenis dengan kejamnya, ketika aksi spontan bak prince charming Shakti membuatku berbunga-bunga dan melayang ke langit ke tujuh, Harshad lalu melakukan hal sebaliknya dengan kembali menghempaskan aku ke jurang yang dalam.

    Ia merebut paksa diriku dari Shakti dan membawaku ke dalam pelukannya. Apa-apaan ini? Yaa… Harshad adalah spesies aneh sejenis alien, tapi kenapa justru adrenalinku lebih berpacu saat di dalam pelukan pria gay rabies ini daripada ditatap Shakti? pasti ada yang salah dengan jantungku!

    “Kenapa? Kau sekarang akan mengambil gadis ini setelah semua yang sudah kau renggut dariku? Kenapa tidak sekalian saja kau ambil semua pakaian dalamku saja.. ” pakaian dalam? 😮 Perumpamaan macam apa itu? Ya ampun! Dia benar-benar Gay tengik yang menjijikkan!

    “Maksudku, kenapa kau senang sekali merenggut semua yang ku miliki? Setelah semua yang kau ambil, kau juga ingin merenggut pacarku? Tidak! Bermimpi sajalah kau, dia satu-satunya hal berharga yang kumiliki,” ini lebih mengejutkanku lagi, pacar? Berharga? Woah! Ini terlalu berlebihan! Dia sekarang pasti benar-benar mabuk! Atau apa mungkin justru sekarang dia sedang melancarkan aksi liciknya? Yaa dia pasti hanya ingin memanas-manasi Shakti.

    Baiklah! sekarang justru aku penasaran, bagaimana reaksi Shakti, yaa… ini kesempatanku untuk mengetahui isi hatinya, di dalam film-film biasanya cinta itu paling mudah diungkapkan melalui kecemburuan.

    “Dia pacarmu? Kau pikir aku percaya  kalau gadis secantik itu pacarmu?”  aku tidak salah dengar bukan? Shakti mengatakan aku cantik?!
    “Yaa… kecuali dia sudah operasi transgender,” Shakti melanjutkan kalimatanya, dan kali ini, baiklah.. sekarang Shakti menghempaskan aku lagi,
    “Terserah apa katamu, aku tidak peduli pada anggapanmu, yang jelas walaupun kau sudah mengambil pacarku yang cantik, aku bisa mendapatkan pacar yang lebih cantik lagi,” Harshad merangkulku lebih erat lagi, sampai rasanya leherku tercekik, ia terdengar sangat angkuh dan pamer yang aku tidak habis pikir, demi reputasinya dia mengangkat dan memujiku setinggi langit, padahal di belakang dia selalu menghinaku sesuka hatinya.

    Dan sialnya lagi, dia mengatakan semua itu di depan Shakti, pria idamanku! ingin rasanya aku menendang tulang kering Harshad Arora, tapi aku kan harus tampil anggun di depan Shakti! kesan pertama adalah hal yang paling penting dalam memulai sebuah hubungan, tapi bagaimana cara aku menjelaskan kepada Shakti bahwa pria ini adalah pembohong besar? Sungguh, aku tidak ingin membuat Shakti salah paham.

    “Ayo kita pergi dari sini sayang, kau tidak usah pulang dulu ke rumah orang tuamu kita akan cari hotel…” BUKK! Heel ku cukup keras dan tajam untuk menumbuk kaki Harshad dan membuat wajahnya memerah menahan sakit. Dan itu membuatku sedikit lega, akhirnya aku berhasil  menyalurkan sedikit amarahku sebelum dia mengoceh lebih tidak masuk akal lagi, dari tadi aku masih menahan diri dengan ocehannya yang tak separah ini, tapi hotel? Apa dia mau membuatku tampak murahan di depan Shakti? Lain kali jika dia berkata seperti itu lagi, akan kubuat kakinya diamputasi!

    “Kita pulang sekarang Sayang,” sambil menahan rasa sakitnya, Harshad tetap bersikeras membawaku pergi. Namun adegan cinta segitiga yang tidak pernah kubayangkan kembali dilakoni, Shakti kembali menahan kami dengan menarik lenganku.

    “Lepaskan dia!” Kali ini Shakti lebih tegas dari sebelumnya, dan aku tidak berani menafsirkan apapun maksudnya, meskipun aku patut berbesar kepala.

    “kau sedang mabuk Harshad, aku tidak akan membiarkanmu membawa seorang gadis dalam keadaan mabuk dan kacau seperti ini, kau bisa membahayakannya,” ohh.. jadi begitu? Shakti melakukannya semua ini karena itu? Yaa.. alasan itu lebih masuk akal daripada aku berfikir bahwa Shakti juga merasakan hal yang sama denganku selama bertahun-tahun, aku harus berbesar hati dan meralat pikiranku sendiri, bahwa Shakti menahanku bukan karena ia mengenaliku, apalagi karena dia merasakan hal yang sama denganku selama bertahun-tahun, seharusnya aku sudah tau betul Shakti hanya terlalu baik dan menunjukkan rasa pedulinya terhadap siapapun bahkan dengan orang yang tidak ia kenal sekalipun, mengetahui seorang gadis sedang berada dalam terkaman mahluk biadab seperti Harshad siapa yang akan diam saja? Aku sebenarnya cukup kecewa, tapi seperti biasa, Shakti selalu membuatku bersimpati padanya.

    “Apa urusannya denganmu? Apa dia pacarmu? Apa aku sudah merenggut pacarmu seperti yang kau lakukan padaku?!” Harshad yang sudah kehilangan akal sehatnya terus saja mengoceh tidak jelas.

    “Terserah apa katamu, kau sedang mabuk, bahkan jika sedang tidak mabuk saja kau selalu bicara semaumu, apalagi jika sedang mabuk?” Balas Shakti, dan sekali lagi aku harus mengatakan bahwa semua yang dikatakannya adalah benar.

    Sementara Harshad kembali menunjukkan ketidak warasannya dengan tiba-tiba mendorongku, ke arah Shakti. Tubuhku tak berdaya dan menabrak tubuh Shakti hingga secara spontan ia menangkap tubuhku dan membawaku ke dalam rengkuhannya.

    🎶Dharmiyan female version is playing🎵

    Untuk sesaat kembali tatapan kami saling bertemu, ia menatap mataku lekat-lekat seolah ia mencari sesuatu di dalamnya dan aku juga tak bisa berpaling dari matanya, tapi kali ini aku tak bisa mengerti perasaanku sendiri.

    “Bagaimana kalau kita bertukar pasangan saja? Kau mendapatkannya dan aku mendapatkan Radhika kembali?” Harshad mengoceh lagi. Dan lagi-lagi itu tak masuk akal dan menyebalkan, oh.. jadi dia membawaku ke sini untuk ditukarkan? Apa dia pikir aku ini undian berhadiah yang bisa dia tukarkan?

    Shakti masih menatapku seperti tadi, sementara suasana hatiku yang sempat bergemuruh kini buyar karena ocehan Harshad. Shakti tampak terus menatapku lekat-lekat seolah mencari sesuatu di wajahku dan jujur itu membuatku malu. Aku tau, Shakti baru saja akan mengatakan sesuatu padaku walaupun tampak ragu tepat ketika suara MC dari kejauhan kembali membahana, ia memanggil nama Shakti dan Radhika.

    Sekali panggilan, Shakti seolah ingin mengabaikan panggilan itu, ia masih ingin meneruskan ucapannya namun sang MC kembali memanggil dan kali ini terdengar tak sabar dan memaksa. Sesaat Shakti mulai plin plan, dan akhirnya ia memilih pergi memenuhi panggilan MC, dan seakan ia ingin aku tetap mengharapkannya, ia meninggalkan kesan yang mendalam bagiku dan membuatku berbunga-bunga. Ia merogoh kantong tuxedonya dan mengeluarkan sehelai kain berwarna biru muda berupa sapu tangan, ia berikan itu padaku seperti memberikan sebuah tanda mata.

