Imprint, The Match From Heaven (Chapter 3)

Title         : Imprint

Author    : Chairunnisa

Genre     : Drama, Romance, Comedy n Family (Marriage Life)

Casts      :

    • Harshad Arora as Himself
    • Preetika Rao as Herself
    • Shakti Arora as Himself
    • Other Casts: Find in The Story

    Fan Fiction ini dibuat dengan ketulusan hati Author yang dilatar belakangi akan kerinduan akan moment-moment indah couple dunia akhirat kita Harshika. Semua kisah, penokohan serta setting di dalamnya MURNI hanyalah hasil imajinasi author pribadi yang terinspirasi dari berbagai kisah dengan menggunakan cast Harshad dan Preetika serta artis-artis lainnya, alasan penokohan dan penggunaan cast, semata-mata hanya agar kisah ini menjadi lebih imajinatif dan pembaca lebih bisa mendalami setiap karakter di dalam cerita. Jadi harapannya semoga tidak terjadi kesalahan penafsiran, mohon anda bisa membedakan antara Fan Fiction dan Fakta.

    Continue reading

    Advertisements

    Imprint, The Match From Heaven (Chapter 2)

    image

    Title         : Imprint

    Author    : Chairunnisa

    Genre     : Drama, Romance, Comedy n Family (Marriage Life)

    Casts      :

      • Harshad Arora as Himself
      • Preetika Rao as Herself
      • Shakti Arora as Himself
      • Other Casts: Find in The Story

      Haluu My Good Readers yang berbahagia maupun yang lagi nelangsa, maafkeun diri ini yang sudah membuat kalian menunggu lama dan terkungkung dalam penantian panjang tanpa kepastian, fan fict ini eke dedikasiin untuk kalian yang selalu menantikan karya2 gue dan selalu rela menyisihkan waktu dan beberapa huruf untuk meramaikan blog gue. Semoga gak kecewa yaa walaupun part ini gue sadari masih sangat standard. Mohon maaf juga kalo typo bertebaran di sepanjang alur, Happy Reading.

      Fan Fiction ini dibuat dengan ketulusan hati Author yang dilatar belakangi akan kerinduan akan moment-moment indah couple dunia akhirat kita Harshika. Semua kisah, penokohan serta setting di dalamnya MURNI hanyalah hasil imajinasi author pribadi yang terinspirasi dari berbagai kisah dengan menggunakan cast Harshad dan Preetika serta artis-artis lainnya, alasan penokohan dan penggunaan cast, semata-mata hanya agar kisah ini menjadi lebih imajinatif dan pembaca lebih bisa mendalami setiap karakter di dalam cerita. Jadi harapannya semoga tidak terjadi kesalahan penafsiran, mohon anda bisa membedakan antara Fan Fiction dan Fakta.

      Imprint Chapter 2

      Continue reading

      Imprint, The Match From Heaven (Chapter 1)

      image

      Title    : Imprint

      Author   : Chairunnisa

      Genre    : Drama, Romance, Comedy n Family (Marriage Life)

      Casts     :

        • Harshad Arora as Himself
        • Preetika Rao as Herself
        • Shakti Arora as Himself
        • Other Casts: Find in The Story

        Fan Fiction ini dibuat dengan ketulusan hati Author yang dilatar belakangi akan kerinduan akan moment-moment indah couple dunia akhirat kita Harshika. Semua kisah, penokohan serta setting di dalamnya MURNI hanyalah hasil imajinasi author pribadi yang terinspirasi dari berbagai kisah dengan menggunakan cast Harshad dan Preetika serta artis-artis lainnya. Jadi harapannya semoga tidak terjadi kesalahan penafsiran, mohon anda bisa membedakan antara Fan Fiction dan Fakta.

        Preetika’s POV
        Ketika mendengar tentang jodoh apa yang akan kau pikirkan? Pasangan hidup? cinta sejati? Bagiku, arti jodoh lebih dari itu,

        Continue reading

        Gara-Gara Serial ANTV

        image

        Bicara tentang masalah pertelevisian Indonesia, maka pembahasan ini gak akan ada habisnya dan bisa berseri dan bersequel dari masa ke masa.

        Bahkan kalau dihitung-hitung, dari Blog syantik ini aja, gue udah cukup banyak menelurkan berbagai artikel tentang acara TV yang selalu terkesan sarkastis dan apatis bahkan semacam separatis kayak udah mau minggat aja dari negara tempat lahir beta inih. Bisa dicek dari beberapa artikel yang udah gue buat dengan penuh amarah dan emosi jiwa di menu acara TV dan Opini.

        Bagaimana tidak? Acara TV di negara ini emang selalu menggelitik dan selalu bisa menjadi sasaran empuk amarah dan mulut gatal gue untuk mencela.

        Yahh… Biar bagaimana pun, TV adalah media massa yang paling berpotensi dan ampuh dalam membentuk intelegency dan pola pikir masyarakat.  Siapa sih yang gak sukak nonton TV? Dari berbagai kalangan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosial, semua sudah pasti pernah menyisihkan waktunya untuk menonton benda elektronik berbentuk persegi, ada layarnya bertombol, beremot, berantena dan pada umumnya berwarna hitam dan silver ituh *semua orang jugak udah pernah lihat Mbak 😂*

        Jadi berhubung TV sudah sangat pasti menjadi indikasi utama prilaku dan pola pikir masyarakat yang nantinya merembet kepada kemajuan bangsa, maka lagi… izinkanlah gue untuk kembali mengelaborasikan berbagai gejolak yang kian membuncah di dalam jiwa inih, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan dan pembentukan pola pikir pembaca dalam menentukan kualitas tontonan dan tuntunan.

