Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 3)


image

Judul : Another Love Story Of ZaYa
Author : Chairunnisa
Genre : Drama, Romance, Comedy n Family 
Casts : ♡ Harshad Arora as Zain Abdullah
♡ Preetika Rao as Aliya Zain Abdullah
♡ Karan Tucker as Himself
♡ Tridha Chaudhury as Herself
♡ All Beintehaa Casts
Located : India (Mumbai, Bhopal)
Indonesia (Jakarta, Jogjakarta)
Eps Numb : 10 Parts

BI 2 Chapter 3

Zain menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar, ia baru saja meninggalkan seorang gadis sendirian di tengah jalan, di tempat prostitusi, apa yang terjadi padanya sekarang??

Zain mulai panik, ia sudah melupakan tujuannya, padahal tinggal selangkah lagi dia akan mencapai tujuannya datang ke Jogja untuk menemukan ayahnya, tapi kini ia tak perduli lagi, untuk saat ini hal yang terpenting adalah menyelamatkan Aliya. Karena dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada gadis itu, yaa.. untuk alasan yang kurang masuk akal, ia memang membencinya, tapi di lain sisi ia juga tidak bisa membiarkan gadis itu berada dalam bahaya, apalagi karenanya.

Zain meninggalkan tempat itu, ia mengambil langkah seribu dan kembali menelusuri jalanan yang tadinya ia lewati dan kembali ke tempat dimana terakhir kali ia meninggalkan Aliya. Sesampainya di tempat remang itu Zain tak menemukan Aliya, tidak seorang pun ada di sana.

Dengan rasa panik yang menjadi-jadi Zain berteriak memanggil nama Aliya, namun tak ada jawaban, Zain terus mencari seraya memanggil-manggil nama gadis itu namun tak kunjung terjawab hingga ia mulai frustasi.
“Aliya kau dimana?” Zain mulai putus asa, segala pikiran tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi sudah berkelabat dalam benaknya, Sial!! Gadis itu adalah gadis pertama yang membuatnya uring-uringan seperti orang gila begini.

Sejurus kemudian ia menemukan sesuatu, sebuah kerudung berwarna biru muda tergeletak di jalanan. Zain tau itu adalah milik Aliya, ia menunduk bermaksud memungut kerudung dupatta itu, dan ketika ia menunduk ia menemukan sesuatu yang berharga di balik tong yang ada di sampinganya, dinaungi keremangan lampu solar cell, Zain dapat mengenali sosok itu walaupun dalam kegelapan.

Dia adalah Aliya yang ia cari-cari, gadis itu meringkuk ketakutan dan menenggelamkan wajahnya di kedua pahanya. “Aliya Ji!” panggil Zain pelan seraya berjongkok mengimbangi posisi Aliya yang masih meringkuk kaku.

Zain menyentuh kedua bahu gadis itu dan menegakkan tubuhnya, tubuh Aliya lunglai tak berdaya,
“Aliya kau kenapa? Apa yang terjadi?!” Seru Zain khawatir. Gadis itu tak menjawab, Zain kemudian menyentuh wajah Aliya dan memandangnya lekat-lekat, wajah gadis itu basah digenangi aliran air mata, wajahnya putih pucat seperti kapas.

“Aliya katakan ada apa?” Tanya Zain lagi.
“Ayah… Ayah…” Aliya meracau setengah sadar. Ia masih barada dalam bayangan ketakutan itu.
“Ayah?”
“Ayah… jangan tinggalkan aku” Aliya masih meracau, air matanya semakin tumpah ruah. Zain menarik tubuh Aliya ke dalam pelukannya bermaksud menenangkannya, namun tangis aliya semakin menjadi.
“Maafkan aku…” lirih Zain, masih memeluk tubuh ramping Aliya.

Zain tau keadaan Aliya tidak memungkinkan untuk berjalan dengan kakinya sendiri. Zain menggendong tubuh Aliya dan membawanya keluar dari komplek itu.

Karena sama sekali tidak tau alamat tempat tinggalnya, Zain terpaksa membawa Aliya ke kamar hotelnya, ia meletakkan Aliya yang tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Sesaat Zain tertegun menatap Aliya yang kini terlelap dan tak sadarkan diri, ia selimuti tubuh gadis itu hingga menyisakan kepalanya saja, sejurus kemudian ia singkirkan helai demi helai rambut yang menutupi wajah gadis itu hingga tampak jelaslah wajah cantik nan polos tanpa sapuan make up itu, sesaat ia menatapnya lekat-lekat, hingga membuatnya terpaku hingga sepersekian detik. 🎵Suno na sange marmer song mengalun🎶
Zain mulai tidak nyaman dengan perasaan yang perlahan-lahan menelusup ke dalam sanubarinya, segera ia abaikan perasaan aneh itu dengan segera menjauh dari gadis itu.