    “Ini ambillah,” ucapnya pelan
    “A..apa ini?” Tanyaku tergagap, aku tau sekarang wajahku pasti terlihat sangat bodoh.
    “pakailah ini untuk membersihkan wajahmu,” jawaban Shakti seketika membuat wajahku bersemu merah, aku menggigit bibir karena malu. Aku bahkan hampir lupa, bahwa dua kali aku bertemu Shakti dan dua kali pula keadaan wajahku seperti ini, huaah!! Kenapa aku tidak bisa tampil cantik di hadapan Shakti sekali saja? Dengan tangan bergetar dan wajah tertunduk aku meraih sapu tangan itu.

    “Aku pergi dulu, aku akan bicara denganmu nanti,” ucapnya lembut, dengan senyuman yang membuatku serasa akan gila, kemudian ia berlalu pergi dan karena aku terlalu gugup, aku tak bisa menahannya bahkan walau hanya dengan sebuah ucapan, meskipun aku begitu ingin.

    Preetika’s POV End

    Author’s POV

    Shakti berjalan cepat membelah kerumunan orang menuju panggung dimana Radhika sudah berdiri disana menunggunya, seolah keduanya mau tak mau harus melakukan rangkaian sesi ini.
    Sementara Pree sedang berada di toilet untuk membersihkan wajahnya, dan kini Harshad sejenak melupakan niatannya untuk pergi. Ia duduk di tempat dimana minuman tersedia, seraya ia meneguk segelas wine, pandangannya lekat menatap Shakti dan Radhika dari kejauhan, ia bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya meskipun ia begitu ingin karena rasanya teramat sakit.

    Sementara, usai dari toilet Pree berjalan gontai, tubuhnya sedikit melemas, wajahnya pucat pasih seperti usai melihat hantu, sebenarnya lebih dari sekedar melihat hantu ia lebih terkejut dan shock dari itu,  ia baru saja mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar, sebuah kenyataan yang tak pernah orang lain ketahui selama ini, sebuah kenyataan yang sudah mengubah pandangan dan pemikirannya akan sebuah keyakinan yang ia yakini selama ini.

    Flashback

    “Nyonya Arora, jujur saja kami benar-benar takjub dengan kenyataan yang baru saja kami ketahui malam ini, kau benar-benar paling hebat dalam memberikan kejutan, dulu kau juga sukses memberikan kejutan yang mencengangkan bahwa Harshad Arora adalah putramu walaupun itu tidak terpublikasi kepada khalayak ramai, dan sekarang Shakti Arora, kau dan suamimu tidak membayar kedua aktor itu demi memenangkan pemilu ini hanya karena mereka memiliki marga yang sama dengan Tuan Arora kan? haha” Pree tidak sengaja mendengar percakapan 3 orang wanita yang sedang mengantri di depan toilet ketika ia masih berada di dalam dan baru akan membuka pintu toilet, namun Pree urung membuka pintu takut mereka akan menyadari keberadaannya dan mengira ia menguping.

    “Iyaa… publikasi dadakan itu dan pertunangan antara Shakti dan putri wakil wali kota itu apa tidak terlalu tampak seperti kampanye hitam?” Kedua wanita itu terkesan menyindir namun ada kesan bercanda dan kecurigaan pada nada suara mereka.

    “Apa maksud kalian? Tentu saja tidak ada manipulasi! Baik Harshad maupun Shakti adalah benar-benar putra kandung dari suamiku, tidak akan ada yang bisa membantah itu, dan jika karena kenyataan ini suamiku memenangkan pemilu kali ini, itu memang sudah menjadi takdir kami,” Nyonya Arora menegaskan, wanita paruh baya yang masih tampak cantik dengan segala perhiasan mahal yang ia kenakan itu paling tidak terima jika ada yang merendahkannya.

    “Kalau memang Harshad dan Shakti itu benar-benar putra dari tuan Sunil Arora, kenapa tak ada seorang pun yang tau fakta ini selama bertahun-tahun padahal ketiganya adalah orang-orang besar? dan kenapa baru sekarang diumumkan? Dan ini benar-benar kebetulan yang ajaib, Shakti Arora yang merupakan aktor bollywood terkenal ternyata adalah putra dari calon gubernur bertunangan dengan putri wakil wali kota, semuanya seperti tersetting dengan sempurna, tapi rasanya sedikit… aneh,” Salah satunya sengaja memancing-mancing untuk bisa mengorek informasi.

    “Apanya yang aneh? hubungan suamiku dengan putra-putranya tidak berjalan dengan baik, Shakti tinggal dengan Ibunya dan ayah tirinya yang seorang dokter di London sejak remaja, dan sekarang dia sendiri yang menginginkan identitas keluarganya diumumkan saat bertunangan, sementara yang satu lagi, dia tidak bisa diandalkan. Ya.. sebelum bertemu denganku, kehidupan suamiku itu penuh dengan permasalahan, dia bisa hebat seperti sekarang ini, itu hanya karena dia bertemu dengan wanita pembawa keberuntungan seperti diriku,” kedua wanita itu diam-diam saling bertukar pandang seraya tersenyum licik, usaha mereka untuk mengorek informasi dari Nyonya Reekha mulai menunjukkan hasil, mereka sepertinya sangat tau cara memancing Nyonya Arora untuk membuka mulut wanita itu dan menjawab segala rasa penasaran  mereka.
    “Apa maksudmu? Yaa.. aku sering mendengar bahwa hubungan Harshad dan Shakti tidaklah baik, bahkan mereka dikatakan musuh bebuyutan. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?”
    “Dengar, aku menceritakan semua ini pada kalian karena kalian adalah sahabatku dan aku percaya pada kalian, aku tidak ingin kalian berpikir macam-macam lagi tentang pencalonan suamiku, kau tau suamiku dulu itu sangat tampan dan dikelilingi banyak wanita bahkan setelah dia menikah. Dia dulu menikahi seorang wanita karena dijodohkan namun tanpa cinta hingga memiliki seorang putra, namun diam-diam dia juga memiliki seorang istri simpanan yang merupakan kekasihnya namun tidak direstui orang tuanya, dia pun memiliki seorang putra yang lain dari wanita itu, suatu hari wanita murahan simpanan itu mendapatkan hukumannya, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan putranya yang masih kecil, suamiku mau tidak mau harus mengambil anak haram dari istri simpanannya itu dan merawatnya, tapi istri resminya menolak dan tidak menerima anak dari hasil perselingkuhannya itu, istrinya itu pun menceraikan suamiku dan suamiku terpaksa harus merawat putranya seorang diri, sebelum  kemudian aku hadir dalam hidup suamiku, seorang wanita yang dia cintai dan mendapatkan restu dari semua orang, aku menerima suamiku apa adanya dengan segala mada lalunya, yaa… aku hadir untuk memperbaiki segalanya,” Nyonya Reekha menjelaskan segala yang ia ketahui kepada kedua teman sesama sosialita dan istri para pejabat itu.

    “Astaga! Kisah keluargamu benar-benar pelik dan bisa diangkat menjadi sebuah film! Apakah kau juga tidak ingin mempublikasikannya? Itu pasti akan semakin menarik khalayak ramai, atau apa kejutan selanjutnya kalian juga akan mengumumkan Harshad Arora juga sebagai putra kalian? Itu pasti akan lebih menggebrak lagi!”
    “Apa maksudmu? Anak itu tidak pantas diakui, suamiku sangat membencinya, dia tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai putranya,”
    “Kenapa? Bukankah Harshad juga tidak kalah tenarnya dari Shakti? bahkan akhir-akhir ini kurasa dia lebih tenar,”
    “Kalian tidak lihat skandal memalukannya akhir-akhir ini? Dia itu benar-benar memalukan! Dia tidak pernah melakukan hal yang benar, sejak kecil dia selalu saja membuat kekacauan dan membuatku sakit kepala, beruntung sejak kecil aku memasukkannya ke asrama, jadi aku tidak perlu repot-repot mengurusinya,”
    “Woahh kau benar-benar ibu tiri yang jahat Nyonya Reekha Arora!” Salah satu temannya berkomentar.
    “Apanya yang jahat?! Dia pantas mendapatkan ketidak-adilan karena dosa ibunya yang murahan itu, bahkan suamiku saja sangat membencinya walaupun dia putra kandungnya, walaupun sejak kecil tinggal bersama kami, suamiku bahkan tidak mau melihat wajahnya walau sekali saja. Suamiku pasti sangat membencinya karena dialah penyebab segala masalah di masa lalunya, dia kehilangan segalanya, istri dan putra pertamanya Shakti karena kehadirannya. Dan sekarang dia sudah semakin mirip seperti ibunya yang tidak bermoral itu,” Pree yang shock mendengar fakta itu sesaat tersengat, ia hanya bisa menutup mulutnya mencegah suara teriakan kagetnya akan meledak dan didengar semua orang.