        Dan lagi-lagi secara khusus dan eksklusif, kembali gue akan menjadikan salah satu stasiun TV paling bombastis dan membahana sejagad pertelevisian Indonesia, loe bisa sebut stasiun TV yang satu ini sebagai Rating Breaker Of The Year, berhubung gue gak mau nyebutin merek sebut saja namanya ANTEPE *Nama samaran* sebagai stasiun TV korban emosi jiwa gue pada kesempatan kali ini. *kenapa selalu kami? Kata ANTV, *karena emang kalian biang keroknya! kata gue*

        Sebenernya gue sempet berdamai dengan tuh stasiun TV ketika mereka menayangkan sebuah serial super baper menyentuh kalbu lagi menggugah iman berjudul, Beintehaa yang kelak akan menjadi serial favorit longlast gue . Namun belakangan sifat kritis bin sinis gue kembali kambuh akut manakala melihat tayangan kian meresahkan dan berdampak begitu signifikan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, hal ini bikin gue mendadak bercita-cita pengen jadi pegawai KPI dan mensensor segala tayangan yang sama sekali tidak layak untuk dilihat itu.

        Jadi begini… mula-mula, gue cukup welcome sama serial India dan tayangan impor lainnya yang menjamur bak mantenan di musim hujan, dari Mahabaratha, Jodha Akbar sampe Beintehaa membuat gue cukup semangat untuk menyalakan TV. Biar bagaimanapun, secara objektif tanpa mengurangi rasa hormat gue kepada sineas muda indonesia, yang sudah bekerja keras dengan sepenuh hati, gue katakan tayangan-tayangan luar tersebut tentulah jauh lebih baik dan layak tonton daripada tayangan-tayangan pemburu rating di negara ini pada umumnya.

        Namun sejatinya, segala sesuatu yang berlebihan tentulah gak akan pernah berdampak baik dari segi manapun. Bahkan walaupun itu air putih yang dinilai paling menyehatkan dan aman bisa membuat manusia mati mendadak
        jika dikonsumsi terlalu berlebihan. Inilah yang terjadi pada tayangan luar yang kini mengisi hari-hari masyarakat Indonesia.

        Bagaimana tidak? Stasiun TV yang dengan bangga membuat hastag #ANTVpalingtaukeingianpemirsa itu emang benar-benar paling tau gimana caranya menaikkan rating setinggi-tingginya dan membuat pemirsanya menjadikan TV sebagai berhala mereka, tanpa memperdulikan efek parah yang ditimbulkan, bahkan membuat pemirsanya tidak menyadari itu. Berlebihan gak sih gue mengatakan ini? baiklah causes and effects nya akan gue jabarin dalam beberapa poin;

        1. Jargon-jargon keagamaan;

        image

        Saingan jargon Syahrini

        Tentu semua orang dari Sabang sampe Merauke, bahkan walaupun yang gak pernah nonton pun, sangat familiar dengan jargon nenek gemez di serial Uttaran inih, pokoknya tahun 2016 ini adalah tahun neneknya Tapasya banget dah.

        Dan tentunya jargon itu akhirnya banyak ditiru dan menjadi istilah baru manusia-manusia kekinian, dari anak kecil yang hanya sekedar latah dan gak mengerti maknanya, bahkan remaja, Ibu-ibu sampe nenek-nenek yang mulai menjadikan nya sebagai istilah baru yang kedengaran asik dan gaul untuk diucapkan.

        Eits! Ini bukan berarti gue terlalu fanatik membabi buta, apalagi rasis terlebih lagi sara loh! Orang pasti akan bisa menyangga bahwa, jargon islami jugak selalu dipake di sinetron-sinetron Indonesia, kenapa agama lain tidak??

        Tapi begini, sefaham gue toleransi beragama bukan berarti loe mempersilahkan agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing seperti yang tercantum dalam buku PKN, atau memberikan ucapan selamat hari raya kepada agama lain. Tapi toleransi juga bisa berarti tidak mengganggu dan memicu agama lain untuk melakukan hal yang dilarang dalam agama dan keyakinan mereka.

        Dan yang terjadi adalah, setau gue Islam adalah satu-satunya agama yang mampu merubah status hanya dengan sebuah ucapan, seperti misalnya masalah talak, hanya dengan sebuah ucapan talak, status suami dan istri seketika bisa langsung berubah, terlebih lagi salah satu tanda keislaman seseorang yang paling pertama dan utama adalah dari lisan dengan mengakui ketuhanannya yang kita kenal dengan syahadat, dan apa yang diucapkan dalam serial India tersebut, dengan jelas dan lugas mempersaksikan Tuhan mereka seperti ucapan, “Demi Dew*” atau  “Hanya Dew* yang tau akhirnya” yang sama artinya dengan “Wallahu alam bistawaf”

        Jadi, secara epitomologi, *halah!* ketika seseorang mengucapkan jargon keagamaan itu, samalah artinya dengan mengganti Allah lah yang tau segalanya dengan kata dewa, dan secara sadar ataupun tidak sadar, secara langsung anda telah mengakui tuhan lain selain Allah, dan bukankah itu berarti sudah melawan syahadat anda? Tau yang namanya syirik kan yah??