Zain terpaksa tidur di sofa, karena kedua tempat tidur yang ada di kamar itu telah dihuni oleh Rizwan yang sedang tertidur pulas usai minum obat, sementara tempat tidurnya sendiri sudah dihuni oleh Aliya dan ia tidak mungkin tidur disana meski tempat tidurnya cukup lebar jika hanya dihuni oleh dua orang.

****

Aliya terbangun tepat ketika adzan subuh dari sebuah surau tak jauh dari hotel berkumandang, ia terlonjak dari pembaringannya, ia merasa seperti sudah melewatkan sesuatu yang sangat penting.

Aliya sempat kaget mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang bukan kamarnya atau rumah sakit tempat ayahnya dirawat, namun Ia kembali teringat kilasan-kilasan kejadian semalam, ketika Zain memaksanya untuk memandunya ke tempat yang tak ingin ia datangi itu, saat ia bersembunyi di balik tong ketika melihat tiga pria yang sama sekali tak ingin ia temui lagi, lalu kilasan tentang kejadian mengerikan yang menimpa ayahnya, hingga saat semuanya terasa gelap dan ia akhirnya tak sadarkan diri.

Bersamaan dengan itu, Zain pun ikut terbangun, ia melihat Aliya yang tampak linglung dan mendatanginya.
“kau baik-baik saja?!” Tanya Zain, melihat sikap lembut dan perhatiannya itu benar-benar terlihat aneh.
“Kau? Kenapa kau membawaku ke sini? aku.. aku seharusnya menjaga Ayahku sekarang,” jawab Aliya tampak panik, perasaannya benar-benar tidak enak setiap kali mengingat Ayahnya yang entah bagaimana keadaannya sekarang setelah ditinggal semalaman.
“Aku tidak tau dimana rumahmu, jadi aku membawamu ke sini”
“Aku.. aku harus pergi sekarang, Ayahku pasti sedang membutuhkanku!” Aliya berusaha bangkit dan ingin pergi namun Zain menahannya.
“Kau istirahatlah dulu, aku akan mengantarmu nanti”
“Kau menyuruhku untuk tinggal lebih lama lagi disini?! Apa kau pikir aku masih sudi tinggal sedetikpun dengan orang sepertimu?! Hey.. Zain Abdullah! Apa kau seburuk ini?! Kenapa kau suka sekali membuatku menderita? Kau selalu saja berbuat semaumu, kau meminta ini itu dan menyulitkanku, kau membuatku terpaksa harus bangun pagi-pagi sekali, kau juga membuatku harus keluar malam dan pergi ke tempat yang sama sekali tidak ingin kudatangi dan membuatku hampir mati karena ketakutan! Kau juga membuatku harus meninggalkan Ayahku sendirian di malam hari, gara-gara permintaan tidak masuk akalmu itu aku tidak bisa merawat ayahku dengan baik dan sekarang kau ingin aku tinggal lebih lama?! Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini Zain Abdullah? Apa salahku padamu?!!” Cecar Aliya histeris, ia benar-benar sudah tidak kuasa lagi menahan segala amarah yang membuncah di dalam dadanya, ia menatap Zain dengan tatapan berapi-api dan dengan air mata yang mengalir deras.

Sementara Zain hanya bisa terpaku, ia membeku tak mampu berucap, ia tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya, bahkan walaupun hanya mengatakan maaf saja ia tak mampu meski ia begitu ingin.

“Sekarang aku tidak mau lagi, aku tidak akan pernah lagi menuruti kemauanmu, lebih baik aku mati daripada harus menjadi budakmu, bahkan aku tidak ingin lagi melihatmu, aku hanya ingin merawat ayahku, jadi kita akhiri saja hubungan kerja ini, aku tidak akan lagi melayanimu, jadi lebih baik kau cari saja tour guide lain yang bisa kau perlakukan seperti budak” setelah menyerocos tanpa jeda dan merasa sudah puas meluapkan segala isi hatinya, Aliya akhirnya melangkah pergi dari hadapan Zain.

Zain masih membeku di tempatnya, ia tak bisa lagi menahan kepergian Aliya meskipun ia begitu ingin, rasa bersalah yang begitu besar bercampur gengsi dan keangkuhan dalam diri yang sulit ia buang membuatnya tak bisa melakukan apapun untuk menahan kepergian Aliya apalagi memohon padanya.