    TOK TOK!! Nyonya Reekha mengetuk pintu yang disenderi Pree dan membuat gadis itu terlonjak dan mulai panik.
    “Siapa sih orang yang di dalam ini? Kenapa lama sekali? Apa dia pingsan? Aku harus memperbaiki riasanku sebelum wartawan mewawancarai kami!”
    “Iya.. sejak tadi aku juga sudah lama menahan buang air kecil karena sibuk menghadapi kenalan suamiku,”
    “Oh ya, Awas saja kalian membocorkan rahasia ini! Aku pastikan aku akan membuat suami kalian dipecat dari jabatannya, kalian mengerti?!”
    “Te..tentu saja, mana mungkin kami membocorkan masalah keluarga Arora yang hebat itu? Hehe..”

    Flash Back End

    Setelah mengetahui segala kenyataan itu, Pree merenung sejenak, ia akhirnya menyadari bahwa ternyata dia telah salah dalam menilai Harshad selama ini, percakapan ketiga wanita itu memang menjelaskan banyak hal namun menyisakan banyak pertanyaan pula bagi Pree, namun tetap saja tidak seharusnya ia berprasangka buruk terhadap Harshad, tidak seharusnya ia menilainya hanya karena sikapnya, seharusnya selama ini ia menyadari bahwa setiap orang punya alasan kenapa selama ini dia bersikap seperti itu.

    Harshad yang dulu dianggapnya tak punya hati dan sombong tanpa sebab kini ia bisa memaklumi segalanya, hidupnya ternyata tak semudah yang terlihat, jadi tidak seharusnya ia merendahkannya tanpa mengetahui kebenarannya.
    Pree berjalan mendatangi Harshad yang sedang tenggelam dalam minuman nya. Jika sebelumnya, ia akan memandang Harshad yang sedang mabuk seperti ini dengan tatapan jijik dan muak, kini Pree menatapnya dengan penuh rasa iba dan prihatin, seolah ia telah mengerti dan memaklumi segalanya. Sekarang pria itu pasti merasa sangat sedih, Ayahnya tidak pernah menyayanginya bahkan membencinya, tapi malahan sang ayah mempublikasikan dan mengakui Shakti sebagai putranya.

    Harshad selama ini pasti sangat terluka atas ketidak adilan yang diterimanya, Pree membandingkannya dengan keadaan keluarganya, bahkan waktu kecil Pree akan mengambek sepanjang hari jika ayahnya hanya membelikan Shivangi es krim sedangkan dirinya tidak, lalu bagaimana dengan Harshad yang selama ini tidak pernah mendapatkan keadilan?
    Pree meraih lembut pergelangan tangan Harshad,
    “Harshad, ayo kita pulang,” ucapnya seraya menarik tangan pria itu dan menuntunnya berdiri dari duduknya. Sesaat Harshad jinak dan menurut ketika Pree menariknya dan menggiringnya pergi.

    Sementara di atas panggung, Shakti dan Radhika sudah berdiri berdampingan bak sepasang raja dan ratu di hadapan para rakyatnya.
    “Selanjutnya, kita akan panggilkan Tuan Sunil Arora beserta istri dan Tuan dan Nyonya Vivek Madhan untuk naik ke atas panggung dan mengambil foto bersama!” memenuhi panggilan sang MC, kedua pasangan politisi itu pun naik ke atas panggung dan mendampingi Shakti dan Radhika, para wartawan yang didatangkan khusus untuk meliput kebersamaan antara calon gubernur dan putranya yang seorang aktor bollywood, beserta calon besannya itu pun mulai meliput dan mengambil gambar moment terpenting itu untuk dimuat dan dijadikan berita di berbagai media massa keesokan harinya.

    Pree masih terus menuntun Harshad untuk pergi dari pesta itu, namun ketika melewati area  panggung langkah mereka terhenti, Harshad menghentikan langkahnya dan secara otomatis Pree juga berhenti melangkah.

    Harshad menatap ke arah panggung yang kini tampak disana terdapat keluarga yang sempurna, keluarga utuh dan tampak bahagia, keluarga yang selalu ia impikan sejak dulu namun tak pernah ia dapatkan, yang meski wujudnya ada namun ia tidak pernah bisa merasakan kehangatan itu, dan sekarang ada calon istri dan besan yang sempurna pula, seharusnya Harshad yang ada di sana, bukannya Shakti.

    Pree memandang Harshad penuh iba, ia tau Harshad pasti sangat terluka melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul dan tampak bahagia tanpa kehadirannya, ia bisa melihat luka dan kepedihan itu di mata Harshad yang memerah seperti menahan tangis dan amarahnya.

    Harshad sedang dibawah pengaruh alkohol, ia tentu tak bisa menahan gejolak dan emosinya, karena itu ia tak lagi peduli dengan perhatian semua orang, emosinya mulai tersulut, ia mulai hilang kendali, Harshad melangkah maju mengambil ancang-ancang untuk naik ke atas panggung dan berniat mengacaukan sesi penting itu dengan mengungkapkan segalanya.

    Pree yang menyadari kekacauan yang sebentar lagi akan terjadi itu segera berusaha menghentikan aksi Harshad, ia menarik tangan Harshad dan menghentikan langkahnya,
    “Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Protes Harshad terhadap aksi protektif Pree.
    “Tidak! Kau tidak boleh ke sana, sebaiknya kita pergi dari pesta ini dan pulang,” jawab Pree sedikit panik.
    “Tidak! Sekarang aku tidak mau pulang, aku juga akan ikut ke atas panggung,”
    “Ja.. jangan! kau sedang mabuk jadi kau tidak bisa kesana,” Pree mencoba melarang.
    “Menyingkir, aku akan mempermalukan mereka semua dan membuat mereka menyadari bahwa mereka tidak akan bahagia dengan membuangku, jadi lepaskan aku,” Harshad mencampakkan tangan Pree, lalu kembali melangkah menuju panggung, membelah kerumunan tetamu.
    “Hey…!” Pree terpaksa harus mengejar pria itu meski itu harus mendekati area panggung dan akan menjadi pusat perhatian, ia tidak bisa membiarkan Harshad mengacaukan acara Shakti dan mempermalukan keluarganya, keadaannya yang sedang mabuk hanya akan mempermalukan dirinya sendiri nantinya.

    Dan benar saja, sesampainya di depan panggung, perhatian semua orang sontak mengarah pada Harshad, Tuan dan Nyonya Arora juga calon besannya yang baru akan turun dari panggung pun terhenti sesaat melihat kemunculan Harshad di tengah-tengah semua orang, seolah Harshad ingin semua perhatian terarah padanya dan ia akan mengumumkan sesuatu yang penting.

    Tuan dan Nyonya Arora tampak mulai panik melihat aksi Harshad, mereka tau anak itu pasti akan melakukan sesuatu yang akan mempermalukan mereka, begitu juga dengan Radhika, ia masih peduli pada mantan kekasihnya itu, ia berharap Harshad tidak akan membuat kekacauan yang akan semakin menjatuhkan imagenya di depan semua orang.