        Bukan! Sekali lagi gue bukan bermaksud sok ke-mamahdedeh-an atau  Rasis, hanya saja pada faktanya bahkan dalam forum Internasional, kita aja dilarang loh memakai embel-embel keagamaan seperti salam, dan gak ada seorang pun yang bilang itu rasis dan melanggar HAM, lalu kenapa kita kaum muslimin yang mayoritas disini merasa takut atau segan memprotes itu?? Namun kontradiksi dan ironinya lagi, justru satu-satunya serial India favorit gue Beintehaa yang bertema islami dan sebenernya sangat amat sering menggunakan jargon-jargon islami, bahkan tayang di jam primer, malah didubbing dengan kata-kata yang bersifat umum, misalnya “Asslamualaikum” yang kemudian diganti dengan “Selamat pagi, siang atau malam” atau “Allah” yang diganti jadi “Tuhan”.

        BUKAN! Wallahi dah gue sama sekali bukan pengen mengenyampingkan agama lain, hanya saja akan sangat lebih bijak, seyogya dan sesurabayanya, jika stasiun TV dengan rating nomor 1 di negeri ini bersikap lebih netral saja dan tidak mengusik keyakinan agama manapun

        2. Mematikan Kreatifitas Anak Bangsa;

        Sebagai pengamat dan pecinta tayangan luar dari berbagai negara, dari drama Korea, Turkey hingga pinggiran sungai Gangga, setelah gue lihat, raba dan terawang, gue bisa menimbang, memutuskan dan menyimpulkan bahwa CUMA DI INDONESIA, gue ulang lagi biar lebih dramatis CUMA DI INDONESIA DAN DI ANTV, ELO AKAN MENEMUKAN TAYANGAN LUAR DITAYANGIN DI JAM PRIME TIME DAN MENGGESER SELURUH TAYANGAN DALAM NEGERI.

        Oke… gue berfikir lagi, mungkin dengan adanya tayangan asing ini, stasiun TV tersebut bakal menginspirasi sineas tanah air untuk membuat tayangan yang lebih bermutu setidaknya mengadopsi sistem persinetronan India tanpa harus membeli tayangannya lagi, mungkin ini hanya sementara. TAPI APA YANG KITA DAPATKAN SETELAH SEMUA INIHH?!!

        Produk output apa yang sudah ANTV hasilkan?! Yang terjadi kemudian, mereka hanya menghasilkan sinetron super gagal bin ngaco yang sangat berpotensi untuk dicela, Cinta di Langit Taj Mahal, yang ujung-ujunganya di bawah langit Monas, dengan alur yang sangat amat ngawur, terlihat seolah-olah orang Indonesia begitu bodohnya dan Roro Jonggrang yang sukses memplesetkan legenda dan mengulangi kesalahan Indosiar dengan sinetron kontrovesial elang terbangnya yang sok fantasy tapi miskin biaya produksi, hanya dengan mengandalkan artis-artis tellywood yang money oriented yang bersedia maen di sinetron ecek-ecek dengan diiming-imingi bayaran 5 kali lipat . Dan Voila!! Sebodo amat sama ceritanya yang amburadul dan sedikit plagiat, anget-anget ta*i ayam, rating sinetron-sinetron tersebut bakal booming di awal hanya karena penonton penasaran sama aktor impornya, bukan pada kualitasnya, lalu kemudian bakal menurun dalam beberapa bulan karena udah bosan dan cerita yang sudah tidak relevan dan tidak bisa mempertahankan penonton.

        Beuhh!! Ingin sekali rasanya bakar ban di depan kantor ANTV, dan memaki dengan penuh amarah dan kesinisan. Lalu mau sampai kapan anda mengandalkan tayangan asing itu? Bangga sekali anda dengan rating tertinggi padahal itu bukan produksi anda?? Kok anda bisa senyaman itu yaa memamerkan hasil karya orang lain??. Kalo gue mah mending kasih penghargaan sama Dubber nya doang mah, hanya merekalah produk dalam negeri original di sana.

        3. Kemunduran dan Penurunan Kualitas

        Gue gak bilang pecinta India punya selera rendah loh yaa, karena sendirinya gue pun suka nonton India walaupun itu cuma Beintehaa dan beberapa film Bollywood jadul, hanya saja jika anda memperhatikan tayangan luar terutama serial India yang menjadi primadona pendongkrak ratingnya ANTIPU dewasa ini *maaph makin kesinih sayah mulai kehilangan rasa hormat* maka serial tersebut sebenernya gak jauh beda dari sinetron Indonesia.

        Yaa, kita bisa menganggap bahwa serial India itu jauh lebih baik dari sinetron kekinian, tapi yang perlu ditekankan TIDAK LEBIH BAIK DARI SINETRON INDONESIA JAMAN DULU, serial India yang lagi didoyan-doyanin sama ibu-ibu bahkan cewek-cewek jaman sekarang sebenarnya sama sekali TIDAK BERBEDA dari sinetron indonesia jaman bahula macam ‘Tersanjung‘ atau ‘Tersayang‘ bahkan ‘Terhina’ sekalipun, karena memang pada dasarnya sinetron Indonesia jaman dahulu kala jauh lebih baik dari sinetron stripping pemburu rating jaman sekarang.

        Sinetron jaman doeloe setidaknya punya konsep dan arah yang jelas sejak awal, sangat menarik di awal hingga pertengahan cerita hanya saja sama halnya dengan serial India, cerita yang awalnya apik, kemudian makin melenceng dan aburadul ketika dipaksain untuk diperpanjang dan dikembangbiakkan.

        Dengan menonton serial india, selain budaya mereka sejatinya kita gak menemukan sesuatu yang baru semacam terobosan brillian, karena apa yang hari ini anda temui di serial India, jauh sebelum itu sudah ditayangin lebih dulu di sinetron jaman meghantropus di Indonesia.