****
Sesampainya di rumah sakit, Aliya tidak menemukan sang Ayah di ruangannya.
“Ayah? Ayah!!” Gadis itu mulai panik, panik yang berlebihan, ia mencarinya ke seluruh sudut ruangan bahkan ke kamar mandi meskipun itu sama sekali tidak masuk akal. Firasatnya tentang ayahnya sejak bangun tidur tadi membuat ia benar-benar khawatir, segala pikiran tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi sudah berkelabat dalam benaknya, bagaimana kalau ayah sudah…

Ah.. Tidak!  Itu tidak mungkin! Otak Aliya mencoba untuk membantah firasat buruknya. Dengan perasaan yang kacau, buru-buru ia berlari ke pusat informasi Rumah sakit.
“Suster!! Ayahku! Dimana Ayahku? Kenapa dia tidak ada di kamarnya??!” Aliya menyerocos kepada dua suster yang berjaga.
“Maksud anda Tuan Usman Abdullah?”
“Iya Suster, dia ayahku!! Dimana dia sekarang?!”
“Ayah anda sudah dipindahkan ke ruang ICU, semalam keadaannya mendadak kritis”
“A..apa? Ayah kritis?”
“beruntung kami segera menemukannya, kami terpaksa memindahkannya ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif”

Aliya benar-benar sedih sekarang, air matanya tak terbendung sudah, ia menyesali diri telah meninggalkan ayahnya dalam keadaan parah, andai saja semalam dia tidak pergi dan menjaga ayahnya mungkin saja ayahnya akan baik-baik saja, Aliya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang lebih buruk kepada Ayahnya, satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.

****

“Ayah anda harus segera dioperasi” ucap Dokter Rian kepada Aliya.
“O.. operasi?” Aliya tergagap kaget.
“Gumpalan darah di kepalanya sudah mulai membeku, itu akan membuat beliau koma dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi dan itu akan berdampak kepada jaringan saraf motoriknya, Ayahmu akan lumpuh total dan kemungkinan untuk bangun dari koma nya akan semakin kecil. Operasi adalah jalan satu-satunya, tapi operasi ini pun sangat beresiko, hanya akan ada dua kemungkinan, jika berhasil Ayahmu akan bisa bangun lagi, tapi kemungkinan besar beliau akan lumpuh, tapi jika gagal, maafkan aku Aliya, mungkin dia tidak akan pernah bangun lagi, kita kembalikan semuanya kepada Allah” lagi, aliya hanya bisa meneteskan air mata kepedihan mendengar kondisi ayahnya yang sudah semakin parah, ucapan Dokter Rian terus menggema di telinganya,  selama ini ia berusaha untuk tetap tegar, ceria dan begitu bersemangat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah karena ia percaya ayahnya akan segera bangun dari tidur panjangnya, tapi sekarang harapan itu perlahan mulai sirna, ia sudah hampir putus asa.

Di penghujung ibadah subuhnya, Aliya memanjatkan do’a untuk ayahnya dengan penuh kekhusyukan, ia percaya prediksi dokter manapun tidak akan berarti apa-apa jika sang kuasa berkehendak lain. Ia tau Allah menyayanginya, Dia tidak akan mengambil satu-satunya orang yang ia miliki dan membuatnya sendirian, ia tau Allah selalu bersamanya. Usai Shalat, gadis itu merasa lebih tenang dan dapat berpikir dengan jernih, yaa… dia tidak boleh berlama-lama bersedih, jika ia hanya berdiam diri dan larut dalam kesedihannya, bagaimana ia akan menemukan harapan akan kesembuhan ayahnya??

Yaa… Ayah harus dioperasi, dan Ayah Usman pasti akan bangun lagi untuknya. 300 juta, uang yang ia harus dapatkan dalam waktu singkat sebagai biaya operasi ayahnya, ia harus dapatkan dimana uang sebanyak itu? Ia bahkan belum menadapatkan honor apapun dari Zain, menurut perjanjian, honor itu akan dibayar setelah satu bulan, yakni setelah masa kontrak kerja sama antara tour guide dan turisnya usai, namun Aliya sendiri lah yang memutuskan kontrak itu secara sepihak tanpa sudi mengambil apapun.

Dan sekarang Aliya agak menyesal, darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu, terlebih lagi sekarang dia sudah tidak bekerja? Tapi tidak! Harga diri Aliya tak mengizinkannya untuk menyesal telah memutuskan hubungan kerja dengan turis gila itu.