    Namun langkah Harshad yang sempoyongan terhenti sebelum ia benar-benar menaiki panggung ketika Pree kini berada di hadapannya dan menghalangi jalannya.
    “Minggir, jangan halangi aku!” titah Harshad pada Pree.
    “Tidak! kau tidak boleh melakukan apapun, Sadarlah! kau sedang mabuk,”
    “Aku tidak peduli padamu, minggir!” Sejurus kemudian Harshad benar-benar sukses menarik perhatian dan mengagetkan semua orang ketika tiba-tiba Preetika memeluk erat tubuh Harshad di hadapan semua orang. Untuk sesaat waktu terasa terhenti, Harshad sedikit melerai pelukan gadis itu lalu menatapnya wajahnya dalam-dalam, sepersekian detik keduanya saling bersitatap, seolah keduanya saling menterjemahkan makna dari rasa yang mulai bergemuruh di dalam dada.

    Seketika seluruh hadirin riuh dan panik ketika ruangan mendadak gelap karena lampu utama yang mendadak padam, namun seolah tak menyadari kegelapan itu, Harshad dan Preetika justru terus bersitatap, seolah tak ada yang mampu menghalangi pandangan mereka bahkan walau dalam kegelapan sekalipun, seolah yang mereka pedulikan kini hanyalah seseorang yang berdiri di hadapan masing-masing. Lalu kemudian suasana semakin riuh ketika lampu follow Shoot menyala dan hanya menyala pada dua titik, Shakti dan Radhika yang masih berdiri di atas panggung dan sudah seharusnya menjadi pusat perhatian tentu saja menjadi sorotan salah satu lampu follow shoot, namun fokus kini tak hanya menaungi mereka saja, tapi pasangan yang berada di depan panggung, yang kini saling merengkuh dan menatap.

    “Wow!! Ini benar-benar kejutan yang luar biasa! Malam ini sepertinya kita tidak hanya akan menikmati pertunjukan Dancing Jodi antara pasangan yang sedang bertunangan, tapi tamu spesial kita, Harshad Arora dan pasangannya yang cantik ini juga sepertinya akan menampilkan pertunjukan spesial untuk kita semua, baiklah dengan penuh suka cita, langsung saja mari kita saksikan bersama Romantic Dancing Jodi dari pasangan Shadika dan juga Harshad bersama pasangannya!!”

    Sesaat setelah seruan sang MC, lantunan lagu hindi romantis berjudul 🎶Hasi🎵 mengalun lembut dan indah, membuat semua pasangan yang sedang jatuh cinta yang mendengarnya akan terbawa suasana dan mengekspresikan perasaan mereka melalui gerakan dansa yang indah dan harmonis dengan irama lagu.

    Shakti dan Radhika yang sebelumnya memang sudah dipersiapkan untuk menjalani sesi ini tentu saja mampu berlakon dengan sangat baik bak pasangan yang sempurna hingga menjadikan mereka tampak sangat sempurna dan bahagia sebagai pasangan, meski pada kenyataannya tak sebahagia itu.

    Sementara pasangan Harshad dan Preetika awalnya hanya terdiam dan masih saling menatap tanpa kata, tak ada satupun dari mereka yang siap, terlebih lagi  Preetika, gadis itu bahkan sama sekali tak bisa berdansa karena seumur hidup ia tidak sekalipun pernah melakukannya, sementara sesaat Harshad mengalihkan pandangannya ke arah Shakti dan Radhika yang sedang berdansa mesra hingga membuat hatinya terasa terbakar api cemburu, Radhika bukannya tak peduli dengan tatapan menusuk Harshad, sesekali ia menatap ke arahnya seolah mengisyaratkan ia tidak berdaya, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk berpaling, ia ingin Harshad segera melupakannya dan juga segala kenangannya karena sudah tidak mungkin lagi mereka bersatu.

    Berada dibawah pengaruh alkohol membuat Harshad selalu melakukan hal-hal spontan dan semaunya, api cemburunya membuat ia sangat berhasrat untuk bisa melampiaskannya, tiba-tiba ia meraih tubuh Pree yang ada di hadapannya, ia dekap erat tubuh gadis itu lalu mulai mengendalikannya bak sebuah boneka puppet.

    Pree yang sama sekali tidak bisa menari dan kaku terpaksa harus menggerakkan tubuhnya ke sana kemari karena dipermainkan oleh Harshad. Ia membuat gadis malang itu pusing dengan mengombang-ambing tubuhnya, mengangkat lalu menurunkannya, membawanya berputar ke sana kemari, melerainya lalu kembali menarik tubuhnya dan membawa ke dalam dekapannya. Namun tidak ada yang tau derita yang dialami Pree, yang menonton justru memandang takjub dengan tarian romantis, penuh hasrat namun tetap artistik dari pertunjukan dansa yang mereka tampilkan itu.

    Alunan musik berhenti menandai berakhirnya pula pertunjukan dansa, setelah cukup menderita diombang-ambing, kini tubuh Pree berakhir dalam pelukan erat Harshad, gadis itu menenggelamkan wajahnya di bahu Harshad dengan napas yang terengah-engah. Riuh gemuruh tepuk tangan para hadirin memberikan apresiasi dan rasa takjub mereka terhadap pertunjukan dansa yang spektakuler seolah mereka usai menonton sebuah pertunjukan drama teater di panggung broadway.

    Sejurus kemudian, Pree menyadari bahwa dia sedang melakukan kesalahan besar dengan berlama-lama dan menikmati dekapan Harshad yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya.  Buru-buru ia mendorong tubuh Harshad kuat-kuat dan melerai dekapannya. 

    “Dasar kurang ajar! Berani sekali kau mempermainkanku dan memelukku!” Makinya di sela-sela giginya, untuk sesaat ia melupakan rasa ibanya kepada si ‘malang’ Harshad, namun walaupun merasa tidak terima, ia tetap tidak ingin membuat keributan di pesta, walaupun ia sudah benar-benar bernafsu ingin menendang tulang kering Harshad.
    “Csh! yang minum adalah aku tapi sepertinya kau yang mabuk, bukannya kau yang tadi lebih dulu memelukku?!” Balas Harshad tak mau kalah
    “Itu karena kau….” Pree memotong kalimatnya ketika ia terkejut dengan seseorang yang muncul dan lewat di hadapan mereka. Tuan dan Nyonya Sunil Arora. Ekspresi Harshad seketika berubah tegang, dan lagi-lagi Pree dapat melihat kepedihan itu di mata Harshad.

    Tuan Sunil tidak mengatakan apapun, ia hanya menampakkan raut kemarahan dan kekecewaan di wajahnya terhadap putranya Harshad, ia lalu berlalu pergi begitu saja, Nyonya Reekha menyempatkan diri menampakkan ekspressi sinis dan menatap nyinyir anak tirinya itu sebelum ia juga pergi menyusul suaminya.

    Kepedulian Pree kembali tergugah melihat adegan itu, sebagai orang yang seumur hidupnya dipenuhi dengan cinta dari orang-orang di sekitarnya, Pree sangat berempati kepada seseorang yang tidak pernah dicintai seperti Harshad.

    “Harshad.. bisakah kami mewawancaraimu sebentar?” Tiba-tiba beberapa wartawan muncul di hadapan mereka dan mencoba mewawancara, sesaat Harshad tak menjawab apapun pertanyaan dari wartawan,
    “Harshad, apakah Shakti mengundangmu datang kesini? Apa alasanmu hingga akhirnya kau memutuskan untuk datang ke sini?”
    “Harshad, bisakah kau memberitahu kami, kau datang dengan siapa? Apa dia kekasih barumu?”
    “Bagaimana dengan scandal baru-baru ini? Apakah itu tidak benar? atau kau sengaja menggandeng seorang wanita ke pesta ini sebagai pembuktian, hanya untuk membantah kabar miring itu?” Para wartawan mulai memberondonginya dengan berbagai pertanyaan menyebalkan dan terkesan menunduh.

    Dan walaupun ia seorang wartawan, ini pertama kalinya Pree juga merasakan bagaimana rasanya dikerubuni banyak wartawan dan diberondongi pertanyaan yang mengintrogasi, dan ternyata rasanya sungguh tidak semudah itu bahkan justru rasanya sangat tidak nyaman, Pree menyadari  ternyata selama ini ia semenyebalkan ini saat mewawancarai seseorang.