        Mau teori amnesia?? Hellooo… Anjasmara pasti cekakakan nonton Uttaran karena dia udah pernah mengalaminya belasan tahun silam di sinetron jadulnya,

        image

        Baru amnesia sekarang Veer? Kemane aje? Gue mah udah sembuh dari amnesia sejak Taj Mahal dibangun

        Terus mau konsep yang beranak pinak? Tersanjung  jugak sudah menyuguhi kita selama bertahun-tahun, gue masih bisa melihat anak cucu mereka,

        image

        Kami sudah melakukan kontrak sinetron sampai tujuh turunan

        Belom lagi adegan-adegan klasik bin mainstream macam ketabrak mobil terus bukannya menghindar malah cuma tereak terus ditolongin sama sang kekasih, kemunculan-kemunculan tokoh jahat, licik dan psikopat yang dengan santainya melakukan perbuatan kriminal seolah polisi hanyalah sebagai pahlawan kesiangan yang datang saat masalahnya udah diselesaiin sama pemeran utamanya. Atau konsep nyamar-nyamar, gillaaa!! Bukannya semua itu sudah disuguhin sama sinetron jadul yang judulnya serba Ter… dan yang serba  Cinta… itu ya?? Lahh terus? Dimana-mana kan sedikit banyaknya harus ada kemajuan seiring kemodern-an pola pikir, laah bukannya serial India membuat kita malah mundur ke belakang ya?

        Dan sekarang biar dibilang nayangin tayangan dalam negeri namun tetap harus mempertahankan rating, ANTIPU cari aman dengan kembali nge remake sinetron jadul yang serba fantasy yang emang populer di jamannya, lega sih sebenernya, setidaknya sekarang di ANTV akhirnya kita bisa menemukan produk dalam negeri, cuma yah.. lagi-lagi kita mengalami kemunduran, dalam segala aspek, kapan lahh kita inih bisa maju jika tontonan sajo begini-begini ae?? 😑 Tapi emang dasarnya ANTIPU paling payah dalam memproduksi karya sendiri, ya jelass! sudah tidak diragukan lagi, baru bikin sinetron ecek-ecek hasil tiruan sinetron jadul aja tetep gagal, rating pun gagal diraih, bungkus lagi, balik ke tayangan india lagi, ujung-ujungnya milih cartoon, tapi cartoon dari India jugak! #ngookk 😬

        4. Emak-emaklah yang menjadi Korbannya

        image

        Selama ini yang kita takutkan saat menyaring tayangan TV adalah efeknya terhadap anak-anak, maka dengan sok protektifnya KPI kemudian mensensor segala tayangan yang bermuatan sex dan kekerasan, bahkan yang disensor sering kali sesuatu yang gak penting dan absurd, maka booming lah meme yang mengandung belahan maka disensor, ahaha, iya.. kalo belahannya serial asing mah disensor, tapi sendirinya belahan Ju*e dkk sampek tumpah-tumpah *konyol.

        Dan ANTV dengan cerdasnya meraup rating setinggi-tingginya  dengan menjadikan Ibu-ibu yang selalu stand by di rumah sebagai sasarannya. Dan tentu itu sungguh cerdas, siapapun tau itu akan sangat berhasil, karena kalau sudah pangsa pasarnya ibu-ibu sudah pasti dan secara otomatis rating pun akan dengan mudah dikuasai, karena ibu-ibu lah otoritas pengendali remot di rumah, kalau yang megang kendali adalah seorang Ibu, kita bisa apa? Kita pihak yang tak berdaya pun dengan terpaksa sedikit banyak ikut menonton tayangan favorit Emak, yaa itulah yang terjadi sama gue sekarang.

        Tapi yang namanya tontonan bukan cuma anak-anak penerus generasi bangsa yang menjadi korban mental, belakangan Ibu-ibu lah yang mulai termonopoli dengan serial India yang bejibun. Bagaimana tidak? Lagi-lagi cuma di Indonesia anda bisa menemukan sinetron yang tayang terus-terusan dari jam 1 siang sampe Jam 1 malam, 12 jam non stop! 1 tayangan berdurasi 2 – 4 jam, *lagi-lagi fenomena ini hanya terjadi di Indonesia*

        Cukup aneh sebenernya, nih stasiun TV kapitalis, menayangkan serial daily selama berjam-jam dan berturut-turut padahal di negara asalnya sendiri setiap hari durasinya cuma 30 menitan dan cuma setiap Senin – Jum’at, gue rasa di setiap negara rata-rata hanya menayangkan sinetron-sinetron mereka di jam-jam prime time dengan durasi 1 – 2 jam, karena mereka sadar konsumen juga punya kesibukan pribadi masing-masing, tapi lihatlahh… betapa dahsyatnya ANTV membuat serial-serial impor mereka sebagai bagian dari kehidupan nyata masyarakat.

        image

        Efek dahsyat yang ditimbulkan serial yang menyita waktu

        ANTV semacam kesurupan hantu rating dan gila-gilaan menumpuk begitu banyak serial, seolah-olah mereka gak pernah membiarkan pemirsanya untuk mengangkat bokong mereka dari depan TV. Dan inilah fenomena paling mengkawatirkan sepanjang sejarah trend tayangan impor di Indonesia.

        Meme kekinian yang menampilkan bapak-bapak masak sendiri, atau anak pulang dan kelaparan tapi gak nemu makanan di atas meja, bukan hanya sekedar meme. Karena gue merasakannya sendiri. Tiap sore pulang kerja, emak gak masak apa-apa karena sibuk nonton India yang berdurasi berjam-jam, dari jam 2 siang sampe jam 6 sore emak gue sama sekali gak punya kesempatan buat ke dapur, TV yang makek saluran TV cable jugak gak berguna karena channel TV dirumah cuma punya satu Channel, yakni yang Mulia ANTIPU, belum lagi, kalo lagi nonton serial kesayangan, kita harus diam dan itu hukumnya fardhu ‘ain, berisik sedikit semacam cari mati *emak gue senggol bacok lah kalo urusan serial India*.