“Aku lebih baik jadi pengemis daripada memohon padanya untuk kembali menjadi tour guidenya!” Aliya berdialog kepada dirinya sendiri. Dia optimis, walaupun sulit, Allah akan membantunya, dia akan segera mendapatkan uang itu dan bisa mengoperasi ayahnya.

****
Sementara di tempat yang berbeda Zain bingung, apa yang harus dia lakukan tanpa Aliya, pemandu jalannya mencari ayahnya. Bahkan dengan menyingkirkan harga dirinya yang setinggi langit itu, Zain mencoba menghubungi Aliya berkali-kali, namun gadis itu bertingkah jual mahal dengan sama sekali tak ingin menjawab panggilannya.

Zain akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat semalam, ia harus melanjutkan penelusurannya walaupun tanpa Aliya dan tanpa Rizwan, karena sahabatnya itu terserang demam karena kurang cocok dengan cuaca di Indonesia, Rizwan sebenarnya bisa saja memaksakan diri untuk menemaninya, tapi Zain lah yang menyuruhnya untuk istirahat total agar bisa cepat pulih kembali.

Dengan mengandalkan taksi dan daya ingatnya Zain akhirnya sampai ke tempat itu lagi. Suasana di siang hari jauh lebih kondusif daripada malam hari, sekilas komplek itu tampak seperti komplek perumahan kumuh biasa, tak jauh berbeda dengan komplek perumahan kumuh di India.

Zain kembali menyusuri komplek dengan mengikuti arahan kertas yang bertuliskan alamat detailnya. Alamat itu tidak mudah dilacak karena tempat itu bahkan tak terlacak oleh google maps sekalipun, mungkin karena itu adalah perumahan kumuh di tanah ilegal.

“Ehh… mas ganteng yang semalam ya? Kok balik lagi? Cari saya ya Mas?” Sapa ramah seorang wanita paruh baya berpakaian daster dengan tempelan koyo di kedua pelipisnya, Zain menghentikan langkahnya di hadapan wanita itu walaupun dia tidak mengerti apa yang dikatakan wanita itu, tidak juga ia tau apa yang harus dia katakan, tapi ia rasa wanita itu dapat membantunya.

Excuse me Madam, could you show me this place?
Zain tidak yakin apakah wanita itu bisa mengerti maksudnya atau tidak, ia hanya berusaha menunjukkan alamat serta nama lengkap ayahnya.

“Ahh… Mister Abdullah yang orang India itu?” Wanita itu menjawab dengan bahasa Indonesia, tentu saja Zain tak mengerti apapun, tapi wanita menyebut kata India dan ia yakin wanita itu pasti mengenal ayahnya.
Do you know him?” Tanya Zain antusias
Not here, not here!” kata wanita itu berbekal bahasa Inggris seadanya sambil melambai-lambaikan tangannya dan menggeleng kepalanya tanda kalimat negatif yang diucapkannya, padahal Zain cukup mengerti ucapan wanita itu tanpa harus ia menjelaskannya dengan gerakan tubuh.
Where?” Tanya Zain berusaha memahamkan wanita itu.
Hospital, hospital!!” Jawab si wanita.
Hos… hospital?” Zain terkejut.
Yes yes, he is…aduh mau ngomong opo toh…?” Wanita itu mulai kesulitan mencari cara yang tepat untuk memahamkan Zain.

Bak seorang pantomim, wanita itu pun mulai mempraktekkan segala yang ingin dijelaskannya dengan bahasa tubuh dan sedikit banyak Zain mampu mengerti maksud wanita itu, yang ia tangkap Ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena seseorang sudah melukai kepalanya.

Wanita itu menuliskan nama rumah sakit tempat Tuan Usman dirawat, namun hanya itu, hanya itu yang dapat wanita itu informasikan. Tapi itu saja sudah cukup membuat Zain sangat bersyukur, inikah akhir dari pencariannya selama ini??

Tapi yang menggalaukan hatinya kini, Ayahnya berada di rumah sakit? Ada apa? Apa yang terjadi dengan ayahnya? Sakit Apa? Parahkah sakitnya? Seberapa parah? Benarkah ia masuk rumah sakit karena dianiaya seseorang? Bagaimana kehidupan Ayahnya selama ini? Apakah layak? Ada begitu banyak tanya yang belum terjawab.