    “Hei.. kalian para wartawan tukang karang cerita dan berlagak sok tau segalanya! Kenapa kalian semua tidak menjadi penulis novel saja…”
    Harshad yang sedang dibawah pengaruh alkohol tidak bisa menjawab dengan benar berondongan pertanyaan itu, terpaksa Pree membungkam mulut Harshad dengan telapak tangannya sebelum ia meracaukan hal yang lebih tidak masuk akal lagi, ia memutuskan untuk mengambil alih menghadapi wartawan,

    “Hentikan!! Harshad sedang tidak ingin diwawancara, kami harus pergi sekarang juga,” Pree mencoba membantu Harshad untuk menghindari berondongan para wartawan.

    “Tapi Nona, kau hanya perlu mengkonfirmasi hubunganmu dengan Harshad, kalian sedang berkencan atau tidak?” Seorang wartawan masih saja mengotot.
    “Memangnya kalau aku menjawab yang sebenarnya, apa itu akan membuat kalian memberitakan kebenaran tanpa harus didramatisir? Teruslah meliput dan memposting berita sesuka hati kalian tanpa tau kebenarannya, karena sekarang kami akan pergi,” setelah melontarkan jawaban yang  tegas dan lugas itu Pree segera membopong Harshad keluar dari rumah itu dan pergi dari lokasi pesta.

    ****

    Di tempat parkir, Pree mulai bingung sendiri, bagaimana mereka akan pulang? Lebih  tepatnya siapa yang akan mengendarai mobil? Harshad sedang mabuk, sementara dirinya? Jujur saja ia tidak terlalu mahir mengendarai mobil, lebih tepatnya dia supir yang buruk, dia bahkan tidak punya SIM karena dia tidak pernah lulus dalam tes SIM, terakhir kali dia mencoba memberanikan diri mengendarai mobil, ia harus mengganti rugi  10 ribu rupee usai menabrakkan mobil Pak Nakuul dengan sebuah gerobak. Tapi sekarang mana yang lebih baik dalam mengendarai mobil? Orang yang mabuk atau yang tidak mahir?

    “Berikan kuncinya padaku,” Pree menadahkan telapak tangannya pada Harshad takut-takut. Ia sudah memutuskan untuk memberanikan diri mengambil alih kemudi dengan catatan dia akan mengendarai mobil dengan kecepatan minimum.
    “Apa maksudmu? Apa sekarang kau mau bunuh diri dengan menabrakkan diri karena kau sedang patah hati?” Harshad masih saja bisa mengejek meski dalam keadaan mabuk, yaa.. walaupun menyebalkan tapi pertanyaannya cukup mengena bagi Pree, bagaimana Harshad bisa tau bahwa dia tidak bisa mengendarai mobil?
    “Bukan begitu, kau sedang mabuk mana bisa mengendarai mobil? Justru aku yang belum mau mati, jadi aku akan mengambil alih kemudi, dan jangan sepelekan aku ya! mengendarai mobil bukan sebuah pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh seorang profesor, yang pasti aku akan mengendarai lebih baik daripada kau yang sedang mabuk,”
    “Lupakan saja! hanya dengan melihat tampangmu saja, aku sudah tau IQ mu bahkan tidak sampai walau hanya untuk mengendarai mobil dan menghafal rambu lalu lintas, aku yakin aku bahkan akan lebih baik mengendarai mobil dalam keadaan mengigau daripada kau yang sedang sadar,”
    “Apa?!”
    “Minggir!” Harshad tanpa sopan santun langsung menyingkirkan Pree yang menghalangi pintu mobil. Dan tentu saja Pree merasa sangat gondok, namun ia masih berusaha menahan kemarahannya.

    “Hey! Apa yang kau lakukan hanya berdiri saja? Ayo masuk!” Ajak Harshad setelah membuka kaca mobil dan melihat Pree yang hanya berdiri mematung di luar dengan wajah yang ditekuk
    “Aku tidak akan ikut denganmu! Aku tidak mau mati konyol dan wajahku akhirnya masuk TV dan terkenal setelah mati,” Pree menolak keras.
    “Oh yaa? Jadi kau tidak mau ya? yaa.. terserah kau saja, aku sudah biasa mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, tapi lihat! sampai sekarang aku baik – baik saja, tapi terserah lah, aku tidak akan memaksa, tapi ku beritahu satu hal, di daerah sini pada jam segini, kau tidak akan mendapatkan kendaraan umum, jadi kau tunggulah sampai besok pagi untuk bisa pulang, Bye!” Harshad dengan segala ketidak-peduliannya menutup kaca mobilnya dan berniat meninggalkan Pree sendirian, sementara Pree yang tadinya bertingkah sok jual mahal mau tidak mau harus berfikiran logis, di saat seperti ini ia tidak bisa mementingkan gengsinya, bagaimana kalau dia benar-benar tidak bisa pulang sampai pagi?

    Baru saja Harshad akan tancap gas, ketika akhirnya Pree memutuskan untuk ikut, gadis itu menyingkirkan segala gengsinya dengan mengetuk-ngetuk kaca mobil Harshad. Dan kali ini Harshad yang berlagak cuek, namun ia masih berbaik hati dan memberikan kode mempersilahkan Pree untuk masuk ke mobilnya dan akhirnya tanpa pikir panjang lagi, buru-buru Pree  masuk ke dalam mobil, kemudian Harshad pun tancap gas dan melajukan mobilnya meninggalkan lokasi pesta.

    ****

    Dalam perjalanan pulang, Harshad berkali-kali membuat Pree sport jantung ketika ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata seolah ia sedang melakukan balap liar dengan seseorang. Dengan membabi buta, berkali-kali ia menyalib kendaraan yang melintas dan membuat Pree memekik histeris.

    Sebelumnya Pree sudah menduga ini akan terjadi, tapi bodohnya ia mau-mau saja ikut mengantarkan nyawa dengan Harshad, itu akan menjadi penyesalan seumur hidupnya
    Sementara Harshad tak peduli, ia terus melajukan kendaraannya dengan membabi buta, yaa… sebagai mantan atlit balap mobil melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi bahkan pada medan terjal dan dalam keadaan mabuk sekalipun adalah keahliannya, namun ia mengabaikan kenyataan bahwa ia  sedang tidak di arena sirkuit terlebih lagi ia sedang membawa seorang gadis bersamanya.

    Sejak remaja, mengendarai mobil dengan kecepatan membabi buta adalah cara paling ampuh untuk menghilangkan segala stress, kesedihan dan kegundahan hatinya. Seperti yang kini ia rasakan, benaknya terus saja terngiang adegan di pesta tadi, ketika ayahnya mengumumkan kepada semua orang bahwa Shakti adalah putra satu-satunya sekaligus penanda resmi bahwa sang Ayah sudah tidak menganggapnya, ditambah lagi kebersamaan Shakti dengan Radhika, tukar cincin itu, dansa romantis itu, kata-kata pedas sang ayah, semua itu terus saja berputar-putar dalam kepalanya hingga rasanya akan meledak dan semakin menyulut emosinya, ia semakin menjadi-jadi dan membabi buta melajukan mobilnya.

    “AWAS MOBIL!!” Untuk kesekian kalinya Pree memekik histeris walau sekalipun ucapannya tak didengar, sekali lagi Harshad berhasil menyalib dan menghindari hantaman mobil yang melaju dari arah berlawanan.
    “Harshad, hentikan mobilnya! Aku tidak mau mati sekarang!” Protes Pree panik. Harshad tak menggubris dan terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan membabi buta.
    “Harshad, kau ini kenapa? Apa  sekarang kau sudah putus asa dan ingin mengakhiri hidupmu? Hanya karena ayahmu tak mau mengakuimu? Yaa.. tidak heran kenapa mereka tidak menganggapmu karena kau payah dan kau seorang pecundang!” Pree terus saja mengomel kesal, karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghentikan aksi ugal-ugalan Harshad.