        Bayangkan sodara sodara!! Berapa banyak anak-anak terlantar yang gak dilindungi oleh undang-undang seperti gue akibat serial-serial ANTV, berapa banyak suami kelaparan yang gak dilayani istrinya gara-gara gak punya waktu buat masak?? 😂.

        Oleh karenanya tiap kali di ANTV ada iklan promosi serial baru, tiba-tiba sekujur tubuh gue langsung lemes, kenapa mereka terus menaburkan garem di luka gue inih Ya Allah 😂.

        image

        NAMBAH LAGI??! Berapa Turunan lagi nih? tolong hentikan semua inihhh! 😂

        Harapan jahat gue tiap harinya cuma satu, semoga rating tayangan di ANTV diberikan kemudahan untuk segera anjlok, biar trend tayangan-tayangan luar penguras waktu, membabi buta ini bisa segera diakhiri saja, seenggaknya tayangan-tayangan asing itu harus dibatasi jumlah atau durasinya, biar gak membuang-buang waktu terlalu banyak, biar emak gue bisa kembali normal lagi,  karena bagaimanapun ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya, ibu adalah pilar utama dalam rumah tangga, jika kalian merusak mental dan waktu para Ibu dengan tayangan heroin kalian, bagaimanalah masa depan anak-anak mereka yang terlantar? Mau dibawa kemana generasi bangsa ini?! ANTV Peliiisss kembalikan Emak gue yang dulu!

        5. Harga Diri Bangsa Baru Saja Diinjak-injak!

        Dan inilah efek paling ironis dan mengerikan yang ditimbulkan akibat stasiun TV penggila rating yang cuma bangga karena rating tinggi dan menebalkan kantong mereka, padahal mereka telah menjatuhkan harga diri bangsa. Inilah komentar orang India tentang bangsa kita,

        image

        Lihatlah apa yang bangsa lain katakan tentang negara kita. Kita dibilang bangsa tukang copy. Padahal itu oknumnya, TIDAK TERGETARKAH HATI ANDA?!!

        image

        Songong sumpah!! Mereka ngatain kita cuma bisa bergantung sama tayangan mereka. Kamprett!!

        image

        Sentilan buat pihak ANTV. SANG PIONIR GIMMICK

        Dan inilah cikal bakal kenapa gue membuat postingan super sarkastis dan demonstratif inih!!

        Pertanyaan gue, apa yang anda rasakan ketika melihat penghinaan ini?! Tidakkah anda merasa harga diri bangsa anda sedang diinjak-injak??!

        Sumpahh!! Gue pribadi seumur-umur hanya merasakan dua kali semangat patriotisme dan nasionalisme gue terbakar, pertama waktu pertandingan piala AFC Indonesia-Malaysia dan yang kedua adalah melihat penghinaan ini. Udah berhari-hari gue terus terngiang-ngiang ucapan songong mereka, dan seberapapun gue berfikir logis, hati gue masih terasa kebakar tiap kali ngingatnya. Yang paling menyedihkan adalah disaat bangsa kita sedang mengelu-elukan produk mereka, kita begitu welcome bahkan mengenyampingkan karya anak dalam negeri karena menyukai tayangan mereka, kita merendahkan artis dalam negeri dan mendewakan artis mereka, tapi yang kita dapatkan cuma penghinaan sadis ini.

        Demi… Mendadak gue jadi pengen ke India dan naburin racun sianida di sungai Gangga, tiba-tiba saja gue pengen Pak Harto yang super tegas bangkit dari kubur beliau dan mengultimatum Presiden India sampe keder! Segala hal-hal buruk tentang India sudah berkelabat dalam benak gue, ketika mereka bersikap sangat Rasis dan menghina fisik kita yang kecina-cinaan dan jelek rasanya pengen sekali gue manggil orang Korea Utara biar meledakkan bom Nuklirnya di India, saat mereka bilang India jauh lebih baik dari Indonesia dari segala aspek, jempol gue udah bener-bener gatel pengen nulis bahkan mahluk macam Sahrukh Khan dan Aishwarya Rai adalah spesies paling langka di India. Hati, lidah dan jempol ini udah bener-bener gatal pengen memuntahkan segala unek-unek seper pedes level 100 gue, hanya karena gue masih waras dan gue tau betapa faham anti-rasis itu dijunjung tinggi oleh dunia Internasional, maka gue masih mengampuni mereka dalam kebungkaman dan kata-kata sok bijak gue.

        Pertanyaan gue berikutnya, siapakah yang harus anda salahkan dalam hal ini? Tanyalah pada diri anda sendiri, jawabannya akan sesuai dengan pola pikir anda;

        Jika Anda Cuma Santai-Santai Saja Bangsa Anda di hina, maka bertobatlah sebelum terlambat! lihatlah negara maju seperti Korea Selatan, bahkan majang bendera matahari terbitnya Jepang yang merupakan lambang penjajahan Jepang terhadap Asia Timur jaman doeloe, bisa menjadi masalah besar yang melukai harga diri bangsa mereka, tiliklah sejarah Presiden orde baru kita Pak Harto yang menjadikan Indonesia macan Asia, terlepas dari segala kontroversinya, ketika presiden Australia melontarkan kata hinaan terhadap bangsa kita, yang Beliau lakuin adalah langsung mengultimatum sang Presiden Australia dengan tegas, dan dia pun langsung minta maaf secara resmi.

        Apakah ini Salah Orang India dungu Yang Udah menghina bangsa kita?