Dalam kekhawatiran itu, Zain buru-buru menuju rumah sakit, baginya tidak ada waktu untuk menunda-nunda, ia tidak ingin kehilangan kesempatan itu lagi, ia tak akan membiarkan ayahnya pergi dari sisinya lagi.

****
Meski baru pertama kali, Zain tidak kesulitan mencari rumah sakit itu. Setibanya di rumah sakit tempat Tuan Usman dirawat, Zain langsung mendatangi resepsionist dan menanyakan kamar atas nama Usman Abdullah.

“Ahh… Mr Usman Abdullah?” Perasaan Zain membuncah ketika mendengar nama itu disebut ulang oleh resepsionist. Seakan asa dan harapan yang ia tanam sejak bertahun-tahun dalam dada kini patut ia semai.
“Yeahh… Usman Abdullah” Zain, membeo mengikuti ucapan wanita itu.
“Dia sekarang ada di ruang ICU….,”

Setelah mendapatkan arahan detail dari sang resepsionist Zain pun segera menuju ruangan yang dimaksud, dari kejauhan ia melihat tulisan ICU terpampang, hatinya seketika bergemuruh, langkahnya semakin pelan, “Jadi sekarang Ayahku sedang terbaring disana?” Batin Zain.

Dan kini Zain sudah berada di depan pintu ruang ICU, kakinya bergetar hebat saat mulai memutar kenop pintu kamar dan melangkahkan kakinya masuk.

Setelah mengenakan baju protektif pengunjung, Zain pun menyibak tirai penyekat di hadapannya, sesaat hanya terdengar suara monitor pengecek detak jantung disana dan kini di hadapannya terpampang jelas tulisan ‘Tn. Usman Abdullah’ di kaki ranjang pasien. Batinnya semakin bergemuruh, rasa rindu bercampur pedih yang ia rasakan kini.

Kini yang ia lihat, seorang pria tua dengan rambut yang didominasi warna putih sedang terbaring tak berdaya di tempat tidurnya.

🎵Abhi Mujhme Kahin, mengalun🎶 Dengan perasaan mengharu biru, pelan-pelan Zain mendekati sosok itu. Ia pandang lekat-lekat wajah yang sedang terlelap itu, ia dapat melihat sosok itu lebih dekat. Yaa… benar itu Ayahnya! ayah yang selama bertahun-tahun ia cari, bagaimana ia bisa melupakan wajah sang ayah? sosok yang paling ia kagumi sejak kecil, bahkan jika teman-teman seusianya di kala itu banyak mengidolakan sosok super hero ala film hollywood, ia malah mengidolakan ayahnya, ia selalu bangga ketika menceritakan segala kehebatan ayahnya yang menurutnya jauh lebih hebat dari tokoh Superman.

Tapi sekarang, sang Ayah sudah banyak berubah, sungguh hati Zain merasa pilu menyaksikan ayahnya yang dulu begitu perkasa dengan otot-otot tubuhnya yang besar dan tulang punggungnya yang tegap kini tampak ringkih dan terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan kepala berbalut perban.

Garis wajahnya yang dulu tegas menyiratkan keperkasaannya kini berganti menjadi keriput yang berdesakan menampakkan diri di wajahnya, matanya yang berkantung dan menghitam, membuat ia tampak dua kali lipat lebih tua dari usia sebenarnya.

Zain terduduk di kursi di samping ayahnya, sedikit ragu ia meraih tangan keriput sang ayah lalu menciuminya, tak terasa air mata yang sejak tadi berusaha ia bendung kini sudah jatuh menggenang membasahi pipinya.

Ia tempelkan tangan lemah itu di pipinya, sudah lama ia tidak merasakan sentuhan hangat itu? sambil terus meneteskan air mata haru dan kerinduan yang mendalam, untuk pertama kalinya sejak belasan tahun Zain tidak pernah menangis, Zain bahkan lupa caranya menangis, ia pikir air matanya sudah membeku sejak 20 tahun silam ketika ayahnya pergi, dia bahkan tak menangis ketika Ibunya meninggal 5 tahun lalu.

“Ayah… ini Zain, ini Zain Abdullah putramu, kau mendengarku…?” ucap Zain dengan suara bergetar, lalu melanjutkan,
“Kau kemana saja selama ini? Kau tau, selama bertahun-tahun aku mencarimu kemana-mana, aku tidak pernah putus asa mencarimu, tidakkah kau merindukan aku?…, Ayah kau dengar aku? Ada banyak yang ingin ku tanyakan padamu, jadi kumohon bangunlah…” lirih Zain tertahan.