    Sementara otak dan ingatan Harshad terus berputar-putar pada sesuatu yang membuatnya terluka, mendengar Pree yang duduk di sampingnya yang sedang menyupir dan terus saja mengomel mengingatkannya kepada sebuah kejadian masa lalu yang seumur hidup berusaha ia lupakan, situasi itu tampak mirip dengan saat ini….

    Flash Back

    “Sunil, kapan kau akan memberikan namamu dan memasukkan putra kita ke dalam kartu keluargamu? Dia sudah 6 tahun dan dia juga harus sekolah,” seorang wanita yang tengah duduk di sebelah pria yang sedang menyupir bertanya. Harshad melihat dirinya yang masih kecil tengah duduk di jok belakang menyaksikan perdebatan kedua orang tuanya.
    “Shimran, jangan mengganggu konsentrasiku, aku sedang menyetir!”
    “kau jangan mengalihkan pembicaraan! aku tidak bisa menunggu lagi, aku harus mendapatkan kepastian tentang putraku sekarang juga!”
    “Kau tau aku tak bisa melakukannya, Devi pasti akan marah besar jika dia tau selama ini aku sudah membohonginya,”
    “kau masih saja memikirkan perasaannya? Bagaimana dengan perasaanku?! selama ini aku sudah cukup bersabar, selama 7 tahun aku menerima statusku yang hanya menjadi istri simpananmu tanpa pengakuan, aku sudah menerima begitu banyak penghinaan, tapi aku tidak bisa membiarkan putraku seumur hidupnya tidak punya status sepertiku! Harshad juga putramu Sunil, kau juga harus bersikap adil padanya tidak seperti yang kau lakukan padaku,” Wanita itu meninggikan suaranya, ia sudah tidak sanggup lagi menahan segala ganjalan di hatinya selama ini.

    “Bersabarlah, ada saatnya aku akan mengumumkan kepada semua orang bahwa Harshad adalah putraku, tapi tidak sekarang. Mertuaku juga sedang sakit, dia akan shock jika mengetahui kenyataan ini,”
    “Aku tidak bisa bersabar lagi, bagaimana pun putraku harus mempunyai identitas, aku akan melakukan apapun bahkan walau aku harus mati sekalipun!”
    “Aku mohon hentikan semua ini Shimran, berhentilah mendesakku! Jangan menguji kesabaranku lagi, atau aku akan…”
    “Kau akan apa?! Kau akan membunuhku?! Yaa.. bunuh saja aku, aku siap mati, jika aku harus mati demi putraku!”
    “Hentikan Shimran… aku tidak bisa menyetir dengan benar,”
    “Tidak! aku tidak akan diam sebelum putraku mendapatkan keadilan…”
    “Shimran, kau…” di tengah perdebatan itu, tiba-tiba saja sebuah mobil truk muncul dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi, dan Sunil terlambat menyadarinya, matanya melotot melihat truk yang sudah berada di pelupuk mata dan sulit untuk dihindari lagi.

    “SUNIL AWAS!!” Pekikan Shimran mengakhiri segalanya, Sunil sontak membanting setir namun tak sempat karena truk sudah keburu menghantam sisi kanan mobil dan menggulingkannya sejauh beberapa meter, bayangan mengerikan itu seperti ada di pelupuk mata Harshad dan membuat dadanya terasa sesak.

    “HARSHAD AWAS!!” Pree memekik tiba-tiba, hanya butuh jeda sedetik untuk Harshad mengingat peristiwa mengerikan itu hingga kemudian ia merasa seolah de javu, kejadian yang sama kembali terjadi detik itu, sebuah mobil box dari arah berlawanan tiba-tiba muncul dan tanpa ia sadari sudah benar-benar dekat tepat di hadapannya.

    Dan persis seperti kejadian bertahun-tahun yang lalu, Harshad membanting setir untuk menghindari hantaman mobil box dan BRUKK!! keahlian berkendara Harshad membuat mobil sportnya sukses menghindari hantaman mobil box, namun teralihkan dengan menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan.

    “Awww! Aduuhh..” Pree mengadu kesakitan seraya memegangi kepalanya yang sakit usai menghantam bagian depan mobil. Beruntung Harshad menabrakkan mobilnya dengan pohon tidak begitu keras sehingga mereka tak terluka parah, kepala Pree hanya terasa sedikit benjol. Pree benar-benar shock, jiwanya terguncang hebat dan napasnya terengah-engah, peritiwa tadi benar-benar memacu adrenalinnya dan membuat hampir pingsan.

    Ia pun mengobrak abrik isi dash board mobil Harshad dan mencari sesuatu untuk bisa diminum dan melegakan sedikit sesaknya. Lama tak menemukan botol air mineral, ia akhirnya menemukan sebuah botol yang terbuat dari aluminium berbentuk gepeng, yang tak ia tau apa isinya. Sesaat Pree tak peduli, yang terpenting saat ini adalah melegakan sedikit rasa shocknya walau hanya dengan seteguk air, tanpa meminta izin kepada sang empunya, Pree menenggak habis isi dari botol aluminium itu, ia bisa merasakan air itu pahit dan terasa aneh, tapi yang terpenting sekarang rasa sesaknya sudah berkurang, dan walaupun terasa aneh, untuk sementara Pree tak merasakan efek apapun dari minuman itu.

    “Hey!! Apa yang kau lakukan? Sebenarnya apa maumu?! Kau mau mati atau tidak?! Kau melajukan mobilmu seolah kau siap menabrakkan diri ke badan truk, tapi setelah sebuah mobil menawarkan jasa untuk menabrak, kau malah menghindar dan membuatku serasa akan benar-benar mati karena jantungan,” Pree kembali mengomeli Harshad.

    Sesaat Harshad tampak aneh, ia tidak bereaksi apa-apa, ia hanya terus menatap ke depan seolah dengan pandangan kosong,  seolah ia tak merasakan apapun ketika darah segar mengalir dari dahinya.

    “Ohh ya ampun, kau berdarah!” Pree panik dan menunjukkan kepeduliannya dengan berusaha menyentuh  kepala Harshad yang terluka, namun tiba-tiba Harshad menangkap tangan Pree, ia tatap gadis itu lekat-lekat namun dengan tatapan yang begitu dingin, sejenak Pree merasa terkejut dan bingung, ia tidak tau harus mengatakan apa, lalu kemudian Harshad mengeluarkan suaranya setelah sekian lama membisu,

    “Kau.. tidak usah berpura-pura perduli padaku, aku tidak butuh cinta dan keperdulian dari siapapun!” Ucapan Harshad menyentak Pree, setelah mengucapkan kata-kata menyentak itu, Harshad langsung keluar dari mobil meninggalkan gadis itu sendirian.

    Harshad berjalan sendirian menyusuri pinggir jalanan yang sepi seolah tanpa arah.
    “Hey tunggu! Kita mau kemana?” Pekik Pree yang tertinggal jauh di belakang, high heelsnya yang menyiksa dan tak memungkinkan dipakai untuk berjalan kaki sejauh beberapa kilometer serta langkahnya yang mulai sempoyongan membuat ia kesulitan untuk mengejar apalagi mengimbangi langkah Harshad. Entah kenapa kepalanya mulai terasa pusing, mungkin karena efek menghantam benda tumpul tadi.

    “Hey, tunggu aku!” Pekiknya lagi, namun Harshad tidak mau mendengar dan terus berjalan menjauh seolah ia benar-benar tak perduli dengan Pree. Hingga akhirnya langkah Harshad berhenti ketika ia merasakan sesuatu menimpa punggungnya cukup keras.

    Harshad terpaksa membalikkan tubuhnya demi melihat apa yang menimpanya, dan dilihatnya kini, di atas jalanan tepat di belakangnya ada sebuah high heel yang ia yakini pasti merupakan benda yang sudah menimpa punggungnya dan ia tau itu adalah milik gadis yang berdiri di seberang sana dan sedang menatapnya penuh kekesalan.