        Itu berarti anda masih punya harga diri, hanya saja yang perlu digarisbawahi disini bahwa Ada fakta dalam ucapan mereka yang tidak mampu kita tepis ketimbang menyalahkan negara lain dan menimbulkan perpecahan, dalam menanggapi ucapan songong mereka sebaiknya kita lebih mawas diri. Ketika mereka bilang bangsa kita bangsa tukang copy, mau bilang apa? Karena pada faktanya stasiun TV kita sangat hobi membeli tayangan mereka secara membabi buta, mereka juga bilang kita gak bisa berdiri tanpa India, terus mau bilang apa kalau pada faktanya ANTV bisa besar seperti sekarang ini karena serial India? 3 tahun ke belakang ANTV hanyalah stasiun terpuruk sebelum menemukan formula penggebrak rating. Terus mau marah dan membantah juga? lah buktinya sudah ada. Ini adalah cambuk saudara-saudara! cambuk yang akan memacu kita untuk bergerak maju dengan kedua kaki kita sendiri, bahkan kuda pun akan berlari kencang saat dipecut.

        Mau menyalahkan Ayu Tingting??

        Well
        , jika ada yang menjawab seperti ini, maka gue udah gak heran, tadi di Instgram gue sedang mengetes bagaimana tanggapan orang-orang kalau gue mirip-miripin artis India idola mereka dengan artis dalam negeri, gue sempet trauma sama orang India, takut mereka ikut komen dan kembali ngerendahin orang Indonesia lagi, dan gue menemukan beberapa tanggapan menarik yang bernada seolah bilang gini “Ihh, apaan sih banding-bandingin? Ya jauh lah, Gak level banget!” Seolah artis India jauh lebih mulia untuk disandingkan dengan artis dalam negeri yang hina dina, padahal gak salah apa-apa, *ironis kan?*.

        Itu pula yang gue lihat yang terjadi pada Ayu Tingting. Cukup menarik memang, sebenarnya gue gak peduli dengan dia, namun kasus Ayu Ting Ting begitu mencerminkan fenomena tayangan Impor yang sudah mulai menggerus karya anak dalam negeri. Jadi, di forum yang sama, salah satu fans Indonesia ikut nimbrung. Harapan gue, saat itu ketika ada teman-teman bangsa lain, terutama sesama orang Indonesia atau orang Asia Timur macam Cina atau Korea yang melihat komenan dungu nan rasis mereka bakal ada yang bantuin gue ngebela bangsa kita yang sudah tercoreng ini, tapi jawaban apa yang gue peroleh? Dia justru minta maaf sama mahluk-mahluk rasis itu dan menuduh gue adalah fansnya Ayu Tingting, *lucu kan?* dan saat gue tanya dengan penuh kebingungan, dia malah bilang itu semua salahnya Ayu Tingting, gara-gara dia negara kita dihina. Gue lebih terpukul lagi, rasanya kayak negara kita sedang kena serangan rudal dan gue adalah satu-satunya pejuang yang masih bertahan.

        Padahal berpikirlah yang sehat wahai saudaraku yang budiman dimanapun anda berada *mudah-mudahan dia baca* gue disini berusaha menempatkan posisi gue di posisi yang netral dan open minded, menurut loe, dimanakah letak kesalahan Ayu Ting Ting di forum yang sama sekali gak ada hubungan sama dia? *OK gue mau jujur, sebenarnya itu adalah akun lawan mainnya Shaheer Sheikh yang baru karena kebetulan gue cukup tertarik pengen nonton serialnya yang katanya beda dan itu pertama kalinya gue ngepoin komen-komenan disana dan menemukan komenan rasis itu.*

        Tapi tetep aja, dimanakah letak salahnya Ayu Tingting yang bahkan udah putus hubungan dengan si aktor yang sempat didewakan oleh para kaum hawa di seluruh penjuru tanah air dan sempat menggeser kedudukan wayang Arjuna itu?? Dia bahkan gak pernah sekalipun ikut komen dan menyakiti orang India. 

        Lagian kalaupun mereka melakukan hal gimmick, kenapa artis kita saja yang disalahkan? Toh yang pacaran bukan Ayu Tingting seorang, yang mau-maunya disuruh Gimmick dengan bayaran berlipat ganda kan juga si artis India, lah kenapa cuma menyalahkan artis Indonesia seorang? Sebegitu tak berharganya kah apa yang kita miliki ini?

        Oke.. gue gak mau terkesan ngebias karena gue sama sekali bukan fan atau hater siapa-siapa, mari berfikir secara netral. Lalu kalau iya… itu salahnya si artis, point pentingnya adalah terus apakah itu menjadi alasan kita untuk membiarkan negara lain menghina bangsa kita? Hanya karena alasan KONYOL, anda membenci artis dalam negara anda sendiri dan malah ngefans sama artis negara mereka? Tanyakan pada hati nurani anda sobat! Jujur gue juga begitu muak dengan tayangan dalam negeri yang sama sekali gak mendidik, tapi gak lantas membutakan mata hati gue, bahwa artis dalam negeri gak selamanya hina hanya karena kualitas acara mereka rendahan, dan artis luar juga banyak yang gak bermoral sebagus apapun akting dan acara mereka.

        Lalu.. Apakah itu Salah Masyarakat Indonesia Yang Suka Tayangan Impor??

        Gue bilang, masyarakat Indonesia adalah korban paling tragis dalam hal ini, korban kebiadaban stasiun TV yang cuma menyajikan tontonan berdasarkan rating semata tanpa mempertimbangkan efek edukasi dan intelegensi di dalam setiap tayangan, mungkin mereka akan beranggapan bahwa mereka mengikuti selera pasar, jadi apa yang mereka sajikan selama ini adalah refleksi dari selera rendah masyarakat, tapi hellooo bahkan pecandu narkoba yang dapat hukuman berat adalah pengedarnya dan pecandu hanya akan direhabilitasi dan gak dianggap bersalah.