Dan entah inikah yang dinamakan keajaiban, kehadiran, sentuhan dan suara Zain benar-benar memberikan reaksi positif bagi tuan Usman. Perlahan dia menggerakkan jemarinya yang sejak lama mematung.

“Ayah… kau mendengarku?!” Zain begitu gembira ketika melihat tanda itu namun sesaat kemudian tak ada reaksi lagi
“Ayah, kumohon bangunlah untukku, kau harus melihatku, putramu ini sudah besar sekarang bahkan jauh lebih tinggi darimu” Zain mulai mendesak, frustasi.

Untuk beberapa saat, Zain terus meluapkan segala kerinduan yang tak pernah terpenuhi, melontarkan berbagai tanya yang tak pernah terjawab dan akhirnya keajaiban itu benar-benar datang, sang Ayah benar-benar memenuhi permintaan putranya yang sudah lama tak ia temui.

Usman bangun dari tidur panjangnya, perlahan ia membuka matanya yang sudah lama terkatup, dengan mata sayu ia pandangi wajah putranya yang kini sudah ada di pelupuk matanya, benar itu Zain. Zain putra satu-satunya yang paling ia rindukan, ia takkan pernah melupakan wajah putranya meski putra kecilnya yang nakal kini telah menjelma menjadi pria dewasa.

Untuk sesaat tak ada yang bisa ia lakukan selain meneteskan air matanya penuh haru dan kerinduan yang mendalam.

“Zz.. Zain…” ucapnya dengan suara yang hampir seperti berbisik.
“Iya Ayah ini Zain, putramu…”
“Zain…,” Usman kembali memanggil nama putranya kali ini volume suaranya sedikit naik, sungguh betapa ingin ia bangkit dari tidurnya dan memeluk puteranya tapi tubuhnya benar-benar tak berdaya.

****
“Subhanallah, ini benar-benar sebuah keajaiban besar Tuan Zain, ayah anda langsung bisa bangun dari koma panjangnya karena kehadiran anda, inilah yang dinamakan kekuatan cinta seorang ayah dan tentunya atas kehendak Allah” Dokter Rian baru saja memeriksa keadaan tuan Usman yang mendadak membaik secara drastis yang bahkan tidak bisa dijelaskan secara medis.
“Terima kasih dokter, terima kasih karena sudah merawat Ayahku selama ini” ucap Zain
“Berterima kasih lah kepada Adik anda, selama ini dialah yang berjuang seorang diri untuk merawat Ayah anda”
“Adik?” Zain bahkan hampir lupa bahwa Ayahnya selama ini pergi tidak sendiri, bukankan Ayah pergi karena gadis yang disebut-sebut adiknya itu?

Sementara itu…

“Mbak, bisakah saya membayar setelah Ayah saya dioperasi terlebih dahulu?” Aliya berusaha bernegosiasi kepada pihak administrasi rumah sakit, seharian dia sudah berusaha mencari pinjaman kesana kemari, tapi dia masih belum bisa mengumpulkan uang sebanyak yang dibutuhkan bahkan walau hanya 10 persennya.

“Tidak bisa Mbak, prosedur di rumah sakit ini tidak bisa diganggu gugat,” Kata salah seorang pihak administrasi.
“Kalau begitu saya jual saja ginjal saya sekarang juga,” ceplos Aliya tanpa berpikir panjang, ia benar-benar frustasi dan kehilangan akal
“Tidak bisa seperti itu Mbak, ada banyak hal yang harus Mbak pertimbangkan dan hal seperti itu ilegal di rumah sakit ini”

Aliya semakin putus asa dan sedih, apa yang harus dia lakukan sekarang? ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Ayahnya. Dengan langkah gontai dan penuh keputus asaan, Aliya berjalan menuju ruangan Ayahnya, entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu merindukan Ayahnya meski ia selalu melihatnya setiap hari, dia ingin selalu melihat dan memeriksa keadaannya bahkan ada di sisinya sepanjang waktu, karena keadaan yang memaksa, terpaksa Aliya harus sering-sering menginggalkan ayahnya sendirian.

Sudah berada tak jauh dari ruang ICU tempat sang ayah dirawat, Aliya melihat dr. Rian baru saja keluar dari kamar Ayahnya, penasaran dengan keadaan sang ayah, segera ia memburu dokter Rian untuk menanyakan perkembangan keadaan ayahnya.