    “Hey kau! aku sengaja memberikan high heel itu untukmu, karena kau pantas memakainya, orang yang tidak bertanggung jawab kepada gadis yang dibawanya, meninggalkannya begitu saja  tidak pantas disebut pria,” Pree memaki Harshad dengan tingkahnya yang mulai aneh, ia tampak hilang akal dan sempoyongan seperti orang yang mabuk.

    Mendengar makian pedas itu, Harshad justru menanggapinya begitu dingin dan tak peduli. Ia kembali membalikkan tubuhnya dan terus berjalan menjauh dari gadis itu.
    “Hey! Harshad Arora, tadinya aku kasihan padamu, tapi sekarang aku tau kenapa kau mendapatkan ketidak-adilan itu, karena kau memang pantas mendapatkannya, kau itu pecundang, kau tidak punya rasa peka dan rasa tanggung jawab, kau dengar itu?!” Mendengar teriakan Pree yang cukup pedas dan mengena itu menghentikan langkah Harshad sesaat, bagaimana ia bisa tau masalahnya? apa gadis itu benar-benar tau atau hanya sok tau? Tapi tidak! Itu tidak benar, bukan sikapnya yang membuat semua orang bersikap tidak adil padanya, tapi justru ketidak-adilan yang membuatnya menjadi pribadi yang tak punya hati. Namun sudahlah, ia tidak peduli dengan apapun anggapan orang lain termasuk anggapan gadis itu.

    Sesaat setelah ia melangkah kembali, langkah Harshad kembali urung ketika ia mendengar Pree memekik keras, kali ini terdengar seperti sedang kesakitan. Kali ini Harshad tak bisa bersikap dingin dan tidak peduli lagi kepada gadis itu, Harshad langsung berbalik untuk melihat apa yang terjadi.

    Dan benar saja, Pree tampak sedang terduduk di jalanan dan menahan rasa sakitnya di salah satu telapak kakinya yang tampak mengeluarkan darah.

    🎵Muskurane is Playing🎶
    Harshad segera berlari ke arah gadis itu, ia lihat telapak kaki Pree yang tidak beralas kini mengalirkan darah segar dan disana masih tertancap pecahan beling. Harshad yang walaupun mabuk tapi masih bisa menguasai dirinya dengan sigap mencabut beling di kaki Pree dengan sekali teriakan kesakitan yang membahana dari gadis itu.

    Dan entah apa rencana langit malam itu, tiba-tiba saja langit mengguyurkan air hujan dengan derasnya, dan lagi-lagi tanpa mengatakan apapun, dengan ekspresinya yang super datar, Harshad lalu mengangkat tubuh Pree dan membawanya berteduh di bawah pohon sekitar.

    Baru beberapa saat yang lalu Pree melontarkan makian pedasnya pada Harshad dan mengatakan hal-hal buruk tentangnya, namun kini justru Harshad seolah ingin membuktikan bahwa segala tuduhan itu tidaklah benar ia melakukan segala sesuatu yang justru gentleman, seperti ketika ia memberikan dan memakaikan tuxedenya ke tubuh Pree yang terbuka, dan membiarkan tubuhnya sendiri kedinginan diterpa dinginnya hujan, dengan sigap dan telaten ia juga membalut luka di kaki Pree yang terluka dengan sapu tangannya.

    “Harshad Arora, sebenarnya kau ini orang seperti apa?” Ucap Pree dengan setengah kesadarannya.
    “Gadis ini! sudah ku duga dia pasti akan menyusahkanku, dia sudah meminum wisky persediaan di mobilku tadi,” Harshad balik mengomel. Dan benar saja, Pree mulai bertingkah selayaknya orang yang mabuk dengan tiba-tiba meraih kerah baju Harshad dan memaksanya mendekatkan wajahnya.

    “Apa kau punya kepribadian ganda? Terkadang aku berfikir bahwa kau itu adalah manusia paling buruk di dunia, kau adalah monster yang tidak punya hati, lalu kemudian kau tampak seperti orang yang baik dan peduli, tapi kau juga bisa tampak sangat menyedihkan dan orang yang malang, sebenarnya bagaimana wujud aslimu? Haruskah aku mengelupasi kulit wajahmu yang ternyata memiliki topeng berlapis-lapis?” Racau Pree terdengar mengada-ngada namun sebenarnya itu adalah isi hatinya yang tak akan pernah bisa ia ungkapkan saat ia dalam keadaan sadar penuh.

    Ia mulai menyentuh wajah Harshad seolah ia ingin membuka topengnya namun Harshad segera menangkap pergelangan tangan Pree lalu kedua lengannya dan menariknya lebih dekat, untuk beberapa saat Harshad menatap Pree dengan penuh kegetiran,

    “aku tidak peduli apa yang kau pikirkan tentang diriku, tapi jika kau mau tau siapa aku, Yaa… kau benar! Aku adalah monster yang tidak punya hati dan menyebalkan, aku berlagak tidak membutuhkan siapapun karena aku memang tidak memiliki siapa-siapa dalam hidupku, aku tidak memiliki sedikitpun cinta di hatiku karena satu-satunya orang yang ku cintai dan mencintaiku dengan tulus sudah pergi sejak lama, aku hanyalah anak dari seorang istri yang tidak resmi dan tidak pernah diakui oleh ayahnya sendiri, dari dulu aku sudah dipandang hina, tidak ada yang benar-benar tulus mencintaiku, aku sudah mendengar begitu banyak cacian dan makian sejak aku kecil lalu untuk apa aku menjadi tampak baik di mata orang lain?!” Harshad mengungkapkan segala ganjalannya selama ini dengan sangat emosional kepada Pree, bahkan matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia juga tidak tau mengapa ia bisa mengatakan segalanya kepada gadis itu, ia mengatakan semua hal yang tak pernah ia katakan kepada siapapun bahkan kepada Radhika sekalipun.

    Namun yang paling membuatnya tertegun adalah ketika melihat air mata mengalir dari mata indah gadis itu,
    “Ke… kenapa kau menangis?” Tanyanya tergagap. Sesaat Pree tak menjawab pertanyaan Harshad dan malah semakin terisak hingga membuatnya harus bertanya lagi.
    “Kenapa?! Kenapa kau menangis katakan apa yang kau rasakan?!” Kali ini Harshad meninggikan suaranya dan mengguncang tubuh Pree dan mendesaknya, berharap ia akan mengatakan sesuatu yang ia pikirkan.

    “Entahlah.. aku juga tidak tau, aku juga tidak mengerti kenapa aku menangis karenamu, ya… aku benar-benar menangis untukmu, padahal selama ini aku tidak pernah menangis untuk orang lain, aku tidak pernah menangis saat aku menonton film-film mellow, aku juga tidak menangis saat nenekku meninggal walaupun aku benar-benar sedih, jadi aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa menangis hanya karenamu!” Pree mengucapkannya sambil terisak, Harshad terenyuh mendengar jawaban Pree, ia tidak ingin percaya begitu saja, namun ia benar-benar melihat ketulusan dan kemurnian di dalam setiap buliran air mata gadis itu.

    Harshad masih setengah percaya, ini pertama kali dalam hidupnya melihat seseorang benar-benar peduli bahkan menangis untuknya, untuk pertama kali ia menemukan kasih yang tulus dari mata seseorang.

    Seketika hatinya bergemuruh menahan haru, ia bisa merasakan hasrat kepada gadis itu mulai membuncah, semakin  mendalam dan kuat, seketika ia tidak menginginkan yang lain selain Pree di sisinya, akhirnya setelah sekian lama ia menemukan alasan untuk hidup, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia begitu yakin dan menerima bahwa ia sudah jatuh cinta, dia jatuh cinta kepada Preetika.

    Dan hasrat yang mulai membuncah itu, suasana syahdu itu, membuat Harshad tak bisa menahan diri lagi, tanpa kendalinya dengan lembut dan untuk pertama kalinya ia memberikan sebuah kecupan yang hangat dan dalam kepada gadis itu, sebagai tanda bahwa ia telah mengukuhkan perasaannya.