        Sama halnya dengan tontonan, terang saja kualitas selera pasar juga akan menurun ketika yang menjadi sasaran empuk audiens adalah kalangan Ibu-ibu rumah tangga yang tingkat pendidikannya masih rendah dan anak-anak dibawah umur yang belum bisa menyaring dengan benar tayangan yang mereka tonton *sentilan buat SCTV*

        Come On!! Penonton gak akan pernah disalahin dalam hal ini karena mereka hanya butuh waktu dan keterbiasaan untuk bisa menerima trend tayangan berkualitas nan modal sehingga membentuk selera pasar yang berkualitas. Jangan dikit-dikit liat rating gak menjanjikan langsung dibungkus, *contohlah NET. TV. Karena bukan rating yang membentuk kualitas, tapi kualitas lah yang membentuk rating. *catet!*

        image

        DENGAN BANGGA MEMAMERKAN RATING!! Ini yang namanya NO ISIN. GAK PUNYA MALU. Malu oyyy sama pedagang kaen di Tanah Abang 😂 

        Terus salah siapa coba? Salah gue? Salah teman-teman gue?!! Dan dengan terpaksa kembali gue harus menyalahkan STASIUN TV dan secara blak-blakan gue akan melimpahkan kesalahan itu Kepada yang terhormat ANTV “TV nomor satu kebanggaan India”

        image

        Pamer peringkat? Cuihh! Ketawain aja dahh! 😂

        yang dipuji siape yang sombong siape?! LOL

        Pertama-tama gue mau bilang, Kalian luar Biasaa!! Strategi beli tayangan luar itu, ngedatangin pemainnya dan ngontrak mereka berbulan-bulan, penumpukan serial itu, penggeseran jam tayang semena-mena itu, hingga strategi Gimmick itu, kalian luar biasaaa… emang gak salah hastagnya, #antvemangpalingtaukeinginanpemirsa gue tambahin lagi #antvsirajarating .

        Serial India andalan stripping dengan durasi yang super panjang ngalah-ngalahin film bollywood, dengan jam tayang yang digeser-geser dengan semena-mena gue akui bener-bener sukses membuat audiens terutama ibu-ibu yang keranjingan gak bisa mengangkat pantat mereka, tayangan yang dibuat nonstop dengan jadwal yang gak pasti secara otomatis membuat Ibu-ibu gak rela minggat dari depan TV takut ketinggalan serial favorit mereka, alhasil… penonton jadi lupa waktu dan mengabaikan banyak hal.

        Strategi ngedatangin pemain India, menjadikan mereka idola baru tanah air, dengan membuatkan acara yang dibumbui dengan gimmick murahan, itu juga bener-bener brilliant! Dan itulah yang membuat negara kita dihina.

        Luar biasa, ANTV effect bukan hanya menyerang mental penonton saja, bahkan kedaulatan negara. Speechless, gue bisa bilang apa lagi kalau sudah begini?

        THE CONCLUTION

        Yah emang sepintas gak cukup banyak yang dirugikan dalam hal ini, cuma jika stasiun TV hanya terus-terusan mementingkan rating di atas segala-galanya, maka yang kaya hanya akan selalu satu pihak, yang kantongnnya nebel hanya stasiun TV seorang.

        Sementara penonton yang menjadi korbannya hanya akan terus menderita penyakit kanker alias kantong kering, bukan hanya miskin uang tapi miskin pola pikir. Apakah ini yang kita inginkan?

        Saran Buat Yang Terhormat ANTV;

        Jadi disini gue gak cuma menyampaikan kritik pedas aja, tapi gue juga tentunya punya saran jitu buat ANTV tercinta yang semoga bisa terbaca walaupun gue yakin cuma geli-geli aja mah.

        Intinya gue disini bukan menuntut penghapusan tayangan luar, karena bagaimanapun kita butuh sesuatu yang variatif dan inspiratif, hanya saja seperti yang gue bilang di awal gak ada satu hal pun yang berakibat baik jika dipergunakan secara berlebihan.

        Sekedar info, bahkan Turkey sendiri pun yang Dramanya udah mulai mendunia masih mengimpor serial India namun TANPA MENGENYAMPINGKAN ACARA DALAM NEGERI, dan sambutannya pun cukup bagus.

        Tapi mereka lebih cerdas dan bijak dalam hal pemilihan durasi, walaupun cuma tayangan tambahan mereka memilih serial-serial berkualitas, populer namun dengan episode yang gak terlalu panjang dan hanya menayangkan 2 serial dalam satu waktu, mereka hanya akan menayangkan serial baru kalau serial yang satu udah kelar, jadi gak numpuk. Yah… alangkah Indahnya jika ANTV bisa lebih bijak dengan mengadopsi sistem Turkey tersebut, gak perlu menghapus serial yang sudah ada, kasihan yang udah pada nonton, tapi Peliiiisss, gue mohon jangan ditambahin lagi 😂 kelarin dulu yang sudah ada, jangan ditumpuk-tumpuk, udah kayak cucian kotor aja

        image

        Serial ANTV = Cucian Kotor. Numpukkk!!

        dan PELISSS KURANGI DURASINYA. Setidaknya 1 jam cukup untuk setiap serial yang bejibun setiap harinya. Atau kalau mau numpuk, kenapa gak mengadopsi sistem di negara asalnya yang cuma nayangi 30 menit sehari? 😂

        Masa ANTV mau terus-terusan ngandalin produknya orang? Gak pengen gitu punya sinetron sendiri yang selevel dengan serial India dengan memberdayakan pemain-pemain berkualitas dalam negeri? Emang susah banget ya bikin sinetron sendiri? ANTV kan kaya, jangan pelit-pelit lahh! pihak ANTV gak bisa ngebayar penulis skenario berpengalaman buat bikin sinetron mantap yang bisa mengganti serial impor? Emang ANTV nyaman mamerin rating tinggi padahal itu hasil karyanya orang?? *kan malu sama pedagang kain di tanah abang LOL*

        Siapa Yang Bakal di Untungkan Dengan Kemajuan Industri Hiburan??