“Dokter, apa yang terjadi?” Aliya bertanya dengan raut yang begitu penasaran.
“Nona Aliya akhirnya kau datang juga, aku punya kabar baik untukmu, sekarang ayahmu sudah sadar dari komanya,” dokter tampan itu tersenyum
“Benarkah? Dokter serius?!” Aliya seketika berbinar, itu benar-benar berita yang membahagiakan
“Tentu saja serius Nona Aliya, ini merupakan sebuah keajaiban, berkat do’a anda dan juga berkat kehadiran Kakak Anda, Tuan Usman akhirnya sadar dari komanya”
“Kakak?…” Aliya bertanya-tanya dalam hatinya siapa seseorang yang dimaksud kakaknya oleh Dokter Rian?

Siapa orang itu? Mungkinkah anak Ayah Usman yang selalu diceritakannya tapi tak pernah disebutkan namanya itu? Mungkinkah dia orangnya?

Setelah menyudahi obrolannya dengan dokter Rian, Aliya memutuskan untuk segera mendatangi Ayahnya, ia sungguh tidak sabar melihat dan menyapa sang Ayah setelah sekian lama menantikan saat-saat membahagiakan itu, tapi Aliya sedikit ragu, batinnya terus bertanya-tanya siapakah orang yang datang dan sudah memberikan kekuatan pada Tuan Usman yang bahkan melebihi dirinya? Entah kenapa perasaan senang dengan keadaan ayahnya berubah menjadi perasaan tidak enak.

Sesampainya di ruangan sang Ayah, Aliya jelas terkejut luar biasa mendapati seseorang yang benar-benar di luar predikisinya, begitu pula sebaliknya, Zain terang saja terlonjak kaget ketika menemukan seseorang yang muncul dibalik tirai penyekat.

Untuk sesaat, pandangan mereka saling bertemu, segalanya terasa hening. Lalu kemudian keduanya mulai mencerna keadaan yang terjadi, mereka mulai menghubung-hubungkan semua kebetulan yang tak mereka sadari selama ini. Zain baru menyadari banyak hal, Aliya berasal dari India, dan memang bukan terjadi kesamaan nama, tapi memang Aliya yang dia temui 20 tahun lalu dan Aliya yang dia temui sekarang adalah orang yang sama, ia juga mengingat ingat perkataan dokter Rian, juga Aliya yang selalu menyebut-nyebut ayahnya. Begitu juga dengan Aliya, dia baru menyadari kenyataan bahwa Zain punya nama belakang yang sama dengan Ayah Usman, kenyataan bahwa Zain datang ke Jogja untuk mencari seseorang dan saat Zain mengajaknya pergi ke komplek prostitusi itu.

“Ali… Ya, Aliya..” panggilan tuan Usman yang lirih membuyarkan lamunan keduanya.

Dengan perasaan tak karuan dan ragu Aliya berjalan mendekati Ayah angkatnya itu. Ia mengambil posisi di samping kiri Tuan Usman tepat berhadapan dengan posisi Zain, sementara pemuda itu terus menatapnya lekat-lekat, ia menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan. Tatapan yang tak pernah ia lihat dari mata Zain, bahkan walaupun selama beberapa hari kebersamaan yang dibumbui dengan percekcokan.

“Zain, ini Aliya, kau.. masih ingat?” Kata tuan Usman pelan meski ia sudah berusaha keras untuk bicara lantang. Yaa… mungkin Zain sempat lupa wajahnya, tapi dia tidak pernah lupa akan kebenciannya dan apa yang sudah dilakukan gadis itu pada keluarganya.

“Aliya… ini Zain, Kakakmu…” kali ini tuan Usman berkata kepada Aliya, sementara gadis itu masih mematung, masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
“Aliya… mendekatlah” Tuan Usman memanggil Aliya dengan Volume suara yang semakin menurun. Dengan ragu Aliya semakin mendekatkan dirinya ke sisi pembaringan tuan Usman.

Tuan Usman lalu meraih tangan Aliya ke atas perutnya, lalu perlahan giliran tangan kanan Zain yang diraihnya. Pria paruh baya yang mulai tampak sekarat itu menyatukan tangan keduanya seperti menyatukan hubungan Zain dan Aliya dalam sebuah hubungan yang sangat kuat dan tak terpisahkan. Zain maupun Aliya sempat bingung dengan maksud tuan Usman, yang mereka tau yang jelas mereka tidak akan menyukai itu.