    Keduanya sama-sama meneteskan air mata dalam ciuman itu, kini Pree juga menikmati hangatnya sentuhan bibir itu, ia pejamkan matanya, menerimanya bahkan membalasnya dengan lumatan yang lembut, mungkin karena ia sedang tak sadarkan diri atau ia hanya terbawa suasana, namun suara nyanyian gemericik dan dinginnya air hujan melalui tempiasnya, menambah syahdu cinta yang baru saja bersemi itu.

    ****

    Pagi menjelang, udara yang masih terasa dingin, jalanan dan dedaunan yang basah, menjadi jejak yang ditinggalkan oleh hujan semalam, segalanya bahkan masih terasa hingga mentari sudah bersinar terang dan sinarnya masuk melalu jendela dan cela fentilasi kamar.

    Harshad tersenyum tipis menatap wajah gadis yang tengah terlelap manja di hadapannya, gadis itu tampak sangat menikmati hangatnya selimut putih polos yang juga menutupi tubuh topless Harshad.

    Harshad memandang Pree seolah menatap sesosok malaikat cantik menyejuk jiwanya, seolah gadis itu adalah satu-satunya alasan dia untuk tersenyum. Sesaat kemudian pemilik wajah itu pun terjaga, matanya mengerjap-ngerjap ketika sinar mentari menyilaukan matanya yang masih terasa sedikit berat, ia juga masih merasakan kepalanya terasa sedikit berat, sesaat ia terpaku memandang wajah di hadapannya yang sejak tadi menatapnya penuh kagum, lalu sejurus kemudian ia merasakan sesuatu, punggungnya terasa dingin, karena punggungnya yang terbuka diterpa angin pagi, pakaian tipis yang dipakainya juga tak sanggup menghangatkan tubuhnya dari dinginnya udara pagi, sesaat ia bingung kenapa ada orang lain yang tidur bersamanya, dan dia.. bukankah dia Harshad Arora?

    “Ka… kau?! Se… sedang apa kau disini?!” Pekiknya mulai panik namun masih berusaha mencerna situasi yang terjadi,
    “kau tidak ingat kejadian semalam?” Tanya Harshad terdengar begitu ambigu, Pree seketika membulatkan matanya terkejut, ia berusaha mengingat kejadian-kejadian semalam, kilasan-kilasan yang tak utuh tentang kejadian semalam pun berkelabat dalam benaknya, dansa di pesta itu, mobil yang menabrak pohon, sebuah ciuman… jadi itu bukan mimpi?

    Dengan perasaan panik, Pree menarik selimutnya dan menutupi lebih banyak tubuhnya terutama di bagian dadanya lalu mendudukkan tubuhnya di atas kasur.

    Dengan panik, ia mengintip sedikit tubuhnya di balik selimut, matanya terbelalak melihat pakaian yang ia pakai adalah sebuah lingery berwarna pitch yang sangat tipis dan super minim, dan seingatnya pakaian terakhir yang ia pakai bukanlah pakaian ini, yang paling mengejutkan lagi adalah ketika ia menemukan bercak darah di atas seprai yang menjadi alas tidurnya.

    “I.. ini apa? Apa yang terjadi padaku?!” Pree semakin panik. Dan seketika matanya terbelalak ketika melihat dan menyadari Harshad yang kini tampak bertelanjang dada dan terang saja itu menjadi sebuah kesimpulan pasti.

    Sontak Pree memekik histeris.
    “Harshad Arora! Apa yang sudah kau lakukan padaku?!”

                 TO BE CONTINUED

    Fiuuhh akhirnya kelar jugak dahh… moga-moga part yang cukup panjang ini gak ngebosenin yo guys. BTW jujur aja guys, sepanjang perjalanan karir (?) Gue menjadi author Fan Fict, percaya gak percaya fan fiction BI adalah fan fict tercepat yang gue buat di bandingkan Fan Fict yang bahkan tulisan lainnya, di forum k-popers gue bisa sampe sebulan sekali ngepost bahkan pernah sampe 6 bulan kemudian ngpost kelanjutan fan fict, dan itu aja di masa2 jaya dulu, yanh ngekomen bisa lebuh dari 200 komenan dan untuk menghasilkan sebuah kisah yang berkualitas nan greget seorang penulis novel aja bisa memakan waktu sampe bertahun-tahun, lahh gue bisa sampe seminggu sekali itu kan luar biasa banget, ini aja masih pada demo, yaa.. gak apa2 sih, pada demo itu berarti gue cukup berhasil sebagai penulis fan fict, ehehe. Cuma yang gak fair adalah waktu dipost pada bungkam, tapi pas udah telat pada keluar dan demo semua 😵 Harapan gue, kalo tiap kali gue lama ngepostnya, plis readers yang baik hati bisa mengerti dan tetap setia menanti, dan terus ngasih support, karena kalo gue udah menjanjikan untuk ngelanjutin dan ditunjang dengan apresiasi dari readers sekalian itu berarti gue akan tetep berusaha ngelanjutin apapun kondisinya.

    Sekedar info, apa yang bisa membuat gue bisa cepat ataupun lambat ngepost next partnya adalah, BEBAN. Biasanya, gue akan semangat ngepost fan fict ketika fan fict gue diapresiasi dan expektasinya tinggi jadi mau gak mau gue bakal ngerasa bertanggung jawab dan segera ngelanjutin. Hal sebaliknya terjadi kalo apresiasinya kurang dan membuat gue merasa bisa santai-santai tanpa harus ngerasa gak enak, maka niscaya Fan Fict pun akan dipostin MOLOR, ini yang terjadi pada chapter 4. Karena ngepostnya udah lelet dan banyak permintaan jadi gue memutuskan buat gak jadi ngeprivat Chapter 4 dan yang lainnya. Tapi tentunya kebijakan itu bakal tetep berlaku dan next chapter gue gak bakal segan-segan lagi ngasi PASSWORD kalo pembaca gelap masih gak tobat-tobat juga.

    Oh iya satu lagi, banyak yang curhat dan ngelapor katanya gak bisa komen di blog karena selalu batal. Sebenernya gak ada alasan buat gak komen karena gue sudah mempersilahkan komen dimanapun, mau di berbagai sosmed yang tentunya bisa gue lihat, tapi emang gue akan sangat amat bersyukur kalo kalian mau ngeramein blog gue dan bikin kelihatannya gak keliatan cuma koar-koar sendiri tapi gak ada yang dengerin. Untuk itulah yang harus kalian tau, kalo komenan kalian terkesan batal tapi keterangannya menunggu moderasi, itu sebenernya komenan kalian sudah sampe dan tinggal gue approve. Tapi bagi yang bener2 gak nyampe gue saranin buat bikin akun wordpress deh, karena caranya cukup mudah dan mirip2 aja sama bikin akun sosmed yang lain, cuma butuh alamat email. Kalo udah punya akun wordpress, kalian bakal bisa ngefollow blog gue dan dapat updatan dan bakal gampang banget ngekomennya.

    Yaudah itu dulu pengumuman dari gue, Sekian, chapter 5 mohon ditungguu 😗😗

    Advertisements

    57 thoughts on “Imprint, The Match From Heaven (Chapter 4)

    1. Waw mbk nisa cerita nya keren banget, udh gax sabar nungguin chapter selanjutnya, jgn lama2 ya mbk chapter selanjutnya di post udah gak sabar nungguin lanjutan cerita nyaa.

    2. Kak pengen imprint di next lagi please lah kak di next kalau kakak udah nggak bisa lanjutin suruh author lain di BFCI untuk lanjutin imprint pasti mereka pada mau . Kalau aku bisa buat ff sih bakal aku lanjutin sayangnya aku nggak bisa ngarang cerita. Itu lo kak surukh next author di BFCI karna kita para readers masih menunggu imprint di next , misalnya kak yuni arik atau aira kafifah dan author yg lainya pasti mereka mau lanjutin apalagi imprint nggak di lanjutin pas klimaknya kan bikin penasaran bangt

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s