        Bahkan hanya dari Industri kreatif, yakni Industri hiburan banyak negara yang bisa maju dan terus berkembang, sebut saja negara yang beberapa penduduknya songong kayak India, dan yang paling mengagumkan tentu saja adalah Korea Selatan yang bahkan masa krisisnya bersamaan dengan Indonesia, tapi lihatlah sekarang!! Kemajuan kantong dan pola pikir mereka dengan kita seolah-oleh mereka merdeka 100 tahun lebih dulu dari Indonesia, dan segala kemajuan itu karena ekspansi Hallyu Wave, K-Pop dan K-Dramanya, dan tentu saja itu juga peran dari masyarakatnya yang memiliki selera tinggi dan kritis, jangankan sinetron ngaco, bahkan hal mendetailpun bisa mereka kritisi, demi kemajuan tayangan mereka. Kecintaan mereka terhadap produk dalam negeri gak usah dipertanyakan, jangankan tayangan asing bahkan sebagian besar produk yang mereka konsumsi, dari teknologi sampai makanan adalah produk dalam negeri, tayangan mereka udah terlalu bagus dan gak butuh tayangan luar, maka berkat industri Hallyu bahkan berdampak kepada devisa negara, kepopuleran KPop dan K-Drama menjadi kesempatan bagus bagi mereka untuk mempromosikan berbagai hal tentang Korea Selatan, bukan hanya K-Pop dan K-Drama yang terjual, dari segi pariwisata, teknologi, makanan, bahkan industri operasi plastik, dan semua itu berkat industri hiburan. Terus kalau Industri hiburan kita hanya terus mundur dan beli dari luar saja tanpa karya yang berarti, maka jangan dipikir kita sudah merdeka selama lebih dari 70 tahun, kita bahkan gak pernah terbebas dari monopoli bangsa lain.

        Lalu, Ketika mental sudah terjajah secara sukarela dan para petinggi negara dan pihak komersial hanya memikirkan keuntungan masing-masing, maka jangan salahkan jika Indonesia terus dipandang sebelah mata oleh dunia internasional dan hanya dijadikan ladang tempat mengeruk keuntungan tanpa karya.

        Maka sampailah kita kepada akhir cerita yang ngademin setelah gue bakar habis jiwa patriotisme kalian, harapan gue, dengan tulisan gue yang cukup blak-blakan dan mungkin menyinggung beberapa pihak ini, maksud dan tujuan mulia gue untuk mengubah mindset dan paradigma berfikir setidaknya para kaum muda, tersampaikan dengan baik. Agar cukuplah saja orang tua kita yang terjajah tanpa sadar, jangan lagi generasi kita dan anak cucu kita, karena kemajuan sebuah bangsa gak cuma bisa menyalahkan pola dan sistem pemerintahan, tapi juga pola pikir masyarakat.

        Siapapun, Tolong Sampaikan ini pada pihak ANTEPE.

        Misteri Harshika (Faktologi Part 11)

        image
        Sebenernya gue udah mau berniat pengen hengkang dan pensiun dari jagad dunia per-Harshika-an melelahkan hati ini, capek vrohh di PHP in muluk. Hati ini butuh sandaran *kemudian nyender manja dibahunya Lee Min Ho*

        Namun melihat kekacauan dan prahara yang terjadi, yang kian hari kian mengkhawatirkan, dan entah sampai kapan semua ini akan berakhir, maka dengan sangat terpaksa gue balik lagi dengan postingan konfirmasi dan jawaban dari segala tanya dan kegundahan yang membelenggu jiwa

        Continue reading

        (Kyuyoung FF) Fated Part 4

        image

        Judul     : Fated

        Author   : Choi Runnisa

        Genre    : Drama, Romance, Comedy n Family

        Casts     :

          • Super Junior Kyuhyun as Cho Kyuhyun
          • SNSD Sooyoung as Sooyoung Cho Kyuhyun
          • TVXQ Changmin as Shim Changmin
          • T-Ara Jiyeon as Park Jiyeon
          • Other Casts: Find in The Story

          Located  :

            • Korea Selatan (Seoul, Busan)
            • Indonesia (Jogjakarta)]

            Eps Numb : 10 Parts

            Incheon International
            Airport, Seoul
            South Korea
            10.30 am KST

            Continue reading

            Cintaku Yang Hilang Telah Kembali, Fakta Harshad Preetika Part 10

            image

            Temanya masih seputar AADC 2, masih tentang Rangga yang akhirnya telah kembali dalam berpuluh purnama; #eeaa

            Di Part ini sebenernya eke bener-bener kehabisan bahan, gue bingung apa sebenernya yang musti gue beritain dikala readers sekalian ilmu dan intelejensi kekepoannya udah tingkat suhu? gue mah apa atuh yang justru dapat updetan dari teman-teman BI lovers juga? Ini tuh kesannya, kayak dari tanah kembali ke tanah aja gituh!

            Continue reading