“Zain… Ayah tau, ayah bukanlah Ayah yang baik, Selama ini Ayah tak pernah minta apa-apa darimu karena Ayah tau Ayah tak berhak memintanya, tapi kali – ini- to-long…” suara tuan Usman semakin melemah dan terputus-putus, namun ia berusaha untuk melanjutkan kalimatnya,

“To-Long, nikahilah Aliya” ucapan Usman yang terbata itu seperti sebuah petir menyambar telinga Zain maupun Aliya, mereka belum bisa percaya sepenuhnya, mereka pasti sudah salah dengar.

“Zain… Tolong, Ayah mohon dengan sangat… Anggap saja ini penghormatan terakhir bagi Ayahmu, hidup ayah tidak akan lama lagi dan Aliya akan sendirian, dia adalah gadis yang kuat, tapi dia hanyalah seorang gadis biasa yang tidak bisa hidup sendirian, maka permintaan terakhir Ayah, tolong nikahi Aliya, Agar dia punya keluarga yang bisa menjaga dia, dia gadis yang baik, kau tidak akan pernah menyesal menikahinya, kelak kau tidak akan bisa hidup tampanya… ” Air mata Ayah Usman menetes di kedua pelipisnya,

“Berjanjilah kau akan menikahinya dan terus ada di sisinya….” Zain dan Aliya membeku sesaat, tubuh mereka seperti tersengat listrik ribuan volt, yaa… Usman Abdullah, orang yang paling mereka hormati dan sayangi baru saja mengajukan sebuah wasiat yang sangat berat untuk dikabulkan sebagai permintaan terakhir yang harus mereka penuhi….

To Be Continued

Jeng Jeng!! Part 3 ane udahin doeloe sampe disini ya Guys, kalo part ini part yang lumayan syedih-syedihan, maka part berikutnya adalah part campur aduk yang bakal dibalur dengan comedy romanteesss, supaya makin penasaran, eke kasih bocoran dikit deh…

Next Part

– Zain semakin membenci Aliya, dia menyalahkan Aliya atas kematian ayahnya.

Zarina membuat kejutan untuk Zain dengan mengajak Tridha yang merupakan gadis yang akan ia jodohkan dengan Zain, menjemput Zain di bandara, Tridha bahkan sudah menyiapkan kalung bunga untuk Zain. Mereka belum tau bahwa Zain datang bersama seorang gadis.

– PLAK!! sebuah tamparan keras mendarat di pipi Karan.
“Dasar Pria mesum! Kau mau mengintipku kan?” Maki Aliya
“Untuk apa aku mengintipmu Nona? Sudah kubilang aku sedang bersembunyi menghindari fans-fansku” jelas Karan.
“Fans? Ck! Berhentilah bersikap seperti selebritis tuan, hanya karena kau mau mengelak dari perbuatan mesummu, kau bahkan tidak tampak seperti artis!”

“Apa yang kau lakukan Zain? lepaskan?!” Aliya memberontak ketika Zain menindihnya dan berusaha melepas pakaiannya
“Zain lepaskan, kalau tidak aku akan teriak!” Ancam Aliya yang mulai ketakutan
“Berteriaklah, apa kau pikir orang-orang akan memperdulikanmu jika kau bilang kau sedang dilecehkan oleh suamimu sendiri? Kau seorang muslim yang taat bukan? Kau tau kan sebuah dosa besar jika kau menolak melayani suamimu? Jadi sekarang, penuhi kewajibanmu sebagai seorang istri” Zain tampak buas ingin menerkam Aliya.

Ya… itu dulu teaser panjangnya, Don’t forget buat selalu tinggalin jejak di sosmed mana azzah yang ada ekenya, eke bikin ini kagak dibayar lho, jadi harapannya tulung lah, diapresiasi, cukup dikomen akikah udeh seneng banget kok 😂. Oke dah ditunggu komennya dadah chanteekkk!!

Advertisements

16 thoughts on “Beintehaa 2, Another Love Story Of Zain & Aliya (Chapter 3)

  1. Hikkssss pagi pagi syekaliiii dibikin sedih dgn part yg atas… 😦 😦 … tp makin penasaran dgn yg next part… next yah say… tulisanmu mampu meneteskan air mataku dipagi hari yg begitu mendung ini *eaaaa wkwkwkkw

  2. OMG, ampek gobyos bacanya, keren polll, ampyun yg bikin ne crita melebihi jenius, fyuhhh, aku ampek lupa waktu baca ne crita…klo di bikin serialnya beneran, wah gk kalah ama BI yg udh tayang…

  3. lagi seru2nya dan air mataku hmpir mnetes malah bersambung…kerennnnnn tp deg2an duh khwatir bgt zain akn mnyakiti aaliya trus ..next mba jgn lma2 ok hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s